Posts Tagged ‘SD Fransiskus Asisi’

Sekali lagi tentang sumbangan Indonesia dalam proses perkembangan potensi kecerdasan Barack Obama

November 9, 2008

1

obama-plays-bicyclehttpwwwindonesiamediacom20084midserba_serbiobamahtm1

Bocah Berry (Barack Obama) gembira pertama kali bersepeda roda tiga.

Posting saya tanggal 5 November 2008 berjudul “Barack Obama sang presiden: Potensi kecerdasan otaknya berkembang pesat waktu di Jakarta.” Isinya tentang bagaimana kebutuhan ‘makanan pokok’ otak anak, dalam hal ini Obama kecil selama hidup 4 tahun di Jakarta, yaitu oksigen, makanan bergizi, informasi, dan kasih sayang. Selain itu, fokus tulisan adalah tentang bagaimana peran gerakan dan permainan, terutama permainan tradisional Indonesia, khususnya anak-anak Jakarta masa itu, dalam perkembangan otak Obama kecil. Terakhir, saya tunjukkan jasa ayah tirinya Lolo Soetoro dalam memenuhi kebutuhan perkembangan otak Obama. Itulah sumbangan Indonesia bagi Obama yang diberikan ayah tirinya. Hal itu berdasarkan pengakuan Obama sendiri dalam buku memoarnya.

Post ini antara lain dikomentari Ricky sbb: “Judul yang bagus sekali, tetapi jangan dilupakan bahwa obama pada dasarnya memang sudah mempunyai intelegensi yang tinggi. Mudah-mudahan kita sebagai orang Indonesia jangan terlalu Ge Er karena sudah disinggahi Obama selama 4 tahun, karena bapak tirinya dan adik tirinya orang Indonesia, atau ada Hussein di nama tengahnya (bagi yang muslim) walau ia seorang christian. Semua itu background beliau, nggak ada yang tahu secara pasti kan Obama jadi seperti sekarang karena Indonesia, (kecuali dia bilang sendiri bahwa dia bisa jadi presiden karena dulunya pernah di Indonesia). Obama menjadi saat ini karena dia “adalah Obama”, bisa jadi kita (Indonesia) hanya sebagian kecil saja dari berbagai hal penting yang ada dalam benaknya.”

Menanggapi komentar ini perlu saya memberikan latar belakang pendapat saya. Saya telah tunjukkan juga gambaran inteligensi Obama yang tinggi karena kebetulan ayah dan ibunya memperlihatkan tanda-tanda inteligensi yang tinggi, dan ayah tirinya pun demikian seperti tergambar pada kecerdasan Maya Soetoro. Hal itu disinggung pada keterangan di bawah foto Maya Soetoro. Karena itu, belum saya jelaskan bagaimana kemungkinan terjadinya pewarisan itu. Menurut teori genetika, IQ anak lelaki diperoleh dari gen IQ ibunya. Jadi, jika IQ ibu kandungnya Ann Dunham misalnya superior, kemungkinan besar IQ Obama diturunkan dari ibunya, kecuali gen ibunya resesif IQ Obama diperoleh dari gen ayahnya yang dominan. Pewarisan IQ dari ayahnya tampaknya tak terjadi karena ternyata IQ ibunya tinggi. Salah satu evidensi yang terlihat adalah kemampuan ibunya meraih gelar PhD (Doktor). Dalam family tree Obama terlihat juga bahwa turunan jauh Obama dari pihak ibunya ada yang pernah menjadi tokoh politik. Hal ini akan saya telusuri lebih jauh.

Taraf IQ Lolo Soetoro kemungkinan besar tinggi juga antara lain terlihat dari prestasi belajarnya sebagai mahasiswa Geografi UGM yang bagus sampai kemudian dikirim Dinas TNI Angkatan Darat mengambil master di University of Hawaii. Yang lebih jelas terlihat adalah evidensi IQ Maya Soetoro yang kemungkinan besar tinggi karena ia berhasil juga meraih gelar Doktor walaupun sudah berkeluarga. Jadi, kemungkinan besar IQ Maya diwariskan dari gen ayahnya Lolo Soetoro. Pendapat saya ini dapat divalidasi dengan mengamati hasil tes IQ Obama, ayah dan ibunya, Maya, dan Lolo Soetoro. Jika di Indonesia masa itu data ini tak ada karena belum populernya tes IQ masa itu. Mungkin juga hal ini terjadi di Amerika Serikat. Dari keluarga ini, yang masih hidup hanyalah Obama dan Maya. Jika belum ada data IQ, tes masih bisa dilakukan sekarang. Data IQ Obama tidak dapat dianggap sahih berdasarkan pernyataan atau cerita Obama.

610xhttpwwwyauhuinetmasa-kecil-obama-sempat-tumbuh-besar-di-indonesia

Obama di tengah-tengah teman-temannya di SD Besuki, Menteng. Betapa pun kecil, mereka telah turut menyumbang proses pembentukan karakter Obama. Presiden AS yang terkenal adalah yang menunjukkan diri sebagai manusia yang berkarakter, a man of character.

Menurut teori genetika, anak yang terlahir dengan IQ tinggi (katakanlah genius), belum tentu perkembangan potensi kecerdasannya maksimal tercapai jika faktor lingkungan (environment) tidaklah mendukung. Banyak genius yang menjadi gelandangan karena faktor lingkungan tidak mendukung. Dalam tulisan itu, saya gambarkan bagaimana faktor lingkungan keseharian Obama di Jakarta mendukung proses perkembangan potensi kecerdasannya. Faktor lingkungan itu saya soroti dari segi makanan pokok otak, terutama yang menyangkut makanan bergizi (tahu dan tempe) dan kasih sayang. Perihal kasih sayang yang diperoleh Obama dari ibu dan ayah tirinya Lolo Soetoro terungkap dalam buku memoar “The dreams from my Father” dan cerita teman-temannya di SD Fransiskus Asisi dan SD Besuki. Berita koran hari-hasi ini mengemukakan cerita keluarga, Noeke Soegio,keponakan Lolo Soetoro yang tinggal bersama keluarga pamannya Lolo Soetoro di Menteng Dalam, dan dua anak Lolo Soetoro, Yusuf Aji yang lahir tahun 1981 dan Ayu Soetoro yang lahir tahun 1984, hasil perkawinannya dengan Erna Kustina, mahasiswa Fakultas Hukum Undip. Tak tampak fakta kurangnya kasih sayang Lolo Soetoro kepada Obama seperti gejala umum tentang kejamnya ayah tiri. Perlu diingat pula bahwa dalam tradisi pengasuhan orang Jawa, tak ada kebiasaan orang tua Jawa memukul dan menyiksa anak-anaknya.


31063810ari3ffileswordpresscom1

Lolo Soetoro, yang melatih Obama bertinju untuk tampil berani membela diri, Ibu Obama yang memangku Maya, dan sang bocah bonsor Berry (Barack Obama) di Jakarta. Si Berry senang menggoda teman-teman wanita dengan menunjukkan ulat bulu dan teman-teman laki-laki dengan menunjukkan anak buaya berukuran 70 cm.

Dari tulisan posting itu, saya menunjukkan juga benang merah kasih sayang yang diperoleh Obama dari kakek dan neneknya di Hawaii dengan yang diperolehnya di Jakarta. Dalam posting saya sebelumnya berjudul “Kematian nenek Obama, rahmat tersamar bagi sang cucu & data keluarga Obama”, saya juga menunjukkan kasih sayang yang diperoleh Obama dari kakek dan terutama neneknya di Hawaii sejak Obama dikirim ibunya untuk diasuh kakek ke Hawaii tahun 1971.

Dalam berbagai postingku tentang Obama saya sama sekali tidak mengharapkan Indonesia mendapatkan balas jasa Obama sebagai presiden. Andaikan dalam masa pemerintahannya, Indonesia benar-benar menganggu kepentingan AS dalam kadar semisal Afganistan dan Irak, bisa saja Obama memerintahkan menyerang Indonesia. Variabel bahwa ia pernah 4 tahun hidup di Indonesia tak dapat dianggap signifikan untuk tak menyerang Indonesia. Bahkan, jika Kenya pun menghalangi kepentingan strategis AS, Kenya pun akan diserang. Sepak terjang AS menunjukkan negara-negara mana saja yang mengganggu kepentingan AS dalam kadar yang serius, presiden-presiden AS tak segan-segan memerintahkan penyerangan atau invasi militer.

httpwwwkansasprairienetkansasprairieblogwp-contentuploads200712copy-of-285859101

Maya Soetoro yang berdarah Indonesia memeluk abangnya yang baru lulus SMA di Hawaii. Turunan blasteran Kenya dan ‘bule’ merangkul adiknya yang blasteran Indonesia dan ‘bule’. Lambang hubungan tiga ras yang diharapkan dunia disumbangkan Obama dalam masa pemerintahannya untuk membuat umat manusia tidak saling mendikriminasi.Peace is beautiful.

Saya tak setuju jika kita mengharapkan balas jasa Obama kepada Indonesia karena ia pernah hidup di Indonesia. Naiknya Obama menjadi presiden diharapkan menguntungkan Indonesia. Tetapi, mengharapkan yang berlebihan, apalagi dianakemaskan, menurut saya naif. Yang penting, kita sudah memberi melalui Lolo Soetoro dan teman-temannya di SD Fransiskus Asisi dan SD Besuki Menteng, pars pro toto, yang mewakili masyarkat Indonesia. Memberi lebih terhormat dan mulia daripada mengharapkan balas jasa. Jika balas jasa itu kita tuntut hilanglah makna pemberian itu.

Salam hangat dari Pulau Bacan (8 jam pelayaran dari Ternate), Maluku Utara!

Iklan

Obama sepatu roda jabat tangan

Sakit herpes

Kunjungilah posting ini:

https://sbelen.wordpress.com/2013/05/03/bawang-putih-cuka-apel-madu-jahe-lemon-jantung-sehat-tubuh-bugar/

Gambar spanduk Sano

sano-sembuhkan-herpes

Kartu nama Yuni 2

Iklan

Barack Obama sang presiden: Potensi kecerdasan otaknya berkembang pesat waktu di Jakarta

November 5, 2008

obama-plays-bicyclehttpwwwindonesiamediacom20084midserba_serbiobamahtm

Obama kecil bersepeda. Bergerak dan bermain dalam suasana gembira memacu perkembangan otak anak.

Hari minggu 2 November 2008 saya terbitkan post berjudul “Salam sukses bagi Barack Obama, presiden kulit hitam pertama Amerika Serikat!” dan kemarin malam saya terbitkan lagi post berjudul “Kematian nenek Obama, rahmat tersamar bagi sang cucu & data keluarga Obama”. Dua tulisan ini jelas-jelas menyatakan bahwa yang pasti menang adalah si Berry (nama kecil Obama). Ya, itulah kata hatiku. Dan, betapa yakinlah aku setelah melihat wajah Obama yang berurai air mata waktu mengumumkan kematian neneknya di internet. That’s it! Si anak Menteng pasti menang! Orang Barat lebih cenderung tak peduli putih atau hitam, kaya atau miskin, kawan atau lawan, langsung melupakan perbedaan jika sudah menyangkut sikap dan ucapan turut berduka. Banyak yang masih ragu berbalik memilih Obama. Nah, ini kira-kira kunamakan “tear effect”, efek air mata.

Nah, sekarang agak ilmiah sedikitlah. Menurut pendapat saya, kecerdasan otak Obama justru bersemai, bertumbuh, dan berkembang di masa kecilnya di Jakarta. Hasil penelitian tentang otak antara lain menunjukkan hal-hal berikut:

Fakta menurut para ahli: masa-masakritis perkembangan otak terjadi pada 6 tahun pertama kehidupan (usia balita)

Pada usia 4 tahun, perkembangan fisik otak anak (hardware atau perangkat keras otak) mencapai kapasitas 80%

Pada usia 6 tahun, kapasitas fisik otak mencapai 90%

Sedangkan, perkembangan potensi kecerdasan / intelektual anak (software atau perangkat lunak otak) mencapai 50% pada usia 4 tahun

Lalu di usia 8 tahun, potensi kecerdasannya meningkat menjadi 80%

Sisa potensi kecerdasan 20% tinggal berkembang selama sisa hidup anak itu.

Berdasarkan data ini, masa perkembangan kritis Obama pada usia balita justru terjadi di Hawai. Dari riwayat hidupnya terlihat betapa menderita hidup Obama. Ketika berusia 2 tahun ayahnya meninggalkan dia dan ibunya. Pada usia 4 tahun bercerai dan pada usia 6 tahun ibunya menikah dengan Lolo Soetoro. Ibunya terpaksa menitipnya pada kakek dan neneknya.

Sewaktu tinggal di Jakarta barulah Obama benar-benar menikmati masa kanak-kanaknya. Jika disandingkan dengan data di atas, taruhlah perkembangan fisik otaknya telah mencapai 90% waktu menginjakkan kakinya di Jakarta. Jika perkembangan otaknya normal, kira-kira potensi intelektualnya mungkin telah mencapai 80% ketika bersekolah di Jakarta, tepatnya di SD Fransiskus Asisi. Selanjutnya sekitar 1 tahun bersekolah di Menteng, potensi kecerdasan ini berkembang pesat, mungkin telah mencapai lebih dari 80%. Potensi kecerdasan yang tersisa mungkin sekitar 20%. Yang sisa inilah yang kemudian berkembang di Hawaii, di Universitas Harvard dan selanjutnya sampai sekarang.

young-obamahttpwwwindonesiamediacom20084midserba_serbiimagesperuntunganyoung-obama

Obama remaja. Senang bermain bola kaki, basket memaksimalkan perkembangan otaknya.

Menurut hasil penelitian otak, perkembangan potensi otak anak bergantung kepada 4 makanan pokok, yaitu oksigen, makanan bergizi, informasi, dan kasih sayang. Semuanya relatif terpenuhi secara memadai untuk perkembangan otak Obama. Asupan makanan bergizi memadai karena pada zaman susah ketika itu, dari cerita teman-teman SD-nya, Obama senang makan tempe dan tahu yang kaya protein, kaya gizi. Informasi cukup ia peroleh di keluarga, di sekolah, dan dari pengalaman bermain di alam terbuka, terutama dalam bahasa anak-anak SD Fransiskus Asisi, di hutan yang mereka namakan hutan Asisi. Main perang-perangan. Ia pun senang menjadi pandu, istilah untuk pramuka waktu itu.

rully-dasaad-f_866_f_438httpwwwperspektifbarucomiartrully-dasaad-f_866_f_4382

Rully Dasaad, seorang teman Obama kecil di SD Besuki Menteng.

Otak Obama berkembang pesat karena ia banyak bergerak dan senang bermain sebagaimana layaknya anak-anak waktu itu. Permainan tradisional anak Jakarta cukup banyak yang ia alami, seperti bermain sepak bola, gundu (kelereng), gasing, petak umpet, dan permainan tradisional lain. Ia pun bersama teman-temannya suka memetik jambu biji yang masih banyak waktu itu di Jakarta. Ayah tirinya Lolo Soetoro senang memelihara burung dan binatang peliharaan lain dan Obama ikut memeliharanya. Memelihara binatang membuat anak menjadi manusia yang peka, ramah, lemah lembut, dan santun. Itulah ciri-ciri yang diakui teman-temannya.

httpenwikipediaorgwikimaya_soetoro-ng

Maya Soetoro-Ng, blasteran Jawa dan bule. Meraih tingkat akademis tertinggi dengan menggondol gelar Doktor (PhD) di bidang pendidikan. Obama meraih gelar Doktor. Ibunya juga meraih gelar Doktor dengan disertasi tentang budaya Indonesia. Keluarga ini adalah keluarga Doktor. Ayah Obama juga akademisi yang cerdas (kalau tak salah mungkin bergelar Doktor yang diraih di Universitas Harvard setelah menyelesaikan sarjananya di Universitas Hawaii. Lolo Soetoro juga dikenal sebagai ahli geografi Angkatan Darat. Menurut genetika, perkawinan antar-ras cenderung menurunkan gen-gen pintar, cerdas kepada anak-anak.

Ciri-ciri kepribadian Obama ini banyak dipengaruhi kepribadian ayah titinya yang diakui keluarga dan temannya sebagai seorang pribadi yang ramah, santun, dan mudah bergaul dengan orang lain. Makanan pokok otak yang amat penting, yaitu kasih sayang diperoleh Obama cukup bagus. Seperti diceritakan teman-temannya, ibunya mengasuh dia dengan cinta dan afeksi (love and affection). Dari ayah tirinya jelaslah kasih sayang diperoleh Obama. Ayahnya sering mengantar-jemput Obama ke sekolah dengan sepeda motor. Perilaku Lolo Soetoro kemudian berubah setelah menjadi konsultan perusahaan minyak Mobil Oil. Senang hidup jetzet masa itu dan akhirnya bercerai dengan ibu Obama dan kemudian kawin dengan Erna. Betapa pun perilakunya sebagaimana lumrah manusia biasa yang  mudah berbuat keliru, dialah seorang putra Indonesia  yang telah ikut memberikan sumbangan pendidikan karakter bagi Obama.

Menurut pendapatku, inilah sumbangan Indonesia yang terbesar bagi perkembangan otak dan kepribadian Obama. Kita tak perlu banyak berharap dan meminta dari Obama untuk Indonesia. Bukankah lebih mulia memberi daripada menerima?

Wahai para ayah dan ibu! Jika Anda inginkan anakmu menjadi presiden, menjadi tokoh besar, menjadi orang yang bermakna bagi orang lain dalam posisi apa pun, apakah yang dapat Anda lakukan?  Kiat-kiat murah bahkan gratis untuk mengembangkan potensi kecerdasan telah ditunjukkan lewat pengalaman Obama. Berilah kesempatan kepada anak Anda: bermain, bergerak, mandi di laut, sungai, bermain layang-layang, mandi hujan dan bermain lumpur, dan melakukan permainan tradisional lain. Batasi anak menonton dan duduk depan TV. dan bermain game  di komputer Jangan paksakan  dia mengambil kursus ini itu. Bilang kepada gurunya untuk menghentikan kebiasaan memberi PR. Jangan lupa berilah makanan bergizi. Yang murah tak apalah daripada makan junk food. Tempe dan tahu saja ternyata bisa membuat Obama menjadi presiden negara adidaya. Dan, yang terutama dan terpenting, curahkanlah kasih sayang sebanyak-banyaknya! Hope for your success!

obama-and-grandpahttpwwwindonesiamediacom20084midserba_serbiimagesperuntunganobama-and-grandpa

Obama di usia balita mendapatkan kesempatan emas mengembangkan potensi otaknya lewat bermain di pantai Hawaii dan mendapatkan curahan kasih sayang dari sang kakek dan nenek.

httpswaramuslimnetgalerybarackimgsd1

SD Besuki – Sekolah Obama kecil ini memberikan sumbangan berarti bagi perkembangan otak Obama.

Iklan

annie dancing

Kolesterol tinggi

Kunjungilah posting ini:

https://sbelen.wordpress.com/2013/05/03/bawang-putih-cuka-apel-madu-jahe-lemon-jantung-sehat-tubuh-bugar/

Gambar spanduk Sano

sano-kolesterol-tinggi

Kartu nama Yuni 2