Posts Tagged ‘World Vision Indonesia’

Demo antikorupsi & transparansi keuangan sekolah

Desember 12, 2009

Uang yang berkilau membuat mata orang silau

Rabu, tanggal 9 Desember 2009 pada Hari Antikorupsi Sedunia. kami sedang berdiskusi dengan para pendidik di Ternate tentang Manajemen Berbasis Sekolah dan belajar aktif. Dalam diskusi di aula RRI Ternate ini hangat disoroti perlunya transparansi keuangan kepala sekolah bekerja sama dengan komite sekolah agar dana sekolah, seperti dana BOS yang hanya memenuhi 40% kebutuhan sekolah tidak dikorupsi.

Pak David Ola Kia dari WVI Jakarta sedang mengemukakan hasil monitoring berupa asesmen terhadap 19 SD dan MIS di Ternate yang diselenggarakan tanggal 28 – 29 Oktober 2009.

Di gerbang masuk RRI Ternate, polisi memasang police line dan tepat di depannya berdiri seorang mahasiswa berorasi mengutuk tindak laku penyelenggara negara, mulai dari polisi, jaksa, hakim sampai dengan anggota DPR, kabinet dan pimpinan eksekutif, yang ramai-ramai merampok uang rakyat.

Mahasiswa memilih lokasi yang strategis di pertigaan agar penampilannya disaksikan warga masyarakat yang lewat.

Warga masyarakat tampak memperhatikan suara mahasiswa, suara orang muda yang mengerti penderitaan mereka.

Di aula RRI, para kepala sekolah, pengawas, kepala dinas pendidikan kecamatan, dan konsultan perguruan swasta Al Khairaat bekerja dalam kelompok membuat mindmap solusi terhadap kondisi MBS-Pakem di sekolah.

Isu transparansi pengelolaan keuangan sekolah dan akuntabilitas (tanggung gugat) penggunaan dana sekolah mendominasi sharing gagasan peserta.

Rincian realisasi keuangan yang jelas ditekankan para peserta.

Mereka saling kritik dan saling mendukung agar dana sekolah digunakan untuk kepentingan anak didik seperti dua kakak beradik ini, anak ibu yang mengurus makan siang dan snack peserta.

Uang jauh lebih meyakinkan daripada argumen logis. (Euripides)

Dari semua profesi dan jenis orang, siapa yang paling tidak terganggu atau terusik oleh uang?

Orang gila dan bayi.

Iklan

From Papua with love. Dari Papua dengan cinta

Desember 6, 2009

Mengharapkan uluran tangan untuk mengaktulisasi potensi kecerdasannya

Pada tanggal 29 November pagi kami pertama kali menginjakkan kaki di Kota Merauke. Orang Merauke ingin meralat lagu “Dari Sabang sampai Merauke”. Seharusnya “Dari Merauke sampai Sabang”. Mengapa karena Merauke-lah yang pertama kali disinari mentari pagi dan Sabang-lah yang terakhir.

Tanggal 30 November s.d. 4 Desember 2009 kami menjadi fasilitator lokakarya MBS (Manajemen Berbasis Sekolah) – Pakem (Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan) atau belajar aktif bagi guru dan kepala SD dari 4 distrik di Kabupaten Merauke, termasuk distrik di pedalaman. Pelatihan ini diselenggarakan oleh World Vision Indonesia (WVI) ADP Merauke.

Para pendidik di wilayah terujung timur Indonesia ini amat tertinggal dalam perkembangan inovasi pendidikan. Padahal, Prof Yohanes Surya sudah berhasil menemukan beberapa anak jenius di Papua. Tuhan memang adil!

Jika Anda berminat bagaimana membuat anak kreatif, amatilah file powerpoint ini!

Hari pertama tiba di Merauke

Iklan

900x900px-LL-92a6f817_girls-football-trick-animation

Prostat

Kunjungilah posting ini:

https://sbelen.wordpress.com/2013/05/03/bawang-putih-cuka-apel-madu-jahe-lemon-jantung-sehat-tubuh-bugar/

https://sbelen.wordpress.com/2013/04/15/sano-ramuan-herbal-berkhasiat-mulai-bisnis-di-usia-62-tahun/

Gambar spanduk Sano

sano-sembuhkan-penyakit-prostat

Kartu nama Yuni 2

Emi, bocah cilik 2 tahun & lingkungan yang bersih

Oktober 31, 2009

IMG_1636

Si Emi, putri cilik Ternate, Maluku Utara menyapu halaman rumah. Kebetulan rumah Emi berhadapan dengan kantor World Vision Indonesia (WVI) Ternate. Saya sempat mengajak omong dengan Emi yang sudah tahu berbicara ramah dengan orang lain.

IMG_1637

Emi belajar memindahkan sampah ke “pengki” agar mudah dibuang ke bak sampah

IMG_1638

Lingkungan rumah Emi sejuk karena ditumbuhi dua pohon jambu air, namun ia harus rajin menyapu agar halaman rumahnya tetap bersih.

IMG_1639

Emi bangga sudah bisa menyapu dan membuang sampah pada tempatnya. Emi mempermalukan kita orang dewasa yang suka membuang sampah di sembarang tempat. Bahkan, sering saya saksikan penumpang mobil sedan mewah membuang sampah dari mobil ke jalan raya. Ini adalah orang “kampung” rezeki kota.