Posts Tagged ‘otak kiri’

Mau membuat anak Anda brilian? Cerdas? Belajar musik

April 4, 2011

Guna mendapatkan gambaran lengkap tentang hubungan musik dengan kecerdasan dan otak, silahkan klik file powerpoint berikut ini!

Belajar musik anak lebih cerdas

Terapkan di keluarga Anda, di sekolah Anda, di lingkungan Anda setelah membaca file ini. Pasti anak lebih cerdas dan lebih kreatif.

Kunjungi pula posting:

https://sbelen.wordpress.com/2011/04/04/konduktor-orkestra-berusia-3-tahun/

Seorang anak berusia 3 tahun mampu menjadi konduktor orkestra yang hebat.

Iklan

Cowok di tengah hadirin

Hepatitis

Kunjungilah posting ini:

https://sbelen.wordpress.com/2013/05/03/bawang-putih-cuka-apel-madu-jahe-lemon-jantung-sehat-tubuh-bugar/

Gambar spanduk Sano

sano-sembuhkan-hepatitis

Kartu nama Yuni 2

Iklan

Ingin anak Anda pintar? Buatlah tempat bermain pasir & biarkan anak mandi hujan

Desember 25, 2009

Sehari sebelum Natal 2009 saya mengunjungi sebuah keluarga. Alangkah gembiranya melihat seorang anak berusia belum genap 2 tahun yang sudah hampir 1 jam bermain air di waskom plastik besar! Jika dibiarkan ia pasti betah bermain air sampai 2 jam.

Mengapa seorang bayi atau bocah mungil betah bermain air sampai 2 jam? Karena, bayi atau anak amat senang bermain dengan benda alamiah, dalam hal ini air.

Tanti gembira bermain air

Tanti amat senang berinteraksi dengan air, benda ciptaan alam

Dengan benda-benda alamiah apa lagi seorang anak senang bermain? Pasir, tanah, batu, kayu, dedaunan, rerumputan. Coba amati seorang bocah bermain dengan benda mainan buatan pabrik. Berapa lama ia bertahan? Tidak lama. Dalam sehari atau paling lama seminggu ia sudah bosan bermain dengan mainan buatan pabrik.

Berdasarkan pendapat ini, saya usulkan kepada ayah dan ibunya serta kakeknya untuk membuat sebuah tempat main pasir karena kita hidup di kota besar metropolitan, yang untuk ke Pantai Ancol saja kita harus membayar mahal pada setiap pintu masuk. Karena, Pantai Ancol telah direbut oleh kapitalis. Padahal, seharusnya setiap insan metropolitan punya hak, punya akses gratis untuk mencapai pantai, mencapai laut, untuk bermain di pasir dan untuk berenang di laut. Segera kami kerja bakti mencari pasir, batu bata, dan karung goni bekas. Dan, dalam waktu kurang dari 1 jam, selesailah tempat main pasir itu.

Tanti pun langsung bermain pasir di tempat main pasir mungil

Modal untuk membuat tempat bermain ini amat kecil, sedangkan manfaatnya amat besar bagi seorang anak

Ia asyik bermain sendiri karena anak pada usia kurang dari 2 tahun masih senang bermain soliter, sendirian

Mainan plastik lainnya digunakan Tanti untuk bereksplorasi, membuat beragam bentuk dengan pasir. Tanti berkreasi sesuai dengan pikiran dan imajinasinya. Saat Tanti asyik bermain pasir, turun hujan. Kakaknya dan teman kakaknya dilarang bermain tatkala hujan dengan alasan nanti terkena pilek (flu). Diskusi dengan orang tua dan kakeknya kami lanjutkan.

Seperti Tanti, anak usia SD pun senang bermain dengan benda alamiah. Bermain ketika hujan lebat amat menyenangkan anak-anak. Siraman air hujan yang membasahi tubuhnya membuat anak aktif. Anak pun bisa bermain dengan lumpur, membuat model sungai yang airnya mengalir dengan lancar. Anak tak mudah terkena pilek atau flu karena tubuhnya masih kuat. Orang dewasa dan orang tua-lah yang mudah terkena flu jika kehujanan. Anak masih memiliki stamina dan badannya masih bertumbuh-kembang. Sel-sel tubuhnya berkembang pesat. Tubuh anak itu kuat. Mengapa kita samakan kondisi tubuh anak dengan tubuh kita yang sedang merosot?

Rian (berbaju kuning), kakak Tanti, dan temannya Aan gembira bermain di hujan karena bebas beraksi dan berinteraksi dengan air hujan sebagai salah satu benda alamiah.

Melalui aktivitas bermain dengan benda-benda alamiah seperti air, termasuk air hujan, pasir, tanah, lumpur, bebatuan, kayu, dedaunan, dan rerumputan, anak-anak:

  • Berinteraksi dengan alam
  • Bereksplorasi dengan alam
  • Mengembangkan kreativitas mencipta
  • Mereguk kegembiraan saat bermain dengan benda alamiah

Hasilnya adalah berkembangnya belahan kanan otak anak. Dan, itu berarti berkembangnya kecerdasan-kecerdasan belahan otak kanan, yaitu kecerdasan:

  • Intrapribadi
  • Antarpribadi (sosial)
  • Visualvisual-spasial
  • Natural/indrawi
  • Kinestetik (gerak tubuh)
  • Kreatif/mencipta disain, cerita, simfoni, permainan
  • Spiritual/mencari makna kehidupan
  • Tahan banting

Aan & Rian berpose dalam keceriaan menikmati hujan, hadiah alam bagi anak-anak

Kecerdasan otak kanan yang berkembang akan merangsang dan mendinamisasi proses perkembangan kecerdasan otak kirinya, yang terdiri dari kecerdasan bahasa (verbal), kecerdasan numerik, kecerdasan logika-matematika.

Karena itu, jika Anda ingin anak Anda pintar, cerdas mengikuti pelajaran di sekolah, ciptakan dan berilah kesempatan anak bermain dengan benda-benda alamiah. Biarkan anak bermain air, bermain pasir, bermain di luar waktu hujan lebat.

Iklan

Goyang kepala

Gagal ginjal

Kunjungilah posting ini:

https://sbelen.wordpress.com/2013/05/03/bawang-putih-cuka-apel-madu-jahe-lemon-jantung-sehat-tubuh-bugar/

Gambar spanduk Sano

sano-sembuhkan-ginjal

Kartu nama Yuni 2

Perbanyak gunakan tangan kiri untuk mengembangkan otak kanan!

Agustus 30, 2008

Menurut neurosains, tangan kiri kita dikontrol belahan kanan otak. Sedangkan, tangan kanan kita dikontrol belahan kiri otak.

Terbanyak manusia lebih banyak menggunakan tangan kanannya untuk melakukan aktivitas atau kegiatan. Anak-anak di negeri-negeri Barat lebih beruntung karena mereka boleh memberi kepada orang lain dan menerima dari orang lain dengan tangan kiri. Di negeri-negeri Timur, apalagi di Indonesia memberi dan menerima dengan tangan kiri dipandang tak sopan. Nasihat rutin ibu dan ayah waktu anak berjabat tangan atau memberi dan menerima adalah memakai tangan kanan. Mengapa kita begitu menyepelekan tangan kiri? Apa gerangan kesalahan tangan kiri? Bukankah Tuhan memberikan kepada manusia dua tangan untuk dipakai tanpa pesan bahwa tangan kanan lebih baik dari tangan kiri?

Dibandingkan dengan tangan kanan, tangan kiri terlalu sering menganggur. Tidak sering digunakan. Apa akibatnya terhadap perkembangan otak?

Jika kita terlalu sering menggunakan tangan kanan, stimulus atau rangsangan selalu diberikan kepada belahan kiri otak. Potensi otak kiri seperti kecerdasan matematika, kecerdasan logika, kecerdasan bahasa, dan kecerdasan intelektual terlalu sering mendapatkan stimulus. Otak kiri lebih sering bekerja dan amat terbebani. Yang berkembang pesat dan cukup maksimal adalah potensi kecerdasan otak kiri.

Patung saja memakai tangan kiri. Mengapa kita terlalu sering menggunakan tangan kanan?

Jika kita harapkan kreativitas berpikir, kemampuan memecahkan masalah, kecerdasan seni, kecerdasan spiritual, bahkan kecerdasan seksual berkembang maksimal, satu kiat yang amat murah dan mudah adalah memperbanyak atau melipatgandakan penggunaan tangan kiri. Karena, potensi tersebut berada di belahan kanan otak. Dengan cara ini belahan kanan otak diberi lebih banyak stimulus.

Nah, kita menginginkan anak-anak kita kreatif, mampu memecahkan masalah, berdaya cipta dalam bidang seni, menjadi anak yang memiliki kehidupan rohani yang baik, dan bahkan mampu mengendalikan dorongan seksual tatkala remaja. Potensi tersebut terletak di belahan kanan otak anak. Dan, hasil riset menunjukkan bahwa sukses terbanyak manusia dalam pekerjaan dan kehidupan justru disumbangkan oleh potensi belahan kanan otak tersebut. Sumbangan EQ (kecerdasan emosional) dan SQ (kecerdasan spiritual) serta kecerdasan otak kanan lainnya terhadap sukses dalam pekerjaan dan kehidupan sekitar 95%. Sumbangan IQ atau potensi belahan kiri otak hanya sekitar 5%. Sudah pasti kita mengharapkan anak-anak kita berhasil dalam pekerjaan dan kehidupannya nanti. Baca juga post saya pada www.sbelen.wordpress.com dengan judul:

  • Gaya belajar otak kiri dan otak kanan
  • Kinerja otak dan belajar aktif
  • Apa yang mendorong orang bertindak?
  • Apa gaya belajarku? Otak kiri, otak kanan, atau kombinasi?


Nah, doronglah anak agar lebih sering menggunakan tangan kirinya. Sebagai guru atau orang tua, tunjukkan contoh, teladan lebih sering menggunakan tangan kiri. Atau, perlukah kita ikat tangan kanan anak ke badannya sehingga ia terpaksa memakai tangan kiri? Boleh saja, tapi lebih tepat sasaran jika kita ikat dulu tangan kanan guru dan orang tua agar mereka lebih sering menggunakan tangan kiri.

Meningkatkan frekuensi penggunaan tangan kiri dapat dimulai dengan selalu menyisir rambut dengan tangan kiri. Bisa juga bila mengambil barang, dahulukan memakai tangan kiri. Setelah terbiasa, yang lebih sulit adalah membiasakan menulis dengan tangan kiri.

Iklan

book-of-mormon-dance

Osteoporosis

Kunjungilah posting ini:

https://sbelen.wordpress.com/2013/05/03/bawang-putih-cuka-apel-madu-jahe-lemon-jantung-sehat-tubuh-bugar/

Gambar spanduk Sano

Sano sembuhkan osteoporosis

Kartu nama Yuni 2

Krisis kasih sayang, ujian Doktor, dan kembali menulis buku pelajaran

Agustus 12, 2008

Tanggal 9 Juli 2008, saya mulai dengan permainan kreativitas yang baru di Internet. Merintis blog pribadi www.sbelen.wordpress.com. Tadi malam jumlah posts mencapai angka 42. Jadi rata-rata 1,3 post per hari diterbitkan. Semakin banyak orang berkunjung. Kemarin tercatat rekor tertinggi. Terbanyak posts tentang pendidikan. Namun aneh, hanya sedikit pengunjung. Mungkin guru-guru masih sibuk awal tahun ajaran.

Yang paling sering dikunjungi adalah posts tentang otak kiri dan otak kanan, opini pesawat Adam Air tidak meledak di udara, dan ihwal cinta dan perkawinan. Ihwal terakhir ini yang paling sering dikunjungi. Konsisten menunjukkan grafik naik. Sebenarnya, soal cinta dan perkawinan ini saya ramu dari perpektif kebutuhan utama otak. Makanan pokok atau menu utama otak adalah ONKI (Oksigen, Nutrisi atau makanan bergizi, Kasih sayang, dan Informasi).

Menu inilah yang harus diperhatikan orang tua dan guru agar terpenuhi bagi anak. Soal oksigen tak bermasalah, soal nutrisi bisa ditingkatkan, soal informasi tak terlalu bermasalah di era informasi ini. Yang bermasalah justru, kasih sayang. Apakah sudah cukup asupan kasih sayang orang tua dan guru bagi anak? Ini masalah besar. Nah, untuk memenuhi kebutuhan kasih sayang anak, orang tua dan guru pun harus mengembangkan dan mencerahkan kasih sayang pribadi dan keluarganya. Atas dasar ini, saya bahas soal cinta dan perkawinan.

Krisis kita dewasa ini, bukan sekadar krisis pangan, krisis energi, krisis teknologi, krisis politik… Krisis utama kita sekarang adalah krisis kasih sayang. Kalau kebutuhan kasih sayang anak terpenuhi, lancarlah kerja otak anak, lancarlah kegiatan belajarnya, lancarlah aktivitas bermain dan rekreasinya. Anak Indonesia bisa tersenyum setiap hari. Dan, dunia ini akan lebih menyenangkan jika kita menyaksikan anak-anak tersenyum.


Dr.Sri Sumarni

Kapan tiba waktunya anak-anak Indonesia tersenyum? Pertanyaan ini mendapatkan pencerahan setelah saya menghadiri Ujian Terbuka Ibu Sri Sumarni 8 Agustus 2008. Ia adalah dosen PGSD Universitas Negeri Sriwijaya (Unsri) Palembang. Ujian ini untuk memperoleh gelar Doktor dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ). Judul disertasinya adalah “Peningkatan Kecerdasan Jamak Anak Usia Dini melalui Bermain di TK Kids 19 Kayu Putih Jakarta.” Ibu Sri Sumarni saya bimbing dalam penulisan tesis S2 bersama Prof.Dr.L.J.Molleong, M.A. Gelar S2 ia raih dengan nilai amat bagus tahun 1999. Untuk penulisan disertasi saya hanya di-consult secara informal karena tema yang dipilih menarik bagi saya.

Ia berhasil gemilang mencapai gelar Doktor dengan nilai akhir yang amat bagus. Membanggakan bagi dirinya, keluarganya, Unsri Palembang, dan saya ikut merayakan sukacita itu. Dulu ia adalah guru olahraga tamatan SMOA (SGO). Ia membuktikan, lulusan SMK bisa mencapai gelar akademis tertinggi. Ia juga membuktikan, untuk mencapai gelar Doktor tidak hanya diperlukan kecerdasan, tetapi yang lebih utama ketekunan, daya tahan banting.

Ia membuktikan melalui eksperimen, bahwa mengajar dan mendidik anak TK dengan ramah, kasih sayang, melalui pujian, pelukan, dan tepukan di bahu membuat otak mereka lancar bekerja. Dalam suasana dan kondisi kasih sayang ini, kecerdasan jamak anak – kecerdasan kinestetik, intrapersonal, interpersonal, dan terutama kecerdasan bahasa – dapat ditingkatkan secara signifikan. Ini dilakukan melalui kegiatan bermain dengan menggunakan media konkret. Congratulation bagi Bu Sri, Pak Thamrin, dan 3 putri yang cantik: Chindy, Windi, dan Ruri.


Nah, setelah ber-blogging ria selama satu bulan, menatar para guru, dan melakukan kegiatan pengembangan kurikulum, kini saya harus berkonsentrasi menulis buku. Menyelesaikan revisi buku pelajaran IPS untuk kelas 5 dan 6 SD. Editor Penerbit Erlangga sudah bosan menunggu naskah terakhirku. Setelah selesai pekerjaan ini, legalah hatiku untuk menerbitkan posts baru.

Terima kasih bagi pengunjung blog. Kalau Anda merasakan ada post yang bernilai, sampaikanlah pesannya kepada rekan-rekan Anda. Au revoar. Matur nuwun! Matur nuhun! Horas! Menjua-jua! Epang gawang!

Iklan

Jerapah berantem

Sulit hamil

Kunjungilah posting ini:

https://sbelen.wordpress.com/2013/05/03/bawang-putih-cuka-apel-madu-jahe-lemon-jantung-sehat-tubuh-bugar/

Gambar spanduk Sano

sano-menyuburkan-wanita-juga-pria

Kartu nama Yuni 2

Apa yang mendorong orang bertindak?

Agustus 7, 2008

Banyak orang tua dan guru berpendapat keliru. Mereka amat yakin bahwa untuk mendorong anak bertindak sesuai dengan harapan, haruslah anak diberi pengertian atau pemahaman. Pandangan seperti ini terpengaruh oleh cara berpikir Barat, yang dipengaruhi filsafat yang mengagung-agungkan rasio, kemampuan berpikir selama berabad-abad.

Patung The Thinker (Pemikir) karya Auguste Rodin ini

amat terkenal di dunia (www.forcounsel.com.1942).

Kapan Anda bertindak kalau terus saja berpikir dan berpikir?

Apa pikiran yang membuat manusia bergerak, berjuang, dan berprestasi?

Konsekuensi aliran pikiran ini adalah sikap mengagung-agungkan IQ. Tradisi pendidikan kita amat menekankan pengembangan kecerdasan intelektual siswa. Kecerdasan intelektual-lah yang melahirkan ilmu dan anak kandungnya teknologi. Karena itu, untuk menguasai ilmu dan teknologi, kecerdasan intelektual-lah yang harus ditekankan. Lihat saja mata-mata pelajaran yang diuji dalam Ujian Nasional (UN)! Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika, IPA, dan IPS.

(gardkarlsen.com.The_Thinker_at_Musee_Rodin)

Kita lupa, bahwa menurut hasil riset otak, yang lebih dominan berperan mendorong orang bertindak adalah hatinya. Suara hatinya! Kehendak hatinya! Bukan pikiran, bukan rasio! Nah, hati itu bermukim, bertempat tinggal, bersemayam dalam ranah emosi manusia. Nabi-nabi dari zaman ke zaman sebenarnya lebih terfokus kepada menyentuh dan mendorong hati manusia daripada rasio atau pikiran.

Namun, lihatlah pendidikan agama di sekolah-sekolah kita. Yang lebih ditekankan adalah pengetahuan dan pemahaman agama, bukan bagaimana menggarap hati anak agar menjalankan ajaran agama. Buktinya, kurikulum pendidikan agama terlalu kognitif, kurang afektif. Buku pelajarannya terlalu kognitif, kurang afektif. Apalagi, evaluasi pendidikan agama terlalu kognitif.

Akhir-akhir ini sebelum pelatihan guru, kami sering memberikan tes gaya belajar otak kiri dan otak kanan. Setiap kali hasilnya selalu sama. Jumlah guru TK, SD, SMP, SMA, dan SMK yang bergaya belajar otak kiri amat dominan. Mayoritas mutlak! Hanya sedikit sekali yang bergaya belajar otak kanan atau bergaya belajar kombinasi otak kiri dan otak kanan. Dalam populasi, sekitar 10% orang bergaya belajar otak kiri, 10% bergaya belajar otak kanan, dan 80% bergaya belajar kombinasi otak kiri dan otak kanan. Jelaslah hanya 10% siswa yang terlayani secara baik dan efektif oleh guru-guru yang mayoritas bergaya belajar otak kiri. 90% siswa menjadi pelengkap penderita. Dirugikan! Menjadi korban!

Mengapa ada begitu banyak guru yang bergaya belajar otak kiri di sekolah? Lihat saja tesnya. Tes seleksi menjadi guru adalah Bahasa, Matematika, IPA, dan IPS. Ada juga sekolah swasta yang memasukkan pula tes IQ. Lengkaplah sudah kekeliruan kita. Yang bergaya belajar otak kiri cenderung membuat sekolah menjadi tempat yang tak nyaman dan tak menyenangkan bagi siswa. Mengapa? Karena orang yang bergaya belajar otak kiri menunjukkan ciri-ciri, antara lain:

  • Perfeksionis (selalu menuntut yang sempurna)
  • Menekankan disiplin yang keras dan kaku
  • Bertanggung jawab
  • Suka menyalahkan orang lain
  • Kurang suka bekerja bersama dengan orang lain
  • Cenderung memaksa diri dan karena itu mudah terserang stres
  • Kurang mudah menyesuaikan diri (kurang adaptif
  • Mudah memotivasi diri
  • Pikirannya lebih banyak berisi angka dan kata-kata, kurang berisi gambar, bayangan, dan citra (image)
  • Patuh kepada orang yang berkuasa atau yang memiliki otoritas

Apa yang harus kita lakukan untuk memperbaiki keadaan yang sudah parah dan memfosil ini? Kapan kita lebih berpihak kepada pengembangan hati daripada pengembangan pikiran?

Iklan

andy

Kolesterol tinggi

Kunjungilah posting ini:

https://sbelen.wordpress.com/2013/05/03/bawang-putih-cuka-apel-madu-jahe-lemon-jantung-sehat-tubuh-bugar/

Gambar spanduk Sano

sano-kolesterol-tinggi

Kartu nama Yuni