Posts Tagged ‘teladan’

SMK Pertanian St Pius X Bitauni, Insana di Timor: Model sekolah berasrama yang nyaris gratis

Agustus 22, 2014

Sekolah berasrama termurah di tanah air berkat unit produksi yang sukses

Jalan menuju Gua Maria Bitauni

Jalan masuk menuju Sekolah Menengah Kejuruan Pertanian Bitauni, Insana, Timor

 

Kamis subuh, 30 Juli 2014 saya dan istri terbang dari Jakarta, transit di Bandara Juanda Surabaya, dan melanjutkan penerbangan ke Kupang. Dari Kupang kami menuju Nenuk, 10 km sebelum Kota Atambua, ibu kota Kabupaten Belu (yang berbatasan dengan Timor Leste) untuk berpartisipasi dalam seminar Pendidikan yang dihadiri uskup, para imam, dan pengurus yayasan persekolahan Katolik Keuskupan Atambua. Keuskupan ini meliputi 3 kabupaten, yaitu Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Kabupaten Belu, dan kabupaten pemekaran yang baru, yaitu Kabupaten Malaka. Dalam perjalanan ini kami singgah untuk mengunjungi SMK Pertanian Pius X di Bitauni, Kiupukan, Insana, Kabupaten TTU, sekitar 23 km selepas Kota Kefamenanu, ibu kota Kabupaten TTU ke arah Atambua.

Mengapa kami mengunjungi SMK Pertanian berasrama ini? Dalam benak kami, menjelang presentasi dalam seminar pendidikan pada 31 Juli di Nenuk, kami akan menyampaikan pentingnya mempertahankan, menambah, dan meningkatkan pendidikan sekolah berasrama di tanah Timor khususnya dan NTT umumnya. Mengapa? Sekolah berasrama seperti seminari, SMP, SMA, dan SPG berasrama di tanah Timor sejak dimulainya pendidikan missi telah terbukti mampu meningkatkan mutu dan relevansi pendidikan. Yang lebih penting lagi adalah sekolah berasrama mampu menumbuhkembangkan nilai-nilai pendidikan karakter yang tangguh, tahan banting, dan pantang menyerah sebagai bekal lulusan melanjutkan pendidikan dan berkiprah dalam kehidupan profesi dan bermasyarakat.

Sekolah berasrama di Timor khususnya dan NTT umumnya telah terbukti menjadi pintu mobilitas sosial individu dan menjadi agen perubahan masyarakat Timor dan NTT.  Tak terbayangkan ketertinggalan masyarakat Timor dan NTT tanpa eksistensi sekolah berasrama.

Di sekolah berasrama selama 24 jam tiap hari pendidikan anak berlangsung. Disiplin belajar, kemahiran menggunakan waktu, kemandirian mencuci dan menyeterika pakaian, bekerja tangan (opus manuale) menyapu dan mengepel sekolah dan asrama, membersihkan kamar mandi, toilet, dan got, menyiangi rerumputan, menanam dan menyirami tanaman, bahkan menggunting rambut. Waktu mengikuti ibadah, pelajaran, makan, istirahat dan tidur, studi mandiri, berolahraga dan bekerja tangan, berlatih bakat bermain musik, berolah vokal, melukis, membuat patung dan kerajinan tangan, bermain drama, menanam dan memelihara tanaman, membudidayakan unggas dan ternak telah diatur mengikuti jadwal yang ketat. Pada jam studi mandiri diterapkan aturan silentium yang keras (harus diam, tenang, tidak boleh berisik) sehingga ibarat bila ada jarum yang jatuh ke lantai pasti terdengar bunyinya.

Pola asuh seperti ini hanya bisa dilakukan di oase “keluarga buatan” yang bernama sekolah berasrama. Dukungan aktivitas belajar dan pendidikan karakter siswa belum mampu dilakukan orang tua dalam keluarga secara baik dan benar. Kamar belajar siswa yang tenang dan dilengkapi meja belajar dan pencahayaan yang memadai (listrik) umumnya belum mampu disediakan orang tua baik di pedesaan maupun di perkotaan. Pengaturan waktu belajar dan istirahat siswa serta aktivitas olahraga dan bermain sulit disinkronkan dengan aktivitas orang tua, keluarga, dan lingkungan masyarakat setempat.

Selain itu, faktor pengaruh negatif lingkungan semakin meresahkan. Misalnya, kebiasaan pesta adat berhari-hari, kebiasaan konsumsi minuman keras, mabuk-mabukan, perjudian, pelecehan dan kejahatan seksual, konsumsi narkoba, pergaulan remaja dan muda-mudi yang berdampak penularan penyakit seksual dan kehamilan usia muda semakin meresahkan orang tua dalam mendidik anak-anaknya.

Namun, pembiayaan anak di sekolah berasrama yang mahal sulit ditanggung orang tua yang berprofesi petani, nelayan, supir, buruh, dan pegawai negeri biasa tanpa jabatan tinggi. Kemampuan ekonomi orang tua umumnya belum meningkat secara signifikan sehingga sekolah berasrama dipandang sebagai alternatif pendidikan yang mewah. Faktor ini mengakibatkan sejumlah sekolah berasrama terpaksa menutup asrama, tinggal menjadi sekolah biasa.

Memasuki kompleks SMK Pertanian Bitauni kami melihat para siswa pria sedang bermain bola kaki dan para siswa wanita dan pria yang lain menonton. Sesaat kemudian permainan berhenti dan mereka berjalan menuju asrama. Kami disapa sekian banyak siswa yang mengucapkan selamat sore dengan ramah. Romo Vinsen Manek Mau (kepala sekolah), Romo Yerem Seran, dan Romo Agus Klau serta Uskup emeritus Anton Pain Ratu yang tinggal di sebuah kamar di SMK ini sudah pergi ke Nenuk. Kami hanya bisa bertanya kepada beberapa siswa yang sempat ditemui.

Pertandingan bola kaki SMK Bitauni vs Desa Bitauni 2

Para penonton pertandingan bola kaki antara siswa SMK Pertanian Bitauni dengan pemuda Desa Bitauni dalam rangka perayaan hari Proklamasi 17 Agustus

Pertandingan bola kaki SMK Bitauni vs Desa Bitauni 3

Pertandingan bola kaki SMK Bitauni vs Desa Bitauni

 

Pertanyaan pertama kami kepada siswa-siswa itu adalah apakah semua siswa wajib tinggal di asrama. Jawabannya ya. Berapa uang asrama yang harus dibayar siswa per bulan? Jawabannya Rp 15 ribu per bulan. Waduh, ini benar-benar mengagetkan. Masa’ Rp 15 ribu per bulan. Apakah siswa masak sendiri untuk makan 3 x sehari? Jawabannya ya. Apakah masak pakai kompor? Jawabannya, ada yang pakai kompor, ada yang pakai kayu api. Agar pekerjaan memasak tak terlalu menyita waktu  belajar, mereka atur masak dalam kelompok-kelompok pertemanan dengan giliran memasak secara bergilir. Apakah siswa membawa bekal dari rumah. Jawabannya ya, bawa bekal beras dari rumah. Lalu, kami bertanya lagi, kalau makan lauknya apa? Jawabannya ya kami makan dengan sayur yang kami tanam sendiri di bedeng individu tiap siswa. Lauk yang lain bisa sup kacang hijau, ikan teri, daging dendeng kering, telur kalau ada. Kalau sudah tak ada lauk lagi ya makan dengan supermie. He he he. Mereka tampak bangga bisa makan dari usaha sendiri dan tidak memberatkan beban keuangan orang tua.

Mayoritas orang tua yang berprofesi petani sulit mendapatkan uang tunai tapi mereka memiliki beras dan jagung yang disimpan di lumbung untuk konsumsi keluarga selama satu tahun atau lebih. Kalau siswa tinggal di rumah ya orang tua harus menjamin terpenuhinya kebutuhan makan anak 3 x sehari. Kalau mereka diwajibkan tinggal di asrama dan masak sendiri ya jatah makanan yang dimakan di rumah tinggal dialihkan menjadi bekal yang dapat dibawa ke asrama. Beban ini terasa tidak terlalu memberatkan.

 

Dua siswa SMK Pertanian Bitauni bangga atas hasil kerjanya 3 - Copy

Bangga menunjukkan hasil kerja dengan keringat sendiri, sambil menunjukkan tanda victory, kemenangan.

Dua siswa SMK Pertanian Bitauni bangga atas hasil kerjanya 2 - Copy

 

Berapa besar uang sekolah (SPP) yang harus dibayar tiap siswa? Jawabannya Rp 50 ribu per semester. Waduh, tambah kaget lagi. Kalau tiap semester itu 6 bulan berarti tiap orang tua siswa membayar uang sekolah tiap siswa per bulan hanya sekitar Rp 8 500 + uang asrama Rp 15 000 = Rp 23 500 per bulan. Dengan demikian, dalam setahun orang tua hanya mengeluarkan biaya Rp 282 000 bagi anaknya di sekolah berasrama ini. Angka ini benar-benar berbeda antara bumi dan langit jika dibandingkan dengan biaya uang sekolah dan uang asrama dari sekolah berasrama, dalam hal ini SMA berasrama yang terkenal di Jabodatabek. Di sini orang tua harus membayar total Rp 70 juta s.d. Rp 100 juta per tahun bergantung kepada reputasi sekolah itu, apakah sekolah internasional, sekolah nasional plus atau sekolah nasional. Padahal, jika dibandingkan kualitas pendidikan karakter  di SMK Pertanian Bitauni apa yang dialami siswa di kampung itu mungkin jauh lebih bermakna daripada yang dialami siswa di sekolah berasrama supermahal itu.

Kami benar-benar kaget mendengar informasi betapa murah uang sekolah dan uang asrama di SMK Pertanian Bitauni karena sejauh informasi yang kami ketahui, tak ada sekolah berasrama di tanah air yang semurah ini. Nyaris gratis. Slogan sekolah negeri gratis telah dilaksanakan sekolah swasta berasrama ini. Kami belum menemukan model sekolah seperti ini yang lain di tanah air dan di negara-negara lain yang pernah kami kunjungi.

Kami bertanya lagi, apakah siswa wajib ikut misa (ibadah harian biasanya di pagi hari)? Jawabannya ya. Bangun pagi jam berapa? Jam 5.00 pagi. Apakah siswa berolahraga di sore hari? Jawabannya ya, diatur cabang olahraga yang mana digilir antar-siswa. Yang penting semboyan “mens sana in corpore sano” (jiwa yang sehat dalam tubuh yang sehat) diterapkan dalam kehidupan keseharian mereka.

Kamis 21 Juli 2014 pada Pesta Santo Pius X, sekolah ini merayakan pesta perak (25 tahun usia) sekolah ini, yang didirikan tahun 1989. Lahan sekolah ini seluas sekitar 26,5 hektar. Tanah ini dulunya bersifat asam sehingga kurang diminati penduduk. Setelah ditanami aneka- pohon dan dibudidaya kini tanah menjadi subur.   Kepada para siswa, pembina sering mendengungkan semboyan bahwa di atas batu karang tanaman dapat tumbuh subur dan akhirnya menghasilkan cukup makanan, asalkan anda tidak hanya mau bekerja keras tapi juga bekerja cerdas. Biji sesawi itu adalah biji yang paling kecil dari segala jenis benih, tetapi apabila sudah tumbuh, sesawi itu lebih besar daripada sayuran yang lain, bahkan menjadi pohon, sehingga burung-burung di udara datang bersarang pada cabang-cabangnya.

Kini SMK ini menampung 469 siswa yang tersebar dalam tiga program studi, yaitu Agronomi, Teknologi Hasil Pertanian, dan Budidaya Ternak. Enrolmen meningkat dari tahun ke tahun dan tahun ini diterima 309 siswa baru. Siapa pun siswa yang datang dari latar belakang suku dan agama apa pun diterima tanpa tes seleksi. Didukung kehidupan berasrama yang menjamin disiplin belajar siswa, praktik teori yang dapat dilanjutkan di sore hari dan hari libur, dan bimbingan para guru dan pamong asrama, kelulusan 100% dalam ujian nasional merupakan prestasi siswa sekolah ini. Tahun ajaran 2012, 120 siswa kelas III mengikuti ujian nasional dan kelulusannya 100%. Ujian nasional tahun 2013 diikuti 112 peserta sedangkan tahun 2014 diikuti 72 peserta dan semuanya lulus 100%. Tak ada yang tercecer.

Dalam olimpiade sains terapan SMK 2014 tingkat Provinsi NTT, siswa sekolah ini merebut juara I bidang studi Fisika dan Kimia dan akan ikut lomba olimpiade sains terapan tingkat nasional di Jakarta. Minggu kedua Agustus siswa SMK ini mengikuti lomba di Kupang dan dua siswa merebut juara I Biologi dan Fisika dan satu siswa merebut juara III Kimia. Pada minggu ketiga Agustus dua siswa ikut lomba kompetensi siswa bidang pertanian dan peternakan di Kupang dan berhasil merebut juara II. Dalam rangka perayaan 17 Agustus para siswa ikut perlombaan kesenian, olahraga, dll. dan merebut juara I bola kaki putra dan juara I bola voli putri.

Inilah indikator dan sekadar contoh prestasi siswa SMK Bitauni yang secara umum menggambarkan mutu dan relevansi sekolah ini. Mengapa bisa begitu? Ya, karena pendidikan yang berkualitas dan karakter yang ditumbuhkembangkan melalui revolusi mental di sekolah berasrama ini.

Belajar biologi, kimia, fisika tidak semata teoritis tapi dipraktikkan untuk memecahkan masalah dalam aktivitas bertani dan beternak melalui eksperimentasi dan inovasi. Pelajaran akademis melalui pemecahan masalah dan kreativias berproduksi divariasikan dengan pengembangan potensi kinestetik melalui olahraga dan kreativitas berkesenian serta pengembangan kecerdasan spiritual melalui ibadah dan sosialisasi dengan sesama teman serta guru dan pembina.

Teknologi penanaman, pengolahan, pemupukan, pemberian makanan yang terbaru diterapkan. Siswa per kelompok program studi menghasilkan produk berupa aneka-sayuran, bawang merah, cabe, dan tomat. Siswa pun membuat anggur dari buah dan kulit pisang dan dijual seharga Rp 15 ribu per botol. Siswa pun memelihara unggas (ayam) dan menjual ayam dan telur. Siswa juga memelihara babi yang sudah bisa dijual dengan harga Rp 2,5 juta s.d. Rp 3,5 juta bergantung kepada beratnya. Babi divaksinasi dan diberi makanan sehat yang mampu menggemukkan babi dan bisa dijual setelah berusia 6 – 7 bulan. Pasar babi di Timor khususnya dan NTT umumnya menjanjikan karena daging babi menjadi bagian dari adat pesta berbagai suku. Kalau terjadi kekurangan babi di Timor, orang akan impor dari Flores atau sebaliknya. Kalau Sumba kekurangan babi akan diimpor dari Flores dan Timor. Produk unit produksi siswa dijual ke pasar, juga ke Kupang, dan ada yang sudah diekspor ke Jawa dan Kalimantan. Ada juga penjual di pasar yang datang sendiri ke sekolah membeli produk sekolah ini.

 

Embung penampung air hujan di SMK Pertanian Bitauni Timor

Segala aktivitas budidaya tanaman, unggas, dan ternak mengandalkan cadangan air dari satu-satunya embung di sekolah ini. Air tidak dialirkan melalui pipa tapi ditimba siswa dan dibawa untuk menyirami tanaman dan memberi minuman kepada unggas dan ternak.

Bedeng sayuran, tomat, cabe di SMK Pertanian Bitauni Timor

Bedeng sayuran, tomat, cabe di SMK Pertanian Bitauni Timor 4

Embung dan bedeng sayur di SMK Pertanian Bitauni Timor 2

Embung dan bedeng sayur di SMK Pertanian Bitauni Timor

 

Romo Vinsen Manek mengatakan, menjelang perayaan ulang tahun perak sekolah ini, tanaman sayur brokoli, tomat, dan bawang merah siap panen.

Brokoli

Kebun Tomat

bawang merah

Melalui penjualan produk yang dihasilkan siswa per kelompok program studi, siswa memberikan sumbangan pembiayaan sekolah melalui pendapatan asli sekolah (PAS). Dengan demikian, secara tidak langsung sebenarnya siswa mensubsidi dirinya sendiri sehingga uang sekolah per semester dan uang asrama per bulan bisa ditekan semurah mungkin. Selain produk hasil belajar siswa, dana BOS sebesar Rp 500 ribu per siswa per tahun membantu pembiayaan sekolah. Beasiswa bagi siswa “miskin” sebesar Rp 1 juta per tahun juga membantu sehingga uang sekolah bisa ditekan seminimal mungkin. Selain itu, ada bantuan dana juga dari yayasan lokal dan bantuan pengembangan kapasitas dari Plan International. Pengelolaan dana sekolah yang dilakukan secara transparan, akuntabel, dan kredibel memungkinkan sekolah ini membayar gaji guru secara memadai, lebih besar dari gaji guru SMK dan SMA swasta lain di Timor khususnya dan NTT umumnya.  Bahkan gaji guru sekolah ini lebih tinggi dari gaji dosen universitas swasta. Jumlah guru sekolah ini yang merangkap tenaga lapangan sebanyak 30 orang dan karyawan 11 orang. Jumlah guru dapat ditekan menjadi minimal karena tiap guru berperan juga sebagai tenaga lapangan. Tidak dipisahkan status guru dan status tenaga lapangan seperti di SMK yang lain.

Kisah sukses SMK Pertanian Bitauni tidaklah jatuh dari langit, tapi melalui perjuangan konsisten dan tekun selama 25 tahun. Faktor lain yang tak kalah mendukung adalah pimpinan gereja, dalam hal ini uskup memberi perhatian dan bantuan langsung. Baik uskup Dominikus Saku kini dan uskup Anton Pain Ratu (sekarang dalam status uskup emeritus, pensiun) membantu melalui pemanfaatan networking untuk pengembangan SDM (sumber daya manusia), tenaga pendidik di sekolah ini. Kehadiran uskup emeritus Anton Pain Ratu langsung di tempat yang hidup dalam komunitas kecil dengan tiga romo di sana menjadi motivasi yang tak ternilai bagi ketekunan memecahkan masalah yang dihadapi. Ketiga romo yang bertugas di sana menunjukkan passion mendidik anak-anak remaja untuk menjadi petani teladan.

Uskup emeritus Anton Pain Ratu memilih tinggal di SMK Pertanian ini setelah beliau pensiun. Banyak imam dan warga umat terheran-heran mengapa beliau memilih tinggal di sebuah kamar sederhana di sekolah ini. Dalam obrolan di meja makan selama seminar di Nenuk, kami katakan kepada Mgr Anton Pain Ratu mengapa beliau tetap sehat dan berumur panjang. Tiap hari beliau melihat anak-anak tumbuh dan berkembang menjadi petani teladan. Ini membuatnya berumur panjang. Di forum seminar, kami katakan bahwa melihat kamar sederhana uskup tituler, bukan kaul kemiskinan tapi kaul kemelaratan yang diterapkan. Dari obrolan di meja makan, baru saya tahu bahwa selama jadi uskup aktif, beliau hanya tidur di atas papan tanpa kasur. Suatu kali datang keluarga dari Adonara, Flores Timur berkunjung dan menangis melihat opa uskup kok tidur tidak pakai kasur, hanya beralas papan dan tikar. Keluarga langsung ke Atambua membeli kasur. Sejak waktu itu ia terpaksa pakai kasur agar tidak mengecewakan keluarga. Waktu umat mendengar bahwa Paus Fransiskus hidup sederhana, sambil bercanda umat bilang, oh pasti bapa paus meniru kesederhanaan uskup Anton Pain Ratu. He he he.

Setelah saya bercerita kepada teman-teman tentang kisah sukses SMK Pertanian Bitauni, Pak Fidelis Waruwu, pakar pendidikan karakter dan pendidikan nilai menyatakan: “Kelihatannya kita membutuhkan revolusi mental, kita bisa belajar bagaimana memanfaatkan semua lahan yang ada, beternak dan berkebun. Kalau ini kita lakukan, kelihatannya pemberdayaan seluruh masyarakat sedang terjadi. Saya ingat pepatah China kuno yang selalu dikutip melawan kebijakan pemerintah yang gemar memberi ‘Bantuan Langsung Tunai’ — ‘Beri seseorang ikan, Anda memberinya makan sehari; ajari dia mengail, Anda menghidupinya seumur hidupnya.; — Jadi yang dilakukan sekolah ini adalah memberi anak-anak itu kail.”

 

Kiprah alumni, kita bisa, dan unit produksi di sekolah umum

 

Lulusan sekolah ini ada yang melanjutkan ke fakultas pertanian di universitas atau ke politeknik pertanian di Kupang dan di luar Timor. Ada pula yang telah menjadi dosen universitas. Namun terbanyak terjun menjadi petani yang dapat menjadi teladan kepada sesama petani di lingkungannya.

Betapa cocok dan relevan para penggagas dan pembina memilih jenis SMK yang sesuai dengan potensi pertanian lahan kering dan peternakan Timor. Mereka tidak memilih SMK perhotelan atau bisnis dan akuntansi yang membuat anak Timor tercerabut dari habitatnya. Sukses sekolah ini mendorong orang tua untuk lebih memilih menyekolahkan anaknya di SMK daripada di SMA lalu melanjutkan ke universitas, lalu pulang ke kampung menjadi penganggur.

Di tanah air, bahkan di NTT sendiri sekolah ini tidak banyak dikenal. Namun, reputasinya telah dikenal pemerintah Timor Leste yang telah menjalin kerja sama dengan sekolah ini. Para guru di Timor Leste telah datang dan belajar dari sekolah ini.

Gagasan unit produksi di SMK mendorong kami dalam beberapa tahun ini membawa ide ini untuk diterapkan di sekolah umum (SD, SMP, dan SMA) melalui pendidikan kewirausahaan siswa. Saran ini kami ulangi lagi dalam penataran Kurikulum 2013 di SMA Surya di Atambua pada 1 Agustus 2014 yang dihadiri 120 guru dan kepala sekolah dari 7 sekolah. Biarlah anak-anak Timor bisa jadi wirausahawan di negeri sendiri. Masa’ warung dimiliki orang Padang dan orang Jawa, lalu orang Timor jadi konsumen sepanjang masa. Orang Timor menjual murah daging sapi, lalu orang Jawa bikin bakso, kita beli lebih mahal. Aneh tapi nyata.

20140801_082206

Menata ulang kelas dari duduk berbaris ke duduk dalam kelompok di SMA Surya untuk memudahkan interaksi dan komunikasi guru – siswa- siswa dalam melaksanakan belajar aktif.

20140801_082157

Pada tanggal 2 Agustus pagi saya dan istri dari Kupang terbang ke Pulau Sumba dan tiba di Bandara Tambolaka dan segera ke Seminari (SMP dan SMA) Sinar Buana, di Waitabula, ibu kota Kabupaten baru, Sumba Barat Daya. Dari Senin 4 Agustus s.d. Rabu 6 Agustus kami menatar para guru seminari tentang Kurikulum 2013 melalui belajar aktif sekaligus mengajak menemukan solusi pendidikan kewirausahaan siswa dan unit usaha apa yang cocok bagi seminari untuk menciptakan sumber dana baru agar seminari ini mampu meraih financial freedom, kebebasan finansial dalam menyelenggarakan dan mengelola sekolah. Tradisi seminari itu mandiri, berdiri di atas kaki sendiri, tidak mengandalkan bantuan pemerintah walaupun bantuan itu bersumber dari pajak rakyat. Di mana-mana di dunia ini, pengelolaan sekolah swasta itu cenderung efisien dan umumnya sekolah swasta-lah yang lebih bermutu dan mampu menyesuaikan diri dengan tuntutan zaman. Betapa pun besar dukungan dana pemerintah, sekolah negeri di mana-mana cenderung kalah bersaing dalam mutu dan relevansi serta pendidikan karakter siswa dibandingkan sekolah swasta.

IMG-20140806-04083

IMG-20140806-04082

Belajar tidak selalu harus di dalam ruang kelas. Siswa SMP dan SMA Seminari Sinar Buana Sumba belajar matematika, IPA, IPS, bahasa, bahkan agama di luar kelas, di alam. Sirkulasi darah lebih lancar, stimuli dari pepohonan, bebatuan, awan, pemandangan, dan manusia sekitar meningkatkan kreativitas dan kelancaran kinerja otak.

IMG-20140806-04088

IMG-20140806-04106

Impian kami adalah menerapkan model sekolah kerja (Arbeit Schule, Do School) seperti INS Kayu Tanam di Sumatera Barat pada zaman penjajahan dan gagasan kunci Kurikulum 1947, ide sekolah kerja pada awal kemerdekaan. Tampaknya model sekolah kerja ini telah diterapkan SMK Pertanian Bitauni dan pasti dapat diterapkan pada sekolah umum (SD, SMP, dan SMA) melalui pendidikan kewirausahaan yang memadukan kegiatan kurikuler mata-mata pelajaran dan kegiatan ekstrakurikuler.

SMK Pertanian ini hanya mengandalkan satu embung yang menampung air hujan tatkala musim hujan dan dipakai selama 1 tahun, termasuk di musim kemarau. Siswa menimba air dari embung dan menyirami aneka tanaman tiap kelas dan tiap siswa (bedeng pribadi). Selama ini air di embung masih cukup. Untuk keperluan mencuci pakaian, memasak, dan mandi digunakan air tanah. Lahan yang dulunya berciri asam dan gersang kini telah memiliki cadangan air tanah yang memadai.

 

 Embung dan bedeng sayur di SMK Pertanian Bitauni Timor 2

 

Siswa SMK Bitauni menari dalam pertemuan kakak alumni

Suasana pesta reuni alumni SMK Pertanian Bitauni

Romo Vincent Kepala SMK Pertanian Pius X Bitauni

Kepala sekolah Romo Vinsen Manek (tengah) sedang memimpin rapat alumni sebagai persiapan perayaan ulang tahun sekolah

Reuni alumni SMK Bitauni 4

Suasana rapat alumni

Alumni SMK Pertanian Bitauni bermusik dan menyanyikan anggur merah

Suasana perayaaan temu alumni

Alumni SMK Bitauni reuni di sekolahnya Agustus 2013

Alumni SMK Bitauni di sekolahnya Agustus 2013

Acara reuni alumni SMK Bitauni nostalgia

Tarian siswa SMK Bitauni pada acara reuni

Acara reuni alumni SMK Bitauni nostalgia 2

Betapa pun tantangan yang dihadapi, kita bisa

 

Timor khususnya dan Nusa Tenggara Timur (NTT) adalah salah satu wilayah yang berada di garda terdepan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan 22 kabupaten/kota karena berbatasan langsung dengan Timor Leste dan bertetangga dekat dengan Australia. NTT juga menjadi salah satu daerah “3T” (Terluar, Terpencil, dan Terdepan), saya tambahkan satu “T” lagi, Tertinggal. Meskipun kata-kata itu kedengarannya sangat menyayat hati, tetapi itulah kenyataan yang harus kita hadapi. NTT tertinggal dalam banyak hal, seperti ekonomi, kesehatan, pendidikan dan lain sebagainya.

Dalam bidang pendidikan NTT masih tertinggal jauh dari provinsi lain di Indonesia. Pada tahun 2013 yang lalu, persentase kelulusan hasil ujian nasional (salah satu indikator keberhasilan bidang pendidikan) NTT berada di urutan ke-29 dari 33 propinsi, lebih baik dari tahun sebelumnya urutan ke-33. Hasil ini mencerminkan keprihatinan bidang pendidikan di NTT. Banyak hal yang menjadi biang dari masalah itu. Salah satunya adalah minimnya sarana dan prasarana pendidikan. Ini juga sebagai sumbangsih dari masalah politik, dan kesejahteraan rakyat. Isu yang paling sering diangkat juga adalah kita tertinggal jauh dalam hal teknologi informasi dan modernisasi.

Namun, di tengah pesimisme ini, muncul fajar menyingsing dari Bitauni, Kecamatan Insana, di tengah tanah Timor. SMK Pertanian Bitauni telah membuktikan bahwa melalui revolusi mental yang ditunjang manajemen dan kepemimpinan para pembina yang memiliki passion, gairah luar biasa pengabdian, di atas batu karang Pulau Timor dapat dibuat mujizat. Tanah berbatu karang dapat menghasilkan tanaman dan ternak melalui pembinaan karakter siswa yang melandasi mutu pendidikan yang terandalkan. Para pembina terus menanamkan kepercayaan diri siswa melalui slogan, kita bisa, kita bisa. Tak ada yang mustahil dalam hidup ini kalau kita selalu berprinsip, kita bisa.

Pengalaman keterampilan karakter

&

Pengalaman keterampilan karakter 2

Kami coba browse facebook alumni SMK Pertanian Santo Pius X Bitauni, Timor Tengah Utara, NTT dan mendapatkan ungkapan seorang alumnus, Alex Tikneon yang menilai sekolahnya ini pada status facebook-nya dalam rangka reuni alumni sekolah ini sbb:

“Di dalam nama grup ini, yaitu SMK ST PIUS X BITAUNI, mental saya dibentuk untuk kemudian menjadi orang yang bermental kerja keras, tanggung jawab, berkarismatik, dan hal-hal positif dalam mengarungi hidup ini…. Di sekolah ini, aku diajar untuk menghargai waktu, di sekolah ini, aku diajar tentang bagaimana hidup mandiri kelak, dan di sekolah ini tidak diajarkan suatu saat menjadi PNS melainkan pekerja, di sekolah ini, aku diajarkan bagaimana mendekatkan diri dengan Tuhan…. Akhirnya Puji Tuhan, dengan bekal yang diberikan sekolah ini, aku bisa menjalankan hidup ini dengan berdiri di atas kaki sendiri…. Salam semua alumni sekolah ini. Tuhan memberkati kalian semua.”

 

Alex Tikneon alumnus SMK Pertanian Bitauni dan istri

Alex Tikneon dan istri

Alex Tikneon dan keluarga, seorang alumnus SMK Pertanian Bitauni

Alex Tikneon di tengah keluarga

Alex Tikneon alumnus SMK Pertanian Bitauni dengan foto latar belakang rumahnya

Mengarungi masa depan dengan rasa percaya diri dan optimisme

Selama 25 tahun usia sekolah ini, telah dihasilkan sekian banyak alumni, terbanyak terjun menjadi petani di lingkungan masyarakatnya. Ada yang tidak duduk diam dan menyaksikan karut marut politik yang berciri transaksi pragmatis. Pengamatan kemiskinan yang masih membelit penduduk mendorong sejumlah alumni untuk mewarnai pertarungan politik melalui terjun langsung.

Para pembina sekolah ini sering mengingatkan para siswa bahwa jika kita berikhtiar, mujizat Tuhan, kemahamurahan hati Tuhan bisa terjadi dan terjadi lagi. Dari semula dua ekor ikan dan lima potong roti akhirnya kita bisa memberi makan kepada lima ribu orang dan sisanya bisa dijual.

Dalam obrolan dengan siswa kelas II SMK ini anak-anak remaja itu dengan bangga bercerita tentang aktivitas belajarnya menanam dan memelihara ternak. Mereka tampak optimis menghadapi masa depan. Ketika ditanya, selesai sekolah mau jadi apa umumnya mengatakan bercita-cita menjadi petani teladan.

Unit produksi di sekolah umum melalui pendidikan kewirausahaan

Khusus untuk NTT umumnya dan Timor khususnya, kami mengidam-idamkan sekolah berasrama yang bisa hidup melalui unit produksi, tidak hanya SMK tapi juga SMP dan SMA berasrama dan juga SD tanpa asrama. Sekolah berasrama sering terbayangkan sebagai sekolah mahal karena uang asrama yang cenderung tinggi sehingga hanya orang tua yang mampu dapat menyekolahkan anaknya di sekolah berasrama. Ternyata, SMK Pertanian Bitauni telah membuktikan bahwa sekolah berasrama tidak mesti mahal, bisa murah, bahkan demikian murahnya sehingga dikatakan nyaris gratis.

Kami kemukakan beberapa contoh awal pendidikan kewirausahaan yang dapat berkembang menjadi unit produksi. Para siswa SMA Terpadu HTM (berasrama) di Halilulik, Kabupaten Belu telah menanam pohon naga dan buahnya yang lezat dan bergizi dimakan para siswa. Kepala sekolah bingung mau diapakan buah naga yang berlimpah yang siap panen. Dalam obrolan waktu seminar pendidikan di Nenuk, kami katakan, mengapa tidak melatih siswa memproses buah naga menjadi sirup dan selai yang bisa dijual ke Kupang, bahkan ke luar pulau? Mau tahu caranya? Tinggal googling saja di internet dan dapat ditemukan proses cara membuatnya. Kalau kurang jelas ya cari videonya di Yotube. He he he.

??????????

??????????

Para siswa SMA Seminari Lalian di Kabupaten Belu telah berwirausaha melalui menanam sayuran, memelihara ayam dan babi, dan akan memelihara sapi. Sayur yang dipanen dijual ke seminari untuk dimakan mereka sendiri. Telur dan ayam serta babi dijual ke pasar di Atambua. Selain itu, siswa membuat dan mengelola koperasi siswa sendiri.

Para siswa SMA Giovanni di Kupang belajar desain grafis dasar yang ditindaklanjuti dalam mata pelajaran Prakarya dan Kewirausahaan. Mesin untuk sablon gelas dan baju telah dipesan. Ternyata gelas dan baju yang disablon coba dijual dan ternyata laris manis. Kini penyablonan telah menjadi cikal bakal unit produksi. Hasil penjualan dapat digunakan untuk membeli keperluan sekolah. Kata kepala sekolah, “Intinya kami ajarkan skill kepada anak agar di kemudian hari mereka bisa berkuliah sambil usaha.”

Para siswa SMP Negeri Buti di Merauke yang terletak tak jauh dari pantai dilatih membuat abon ikan dari ikan yang dibeli murah waktu musim ikan. Hasil penjualan abon ikan a.l. digunakan untuk memberi makan kepada semua siswa dan guru 2 x per minggu. Mereka pun dilatih budidaya ikan pada bekas lubang galian pasir yang disulap menjadi kolam ikan. Kemudian, siswa juga dilatih memelihara angsa dan sapi yang didatangkan dari Jayapura atas bantuan dinas pertanian Merauke. Kalau upaya ini konsisten dilakukan, sekolah ini dapat menjadi sekolah kaya.

Tiga ratus lima puluh siswa dari kelas I s.d. VI sebuah SD di Batu Raja, Sumatera Selatan telah mencoba menanam sayur pada pot hidroponik. Waktu pelatihan Kurikulum 2013 di Bandar Lampung kami memberi file tentang cara membuat pupuk padat dan cair organik dan cara menanam pada pot hidroponik dan polibag. Kepala sekolah menelepon kami mengabarkan berita gembira bahwa para siswa telah berhasil menanam sayur pada pot hidroponik dan akan panen. Saya tanya, sayur itu nanti diapakan? Jawabnya, ya siswa memasak dan makan rame-rame. Saya tantang lagi, hayo, bertahap ditingkatkan tiap siswa 2, 3, 4, dan kemudian 5 pot hidroponik dan berkembang terus akhirnya bisa diatur penjualan sayur sawi, bayam, tomat, cabe, dll. ke pasar di Batu Raja. Hasil penjualan bisa digunakan untuk membeli keperluan sekolah.

Sayur sawi di pot hidroponik

Contoh sayur sawi yang berhasil tumbuh subur pada pot hidroponik. Sayur ini mendapatkan asupan makanan dari pupuk cair yang dicampurkan dengan air. Tak perlu disiram lagi. Tidak bergantung pada hujan. Di musim kemarau pun sayur dapat ditanam.

Inspirasi dari Nenuk, Kabupaten Belu, Timor

Di Nenuk sebagai biara induk Soverdi (SVD) Timor, para calon imam dan bruder menjalani pendidikan rohani selama 2 tahun sebelum melanjutkan pendidikan filsafat dan teologi untuk menjadi imam atau pendidikan bidang lain untuk menjadi bruder. Para novis ini adalah lulusan SMA seminari atau SMA dan SMK umum.

Waktu mengikuti seminar pendidikan di Nenuk, kami sempat melihat-lihat ‘unit produksi’ sebagai media praktik para novis sebagai implementasi prinsip hidup ora et labora (berdoa dan bekerjalah). Mereka menanam dan memelihara tanaman serta beternak. Melalui upaya ini paling tidak mereka bisa makan dari apa yang diproduksi sendiri sekaligus menumbuhkembangkan semangat kewirausahaan agar sebagai imam mereka termotivasi memberdayakan kemampuan ekonomi umat dan sebagai bruder mereka bisa menempuh studi lanjut spesialisasi pertanian, peternakan atau bidang-bidang lain.

IMG-20140731-03996

Kompleks biara induk tampak depan

IMG-20140731-03994

Kamar Rektor biara tepat di sudut bangunan

IMG-20140731-03976

Panti pendidikan novis tampak belakang. Di area inilah berpusat ‘unit produksi’ peternakan dan sebagian pertanian.

IMG-20140731-03985

IMG-20140731-03986

Ternak ayam

IMG-20140731-03965

Ternak bebek

IMG-20140731-03969

IMG-20140731-03970

Ternak kambing

IMG-20140731-03967

IMG-20140731-03982

Ternak sapi

IMG-20140731-03977

Ternak burung merpati

IMG-20140731-03972

Bagian hutan tempat dibudidaya pula vanili

Kebun vanili

Tanaman vanili

Pendidikan kewirausahaan di lembaga pendidikan kejuruan atau umum di mana pun dapat dilakukan. Bidang praktik wirausaha dipilih sesuai dengan potensi dan konteks setempat. Praktik wirausaha ini dapat berkembang menjadi unit produksi sekolah jika dilakukan secara konsisten dan dikelola dengan semangat bisnis. Produk unit produksi bisa dijual untuk menambah sumber dana sekolah.

Advertorial

Diabetes

Bacalah posting kami berjudul:

https://sbelen.wordpress.com/2013/05/03/bawang-putih-cuka-apel-madu-jahe-lemon-jantung-sehat-tubuh-bugar/

Sano sembuhkan diabetes

Kartu nama Yuni 3

Iklan

Analisis SWOT Kurikulum 2013 Semua Jenjang & Solusi Kita

Januari 16, 2014

Anak tendang guru

Guru kencing berdiri, siswa kencing berlari

Perkembangan kurikulum Indonesia

Sejak merdeka sampai sekarang telah berlaku 10 kurikulum di Indonesia. Menurut pendapat saya, kurikulum terbaik adalah Kurikulum 1947 yang berorientasi dan menekankan model sekolah kerja (Arbeit Schule, Do School). Contoh sekolah kerja yang terkenal di tanah air adalah Indonesische Nederland School (INS) di Kayu Tanam (sekitar 60 km utara Kota Padang di pinggir jalan dari Padang menuju Bukittinggi) yang didirikan Mohamad Syafei pada tanggal 31 Oktober 1926.  Pelajaran di sekolah ini menggunakan bahasa Melayu (kemudian menjadi bahasa Indonesia) dan bahasa Inggris. Visi M Syafei adalah bangsa Indonesia bisa memenangkan persaingan dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Model sekolah seperti inilah yang dicita-citakan para penyusun Kurikulum 1947 seperti tampak pada dokumen kurikulum yang amat tipis tapi kaya gagasan dan amat substantif menatap masa depan Indonesia. Pelaksanaan belajar aktif pada model sekolah kerja tidak hanya terbatas pada pelajaran rutin tapi sampai kepada menghasilkan produk kerajinan tangan dan prakarya oleh siswa sendiri di bawah bimbingan guru. Implementasi Kurikulum Satuan Pendidikan (KTSP) 2006 dan desain Kurikulum 2013 tidak menganut orientasi ini. Hanya terbatas pada belajar aktif dalam pelajaran rutin. Sedangkan, pendidikan kewirausahaan sebagai wadah praktik konsep sekolah kerja kurang ditekankan. Gagasan sekolah kerja ternyata masih konsisten dilaksanakan di Finlandia. Siswa belajar membuat kerajinan tangan, menjahit, membuat makanan, membuat barang dari logam, mengutak-atik mesin, belajar fotografi, membuat kreasi dengan menggunakan teknologi informasi. Model sekolah kerja yang telah dimodifikasi sesuai dengan tuntutan zaman menyebabkan prestasi siswanya unggul dalam tes-tes internasional. Strengths (Kekuatan) Kurikulum 2013

  • Pendekatan tematik dilanjutkan ke kelas IV – VI SD. Penetapan ini tepat karena siswa usia SD masih berpikir holistik dan dampaknya adalah penghematan waktu dan tenaga serta pengurangan pengulangan dan tumpang tindih. Hanya harus diingat: Tetap ada mata pelajaran tersendiri karena tidak semua kompetensi dasar (KD) dapat seutuhnya diajarkan melalui pendekatan tematik. Mata pelajaran tersendiri, terutama Bahasa Indonesia dan Matematika harus diajarkan tersendiri juga karena tidak semua KD dapat seutuhnya diajarkan melalui pendekatan tematik. Jika semua KD diajarkan melalui pendekatan tematik, akan terjadi pendangkalan penguasaan kompetensi, terutama kompetensi membaca dan menulis siswa akan lemah. Inilah pelajaran atau hikmah dari implementasi KTSP 2006 yang melalaikan pelajaran tersendiri terutama untuk Bahasa Indonesia dan Matematika.
  • SMP: IPA dan IPS diajarkan / dipelajari secara terpadu. Tidak seluruh KD mata pelajaran dapat diajarkan secara terpadu. Ada KD yang tak bisa dipadukan. Perlu diajarkan tersendiri sebagai mata pelajaran terpisah. Tampaknya pembelajaran terpadu ini sulit dilaksanakan karena guru hanya disiapkan mengajar satu mata pelajaran selama studi di lembaga pendidikan tenaga kependidikan (LPTK).
  • Penjurusan (dengan istilah peminatan pada Kurikulum 2013) di SMA langsung dimulai dari awal kelas I (kelas X). Kebijakan ini memungkinkan siswa lebih mendalami mata-mata pelajaran jurusan. Namun, porsi jam pelajaran per minggu pada Kelompok A (Wajib) dan Kelompok B (Wajib) yang bersifat umum (bukan peminatan / jurusan) mencapai  24 jam atau 50% dari seluruh beban jam pelajaran per minggu (48 jam). Porsi jam pelajaran per minggu Kelompok C (Peminatan) adalah 24 jam atau 50% dari total jam pelajaran per minggu di SMA. Maksud penjurusan sejak awal untuk mengurangi beban belajar siswa ternyata tidak tercapai.
  • Dimasukkan Pancasila sehingga Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) pada KTSP berubah nama menjadi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn).
  • Pelajaran Sastra di SMA dan SMK lebih diperhatikan.
  • Pramuka ditekankan.
  • Imbauan dan dorongan melaksanakan kurikulum melalui belajar aktif karena kurikulum ini menekankan proses.
  • Pendidikan kewirausahaan masuk di SMA dan SMK dalam mata pelajaran Prakarya dan Kewirausahaan dengan porsi waktu 2 jam pelajaran per minggu.

Senam push up

Weaknesses (Kelemahan) Kurikulum 2013

  • Penekanan pengembangan karakter siswa melalui pembelajaran. Padahal yang paling efektif melalui proses peneladanan dan pembiasaan, bukan melalui proses pembelajaran. Betapa pun, hal ini cukup baik agar guru tak lupa memperhatikan pengembangan karakter siswa.
  • Mengapa jam pelajaran agama ditambah? Di SD dari 3 menjadi 4 jam dan di SMP, SMA, dan SMK dari 2 menjadi 3 jam. Padahal, seperti pendidikan karakter, pendidikan agama lebih efektif dilakukan melalui proses peneladanan dan proses pembiasaan. Proses pembelajaran hanya mendukung kedua proses itu. Karena itu, sebenarnya untuk pembelajaran agama cukup 2 jam karena hanya dibatasi pada kegiatan belajar agar siswa lebih mendalami ajaran agama. Praktiknya lebih terfokus kepada proses peneladanan dan proses pembiasaan.
  • Memperkuat mata pelajaran perekat bangsa -> OK setuju. Tapi mengapa hanya dibatasi pada mata pelajaran Bahasa Indonesia, PKn, Agama, dan Matematika? Mengapa IPS, terutama Sejarah tidak masuk? Malah digabungkan ke PPKn? Kalau Matematika sebagai mata pelajaran universal yang berlaku untuk semua bangsa di dunia masuk, mengapa IPA tak dimasukkan padahal IPA adalah mata pelajaran universal juga?
  • Alasan Mendikbud mengubah kurikulum (KTSP 2006) adalah deradikalisasi bangsa Indonesia yang terjebak dalam konflik vertikal dan horisontal dan ancaman terorisme. Namun, penekanannya justru kepada mata-mata pelajaran “perekat bangsa” tanpa didukung dan diikat oleh konsepsi substantif, seperti pendidikan lintas budaya atau pendidikan multikultural (multicultural education). Tak mungkin tercipta kehidupan yang damai di Indonesia jika masih ada konflik antar-agama dan konflik antar-aliran dalam satu agama.  Motif deradikalisasi malah dilakukan melalui penambahan jam pelajaran agama, bukan melalui membuka peluang bagi siswa untuk mengenal tradisi agama-agama lain selain agamanya agar menghargai agama lain. Bahkan, Kompetensi 1 yang harus mewarnai berbagai KD semua mata pelajaran malah menekankan agar siswa menerima dan menjalankan ajaran agama yang dianutnya. Semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang dikutip dari Kakawin Sutasoma karangan Mpu Tantular sekitar abad ke-14 Masehi justru mengajarkan toleransi antara umat Hindu Siwa dengan umat Buddha. Buddha dan Siwa merupakan dua zat yang berbeda, tetapi bagaimanakah bisa dikenali? Sebab kebenaran Jina (Buddha) dan Siwa adalah tunggal. Terpecah belahlah itu, tetapi satu jugalah itu. Tidak ada kerancuan dalam kebenaran. Apakah isi kurikulum pendidikan agama 2013 menekankan toleransi dengan penganut agama lain?
  • Menambah jumlah jam pelajaran per minggu: SD 4 jam, SMP 6 jam, SMA 2 jam, dan SMK menjadi 48 jam per minggu (24 jam atau 50% untuk kelompok mata pelajaran A dan B) -> Alasan tak jelas. Perbandingan antar-negara tidak jelas. Finlandia malah nomor I di dunia padahal jumlah jam pelajarannya sedikit. Yang penting pelajaran menyenangkan atau tidak. Faktor metodologi lebih penting daripada lamanya waktu. Indonesia: Jumlah hari belajar efektif termasuk yang tertinggi di dunia, sama dengan Korea Selatan.
  • Jumlah mata pelajaran masih banyak. Dikurangi tapi mengapa jumlah jam per minggu ditambah menjadi tertinggi di dunia? Di SD jumlah mata pelajaran dikurangi dari 10 menjadi 8 tapi jumlah jam per minggu ditambah dari 32 menjadi 36 jam (ditambah 4 jam di kelas IV, V, dan VI). Kalau tambahan 4 jam ini dikonversi dengan patokan 1 mata pelajaran 2 jam per minggu, jadinya jumlah mata pelajaran dalam pelaksanaan konkret di lapangan ditambah 2 mata pelajaran sehingga sama saja dengan 10  mata pelajaran dalam KTSP 2006. Jadinya bertambah 2 mata pelajaran dari sudut pandang waktu dalam Kurikulum 2013. Di SMP jumlah mata pelajaran dikurangi dari  12 menjadi 10 mata pelajaran tapi jumlah jam per minggu ditambah dari 32 menjadi 38 jam (ditambah 6 jam). Kalau tambahan 6 jam ini dikonversi dengan patokan 1 mata pelajaran dengan 2 jam per minggu, jadinya jumlah mata pelajaran dalam pelaksanaan konkret di lapangan ditambah 3 mata pelajaran sehingga sama saja dengan 13 mata pelajaran. Jadinya bertambah 1 mata pelajaran dari sudut pandang waktu dalam Kurikulum 2013. Di SMA jumlah mata pelajaran dikurangi dari  18 menjadi 16 dan 15 mata pelajaran tapi jumlah jam per minggu ditambah dari 38 menjadi 42 jam di kelas II dan III (ditambah 4 jam). Kalau tambahan 4 jam ini dikonversi dengan patokan 1 mata pelajaran 2 jam per minggu, jadinya jumlah mata pelajaran dalam pelaksanaan konkret di lapangan ditambah 2 mata pelajaran sehingga menjadi 18 dan 17 mata pelajaran. Jadinya di SMA sebenarnya jumlah mata pelajaran hampir sama dari sudut pandang waktu dalam Kurikulum 2013. Di SMK jumlah jam pelajaran per minggu bertambah dari 42 atau 44 menjadi 48 jam per minggu (ditambah 6 atau 4 jam). Kalau dikonversi jadinya bertambah 3 atau 2 mata pelajaran.

Total jam pelajaran berbagai negara

Total jam pelajaran di Finlandia sedikit, nomor 2 tersedikit namun prestasi siswanya unggul di peringkat atas pada tes-tes internasional. Non multa sed multum (makin sedikit makin baik) Mengapa Kurikulum 2013 menambah jam pelajaran? Apakah dengan belajar lebih lama anak Indonesia akan lebih pintar?

Finnish lessons

Pelajaran dari Finlandia:

“Lebih sedikit tes, lebih banyak belajar”

“Lebih banyak kreativitas, lebih kurang standardisasi”

“Pencegahan, bukan perbaikan”

“Anak-anak harus bermain”

  • Dengan dihapuskannya muatan lokal pada Kurikulum SD 2013, jam muatan lokal yang biasa diisi dengan pelajaran bahasa Inggris kehilangan kapling. Ini adalah satu kemunduran karena semakin banyak negara di dunia telah memasukkan pelajaran bahasa Inggris sejak SD, seperti Korea Selatan, Jepang, RRC, Arab Saudi, Suriah, Israel, Belanda, Prancis, dan Jerman.
  • Khusus mengenai bahasa asing kedua atau bahasa asing lainnya di SMA, pada Kurikulum 2006 bahasa asing lain selain bahasa Inggris, seperti bahasa Jerman, bahasa Prancis, Bahasa Jepang atau bahasa Mandarin diajarkan selama tiga tahun, dari kelas X s.d. XII. Sayang, dalam Kurikulum 2013 mata pelajaran bahasa asing lainnya itu dihilangkan Hanya diajarkan untuk peminatan bahasa. Ini amat merugikan negeri kita dalam persaingan global di abad ke-21. Di negara lain yang selama ini memenangkan persaingan ekonomi global, bahasa asing kedua, bahkan ketiga diajarkan selama 3 tahun di SMA. Dampak lainnya adalah pemecatan guru-guru bahasa asing lain di SMA. Nanti jika kurikulum berubah, sekolah sulit lagi mencari guru bahasa asing lain.
  • Pada sejumlah mata pelajaran, umumnya materi / kompetensi cenderung“sama” dengan Kurikulum 2006 (KTSP). Pertanyaan yang wajar diajukan adalah mengapa diganti?
  • Dari segi jumlah KD pada KTSP 2006 dalam Kurikulum 2013 terjadi “pembengkakan” jumlah KD. Jumlah KD total menjadi bertambah sebagai akibat digantikannya standar kompetensi dengan 4 kompetensi inti.
  • Kompetensi inti I yang berciri religius, yaitu menerima dan menjalankan ajaran agama yang dianutnya harus tercermin pada beragam KD mata-mata pelajaran membawa konsekuensi yang serius. Misalnya, contoh KD Biologi SMA. Kelas X: 1.1 Mengagumi keteraturan dan kompleksitas ciptaan Tuhan tentang keanekaragaman hayati, ekosistem, dan lingkungan hidup. Kelas XI: 1.1 Mengagumi keteraturan dan kompleksitas ciptaan Tuhan tentang struktur dan fungsi sel, jaringan, organ penyusun sistem dan bioproses yang terjadi pada makhluk hidup. Kelas XII: 1.1 Mengagumi keteraturan dan kompleksitas ciptaan Tuhan tentang struktur dan fungsi DNA, gen dan kromosom dalam pembentukan dan pewarisan sifat serta pengaturan proses pada makhluk hidup. Dalam pembelajaran Biologi misalnya dibahas tentang teori evolusi Charles Darwin yang berkaitan dengan asal usul manusia. Dari mana manusia berasal? Bagaimana proses penciptaan manusia? Nah, di sini bisa timbul persoalan jika guru Biologi membawa interpretasi agama guru yang bersangkutan. Kita tahu bahwa ajaran tentang penciptaan manusia itu berbeda-beda menurut agama Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghucu. Siswa yang tidak kritis dapat mengalami konflik kognitif karena terpengaruh oleh pandangan agama guru yang berbeda agama.
  • Kewirausahaan kurang ditekankan. Hanya eksplisit di SMA dan SMK dengan alokasi waktu 2 jam per minggu. Tidak tergambar dalam tujuan jenjang sekolah, tujuan kurikuler mata pelajaran. Walaupun hanya 2 jam per minggu pendidikan kewirausahaan sebenarnya dapat diintegrasikan dengan mata-mata pelajaran yang relevan. Misalnya, siswa memelihara ikan, ayam, kambing. Atau, siswa menanam sayur mayur atau tanaman penghasil buah. Praktik pendidikan kewirausahaan dapat diambil dari jam pelajaran Biologi dan Kimia sebagai aplikasi proses biologis dan kimiawi, dari jam pelajaran Ekonomi dan Akuntansi sebagai aplikasi konsep kebutuhan dan harga, promosi produk, dan pembukuan, serta jam pelajaran Matematika untuk menghitung selisih modal dan keuntungan. Orientasi ini tidak tampak dalam KD berbagai mata pelajaran.
  • Di SD penggabungan IPA ke terutama Bahasa Indonesia dan IPS ke terutama PPKn di kelas I – III bermasalah karena mengurangi penguasaan kompetensi siswa dalam mata pelajaran IPA dan IPS. Pengintegrasian semua mata pelajaran ke dalam tema-tema dengan menganut pendekatan tematik dari kelas I s.d. VI baik untuk mengurangi pengulangan dan tumpang tindih KD yang tak perlu. Namun, karena pemilihan tema dilakukan Pusat dan tema-tema yang dipilih masih umum serta tema-tema itu dituangkan ke dalam buku pelajaran, adaptasi dengan tema-tema dari lingkungan sekitar siswa menjadi terhambat. Padahal, di berbagai Negara pemilihan tema konkret dilakukan guru kelas atau guru mata pelajaran.
  • Mata pelajaran IPA dan IPS SMP yang terintegrasi menurunkan penguasaan siswa. Padahal, gurunya adalah spesialis mata pelajaran terpisah sesuai dengan jurusan studinya di fakultas keguruan universitas. Seharusnya dibenahi lebih dulu kurikulum di lembaga pendidikan tenaga kependidikan barulah dilakukan perubahan di lapangan.

tz-intro-o

Albert Einstein pernah tidak lulus ujian nasional SMA sehingga ia terpaksa tinggal kelas. Ketika berbaring di sakit ia diberi hadiah sebuah kompas. Dari sini bermula rasa ingin tahu Einstein tentang hukum yang mengatur alam semesta dan akhirnya mengantarnya meraih hadiah nobel Science dan menemukan Teori Relativitas yang menjadikannya sebagai tokoh ilmuwan terhebat selama milineum kedua. Sanggupkah kita menumbuhkembangkan “ilmuwan muda” (young scientist) jika kurikulum IPA kurang mendapatkan prioritas di SD dan SMP?

  • Pendekatan komunikatif pembelajaran bahasa Indonesia dan bahasa Inggris sejak Kurikulum 1994 sampai dengan KTSP 2006 diganti dengan pendekatan teks, padahal pendekatan teks itu adalah satu bagian dari pendekatan komunikatif. Dampaknya adalah penguasaan keterampilan-keterampilan berbahasa akan menurun. Padahal, di berbagai negara yang maju di bidang pendidikan, pendekatan komunikatif tetap dipakai.
  • Keberatan silabus kembali disusun oleh Pusat dalam pengembangan Kurikulum 2013 adalah wajar. Mengapa tugas guru mengembangkan silabus diambil alih oleh Pusat? Padahal, pada Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) 2003 dan KTSP 2006 telah 10 tahun guru dibiasakan. Di berbagai negara yang maju di dunia silabus tidak disusun Pusat tapi diserahkan kepada guru agar disesuaikan dengan kemampuan dan konteks siswa.
  • Instruktur Kurikulum 2013 SMK di DIY, Aragani Mizan Zakaria menyatakan, banyak guru SMK menilai isi materi buku pelajaran Bahasa Indonesia dan Sejarah terlalu sederhana. Guru SMK kelas X untuk 2 mata pelajaran ini menilai isi buku itu tidak sebanding dengan tujuan pembelajaran. Para guru dituntut mendorong siswa SMK membangun pola pikir untuk memecahkan masalah, mengelola kelompok kerja, dan menginisiasi penemuan baru. “Mereka menilai isinya terlalu biasa-biasa saja,” kata Kepala SMKN 2 Depok, Sleman. (http://koran.tempo.co/konten/2013/07/30/317395/Guru-Kritik-Panduan-Kurikulum-2013)

1243328602_school-abuse

Opportunities (Peluang) Kurikulum 2013

  • Kurikulum 2013 melanjutkan penekanan kepada metodologi belajar aktif yang telah dimulai sejak Kurikulum 1984, diteruskan pada Kurikulum 1994, Kurikulum Berbasis Kompetensi 2003, dan KTSP 2006. Kompetensi inti ketiga dan keempat mewadahi penekanan ini yang tercermin pada rumusan KD berbagai mata pelajaran. Kalau pendekatan ini konsisten dilakukan guru dari TK, SD sampai dengan SMA / SMK, para guru sebagai pemegang monopoli informasi dalam paradigma  pembelajaran berpusat kepada guru akan beralih ke peran guru sebagai fasilitator dalam paradigma pembelajaran berpusat kepada siswa. Harapan ini bisa tercapai jika lembaga pendidikan tenaga kependidikan menerapkan metodologi belajar aktif dan para guru dibina secara berkelanjutan melalui inservice training yang menekankan praktik langsung tanpa teori berlebihan.
  • Penetapan IPA dan IPS di SMP diajarkan / dipelajari secara terpadu dalam jangka panjang akan mendorong fakultas keguruan mengubah kurikulumnya agar calon guru IPA dan IPS disiapkan sebagai guru bidang studi, bukan guru spesialis mata pelajaran tersendiri.
  • Pejurusan di SMA dari awal kelas I (kelas X) memungkinkan siswa lebih mendalami mata-mata pelajaran peminatan. Yang masih mengganggu adalah porsi mata-mata pelajaran Kelompok A dan B yang bersifat umum yang masih mencakup 50% waktu. Saran kami adalah kepala sekolah dan guru dapat memodifikasi alokasi waktu yang ditetapkan secara nasional dalam Kurikulum 2013 dan dapat pula mengajarkan dengan sistem blok, misalnya Sejarah diajarkan secara intensif dalam waktu 1 – 2  bulan saja sehingga waktu yang tersisa dapat digunakan untuk memperdalam penguasaan mata pelajaran peminatan.
  • Penekanan kegiatan ekstrakurikuler Pramuka amat efektif untuk mengembangkan karakter siswa asalkan dilaksanakan secara serius dan konsisten.
  • Munculnya kewirausahaan dalam mata pelajaran Prakarya dan Kewirausahaan di SMA dan SMK merupakan langkah awal agar sekolah mulai memperhatikan pendidikan kewirausahaan yang dapat dilakukan dengan melibatkan guru-guru mata pelajaran yang relevan, seperti Biologi, Kimia, Ekonomi dan Akuntansi, dan Matematika serta mata-mata pelajaran yang relevan di SMK.

4a962ca7_771382cf_4a94a84d_58770434_1245515314_200906210131032906222601_01

Threats (Ancaman) Kurikulum 2013

  • Yang terpenting adalah pembenahan sistem pendidikan secara menyeluruh. “Quality is the result of the system”. Mutu adalah hasil dari sistem. (Edward Demings). Kalau sistem pendidikan guru, rekrutmen guru, prioritas alokasi dana bagi daerah dan sekolah yang tertinggal, manajemen kepala sekolah dan dinas pendidikan, format evaluasi dan ujian nasional, inservice training bagi guru tidak dibenahi, perubahan kurikulum hanyalah isapan jempol, akan sia-sia.
  • Peningkatan mutu pendidikan, prestasi belajar siswa tidak hanya bergantung kepada perubahan kurikulum. Yang lebih penting adalah mengubah mindset guru, paradigma dan kebiasaan guru dari guru sebagai pusat menjadi siswa sebagai pusat dalam proses pembelajaran. Harapan ini akan tercapai jika induksi inovasi ditekankan pada lembaga pendidikan tenaga kependidikan dan sistem inservice training guru dan kepala sekolah dilakukan secara kontinu dengan menekankan praktik dan dilanjutkan dengan inhouse training guru dan kepala sekolah di tiap unit sekolah.
  • Kurikulum yang dikendalikan buku teks (textbook-driven curriculum) dalam pelaksanaan yang selama ini dianut sampai dengan pencetakan buku pelajaran pemerintah yang berbarengan dengan pengembangan kurikulum akan membuat guru kurang kreatif, hanya berperan sebagai penyampai isi buku pelajaran. Padahal, implementasi kurikulum yang berhasil didukung oleh pemanfaatan beragam sumber belajar, seperti pengalaman siswa, lingkungan sekitar, produk cetakan, program audiovisual, serta internet. Buku pelajaran hanyalah satu sumber belajar.
  • Format ujian nasional yang masing berkutat kepada bentuk soal pilihan ganda akan mengkerdilkan capaian kurikulum. Karena, guru cenderung memilih jalan termudah dengan menekankan hafalan dan latihan soal kepada siswa. Belajar aktif yang didengungkan Kurikulum 2013 akan ditinggalkan para guru demi mengejar target lulus ujian nasional. Hanya kompetensi pada tingkat kognitif rendah yang ditekankan para guru. Pengembangan kompetensi psikomotor serta sikap dan nilai akan diselepekan para guru.
  • Walaupun guru adalah ujung tombak pendidikan, tanpa kepala sekolah yang baik ujung tombak itu akan tumpul dan tak akan mengenai sasaran. Tanpa pemberdayaan kemampuan kepemimpinan dan manajemen kepala sekolah, inovasi yang dibawa Kurikulum 2013 hanyalah isapan jempol. Tanpa dukungan manajemen berbasis sekolah yang menekankan transparansi, akuntabilitas, sikap demokratis, kerja sama, dan saling percaya, implementasi kurikulum akan berakhir pada capaian pas-pasan (mediocre).

Struktur program kurikulum Berikut ini disajikan perbandingan struktur program kurikulum SD, SMP, SMA, dan SMK menurut KTSP 2006 dan Kurikulum 2013.

Perbandingan struktur program kurikulum SD 2006 dan 2013

Struktur kurikulum SD 2006 dan 20013

Jumlah mata pelajaran berkurang dari 10 menjadi 8 tetapi jumlah jam pelajaran per minggu bertambah 4, 5, dan 6 jam. Pendekatan tematik yang sebelumnya hanya di kelas I, II, dan III kini diteruskan di kelas IV, V, dan VI. Yang mengkhawatirkan kemampuan berkompetisi di dunia glogal adalah dimasukkannya Ilmu Pengetahuan Alam terutama ke Bahasa Indonesia dan Ilmu Pengetahuan Sosial terutama ke Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan di kelas I – III SD. Tak ada negara di dunia yang mengambil kebijakan konyol seperti ini.

conquest-of-space2-1954-o

Perbandingan struktur program kurikulum SMP 2006 dan 2013

Struktur kurikulum SMP 2006 dan 2013

Jumlah mata pelajaran berkurang dari 12 menjadi 10 tetapi jumlah jam pelajaran per minggu bertambah 6 jam.

Struktur program kurikulum SMA menurut KTSP 2006

Mata pelajaran SMA Kelas 1 KTSP 2006

Jumlah mata pelajaran 18 dan jumlah jam pelajaran per minggu 38.

Mata pelajaran SMA Jurusan IPA Kelas XI dan XII

Mata pelajaran SMA Jurusan IPS Kelas XI dan XII

Mata pelajaran SMA Jurusan Bahasa Kelas XI dan XII

Mata pelajaran SMA Jurusan Keagamaan Kelas XI dan XII

Khusus mengenai bahasa asing, Kurikulum 2006 mewajibkan siswa SMA mempelajari bahasa asing kedua di samping bahasa Inggris. Mata pelajaran bahasa asing kedua ini hilang dalam Kurikulum 2013. Apakah ini adalah dampak kerja terburu-buru menyusun Kurikulum 2013?

science-o 5

Struktur program kurikulum sekolah menengah Kurikulum 2013

Mata pelajaran pendidikan menengah

7621300-looking-at-difficult-complex-mathematics-equation-on-balckboard

Struktur program Kurikulum 2013 SMA

Struktur program Kurikulum SMA 2013

Struktur program peminatan Kurikulum SMA 2013

Di SMA jumlah mata pelajaran dikurangi dari  18 menjadi 16 dan 15 mata pelajaran tapi jumlah jam per minggu ditambah dari 38 menjadi 42 jam di kelas II dan III (ditambah 4 jam). Kalau tambahan 4 jam ini dikonversi dengan patokan 1 mata pelajaran 2 jam per minggu, jadinya jumlah mata pelajaran dalam pelaksanaan konkret di lapangan ditambah 2 mata pelajaran sehingga menjadi 18 dan 17 mata pelajaran. Jadinya di SMA sebenarnya jumlah mata pelajaran hampir sama dari sudut pandang waktu dalam Kurikulum 2013.

Struktur program Kurikulum 2013 SMK 3 tahun

Mata pelajaran umum SMK 3 tahun Kurikulum 2013

Struktur program Kurikulum 2013 SMK 4 tahun

Mata pelajaran umum SMK 4 tahun Kurikulum 2013

Di SMK jumlah jam pelajaran per minggu bertambah dari 42 atau 44 menjadi 48 jam per minggu (ditambah 6 atau 4 jam). Kalau dikonversi jadinya bertambah 3 atau 2 mata pelajaran. Proporsi waktu untuk mata pelajaran umum (Kelompok A dan B) 24 jam dan untuk kelompok C peminatan 24 jam. Perbandingannya 50% : 50%.

Struktur program Kurikulum 2013 SMK bidang keahlian teknologi dan rekayasa

Mata pelajaran bidang keahlian teknologi dan rekayasa

Struktur program Kurikulum 2013 SMK bidang keahlian teknologi dan informasi

 Mata pelajaran bidang keahlian teknologi dan informasi

Struktur program SMK Kurikulum 2013 bidang keahlian kesehatan

Mata pelajaran bidang keahlian kesehatan

weird-science-o 4 Kesehatan

Struktur program SMK Kurikulum 2013 bidang keahlian agribisnis dan agriteknologi

Mata pelajaran bidang keahlian agribisnis dan agriteknologi

296

Struktur program SMK Kurikulum 2013 bidang keahlian perikanan dan kelautan

 Mata pelajaran bidang keahlian perikanan dan kelautan

Struktur program SMK Kurikulum 2013 bidang keahlian bisnis dan manajemen

Mata pelajaran bidang keahlian bisnis dan manajemen

education-connection-o 2

Struktur program SMK Kurikulum 2013 bidang keahlian pariwisata

 Mata pelajaran bidang keahlian pariwisata

Struktur program SMK Kurikulum 2013 bidang keahlian seni rupa dan kriya

Mata pelajaran bidang keahlian seni rupa dan kriya

high-school-musical-3-1-o

Struktur program SMK Kurikulum 2013 bidang keahlian seni pertunjukan

 Mata pelajaran bidang kealian seni pertunjukan

  Apa solusi kita?

Rincian berikut ini bukanlah peluang Kurikulum 2013. Walaupun kurang ditekankan atau dilalaikan dalam dokumen Kurikulum 2013, sekolah dapat menciptakan sendiri peluang sesuai dengan tuntutan zaman. Ini adalah contoh berpikir di luar kotak (thinking outside the box).

  • Orientasi kepada berpikir kritis dan memecahkan masalah, komunikasi dan kolaborasi, rasa ingin tahu dan imajinasi, kreativitas dan inovasi, inisiatif dan kewirausahaan, serta pengembangan karakter melalui proses peneladanan dan proses pembiasaan.
  • Peralihan dari time-based education kepada penekanan metodologi belajar aktif. Alokasi waktu dalam struktur program Kurikulum 2013 dapat dimofikasi kepala sekolah dan guru guna memenuhi kebutuhan dan kepentingan belajar siswa. Caranya dengan mengurangi jam pelajaran mata pelajaran tertentu dan menambah jam pelajaran lain dan juga memunculkan mata pelajaran yang dinilai amat penting yang tidak ada dalam Kurikulum 2013.
  • Dari orientasi ilmu kepada kecakapan hidup (life skills).
  • Dari pencari kerja ke pencipta kerja melalui integrasi pendidikan kewirausahaan dalam kurikulum yang berlaku.
  • Dari mendidik anak menjadi konsumen ke arah menjadi produsen.
  • Dari pengajaran berbasis buku teks ke beragam sumber belajar, termasuk teknologi informasi dan komunikasi.
  • Dari penekanan potensi otak kiri ke penekanan potensi otak kanan melalui pengembangan kreativitas sebagai hasil sinergi otak kiri dan kanan.
  • Penerapan hasil penelitian otak ke arah belajar berbasis otak (brain-based learning).
  • Grup perusahaan besar pun diharapkan ikut terlibat merancang kurikulum Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). “Misalnya kita kontak Astra. Kita nggak mau SMK kita belajar sesuatu yang tidak dipakai pabrik otomotif di sini. Lebih baik kontak dengan mereka kamu pengen kurikulum seperti apa,” jelas Ahok di Balai Kota DKI, Selasa (20/8/2013).
  • Ahok: Bagian Pemprov DKI menyediakan sekolah dan guru. Kurikulumnya diserahkan kepada grup perusahaan otomotif, disesuaikan dengan kebutuhannya. “Daihatsu, Toyota, mobil Eropa seperti apa. Kelas ini urusan Toyota misalnya. Kita adakan kurikulum SMK,” lanjutnya.
  • Kurikulum yang ada masih terlalu umum. Perusahaan masih harus mengadakan pelatihan kepada pekerja barunya.
  • http://news.detik.com/read/2013/08/20/092739/2334759/10/ahok-ingin-gandeng-perusahaan-besar-untuk-rancang-kurikulum-smk
  • Penerapan konsep link & match bisa lebih ditingkatkan dalam penerapan kurikulum SMK.

Berantam

Pendidikan karakter & perkembangan otak Pada Kurikulum 2013 tampak penekanan berlebihan kepada proses pembelajaran sebagai wahana pendidikan karakter. Kurang ditekankan pendidikan karakter melalui proses peneladanan dan proses pembiasaan kepada siswa. Padahal, menurut hasil riset otak terbaru, perkembangan otak anak itu dimulai dari belakang, dari cerebellum untuk koordinasi fisik, lalu ke tengah, yaitu nucleus accumbens untuk memunculkan motivasi dan kemudian amygdala sebagai pusat emosi, dan terakhir prefrontal cortex yang berperan melakukan penilaian dan keputusan benar-salah dan baik-buruk.

 perkembangan otak mulai dari belakang

Otak dan bagiannya

Perkemangan otak judgment terakhir

Perkemangan otak 24 tahun seimbang

Seorang muslim ketika dewasa rajin melakukan sholat dan taat berpuasa pada bulan puasa. Mengapa ia mampu melakukan perbuatan baik itu? Karena, sejak kanak-kanak ia telah dibiasakan melakukan sholat dan belajar berpuasa. Proses pembiasaan ini didukung oleh teladan orang tua. Dari kebiasaan barulah secara bertahap muncul motivasi dan perasaan senang melakukan kebiasaan ini. Hal ini berlaku untuk kebiasaan beribadah pada semua agama.

Perubahan perilaku mulai dari kaki sesuai otak

Apakah anak TK, siswa SD dan SMP telah menyadari kebaikan perbuatan ini? Menurut hasil penelitian otak, pada umumnya orang mampu menilai dan mengambil keputusan berdasarkan pertimbangan benar-salah dan baik-buruk secara sadar baru pada usia 24 tahun. Ini berarti setelah menjadi sarjana dan mulai bekerja. Karena itu, pendidikan karakter melalui proses pembelajaran bisa terpeleset ke kebiasaan guru memberi nasihat berulang kali kepada siswa agar melakukan perbuatan baik, kebiasaan baik yang dituntut pendidikan karakter. Yang lebih penting adalah siswa dibiasakan melakukan perbuatan dan kebiasaan yang mencerminkan nilai-nilai karakter yang baik. Pembiasaan ini akan berhasil jika didukung teladan dari guru, kepala sekolah, dan orang tua. Dalam dokumen Kurikulum 2013 banyak sekali nilai-nilai pendidikan karakter yang diharapkan ditumbuhkembangkan dalam diri siswa. Kompetensi inti – diambil contoh kompetensi inti 1 dan 2 SMP – tampak penekanan kepada pendidikan karakter. 1. Menghargai dan menghayati ajaran agama yang dianutnya. 2. Menghargai dan menghayati perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli (toleransi, gotong royong), santun, percaya diri, dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam dalam jangkauan pergaulan dan keberadaannya. Kompetensi religius (kompetensi inti pertama) mengandung banyak sekali nilai-nilai religius pada tiap agama. Kompetensi sosial (kompetensi inti kedua) menekankan nilai kejujuran, kedisiplinan, tanggung jawab, peduli (toleransi, gotong royong), santun, dan percaya diri. Hal ini dapat menyulitkan guru karena dalam pikirannya berseliweran sekian banyak nilai dan bisa bingung mau menerapkan nilai yang mana. Guna memudahkan guru, kami melakukan simulasi dengan para guru dengan latar belakang agama yang berbeda. Kami gunakan 12 nilai kehidupan (living values) yang digunakan di banyak negara di dunia. Dengan guru-guru yang beragama yang sama, dilakukan curah pendapat nilai mana yang merupakan sebab dan nilai mana yang merupakan akibat. Ditarik garis panah dari nilai penyebab ke nilai akibat.

Hubungan sebab akibat antar nilai kehidupan

Cinta inti nilai kehidupan

Hasil simulasi dengan kelompok guru beragama Islam, kelompok guru beragama Kristen, kelompok guru beragama Katolik, kelompok guru beragama Buddha, kelompok guru beragama Hindu, dan kelompok guru beragama Konghucu ternyata sama. Nilai cinta terpilih sebagai nilai hakiki yang menjadi penyebab, pendorong berkembangnya 11 nilai kehidupan yang lain. Ini berarti guru tak perlu bingung dengan sekian banyak nilai yang dituntut. Asalkan guru dan sekolah terfokus kepada tumbuh-kembang nilai cinta sebagai nilai hakiki, proses tumbuh kembang nilai-nilai karakter yang lain akan lebih mudah dan akan tertanam lebih kuat dalam diri siswa. Pendidikan lintas budaya Karena Kurikulum 2013 tidak berorientasi kepada pendidikan lintas budaya atau multikultural, kepala sekolah dan guru dapat mengintegrasikan kompetensi-kompetensi dasar pada mata-mata pelajaran yang relevan dengan menggunakan pendekatan pendidikan lintas budaya. Tiap siswa tidak hanya belajar mengenal identitas dirinya seperti agama dan budayanya tetapi juga mengenal identitas temannya yang berbeda agama dan budaya dengannya. Selanjutnya, pengenalan ini ditingkatkan melalui proses peneladanan dan proses pembiasaan menghargai agama dan budaya orang lain melalui tindakan dan praktik konkret di sekolah. Saling mengenal dan menghargai orang yang berbeda agama dan budaya dapat tercapai jika siswa memahami dan menyadari bahwa toleransi, persatuan, dan perdamaian tak mungkin dicapai tanpa keadilan dan kasih sayang. Keadilan adalah memberi hak kepada orang yang berhak sedangkan kasih sayang adalah memberi apa yang bukan menjadi hak orang lain.

Apa kata Panda

kucing hitam putih asia

Membenci dan menghina agama lain, apalagi melakukan kekerasan terhadap penganut agama lain itu absurd.  Saya ini juga putih, hitam, dan Asia. Tiap orang mengasihi saya. Wahai manusia, hentikan saling membenci dan mulailah saling mencintai.

anjing dan kucing 5

Kami, kucing dan anjing sering mendengar hardikan antar-manusia, “Eh, kamu kayak kucing dan anjing!” Kamu, manusia berpikir bahwa dari kodratnya kami ini bermusuhan. Siapa bilang? Kami, kaum binatang bisa saling menyayangi melalui peneladanan dan pembiasaan. Wahai manusia, belajarlah dari kami!

kucing dan anjing 4

“Kami bisa saling menolong. Belajarlah gotong royong dan Bhinneka Tunggal Ika dari kami!”

Belajar aktif Belajar aktif sebagai metodologi mengajar ditekankan sejak Kurikulum 1984. Tetapi, sampai sekarang metodologi ini belum tertanam sebagai kebiasaan di dunia persekolahan Indonesia. Kurikulum 2013 kembali menekankan proses pembelajaran aktif. Guru pun tidak bisa melaksanakan belajar aktif jika tidak ditatar dengan metodologi belajar aktif. Demikian pula, harapan belajar aktif menjadi kebiasan hanyalah khayalan belaka jika lembaga pendidikan guru tidak menerapkan belajar aktif dalam proses perkuliahan.

Belajar efektif = mengalami

Dari pengalaman kami mengembangkan sekolah model dan menatar para guru di berbagai daerah, belajar aktif mengandung unsur-unsur seperti terlihat pada gambar berikut ini.

Unsur belajar aktif

Belajar aktif yang berciri learning is fun tidak mengorbankan kedalaman penguasaan materi dan kompetensi siswa. Bahkan, belajar aktif mendorong penguasaan siswa yang mendalam, mendorong pencapakain hasil belajar yang bermutu.

 Hasil belajar bermutu

Hasil belajar bermutu 3

Hasil belajar bermutu 2

 

Agar menjadi kebiasaan belajar aktif tak mungkin dilaksanakan guru hanya melalui satu-dua kali penataran. Harus dilakukan penataran berkala secara berkelanjutan. Penataran pun tidak boleh satu arah yang diisi ceramah sambil menayangkan slides powerpoint dan dilanjutkan dengan diskusi dan tugas membuat rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP). Penataran harus diisi dengan porsi kegiatan praktik lebih banyak, termasuk praktik mengajar dengan siswa. Berikut ini dikemukan gambar dari pelatihan belajar aktif bagi guru SD dan praktik belajar aktif siswa di Flores.

 Guru Flores mengubah diri

Belajar di luar kelas

Belajar matematika dengan gerakan 2

Belajar di alam 2

Melayang terapung tenggelam

School assembly anak Flores

Belajar aktif disesuaikan dengan konteks daerah, sekolah, dan siswa. Berikut ini dikemukakan foto contoh praktik belajar aktif siswa di sekolah di wilayah perkotaan, dalam hal ini TK, SD, SMP, dan SMA Kristoforus di Grogol, Jakarta Barat dan di Palem, Cengkareng. Belajar aktif bisa diterapkan persekolahan ini karena yayasan melihat tantangan agar sekolah bertahan adalah melalui peningkatan mutu. Yayasan mengalokasikan dana untuk pelatihan guru. Bersama pembina yayasan kami membantu mendampingi inovasi metodologi belajar guru dan mendorong kepala sekolah agar mendukung proses inovasi.

Belajar aktif TK Kristoforus Grogol

Anak-anak TK senang belajar sambil bermain

Belajar aktif TK Kristoforus Grogol 2

Belajar yang manjur bagi anak TK adalah melalui melakukan, memanipulasi benda, bermain dengan beragam benda alamiah dan buatan pabrik

Belajar aktif TK Kristoforus Palem Cengkareng

Bernyanyi sambil bergerak berirama

Belajar aktif TK Kristoforus Palem Cengkareng 2

Belajar aktif TK dan SD Kristoforus Grogol School Assembly

School assembly TK dan SD Kristoforus

Belajar aktif TK dan SD Kristoforus Grogol School Assembly 2

School assembly TK dan SD Kristoforus. School assembly sebagai wahana pengembangan karakter siswa yang umum dilakukan di negara-negara Barat kami introduksi di sekolah-sekolah yang kami bina, seperti di Tapanuli Utara, Jakarta, Yogyakarta, NTT, Maluku, Maluku Utara sampai di Merauke, Papua.

Belajar aktif IPS SD Kristoforus Grogol

Anak SD membuat peta timbul dengan koran dan kanji

Belajar aktif SD Kristoforus Grogol

Anak SD belajar tentang daun dalam kelompok

Belajar aktif SMP Kristoforus Grogol 2

Belajar aktif siswa SMP

Belajar aktif SMP Kristoforus Grogol

Belajar aktif siswa SMP

Belajar aktif SMA Kristoforus Grogol

Belajar aktif Kimia siswa SMA

Belajar aktif SMA Kristoforus Grogol 2

Belajar aktif SMA Kristoforus Grogol 3

Observasi membandingkan ciri-ciri tumbuhan monokotil dan dikotil

Creativity and success

Guna memudahkan guru dalam melaksanakan belajar aktif, guru hendaknya menyadari bahwa hakikat dan inti belajar aktif itu adalah kreativitas. Jika kita ingin menyiapkan anak-anak kita menghadapi tantangan globalisasi abad ke-21, satu jalan yang paling manjur adalah berorientasi dan menekankan kreativitas dalam seluruh aktivitas sekolah.

Kreativitas berbagai bidang

Kreativitas sebagai pensinergi otak kiri dan kanan akan berhasil jika sekolah menekankan hal-hal seperti tertulis pada gambar ini.

Kecerdasan majemuk dan kreativitas

Kreativitas adalah pensinergi potensi otak kiri dan otak kanan siswa yang tercermin pada multi-kecerdasan menurut Howard Gardner, yaitu kecerdasan bahasa (word smart), kecerdasan  logika-matematika (logic smart), kecerdasan visual-spasial (picture smart), kecerdasan kinestetik (body smart), kecerdasan musikal (music smart), kecerdasan natural (nature smart), kecerdasan antarpribadi (people smart), dan kecerdasan intrapribadi (self smart). Dalam pembelajaran dan seluruh aktivitas sekolah, guru hendaknya menerapkan pengembangan tidak hanya kecerdasan intelektual tapi semua jenis kecerdasan dalam konsepsi multi-kecerdasan.

tototo-o

Tanpa imajinasi, kreativitas siswa tidak berkembang. Sejauh mana guru-guru kita mendorong daya imajinasi siswa?

Pendidikan kewirausahaan Satu langkah maju dalam Kurikulum 2013 adalah munculnya mata pelajaran Prakarya dan Kewirausahaan di SMP, SMA, dan SMK. Sayang tidak muncul secara eksplisit di SD. Sejak beberapa tahun lalu, kami masukkan gagasan unit produksi yang biasa dilakukan d SMK pada sekolah umum, mulai dari TK, SD, SMP sampai dengan SMA. Unit produksi merupakan wadah praktik wirausaha siswa, bukan hanya melalui mata pelajaran keterampilan, prakarya, atau kewirausahaan saja. Tetapi juga, diterapkan dalam kaitan dengan mata-mata pelajaran yang relevan dan dalam kerja sama dengan guru mata pelajaran seperti IPA, Biologi, Kimia, Fisika, IPS, Ekonomi dan Akuntansi, Kesenian dan dalam beragam kegiatan ekstrakurikuler yang relevan. Berikut ini dikemukakan gambar dari pelatihan unit produksi bagi guru-guru di Flores dan di Yogya.

Guru Flores membuat telur

Guru Flores membuar pocari sweat

Guru Flores membuat kripik

Guru Flores membuar abon ikan

Guru Flores membuar jagung titi emping

Guru Flores membuat ikan asin

Guru SD Mangunan membuat pupuk organik

Guru SD Mangunan membuat pupuk kompos

Guru SD Mangunan membuat menanam dalam polibag

Menanam di pot hidroponik

Wirausaha menanam pohon uang

Bacalah posting terkait:

https://sbelen.wordpress.com/2014/12/08/kelemahan-struktural-kurikulum-2013-kritik-kami-di-tweeter-facebook/

.

Advertorial

Dodgeball-tricking-headshot

Tifus

Kunjungilah posting ini:

https://sbelen.wordpress.com/2013/05/03/bawang-putih-cuka-apel-madu-jahe-lemon-jantung-sehat-tubuh-bugar/

gambar-spanduk-sano

Sano sembuhkan tifus

Kartu nama Yuni 3.

Khasiat FIDES & HP pemesanan

Kunjungilah:

https://sbelen.wordpress.com/2015/06/11/habbatussauda-jintan-hitam-bawang-putih-jahe-lemon-madu-diabetes-stroke-penyakit-komplikasi-sembuh-tubuh-sehat/