Posts Tagged ‘sekolah kerja’

Kelemahan struktural Kurikulum 2013: Kritik kami di Tweeter & Facebook

Desember 8, 2014

Pagi ini, hari Minggu 7 Desember 2014  kami berkicau di Tweeter (S Belen @sbelen07) dan menerbitkan kicauan itu di Facebook (S Belen). Seperti biasa, kicauan dan posting kami sering disertai gambar. Perkenankan membaca kicauan dan posting kami itu serta komentar teman-teman dan tanggapan kami di Facebook.

.
Kicauan 1: Kurikulum 2013 terburuk selama kita merdeka. Kurikulum 1947 terbaik, berbasis konsep sekolah kerja ‪#‎Kurikulum2013‬

.

Sejarah Kurikulum SD

.

Komentar Karim Karhami: Pak mungkin perlu dipisahkan antara konsepsi dan implementasi kur 2013. Seingat saya, kur 2013 memaksa semua guru untuk mengajar dengan pendekatan 5 M/ penilaian otentik, dan bermuara pada prilaku (KI1 dan KI2)

.

Tanggapan kami: Pak Karim Karhami, kritik kami justru terfokus ke masalah dalam konsepsi Kurikulum 2013 yang bertentangan dengan dalil-dalil pengembangan kurikulum yang dianut negara-negara di dunia ini. Yang menyusun penilaian otentik itu tampaknya tidak pernah mengajar sehingga tidak tahu bagaimana guru bingung menilai berdasarkan observasi, penilaian diri dan penilaian antar-teman, dan jurnal. Adakah literatur di dunia pendidikan yang mendukung cara menilai begitu? Guru siapa yang bisa menilai sambil membuat catatan dalam mengajar. Fokus konsentrasi terbelah. Lihat saja pengisian rapor membuat guru bingung dan akhirnya nipu-nipu.

.

Komentar Karim Karhami: Kalau saya berpendapat begini pak Belen, semua kebijakan Diknas sejak dulu sampai sekarang termasuk kebijakan kur. 1947, pasti ada bolongnya. Menyikapi ini, praktisi pendidikan perlu memandang ;’gagasan besarnya’ dan tidak usah mengamati pernik kecil-kecilnya yang tentu saja, ada yang menyesakkan dada kita, mantan pengembang kurikuum. Seperti kita ketahui, ada tiga jenis guru, guru 1: those who can explain well, guru 2: those who can either explain well or demonstrate well, guru 3: those who can both explain well, demonstrate well, and inspire children. Guru 3 ini adalah guru profesional yang tidak either mengembalikan kebijakan yang ‘bolong; ke pusat or ‘menyalahkan pusat’. tetapi mereka menambal sendiri yang bolong itu. Mungkin termasuk kita, mantan pengembang kurikulum perlu memberi solusi yang tidak meresahkan guru. Apa pun lemahnya, kur 2013, ada positif nya, seperti kurikulum 2013 memaksa semua mapel untuk bermuara pada pengembangan sikap dan prilaku positif siswa.yang diiejawantahkan dalam KI1 dan KI2.

.

Tanggapan kami: Pak Karim, please read my posting entitled https://sbelen.wordpress.com/…/analisis-swot-kurikulum…/ Di situ saya berikan solusi bagaimana guru dan kepala sekolah mensiasati kelemahan Kurikulum 2013 dalam implementasi. Solusi inilah yang saya ajak guru dan kepala sekolah berdiskusi dan melakukan kegiatan-kegiatan belajar aktif, kegiatan kewirausahaan, dan bagaimana melakukan penilaian otentik dalam pengataran dan pengembangan sekolah model di daerah-daerah. Energi saya tak perlu terkuras bila Kurikulum 2013 itu sudah benar ideologinya. Kurikulum ini lahir tanpa ideologi, tanpa passion meraih cita-cita menjadi bangsa besar di masa depan.

.

Kicauan 2: Kurikulum 2013 kurikulum terpadat membebani siswa & guru. Sulit kembangkan kreativitas.Thank u Mendikbud ‪#‎Kurikulum2013‬

.

Kreativitas dan otak

.

Kicauan 3: Dunia: Finlandia jampel per minggu terendah,prestasi siswa ngetop, Indonesia tertinggi, prestasi anjlok ‪#‎Kurikulum2013‬

.
Struktur KTSP 2006 dan Kurikulum 2013 SMP
.
Kicauan 4: Dunia: Finlandia jampel per minggu terendah,prestasi siswa ngetop, Indonesia tertinggi, prestasi anjlok ‪#‎Kurikulum2013‬
.
Struktur KTSP 2006 dan Kurikulum 2013 SD
.
.

Kicauan 5: Dunia: Finlandia jampel per minggu terendah, prestasi siswa ngetop, Indonesia tertinggi, prestasi anjlok ‪#‎Kurikulum2013‬
.
Struktur program Kurikulum 2013 SMA & SMK
.
.

Komentar M Dominggus: Harap mengerti saja karena kita kan : “Banyak bicara sedikit yang dihasilkan”, sedangkan Finlandia : “Sedikit berbicara namun banyak yang dihasilkan.” Haaa… haaa…
.
Kicauan 6: Saya tatar Kurikulum 2013 sambil kritik kelemahan & beri guru solusi. Syukur K 13 dihentikan. Bacalah: https://sbelen.wordpress.com/2014/01/16/analisis-swot-kurikulum-2013-semua-jenjang-solusi-kita/
.
Analisis SWOT Kurikulum 2013
.
Komentar Karim Karhami: Pak, yang saya baca, kur 2013 tidak dihentikan lho hanya ditunda setelah guru siap

.
Kicauan 7: Kurikulum 2013 paling kontroversial selama Indonesia merdeka. Mengapa? Ditangani orang bukan ahlinya ‪#‎Kurikulum2013‬
.
Analisis SWOT Kurikulum 2013 dan solusi kita
.
Komentar Hilda Karli:  Pak Belen… Dua tabel mohon penjelasannya…. Ya..trims
.
Tanggapan kami: Dua tabel ini menunjukkan bertambahnya jam pelajaran per minggu dari Kurikulum KTSP 2006 ke Kurikulum 2013. IPA dan IPS diintegrasikan ke Bahasa Indonesia dan PPKn di kelas I – III. Penambahan jam pelajaran Agama dan Budi Pekerti serta PPKn dan Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan mengakibatkan hilangnya muatan lokal dan pengembangan diri dalam kurikulum. Dampaknya bahasa daerah, bahasa Inggris, teknologi inforrmasi dan komunikasi (TIK) yang biasanya diambil dari jam muatan lokal tidak mendapatkan tempat. Penambahan waktu ini mengakibatkan siswa di sekolah lebih lama. Ditambah kegiatan ekskul dll bisa pulang sore. Lalu, siswa makan di mana? Di kantin atau warung dekat sekolah. Apakah makanannya sehat? Juga, sekolah 5 hari, Sabtu libur sulit diterapkan. Jam pelajaran per minggu di Finlandia terendah di dunia tapi prestasi siswanya di papan atas dalam tes2 internasional. Less is more prinsipnya. Waktu sedikit tapi prestasi siswa bagus sekali. Prinsip pengembang Kurikulum 2013 adalah more but less. Waktu banyak tapi prestasi siswa rendah.
.
Komentar Hilda Karli:  Trima kasih penjelasannya… Pak Belen. Saya sudah baca buku sejarah kurikulum…bagus tulisannya….Jempol… Apakah ada buku baru lagi?
.
Tanggapan kami: Mbak Hilda Karli, baca di mana? Apakah buku itu sudah diterbitkan Pusat Kurikulum? Kalau Pusat Kurikulum tidak kunjung terbitkan ada niat akan saya upload ke blog saya. Terima kasih.
.
Komentar Hilda Karli: Saya sedang kuliah… Jadi saya baca di perpustakaan kampus…
.
Komentar Karim Karhami: Keputusan menteri bukan kur 2013 dibatalkan tetapi ditunda setelah guru siap (siap buku dan siap kemampuan). Kelebihan kur 2013 adalah agar semua mapel bermuara pada sikap dan prilaku yang membangun kultur global (tepat waktu, tidak biasa melanggar aturan, biasa makan habis, biasa mendengarkan sewaktu orang bicara dan baru bicara setelah orang selesai berbicara, biasa berpikir kritis dan berkarya kreatif dll). Kita perlu refleksi untuk juga mengidentifikasi keunggulan kur. 2013. Wass
.
Tanggapan kami: Pak Karim Karhami, Yang saya persoalkan itu bukan masalah implementasi tapi masalah struktural dalam dokumen kurikulum: Penentuan mata pelajaran dan alokasi tanpa mempertimbangkan kondisi lapangan, 4 kompetensi inti yang berakibat overdosis, pemaksaan nilai-nilai agama dan nilai-nilai karakter pada semua kompetensi dasar serta pemisahan mencari pengetahuan di semester 1 dan aplikasinya di semester 2. Rumusan kompetensi dasar (KD) juga memalukan karena dalam Biologi misalnya konsep yang menyangkut tumbuhan, hewan, dan manusia disatukan dalam hanya 1 KD. Beberapa konsep ‘besar’ IPA misalnya disatukan dalam 1 KD. Ini berdampak kurikulum 2013 jadi terlalu padat. Dari mana waktu diambil untuk mengajarkan segunung KD itu? Juga, pendidikan karakter lebih efektif melalui proses peneladanan dan pembiasaan, bukan overdosis pemaksanaan penerapan pada tiap KD.
.
Komentar Karim Karhami: Ya pak kalau kita kaji komponen kurikulum 2013, termasuk KD terdapat kelemahan tetapi gagasan besarnya, saya pikir, pas dengan kebutuhan Indonesia masa depan: terutama dalam kurun wakktu 2015 sd 2045 (100 tahun Indonesia merdeka)
.
Tanggapan kami: Pak Karim, sudah saya kaji seluruh dokumen Kurikulum 2013 dan tidak menemukan gagasan besar yang khas kurikulum ini. Apakah belajar aktif (active learning)? Bukankah ini juga sudah ada di KTSP 2006 dan ke belakang, Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) 2003, Kurikulum 1994, dan Kurikulum 1984? Apakah pendidikan karakter? Kan dengan mengingtegrasikan 18 nilai karakter dalam KD yang relevan sudah dilakukan guru sejak 2010? Lalu, yang lebih penting adalah pembinaan karakter melalui proses peneladanan dan pembiasaan, bukan pembelajaran. Finlandia maju, Singapura maju, Jepang maju, Korea Selatan maju tidak dengan menekankan berlebihan integrasi nilai-nilai karakter dalam pembelajaran. Mengpa pengembangan diri yang memberi peluang konselor berjumpa dengan siswa dihilangkan? Kalau Kurikulum 2013 menyiapkan generasi muda menyongsong persaingan global, mengapa mata pelajaran Teknologi dan Informasi Pendidikan dihilangkan? Mengapa tidak ada pelajaran bahasa Inggris di SD? Mengapa tidak ada bahasa asing kedua selain bahasa Inggris di SMA jurusan IPA dan IPS? Bahasa Jepang, Jerman, Prancis, Mandarin tidak mendapatkan alokasi waktu. Mengapa kewirausahaan tidak dimulai dari SD dan di SD, SMP, dan SMA kewirausahaan tidak didukung mata-mata pelajaran lain?
.
Kicauan 8: Mengapa terjadi musibah lumpur Lapindo? Mengapa Kurikulum 2013 terburuk? Ditangani orang yang bukan ahlinya. ‪#‎Kurikulum2013‬
.
Analisis SWOT Kurikulum 2013 dan solusi kita
.

Kicauan 9: Kurikulum 2013 eksperimen pendidikan paling konyol, habiskan uang rakyat milyaran, trilyun rupiah ‪#‎Kurikulum2013‬

.
Analisis SWOT Kurikulum 2013 dan solusi kita
.
Komentar Ridwan Ried: pak, kira2 ke depannya K13 ini gmn ya? kan skrg masih diujicobakan, terutama pd sekolah yg telah menggunakannya 3 semester, sementara sekolah yg baru menggunakannya 1 semester maka otomatis dihentikan dan beralih ke KTSP…

.
Tanggapan kami: Dear Pak Ridwan Ried, Perkiraan saya 6 ribuan sekolah yang melaksanakan Kurikulum 2013 itu dibiarkan jalan terus agar guru tidak resah. Lalu implementasi itu dievaluasi dan kurikulum diperbaiki. Dari pengalaman saya ubah 1 mapel saja akan mengubah seluruh bangunan kurikulum. Karena itu, K 13 bakal dikuburkan. Lebih mungkin perbaikan KTSP dengan mengambil unsur baik dari K 13 seperti penilaian otentik, mapel Prakarya dan Kewirausahaan, tematik SD kelas I – VI. Penjelasan Mendikbud itu bahasa politis dengan kata lain K 13 dikuburkan. Kan S 3 Mendikbud itu bidang politik. Bahasa yang dipakai bahasa politis. Apalagi beliau kan orang Jawa. Ngono ya ngono mbok ya ojo ngono. Kurikikulum 2013 ya Kurikulum 2013 mbok ya ojo Kurikulum 2013. He he he. Boso Jawaku rusak.
.
Komentar Muhammad Hamka: Tumben, kali ini Pak Belen analisisnya kurang cerdas.
.
Tanggapan kami: Pak Muhammad Hamka, analisis yang mana yang kurang cerdas? He he he. Posting di blog tentang Analisis SWOT Kurikulum 2013 itu komprehensif, lengkap.
.
Kicauan 10: Waktu susun Kurikulum 2013 orang Puskur berdoa kurikulum tak jadi dilaksanakan. Akhirnya doa terkabul ‪#‎Kurikulum2013‬
.
Analisis SWOT Kurikulum 2013 dan solusi kita
.
Info: Dalam talkshow di Kompas TV Minggu 7 Desember 2014, kicauan kami ini ditampilkan di layar bersama kicauan lain dari kepala sekolah, guru, siswa.

.
Komentar Budijuwono: Ya setuju pak. Proficiaat…saya dari awal dgn kurikulum 13 sdh merupakan kurikulum sial
.
Pagi ini, hari Senin 8 Desember 2014, kami teruskan kicauan.
.
Kicauan 11: Dampak 4 Kompetensi Inti: overdosis agamaisasi, karakterisasi, pengetahuan & aplikasi. Keliru terapkan konsep manusia seutuhnya. ‪#‎Kurikulum2013‬
.
4 kompetensi ini Kurikulum 2013
Kicauan 12: Gara-gara 4 kompetensi inti dipaksakan, Kurikulum 2013 jadi kurikulum terpadat selama kita merdeka. ‪#‎Kurikulum2013‬
.
4 kompetensi ini Kurikulum 2013

Komentar Karim Karhami: Pak, bukankah 4 KI ini perintah UUSPN No. 2003. Ini kan landasan hukumnya.

.
Tanggapan kami: Benar itu landasan hukumnya tapi dalam penerapannya tidak perlu memaksakan ke semua kompetensi dasar tiap mata pelajaran. Itu kan berlebihan, overdosis. Bukankah penjabaran seperti ini hanya mengulangi kekeliruan Kurikulum 1975 yang menjabarkan nilai-nilai manusia seutuhnya sehingga kurikulum ini menjadi padat?
.
Komentar Mario Josef: Bila kita semua mendisposisikan Kurikulum Tahun 2006 secara bijak, mendalam, kreatif, sungguh-sungguh dikawal dan terus didalami, dievaluasi secara mendasar, maka kita tidak main uji coba kurikulum. Tak mungkin 4 kompetensi itu tidak terdapat dalam kurikulum. Kompetensi itu akan berubah kalau ideologi bangsa ini diubah. Peradaban suatu bangsa itu baru berkarakter kalau seluruh bangsa tahu lewat hukum sosial kita bagaimana beradab. Jika seluruh masyarakat itu sudah jadi guru maka kompetensi yang akan direalisasi dalam kurikulum akan terwujud sempurna. Semakin merumitkan kerja kurikulum semakin rumit pula pengejawantahannya. Makasih Pak Belen!!
.
Kicauan 13: Hanya terjadi di Indonesia, buku pelajaran terbit baru Puskur disuruh revisi silabus. Logika terbalik ‪#‎Kurikulum2013‬
.
proxy
.
Kicuan 14: Hanya terjadi di Indonesia, penulis buku pelajaran pemerintah bisa selesaikan naskah dalam 1 bulan. ‪#‎Kurikulum2013‬
.
proxy
 .
Komentar Hilda Karli: Oleh karena itu isi buku tidak berurutan… Terutama konsep matematika lalu contoh yang diulang-ulang…  di berbagai tema. Keterbacaan tidak sesuai dengan perkembangan anak.
.
Komentar Karim Karhami: Kalau kita cara kerja Isaac Asimov, penulis buku non-fiksi terkenal itu, dia bisa menyelesaikan satu buku yang berkualitas tidak sampai 1 minggu
.
Tanggapan kami: Kalau kebiasaan saya menulis buku pelajaran, penulisan naskah 1 tahun dan revisi bersama editor sebelum naik ke percetakan 1 tahun. Menulis buku pelajaran tidak boleh sembarangan karena apa yang tertulis dalam buku pelajaran akan mempengaruhi anak sampai 40 tahun ke depan, bahkan sepanjang hidupnya.
.
Komentar Hilda Karli: Betul…apalagi penulisannya dalam bentuk tim jadi ada beberapa orang yang punya anggapan beda yang perlu disatukan dulu dalam bentuk tim rencana ato kerangka penulisan dulu …setelah setiap orang selesai menulis harus ada satu orang yang bertnggung jawab penuh pada penulisannya agar kesinambungan materi, tingkat kesulitan, dan keterbacaan serta contoh menjadi satu kesatuan yang utuh untuk diterima siswa. Baru diedit oleh editor sehingga meminimalisasi kesalahan.
.
Komentar Joko Sutrisno: Alhamdulillah….peran editor masih diperhitungkan….
.
Kicauan 15: Hanya terjadi di Indonesia, anak SD boleh menulis di buku pelajaran. Tahun depan cetak lagi. Proyek! ‪#‎Kurikulum2013‬
.
proxy
.
Kicauan 16: Siklus hidup buku pelajaran Inggris, AS, Finlandia, Singapura 5 tahun. Indonesia 1 tahun. Kaya amat! ‪#‎Kurikulum2013‬
.
proxy
 Komentar Kang Maman Sutarman: Punyakah catatan untuk Pendidikan Agama ? Saya tunggu! Trims
.
Komentar Julius Juih: Ini yang unik untungnya perjanjian penulis bukan dibayar dengan royalti.
.
Kicauan 17: Hanya di Indonesia tema2 tematik SD ditentukan Pusat. Di negara2 lain ditentukan guru sesuai konteks ‪#‎Kurikulum2013‬
.
Contoh tema Kurikulum 2013
.
Komentar Joko Sutrisno: Bukan hanya tema Pak, tapi Subtema juga
.
Komentar Alif Ida: Dulu diserahkan sekolah juga gak jalan pak…
.
Tanggapan kami: Dear Alif Ida, Sebenarnya guru sudah bersentuhan dengan cara mengembangkan dan melaksanakan pembelajaran tematik sejak Kurikulum Berbasis Kompetensi (2003) dan kemudian pada KTSP 2006. Jadi pengalaman guru sudah sekitar 11 tahun. Walaupun di sana-sini ada guru yang tak mampu karena suka copy-paste, tapi ada juga guru yang telah mampu mengembangkan dan melaksanakannya. Kurang bijak jika ada guru yang tak mampu, mendikbud malah menarik pengembangan silabus ke Pusat. Padahal di berbagai negara sudah jadi tradisi guru mengembangkan silabus sesuai dengan konteks yang dihadapi.
.
Komentar Debora Dapamerang: Pak Belen, kami sedang lakukan di Maumere pak, tematik sesuai konteks’namanya Pendidikan kontekstual dengan spirit Kulababong. Rencana tanggal 12 Desember buku dengan judul Tunas Karakter Nusantara dari Nian Sikka untuk pendidikan Indonesia akan di-launching. Buku ini dibuat oleh 60 guru di Sikka. Semua tema yang dihasilkan sesuai konteks lokal.
.
Tanggapan kami: Dear Debora Dapamerang. Oih Salam jumpa. Dari Poso, ke mana, kok sekarang mendarat di Maumere? Apa yang dilakukan Debora dkk. di Maumere itu yang paling tepat. Memberdayakan guru, bukan menarik pembuatan silabus ke Pusat yang melanggengkan penyeragaman. Indonesia ini beranekaragam. Ada yang tinggal di tepi pantai, ada yang di atas gunung. Ada yang tinggal di kota besar, kota kecil dan ada yang tinggal di desa, dusun, bahkan kampung terpencil di pulau-pulau kecil. Tak masuk akal jika tema-tema ditentukan dari Pusat.
.
Komenar Debora Dapamerang: Bapak ke Maumere kah? Sekalian kunjungan ke sekolah yang sudah jadi pak. Saya di Maumere sudah 2 tahun lebih pak. Pengen bangun pendidikan di kampung halaman pak. Salam dari Maumere.
.
Komentar Alif Ida: Dear Pak S Belen, Betul apa yang Bapak sampaikan. Tapi kami memaknai silabus dan buku tematik terpusat sebagai contoh minimal yang bisa dikembangkan. Saya menemani guru di lapangan lebih dari 10 tahun…. Fakta menunjukkan betapa berat guru mengelola tematik. Dari merancang, menyajikan hingga menilai. Kalau pun ada yang merancang hingga menyajikan serta mampu mengelola bahan ajar tematik itu tidak lebih dari 20%.  Sepanjang contoh buku yang disediakan pemerintah berbasis learning by doing, joyful learning… selayaknya sangat diapresiasi pak. O ya pak Belen.. kita pernah jadi narsum bersama di MA Matholiul Falah dan SMPN2 Pati sekian tahun yll….
.
Kicauan 18: Integrasi IPA ke Bahasa Indonesia: IPA sastra, bukan IPA berdasar observasi, penyelidikan, eksperimen ‪#‎Kurikulum2013‬
.
Struktur KTSP 2006 dan Kurikulum 2013 SD
 .
Komentar Karim Karhami: Integrasi IPA ke Bahasa Indonesia, bisa saja seperti ini: anak membuat komik tanya jawab tentang suatu objek. Setelah itu dipresentasikan. Tanya jawabnya dapat mengarah pada penelitian IPA seperti mengajukan pertanyaan produktif, ‘Berapa helai mahkota bunga alamanda?’. Lalu pertanyaan diteruskan, ‘apakah jumlah mahkota bunga alamanda dalam satu pohon selalu sama?’, apakah jumlah mahkota bunga alamanda yang berbeda pohon selalu sama? Lalu, ‘apakah jumlah mahkota bunga alamanda selalu sama dengan mahkota bunga kembang sepatu?’ Setelah itu, anak didorong melakukan penelitian langsung dan menyusun laporan berdasarkan hasil temuannya. Dengan cara, ini, integrasi IPA ke Bahasa Indonesia tidak menjadi IPA sastera. Kegiatan yang mengembangkan keterampilan proses tetap dapat dilakukan. Karena realita sehari-hari, tidak adda mata pelajaran yang berdiri sendiri. Lalu, kalau menjadi IPA sastera, apa salahnya? Maaf pak Belen ini saya nsampaikan sebagai mantan pengembang kurikulum IPA.
.
Tanggapan kami: Pak Karim, apakah yang Pak jelaskan itu tercantum dalam Buku tematik menyangkut Bahasa Indonesia terbitan Kemdikbud? Kalau tidak ada di buku, mana ada guru yang mau bersusah payah menggiring anak melakukan penelitian langsung?
.
Tanggapan Karim Karhami: Maksud saya begini Pak Belen, kita perlu melatih guru untuk berpikir positif, sehingga tidak berpikir masalah terus-menerus, harapannya supaya guru mampu merubah pola pikir dari pola pikir ‘selalu tidak bisa dan bermasalah’ ke pola pikir baru ‘selalu bisa dan semua masalah pasti bisa dipecahkan’ termasuk permasalahan tentang implementasi kurikulum 2013 seperti tentang buku, tentang perumusan KD, tentang penilaian otentik, dan permasalahan lainnya. Mereka harus menjadi guru profesional, those who can overcome all professional teacher problem yang diawali dengan berpikir ‘tidak ada masalah dan kalau ada masalah pasti bisa dipecahkan’.
.
Kicauan 19: Integrasi IPS ke Bahasa Indonesia: IPS sastra, bukan IPS berdasar observasi, penyelidikan, penelitian ‪#‎Kurikulum2013‬
.
Struktur KTSP 2006 dan Kurikulum 2013 SD
.
Komentar Hilda Karli: Jadi menggunakan konsep apa Pak Belen?
.
Tanggapan kami: Seharusnya untuk SD kelas I – VI disusun dulu kurikulum mata pelajaran IPA dan IPS serta mata-mata pelajaran secara terpisah. Kemudian, gurulah yang memilih tema dan mengaitkan kompetensi dasar (KD) berbagai mata pelajaran dengan tema itu. Keliru langkah yang ditempuh pengembang Kurikulum 2013: merumuskan KD IPA dan IPS lalu mengintegrasikannya ke dalam kurikulum Bahasa Indonesia (dan PPKn). Nah, konsep-konsep IPA dan IPS yang dipilih sesuai tema diambil dari kurikulum Bahasa Indonesia dan PPKn. Periksa buku pelajarannya. Anak diminta membaca tentang menanam pohon dan mencangkok, bukan dilatih menanam dan mencangkok lalu membuat laporan. Laporan itulah yang seharusnya dibaca sebagai bahan bacaan Bahasa Indonesia. Di dunia ini tak ada negara yang membuat kekeliruan fatal seperti itu. Hal ini berlaku juga untuk pembelajaran IPS. Fatal lagi, di rapor SD dicantumkan nilai menurut tema, bukan menurut mata pelajaran. Padahal, seharusnya penilaian dilakukan per mata pelajaran. Pembelajarannya tematik tapi bila tiba waktu penilaian harus kembali ke mata pelajaran. Inilah bermin cara kerja acak kadut, terburu-buru. Tidak mengerti, tidak tahu seluk-beluk praktik di lapangan. Hanya berandai-andai. Tidak heran begitu gencar kritik terhadap Kurikulum 2013.
.
Komentar Karim Karhami: Maaf pak Belen saya berbeda, ‘Membaca cara menanam pohon dan mencangkok’ tidak salah, bergantung kompetensi yang ingin dicapai. Pada kegiatan ini, mungkin siswa hanya dituntut ‘speed reading’ atau ‘membaca pemahaman’. Bisa juga, setelah membaca siswa diminta membuat tulisan berdasarkan pengalamannya dan pemahamannya ttg cara menanam dan mencangkok pohon. Lalu siswa diminta membandingkan tuisannya dengan tuisan yang ada dalam buku teks. Sebenarnya tidak semua ahli mengeritik kurikuum 2013, ada juga ahli pendidikan yang mendukung termasuk pak DR. CIpto, ketua UIK dari UNJ
.
Tanggapan kami: Hello, Pak Karim Karhami. Serius amat sih. He he he. Masih ingatkah Pak Karim diskusi kita di tengah kedinginan kota London tahun 1992. Waktu itu kan Pak Karim banyak bahas tentang bagaimana mendidik siswa sejak dini menjadi young scientist sesuai dengan tesis S2 Pak di Intitute of Education University of London. Kan waktu itu kita sama-sama sepakat bahwa sejak anak TK dan SD kelas-kelas awal perlu berimjainasi, berkreasi, mencoba berbagai kegiatan IPA secara langsung. Bukankah itu praktik keseharian anak-anak TK dan SD di Inggris? Dalam Kurikulum 2013, fatalnya anak-anak tidak diarahkan mencoba dan mencoba, bahkan berteori beredasarkan percobaannya tapi membaca cerita tentang menanam pohon dan mencangkok. Mengapa sekarang Pak Karim tak memperjuangkan pendekatan pembelajaran aktif untuk menumbuhkembangkan young scientist? Bagaimana mungkin membuat anak menjadi scientist melalui membaca cerita. Ini yang kunamakan IPA sastra. He he he
.
Komentar Hilda Karli: Terima asih penjelasannya Pak Belen
.
Komentar Mario Josef: Lima jam seminggu untuk Matematika dan Bahasa Indonesia untuk SD sangat mengagumkan karena logika bahasa dan matematika itu sama untuk membangun kekritisan, tetapi bahasa membangun kehalusan jiwa, sedangkan matematika untuk membuat anak itu sakelijk-pasti-tidak terombang-ambing, benar ya benar, salah ya salah. Maksih Pak Belen!!
.
Tanggapan kami: Dear Mario Yosef, Setuju 5 jam untuk Matematika dan Bahasa Indonesia di SD sesuai KTSP 2006. Tidak perlu menambah jam untuk kedua mata pelajaran ini secara berlebihan.
.
Komentar Julius Juih: Makasih Pak Senior saya. Kalau saya sebagai penulis Seni Budaya membaca Kurikulum 2013 untuk SD mulai dengan KD ke-4 sehingga pasti dengan aktivitas berkesenian konsep tentang seni akan mudah dipahami karena mengalami secara langsung. KD3 tercapai, belajar aktif pasti terlaksana dan bukan seperti belajar IPA Sastra, tapi saya di Seni Budaya juga kecewa adanya Permendikbud 104 Tahun 2014 ada non-autentik yang ini kurang tepat pada seni budaya selain SMK seni.
.
Iklan

SMK Pertanian St Pius X Bitauni, Insana di Timor: Model sekolah berasrama yang nyaris gratis

Agustus 22, 2014

Sekolah berasrama termurah di tanah air berkat unit produksi yang sukses

Jalan menuju Gua Maria Bitauni

Jalan masuk menuju Sekolah Menengah Kejuruan Pertanian Bitauni, Insana, Timor

 

Kamis subuh, 30 Juli 2014 saya dan istri terbang dari Jakarta, transit di Bandara Juanda Surabaya, dan melanjutkan penerbangan ke Kupang. Dari Kupang kami menuju Nenuk, 10 km sebelum Kota Atambua, ibu kota Kabupaten Belu (yang berbatasan dengan Timor Leste) untuk berpartisipasi dalam seminar Pendidikan yang dihadiri uskup, para imam, dan pengurus yayasan persekolahan Katolik Keuskupan Atambua. Keuskupan ini meliputi 3 kabupaten, yaitu Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Kabupaten Belu, dan kabupaten pemekaran yang baru, yaitu Kabupaten Malaka. Dalam perjalanan ini kami singgah untuk mengunjungi SMK Pertanian Pius X di Bitauni, Kiupukan, Insana, Kabupaten TTU, sekitar 23 km selepas Kota Kefamenanu, ibu kota Kabupaten TTU ke arah Atambua.

Mengapa kami mengunjungi SMK Pertanian berasrama ini? Dalam benak kami, menjelang presentasi dalam seminar pendidikan pada 31 Juli di Nenuk, kami akan menyampaikan pentingnya mempertahankan, menambah, dan meningkatkan pendidikan sekolah berasrama di tanah Timor khususnya dan NTT umumnya. Mengapa? Sekolah berasrama seperti seminari, SMP, SMA, dan SPG berasrama di tanah Timor sejak dimulainya pendidikan missi telah terbukti mampu meningkatkan mutu dan relevansi pendidikan. Yang lebih penting lagi adalah sekolah berasrama mampu menumbuhkembangkan nilai-nilai pendidikan karakter yang tangguh, tahan banting, dan pantang menyerah sebagai bekal lulusan melanjutkan pendidikan dan berkiprah dalam kehidupan profesi dan bermasyarakat.

Sekolah berasrama di Timor khususnya dan NTT umumnya telah terbukti menjadi pintu mobilitas sosial individu dan menjadi agen perubahan masyarakat Timor dan NTT.  Tak terbayangkan ketertinggalan masyarakat Timor dan NTT tanpa eksistensi sekolah berasrama.

Di sekolah berasrama selama 24 jam tiap hari pendidikan anak berlangsung. Disiplin belajar, kemahiran menggunakan waktu, kemandirian mencuci dan menyeterika pakaian, bekerja tangan (opus manuale) menyapu dan mengepel sekolah dan asrama, membersihkan kamar mandi, toilet, dan got, menyiangi rerumputan, menanam dan menyirami tanaman, bahkan menggunting rambut. Waktu mengikuti ibadah, pelajaran, makan, istirahat dan tidur, studi mandiri, berolahraga dan bekerja tangan, berlatih bakat bermain musik, berolah vokal, melukis, membuat patung dan kerajinan tangan, bermain drama, menanam dan memelihara tanaman, membudidayakan unggas dan ternak telah diatur mengikuti jadwal yang ketat. Pada jam studi mandiri diterapkan aturan silentium yang keras (harus diam, tenang, tidak boleh berisik) sehingga ibarat bila ada jarum yang jatuh ke lantai pasti terdengar bunyinya.

Pola asuh seperti ini hanya bisa dilakukan di oase “keluarga buatan” yang bernama sekolah berasrama. Dukungan aktivitas belajar dan pendidikan karakter siswa belum mampu dilakukan orang tua dalam keluarga secara baik dan benar. Kamar belajar siswa yang tenang dan dilengkapi meja belajar dan pencahayaan yang memadai (listrik) umumnya belum mampu disediakan orang tua baik di pedesaan maupun di perkotaan. Pengaturan waktu belajar dan istirahat siswa serta aktivitas olahraga dan bermain sulit disinkronkan dengan aktivitas orang tua, keluarga, dan lingkungan masyarakat setempat.

Selain itu, faktor pengaruh negatif lingkungan semakin meresahkan. Misalnya, kebiasaan pesta adat berhari-hari, kebiasaan konsumsi minuman keras, mabuk-mabukan, perjudian, pelecehan dan kejahatan seksual, konsumsi narkoba, pergaulan remaja dan muda-mudi yang berdampak penularan penyakit seksual dan kehamilan usia muda semakin meresahkan orang tua dalam mendidik anak-anaknya.

Namun, pembiayaan anak di sekolah berasrama yang mahal sulit ditanggung orang tua yang berprofesi petani, nelayan, supir, buruh, dan pegawai negeri biasa tanpa jabatan tinggi. Kemampuan ekonomi orang tua umumnya belum meningkat secara signifikan sehingga sekolah berasrama dipandang sebagai alternatif pendidikan yang mewah. Faktor ini mengakibatkan sejumlah sekolah berasrama terpaksa menutup asrama, tinggal menjadi sekolah biasa.

Memasuki kompleks SMK Pertanian Bitauni kami melihat para siswa pria sedang bermain bola kaki dan para siswa wanita dan pria yang lain menonton. Sesaat kemudian permainan berhenti dan mereka berjalan menuju asrama. Kami disapa sekian banyak siswa yang mengucapkan selamat sore dengan ramah. Romo Vinsen Manek Mau (kepala sekolah), Romo Yerem Seran, dan Romo Agus Klau serta Uskup emeritus Anton Pain Ratu yang tinggal di sebuah kamar di SMK ini sudah pergi ke Nenuk. Kami hanya bisa bertanya kepada beberapa siswa yang sempat ditemui.

Pertandingan bola kaki SMK Bitauni vs Desa Bitauni 2

Para penonton pertandingan bola kaki antara siswa SMK Pertanian Bitauni dengan pemuda Desa Bitauni dalam rangka perayaan hari Proklamasi 17 Agustus

Pertandingan bola kaki SMK Bitauni vs Desa Bitauni 3

Pertandingan bola kaki SMK Bitauni vs Desa Bitauni

 

Pertanyaan pertama kami kepada siswa-siswa itu adalah apakah semua siswa wajib tinggal di asrama. Jawabannya ya. Berapa uang asrama yang harus dibayar siswa per bulan? Jawabannya Rp 15 ribu per bulan. Waduh, ini benar-benar mengagetkan. Masa’ Rp 15 ribu per bulan. Apakah siswa masak sendiri untuk makan 3 x sehari? Jawabannya ya. Apakah masak pakai kompor? Jawabannya, ada yang pakai kompor, ada yang pakai kayu api. Agar pekerjaan memasak tak terlalu menyita waktu  belajar, mereka atur masak dalam kelompok-kelompok pertemanan dengan giliran memasak secara bergilir. Apakah siswa membawa bekal dari rumah. Jawabannya ya, bawa bekal beras dari rumah. Lalu, kami bertanya lagi, kalau makan lauknya apa? Jawabannya ya kami makan dengan sayur yang kami tanam sendiri di bedeng individu tiap siswa. Lauk yang lain bisa sup kacang hijau, ikan teri, daging dendeng kering, telur kalau ada. Kalau sudah tak ada lauk lagi ya makan dengan supermie. He he he. Mereka tampak bangga bisa makan dari usaha sendiri dan tidak memberatkan beban keuangan orang tua.

Mayoritas orang tua yang berprofesi petani sulit mendapatkan uang tunai tapi mereka memiliki beras dan jagung yang disimpan di lumbung untuk konsumsi keluarga selama satu tahun atau lebih. Kalau siswa tinggal di rumah ya orang tua harus menjamin terpenuhinya kebutuhan makan anak 3 x sehari. Kalau mereka diwajibkan tinggal di asrama dan masak sendiri ya jatah makanan yang dimakan di rumah tinggal dialihkan menjadi bekal yang dapat dibawa ke asrama. Beban ini terasa tidak terlalu memberatkan.

 

Dua siswa SMK Pertanian Bitauni bangga atas hasil kerjanya 3 - Copy

Bangga menunjukkan hasil kerja dengan keringat sendiri, sambil menunjukkan tanda victory, kemenangan.

Dua siswa SMK Pertanian Bitauni bangga atas hasil kerjanya 2 - Copy

 

Berapa besar uang sekolah (SPP) yang harus dibayar tiap siswa? Jawabannya Rp 50 ribu per semester. Waduh, tambah kaget lagi. Kalau tiap semester itu 6 bulan berarti tiap orang tua siswa membayar uang sekolah tiap siswa per bulan hanya sekitar Rp 8 500 + uang asrama Rp 15 000 = Rp 23 500 per bulan. Dengan demikian, dalam setahun orang tua hanya mengeluarkan biaya Rp 282 000 bagi anaknya di sekolah berasrama ini. Angka ini benar-benar berbeda antara bumi dan langit jika dibandingkan dengan biaya uang sekolah dan uang asrama dari sekolah berasrama, dalam hal ini SMA berasrama yang terkenal di Jabodatabek. Di sini orang tua harus membayar total Rp 70 juta s.d. Rp 100 juta per tahun bergantung kepada reputasi sekolah itu, apakah sekolah internasional, sekolah nasional plus atau sekolah nasional. Padahal, jika dibandingkan kualitas pendidikan karakter  di SMK Pertanian Bitauni apa yang dialami siswa di kampung itu mungkin jauh lebih bermakna daripada yang dialami siswa di sekolah berasrama supermahal itu.

Kami benar-benar kaget mendengar informasi betapa murah uang sekolah dan uang asrama di SMK Pertanian Bitauni karena sejauh informasi yang kami ketahui, tak ada sekolah berasrama di tanah air yang semurah ini. Nyaris gratis. Slogan sekolah negeri gratis telah dilaksanakan sekolah swasta berasrama ini. Kami belum menemukan model sekolah seperti ini yang lain di tanah air dan di negara-negara lain yang pernah kami kunjungi.

Kami bertanya lagi, apakah siswa wajib ikut misa (ibadah harian biasanya di pagi hari)? Jawabannya ya. Bangun pagi jam berapa? Jam 5.00 pagi. Apakah siswa berolahraga di sore hari? Jawabannya ya, diatur cabang olahraga yang mana digilir antar-siswa. Yang penting semboyan “mens sana in corpore sano” (jiwa yang sehat dalam tubuh yang sehat) diterapkan dalam kehidupan keseharian mereka.

Kamis 21 Juli 2014 pada Pesta Santo Pius X, sekolah ini merayakan pesta perak (25 tahun usia) sekolah ini, yang didirikan tahun 1989. Lahan sekolah ini seluas sekitar 26,5 hektar. Tanah ini dulunya bersifat asam sehingga kurang diminati penduduk. Setelah ditanami aneka- pohon dan dibudidaya kini tanah menjadi subur.   Kepada para siswa, pembina sering mendengungkan semboyan bahwa di atas batu karang tanaman dapat tumbuh subur dan akhirnya menghasilkan cukup makanan, asalkan anda tidak hanya mau bekerja keras tapi juga bekerja cerdas. Biji sesawi itu adalah biji yang paling kecil dari segala jenis benih, tetapi apabila sudah tumbuh, sesawi itu lebih besar daripada sayuran yang lain, bahkan menjadi pohon, sehingga burung-burung di udara datang bersarang pada cabang-cabangnya.

Kini SMK ini menampung 469 siswa yang tersebar dalam tiga program studi, yaitu Agronomi, Teknologi Hasil Pertanian, dan Budidaya Ternak. Enrolmen meningkat dari tahun ke tahun dan tahun ini diterima 309 siswa baru. Siapa pun siswa yang datang dari latar belakang suku dan agama apa pun diterima tanpa tes seleksi. Didukung kehidupan berasrama yang menjamin disiplin belajar siswa, praktik teori yang dapat dilanjutkan di sore hari dan hari libur, dan bimbingan para guru dan pamong asrama, kelulusan 100% dalam ujian nasional merupakan prestasi siswa sekolah ini. Tahun ajaran 2012, 120 siswa kelas III mengikuti ujian nasional dan kelulusannya 100%. Ujian nasional tahun 2013 diikuti 112 peserta sedangkan tahun 2014 diikuti 72 peserta dan semuanya lulus 100%. Tak ada yang tercecer.

Dalam olimpiade sains terapan SMK 2014 tingkat Provinsi NTT, siswa sekolah ini merebut juara I bidang studi Fisika dan Kimia dan akan ikut lomba olimpiade sains terapan tingkat nasional di Jakarta. Minggu kedua Agustus siswa SMK ini mengikuti lomba di Kupang dan dua siswa merebut juara I Biologi dan Fisika dan satu siswa merebut juara III Kimia. Pada minggu ketiga Agustus dua siswa ikut lomba kompetensi siswa bidang pertanian dan peternakan di Kupang dan berhasil merebut juara II. Dalam rangka perayaan 17 Agustus para siswa ikut perlombaan kesenian, olahraga, dll. dan merebut juara I bola kaki putra dan juara I bola voli putri.

Inilah indikator dan sekadar contoh prestasi siswa SMK Bitauni yang secara umum menggambarkan mutu dan relevansi sekolah ini. Mengapa bisa begitu? Ya, karena pendidikan yang berkualitas dan karakter yang ditumbuhkembangkan melalui revolusi mental di sekolah berasrama ini.

Belajar biologi, kimia, fisika tidak semata teoritis tapi dipraktikkan untuk memecahkan masalah dalam aktivitas bertani dan beternak melalui eksperimentasi dan inovasi. Pelajaran akademis melalui pemecahan masalah dan kreativias berproduksi divariasikan dengan pengembangan potensi kinestetik melalui olahraga dan kreativitas berkesenian serta pengembangan kecerdasan spiritual melalui ibadah dan sosialisasi dengan sesama teman serta guru dan pembina.

Teknologi penanaman, pengolahan, pemupukan, pemberian makanan yang terbaru diterapkan. Siswa per kelompok program studi menghasilkan produk berupa aneka-sayuran, bawang merah, cabe, dan tomat. Siswa pun membuat anggur dari buah dan kulit pisang dan dijual seharga Rp 15 ribu per botol. Siswa pun memelihara unggas (ayam) dan menjual ayam dan telur. Siswa juga memelihara babi yang sudah bisa dijual dengan harga Rp 2,5 juta s.d. Rp 3,5 juta bergantung kepada beratnya. Babi divaksinasi dan diberi makanan sehat yang mampu menggemukkan babi dan bisa dijual setelah berusia 6 – 7 bulan. Pasar babi di Timor khususnya dan NTT umumnya menjanjikan karena daging babi menjadi bagian dari adat pesta berbagai suku. Kalau terjadi kekurangan babi di Timor, orang akan impor dari Flores atau sebaliknya. Kalau Sumba kekurangan babi akan diimpor dari Flores dan Timor. Produk unit produksi siswa dijual ke pasar, juga ke Kupang, dan ada yang sudah diekspor ke Jawa dan Kalimantan. Ada juga penjual di pasar yang datang sendiri ke sekolah membeli produk sekolah ini.

 

Embung penampung air hujan di SMK Pertanian Bitauni Timor

Segala aktivitas budidaya tanaman, unggas, dan ternak mengandalkan cadangan air dari satu-satunya embung di sekolah ini. Air tidak dialirkan melalui pipa tapi ditimba siswa dan dibawa untuk menyirami tanaman dan memberi minuman kepada unggas dan ternak.

Bedeng sayuran, tomat, cabe di SMK Pertanian Bitauni Timor

Bedeng sayuran, tomat, cabe di SMK Pertanian Bitauni Timor 4

Embung dan bedeng sayur di SMK Pertanian Bitauni Timor 2

Embung dan bedeng sayur di SMK Pertanian Bitauni Timor

 

Romo Vinsen Manek mengatakan, menjelang perayaan ulang tahun perak sekolah ini, tanaman sayur brokoli, tomat, dan bawang merah siap panen.

Brokoli

Kebun Tomat

bawang merah

Melalui penjualan produk yang dihasilkan siswa per kelompok program studi, siswa memberikan sumbangan pembiayaan sekolah melalui pendapatan asli sekolah (PAS). Dengan demikian, secara tidak langsung sebenarnya siswa mensubsidi dirinya sendiri sehingga uang sekolah per semester dan uang asrama per bulan bisa ditekan semurah mungkin. Selain produk hasil belajar siswa, dana BOS sebesar Rp 500 ribu per siswa per tahun membantu pembiayaan sekolah. Beasiswa bagi siswa “miskin” sebesar Rp 1 juta per tahun juga membantu sehingga uang sekolah bisa ditekan seminimal mungkin. Selain itu, ada bantuan dana juga dari yayasan lokal dan bantuan pengembangan kapasitas dari Plan International. Pengelolaan dana sekolah yang dilakukan secara transparan, akuntabel, dan kredibel memungkinkan sekolah ini membayar gaji guru secara memadai, lebih besar dari gaji guru SMK dan SMA swasta lain di Timor khususnya dan NTT umumnya.  Bahkan gaji guru sekolah ini lebih tinggi dari gaji dosen universitas swasta. Jumlah guru sekolah ini yang merangkap tenaga lapangan sebanyak 30 orang dan karyawan 11 orang. Jumlah guru dapat ditekan menjadi minimal karena tiap guru berperan juga sebagai tenaga lapangan. Tidak dipisahkan status guru dan status tenaga lapangan seperti di SMK yang lain.

Kisah sukses SMK Pertanian Bitauni tidaklah jatuh dari langit, tapi melalui perjuangan konsisten dan tekun selama 25 tahun. Faktor lain yang tak kalah mendukung adalah pimpinan gereja, dalam hal ini uskup memberi perhatian dan bantuan langsung. Baik uskup Dominikus Saku kini dan uskup Anton Pain Ratu (sekarang dalam status uskup emeritus, pensiun) membantu melalui pemanfaatan networking untuk pengembangan SDM (sumber daya manusia), tenaga pendidik di sekolah ini. Kehadiran uskup emeritus Anton Pain Ratu langsung di tempat yang hidup dalam komunitas kecil dengan tiga romo di sana menjadi motivasi yang tak ternilai bagi ketekunan memecahkan masalah yang dihadapi. Ketiga romo yang bertugas di sana menunjukkan passion mendidik anak-anak remaja untuk menjadi petani teladan.

Uskup emeritus Anton Pain Ratu memilih tinggal di SMK Pertanian ini setelah beliau pensiun. Banyak imam dan warga umat terheran-heran mengapa beliau memilih tinggal di sebuah kamar sederhana di sekolah ini. Dalam obrolan di meja makan selama seminar di Nenuk, kami katakan kepada Mgr Anton Pain Ratu mengapa beliau tetap sehat dan berumur panjang. Tiap hari beliau melihat anak-anak tumbuh dan berkembang menjadi petani teladan. Ini membuatnya berumur panjang. Di forum seminar, kami katakan bahwa melihat kamar sederhana uskup tituler, bukan kaul kemiskinan tapi kaul kemelaratan yang diterapkan. Dari obrolan di meja makan, baru saya tahu bahwa selama jadi uskup aktif, beliau hanya tidur di atas papan tanpa kasur. Suatu kali datang keluarga dari Adonara, Flores Timur berkunjung dan menangis melihat opa uskup kok tidur tidak pakai kasur, hanya beralas papan dan tikar. Keluarga langsung ke Atambua membeli kasur. Sejak waktu itu ia terpaksa pakai kasur agar tidak mengecewakan keluarga. Waktu umat mendengar bahwa Paus Fransiskus hidup sederhana, sambil bercanda umat bilang, oh pasti bapa paus meniru kesederhanaan uskup Anton Pain Ratu. He he he.

Setelah saya bercerita kepada teman-teman tentang kisah sukses SMK Pertanian Bitauni, Pak Fidelis Waruwu, pakar pendidikan karakter dan pendidikan nilai menyatakan: “Kelihatannya kita membutuhkan revolusi mental, kita bisa belajar bagaimana memanfaatkan semua lahan yang ada, beternak dan berkebun. Kalau ini kita lakukan, kelihatannya pemberdayaan seluruh masyarakat sedang terjadi. Saya ingat pepatah China kuno yang selalu dikutip melawan kebijakan pemerintah yang gemar memberi ‘Bantuan Langsung Tunai’ — ‘Beri seseorang ikan, Anda memberinya makan sehari; ajari dia mengail, Anda menghidupinya seumur hidupnya.; — Jadi yang dilakukan sekolah ini adalah memberi anak-anak itu kail.”

 

Kiprah alumni, kita bisa, dan unit produksi di sekolah umum

 

Lulusan sekolah ini ada yang melanjutkan ke fakultas pertanian di universitas atau ke politeknik pertanian di Kupang dan di luar Timor. Ada pula yang telah menjadi dosen universitas. Namun terbanyak terjun menjadi petani yang dapat menjadi teladan kepada sesama petani di lingkungannya.

Betapa cocok dan relevan para penggagas dan pembina memilih jenis SMK yang sesuai dengan potensi pertanian lahan kering dan peternakan Timor. Mereka tidak memilih SMK perhotelan atau bisnis dan akuntansi yang membuat anak Timor tercerabut dari habitatnya. Sukses sekolah ini mendorong orang tua untuk lebih memilih menyekolahkan anaknya di SMK daripada di SMA lalu melanjutkan ke universitas, lalu pulang ke kampung menjadi penganggur.

Di tanah air, bahkan di NTT sendiri sekolah ini tidak banyak dikenal. Namun, reputasinya telah dikenal pemerintah Timor Leste yang telah menjalin kerja sama dengan sekolah ini. Para guru di Timor Leste telah datang dan belajar dari sekolah ini.

Gagasan unit produksi di SMK mendorong kami dalam beberapa tahun ini membawa ide ini untuk diterapkan di sekolah umum (SD, SMP, dan SMA) melalui pendidikan kewirausahaan siswa. Saran ini kami ulangi lagi dalam penataran Kurikulum 2013 di SMA Surya di Atambua pada 1 Agustus 2014 yang dihadiri 120 guru dan kepala sekolah dari 7 sekolah. Biarlah anak-anak Timor bisa jadi wirausahawan di negeri sendiri. Masa’ warung dimiliki orang Padang dan orang Jawa, lalu orang Timor jadi konsumen sepanjang masa. Orang Timor menjual murah daging sapi, lalu orang Jawa bikin bakso, kita beli lebih mahal. Aneh tapi nyata.

20140801_082206

Menata ulang kelas dari duduk berbaris ke duduk dalam kelompok di SMA Surya untuk memudahkan interaksi dan komunikasi guru – siswa- siswa dalam melaksanakan belajar aktif.

20140801_082157

Pada tanggal 2 Agustus pagi saya dan istri dari Kupang terbang ke Pulau Sumba dan tiba di Bandara Tambolaka dan segera ke Seminari (SMP dan SMA) Sinar Buana, di Waitabula, ibu kota Kabupaten baru, Sumba Barat Daya. Dari Senin 4 Agustus s.d. Rabu 6 Agustus kami menatar para guru seminari tentang Kurikulum 2013 melalui belajar aktif sekaligus mengajak menemukan solusi pendidikan kewirausahaan siswa dan unit usaha apa yang cocok bagi seminari untuk menciptakan sumber dana baru agar seminari ini mampu meraih financial freedom, kebebasan finansial dalam menyelenggarakan dan mengelola sekolah. Tradisi seminari itu mandiri, berdiri di atas kaki sendiri, tidak mengandalkan bantuan pemerintah walaupun bantuan itu bersumber dari pajak rakyat. Di mana-mana di dunia ini, pengelolaan sekolah swasta itu cenderung efisien dan umumnya sekolah swasta-lah yang lebih bermutu dan mampu menyesuaikan diri dengan tuntutan zaman. Betapa pun besar dukungan dana pemerintah, sekolah negeri di mana-mana cenderung kalah bersaing dalam mutu dan relevansi serta pendidikan karakter siswa dibandingkan sekolah swasta.

IMG-20140806-04083

IMG-20140806-04082

Belajar tidak selalu harus di dalam ruang kelas. Siswa SMP dan SMA Seminari Sinar Buana Sumba belajar matematika, IPA, IPS, bahasa, bahkan agama di luar kelas, di alam. Sirkulasi darah lebih lancar, stimuli dari pepohonan, bebatuan, awan, pemandangan, dan manusia sekitar meningkatkan kreativitas dan kelancaran kinerja otak.

IMG-20140806-04088

IMG-20140806-04106

Impian kami adalah menerapkan model sekolah kerja (Arbeit Schule, Do School) seperti INS Kayu Tanam di Sumatera Barat pada zaman penjajahan dan gagasan kunci Kurikulum 1947, ide sekolah kerja pada awal kemerdekaan. Tampaknya model sekolah kerja ini telah diterapkan SMK Pertanian Bitauni dan pasti dapat diterapkan pada sekolah umum (SD, SMP, dan SMA) melalui pendidikan kewirausahaan yang memadukan kegiatan kurikuler mata-mata pelajaran dan kegiatan ekstrakurikuler.

SMK Pertanian ini hanya mengandalkan satu embung yang menampung air hujan tatkala musim hujan dan dipakai selama 1 tahun, termasuk di musim kemarau. Siswa menimba air dari embung dan menyirami aneka tanaman tiap kelas dan tiap siswa (bedeng pribadi). Selama ini air di embung masih cukup. Untuk keperluan mencuci pakaian, memasak, dan mandi digunakan air tanah. Lahan yang dulunya berciri asam dan gersang kini telah memiliki cadangan air tanah yang memadai.

 

 Embung dan bedeng sayur di SMK Pertanian Bitauni Timor 2

 

Siswa SMK Bitauni menari dalam pertemuan kakak alumni

Suasana pesta reuni alumni SMK Pertanian Bitauni

Romo Vincent Kepala SMK Pertanian Pius X Bitauni

Kepala sekolah Romo Vinsen Manek (tengah) sedang memimpin rapat alumni sebagai persiapan perayaan ulang tahun sekolah

Reuni alumni SMK Bitauni 4

Suasana rapat alumni

Alumni SMK Pertanian Bitauni bermusik dan menyanyikan anggur merah

Suasana perayaaan temu alumni

Alumni SMK Bitauni reuni di sekolahnya Agustus 2013

Alumni SMK Bitauni di sekolahnya Agustus 2013

Acara reuni alumni SMK Bitauni nostalgia

Tarian siswa SMK Bitauni pada acara reuni

Acara reuni alumni SMK Bitauni nostalgia 2

Betapa pun tantangan yang dihadapi, kita bisa

 

Timor khususnya dan Nusa Tenggara Timur (NTT) adalah salah satu wilayah yang berada di garda terdepan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan 22 kabupaten/kota karena berbatasan langsung dengan Timor Leste dan bertetangga dekat dengan Australia. NTT juga menjadi salah satu daerah “3T” (Terluar, Terpencil, dan Terdepan), saya tambahkan satu “T” lagi, Tertinggal. Meskipun kata-kata itu kedengarannya sangat menyayat hati, tetapi itulah kenyataan yang harus kita hadapi. NTT tertinggal dalam banyak hal, seperti ekonomi, kesehatan, pendidikan dan lain sebagainya.

Dalam bidang pendidikan NTT masih tertinggal jauh dari provinsi lain di Indonesia. Pada tahun 2013 yang lalu, persentase kelulusan hasil ujian nasional (salah satu indikator keberhasilan bidang pendidikan) NTT berada di urutan ke-29 dari 33 propinsi, lebih baik dari tahun sebelumnya urutan ke-33. Hasil ini mencerminkan keprihatinan bidang pendidikan di NTT. Banyak hal yang menjadi biang dari masalah itu. Salah satunya adalah minimnya sarana dan prasarana pendidikan. Ini juga sebagai sumbangsih dari masalah politik, dan kesejahteraan rakyat. Isu yang paling sering diangkat juga adalah kita tertinggal jauh dalam hal teknologi informasi dan modernisasi.

Namun, di tengah pesimisme ini, muncul fajar menyingsing dari Bitauni, Kecamatan Insana, di tengah tanah Timor. SMK Pertanian Bitauni telah membuktikan bahwa melalui revolusi mental yang ditunjang manajemen dan kepemimpinan para pembina yang memiliki passion, gairah luar biasa pengabdian, di atas batu karang Pulau Timor dapat dibuat mujizat. Tanah berbatu karang dapat menghasilkan tanaman dan ternak melalui pembinaan karakter siswa yang melandasi mutu pendidikan yang terandalkan. Para pembina terus menanamkan kepercayaan diri siswa melalui slogan, kita bisa, kita bisa. Tak ada yang mustahil dalam hidup ini kalau kita selalu berprinsip, kita bisa.

Pengalaman keterampilan karakter

&

Pengalaman keterampilan karakter 2

Kami coba browse facebook alumni SMK Pertanian Santo Pius X Bitauni, Timor Tengah Utara, NTT dan mendapatkan ungkapan seorang alumnus, Alex Tikneon yang menilai sekolahnya ini pada status facebook-nya dalam rangka reuni alumni sekolah ini sbb:

“Di dalam nama grup ini, yaitu SMK ST PIUS X BITAUNI, mental saya dibentuk untuk kemudian menjadi orang yang bermental kerja keras, tanggung jawab, berkarismatik, dan hal-hal positif dalam mengarungi hidup ini…. Di sekolah ini, aku diajar untuk menghargai waktu, di sekolah ini, aku diajar tentang bagaimana hidup mandiri kelak, dan di sekolah ini tidak diajarkan suatu saat menjadi PNS melainkan pekerja, di sekolah ini, aku diajarkan bagaimana mendekatkan diri dengan Tuhan…. Akhirnya Puji Tuhan, dengan bekal yang diberikan sekolah ini, aku bisa menjalankan hidup ini dengan berdiri di atas kaki sendiri…. Salam semua alumni sekolah ini. Tuhan memberkati kalian semua.”

 

Alex Tikneon alumnus SMK Pertanian Bitauni dan istri

Alex Tikneon dan istri

Alex Tikneon dan keluarga, seorang alumnus SMK Pertanian Bitauni

Alex Tikneon di tengah keluarga

Alex Tikneon alumnus SMK Pertanian Bitauni dengan foto latar belakang rumahnya

Mengarungi masa depan dengan rasa percaya diri dan optimisme

Selama 25 tahun usia sekolah ini, telah dihasilkan sekian banyak alumni, terbanyak terjun menjadi petani di lingkungan masyarakatnya. Ada yang tidak duduk diam dan menyaksikan karut marut politik yang berciri transaksi pragmatis. Pengamatan kemiskinan yang masih membelit penduduk mendorong sejumlah alumni untuk mewarnai pertarungan politik melalui terjun langsung.

Para pembina sekolah ini sering mengingatkan para siswa bahwa jika kita berikhtiar, mujizat Tuhan, kemahamurahan hati Tuhan bisa terjadi dan terjadi lagi. Dari semula dua ekor ikan dan lima potong roti akhirnya kita bisa memberi makan kepada lima ribu orang dan sisanya bisa dijual.

Dalam obrolan dengan siswa kelas II SMK ini anak-anak remaja itu dengan bangga bercerita tentang aktivitas belajarnya menanam dan memelihara ternak. Mereka tampak optimis menghadapi masa depan. Ketika ditanya, selesai sekolah mau jadi apa umumnya mengatakan bercita-cita menjadi petani teladan.

Unit produksi di sekolah umum melalui pendidikan kewirausahaan

Khusus untuk NTT umumnya dan Timor khususnya, kami mengidam-idamkan sekolah berasrama yang bisa hidup melalui unit produksi, tidak hanya SMK tapi juga SMP dan SMA berasrama dan juga SD tanpa asrama. Sekolah berasrama sering terbayangkan sebagai sekolah mahal karena uang asrama yang cenderung tinggi sehingga hanya orang tua yang mampu dapat menyekolahkan anaknya di sekolah berasrama. Ternyata, SMK Pertanian Bitauni telah membuktikan bahwa sekolah berasrama tidak mesti mahal, bisa murah, bahkan demikian murahnya sehingga dikatakan nyaris gratis.

Kami kemukakan beberapa contoh awal pendidikan kewirausahaan yang dapat berkembang menjadi unit produksi. Para siswa SMA Terpadu HTM (berasrama) di Halilulik, Kabupaten Belu telah menanam pohon naga dan buahnya yang lezat dan bergizi dimakan para siswa. Kepala sekolah bingung mau diapakan buah naga yang berlimpah yang siap panen. Dalam obrolan waktu seminar pendidikan di Nenuk, kami katakan, mengapa tidak melatih siswa memproses buah naga menjadi sirup dan selai yang bisa dijual ke Kupang, bahkan ke luar pulau? Mau tahu caranya? Tinggal googling saja di internet dan dapat ditemukan proses cara membuatnya. Kalau kurang jelas ya cari videonya di Yotube. He he he.

??????????

??????????

Para siswa SMA Seminari Lalian di Kabupaten Belu telah berwirausaha melalui menanam sayuran, memelihara ayam dan babi, dan akan memelihara sapi. Sayur yang dipanen dijual ke seminari untuk dimakan mereka sendiri. Telur dan ayam serta babi dijual ke pasar di Atambua. Selain itu, siswa membuat dan mengelola koperasi siswa sendiri.

Para siswa SMA Giovanni di Kupang belajar desain grafis dasar yang ditindaklanjuti dalam mata pelajaran Prakarya dan Kewirausahaan. Mesin untuk sablon gelas dan baju telah dipesan. Ternyata gelas dan baju yang disablon coba dijual dan ternyata laris manis. Kini penyablonan telah menjadi cikal bakal unit produksi. Hasil penjualan dapat digunakan untuk membeli keperluan sekolah. Kata kepala sekolah, “Intinya kami ajarkan skill kepada anak agar di kemudian hari mereka bisa berkuliah sambil usaha.”

Para siswa SMP Negeri Buti di Merauke yang terletak tak jauh dari pantai dilatih membuat abon ikan dari ikan yang dibeli murah waktu musim ikan. Hasil penjualan abon ikan a.l. digunakan untuk memberi makan kepada semua siswa dan guru 2 x per minggu. Mereka pun dilatih budidaya ikan pada bekas lubang galian pasir yang disulap menjadi kolam ikan. Kemudian, siswa juga dilatih memelihara angsa dan sapi yang didatangkan dari Jayapura atas bantuan dinas pertanian Merauke. Kalau upaya ini konsisten dilakukan, sekolah ini dapat menjadi sekolah kaya.

Tiga ratus lima puluh siswa dari kelas I s.d. VI sebuah SD di Batu Raja, Sumatera Selatan telah mencoba menanam sayur pada pot hidroponik. Waktu pelatihan Kurikulum 2013 di Bandar Lampung kami memberi file tentang cara membuat pupuk padat dan cair organik dan cara menanam pada pot hidroponik dan polibag. Kepala sekolah menelepon kami mengabarkan berita gembira bahwa para siswa telah berhasil menanam sayur pada pot hidroponik dan akan panen. Saya tanya, sayur itu nanti diapakan? Jawabnya, ya siswa memasak dan makan rame-rame. Saya tantang lagi, hayo, bertahap ditingkatkan tiap siswa 2, 3, 4, dan kemudian 5 pot hidroponik dan berkembang terus akhirnya bisa diatur penjualan sayur sawi, bayam, tomat, cabe, dll. ke pasar di Batu Raja. Hasil penjualan bisa digunakan untuk membeli keperluan sekolah.

Sayur sawi di pot hidroponik

Contoh sayur sawi yang berhasil tumbuh subur pada pot hidroponik. Sayur ini mendapatkan asupan makanan dari pupuk cair yang dicampurkan dengan air. Tak perlu disiram lagi. Tidak bergantung pada hujan. Di musim kemarau pun sayur dapat ditanam.

Inspirasi dari Nenuk, Kabupaten Belu, Timor

Di Nenuk sebagai biara induk Soverdi (SVD) Timor, para calon imam dan bruder menjalani pendidikan rohani selama 2 tahun sebelum melanjutkan pendidikan filsafat dan teologi untuk menjadi imam atau pendidikan bidang lain untuk menjadi bruder. Para novis ini adalah lulusan SMA seminari atau SMA dan SMK umum.

Waktu mengikuti seminar pendidikan di Nenuk, kami sempat melihat-lihat ‘unit produksi’ sebagai media praktik para novis sebagai implementasi prinsip hidup ora et labora (berdoa dan bekerjalah). Mereka menanam dan memelihara tanaman serta beternak. Melalui upaya ini paling tidak mereka bisa makan dari apa yang diproduksi sendiri sekaligus menumbuhkembangkan semangat kewirausahaan agar sebagai imam mereka termotivasi memberdayakan kemampuan ekonomi umat dan sebagai bruder mereka bisa menempuh studi lanjut spesialisasi pertanian, peternakan atau bidang-bidang lain.

IMG-20140731-03996

Kompleks biara induk tampak depan

IMG-20140731-03994

Kamar Rektor biara tepat di sudut bangunan

IMG-20140731-03976

Panti pendidikan novis tampak belakang. Di area inilah berpusat ‘unit produksi’ peternakan dan sebagian pertanian.

IMG-20140731-03985

IMG-20140731-03986

Ternak ayam

IMG-20140731-03965

Ternak bebek

IMG-20140731-03969

IMG-20140731-03970

Ternak kambing

IMG-20140731-03967

IMG-20140731-03982

Ternak sapi

IMG-20140731-03977

Ternak burung merpati

IMG-20140731-03972

Bagian hutan tempat dibudidaya pula vanili

Kebun vanili

Tanaman vanili

Pendidikan kewirausahaan di lembaga pendidikan kejuruan atau umum di mana pun dapat dilakukan. Bidang praktik wirausaha dipilih sesuai dengan potensi dan konteks setempat. Praktik wirausaha ini dapat berkembang menjadi unit produksi sekolah jika dilakukan secara konsisten dan dikelola dengan semangat bisnis. Produk unit produksi bisa dijual untuk menambah sumber dana sekolah.

Advertorial

Diabetes

Bacalah posting kami berjudul:

https://sbelen.wordpress.com/2013/05/03/bawang-putih-cuka-apel-madu-jahe-lemon-jantung-sehat-tubuh-bugar/

Sano sembuhkan diabetes

Kartu nama Yuni 3

ATMI Solo model pendidikan link & match yang hebat

Februari 16, 2011

ATMI International Campus di Solo

Tanggal 14 Februari 2011, kami bersama Ir. Anton Doni Dihen MSc (staf ahli khusus Menakertrans), Drs. Frans Meak Parera (koordinator penasihat Gubernur NTT) berkunjung ke ATMI (Akademi Teknik Mesin Industri) Solo, SMK Mikail, dan Solo Techopark (pusat pendidikan vokasional).
Tujuannya adalah untuk mengenal model pendidikan yang benar-benar berciri link & match antara pendidikan dan tuntutan dunia kerja untuk diterapkan dalam konteks daerah yang tertinggal, semisal NTT.

ATMI telah membuka Kampus ATMI di Cikarang, Jawa Barat untuk mendekatkan lembaga pendidikan dengan dunia industri.

Pendidikan model sekolah kerja (Arbeit Schule atau Do-school) ini menganut prinsip 1 mahasiswa menangani 1 mesin.

Belajar bekerja dengan teliti karena dunia industri menuntut presisi

Contoh desain yang dihasilkan mahasiswa. Pada akhir pendidikan, tiap mahasiswa harus menghasilkan sebuah produk kreatif yang laku terjual di pasar industri dalam dan luar negeri.

Romo Clay Pareira SJ sedang menjelaskan produk yang dihasilkan oleh Proyek kewirausahaan I-CELL dalam sistem pendidikan ATMI.

Produk yang siap dikirim sesuai pesanan di dalam dan luar negeri. Sekolah baik SMK Mikail maupun ATMI menyatukan sekolah dan pabrik. Learning by working. Keuntungan produk yang dijual yang dibuat mahasiswa mensubsidi biaya pendidikan sehingga mahasiswa hanya bayar 30% biaya yang seharusnya. Betapa murah pendidikan yang bermutu dengan konsep yang jelas.

Tiap dosen membimbing 5 – 7 mahasiswa sehingga proses belajar berjalan secara efektif.

Memasang lemari, salah satu produk yang laris di pasar.

Solo Technopark sebagai pusat pembinaan vokasional bagi kaum muda hasil kerja sama Pemerintah Kota Solo dengan ATMI. Program training hanya 6 – 9 bulan tapi lulusannya langsung laris manis diterima dunia industri. Ini hanya satu-satunya yang excellent di Indonesia.

Kolam praktik pengelasan dalam air karena di dunia industri dibutuhkan tenaga yang mampu menyelam untuk mengelas badan kapal atau pipa minyak yang bocor. Luar biasa.

Siswa yang memilih program garmen, namun mereka telah dilatih selama 3 bulan untuk mengoperasikan mesin untuk membekali kompetensi mekanika dasar. Kalau mesin jahit atau mesin bordir rusak, mereka bisa memperbaiki sendiri.

Memotong kayu untuk membuat bubuk pewarna dari beragam kayu dan tumbuhan yang ada di lingkungan.

Banyak produk pupuk organik, briket, dan minyak kelapa, bahkan nata de coco yang dihasilkan siswa peserta training.

Contoh mebel yang dihasilkan mahasiswa

Mahasiswa jurusan elektronika. Perempuan pun terjun ke dunia teknik manufaktur.

Guna mendapatkan gambaran yang lebih lengkap tentang sistem dan suasana pendidikan di ATMI Solo, SMK Mikail, dan Solo Technopark, silahkan klik file powerpoint berikut ini!

Gambaran pendidikan di ATMI Solo

Mahasiswa belajar seperti di dunia industri selama 40 jam dalam seminggu. Displin amat ditekankan. Moto yang diterapkan adalah competentia (keterampilan teknis) , conscientia (tanggung jawab moral), dan compassio (bela rasa terutama bagi sesama yang terpinggirkan).

Pakai amano seperti di dunia industri

Satu kesimpulan yang dapat kami tarik dari hasil kunjungan ke Solo ini adalah sbb:

Dengan menerapkan prinsip-prinsip pendidikan sekolah kerja (Arbeit Schule, Do-school) yang menekankan praktik langsung sebesar 70% kurikulum dan teori 30% kurikulum, baik pendidikan menengah kejuruan 3 tahun seperti SMK Mikail dan pendidikan diploma 3 ATMI Solo 3 tahun maupun kursus singkat 6 atau 9 bulan pada Solo Technopark, mampu dihasilkan lulusan yang memiliki kompetensi yang dituntut dunia kerja, khususnya di sini dunia industri.

Kurikulum SMK dan akademi serta kursus singkat ini dikembangkan berdasarkan tuntutan dunia kerja yang berubah-ubah. Jika di dunia industri jam kerja karyawan 40 jam per minggu ya lamanya belajar disamakan, yaitu 40 jam per minggu. Jika di dunia kerja, 1 karyawan mengoperasikan 1 mesin atau perkakas sambil berdiri, ya praktik di sekolah dilakukan seperti itu. Jika di pabrik karyawan dituntut disiplin ya di sekolah disiplin yang sama ditegakkan. Jika di dunia kerja dituntut karyawan yang kreatif dan inovatif, ya kurikulum sekolah juga menjawab melalui peluang pengembangan kreativitas dan inovasi siswa dan mahasiswa.

Satu hal lagi dapat kita ambil hikmahnya. Biaya sekolah atau kuliah tidak akan mahal, bisa disubsidi jika sekolah atau akademi, politeknik, atau fakultas dijadikan unit produksi.

Ternyata kita mampu membuat pendidikan itu bermutu dan relevan, asalkan kita tidak berkutat mengikuti kurikulum pemerintah yang kaku tetapi mengembangkan dan menerapkan kurikulum yang sejalan dengan tuntutan dunia kerja.

Jika banyak sekolah dan akademi serta kursus vokasional mengikuti jejak langkah Solo ini, negeri ini tidak perlu terpuruk oleh tenaga kerja tak bermutu, malah bisa mengeskpor tenaga kerja bermutu untuk menjadi TKI di luar negeri.

Iklan

ibpI5li7kjnRD9

Sakit ambeien

Kunjungilah posting ini:

https://sbelen.wordpress.com/2013/05/03/bawang-putih-cuka-apel-madu-jahe-lemon-jantung-sehat-tubuh-bugar/

Gambar spanduk Sano

sano-sembuhkan-ambeien

Kartu nama Yuni 2