Posts Tagged ‘lomba’

Mengapa dan bagaimana mendidik anak agar meraih kebebasan finansial nanti?

Desember 22, 2014

get-out-of-credit-card-debt

Rabu, 10 Desember 2014 kami menjadi narasumber seminar sehari tentang ITPreneurship, entrepreuship siswa memanfaatkan teknologi informasi bersama para kepala sekolah dan guru SMP dan SMA Jakarta di Toko Buku Gramedia, Matraman, Jakarta Pusat. Topik presentasi kami adalah “Gagasan ITPreneur dalam kerangka Edupreneurship di sekolah”. Dalam seminar itu para peserta melakukan pula kegiatan praktik wirausaha siswa yang berhubungan dengan mata pelajaran. Dalam acara itu, Nico Sembiring, anak muda jebolan Sekolah Tinggi Pariwisata / Perhotelan Sahid menceritakan pengalaman dia dan teman-temannya merintis usaha desain dan produksi busana dengan nama “ArtAddict” sejak dari bangku kuliah sampai sekarang setelah tamat. Cita-cita lulusan sekolah tinggi pariwisata / perhotelan adalah bekerja di kapal pesiar karena gajinya tinggi. Tapi, berapa puluh ribu lulusan yang tamat dan melamar bekerja di kapal pesiar? Persaingan amat ketat. Lalu, setelah tidak bekerja di kapal pesiar, mau kerja apa dan di mana? Kalau menjadi karyawan hotel berarti menjadi jongos hotel dan tamu.

Tampaknya banyak lulusan PT berbagai bidang terbentur menjadi PNS atau memang tidak ingin menjadi pekerja yang disuruh orang. Mereka memilih terjun berbisnis. Kata mereka, kuliah di fakultas atau jurusan apa saja, eh ujung-ujungnya terjun bisnis untuk mencari nafkah dengan visi inovasi agar mandiri secara finansial.

20141210_101104

20141210_114118

Seminar sehari tentang ITPreneurship di Toko Buku Gramedia Matraman. Sayang kami tak mengabadikan kegiatan praktik wirausaha yang dilakukan peserta.

20141210_114128

Nico Sembiring bercerita tentang usaha mandiri desain dan produksi busana ArtAddict yang menyasar anak-anak muda

Masih hangat dengan ide-ide edupreneurship, kami tampilkan satu seri posting di status Facebook kami tentang pendidikan kewirausahaan itu. Karena tampak ada benang merah, kami rangkum seri posting FB itu menjadi satu posting dengan judul di atas.

Selamat membaca!

 

4 cara menciptakan atau menghasilkan uang

 rich-dadddy-poor-daddy

Buku masterpiece Robert Kiyosaki

Rich dad poor dad Robert Koyasaki

Terjemahannya dalam bahasa Indonesia

robert_kiyosaki_cash_flow_quadrant_rich_dads_guide_financial_freedom_abridged_compact_discs2

Bukut Robert Kiyosaki berikutnya yang diterjemahkan dalam berbagai bahasa dunia dan laris manis

the-cashflow-quadrant-robert-t-kiyosaki-cover

Terjemahannya dalam bahasa Indonesia

Buku Robert Kiyosaki berjudul RICH DAD, POOR DAD menjadi karya agungnya (masterpiece). Sukses terjual jutaan eksemplar yang diterjemahkan ke berbagai bahasa dunia. Dalam buku ini Kiyosaki menceritakan tentang dua ayahnya, yaitu ayah pertama adalah ayah biologisnya yang dijuluki “poor dad” (ayah miskin) dan ayah seorang sahabatnya yang dijuluki “rich dad” (ayah kaya). Kedua ayah ini mengajarkan Robert Kiyosaki bagaimana meraih cita-cita atau tujuan keuangannya dan mencapai sukses tapi dengan pendekatan yang berbeda.

Ayahnya yang miskin menggunakan sedemikian banyak waktu untuk bersekolah dan mencapai gelar Doktor (Ph D) akhirnya mendarat pada pekerjaan yang memberinya gaji tinggi kepala dinas pendidikan Negara Bagian Hawai. Namun, kariernya berakhir dengan banyak tagihan yang sulit dibayar dan akhirnya meninggal sebelum lunas membayar hutang-hutangnya. Sementara, ayahnya yang kaya keluar dari sekolah ketika berusia 13 tahun tapi berakhir dengan memiliki sebuah kerajaan bisnis. Bagaimana hal ini bisa terjadi? Lihat saja ide-ide kontras yang diyakini tiap ayah.

Ayahnya yang miskin berkata: “SAYA TIDAK DAPAT MEMBELI / MEMBAYARNYA!” sementara ayahnya yang kaya berkata: “BAGAIMANA SAYA DAPAT MEMBELI / MEMBAYARNYA?”

Ayahnya yang miskin berkata: “UANG ADALAH AKAR DARI SEMUA KEJAHATAN!” sementara ayahnya yang kaya berkata: “KEKURANGAN UANG ADALAH AKAR DARI SEMUA KEJAHATAN!”

Dengan memandang dua ide kontras ini, otak ayahnya yang miskin berhenti bekerja bila ia mengatakan kedua pendapat itu, membunuh prakarsanya dan meningkatkan sikap negatif sementara otak ayahnya yang kaya tetap memikirkan cara-cara menciptakan inisiatif dan meningkatkan optimisme. Yang mana yang terbaik? Tentu saja, tak terbantahkan, ide-ide ayahnya yang kaya.

Robert Kiyosaki menggunakan istilah LOMBA TIKUS. Ini adalah perlombaan antara PENDAPATAN (INCOME) dan PENGELUARAN kita sepanjang hidup. Kita menerima pendapatan kita secara teratur dan kita membelanjakan jumlah uang yang sama untuk membayar tagihan-tagihan dan memuaskan keinginan-keinginan kita. Sekarang kita terperangkap dalam lomba tikus ini. Kita menjalani kehidupan kita untuk membayar tagihan harian kita! Sekarang , bagaimana kita dapat lolos dari perangkap lomba tikus ini? Ya, melalui memahami Kuadran aliran uang tunai – Panduan Ayah Kaya ke Kebebasan Finansial (The Cashflow Quadrant – Rich Dad’s Guide to Financial Freedom). Buku berikutnya yang terbit dan diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa dunia dan laris manis terjual berjudul: The Cashflow Quadrant yang menjelaskan 4 cara menciptakan / menghasilkan uang.

 

ebsi

Kuadran Robert Kiyosaki 3

Kuadran cara cari uang & contoh 2

Inilah gambar-gambar Kuadran Aliran Uang Tunai (The CASHFLOW Quadrant) atau 4 cara menciptakan / menghasilkan uang menurut Robert Kiyosaki (pengusaha AS terkenal, generasi keempat imigran Jepang di AS, asal Hawai seperti Presiden Barrack Obama).

Robert Tiyosaki

Robert Kiyosaki: Selalu optimis menatap masa depan

Paparan ini mengantar kita ke pemahaman di mana income (pendapatan) kita mengalir? Dibagi ke dalam 2 bagian utama. Bagian kiri disebut “Income Aktif”dan bagian kanan disebut “Income Pasif.” Apa bedanya? Income Aktif berkata “Anda bekerja untuk uang” sedangkan Income Pasif berkata “Uang bekerja untuk anda.”

Selanjutnya dua bagian ini dibagi lagi ke dalam 4 kuadran. Kuadran 1 disebut Employee, pekerja. Kuadran 2 disebut Self Employed (Self Employee), pekerja untuk diri sendiri. Kuadran 3 disebut Business Owner, pemilik perusahaan. Kuadran 4 disebut Investor. Dari 4 kuadran ini, anda termasuk di mana? Dari posisi sekarang, apa cita-cita atau rencana anda untuk beralih ke kuadran mana suatu saat nanti?

Kuadran 1 (kotak kiri atas): E atau Employee: Mungkin banyak dari kita masuk dalam kuadran ini. Kita punya satu pekerjaan tetap. Kita harus bekerja keras, mengikuti perintah boss dan atasan atau mandor kita dan untuk itu kita dibayar. Kita tidak sepenuhnya menguasai waktu kita. Kita termasuk orang-orang yang mengejar rasa aman atau jabatan. Mereka adalah orang-orang yang bekerja keras untuk menapaki jenjang jabatan perusahaan / kantor. Semakin tinggi mereka menaiki tangga jabatan, semakin tinggi bayaran yang diberikan. Sayang, semakin tinggi bayaran, semakin tinggi pula pajak pendapatan. Lalu, kecenderungan manusia adalah semakin besar pendapatan, semakin meningkat pula keinginan / kebutuhan. Dan, bukanlah mereka yang jadi makin kaya. Yang makin kaya adalah boss mereka. Yang makin kaya adalah perusahaan mereka.

Akan tiba waktunya, mereka akan merasa capek. Badan mereka akan rontok dimakan usia. Dan, tatkala mereka berhenti bekerja, mereka akan berhenti menerima pendapatan dan hanya tertinggal pensiun kalau diterapkan sistem pensiun di perusahaan / kantor mereka. Yang jelas, pensiun itu lebih kecil dari gaji waktu mereka masih aktif bekerja.

Contoh employee atau pekerja adalah pegawai negeri sipil (PNS), anggota TNI, karyawan perusahaan / instansi swasta, buruh pabrik, buruh tani.

Kuadran 2 (kotak kiri bawah): S Self Employed (self employee): Anda bekerja untuk diri sendiri. Perbedaan dengan employee atau pekerja adalah self employed (self employee) mengatur waktunya sendiri karena mereka tidak punya atasan. Mereka dapat mengambil keputusan sendiri. Mereka adalah orang-orang yang suka independensi, tidak suka ketergantungan. Mereka tidak suka bekerja untuk orang lain. Sebagai gantinya, mereka suka bekerja untuk dirinya sendiri.

Yang termasuk kuadran ini adalah dokter yang tidak bekerja di rumah sakit tapi membuka praktik sendiri. Juga, penulis buku yang menulis buku di rumah, menyerahkan naskah ke penerbit yang akan menerbitkan bukunya dan kemudian ia mendapatkan royalti. Yang juga termasuk kuadran ini adalah guru yang tak mengajar di sebuah sekolah tapi membuka les untuk siswa di rumahnya atau mendatangi siswa di rumah mereka. Atau, anda membuka bengkel service sepeda motor atau mobil, warung atau restoran, salon kecantikan, menjadi tukang bakso, tukang sate, penjaja keliling, usaha fotokopi, toko alat tulis, toko busana, toko kelontong.

Mayoritas penduduk Indonesia yang termasuk kuadran ini adalah para petani kita yang memiliki lahan dan bekerja sebagai petani sawah atau petani ladang. Juga, peternak kita yang menggembalakan sapi, kerbau, kuda, kambing dan domba di padang sabana atau yang membudidaya dan beternak sapi, kerbau, kambing, domba, babi, ayam, bebek, angsa, dan ikan air tawar. Juga, nelayan yang punya perahu dan alat tangkap sendiri, pembuat garam, penambak ikan dan udang serta usahawan rumput laut di laut pesisir pantai.

Anda bekerja sendiri dan juga mempekerjakan orang dalam usaha anda tapi usaha anda masih bertaraf mirko atau kecil, belum punya sistem, belum menjadi perusahaan berbentuk CV atau PT, belum diwajibkan membayar pajak kepada negara, belum punya manajer atau CEO yang bekerja untuk anda. Anda masih terjun cukup penuh dalam usaha anda. Dalam bahasa awam atau bahasa klise kuadran Self Employed ini dapat disebut wirausahawan yang membuka usaha sendiri dan bekerja sendiri dan mungkin mempekerjakan tenaga kerja terbatas.

Contoh yang lain adalah pengacara, aktor / aktris, wartawan freelance, pedagang, dan beragam usaha jasa lain. Mereka adalah pekerja untuk dirinya sendiri. Dan, jika mereka berhenti bekerja, mereka akan berhenti menerima pendapatan.

Kuadran 3 (kotak kanan atas): B atau Business Owner: Mereka adalah insan yang suka mendelegasikan tugas. Mereka lebih memusatkan perhatiannya pada aktivitas yang menghasilkan keuntungan terbanyak. Mereka mempekerjakan orang-orang yang lebih pintar dari mereka untuk melakukan pekerjaan untuk mereka. Mereka membangun sistem bagus, yang solid dan mereka memiliki sistem itu. Mereka membangun sumber-sumbernya (modal, gedung produksi, pabrik, bengkel, hotel, mobil, serta peralatan dan fasilitas) agar memungkinkan sistem ini berjalan. Dan, mereka dapat meninggalkan perusahaannya untuk berlibur dan terkadang meninggalkan pekerjaannya tapi tetap menghasilkan uang karena ada orang-orang yang bekerja untuk mereka. Contohnya kuadran ini adalah para taipan, konglomerat, dan pengusaha waralaba (franchisers) yang telah membangun bisnis yang solid.

Apakah anda termasuk kuadran ini yang menjadi pemilik perusahaan yang dibangun dengan sistem, dengan struktur organisasi yang rapi dan jelas, dengan karyawan yang terbagi dalam divisi-divisi dan bertahap berkembang membuka cabang atau agen yang menjangkau wilayah pemasaran yang lebih luas? Semula anda masih bekerja penuh waktu tapi secara bertahap anda mendelegasikan tugas kepada karyawan anda. Setelah perusahaan berkembang menjadi besar mungkin anda mempekerjakan eksekutif atau manajer atau bahkan CEO yang menjalankan dan mengelola perusahaan anda. Mungkin anda hanya duduk sebagai penasihat atau komisaris perusahaan yang hanya mengawasi dan hanya terjun bila dibutuhkan. Sebagai pemilik perusahaan, perusahaan anda yang dikelola manajer atau CEO memberikan keuntungan bagi anda. Perusahaan anda telah menjadi aset anda yang amat bermurah hati mendatangkan duit demi duit ke dalam kocek atau rekening pribadi anda. Kalau anda punya dua perusahaan dan ingin fokus ke satu perusahaan, mungkin anda menjual satu perusahaan dan mendapatkan keuntungan dari hasil penjualan ini.

Kuadran 4 (kotak kanan bawah): I atau Investor:Inilah orang-orang yang telah membangun aset-asetnya dan tidak bekerja untuk mencari uang lagi. Sebagai gantinya, aset-aset yang telah mereka kumpulkan bekerja untuk mereka, memberi pendapatan tetap bahkan bila mereka tidak bekerja. Inilah insan-insan yang disebut “hidup dari bunga uangnya”. Mereka dinafkahi aset dan investasinya. Uang bekerja untuk mereka. Mereka menginvestasikan uangnya untuk mendapatkan lebih banyak uang. Mereka bisa membedakan mana yang merupakan aset dan mana yang merupakan kewajiban (liability). Contohnya adalah investor di pasar saham dan real estate.

Yang termasuk kuadran ini adalah orang-orang yang menginvestasikan uang mereka dengan ikut bermain valas di bursa efek melalui pialang berpengalaman dan hebat, menanam saham di perusahaan lain atau membangun dan menyewakan gudang, mobil travel, rumah untuk dikontrak, membeli apartemen untuk dikontrakkan atau membeli tanah untuk disewakan. Termasuk kagegori ini adalah orang yang menabung uangnya dalam bentuk deposito atau membeli saham perusahaan yang telah go public. Ada investor yang bermain dalam bisnis properti. Ia beli rumah dengan harga murah pada masa resesi dn menjual kembali rumah itu dengan harga tinggi waktu ekonomi membaik. Hasil penjualan rumah ini digunakan lagi untuk membeli rumah atau apartemen lain lalu menjualnya waktu harganya melambung tinggi. Begiut seterusnya uang hasil investasinya diputar dan membuat mereka kaya raya. Aset yang anda miliki membayar ‘gaji bulanan” anda. Anda bisa memutuskan pensiun dini dan tinggal duduk ongkang-ongkang kaki dan aset anda-lah yang tetap “menggaji” anda.

Apakah anda melihat perbedaan antara ke-4 kuadran ini? Satu-satunya jalan agar lolos dari lomba tikus adalah dengan beralih dari income aktif ke income pasif, dari employee (pekerja) atau self employee (pekerja untuk diri sendiri) ke business owner (pemilik perusahaan) atau investor.

Robert Kiyosaki mengatakan: “Orang kaya membeli aset-aset. Orang miskin hanya membelanjakan uangnya. Klas menengah membeli liabilities (kewajiban membayar asuransi, kredit rumah tinggal, kredit mobil pribadi) dan mereka berpikir bahwa itu adalah aset. Orang miskin dan klas menengah bekerja untuk mendapatkan uang. Orang kaya memiliki uang yang bekerja untuk mereka.”

Menurut Robert Kiyosaki, kalau memilih menjadi employee / pekerja / karyawan atau menjadi self employee / kerja sendiri, anda berada di jalan yang tak akan mengantar anda menjadi orang kaya benaran. Kalau memilih menjadi business owner / pemilik perusahaan / pengusaha atau investor, anda berada di jalan yang mengantar anda menjadi orang kaya benaran. Kaya benaran berarti anda bebas secara finansial, mencapai financial freedom, independen dalam soal keuangan, mencapai financial independence untuk memenuhi kebutuhan hidup sendiri dan keluarga sekarang dan di masa depan, tanpa merasa khawatir tidak punya cukup uang. Aset-aset anda yang membayar atau menggaji anda.

Lihat juga:

http://www.millionaireacts.com/48/robert-kiyosaki-rich-dad-poor-dad-cashflow-quadrant.html

Dari posisi anda sekarang, jalan mana yang akan anda pilih dari 4 kuadran ini? Selamat menjadi orang kaya benaran. Anak anda akan menyebut anda Rich Dad, Rich Mum atau Poor Dad, Poor Mum (ayah / ibu miskin atau ayah / ibu kaya). Beralih dari pekerja dan mulai berwirausaaha sebagai self employee yang bekerja sendiri  lalu berkembang sampai ke memiliki perusahaan yang punya sistem sendiri tidak bergantung umur berapa dan pendidikan sampai tingkat apa. Entrepreneur atau pengusaha yang memiliki perusahaan dengan sistem yang jelas muncul dari golongan umur mana pun dan dari tingkat pendidikan apa pun. Kalau sekarang anda berada di posisi sebagai employee yang bekerja untuk organisasi atau perusahaan orang lain atau sebagai self employee yang bekerja sendiri mencari nafkah, apakah anda ingin anak anda mengikuti jejak anda menjadi employee atau self employee? Anda ingin anak anda memilih atau terjun pertama kali ke kuadran yang mana dari ke-4 kuadran ini? Teladan anda dalam bekerja dan pola asuh anak yang anda pilih dan tempuh dalam keluarga anda akan mempengaruhi pilihan anak anda di kemudian hari.

 

Kalau anda memilih menjadi employee (pekerja, karyawan yang bekerja pada kantor atau perusahaan orang lain) atau menjadi self employed (kerja sendiri seperti wartawan freelance, penulis buku, dokter yang buka praktik sendiri atau jadi guru les privat, usahawan kecil, penjaja keliling), kemungkinan besar anda akan dipusingkan dengan ATM yang saldonya pas-pasan, bingung karena belum membayar kartu kredit anda, jengkel karena uang kurang untuk melakukan service menyeluruh terhadap mobil anda atau hidup belum tenang karena belum punya rumah sendiri, masih kontrak.

Kalau nasib menerjunkan anda menjadi pengusaha atau investor yang punya aset yang “menggaji” anda, mungkin sekali anda tak dibuat pusing seperti yang dialami employee atau self employee. Namun hidup ini harus hati-hati. Kata Robert Kiyosaki pada ke-4 jalan menciptakan / mendapatkan uang ini peluang bangkrut itu bisa hinggap di semua jalan itu.

 

 

Pensiun itu bukanlah masalah umur tapi masalah pendapatan

Anda mau membuka restoran Padang “SEDERHANA” di tempat anda? Anda mau membuka supermarket Indomart atau Alfamart di jalan raya dekat rumah anda? Anda mau menjadi agen JNE di payilyun rumah anda yang kebetulan letaknya strategis? Nah, anda membeli format bisnis pengusaha lain yang sudah kaya dan anda pun bisa jadi orang kaya juga. Anda harus membayar fee kepada pengusaha kaya itu dari keuntungan yang anda raih.

Atau, anda sendiri mau membuka usaha sendiri? Lalu, usaha anda itu berkembang menjadi perusahaan berbentuk CV atau PT yang kian maju dan akhirnya merambah ke berbagai daerah di Indonesia, bisa saja anda menjual format bisnis anda, mengajak orang di daerah menjadi franchise anda. Cabang atau agen lain di daerah akan membayar fee kepada anda. Kalau sudah sampai ke taraf itu, mungkin anda mulai berpikir untuk pensiun dini. Tiap bulan tinggal anda dapat setoran dari franchises anda yang tersebar di mana-mana.

Kalau anda sudah punya banyak bidang tanah, banyak rumah, gudang, mobil travel, apartemen yang siap dikontrak, nah aset anda itu akan “menggaji” anda tiap bulan. Mungkin telah tiba saatnya anda memilih pensiun dini, tinggal momong cucu dan ajak cucu berlibur ke destinasi wisata di mana pun yang terjangkau kocek anda.

 

Anda sekarang sudah mendapatkan pekerjaan dan gaji anda dibayar pemerintah atau perusahaan tiap bulan. Mungkin sebagai PNS anda mendapat gaji ke-13 dan honor tambahan atau sebagai karyawan perusahaan mendapat bonus tahunan. Syukurlah anda beruntung.

Namun, apakah persoalan uang itu sudah selesai? Semakin bertambah gaji atau bonus atau penghasilan total per bulan atau per tahun biasanya kebutuhan anda cenderung meningkat dan tidak match antara pendapatan dan pengeluaran.

Waktu? Sebagai karyawan, waktu anda ditentukan kantor atau perusahaan. Datang dan pulang kerja jam berapa. Kapan boleh ambil cuti. Waktu mungkin menjadi masalah anda. Orang lain yang mengatur waktu anda, bukan anda yang sepenuhnya mengatur waktu anda.

Biaya kesehatan? Kalau anda punya Askes sebagai PNS atau perusahaan anda mendaftarkan anda pada sebuah perusahaan asuransi kesehatan, mungkin masalah harus berobat atau dioperasi tak menjadi masalah besar bagi anda. Namun, ada banyak biaya lain selain yang ditanggung Askes atau perusahaan asuransi. Ada obat mahal yang tidak ditanggung asuransi. Ongkos keluarga bolak-balik ke rumah sakit tidak ditanggung asuransi. Kalau penyakit anda itu hanya bisa diobati di rumah sakit di Singapura, Amerika Serikat atau Jerman misalnya, nah anda bisa pusing karena asuransi kesehatan hanya berlaku di dalam negeri.

Memang, pekerjaan bukan segala-galanya, tapi tanpa pekerjaan susah segala-galanya. Sudah punya pekerjaan pun, susah itu bisa datang karena faktor uang yang kurang, waktu yang tak bisa anda atur sendiri, dan kesehatan yang tak ditanggung sepenuhnya oleh perusahaan asuransi.

Road to financial freedom

Mungkin banyak dari kita adalah “korban” mindset yang ditanamkan orang tua kita sejak kecil. Bersekolah sampai sarjana agar mudah mendapatkan pekerjaan sebagai pegawai negeri. Setelah jadi pegawai negeri, masa depan terjamin karena ada pensiun. Kalau tidak lolos tes pegawai negeri, ya paling tidak bisa menjadi pegawai perusahaan swasta. Sekarang pun banyak perusahaan yang telah memberi pensiun kepada karyawannya. Nafkah terjamin, masa depan cerah. Makin tinggi tingkat pendidikan, makin besar penghasilan. Dengan kata lain, makin tinggi tingkat pendidikan, makin kaya.

Apakah mindset ini benar? Tingkat pendidikan saya sampai S3 dan meraih gelar Doktor atau gelar Ph D tamatan London, Inggris. Kalau pandangan orang tua saya benar, harusnya saya lebih kaya dari tamatan S2, S1, SMA / SMK. Ternyata tidak. Sebagai PNS, saya juga nyambi kerja sebagai self employee dengan menulis buku dan memberi jasa konsultasi pendidikan. Ternyata untuk ini saya dibayar pengusaha yang hanya tamat SMA atau bahkan SMP. Tragis. Dan, ternyata di dunia ini mayoritas pengusaha tidak tamat SMP. Saya juga sudah bertemu dengan beberapa pengusaha kaya yang hanya tamat SD dan bahkan hanya sampai kelas III SD. Ada yang mampu membeli pulau dan menjual ikan ke Tiongkok, Jepang, dan negara lain. Banyak sekali kota di dunia ini yang telah ia kunjungi. Pengusaha yang kurang pendidikan itulah yang menggaji karyawannya yang bergelar Doktor, Magister, Sarjana. Mereka adalah rich dads, ayah kaya yang tidak telah terbebas dari lomba tikus, mirip dengan rich dad Tiyosaki. Nasib saya mirip poor dad, ayah biologis Kiyosaki yang meraih gelar Doktor tapi dalam hidupnya ikut perlombaan lari tikus, perlombaan tak berkesudahan antara pendapatan dan pengeluaran yang sering tidak match. Lebih besar pengeluaran.

Sejak tahun 2013 nasib mengantar saya terjun berwirausaha, membuat dan menjual. Usaha berkembang dan jumlah agen terus bertambah. Usaha itu sekarang sudah menjadi perusahaan yang wajib membayar pajak kepada negara. Kalau dulu kantor atau orang membayar gaji saya, sekarang saya membayar gaji dan honor karyawan. Kalau dulu ingin memberi uang kepada orang yang membutuhkan, saya harus berpikir 2 x sambil memastikan apakah dalam waktu dekat akan mendapatkan honor. Sekarang, lebih ikhlas bila mau memberi kepada orang yang membutuhkan bantuan. Keuntungan mulai masuk dan barulah di usia 62 tahun kami mulai merasakan makna financial freedom (kebebasan finansial). Gelar Doktor ternyata tidak membuat kami merasakan apa itu kebebasan, independensi finansial karena terperangkap dalam lomba tikus, kejar-kejaran antara pemasukan dan pengeluaran. Terkadang saya merasa malu dengan diri sendiri. Apa yang saya lakukan sekarang hanya perlu bekal pendidikan maksimal tamat SMA. Ironis.

Apakah sebagai orang tua atau guru kita masih terus menanamkan mindset yang mendorong anak untuk belajar sampai minimal tamat D3 atau sarjana agar menjadi pegawai negeri atau pegawai perusahaan? Apakah dengan langkah ini kita mengantar anak ke jalan yang benar dan tepat menuju kebebasan finansial? Atau, kita keliru mengarahkan anak yang bakal terperangkap ke dalam lomba tikus? Berapa juta sarjana penganggur sekarang dari kota besar sampai pedesaan yang tidak mau lagi bertani, beternak atau menangkap ikan? Mengapa uang untuk biaya kuliah tidak digunakan sebagai modal usaha, mulai terjun berwirausaha, menjadi pekerja untuk diri sendiri dan kalau nasib untung bisa jadi pengusaha, pemilik perusahaan? Apakah sebagai orang tua atau guru, kita terus menciptakan utopia bagi anak yang mengejar mimpi palsu menjadi pekerja dengan janji surga menjadi orang yang terbebas secara finansial?

 

10 kunci kebebasan finansial

Robert-Kiyosaki-Picture-Quote-Poor-To-Rich

Robert Kiyosaki mengemukakan 10 kunci mencapai kebebasan finansial berikut ini.

1. Ambil tanggung jawab penuh atas neraca keuangan anda dalam mengambil keputusan pembelian dan penjualan yang mempengaruhi rencana keuangan di waktu mendatang. Lakukan evaluasi berkala tentang semua tindakan keuangan anda.
2. Kontrol atau kendalikan pengeluaran karena mengatur pengeluaran amat mempengaruhi neraca keuangan anda. Berpikirlah dua kali sebelum membelanjakan uang anda.

Develop-Financial-Literacy-Step-6

3. Membuat anggaran (budget) dan menghabiskan sesuai anggaran sangat penting untuk membatasi pengelolaan pendapatan dan mengontrol pengeluaran anda. Anggaran akan mendorong akuntabilitas anda.

Budget

4. Bayarlah diri anda sendiri melalui menabung sebagian uang guna membuat anda makin kaya dan mencegah anda jatuh miskin. Menabung sekarang untuk berinvestasi di masa depan.

5. Jangan pernah berhutang. Anda tidak pernah akan merasa diri kaya bila masih terbebani hutang. Berkaitan dengan bank dan kartu kredit, janganlah anda berhutang ke bank sehingga terjerat ke kewajiban membayar hutang dan bunga hutang. Tabunglah uang anda di bank, misalnya dalam bentuk deposito sehingga bank-lah yang membayar bunga tabungan anda.

Hutang baik dan buruk

Kami teringat prinsip Pak P K Oyong sebagai seorang pendiri Harian Kompas dan PT Gramedia yang diulas Kompas setelah wafatnya pada 31 Mei 1980 pada usia 59 tahun. Waktu awal mendirikan Kompas tahun 1965, bersama Pak Jakob Oetama, mereka meminjam uang ke bank. Namun dalam waktu singkat hutang bank itu langsung dibayar lunas. Selanjutnya, sejak awal sebagian keuntungan Kompas ditabung di bank sehingga bukan Kompas yang membayar ke bank tapi bank yang membayar ke Kompas. Prinsip ini kami terapkan dalam usaha kami yang belum genap 2 tahun. Beberapa bank menawarkan kredit tapi kami tolak. Usaha harus maju bertahap sesuai dengan kemampuan modal yang dimiliki. Bukan kami yang harus membayar ke bank tapi bank-lah yang harus membayar usaha kami.

6. Sediakan dana darurat yang cukup untuk hidup selama 3 bulan agar anda terhindar dari keterpaksaan berhutang bila terjadi peristiwa yang tidak diinginkan, misalnya untuk perbaikan besar kendaraan, biaya kesehatan bila anda jatuh sakit, atau tertimpa musibah lainnya. Cara terbaik adalah membuka rekening baru untuk mulai menabung dana darurat. Cara ini mencegah anda dari kemungkinan jatuh miskin dan membuat hidup anda itu tenang.

Dana darurat

7. Jangan berhenti belajar tentang industri keuangan dan cara industri itu bekerja serta menambah pengetahuan tentang keuangan sebanyak mungkin agar anda semakin cerdas mengelola keuangan.

Buku tentang keuangan

8. Tentukan tujuan keuangan secara jelas dan ringkas misalnya untuk memulai pendirian perusahaan anda sendiri atau menjadi investor. Atau, dalam skala kecil misalnya memutuskan renovasi rumah, membeli kendaraan baru atau membeli pesawat televisi yang baru. Tuangkan tujuan keuangan ke dalam rencana keuangan yang jelas agar anda termotivasi mewujudkan impian anda.

Tujuan keuangan

9. Bangunlah jaringan (network) pemasaran untuk melatih kemampuan bisnis dan beralih dari status sebagai karyawan menjadi pengusaha. Ini akan mengurangi biaya investasi untuk perusahaan yang baru.

peta-pengiriman-sano

10. Sederhanakan hidup anda. Janganlah terjebak hasrat mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya untuk mendukung meningkatnya kebutuhan anda. Hilangkan dari pikiran anda kebutuhan yang mengada-ada. Turunkan kebutuhan anda agar tidak melebihi kemampuan pengeluaran anda.

Kunci mencapai kebebasan finansial amat mudah. Ubahlah pendapatan tetap anda menjadi pendapatan pasif (portofolio) sehingga aset-aset anda “menggaji” anda tiap bulan, tiap tahun.

Sumber:

http://addicted2success.com/success-advice/robert-kiyosakis-10-keys-to-financial-freedom/

https://www.cekaja.com/info/10-kunci-kebebasan-finansial-ala-robert-kiyosaki/

 PK-OJONG-PEGANG-KORAN-631x1024

P K Oyong: Bukan Kompas yang membayar bank tapi bank-lah yang membayar Kompas

 

Penerapan kunci ini kepada anak

Orang tua dan guru perlu mengarahkan anak agar membuat anggaran sendiri, misalnya dari uang jajan bulanan yang diberikan orang tua dan uang lainnya. Anggaran ini bisa dituangkan ke kebiasaan mencatat uang masuk dan uang keluar per minggu misalnya. Dorong anak untuk menabung di celengan atau kalau sudah cukup umur menabung sendiri di bank terdekat guna membeli atau membayar apa yang ia “cita-citakan” atau untuk memenuhi kebutuhan yang tak terduga. Larang anak berhutang kepada orang tua, kakak atau adiknya atau teman-temannya di sekolah. Literasi keuangan (financial literacy) hendaknya diajarkan guru di sekolah melalui pelajaran IPS atau ekonomi serta melalui tema lintas kurikulum (mata-mata pelajaran yang relevan) melalui diskusi dan latihan praktik.

Anak menabung

Tentu saja yang terpenting adalah teladan orang tua dan guru dalam menerapkan 10 kunci ini. Teladan berbicara lebih keras daripada kata-kata.

mm-democracy-o

Literasi keuangan (financial literacy)

Berbagai survei di berbagai negara maju dan sedang berkembang menunjukkan bahwa literasi keuangan penduduk tertinggal dari perkembangan industri dan bisnis keuangan di dunia global dewasa ini. Bila kita kurang memahami bagaimana uang bekerja di dunia, kita cenderung menjadi korban. Uang yang kita miliki dapat membuat kita jatuh miskin, melarat karena industri keuangan justru “mencuri” uang anda. Karena itu, berbagai organisasi di banyak negara dan lintas-negara berupaya mendidik masyarakat soal literasi keuangan. Kelompok sasaran yang diutamakan adalah kaum perempuan, para ibu rumah tangga yang amat berperan dalam mengelola keuangan keluarga, aneka-kelompok yang rentan dikelabui institusi keuangan terutama di pedesaan sampai ke para siswa di sekolah. Literasi keuangan telah menjadi isu di dunia dan akan semakin diperlukan menghadapi perkembangan pesat abad ke-21 ini.

Literasi finansial adalah kemampuan memahami bagaimana uang bekerja di dunia: bagaimana seseorang mengelola keuangan, mulai dari bagaimana mendapatkan atau menciptakan uang, bagaimana mengelolanya, bagaimana menginvestasikan, dan bagaimana menyumbang untuk membantu orang lain. Secara spesifik, literasi finansial mengacu ke serangkaian keterampilan dan pengetahuan yang memungkinkan seorang individu mengambil keputusan yang efektif tentang semua sumber keuangannya. Meningkatkan bunga uang pribadi kini menjadi satu fokus program pemerintah di berbagai negara, termasuk Australia, Kanada, Jepang, Amerika Serikat, dan Inggris.

Pernah dilakukan survei terhadap konsumen perempuan pada 14 negara di Asia-Pasifik, Timur Tengah, dan Afrika (Asia Pacific Middle East Africa; APMEA) perihal manajemen uang, perencanaan dan investasi keuangan. Pada laporan survei itu yang terbit tahun 2011, urutan APMEA Women MasterCard’s Financial Literacy Index adalah:

  1. Thailand 73.9
  2. New Zealand 71.3
  3. Australia 70.2
  4. Vietnam 70.1
  5. Singapura 69.4
  6. Taiwan 68.7
  7. Filipina 68.2
  8. Hong Kong 68.0
  9. Indonesia 66.5
  10. Malaysia 66.0
  11. India 61.4
  12. China (60.1)
  13. Jepang
  14. Korea Selatan

Hasil survei ini menunjukkan bahwa di kalangan kaum perempuan Indonesia menduduki ranking ke-9 dari 14 negara. Posisi perempuan Indonesia lebih baik dari Malaysia, India, China, Jepang, dan Korea Selatan, namun masih kalah dari perempuan Thailand yang mencapai ranking terbaik, Vietnam, Singapura, dan Filipina. Temuan yang mencengangkan adalah ternyata kaum perempuan Thailand lebih jago dalam mengelola keuangan dibandingkan dengan sesama kaumnya di Singapura, Jepang, dan Korea Selatan, 3 macan ekonomi Asia.

Sumber: http://timesofindia.indiatimes.com/india/Indian-women-surpass-Chinese-in-financial-literacy/articleshow/7602651.cms?referral=PM

Tahun 2012 pertama kali dilakukan tes internasional literasi keuangan dalam tes PISA yang diikuti siswa berusia 15 tahun (SMP) dari 18 negara di dunia untuk mengetahui sejauh mana pengetahuan dan pemahaman serta keterampilan keuangan mereka.

Kerangka penilaian literasi keuangan PISA

Materi tes ini meliputi uang dan transaksi, perencanaan dan pengelolaan uang, risiko dan imbalan, dan lanskap keuangan. Proses tes ini meliputi mengidentifikasi informasi keuangan, menganalisis informasi dalam konteks keuangan, dan menerapkan pengetahuan dan pemahaman keuangan. Konteks tes ini adalah pendidikan dan pekerjaan, rumah dan keluarga, individu, dan masyarakat.

Hasil tes literasi keuangan ini kemudian dicari korelasinya dengan hasil tes matematika dan membaca (reading) PISA yang dipandang sebagai keterampilan dasar bagi literasi keuangan. Hasil tes literasi keuangan ini menunjukkan bahwa siswa Shanghai, China menduduki ranking teratas, siswa Kolumbia terbawah, dan siswa 16 negara lain berada di posisi tengah. Hasil tes ini juga menunjukkan bahwa kemampuan literasi keuangan siswa di perkotaan lebih baik daripada siswa di pedesaan. Hasil lain yang menarik adalah literasi keuangan siswa yang menabung sendiri uang di bank lebih baik daripada siswa yang tidak menabung di bank.

Mengenalkan-Pengelolaan-Keuangan-Sejak-Dini-BCA

Kebijakan pengelola tes PISA menunjukkan bahwa kini dirasa amat penting mengintegrasikan literasi keuangan dalam kurikulum sekolah, mulai SD sampai dengan SMA dan SMK. Mungkin perkembangan ini perlu diperhatikan dalam revisi Kurikulum 2013. Walaupun kurikulum yang berlaku tidak menekankan literasi keuangan, sebagai kepala sekolah atau guru anda dapat menekankannya dalam proses belajar-mengajar.

Sumber: http://www.oecd.org/finance/2014-launch-pisa-financial-literacy-students.htm

 

Edupreneurship di keluarga dan sekolah

 

Anda ingin mendidik anak anda menjadi entrepreneur? Dorong dan latih dia memproduksi apa saja. Karena, kebiasaan memproduksi adalah faktor penting yang membuat seseorang menjadi entrepreneur. Terima kasih, Pak Simon Payong Masan yang telah mengirim foto putrinya beserta resep membuat kue-kue yang diciptakan Brigitta seperti terlihat pada gambar.

Komentar Payung Masan Terima kasih ama Belen ….

Dorongan berproduksi di keluarga sebaiknya ditindaklanjuti melalui edupreneurship di sekolah. Apalagi, bagi anak yang tidak dibiasakan memproduksi atau membantu orang tuanya memproduksi barang yang laku dijual, edupreneurship di sekolah itu amatlah penting.

Brigitta yang telah mampu membuat kue sendiri. Apakah sekolah mengizinkan dia menjual kue buatannya kepada teman-temannya di sekolah? Tidak. Seperti berlaku umum di sekolah-sekolah kita, anak dilarang berjualan di sekolah. Namun, semestinya ada pengecualian. Khusus untuk kue, minuman, suvenir atau asesori buatan anak, sekolah sebaiknya memberi peluang kepada anak untuk menjual hasil karyanya. Jika kita ingin banyak anak menjadi wirausahawan, pengusaha, pemilik perusahaan waktu mereka dewasa, sekolah hendaknya mengizinkan anak menjual hasil produksinya sendiri (bukan yang dibuat orang tua), agar terbina kebiasaan menjual dan menjual, bukan membeli dan membeli. Dengan cara ini, kita mendidik anak menjadi manusia produktif, bukan manusia konsumtif.

 

Anda ingin mendidik anak anda menjadi entrepreneur? Dorong dan beri kesempatan ia menjual kue buatan anda atau tetangga. Karena, kebiasaan menjual adalah faktor penting yang membuat seseorang menjadi entrepreneur. Percuma anda memproduksi barang tapi tak laku dijual. Terima kasih, Pak Bimas Ntb yang telah menyiarkan foto Udin. Bravo Udin. Teringat waktu kecil di Kupang. Beta tukang jual kokis keliling pagi-pagi sebelum ke sekolah dan sore hari setelah pulang sekolah di zaman susah di era Orde Lama, beberapa tahun sebelum pecah G30S/ PKI.

Kebiasaan orang tua memberi uang jajan kepada anak tidak salah karena anak belum bisa mencari uang sendiri. Namun, kalau anak bisa menyisihkan uang jajan untuk ditabung dan dari hasil tabungan ia bisa membeli barang yang diinginkan tentu ini satu latihan yang baik. Ada orang tua yang membiasakan anak yang sudah cukup besar disuruh mengerjakan pekerjaan rumah tangga tambahan (ekstra) selain tugas rutin membantu pekerjaan dalam keluarga dengan janji menambah uang jajannya. Kebiasaan ini bagus untuk mendidik anak bahwa mencari uang itu perlu dilakukan melalui bekerja.

Berbeda dengan anak-anak yang terbiasa diberi uang jajan, Udin yang terlahir dalam keluarga sederhana mendapatkan kesempatan yang amat langka dalam situasi pakaian dan panganan kecil berlimpah zaman ini. Mungkin ia dapat membantu menambah keuangan keluarga atau paling tidak ia mencari sendiri uang jajan waktu berada di sekolah. Dari kecil Udin telah diberi bekal kemampuan menjual yang akan berguna baginya bila terjun berwirausaha nanti dan bisa siapa tahu bisa berkembang menjadi pengusaha atau pemilik perusahaan.

Orang bodoh jadi boss

Dalam keluarga Udin telah dilatih bertanggung jawab untuk bekerja membantu keluarga melalui aktivitas menjual singkong dan pisang goreng. Bagi keluarga yang mampu secara ekonomis, tanggung jawab bekerja dapat dilakukan dengan membagi tugas mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Anak harus dibiasakan membenahi tempat tidurnya tiap pagi setelah bangun tidur. Tidak boleh dibiarkan berantakan dan dibereskan orang tua. Tiap anak harus menaruh pakaian kotor di ember atau keranjang khusus dan diharuskan mencuci sendiri pakaiannya.

Pekerjaan rumah tangga seperti berbelanja, memasak, mencuci piring, menyapu dan mengepel lantai, menyiram dan merawat tanaman, membersihkan kaca jendela, memperbaiki kerusakan kecil pada pintu, jendela, dan perabot rumah dibagi secara adil antar-anggota keluarga dan disepakati giliran berganti tugas. Kalau ada pembantu, pekerjaan rumah tangga sebaiknya tidak diborong pembantu tapi ada bagian pekerjaan yang harus dilakukan anak. Di masa depan tampaknya bayaran pembantu akan semakin mahal sehingga cenderung tidak tertanggungkan. Di Jepang perdana menteri sekali pun tidak mampu membayar pembantu tetap di rumahnya. Kalau perdana menteri mampu membayar pembantu dicurigai ia melakukan tindak pidana korupsi.

Latihan bagi anak agar tanggung jawab bekerja amat penting karena waktu dewasa ia tidak terlepas dari keharusan bekerja dengan tanggung jawab, entah sebagai pekerja, pekerja sendiri, pengusaha atau investor.

Sehubungan dengan pemberian cuma-cuma tanpa bekerja atau membantu mengerjakan sesuatu, ada satu aturan sekolah yang diberlakukan Romo Mangun di SD Mangunan di Desa Mangunan, Kecamatan Kalasan, Jogyakarta. Anak-anak dilarang menerima pemberian tamu yang berkunjung ke sekolah. Sekali pada kesempatan membantu para guru dan kepala SD Mangunan, kami memanggil anak-anak tertentu saat istirahat untuk memberi mereka sekadar uang jajan tambahan. Yang mengherankan, anak-anak menolak pemberian itu. Kemudian, kami sampaikan kepada para guru dan kepala sekolah bahwa baru kali ini uang yang hendak saya beri kepada anak-anak ditolak anak-anak sendiri. Mereka lalu menjelaskan, sejak awal Romo Mangun melarang anak-anak menerima pemberian uang dari tamu karena anak-anak dari keluarga “miskin” harus dibiasakan tidak menerima pemberian orang agar terhindar dari sikap bergantung kepada belas kasihan orang. Orang “miskin” harus didorong untuk bekerja mencari nafkah dengan rasa percaya diri, bukan bergantung kepada sinterklas.

Entrepreneur tidak DILAHIRKAN….
Mereka “JADI” melalui pengalaman hidup mereka! (Professor Albert Shapero, The Ohio State University)

 

Kurikulum 2013 menghapus mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) sejak SD s.d. SMA / SMK. Kebijakan ini akan membuat orang Indonesia hanya sekadar menjadi pengguna teknologi informasi, bukan pencipta. Bagaimana anak bisa mencipta kalau tidak diajarkan bahasa program dan cara membuat program? Kita sulit menelurkan insan-insan pencipta teknologi informasi seperti Zainuddin Nafarin dan Arrival Dwi Santosa jika TIK dihapus sebagai mata pelajaran. Sebagai kepala sekolah anda bisa memodifikasi kurikulum yang berlaku dengan memasukkan mata pelajaran TIK. Sebagai guru anda bisa mengusulkan kepada kepala sekolah dan dewan guru agar menghidupkan mata pelajatan TIK.

KITA PERCAYA:

* Entrepreneur memiliki keanakeragaman karakterisik pribadi yang besar, satu yang umum: bertekad mengambil risiko demi mendapatkan keuntungan.

* Siapa pun dapat menjadi entrepreneur kapan pun dalam hidup seseorang.

* Tak ada tingkat pendidikan yang menjadi syarat menjadi seorang entrepreneur.

* Sukses entrepreneur bervariasi menurut tujuan seseorang, dari pendapatan paruh waktu sampai struktur korporasi yang bertumbuh cepat.

 

SEBUAH PEKERJAAN ADALAH …

kerja yang perlu dikerjakan… hingga seseorang akan membayar anda untuk melakukannya.”

mesin cuci

Komentar Kang Maman Sutarman di Facebook: Prinsipnya: Belajar untuk hidup, bukan hidup untuk belajar saja. Tapi jangan semua orang diarahkan menjadi pebisnis. Sebagian perlu dipersiapkan jadi pemikir. Itu pula latarbelakang gagasan tentang adanya SMA dan SMK…..Salam

Tanggapan kami: Kang Maman Sutarman. Persentase entrepreneur Indonesia tidak sampai 1% (0,24%, hanya memiliki 500 ribu pengusaha) dari 240,56 juta penduduk Indonesia. Malaysia sudah mencapai 2,1%, Thailand 4,1%, Korea Selatan 4%, Singapura 7,2%, Amerika Serikat 11,1%. Itulah penyebab AS menjadi adidaya dan ekonomi Singapura, negeri satu kota, lebih maju dari semua negara ASEAN lain. Edupreneurship tidak hanya mengarahkan semua anak jadi pebisnis tapi ada baiknya jika banyak anak berjiwa entrepreneur yang mampu membuat terobosan dalam berbagai bidang kehidupan. Entrepreneur jangan disamakan dengan cari uang semata. Entrepreneur adalah insan yang punya visi, punya ide kreatif, terjun mewujudnyatakan idenya, mampu membuat terobosan, mampu memimpin. Mengapa pendidikan Indonesia terseok-seok? Karena kurang pengelola dan pendidik yang berjiwa entrepreneur.

 

Di masa depan anda lebih membutuhkan sebuah rencana bisnis (business plan) daripada sebuah rencana karier (career plan). Business plan lebih penting daripada Curriculum Vitae.

Komentar Kang Maman Sutarman di Facebook: Karena terlalu mengarahkan siswa jadi wirausahawan…mangkanya lembaga pendidikan pun dijadikan ajang bisnis; lalu solidaritas dan subsidiaritas dalam dunia pendidikan diabaikan…attitude menjadi nomor sekian… yang tertanam adalah: hidup itu transaksional….

Tanggapan kami: Kang Maman Sutarman. Edupreneurship itu bila maju dan terbentuk unit produksi justru akan mensubsidi bayaran siswa. SMA Selamat Pagi Indonesia di Batu, Malang itu gratis. Siswa bercocok tanam dan berternak di sore hari dan mampu mandiri soal makanan, malah bisa menghasilkan uang tambahan yang dikirim ke adiknya di Papua, di Aceh. Tiap siswa SMK Pertanian Bitauni di pedalaman Timor bisa menyumbang dana bagi sekolah Rp 1 s.d. 1,5 juta per bulan melalui unit produksi bercocok tanam, memelihara hewan, dan membuat anggur pisang. Karena itu, tidak heran jika biaya asrama per bulan hanya Rp 15 ribu dan SPP per semester hanya Rp 50 ribu. Gaji tiap guru bisa dibayar Rp 7 – 8 juta. Banyak contoh yang lain, seperti sekolah gratis Rumah Roslin di Kupang. Sekolah-sekolah itu sama sekali tidak komersial, malah hampir gratis atau bahkan gratis. Edupreneurship menciptakan konteks agar aktivitas akademis dan pengembangan sikap atau attitude dibangun di atas landasan entrepreneurship, melibatkan semua guru mata pelajaran, menjadi sekolah kerja. Kegiatan kognitif akademis dan pembinaan sikap dikonkretkan, tidak melambung dalam teori melangit. Itulah makna contextual teaching & learning.

Komentar Tulus Sihombing: Setuju 1000% Pak Belen.

Komentar Hilda Karli: Ya Pak Belen… Saya baca buku karangan Robert Kiyosaki, ada 2 area karir. Pertama sebagai pelaku dan kedua pengelola. Area pelaku dibagi 2, menjadi pegawai (contoh dokter di rumah sakit) dan bekerja sendiri (buka praktik sendiri). Area ini tidak akan berjalan jika pelaku tidak bekerja yang berhubungan dengan sakit-penyakit. Area kedua adalah pengelola yang terbagi dua, yaitu buka sendiri usaha (buka klinik) dan investor (ada saham di rumah sakit tertentu). Area ini memperkerjakan orang lain… Nah.. Tinggal pilih area mana yang kita mau kerjakan sekarang dan di masa depan…Itu pandangan Robert Kiyosaki. Di Indonesia semua orang yang lulus sarjana baik S1, S2 maupun S3 sibuk cari kerja bukannya membuka peluang kerja. Jadilah banyak penganggur…. Kurang berani ambil risiko dan tidak kreatif…. Gaya hidup. Berlawanan dengan orang Tionghoa….

Tanggapan kami: Terima kasih, Bu Hilda Karli. Komentar ibu ini mendorong kami membuat posting tentang gagasan Robert Kiyosaki di blog kami. (Inilah posting yang kunjanjikan itu).

.

Entrepreneur sukses mulai dari menjual waktu kecil di rumah / sekolah. Latih dan biasakan siswa menjual (selling) secara pribadi dan kelompok. Contoh: Anak membuat „roti boy”, asesori (pin, kartu undangan, pernak-pernik), mug, kaus sablon, topi, … dan menjual ke teman-temannya, saat bazar atau Entrepreneur Day di sekolah.

Didiklah anak anda di rumah, anak-anak di sekolah anda untuk menjual dan menjual, bukan membeli dan membeli. Menjual akan memotivasi orang berproduksi, sedangkan membeli hanya menjerat orang ke budaya konsumtif.

Entrepreneur berorientasi menjadi usahawan, pengusaha yang membayar, bukan jadi pekerja / karyawan yang dibayar. Pengalaman kerja hanya sebagai batu loncatan.

Berapa pun gaji anda sebagai pekerja di profesi apa pun, sebagai CEO perusahaan multinasional, direktur Pertamina, atau presiden RI, anda tidak pernah akan merasa diri kaya walau uang anda banyak.

Anda akan merasa diri kaya bila anda terjun berbisnis dan berhasil menjadi pemilik perusahaan dan investor. Berapa pun keuntungan yang anda raih, sedikit atau superbanyak, anda akan merasa diri kaya. Anda akan memiliki kebebasan finansial, financial freedom.

Entrepreneur memiliki passion (gairah luar biasa) pada proses menghasilkan dan menjual produk, cinta produknya, selalu memecahkan masalah yang menghadang, mengubah tantangan menjadi peluang.

Inilah foto Leanna dan ayahnya. Ayahnya bilang: “Leanna adalah boss saya!”

Leanna Archer menjadi direktur perusahaan di usia amat belia, masih di SMA. Ia bercita-cita masuk universitas mengikuti kuliah untuk menjadi pengacara bidang ekonomi dengan biaya dari keuntungan usahanya.

Leanna Archer dalam foto keluarga: ayah, ibu, dan adik-adiknya.

Entrepreneur anak memanfaatkan internet untuk promosi produknya. Inilah website Leanna.

Inilah sekadar beberapa contoh betapa anak-anak ini yang masih muda belia ini telah berada di jalan yang benar dan tepat menuju kebebasan finansial, a proper road to reach financial freedom, financial independence.

Mutiara kata tentang uang

Perkenankan membaca sejumlah kata mutiara tentang uang dan kutipan yang berkaitan dengan kebebasan finansial. Mungkin ini berguna bagi anda sebagai orang tua dalam menata keuangan anda dan memberi teladan dan dorongan kepada anak anda. Mungkin ini berguna bagi anda sebagai guru yang mendorong implementasi edupreneurship di sekolah anda dan memberi inspirasi kepada siswa-siswa anda.

Penabung jadi manusia bebas. Ingin kaya? Bayar hutang!

Pemeriksaan hati 2

Orang yang menabung akan menjadi orang yang bebas. (Pepatah China)

Siapa yang membayar hutangnya menjadi kaya. (Pepatah Prancis).

Jika uang kecil tidak keluar, uang besar tidak akan masuk. (Pepatah China)

Sebuah hati yang bahagia lebih baik daripada sebuah dompet yang penuh. (Pepatah Italia)

Orang yang membeli apa yang tidak ia butuhkan mencuri dari dirinya.

Jangan terus berbaring di tempat tidur, kecuali Anda dapat membuat uang di tempat tidur. (George Burns)

Agar menjadi cukup pintar mendapatkan semua uang, seorang harus cukup bodoh membutuhkannya. (Gilbert K Chesterton)

Akhirnya saya tahu apa yang membedakan manusia dari binatang-binatang yang lain: kekhawatiran finansial. (Jules Renard)

Anda dapat menjadi orang muda tanpa uang tetapi Anda tak dapat menjadi orang yang tua tanpa uang. (Tennessee Williams)

Cara teraman melipatgandakan uangmu adalah melipatnya sekali lagi dan menaruhnya kembali ke dalam kantongmu. (Kin Hubbard)

Cinta bertahan selama uang dapat menopangnya. (William Caxton)

Jika Anda dapat menghitung uangmu, Anda tidak memilki satu milyar dollar. (Lebih dari 10 trilyun rupiah; J Paul Getty)

Penghasilan kita ibarat sepatu kita; jika terlalu kecil, ia mengganggu dan menyakiti kita; tetapi jika terlalu besar, ia membuat kita berjingkat dan mencari-cari keseimbangan (John Locke)

Saya mendapatkan banyak uang, tapi saya tidak ingin berbicara tentangnya. Saya bekerja amat keras dan saya hargai setiap sen. (Naomi Campbell)

Sebenarnya saya tidak suka uang, tapi ia menenangkan saraf-sarafku. (Joe Louis)

Bebas hutang rupiah

Siapa pun yang mengatakan bahwa uang tidak dapat membeli kebahagiaan tidak tahu di mana harus berbelanja. (Gertrude Stein)

Tak ada alasan untuk menjadi orang terkaya di kuburan. Anda tak dapat melakukan bisnis apa pun dari dalam kubur. (Colonel Sanders) Lagian, di dalam kubur anda tak bisa menikmati uangmu.

Tidaklah cukup bagimu mencintai uang – juga penting bahwa uang harus mencintaimu. (Kin Hubbard)

Uang tak dapat membeli bagimu kebahagiaan tetapi ia benar-benar membawa bagimu sebuah bentuk kemalangan yang lebih menyenangkan. (Spike Milligan)

Uang tak dapat membeli kebahagiaan; tetapi ia dapat menyewanya. (Anonim)

Dalam dunia bisnis, setiap orang dibayar dengan dua koin: uang tunai dan pengalaman. Carilah pengalaman dulu; uang tunai akan datang sesudahnya. (Harold Geneen)

Entrepreneur

Kekurangan uang adalah akar dari banyak keburukan. (George Bernard Shaw)

Penghasilan setahun duapuluh poundsterling, pengeluaran setahun 19,6, hasilnya adalah kebahagiaan. Penghasilan setahun duapuluh poundsterling, pengeluaran setahun duapuluh enam, hasilnya adalah kemalangan. (Charles Dickens)

Satu-satunya cara untuk tidak berpikir tentang uang adalah memiliki banyak uang. (Edith Wharton)

Saya pikir orang yang menerima sebuah pekerjaan agar dapat hidup – katakanlah, untuk mendapatkan uang – telah mengubah dirinya menjadi seorang hamba (Joseph Campbell)

Mata ditutup uang 100 rb

Seorang yang benar-benar kaya adalah orang yang anak-anaknya datang ke dalam rangkulan lengan-lengannya waktu tangannya kosong. (Anonim)

Seorang yang bijak harus memiliki uang di kepalanya, tetapi bukan dalam hatinya. (Jonathan Swift)

Uang dan cinta adalah dua kata yang sering membuat pusing banyak orang. (S.Belen)

Uang & cinta

Uang ibarat cinta: ia membunuh perlahan-lahan dan menyakitkan orang yang terus-menerus memegangnya, dan menghidupkan orang lain yang memberikan uangnya kepada sesama. (Kahlil Gibran)

Crescit amor nummi, quantum ipsa pecunia crevit – Cinta uang bertumbuh sejalan dengan bertambahnya uang. Semakin banyak mendapatkan uang, semakin bertambah cinta anda kepada uang. (Juvenalis)

Nihil tam munitum quod non expugnari pecunia possit – Tiada benteng yang sedemikian kuat yang tidak dapat ditaklukkan dengan uang. (Cicero)

?????????????????????????????????????????????????????????

Jika persoalannya adalah uang, semua orang beragama yang sama. (Voltaire)

Uang ibarat tahi; ia tak berguna apa pun kecuali disebarkan ke sekeliling untuk mendorong yang muda bertumbuh. (Thornton Wilder)

Sama mudahnya menjadi bahagia dengan banyak uang dengan memiliki sedikit uang. (Marvin Traub)

Uang tak pernah memulai sebuah gagasan; adalah gagasan yang mengawali uang. (W J Cameron)

Laborare omnia vincit. (Bekerja mengalahkan segalanya).

Aneh: Manusia memang aneh: ingin di depan waktu dibagikan uang, di tengah waktu berjalan di malam gelap, dan di belakang waktu di medan pertempuran.

Sumber:

https://sbelen.wordpress.com/2009/06/29/penabung-jadi-manusia-bebas-ingin-kaya-bayar-hutang/

https://sbelen.wordpress.com/2008/10/13/kata-mutiara-menggelitik-tentang-uang/

https://sbelen.wordpress.com/2008/10/13/kata-mutiara-uang-lagi-lagi-uang/

https://sbelen.wordpress.com/2014/04/06/kata-mutiara-latin-tentang-keadilan-uang-korupsi-hukum-kesehatan-penguasa-cinta-perang-pidato-i-have-a-dream-martin-luther-king-jr/

https://sbelen.wordpress.com/2008/10/13/kata-mutiara-tentang-uang/

 

Kutipan menarik Manoj Arora, pengarang buku From the Rat Race to Financial Freedom

Manoj Arora

Manoj Arora adalah seorang eksekutif terkenal di India yang pindah dari satu perusahaan yang sukses ia pimpin ke perusahaan lain yang juga sukses. Setelah beberapa kali pindah, walaupun gaji / penghasilannya sudah amat tinggi, ia tidak puas. Ia baru mencapai kepuasan, kebebasan finansial setelah merintis dan membesarkan peruhaannya sendiri yang bergerak di bidang teknologi informasi.

From Rat Race to Financial Freedom

“Keluar dari zona nyaman anda itu berat di awal, kacau di tengah, dan mengagumkan di akhir…karena di akhir, ia menunjukkan kepada anda satu dunia baru!! Cobalah berusaha…”

“Jadilah seperti bebek, mendayung dan bekerja sangat keras di dalam air, tapi apa yang orang lihat adalah satu wajah tersenyum dan tenang.”

“Rasa nyaman adalah perangkap terbesar anda dan keluar dari zona nyaman adalah tantangan terbesar Anda.”

zona-nyaman

“Untuk mencapai apa yang 1% penduduk dunia miliki (kebebasan finansial), anda harus bersedia melakukan apa yang hanya 1% orang berani lakukan, yaitu kerja keras dan ketekunan tingkat tertinggi.”

“Jangan fokus kepada uang, sebagai gantinya fokus ke masalah yang perlu dipecahkan untuk dunia, uang akan mngikuti anda sebagai produk sampingan.”

“Sebuah ide brilian ibarat bayi dalam rahim seorang ibu. Anda perlu membawanya keluar ke dunia, memeliharanya, memberi makan, membuat ia bertumbuh sampai cukup besar untuk mengurus dirinya sendiri. Jika Anda berhenti pada tahap ide itu, itu sama saja dengan ide itu tidak pernah ada.”

act

“Waktu, bukan uang, adalah aset terbesar anda dalam hidup. Anda perlu waktu untuk berinvestasi dalam hubungan (dengan diri sendiri dan keluarga anda) atau untuk mengejar kegairahan anda. Pikirkan lagi bila anda masih memanfaatkan waktu hanya demi uang. Biarkan uang anda bekerja untuk anda. Anda tidak bekerja demi uang. Itulah makna sebenarnya dari kebebasan finansial … ”

Time and money

“Siapa yang akan mengajarkan semangat juang kepada anak-anak kita jika mereka tumbuh dewasa sambil melihat kita duduk dalam zona nyaman kehidupan. Kita harus bangun dan berjuang habis-habisan pada lingkup kegairahan (passion) kita, dan menjadi teladan bagi anak-anak kita.”

“Situasi hidup ibarat satu rangkaian kartu di tangan-tanganmu. Anda tidak dapat mengubah kartu, tapi Anda pasti bisa memainkan kartu-kartu itu dengan cara anda yang unik.”

??????????????????????????????????????????????????????????????????????

“Bukan apa yang anda katakan, tapi bagaimana anda mengatakan itulah yang penting. Produk yang 99% bebas lemak tampaknya lebih sehat daripada produk yang hanya mengandung 1% lemak.”

“Kebahagiaan itu tidak dirasakan baik pada masa lalu atau pun pada masa depan. Ia benar-benar ada di sini, sekarang.”

“Pengalaman terpenting seseorang adalah yang membawanya sampai ke batas kemampuannya. Untuk belajar lebih dari itu, kita perlu mengumpulkan seluruh keberanian dan memperluas batas kemampuan kita. Seks, rasa sakit, dan cinta, semuanya adalah pengalaman yang ekstrim. Bermimpi besar pun adalah satu pengalaman yang tak kalah ekstrim.”

dreams

“Waktu perlu diinvestasi dan dikelola dengan bijaksana, jauh lebih serius daripada uang. Waktu adalah semua yang anda miliki, dan suatu hari anda akan sadar bahwa anda punya waktu lebih kurang dari apa yang anda pikirkan.”

.
“Apa yang terjadi di luar Anda, dan apa yang terjadi di dalam diri Anda – terjadi di dua dunia yang sama sekali berbeda. Anda dapat mengambil alih hanya satu dari dunia-dunia ini.”

.
“Bagi seorang pemimpi, rasa sakit dan rasa nikmat itu sinonim.”

.
Uang dan mati

Pecunia est non omnis in omnibus sed sine pecunia inveniemus difficultates in omnibus. Uang bukan segala-galanya tapi tanpa uang susah segala-galanya. (S Belen)

Iklan

SMK Pertanian St Pius X Bitauni, Insana di Timor: Model sekolah berasrama yang nyaris gratis

Agustus 22, 2014

Sekolah berasrama termurah di tanah air berkat unit produksi yang sukses

Jalan menuju Gua Maria Bitauni

Jalan masuk menuju Sekolah Menengah Kejuruan Pertanian Bitauni, Insana, Timor

 

Kamis subuh, 30 Juli 2014 saya dan istri terbang dari Jakarta, transit di Bandara Juanda Surabaya, dan melanjutkan penerbangan ke Kupang. Dari Kupang kami menuju Nenuk, 10 km sebelum Kota Atambua, ibu kota Kabupaten Belu (yang berbatasan dengan Timor Leste) untuk berpartisipasi dalam seminar Pendidikan yang dihadiri uskup, para imam, dan pengurus yayasan persekolahan Katolik Keuskupan Atambua. Keuskupan ini meliputi 3 kabupaten, yaitu Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Kabupaten Belu, dan kabupaten pemekaran yang baru, yaitu Kabupaten Malaka. Dalam perjalanan ini kami singgah untuk mengunjungi SMK Pertanian Pius X di Bitauni, Kiupukan, Insana, Kabupaten TTU, sekitar 23 km selepas Kota Kefamenanu, ibu kota Kabupaten TTU ke arah Atambua.

Mengapa kami mengunjungi SMK Pertanian berasrama ini? Dalam benak kami, menjelang presentasi dalam seminar pendidikan pada 31 Juli di Nenuk, kami akan menyampaikan pentingnya mempertahankan, menambah, dan meningkatkan pendidikan sekolah berasrama di tanah Timor khususnya dan NTT umumnya. Mengapa? Sekolah berasrama seperti seminari, SMP, SMA, dan SPG berasrama di tanah Timor sejak dimulainya pendidikan missi telah terbukti mampu meningkatkan mutu dan relevansi pendidikan. Yang lebih penting lagi adalah sekolah berasrama mampu menumbuhkembangkan nilai-nilai pendidikan karakter yang tangguh, tahan banting, dan pantang menyerah sebagai bekal lulusan melanjutkan pendidikan dan berkiprah dalam kehidupan profesi dan bermasyarakat.

Sekolah berasrama di Timor khususnya dan NTT umumnya telah terbukti menjadi pintu mobilitas sosial individu dan menjadi agen perubahan masyarakat Timor dan NTT.  Tak terbayangkan ketertinggalan masyarakat Timor dan NTT tanpa eksistensi sekolah berasrama.

Di sekolah berasrama selama 24 jam tiap hari pendidikan anak berlangsung. Disiplin belajar, kemahiran menggunakan waktu, kemandirian mencuci dan menyeterika pakaian, bekerja tangan (opus manuale) menyapu dan mengepel sekolah dan asrama, membersihkan kamar mandi, toilet, dan got, menyiangi rerumputan, menanam dan menyirami tanaman, bahkan menggunting rambut. Waktu mengikuti ibadah, pelajaran, makan, istirahat dan tidur, studi mandiri, berolahraga dan bekerja tangan, berlatih bakat bermain musik, berolah vokal, melukis, membuat patung dan kerajinan tangan, bermain drama, menanam dan memelihara tanaman, membudidayakan unggas dan ternak telah diatur mengikuti jadwal yang ketat. Pada jam studi mandiri diterapkan aturan silentium yang keras (harus diam, tenang, tidak boleh berisik) sehingga ibarat bila ada jarum yang jatuh ke lantai pasti terdengar bunyinya.

Pola asuh seperti ini hanya bisa dilakukan di oase “keluarga buatan” yang bernama sekolah berasrama. Dukungan aktivitas belajar dan pendidikan karakter siswa belum mampu dilakukan orang tua dalam keluarga secara baik dan benar. Kamar belajar siswa yang tenang dan dilengkapi meja belajar dan pencahayaan yang memadai (listrik) umumnya belum mampu disediakan orang tua baik di pedesaan maupun di perkotaan. Pengaturan waktu belajar dan istirahat siswa serta aktivitas olahraga dan bermain sulit disinkronkan dengan aktivitas orang tua, keluarga, dan lingkungan masyarakat setempat.

Selain itu, faktor pengaruh negatif lingkungan semakin meresahkan. Misalnya, kebiasaan pesta adat berhari-hari, kebiasaan konsumsi minuman keras, mabuk-mabukan, perjudian, pelecehan dan kejahatan seksual, konsumsi narkoba, pergaulan remaja dan muda-mudi yang berdampak penularan penyakit seksual dan kehamilan usia muda semakin meresahkan orang tua dalam mendidik anak-anaknya.

Namun, pembiayaan anak di sekolah berasrama yang mahal sulit ditanggung orang tua yang berprofesi petani, nelayan, supir, buruh, dan pegawai negeri biasa tanpa jabatan tinggi. Kemampuan ekonomi orang tua umumnya belum meningkat secara signifikan sehingga sekolah berasrama dipandang sebagai alternatif pendidikan yang mewah. Faktor ini mengakibatkan sejumlah sekolah berasrama terpaksa menutup asrama, tinggal menjadi sekolah biasa.

Memasuki kompleks SMK Pertanian Bitauni kami melihat para siswa pria sedang bermain bola kaki dan para siswa wanita dan pria yang lain menonton. Sesaat kemudian permainan berhenti dan mereka berjalan menuju asrama. Kami disapa sekian banyak siswa yang mengucapkan selamat sore dengan ramah. Romo Vinsen Manek Mau (kepala sekolah), Romo Yerem Seran, dan Romo Agus Klau serta Uskup emeritus Anton Pain Ratu yang tinggal di sebuah kamar di SMK ini sudah pergi ke Nenuk. Kami hanya bisa bertanya kepada beberapa siswa yang sempat ditemui.

Pertandingan bola kaki SMK Bitauni vs Desa Bitauni 2

Para penonton pertandingan bola kaki antara siswa SMK Pertanian Bitauni dengan pemuda Desa Bitauni dalam rangka perayaan hari Proklamasi 17 Agustus

Pertandingan bola kaki SMK Bitauni vs Desa Bitauni 3

Pertandingan bola kaki SMK Bitauni vs Desa Bitauni

 

Pertanyaan pertama kami kepada siswa-siswa itu adalah apakah semua siswa wajib tinggal di asrama. Jawabannya ya. Berapa uang asrama yang harus dibayar siswa per bulan? Jawabannya Rp 15 ribu per bulan. Waduh, ini benar-benar mengagetkan. Masa’ Rp 15 ribu per bulan. Apakah siswa masak sendiri untuk makan 3 x sehari? Jawabannya ya. Apakah masak pakai kompor? Jawabannya, ada yang pakai kompor, ada yang pakai kayu api. Agar pekerjaan memasak tak terlalu menyita waktu  belajar, mereka atur masak dalam kelompok-kelompok pertemanan dengan giliran memasak secara bergilir. Apakah siswa membawa bekal dari rumah. Jawabannya ya, bawa bekal beras dari rumah. Lalu, kami bertanya lagi, kalau makan lauknya apa? Jawabannya ya kami makan dengan sayur yang kami tanam sendiri di bedeng individu tiap siswa. Lauk yang lain bisa sup kacang hijau, ikan teri, daging dendeng kering, telur kalau ada. Kalau sudah tak ada lauk lagi ya makan dengan supermie. He he he. Mereka tampak bangga bisa makan dari usaha sendiri dan tidak memberatkan beban keuangan orang tua.

Mayoritas orang tua yang berprofesi petani sulit mendapatkan uang tunai tapi mereka memiliki beras dan jagung yang disimpan di lumbung untuk konsumsi keluarga selama satu tahun atau lebih. Kalau siswa tinggal di rumah ya orang tua harus menjamin terpenuhinya kebutuhan makan anak 3 x sehari. Kalau mereka diwajibkan tinggal di asrama dan masak sendiri ya jatah makanan yang dimakan di rumah tinggal dialihkan menjadi bekal yang dapat dibawa ke asrama. Beban ini terasa tidak terlalu memberatkan.

 

Dua siswa SMK Pertanian Bitauni bangga atas hasil kerjanya 3 - Copy

Bangga menunjukkan hasil kerja dengan keringat sendiri, sambil menunjukkan tanda victory, kemenangan.

Dua siswa SMK Pertanian Bitauni bangga atas hasil kerjanya 2 - Copy

 

Berapa besar uang sekolah (SPP) yang harus dibayar tiap siswa? Jawabannya Rp 50 ribu per semester. Waduh, tambah kaget lagi. Kalau tiap semester itu 6 bulan berarti tiap orang tua siswa membayar uang sekolah tiap siswa per bulan hanya sekitar Rp 8 500 + uang asrama Rp 15 000 = Rp 23 500 per bulan. Dengan demikian, dalam setahun orang tua hanya mengeluarkan biaya Rp 282 000 bagi anaknya di sekolah berasrama ini. Angka ini benar-benar berbeda antara bumi dan langit jika dibandingkan dengan biaya uang sekolah dan uang asrama dari sekolah berasrama, dalam hal ini SMA berasrama yang terkenal di Jabodatabek. Di sini orang tua harus membayar total Rp 70 juta s.d. Rp 100 juta per tahun bergantung kepada reputasi sekolah itu, apakah sekolah internasional, sekolah nasional plus atau sekolah nasional. Padahal, jika dibandingkan kualitas pendidikan karakter  di SMK Pertanian Bitauni apa yang dialami siswa di kampung itu mungkin jauh lebih bermakna daripada yang dialami siswa di sekolah berasrama supermahal itu.

Kami benar-benar kaget mendengar informasi betapa murah uang sekolah dan uang asrama di SMK Pertanian Bitauni karena sejauh informasi yang kami ketahui, tak ada sekolah berasrama di tanah air yang semurah ini. Nyaris gratis. Slogan sekolah negeri gratis telah dilaksanakan sekolah swasta berasrama ini. Kami belum menemukan model sekolah seperti ini yang lain di tanah air dan di negara-negara lain yang pernah kami kunjungi.

Kami bertanya lagi, apakah siswa wajib ikut misa (ibadah harian biasanya di pagi hari)? Jawabannya ya. Bangun pagi jam berapa? Jam 5.00 pagi. Apakah siswa berolahraga di sore hari? Jawabannya ya, diatur cabang olahraga yang mana digilir antar-siswa. Yang penting semboyan “mens sana in corpore sano” (jiwa yang sehat dalam tubuh yang sehat) diterapkan dalam kehidupan keseharian mereka.

Kamis 21 Juli 2014 pada Pesta Santo Pius X, sekolah ini merayakan pesta perak (25 tahun usia) sekolah ini, yang didirikan tahun 1989. Lahan sekolah ini seluas sekitar 26,5 hektar. Tanah ini dulunya bersifat asam sehingga kurang diminati penduduk. Setelah ditanami aneka- pohon dan dibudidaya kini tanah menjadi subur.   Kepada para siswa, pembina sering mendengungkan semboyan bahwa di atas batu karang tanaman dapat tumbuh subur dan akhirnya menghasilkan cukup makanan, asalkan anda tidak hanya mau bekerja keras tapi juga bekerja cerdas. Biji sesawi itu adalah biji yang paling kecil dari segala jenis benih, tetapi apabila sudah tumbuh, sesawi itu lebih besar daripada sayuran yang lain, bahkan menjadi pohon, sehingga burung-burung di udara datang bersarang pada cabang-cabangnya.

Kini SMK ini menampung 469 siswa yang tersebar dalam tiga program studi, yaitu Agronomi, Teknologi Hasil Pertanian, dan Budidaya Ternak. Enrolmen meningkat dari tahun ke tahun dan tahun ini diterima 309 siswa baru. Siapa pun siswa yang datang dari latar belakang suku dan agama apa pun diterima tanpa tes seleksi. Didukung kehidupan berasrama yang menjamin disiplin belajar siswa, praktik teori yang dapat dilanjutkan di sore hari dan hari libur, dan bimbingan para guru dan pamong asrama, kelulusan 100% dalam ujian nasional merupakan prestasi siswa sekolah ini. Tahun ajaran 2012, 120 siswa kelas III mengikuti ujian nasional dan kelulusannya 100%. Ujian nasional tahun 2013 diikuti 112 peserta sedangkan tahun 2014 diikuti 72 peserta dan semuanya lulus 100%. Tak ada yang tercecer.

Dalam olimpiade sains terapan SMK 2014 tingkat Provinsi NTT, siswa sekolah ini merebut juara I bidang studi Fisika dan Kimia dan akan ikut lomba olimpiade sains terapan tingkat nasional di Jakarta. Minggu kedua Agustus siswa SMK ini mengikuti lomba di Kupang dan dua siswa merebut juara I Biologi dan Fisika dan satu siswa merebut juara III Kimia. Pada minggu ketiga Agustus dua siswa ikut lomba kompetensi siswa bidang pertanian dan peternakan di Kupang dan berhasil merebut juara II. Dalam rangka perayaan 17 Agustus para siswa ikut perlombaan kesenian, olahraga, dll. dan merebut juara I bola kaki putra dan juara I bola voli putri.

Inilah indikator dan sekadar contoh prestasi siswa SMK Bitauni yang secara umum menggambarkan mutu dan relevansi sekolah ini. Mengapa bisa begitu? Ya, karena pendidikan yang berkualitas dan karakter yang ditumbuhkembangkan melalui revolusi mental di sekolah berasrama ini.

Belajar biologi, kimia, fisika tidak semata teoritis tapi dipraktikkan untuk memecahkan masalah dalam aktivitas bertani dan beternak melalui eksperimentasi dan inovasi. Pelajaran akademis melalui pemecahan masalah dan kreativias berproduksi divariasikan dengan pengembangan potensi kinestetik melalui olahraga dan kreativitas berkesenian serta pengembangan kecerdasan spiritual melalui ibadah dan sosialisasi dengan sesama teman serta guru dan pembina.

Teknologi penanaman, pengolahan, pemupukan, pemberian makanan yang terbaru diterapkan. Siswa per kelompok program studi menghasilkan produk berupa aneka-sayuran, bawang merah, cabe, dan tomat. Siswa pun membuat anggur dari buah dan kulit pisang dan dijual seharga Rp 15 ribu per botol. Siswa pun memelihara unggas (ayam) dan menjual ayam dan telur. Siswa juga memelihara babi yang sudah bisa dijual dengan harga Rp 2,5 juta s.d. Rp 3,5 juta bergantung kepada beratnya. Babi divaksinasi dan diberi makanan sehat yang mampu menggemukkan babi dan bisa dijual setelah berusia 6 – 7 bulan. Pasar babi di Timor khususnya dan NTT umumnya menjanjikan karena daging babi menjadi bagian dari adat pesta berbagai suku. Kalau terjadi kekurangan babi di Timor, orang akan impor dari Flores atau sebaliknya. Kalau Sumba kekurangan babi akan diimpor dari Flores dan Timor. Produk unit produksi siswa dijual ke pasar, juga ke Kupang, dan ada yang sudah diekspor ke Jawa dan Kalimantan. Ada juga penjual di pasar yang datang sendiri ke sekolah membeli produk sekolah ini.

 

Embung penampung air hujan di SMK Pertanian Bitauni Timor

Segala aktivitas budidaya tanaman, unggas, dan ternak mengandalkan cadangan air dari satu-satunya embung di sekolah ini. Air tidak dialirkan melalui pipa tapi ditimba siswa dan dibawa untuk menyirami tanaman dan memberi minuman kepada unggas dan ternak.

Bedeng sayuran, tomat, cabe di SMK Pertanian Bitauni Timor

Bedeng sayuran, tomat, cabe di SMK Pertanian Bitauni Timor 4

Embung dan bedeng sayur di SMK Pertanian Bitauni Timor 2

Embung dan bedeng sayur di SMK Pertanian Bitauni Timor

 

Romo Vinsen Manek mengatakan, menjelang perayaan ulang tahun perak sekolah ini, tanaman sayur brokoli, tomat, dan bawang merah siap panen.

Brokoli

Kebun Tomat

bawang merah

Melalui penjualan produk yang dihasilkan siswa per kelompok program studi, siswa memberikan sumbangan pembiayaan sekolah melalui pendapatan asli sekolah (PAS). Dengan demikian, secara tidak langsung sebenarnya siswa mensubsidi dirinya sendiri sehingga uang sekolah per semester dan uang asrama per bulan bisa ditekan semurah mungkin. Selain produk hasil belajar siswa, dana BOS sebesar Rp 500 ribu per siswa per tahun membantu pembiayaan sekolah. Beasiswa bagi siswa “miskin” sebesar Rp 1 juta per tahun juga membantu sehingga uang sekolah bisa ditekan seminimal mungkin. Selain itu, ada bantuan dana juga dari yayasan lokal dan bantuan pengembangan kapasitas dari Plan International. Pengelolaan dana sekolah yang dilakukan secara transparan, akuntabel, dan kredibel memungkinkan sekolah ini membayar gaji guru secara memadai, lebih besar dari gaji guru SMK dan SMA swasta lain di Timor khususnya dan NTT umumnya.  Bahkan gaji guru sekolah ini lebih tinggi dari gaji dosen universitas swasta. Jumlah guru sekolah ini yang merangkap tenaga lapangan sebanyak 30 orang dan karyawan 11 orang. Jumlah guru dapat ditekan menjadi minimal karena tiap guru berperan juga sebagai tenaga lapangan. Tidak dipisahkan status guru dan status tenaga lapangan seperti di SMK yang lain.

Kisah sukses SMK Pertanian Bitauni tidaklah jatuh dari langit, tapi melalui perjuangan konsisten dan tekun selama 25 tahun. Faktor lain yang tak kalah mendukung adalah pimpinan gereja, dalam hal ini uskup memberi perhatian dan bantuan langsung. Baik uskup Dominikus Saku kini dan uskup Anton Pain Ratu (sekarang dalam status uskup emeritus, pensiun) membantu melalui pemanfaatan networking untuk pengembangan SDM (sumber daya manusia), tenaga pendidik di sekolah ini. Kehadiran uskup emeritus Anton Pain Ratu langsung di tempat yang hidup dalam komunitas kecil dengan tiga romo di sana menjadi motivasi yang tak ternilai bagi ketekunan memecahkan masalah yang dihadapi. Ketiga romo yang bertugas di sana menunjukkan passion mendidik anak-anak remaja untuk menjadi petani teladan.

Uskup emeritus Anton Pain Ratu memilih tinggal di SMK Pertanian ini setelah beliau pensiun. Banyak imam dan warga umat terheran-heran mengapa beliau memilih tinggal di sebuah kamar sederhana di sekolah ini. Dalam obrolan di meja makan selama seminar di Nenuk, kami katakan kepada Mgr Anton Pain Ratu mengapa beliau tetap sehat dan berumur panjang. Tiap hari beliau melihat anak-anak tumbuh dan berkembang menjadi petani teladan. Ini membuatnya berumur panjang. Di forum seminar, kami katakan bahwa melihat kamar sederhana uskup tituler, bukan kaul kemiskinan tapi kaul kemelaratan yang diterapkan. Dari obrolan di meja makan, baru saya tahu bahwa selama jadi uskup aktif, beliau hanya tidur di atas papan tanpa kasur. Suatu kali datang keluarga dari Adonara, Flores Timur berkunjung dan menangis melihat opa uskup kok tidur tidak pakai kasur, hanya beralas papan dan tikar. Keluarga langsung ke Atambua membeli kasur. Sejak waktu itu ia terpaksa pakai kasur agar tidak mengecewakan keluarga. Waktu umat mendengar bahwa Paus Fransiskus hidup sederhana, sambil bercanda umat bilang, oh pasti bapa paus meniru kesederhanaan uskup Anton Pain Ratu. He he he.

Setelah saya bercerita kepada teman-teman tentang kisah sukses SMK Pertanian Bitauni, Pak Fidelis Waruwu, pakar pendidikan karakter dan pendidikan nilai menyatakan: “Kelihatannya kita membutuhkan revolusi mental, kita bisa belajar bagaimana memanfaatkan semua lahan yang ada, beternak dan berkebun. Kalau ini kita lakukan, kelihatannya pemberdayaan seluruh masyarakat sedang terjadi. Saya ingat pepatah China kuno yang selalu dikutip melawan kebijakan pemerintah yang gemar memberi ‘Bantuan Langsung Tunai’ — ‘Beri seseorang ikan, Anda memberinya makan sehari; ajari dia mengail, Anda menghidupinya seumur hidupnya.; — Jadi yang dilakukan sekolah ini adalah memberi anak-anak itu kail.”

 

Kiprah alumni, kita bisa, dan unit produksi di sekolah umum

 

Lulusan sekolah ini ada yang melanjutkan ke fakultas pertanian di universitas atau ke politeknik pertanian di Kupang dan di luar Timor. Ada pula yang telah menjadi dosen universitas. Namun terbanyak terjun menjadi petani yang dapat menjadi teladan kepada sesama petani di lingkungannya.

Betapa cocok dan relevan para penggagas dan pembina memilih jenis SMK yang sesuai dengan potensi pertanian lahan kering dan peternakan Timor. Mereka tidak memilih SMK perhotelan atau bisnis dan akuntansi yang membuat anak Timor tercerabut dari habitatnya. Sukses sekolah ini mendorong orang tua untuk lebih memilih menyekolahkan anaknya di SMK daripada di SMA lalu melanjutkan ke universitas, lalu pulang ke kampung menjadi penganggur.

Di tanah air, bahkan di NTT sendiri sekolah ini tidak banyak dikenal. Namun, reputasinya telah dikenal pemerintah Timor Leste yang telah menjalin kerja sama dengan sekolah ini. Para guru di Timor Leste telah datang dan belajar dari sekolah ini.

Gagasan unit produksi di SMK mendorong kami dalam beberapa tahun ini membawa ide ini untuk diterapkan di sekolah umum (SD, SMP, dan SMA) melalui pendidikan kewirausahaan siswa. Saran ini kami ulangi lagi dalam penataran Kurikulum 2013 di SMA Surya di Atambua pada 1 Agustus 2014 yang dihadiri 120 guru dan kepala sekolah dari 7 sekolah. Biarlah anak-anak Timor bisa jadi wirausahawan di negeri sendiri. Masa’ warung dimiliki orang Padang dan orang Jawa, lalu orang Timor jadi konsumen sepanjang masa. Orang Timor menjual murah daging sapi, lalu orang Jawa bikin bakso, kita beli lebih mahal. Aneh tapi nyata.

20140801_082206

Menata ulang kelas dari duduk berbaris ke duduk dalam kelompok di SMA Surya untuk memudahkan interaksi dan komunikasi guru – siswa- siswa dalam melaksanakan belajar aktif.

20140801_082157

Pada tanggal 2 Agustus pagi saya dan istri dari Kupang terbang ke Pulau Sumba dan tiba di Bandara Tambolaka dan segera ke Seminari (SMP dan SMA) Sinar Buana, di Waitabula, ibu kota Kabupaten baru, Sumba Barat Daya. Dari Senin 4 Agustus s.d. Rabu 6 Agustus kami menatar para guru seminari tentang Kurikulum 2013 melalui belajar aktif sekaligus mengajak menemukan solusi pendidikan kewirausahaan siswa dan unit usaha apa yang cocok bagi seminari untuk menciptakan sumber dana baru agar seminari ini mampu meraih financial freedom, kebebasan finansial dalam menyelenggarakan dan mengelola sekolah. Tradisi seminari itu mandiri, berdiri di atas kaki sendiri, tidak mengandalkan bantuan pemerintah walaupun bantuan itu bersumber dari pajak rakyat. Di mana-mana di dunia ini, pengelolaan sekolah swasta itu cenderung efisien dan umumnya sekolah swasta-lah yang lebih bermutu dan mampu menyesuaikan diri dengan tuntutan zaman. Betapa pun besar dukungan dana pemerintah, sekolah negeri di mana-mana cenderung kalah bersaing dalam mutu dan relevansi serta pendidikan karakter siswa dibandingkan sekolah swasta.

IMG-20140806-04083

IMG-20140806-04082

Belajar tidak selalu harus di dalam ruang kelas. Siswa SMP dan SMA Seminari Sinar Buana Sumba belajar matematika, IPA, IPS, bahasa, bahkan agama di luar kelas, di alam. Sirkulasi darah lebih lancar, stimuli dari pepohonan, bebatuan, awan, pemandangan, dan manusia sekitar meningkatkan kreativitas dan kelancaran kinerja otak.

IMG-20140806-04088

IMG-20140806-04106

Impian kami adalah menerapkan model sekolah kerja (Arbeit Schule, Do School) seperti INS Kayu Tanam di Sumatera Barat pada zaman penjajahan dan gagasan kunci Kurikulum 1947, ide sekolah kerja pada awal kemerdekaan. Tampaknya model sekolah kerja ini telah diterapkan SMK Pertanian Bitauni dan pasti dapat diterapkan pada sekolah umum (SD, SMP, dan SMA) melalui pendidikan kewirausahaan yang memadukan kegiatan kurikuler mata-mata pelajaran dan kegiatan ekstrakurikuler.

SMK Pertanian ini hanya mengandalkan satu embung yang menampung air hujan tatkala musim hujan dan dipakai selama 1 tahun, termasuk di musim kemarau. Siswa menimba air dari embung dan menyirami aneka tanaman tiap kelas dan tiap siswa (bedeng pribadi). Selama ini air di embung masih cukup. Untuk keperluan mencuci pakaian, memasak, dan mandi digunakan air tanah. Lahan yang dulunya berciri asam dan gersang kini telah memiliki cadangan air tanah yang memadai.

 

 Embung dan bedeng sayur di SMK Pertanian Bitauni Timor 2

 

Siswa SMK Bitauni menari dalam pertemuan kakak alumni

Suasana pesta reuni alumni SMK Pertanian Bitauni

Romo Vincent Kepala SMK Pertanian Pius X Bitauni

Kepala sekolah Romo Vinsen Manek (tengah) sedang memimpin rapat alumni sebagai persiapan perayaan ulang tahun sekolah

Reuni alumni SMK Bitauni 4

Suasana rapat alumni

Alumni SMK Pertanian Bitauni bermusik dan menyanyikan anggur merah

Suasana perayaaan temu alumni

Alumni SMK Bitauni reuni di sekolahnya Agustus 2013

Alumni SMK Bitauni di sekolahnya Agustus 2013

Acara reuni alumni SMK Bitauni nostalgia

Tarian siswa SMK Bitauni pada acara reuni

Acara reuni alumni SMK Bitauni nostalgia 2

Betapa pun tantangan yang dihadapi, kita bisa

 

Timor khususnya dan Nusa Tenggara Timur (NTT) adalah salah satu wilayah yang berada di garda terdepan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan 22 kabupaten/kota karena berbatasan langsung dengan Timor Leste dan bertetangga dekat dengan Australia. NTT juga menjadi salah satu daerah “3T” (Terluar, Terpencil, dan Terdepan), saya tambahkan satu “T” lagi, Tertinggal. Meskipun kata-kata itu kedengarannya sangat menyayat hati, tetapi itulah kenyataan yang harus kita hadapi. NTT tertinggal dalam banyak hal, seperti ekonomi, kesehatan, pendidikan dan lain sebagainya.

Dalam bidang pendidikan NTT masih tertinggal jauh dari provinsi lain di Indonesia. Pada tahun 2013 yang lalu, persentase kelulusan hasil ujian nasional (salah satu indikator keberhasilan bidang pendidikan) NTT berada di urutan ke-29 dari 33 propinsi, lebih baik dari tahun sebelumnya urutan ke-33. Hasil ini mencerminkan keprihatinan bidang pendidikan di NTT. Banyak hal yang menjadi biang dari masalah itu. Salah satunya adalah minimnya sarana dan prasarana pendidikan. Ini juga sebagai sumbangsih dari masalah politik, dan kesejahteraan rakyat. Isu yang paling sering diangkat juga adalah kita tertinggal jauh dalam hal teknologi informasi dan modernisasi.

Namun, di tengah pesimisme ini, muncul fajar menyingsing dari Bitauni, Kecamatan Insana, di tengah tanah Timor. SMK Pertanian Bitauni telah membuktikan bahwa melalui revolusi mental yang ditunjang manajemen dan kepemimpinan para pembina yang memiliki passion, gairah luar biasa pengabdian, di atas batu karang Pulau Timor dapat dibuat mujizat. Tanah berbatu karang dapat menghasilkan tanaman dan ternak melalui pembinaan karakter siswa yang melandasi mutu pendidikan yang terandalkan. Para pembina terus menanamkan kepercayaan diri siswa melalui slogan, kita bisa, kita bisa. Tak ada yang mustahil dalam hidup ini kalau kita selalu berprinsip, kita bisa.

Pengalaman keterampilan karakter

&

Pengalaman keterampilan karakter 2

Kami coba browse facebook alumni SMK Pertanian Santo Pius X Bitauni, Timor Tengah Utara, NTT dan mendapatkan ungkapan seorang alumnus, Alex Tikneon yang menilai sekolahnya ini pada status facebook-nya dalam rangka reuni alumni sekolah ini sbb:

“Di dalam nama grup ini, yaitu SMK ST PIUS X BITAUNI, mental saya dibentuk untuk kemudian menjadi orang yang bermental kerja keras, tanggung jawab, berkarismatik, dan hal-hal positif dalam mengarungi hidup ini…. Di sekolah ini, aku diajar untuk menghargai waktu, di sekolah ini, aku diajar tentang bagaimana hidup mandiri kelak, dan di sekolah ini tidak diajarkan suatu saat menjadi PNS melainkan pekerja, di sekolah ini, aku diajarkan bagaimana mendekatkan diri dengan Tuhan…. Akhirnya Puji Tuhan, dengan bekal yang diberikan sekolah ini, aku bisa menjalankan hidup ini dengan berdiri di atas kaki sendiri…. Salam semua alumni sekolah ini. Tuhan memberkati kalian semua.”

 

Alex Tikneon alumnus SMK Pertanian Bitauni dan istri

Alex Tikneon dan istri

Alex Tikneon dan keluarga, seorang alumnus SMK Pertanian Bitauni

Alex Tikneon di tengah keluarga

Alex Tikneon alumnus SMK Pertanian Bitauni dengan foto latar belakang rumahnya

Mengarungi masa depan dengan rasa percaya diri dan optimisme

Selama 25 tahun usia sekolah ini, telah dihasilkan sekian banyak alumni, terbanyak terjun menjadi petani di lingkungan masyarakatnya. Ada yang tidak duduk diam dan menyaksikan karut marut politik yang berciri transaksi pragmatis. Pengamatan kemiskinan yang masih membelit penduduk mendorong sejumlah alumni untuk mewarnai pertarungan politik melalui terjun langsung.

Para pembina sekolah ini sering mengingatkan para siswa bahwa jika kita berikhtiar, mujizat Tuhan, kemahamurahan hati Tuhan bisa terjadi dan terjadi lagi. Dari semula dua ekor ikan dan lima potong roti akhirnya kita bisa memberi makan kepada lima ribu orang dan sisanya bisa dijual.

Dalam obrolan dengan siswa kelas II SMK ini anak-anak remaja itu dengan bangga bercerita tentang aktivitas belajarnya menanam dan memelihara ternak. Mereka tampak optimis menghadapi masa depan. Ketika ditanya, selesai sekolah mau jadi apa umumnya mengatakan bercita-cita menjadi petani teladan.

Unit produksi di sekolah umum melalui pendidikan kewirausahaan

Khusus untuk NTT umumnya dan Timor khususnya, kami mengidam-idamkan sekolah berasrama yang bisa hidup melalui unit produksi, tidak hanya SMK tapi juga SMP dan SMA berasrama dan juga SD tanpa asrama. Sekolah berasrama sering terbayangkan sebagai sekolah mahal karena uang asrama yang cenderung tinggi sehingga hanya orang tua yang mampu dapat menyekolahkan anaknya di sekolah berasrama. Ternyata, SMK Pertanian Bitauni telah membuktikan bahwa sekolah berasrama tidak mesti mahal, bisa murah, bahkan demikian murahnya sehingga dikatakan nyaris gratis.

Kami kemukakan beberapa contoh awal pendidikan kewirausahaan yang dapat berkembang menjadi unit produksi. Para siswa SMA Terpadu HTM (berasrama) di Halilulik, Kabupaten Belu telah menanam pohon naga dan buahnya yang lezat dan bergizi dimakan para siswa. Kepala sekolah bingung mau diapakan buah naga yang berlimpah yang siap panen. Dalam obrolan waktu seminar pendidikan di Nenuk, kami katakan, mengapa tidak melatih siswa memproses buah naga menjadi sirup dan selai yang bisa dijual ke Kupang, bahkan ke luar pulau? Mau tahu caranya? Tinggal googling saja di internet dan dapat ditemukan proses cara membuatnya. Kalau kurang jelas ya cari videonya di Yotube. He he he.

??????????

??????????

Para siswa SMA Seminari Lalian di Kabupaten Belu telah berwirausaha melalui menanam sayuran, memelihara ayam dan babi, dan akan memelihara sapi. Sayur yang dipanen dijual ke seminari untuk dimakan mereka sendiri. Telur dan ayam serta babi dijual ke pasar di Atambua. Selain itu, siswa membuat dan mengelola koperasi siswa sendiri.

Para siswa SMA Giovanni di Kupang belajar desain grafis dasar yang ditindaklanjuti dalam mata pelajaran Prakarya dan Kewirausahaan. Mesin untuk sablon gelas dan baju telah dipesan. Ternyata gelas dan baju yang disablon coba dijual dan ternyata laris manis. Kini penyablonan telah menjadi cikal bakal unit produksi. Hasil penjualan dapat digunakan untuk membeli keperluan sekolah. Kata kepala sekolah, “Intinya kami ajarkan skill kepada anak agar di kemudian hari mereka bisa berkuliah sambil usaha.”

Para siswa SMP Negeri Buti di Merauke yang terletak tak jauh dari pantai dilatih membuat abon ikan dari ikan yang dibeli murah waktu musim ikan. Hasil penjualan abon ikan a.l. digunakan untuk memberi makan kepada semua siswa dan guru 2 x per minggu. Mereka pun dilatih budidaya ikan pada bekas lubang galian pasir yang disulap menjadi kolam ikan. Kemudian, siswa juga dilatih memelihara angsa dan sapi yang didatangkan dari Jayapura atas bantuan dinas pertanian Merauke. Kalau upaya ini konsisten dilakukan, sekolah ini dapat menjadi sekolah kaya.

Tiga ratus lima puluh siswa dari kelas I s.d. VI sebuah SD di Batu Raja, Sumatera Selatan telah mencoba menanam sayur pada pot hidroponik. Waktu pelatihan Kurikulum 2013 di Bandar Lampung kami memberi file tentang cara membuat pupuk padat dan cair organik dan cara menanam pada pot hidroponik dan polibag. Kepala sekolah menelepon kami mengabarkan berita gembira bahwa para siswa telah berhasil menanam sayur pada pot hidroponik dan akan panen. Saya tanya, sayur itu nanti diapakan? Jawabnya, ya siswa memasak dan makan rame-rame. Saya tantang lagi, hayo, bertahap ditingkatkan tiap siswa 2, 3, 4, dan kemudian 5 pot hidroponik dan berkembang terus akhirnya bisa diatur penjualan sayur sawi, bayam, tomat, cabe, dll. ke pasar di Batu Raja. Hasil penjualan bisa digunakan untuk membeli keperluan sekolah.

Sayur sawi di pot hidroponik

Contoh sayur sawi yang berhasil tumbuh subur pada pot hidroponik. Sayur ini mendapatkan asupan makanan dari pupuk cair yang dicampurkan dengan air. Tak perlu disiram lagi. Tidak bergantung pada hujan. Di musim kemarau pun sayur dapat ditanam.

Inspirasi dari Nenuk, Kabupaten Belu, Timor

Di Nenuk sebagai biara induk Soverdi (SVD) Timor, para calon imam dan bruder menjalani pendidikan rohani selama 2 tahun sebelum melanjutkan pendidikan filsafat dan teologi untuk menjadi imam atau pendidikan bidang lain untuk menjadi bruder. Para novis ini adalah lulusan SMA seminari atau SMA dan SMK umum.

Waktu mengikuti seminar pendidikan di Nenuk, kami sempat melihat-lihat ‘unit produksi’ sebagai media praktik para novis sebagai implementasi prinsip hidup ora et labora (berdoa dan bekerjalah). Mereka menanam dan memelihara tanaman serta beternak. Melalui upaya ini paling tidak mereka bisa makan dari apa yang diproduksi sendiri sekaligus menumbuhkembangkan semangat kewirausahaan agar sebagai imam mereka termotivasi memberdayakan kemampuan ekonomi umat dan sebagai bruder mereka bisa menempuh studi lanjut spesialisasi pertanian, peternakan atau bidang-bidang lain.

IMG-20140731-03996

Kompleks biara induk tampak depan

IMG-20140731-03994

Kamar Rektor biara tepat di sudut bangunan

IMG-20140731-03976

Panti pendidikan novis tampak belakang. Di area inilah berpusat ‘unit produksi’ peternakan dan sebagian pertanian.

IMG-20140731-03985

IMG-20140731-03986

Ternak ayam

IMG-20140731-03965

Ternak bebek

IMG-20140731-03969

IMG-20140731-03970

Ternak kambing

IMG-20140731-03967

IMG-20140731-03982

Ternak sapi

IMG-20140731-03977

Ternak burung merpati

IMG-20140731-03972

Bagian hutan tempat dibudidaya pula vanili

Kebun vanili

Tanaman vanili

Pendidikan kewirausahaan di lembaga pendidikan kejuruan atau umum di mana pun dapat dilakukan. Bidang praktik wirausaha dipilih sesuai dengan potensi dan konteks setempat. Praktik wirausaha ini dapat berkembang menjadi unit produksi sekolah jika dilakukan secara konsisten dan dikelola dengan semangat bisnis. Produk unit produksi bisa dijual untuk menambah sumber dana sekolah.

Advertorial

Diabetes

Bacalah posting kami berjudul:

https://sbelen.wordpress.com/2013/05/03/bawang-putih-cuka-apel-madu-jahe-lemon-jantung-sehat-tubuh-bugar/

Sano sembuhkan diabetes

Kartu nama Yuni 3