Posts Tagged ‘Maya Soetoro’

Sekali lagi tentang sumbangan Indonesia dalam proses perkembangan potensi kecerdasan Barack Obama

November 9, 2008

1

obama-plays-bicyclehttpwwwindonesiamediacom20084midserba_serbiobamahtm1

Bocah Berry (Barack Obama) gembira pertama kali bersepeda roda tiga.

Posting saya tanggal 5 November 2008 berjudul “Barack Obama sang presiden: Potensi kecerdasan otaknya berkembang pesat waktu di Jakarta.” Isinya tentang bagaimana kebutuhan ‘makanan pokok’ otak anak, dalam hal ini Obama kecil selama hidup 4 tahun di Jakarta, yaitu oksigen, makanan bergizi, informasi, dan kasih sayang. Selain itu, fokus tulisan adalah tentang bagaimana peran gerakan dan permainan, terutama permainan tradisional Indonesia, khususnya anak-anak Jakarta masa itu, dalam perkembangan otak Obama kecil. Terakhir, saya tunjukkan jasa ayah tirinya Lolo Soetoro dalam memenuhi kebutuhan perkembangan otak Obama. Itulah sumbangan Indonesia bagi Obama yang diberikan ayah tirinya. Hal itu berdasarkan pengakuan Obama sendiri dalam buku memoarnya.

Post ini antara lain dikomentari Ricky sbb: “Judul yang bagus sekali, tetapi jangan dilupakan bahwa obama pada dasarnya memang sudah mempunyai intelegensi yang tinggi. Mudah-mudahan kita sebagai orang Indonesia jangan terlalu Ge Er karena sudah disinggahi Obama selama 4 tahun, karena bapak tirinya dan adik tirinya orang Indonesia, atau ada Hussein di nama tengahnya (bagi yang muslim) walau ia seorang christian. Semua itu background beliau, nggak ada yang tahu secara pasti kan Obama jadi seperti sekarang karena Indonesia, (kecuali dia bilang sendiri bahwa dia bisa jadi presiden karena dulunya pernah di Indonesia). Obama menjadi saat ini karena dia “adalah Obama”, bisa jadi kita (Indonesia) hanya sebagian kecil saja dari berbagai hal penting yang ada dalam benaknya.”

Menanggapi komentar ini perlu saya memberikan latar belakang pendapat saya. Saya telah tunjukkan juga gambaran inteligensi Obama yang tinggi karena kebetulan ayah dan ibunya memperlihatkan tanda-tanda inteligensi yang tinggi, dan ayah tirinya pun demikian seperti tergambar pada kecerdasan Maya Soetoro. Hal itu disinggung pada keterangan di bawah foto Maya Soetoro. Karena itu, belum saya jelaskan bagaimana kemungkinan terjadinya pewarisan itu. Menurut teori genetika, IQ anak lelaki diperoleh dari gen IQ ibunya. Jadi, jika IQ ibu kandungnya Ann Dunham misalnya superior, kemungkinan besar IQ Obama diturunkan dari ibunya, kecuali gen ibunya resesif IQ Obama diperoleh dari gen ayahnya yang dominan. Pewarisan IQ dari ayahnya tampaknya tak terjadi karena ternyata IQ ibunya tinggi. Salah satu evidensi yang terlihat adalah kemampuan ibunya meraih gelar PhD (Doktor). Dalam family tree Obama terlihat juga bahwa turunan jauh Obama dari pihak ibunya ada yang pernah menjadi tokoh politik. Hal ini akan saya telusuri lebih jauh.

Taraf IQ Lolo Soetoro kemungkinan besar tinggi juga antara lain terlihat dari prestasi belajarnya sebagai mahasiswa Geografi UGM yang bagus sampai kemudian dikirim Dinas TNI Angkatan Darat mengambil master di University of Hawaii. Yang lebih jelas terlihat adalah evidensi IQ Maya Soetoro yang kemungkinan besar tinggi karena ia berhasil juga meraih gelar Doktor walaupun sudah berkeluarga. Jadi, kemungkinan besar IQ Maya diwariskan dari gen ayahnya Lolo Soetoro. Pendapat saya ini dapat divalidasi dengan mengamati hasil tes IQ Obama, ayah dan ibunya, Maya, dan Lolo Soetoro. Jika di Indonesia masa itu data ini tak ada karena belum populernya tes IQ masa itu. Mungkin juga hal ini terjadi di Amerika Serikat. Dari keluarga ini, yang masih hidup hanyalah Obama dan Maya. Jika belum ada data IQ, tes masih bisa dilakukan sekarang. Data IQ Obama tidak dapat dianggap sahih berdasarkan pernyataan atau cerita Obama.

610xhttpwwwyauhuinetmasa-kecil-obama-sempat-tumbuh-besar-di-indonesia

Obama di tengah-tengah teman-temannya di SD Besuki, Menteng. Betapa pun kecil, mereka telah turut menyumbang proses pembentukan karakter Obama. Presiden AS yang terkenal adalah yang menunjukkan diri sebagai manusia yang berkarakter, a man of character.

Menurut teori genetika, anak yang terlahir dengan IQ tinggi (katakanlah genius), belum tentu perkembangan potensi kecerdasannya maksimal tercapai jika faktor lingkungan (environment) tidaklah mendukung. Banyak genius yang menjadi gelandangan karena faktor lingkungan tidak mendukung. Dalam tulisan itu, saya gambarkan bagaimana faktor lingkungan keseharian Obama di Jakarta mendukung proses perkembangan potensi kecerdasannya. Faktor lingkungan itu saya soroti dari segi makanan pokok otak, terutama yang menyangkut makanan bergizi (tahu dan tempe) dan kasih sayang. Perihal kasih sayang yang diperoleh Obama dari ibu dan ayah tirinya Lolo Soetoro terungkap dalam buku memoar “The dreams from my Father” dan cerita teman-temannya di SD Fransiskus Asisi dan SD Besuki. Berita koran hari-hasi ini mengemukakan cerita keluarga, Noeke Soegio,keponakan Lolo Soetoro yang tinggal bersama keluarga pamannya Lolo Soetoro di Menteng Dalam, dan dua anak Lolo Soetoro, Yusuf Aji yang lahir tahun 1981 dan Ayu Soetoro yang lahir tahun 1984, hasil perkawinannya dengan Erna Kustina, mahasiswa Fakultas Hukum Undip. Tak tampak fakta kurangnya kasih sayang Lolo Soetoro kepada Obama seperti gejala umum tentang kejamnya ayah tiri. Perlu diingat pula bahwa dalam tradisi pengasuhan orang Jawa, tak ada kebiasaan orang tua Jawa memukul dan menyiksa anak-anaknya.


31063810ari3ffileswordpresscom1

Lolo Soetoro, yang melatih Obama bertinju untuk tampil berani membela diri, Ibu Obama yang memangku Maya, dan sang bocah bonsor Berry (Barack Obama) di Jakarta. Si Berry senang menggoda teman-teman wanita dengan menunjukkan ulat bulu dan teman-teman laki-laki dengan menunjukkan anak buaya berukuran 70 cm.

Dari tulisan posting itu, saya menunjukkan juga benang merah kasih sayang yang diperoleh Obama dari kakek dan neneknya di Hawaii dengan yang diperolehnya di Jakarta. Dalam posting saya sebelumnya berjudul “Kematian nenek Obama, rahmat tersamar bagi sang cucu & data keluarga Obama”, saya juga menunjukkan kasih sayang yang diperoleh Obama dari kakek dan terutama neneknya di Hawaii sejak Obama dikirim ibunya untuk diasuh kakek ke Hawaii tahun 1971.

Dalam berbagai postingku tentang Obama saya sama sekali tidak mengharapkan Indonesia mendapatkan balas jasa Obama sebagai presiden. Andaikan dalam masa pemerintahannya, Indonesia benar-benar menganggu kepentingan AS dalam kadar semisal Afganistan dan Irak, bisa saja Obama memerintahkan menyerang Indonesia. Variabel bahwa ia pernah 4 tahun hidup di Indonesia tak dapat dianggap signifikan untuk tak menyerang Indonesia. Bahkan, jika Kenya pun menghalangi kepentingan strategis AS, Kenya pun akan diserang. Sepak terjang AS menunjukkan negara-negara mana saja yang mengganggu kepentingan AS dalam kadar yang serius, presiden-presiden AS tak segan-segan memerintahkan penyerangan atau invasi militer.

httpwwwkansasprairienetkansasprairieblogwp-contentuploads200712copy-of-285859101

Maya Soetoro yang berdarah Indonesia memeluk abangnya yang baru lulus SMA di Hawaii. Turunan blasteran Kenya dan ‘bule’ merangkul adiknya yang blasteran Indonesia dan ‘bule’. Lambang hubungan tiga ras yang diharapkan dunia disumbangkan Obama dalam masa pemerintahannya untuk membuat umat manusia tidak saling mendikriminasi.Peace is beautiful.

Saya tak setuju jika kita mengharapkan balas jasa Obama kepada Indonesia karena ia pernah hidup di Indonesia. Naiknya Obama menjadi presiden diharapkan menguntungkan Indonesia. Tetapi, mengharapkan yang berlebihan, apalagi dianakemaskan, menurut saya naif. Yang penting, kita sudah memberi melalui Lolo Soetoro dan teman-temannya di SD Fransiskus Asisi dan SD Besuki Menteng, pars pro toto, yang mewakili masyarkat Indonesia. Memberi lebih terhormat dan mulia daripada mengharapkan balas jasa. Jika balas jasa itu kita tuntut hilanglah makna pemberian itu.

Salam hangat dari Pulau Bacan (8 jam pelayaran dari Ternate), Maluku Utara!

Iklan

Obama sepatu roda jabat tangan

Sakit herpes

Kunjungilah posting ini:

https://sbelen.wordpress.com/2013/05/03/bawang-putih-cuka-apel-madu-jahe-lemon-jantung-sehat-tubuh-bugar/

Gambar spanduk Sano

sano-sembuhkan-herpes

Kartu nama Yuni 2

Iklan

Barack Obama sang presiden: Potensi kecerdasan otaknya berkembang pesat waktu di Jakarta

November 5, 2008

obama-plays-bicyclehttpwwwindonesiamediacom20084midserba_serbiobamahtm

Obama kecil bersepeda. Bergerak dan bermain dalam suasana gembira memacu perkembangan otak anak.

Hari minggu 2 November 2008 saya terbitkan post berjudul “Salam sukses bagi Barack Obama, presiden kulit hitam pertama Amerika Serikat!” dan kemarin malam saya terbitkan lagi post berjudul “Kematian nenek Obama, rahmat tersamar bagi sang cucu & data keluarga Obama”. Dua tulisan ini jelas-jelas menyatakan bahwa yang pasti menang adalah si Berry (nama kecil Obama). Ya, itulah kata hatiku. Dan, betapa yakinlah aku setelah melihat wajah Obama yang berurai air mata waktu mengumumkan kematian neneknya di internet. That’s it! Si anak Menteng pasti menang! Orang Barat lebih cenderung tak peduli putih atau hitam, kaya atau miskin, kawan atau lawan, langsung melupakan perbedaan jika sudah menyangkut sikap dan ucapan turut berduka. Banyak yang masih ragu berbalik memilih Obama. Nah, ini kira-kira kunamakan “tear effect”, efek air mata.

Nah, sekarang agak ilmiah sedikitlah. Menurut pendapat saya, kecerdasan otak Obama justru bersemai, bertumbuh, dan berkembang di masa kecilnya di Jakarta. Hasil penelitian tentang otak antara lain menunjukkan hal-hal berikut:

Fakta menurut para ahli: masa-masakritis perkembangan otak terjadi pada 6 tahun pertama kehidupan (usia balita)

Pada usia 4 tahun, perkembangan fisik otak anak (hardware atau perangkat keras otak) mencapai kapasitas 80%

Pada usia 6 tahun, kapasitas fisik otak mencapai 90%

Sedangkan, perkembangan potensi kecerdasan / intelektual anak (software atau perangkat lunak otak) mencapai 50% pada usia 4 tahun

Lalu di usia 8 tahun, potensi kecerdasannya meningkat menjadi 80%

Sisa potensi kecerdasan 20% tinggal berkembang selama sisa hidup anak itu.

Berdasarkan data ini, masa perkembangan kritis Obama pada usia balita justru terjadi di Hawai. Dari riwayat hidupnya terlihat betapa menderita hidup Obama. Ketika berusia 2 tahun ayahnya meninggalkan dia dan ibunya. Pada usia 4 tahun bercerai dan pada usia 6 tahun ibunya menikah dengan Lolo Soetoro. Ibunya terpaksa menitipnya pada kakek dan neneknya.

Sewaktu tinggal di Jakarta barulah Obama benar-benar menikmati masa kanak-kanaknya. Jika disandingkan dengan data di atas, taruhlah perkembangan fisik otaknya telah mencapai 90% waktu menginjakkan kakinya di Jakarta. Jika perkembangan otaknya normal, kira-kira potensi intelektualnya mungkin telah mencapai 80% ketika bersekolah di Jakarta, tepatnya di SD Fransiskus Asisi. Selanjutnya sekitar 1 tahun bersekolah di Menteng, potensi kecerdasan ini berkembang pesat, mungkin telah mencapai lebih dari 80%. Potensi kecerdasan yang tersisa mungkin sekitar 20%. Yang sisa inilah yang kemudian berkembang di Hawaii, di Universitas Harvard dan selanjutnya sampai sekarang.

young-obamahttpwwwindonesiamediacom20084midserba_serbiimagesperuntunganyoung-obama

Obama remaja. Senang bermain bola kaki, basket memaksimalkan perkembangan otaknya.

Menurut hasil penelitian otak, perkembangan potensi otak anak bergantung kepada 4 makanan pokok, yaitu oksigen, makanan bergizi, informasi, dan kasih sayang. Semuanya relatif terpenuhi secara memadai untuk perkembangan otak Obama. Asupan makanan bergizi memadai karena pada zaman susah ketika itu, dari cerita teman-teman SD-nya, Obama senang makan tempe dan tahu yang kaya protein, kaya gizi. Informasi cukup ia peroleh di keluarga, di sekolah, dan dari pengalaman bermain di alam terbuka, terutama dalam bahasa anak-anak SD Fransiskus Asisi, di hutan yang mereka namakan hutan Asisi. Main perang-perangan. Ia pun senang menjadi pandu, istilah untuk pramuka waktu itu.

rully-dasaad-f_866_f_438httpwwwperspektifbarucomiartrully-dasaad-f_866_f_4382

Rully Dasaad, seorang teman Obama kecil di SD Besuki Menteng.

Otak Obama berkembang pesat karena ia banyak bergerak dan senang bermain sebagaimana layaknya anak-anak waktu itu. Permainan tradisional anak Jakarta cukup banyak yang ia alami, seperti bermain sepak bola, gundu (kelereng), gasing, petak umpet, dan permainan tradisional lain. Ia pun bersama teman-temannya suka memetik jambu biji yang masih banyak waktu itu di Jakarta. Ayah tirinya Lolo Soetoro senang memelihara burung dan binatang peliharaan lain dan Obama ikut memeliharanya. Memelihara binatang membuat anak menjadi manusia yang peka, ramah, lemah lembut, dan santun. Itulah ciri-ciri yang diakui teman-temannya.

httpenwikipediaorgwikimaya_soetoro-ng

Maya Soetoro-Ng, blasteran Jawa dan bule. Meraih tingkat akademis tertinggi dengan menggondol gelar Doktor (PhD) di bidang pendidikan. Obama meraih gelar Doktor. Ibunya juga meraih gelar Doktor dengan disertasi tentang budaya Indonesia. Keluarga ini adalah keluarga Doktor. Ayah Obama juga akademisi yang cerdas (kalau tak salah mungkin bergelar Doktor yang diraih di Universitas Harvard setelah menyelesaikan sarjananya di Universitas Hawaii. Lolo Soetoro juga dikenal sebagai ahli geografi Angkatan Darat. Menurut genetika, perkawinan antar-ras cenderung menurunkan gen-gen pintar, cerdas kepada anak-anak.

Ciri-ciri kepribadian Obama ini banyak dipengaruhi kepribadian ayah titinya yang diakui keluarga dan temannya sebagai seorang pribadi yang ramah, santun, dan mudah bergaul dengan orang lain. Makanan pokok otak yang amat penting, yaitu kasih sayang diperoleh Obama cukup bagus. Seperti diceritakan teman-temannya, ibunya mengasuh dia dengan cinta dan afeksi (love and affection). Dari ayah tirinya jelaslah kasih sayang diperoleh Obama. Ayahnya sering mengantar-jemput Obama ke sekolah dengan sepeda motor. Perilaku Lolo Soetoro kemudian berubah setelah menjadi konsultan perusahaan minyak Mobil Oil. Senang hidup jetzet masa itu dan akhirnya bercerai dengan ibu Obama dan kemudian kawin dengan Erna. Betapa pun perilakunya sebagaimana lumrah manusia biasa yang  mudah berbuat keliru, dialah seorang putra Indonesia  yang telah ikut memberikan sumbangan pendidikan karakter bagi Obama.

Menurut pendapatku, inilah sumbangan Indonesia yang terbesar bagi perkembangan otak dan kepribadian Obama. Kita tak perlu banyak berharap dan meminta dari Obama untuk Indonesia. Bukankah lebih mulia memberi daripada menerima?

Wahai para ayah dan ibu! Jika Anda inginkan anakmu menjadi presiden, menjadi tokoh besar, menjadi orang yang bermakna bagi orang lain dalam posisi apa pun, apakah yang dapat Anda lakukan?  Kiat-kiat murah bahkan gratis untuk mengembangkan potensi kecerdasan telah ditunjukkan lewat pengalaman Obama. Berilah kesempatan kepada anak Anda: bermain, bergerak, mandi di laut, sungai, bermain layang-layang, mandi hujan dan bermain lumpur, dan melakukan permainan tradisional lain. Batasi anak menonton dan duduk depan TV. dan bermain game  di komputer Jangan paksakan  dia mengambil kursus ini itu. Bilang kepada gurunya untuk menghentikan kebiasaan memberi PR. Jangan lupa berilah makanan bergizi. Yang murah tak apalah daripada makan junk food. Tempe dan tahu saja ternyata bisa membuat Obama menjadi presiden negara adidaya. Dan, yang terutama dan terpenting, curahkanlah kasih sayang sebanyak-banyaknya! Hope for your success!

obama-and-grandpahttpwwwindonesiamediacom20084midserba_serbiimagesperuntunganobama-and-grandpa

Obama di usia balita mendapatkan kesempatan emas mengembangkan potensi otaknya lewat bermain di pantai Hawaii dan mendapatkan curahan kasih sayang dari sang kakek dan nenek.

httpswaramuslimnetgalerybarackimgsd1

SD Besuki – Sekolah Obama kecil ini memberikan sumbangan berarti bagi perkembangan otak Obama.

Iklan

annie dancing

Kolesterol tinggi

Kunjungilah posting ini:

https://sbelen.wordpress.com/2013/05/03/bawang-putih-cuka-apel-madu-jahe-lemon-jantung-sehat-tubuh-bugar/

Gambar spanduk Sano

sano-kolesterol-tinggi

Kartu nama Yuni 2

Kematian nenek Obama, rahmat tersamar bagi sang cucu & data keluarga Obama

November 4, 2008

httpnewsyahoocomnphotosobama-grandmother-dies-before-electionsseventspl102108obamagrandmothim081103480d2b83dfb5df141bf9bf6aeef538382ffphotoviewer081104ids_photos_tsr1337811286

Obama menangis ketika mengumumkan kematian neneknya.

Kematian nenek Barack Obama, Madelyn Payne Dunham, menyiratkan pesan seorang wanita tangguh. “Biarlah saya bukan hanya makin kecil dan akhirnya ‘habis’ tapi cucuku makin besar dan maju meraih impian yang telah dipateri ketika berada dalam asuhannya. Pasti sang nenek menahan derita dalam a battle with cancer menahan detik demi detik penderitaan agar sempat menyaksikan cucunya mencatat sejarah menjadi presiden Amerika Serikat kulit hitam pertama.

Itulah tragika hidup. Namun sehari menjelang the eve of presidential election, Tuhan memanggil hambaNya. Mungkin Tuhan mempunyai rancangan lain yang gilang-gemilang bagi Berry, panggilan akrab Barack Obama. Biarlah sejumlah insan kulit putih yang masih ragu-ragu merasa terharu dengan kisah kepergian pada saat yang menentukan dan berbalik memilih Obama. Rasa terharu atas panggilan kematian yang tak mengenal insan itu putih atau hitam, kaya atau miskin, beragama atau tidak menimbulkan rasa empati kepada orang terkasih yang ditinggalkan. Dan, empati itu mendapatkan peluang disalurkan tatkala orang yang paling merasa kehilangan itu, Barack Obama, membutuhkan satu suara Anda untuk menghiburnya. Menurut saya, inilah “kejutan Oktober” yang amat ditakuti kubu Obama telah terjadi. Namun, kejutan kali ini malah memporakparandakan harapan John McCain.

httpnewsyahoocomnphotosobama-grandmother-dies-before-electionsseventspl102108obamagrandmothim081103480d2b83dfb5df141bf9bf6aeef538382ffphotoviewer081104photos_pl_afpd43bd8b959629dd252

Sang nenek memeluk cucunya yang lulus SMA tahun 1979, disaksikan sang kakek.

Kejutan bahagia ini dipersembahkan seorang wanita tangguh berkulit putih malah ‘mengorbankan’ nyawanya, harta utama dan terakhirnya. Pengorbanan ini menjadi a blessing in disguise, rahmat tersamar yang mempermulus jalan sang cucu tercintanya meraih impian sang nenek, meraih impian Amerika. Dan, sang nenek meninggalkan pesan melalui kematiannya, bahwa jarak antara kesedihan luar biasa karena nenek terkasih wafat dan kegembiraan luar biasa atas kemenangan menjadi presiden bukannya tipis, malah berbaur terpadu menjadi satu. Pesan peristiwa yang dipersembahkan sang nenek adalah jika sang cucu mendapatkan kehormatan amat besar menjadi presiden, jangan pernah lupa bahwa kesedihan tetap mengintip tiap langkah maju.

httpnewsyahoocomnphotosobama-grandmother-dies-before-electionsseventspl102108obamagrandmothim081104photos_pl_afp0cd185d852284f9bf1d2b1136b985364photoviewer081104photos_pl_afp933f9d7f

Ketika dikunjungi kakek dan nenek terkasih ketika kuliah di Harvard.

Banyak tokoh di dunia ini yang berhasil menjadi tokoh berkat kasih sayang, pengorbanan, dan pembinaan karakter yang dilakukan sang ibu atau sang nenek. Sang nenek telah membuktikan diri sebagai batu penjuru keluarga, dengan menampung dan mengasuh Berry dan Maya Soetoro, korban ‘broken home’ yang datang dari Jakarta. Sang nenek diakui Barack Obama sebagai wanita yang kuat, rendah hati, dan mampu menyelesaikan tugasnya secara luar biasa. Wanita yang mendorong dan mengizinkan cucu-cucunya mengambil kesempatan. Setelah kembali menjenguk neneknya yang kritis, Obama dalam pidato kampanye tentang ras di Philadephia mengatakan, “Betapa pun kekuatan, disiplin yang saya miliki, itu berasal dari dia.”

Dalam pidato penerimaan nominasi Partai Demokrat di Denver, yang disaksikan jutaan orang, Obama mengatakan, pengaruh neneknya terhadap siapa dirinya dan cara ia memandang dunia adalah substansial. “Ia adalah orang yang mengajarkan saya tentang kerja keras. Ia adalah orang yang menunda pembelian sebuah mobil baru atau sebuah pakaian baru untuk dirinya demi kehidupan yang lebih baik bagiku. Ia mencurahkan segalanya yang ia miliki kepadaku.”

“Ia telah pulang ke rumah,” kata Obama tatkala puluhan ribu pendukungnya di Universitas North Carlina-Charlotte terdiam membisu dalam gerimis senja. “Dan ia meninggal dengan damai dalam tidurnya dengan adikku yang berada di sampingnya. Dan dengan demikian ada kegembiraan yang besar sebagaimana pula air mata.”

httpwwwkansasprairienetkansasprairieblogwp-contentuploads200712copy-of-28585910

Maya Soetoro, sang adik tiri memeluk kakaknya yang baru lulus SMA.

Data keluarga Obama:

©Obama mudah sekali membuat keputusan mengunjungi neneknya minggu lalu karena tak mau membuat kesalahan dua kali, karena ketika ibunya meninggal karena kanker rahim tahun 1995 pada usia 53 tahun, ia tak sempat mengunjunginya. Ia datang terlalu terlambat.

©Neneknya lahir tahun 1922 di Peru tetapi menghabiskan masa kecilnya dekat Augusta. Ia adalah sulung dari empat bersaudara dan ia gemar membaca aa saja, dari buku James Hilton‘s “Lost Horizon” sampai dengan buku Agatha Christie’s “The Murder of Roger Ackroyd.”

©Neneknya dan kakeknya nikah tahun 1940, beberapa minggu sebelum neneknya lulus dari sekolah menengah. Tahun 1942 ibu Obama, Stanley Ann lahir. Setelah beberapa kali berpindah ke dan dari California, Texas, Washington, dan Kansas, karena pekerjaan kakeknya keluarga pindah ke Hawaii.

©Neneknya berkuliah di universitas tapi tak tamat. Namun ia menanjak dari seorang pegawai tata usaha di Bank of Hawaii sampai menjadi salah satu wakil direktur bank wanita pertama pada bank pemerintah itu.

©Obama remaja pernah dibawa neneknya berkeliling AS dengan bus, berhenti di Grand Canyon, Yellowstone Park, Disneyland, dan Chicago, tempat tinggalnya bertahun-tahun kemudian.

©Neneknya pernah diserang seorang seorang gelandangan pria yang meminta uang dan ia meminta suaminya mengantarnya ke tempat kerja. Ketika Obama bertanya mengapa, kakeknya mengatakan neneknya ketakutan karena gelandangan itu adalah orang hitam. Kata-kata ini ibarat sebuah tinju ke perutnya, tulis Obama yang menyandang ras campuran. Ia yakin kakek dan neneknya amat mencintainya. Tetapi, itulah, orang yang saya tahu dapat dengan mudah menjadi saudaraku masih dapat membuat saya ketakutan. Kejadian ini dikemukakan Obama dalam sebuah pidato pengumuman di bulan Maret bahwa ia akan ikut bertarung menjadi calon presiden. Cerita itu untuk menanggapi sebuah kontroversi dengan mantan pendetanya, Jeremiah Wright. “Saya tidak akan merasa lebih kehilangan dia daripada kehilangan neneknya yang berkulit putih. Kakeknya meninggal tahun 1992.

©Saudari tiri Obama Maya Soetoro-Ng mengatakan, bahwa dari nenek mereka, Obama belajar bersikap pragmatis, sabar, dan kemampuan bertahan di sentrum, di inti cerita yang sedang dibuat. Dari nenek mereka, ia mewarisi sikap bijaksana, cara berpikir sehat.

©Di Hawaii, ibunya kemudian bertemu dan jatuh cinta dengan ayah Obama, seorang Kenya bernama Barack Hussein Obama. Keduanya bertemu dalam kuliah bahasa Rusia di Universitas Hawaii. Barack Obama lahir di bulan Agustus 1961. Tetapi, perkawinan ini tak berlangsung lama. Keduanya hidup terpisah ketika Obama berusia 2 tahun dan akhirnya bercerai waktu Obama berusia 4 tahun. Citra tentang ayahnya terbentuk dari cerita yang disampaikan ibu dan kakek-neneknya. Kemudian sang ibu nikah dengan seorang Indonesia, Lolo Soetoro, seorang mahasiswa yang ia temui di Hawaii.

httpimgtimeincnettimedaily20080804a_wmama_0421

Obama dan ibunya Ann Dunham

©Ketika Obama berusia 2 tahun, ibunya kembali berkuliah. Uang amat terbatas dan ia bergantung kepada orang tua yang membantu memelihara Obama. Seharusnya ia memperoleh gelar sarjana 4 tahun kemudian, namun ia bertemu dengan Leo Soetoro di University of Hawai. Ia adalah orang yang santai, gemar bermain catur dengan ayahnya, dan senang adu gulat dengan Obama sang anak.

©Bersama ibunya Obama yang berusia 6 tahun pindah ke Indonesia untuk tinggal bersama ayah tirinya.

©Tahun 1971 ibunya mengirimkan Obama kembali ke Hawaii untuk tinggal bersama kakek-neneknya sampai tamat sekolah menengah tahun 1979. Obama senang bermain basket di lapangan karena dapat dilihat neneknya dari lantai 10 apartemen mereka; apartemen yang sama tempat neneknya wafat.

©Kembali ke Hawaii Obama masuk ke kelas 5 di Punahou School, sebuah sekolah swasta. Di sinilah ia memulai sesuatu yang bernilai tinggi. Kakek dan neneknya amat bangga dan bercerita kepada semua orang karena dengan masuknya ia ke sekolah ini status keluarga naik di mata orang-orang lain. Ia adalah salah satu dari tiga siswa berkulit hitam di antara mayoritas siswa Asia-Amerika. Di sinilah ia pertama kali sadar akan rasisme dan apa artinya menjadi seorang kulit hitam Afro-Amerika. Di sini ayahnya pernah datang mengunjunginya dan keluarganya. Inilah kali terakhir Obama bertemu dengannya sebelum kematiannya karena kecelakaan mobil tahun 1982.

httpari3ffileswordpresscom200803285859251

Saat paling bahagia dikunjungi ayahnya. Kali terakhir bertemu sang ayah.

©Ibu Obama wafat karena kanker beberapa bulan sesudah Obama menerbitkan buku kenangannya, Dreams from My Father, tahun 1995.

©Setelah tamat sekolah menengah ia masuk ke Occidental College, tempat ia terlibat narkoba dan alkohol. Ia kemudian pindah belajar ilmu politik di Columbia College pada Columbia University. Setelah tamat ia bekerja setahun di perusahaan bisnis. Kemudian ia pindah ke Chicago, bekerja pada sebuah organisasi kemasyarakatan. Di sinilah Obama bergabung dengan Trinity United Church of Christ.

Obama 2008 Profile

Dikunjungi mantan suami, ayah Obama, di Hawaii.

©Sebelum masuk Harvard Law School, Obama memutuskan mengunjungi keluarganya di Kenya. Sebagian pengalamannya di Kenya ia masukkan ke dalam buku kenangan untuk menggambarkan sisi emosional kehidupannya.

©Rumah di Jakarta yang terletak di Tebet amat sederhana. Tak ada listrik dan jalan ke rumahnya tak diaspal. Waktu itu zaman susah di Indonesia. Inflasi lebih dari 600% dan barang-barang amat langka.

©Obama masuk SD Katolik Fransiksus Asisi di Tebet. Ia satu-satunya orang asing di situ dan juga lebih gemuk daripada anak-anak yang lain. Ia tak takut diolok teman-temannya dan makan tahu dan tempe seperti anak-anak yang lain, bermain bola kaki, dan makan jambu biji yang dipetik langsung dari pohon. Ia tak peduli dipanggal ‘negro’ oleh anak-anak lain, kata Bambang Sukoco, tetangganya dulu.

httpari3ffileswordpresscom20080328587177

Obama, si anak Jakarta, digendong ibunya.

©Awalnya ibu Obama sering memberi uang kepada setiap pengemis yang datang di depan pintu. Berbondong-bondonglah pengemis, anak-anak, dan orang yang sakit lepra datang setiap hari meminta dan ia terpaksa harus lebih selektif.

©Leo Soetoro ayah tirinya pertama kali bekerja di Dinas Topografi TNI AD. Kemudian bekerja sebagai konsultan hubungan pemerintah pada Mobil Oil. Keluarga pun kemudian pindah ke lingkungan yang lebih nyaman, Menteng. Ketika ibunya makin berminat tentang Indonesia, suaminya malah menjadi lebih kebarat-baratan.

©Ibunya bosan dengan pesta malam mendampingi suaminya karena orang-orang angkuh bercerita tentang skor golf dan para istri mengeluhkan pembantu-pembantunya. Pasangan suami istri jarang bertengkar namun kian hari kian berkurang dalam kesamaan. “Ia tidak siap untuk hidup sendirian,” tulis Obama dalam buku kenangannya. “Namun kejadian itu datang begitu begitu cepat seperti satu tarikan napas yang singkat.”

©Ibunya bekerja sebagai guru bahasa Inggris di Kedutaan AS. Ia bangun subuh, pergi ke kamar anaknya Obama tiap hari dan mengajarinya bahasa Inggris melalui sebuah kursus korespondensi AS. Ia tak mampu menyekolahkan Obama di sekolah internasional. Setelah 2 tahun di sekolah Katolik, Obama pindah ke SD Negeri dekat rumahnya.

©Tahun 1970 lahirlah Maya Soetoro. Barack Obama mendeskripsikan bahwa ayah tirinya, Lolo Soetoro, adalah pribadi yang ramah, santun, dan mudah bergaul dengan orang lain. Dia juga menulis bahwa Lolo Soetoro secara fisik adalah tidak terlalu tinggi, berpenampilan baik, bermata coklat, dan berambut hitam.

31063810ari3ffileswordpresscom

Ayah tiri, ibu yang memangku Maya, dan si gendut Obama.

©Pada tahun 1972 Ann Dunham kemudian meninggalkan Lolo Soetoro dan kembali ke Hawaii dan bertemu kembali dengan putranya yang telah terlebih dahulu meninggalkan Indonesia tahun 1971 untuk bersekolah. Setelah itu Lolo Soetoro dan Ann Dunham masih saling berjumpa secara berkala pada tahun 1970an namun mereka tidak tinggal bersama lagi. Pada tahun 1980 Lolo Soetoro dan Ann Dunham akhirnya bercerai.

©Menurut keponakannya, Lolo Soetoro “gemar minum, seorang yang pandai dan hangat, dan bocah paling nakal di dalam keluarga” Lolo Soetoro meninggal dunia tahun 1993 dan dimakamkan di TPU Tanah Kusir.

©Maya Soetoro menjadi guru sejarah sekolah menengah di Hawaii dan memberi kuliah malam di University of Hawai.

©Ia masuk juga ke sekolah yang sama seperti Obama. Tamat dari Barnard College, Columbia University. Kemudian ia meraih gelar PhD (Doktor) dalam bidang pendidikan dari University of Hawai’i at Manoa di tahun 2006.

©Maya Soetoro menikah dengan Konrad Ng, seorang Chinese Kanada, asisten profesor pada Academy of Creative Media dari University of Hawaii pada tahun 2003 dan dianugerahi seorang putri, Suhaila. Ia adalah penganut Buddha.

maya-with-husband-and-dau-smallhttpwwwkansasprairienetkansasprairieblogp7491

Maya Soetoro bersama suami dan putrinya,


My condolescence goes to Barack Obama and Maya Soetoro-Ng from the bottom of my heart and congratulation for being elected as a new black President of the United States of America.

Sumber:

1.NEDRA PICKLER, Associated Press Writer Nedra Pickler, Associated Press Writer dalam httpen.wikipedia.orgwikiDreams_from_My_Father

2.httpimg.timeinc.nettimedaily20080804a_wmama_0421.jpg

3.Lolo_Soetoro.httpid.wikipedia.orgwikiLolo_Soetoro

4.Maya_Soetoro-Ng.httpen.wikipedia.orgwikiMaya_Soetoro-Ng

5.Foto-foto dari berbagai website

Iklan

1243328602_school-abuse

Parkinson

Kunjungilah posting ini:

https://sbelen.wordpress.com/2013/05/03/bawang-putih-cuka-apel-madu-jahe-lemon-jantung-sehat-tubuh-bugar/

Gambar spanduk Sano

sano-sembuhkan-parkinson

Kartu nama Yuni 2