Posts Tagged ‘Natal’

Kisah sejarah terciptanya lagu “Malam Kudus” (Stille Nacht, Silent Night)

Desember 26, 2008

portraithttpwwwsilentnightmuseumorgjoseph-mohrportraithtm

Pastor Joseph Mohr, penulis lirik lagu “Malam Kudus” (Foto yang digambar kembali)

Tahun 1816 Pastor Joseph Mohr menulis lirik lagu “Malam Kudus” (aslinya “Stille Nacht”) ketika bertugas di gereja peziarah di sebuah desa Mariapfarr, Lungau di pegunungan Alpen, Austria. Beberapa hari sebelum Natal tahun 1818, Joseph Mohr sebagai pastor pembantu di gereja Santo Nikolaus, Obendorf, Salzburg, Austria, bingung karena organ di gereja rusak. Umat bakal kecewa jika lagu-lagu Natal dinyanyikan tanpa iringan organ. Umat yang terbanyak terdiri dari pekerja kapal, pembuat perahu, dan keluarganya.pun sedang dirundung kesulitan ekonomi. Penyebabnya adalah terhentinya transportasi garam melalui sungai di Salzburg setelah Perang Napoleon (1792 – 1815).. Ekonomi lesu dan penduduk setempat mengalami depresi ekonomi.


moeslout1rhttpimagesgooglecoidimgresimgurlhttpwwwfortunecitycom

Inilah kapel yang dibangun di bekas reruntuhan gereja Santo Nikolaus, Obendorf, Salzburg, Austria, tempat pertama kali dikumandangkan lagu “Malam Kudus”

Dalam keadaan bingung Mohr berjalan kaki ke rumah Franz Gruber, seorang guru SD yang menjadi organis dan pemimpin koor di gereja. Ia menunjukkan lirik yang ditulis dua tahun lalu kepada Gruber. Gruber langsung menggubah melodinya dan menyerahkannya kepada Mohr. Mohr merasa puas dan keduanya mulai berlatih. Tepat pada malam vigili Natal, 24 Desember 1818. Mohr menyanyikan suara tenor sambil mengiringi dengan gitar, sedangkan Gruber menyanyikan suara bas. Nyanyian keduanya langsung disambut gembira umat.


guitar_mohr3httpimagesgooglecoidimgresimgurlhttpwwwinglewoodcarecentrecom-2

Franz Gruber, penggubah melodi lagu “Malam Kudus”


guitar_mohr3httpimagesgooglecoidimgresimgurlhttpwwwinglewoodcarecentrecom-1

Pemandangan di sekitar Gereja Santo Nikolaus di Salzburg, Austria

Naskah asli lagu ini lama hilang seiring dengan dirobohkannya gereja ini pada awal tahun 1900-an karena telah hancur akibat banjir dan karena pusat kota telah dipindahkan ke bukit yang lebih aman. Sebuah gereja baru dibangun di pusat kota yang baru.

Semula lagu ini lama tak dikenal. Penyebabnya antara lain karena lagu ini tidak berasal dari komponis terkenal atau dari katedral tersohor. Apa sih yang berharga yang diharapkan dari sebuah kampung kecil yang namanya tidak tercantum di peta.

Tahun 1863 John Freeman Young menterjemahkan lagu ini ke dalam bahasa Inggris dengan judul “Silent Night”. Segera lagu ini tersebar luas ke seluruh dunia dan dinyanyikan sampai sekarang. Kini lagu ini diperkirakan telah diterjemahkan ke lebih dari 200 bahasa di dunia. Komposisi musik Gruber dalam lagu ini dipengaruhi tradisi musik di pedesaan tempat tinggalnya. Melodinya mencerminkan segi-segi musik rakyat Austria. Ini membuktikan bahwa banyak lagu yang menjadi populer dan mendunia sebenarnya mengadopsi motif lagu atau musik rakyat yang sudah mentradisi berabad-abad. Lagu-lagu itu kemudian bertahan lama, bisa sampai berabad-abad sebagai kelanjutan tradisi musik-lagu rakyat berabad sebelumnya.

Setelah menjadi amat populer timbul tanda tanya siapa pengarang lagu ini. Berbagai versi cerita beredar dan banyak cerita fiksi bermunculan. Rasa ingin tahu ini menggerakkan hati para peneliti untuk mencari jawaban. Tahun 1995 naskah asli tulisan tangan Mohr ditemukan oleh para peneliti. Tulisan itu menunjukkan bahwa lirik lagu itu ditulis tahun 1816 sedangkan melodinya dikarang tahun 1818 oleh Franz Gruber. Kemudian, sebuah kapel kecil dibangun di tempat reruntuhan gereja yang asli dan dinamakan “Stille-Nacht-Gedächtniskapelle”(Kapel Kenangan Malam Kudus). Sebuah rumah di dekatnya diubah menjadi museum yang sampai sekarang dikunjungi banyak turis dari berbagai penjuru dunia.

httpenwikipediaorgwikifilestille_nacht

Naskah lagu “Malam Kudus” yang digubah Franz Gruber.

guitar_mohr3httpimagesgooglecoidimgresimgurlhttpwwwinglewoodcarecentrecomGitar yang diperkirakan digunakan Joseph Mohr saat menyanyikan lagu “Malam Kudus”


museum-stille-nachtMuseum dekat kapel yang dibangun di bekas reruntuhan gerega Santo Nikolaus untuk mengenang Jospeh Mohr dan Franz Gruber di Obendorf, Austria.


austria-2007-125httpimagesgooglecoid

Kubur Franz Gruber di depan rumahnya yang kini dijadikan museum Gruber.


wohnung_innen

Kamar di rumah Franz Gruber


organhttpimagesgooglecoidimgresimgurlhttpwwwfortunecitycomOrgan yang telah diperbaiki di kapel yang berdiri di bekas tempat Gereja Santo Nikolaus, Obendorf, Salzburg

Hikmah apa yang dapat dipetik dari sejarah lagu “Malam Kudus”?

Di Indonesia lagu-lagu kaum muda yang meniru irama musik pop Barat cenderung amat cepat ditinggalkan masyarakat karena sebenarnya irama musik pop belum memiliki tradisi panjang dalam masyarakat kita. Sedangkan, popularitas lagu seperti lagu Butet yang menerapkan irama lagu masyarakat Batak tersebar luas dan disenangi masyarakat Indonesia, bahkan masyarakat Rusia, sedangkan lagu Bengawan Solo yang berirama keroncong juga disenangi masyarakat Indonesia dan menular digandrungi masyarakat Jepang.

Hal ini menunjukkan gejala yang sama seperti latar belakang lagu “Malam Kudus”. Sebuah lagu yang berakar pada tradisi musik-lagu sebuah masyarakat atau yang memperbaharui irama lagu-musik rakyat cenderung tahan zaman di masyarakat setempat dan cenderung diterima di berbagai bagian dunia. Karena, sebenarnya irama itu sudah teruji dan tersaring dalam sejarah selama berabad-abad.

Kunjungan ke Kapela “Silent Night, Holy Night” atau “Malam Kudus”

Oleh Peter Paskalis

Tiga belas tahun silam saya mengunjungi Kapela „Silent Night, Holy Night“ di Oberndorf, di mana lagu terkenal „Malam Kudus“ diciptakan. Oberndorf, suatu kampung sekitar 20 km di sebelah Utara Kota Salzburg (Kota kelahiran Wolfgang Amadeus Mozart di Austria), terletak tepat di perbatasan antara Austria dan Jerman.

Dalam perjalanan menuju kampung ini, saya membayangkan suatu gereja besar, mengingat kebesaran dan ketenaran lagu ini yang diterjemahkan hampir ke dalam semua bahasa di dunia. Ketika memasuki Oberndorf, saya berusaha melihat candi gereja terbesar dan saya kaget, ketika keluarga yang menemani saya menunjukkan suatu kapela kecil dekat sungai kecil yang membatasi Austria dan Jerman. Wah, kapela mungil, mungkin hanya untuk 8-10 orang di dalamnya.

Lagu „Silent Night“ (Stille Nacht, dalam bahasa Jerman) dinyanyikan pertama kali di kapela ini pada malam Natal tahun 1818. Diiringi dengan orgel sederhana yang hampir rusak oleh Franz Xaver Gruber (pencipta melodi lagu „Malam Kudus“), karena tali pedalnya hampir putus. Karena itu, pastor pembantu di kampung ini Joseph Mohr (penulis teks lagu “Stille Nacht”) meminta orang lain untuk menemani dengan gitar.

Suatu yang berawal sederhana menghasilkan suatu karya yang terkenal di seluruh dunia.

Gereja St. Nikolaus, lebih dikenal „Kapela Malam Kudus“ (Stille Nacht Kapelle), terletak di samping sungai Salzach dan sering dilanda banjir di tahun 1890-an. Banjir sering membawa kerusakan pada kapela ini. Banjir yang terbesar terjadi tahun 1899, yang merusak hampir setengah kampung Oberndorf dan menghancurkan kapela mungil ini secara total. Karena itu umat mendirikan satu gereja baru 800 meter lebih jauh dari sungai dan agak di ketinggian.

Untuk beberapa puluh tahun, kapela ini tidak dibangun lagi, dengan alasan keuangan dan juga karena bahaya banjir selalu mengancam. Kemudian toh mengenang 100 tahun lagu Malam Kudus dan juga sebagai tanda seru dan doa untuk perdamaian dunia (mengingat perang dunia pertama 1914-1918), maka bangkitlah inisiatif membangun kembali kapella ini. Lagu Malam Kudus sering dikumandangkan di mana-mana di Eropa. Dunia mendambakan perdamaian dan simbol perdamaian dunia adalah Silent Night, Holy Night. Suatu keajaiban, 1918, tepat 100 tahun lagu ini diciptakan, perang dunia pertama berakhir…Dan sebagai tanda syukur atas perdamaian, orang berziarah ke Oberndorf dan menyumbang pembangunan kapela Malam Kudus dan selesai tahun 1937. Semoga Malam Kudus, membawa perdamaian di dunia ini. Amin. (Kiriman Peter Paskalis pada Hari Natal 2009)

Sumber:

  1. xmashymn.httpwww.morning-glow.comholidaysxmasxmashymn.html
  2. Silent_Night.httpen.wikipedia.orgwikiSilent_Night
  3. origin_song.asp.httpwww.stillenacht.atenorigin_song.asp
  4. imgres.httpimages.google.co.id
  5. imgres.httpimages.google.co.idimgresimgurl=httpwww.sturmenkrieg.com
  6. Email Peter Paskalis dari Austria

Iklan

30-rock1

Diabetes

Kunjungilah posting ini:

https://sbelen.wordpress.com/2013/05/03/bawang-putih-cuka-apel-madu-jahe-lemon-jantung-sehat-tubuh-bugar/

Gambar spanduk Sano

sano-normalkan-gula-darah

Kartu nama Yuni

Obama tanpa baju, kembali mereguk kebahagiaan kanak-kanak

Desember 24, 2008

s-obama-shirtless-largehttpwwwhuffingtonpostcom20081222obama-shirtless-in-hawaii_n_152873html

Foto ini menggemparkan masyarakat Amerika karena The commander in chief yang akan dilantik tampil tanpa baju. Tak ada yang salah, bela para wartawan. Kekuatannya justru terletak pada penampilan apa adanya.


slide_749_14121_largehttpwwwhuffingtonpostcomstyle

Ini mengingatkan warga Amerika akan Presiden Gerald Ford yang pernah tertangkap kamera di kolam renang dalam penampilan tanpa baju.


obama-toddler2_cst_feed_20070907_19_15_02_1245h282w400httpdonotcolormeblogspotcom200802family-pictures-of-obamahtml

Foto The commander in chief mengingatkan kita kepada foto bayi Obama tanpa baju ini.


original-3

Foto di pantai ini juga mengingatkan kita kepada foto Obama kecil di pantai Hawai yang sama.


httpimgdailymailcoukipix200802_01obamaphotosr2_468x403

Masa kecil yang bahagia, baik di darat maupun di laut. The nature keeps smiling. The nature makes us happy. Alam tetap tersenyum. Alam membahagiakan kita.


obama-and-grandpahttpwwwindonesiamediacom20084midserba_serbi

Kebahagiaan itu lengkap berkat dukungan sang kakek.


httpari3ffileswordpresscom20080328587177

Kebahagiaan itu terpancar dalam lindungan sang bunda. Selamat Hari Ibu bagi semua ibu Indonesia! Tanpa ibu kita semua tidak hadir di dunia ini. Tanpa dukungan ibu, kita cemas menantang kehidupan.


original-5

Dukungan sang bunda dan sang kakek membuat Obama berani menantang hidup.


original-4

Berani menepis gelombang tsunami resesi keuangan AS.


original-2

Lebih baik memiliki presiden yang tidak terlalu pintar tetapi berani daripada presiden yang terlalu pintar sampai tidak berani dan selalu ragu-ragu.


original

Tantangan itu menyakitkan tetapi sekaligus membahagiakan.


originalhttpwwwhuffingtonpostcom20080814obama-bodysurfs-in-hawaii_n_119070html

Puaslah sesudah mandi menantang gelombang.

Memang kebahagiaan itu datang jika kita kembali bersikap seperti kanak-kanak. Bukan kekanak-kanakan! Tetapi, kanak-kanak yang polos, yang tampil apa adanya, yang jujur, yang realistis tak mengharapkan berlebihan, serta mengagumi dan an menikmati yang diberikan alam dan lingkungan sekitar kita.

Waktu sakit dan tak ada lagi makanan yang bisa ditelan, satu jurus jitu,adalah kembali mencari makanan kesukaan di waktu masih kanak-kanak. Untuk saya ya sayur daun pepaya, ikan asin, dan jeruk nipis osengan. Kesederhanaan itu ternyata menguatkan. Kesederhanaan itu membuat kita tabah. Kesederhanaan itu membahagiakan.

Perayaan Natal kali ini bagi masyarakat AS dan Eropa amat tepat karena mereka terpaksa kembali ke kesederhanaan hidup sesuai dengan pesan Natal yang hakiki. Have a simple &nice Xmas and hope for a better new year! Life without hope is like a garden without flowers.

Iklan

andy

Tekanan darah tinggi

Kunjungilah posting ini:

https://sbelen.wordpress.com/2013/05/03/bawang-putih-cuka-apel-madu-jahe-lemon-jantung-sehat-tubuh-bugar/

Gambar spanduk Sano

sano-darah-tinggi

Kartu nama Yuni