Posts Tagged ‘Kurikulum’

Teladan + pembiasaan = karakter

Mei 5, 2011

Tentang Budi Pekerti

Yang Utama Adalah Keteladanan

Kamis, 5 Mei 2011 | 03:18 WIB

KUPANG, POS-KUPANG.COM —Pendidikan budi pekerti sebagai mata pelajaran tersendiri hanya punya sejarah yang amat singkat dalam kurikulum di alam Indonesia merdeka, yaitu dari Kurikulum 1947 sampai dengan Kurikulum 1964. Yang paling dibutuhkan sebetulnya bukan mata pelajaran budi pekerti, tetapi keteladanan dan pembiasaan perilaku hidup yang baik dan mencerminkan nilai-nilai moral.

Demikian pendapat Dr. Sirilus Belen,  peneliti dan pegiat pendidikan, menjawab pertanyaan Pos Kupang melalui email, Rabu (4/5/2011), menanggapi pentingnya budi pekerti membangun karakter anak-anak sekarang. Dr. Sirilus Belen menghabiskan masa tugasnya sebagai PNS di Pusat Kurikulum Depdiknas Pusat, Jakarta. Dia meraih gelar master dan doktor di London. Saat ini, putra NTT ini berkeliling Indonesia memberi pelatihan kepada para guru untuk mengembangkan sekolah-sekolah model.

Menurut Sirilus, sejak hilang dari kurikulum pendidikan, budi pekerti diintegrasikan ke dalam pendidikan Kewarganegaraan, kemudian Pendidikan Moral Pancasila (PMP), dan kini Pendidikan Kewarganegaraan (Kurikulum KTSP 2006).

Sirilus mengingatkan, kurikulum hendaknya tidak dilihat secara sempit hanya berupa mata pelajaran. “Kurikulum adalah seluruh pengalaman anak, pengalaman siswa di sekolah,” katanya.

Menurutnya, pengajaran nilai-nilai moral dalam mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan yang mengandung nilai-nilai budi pekerti dewasa ini cenderung tidak efektif karena materi dan kompetensi dalam kurikulum terlalu bersifat kognitif dan diajarkan secara teoritis, verbalistis, cenderung menekankan nasihat tanpa penegakan imbalan dan sanksi dalam pelaksanaan nasihat.

Dia juga melihat perilaku anak-anak sekarang yang cenderung kasar dan gampang terlibat dalam aksi kekerasan karena terjadi kemerosotan keteladanan guru di sekolah dan suburnya kasus-kasus kejahatan yang diperankan orangtua dan dilihat anak-anak. “Di sekolah-sekolah di negara maju, tidak ada mata pelajaran pendidikan moral, tidak ada pendidikan budi pekerti sebagai mata pelajaran tersendiri, namun nilai-nilai moral siswa seperti kejujuran, sopan-santun, kasih sayang, adil dipraktikkan karena terjadi proses peneladanan dan pembiasaan dalam seluruh suasana dan aktivitas sekolah, termasuk dalam proses belajar-mengajar,” jelasnya.

Pentingnya proses peneladanan dalam menumbuhkembangkan budi pekerti siswa. Proses peneladanan adalah cara terpenting. Yang juga penting adalah proses pembiasaan. Prinsip peneladanan dan pembiasaan tidak menekankan nasihat karena menurut para ahli, 25% anak memperhatikan nasihat, 18% melakukan yang sebaliknya, dan 57% tidak melakukan apa pun. Hanya 1 dari 4 anak yang memperhatikan nasihat orangtua dan guru.

Menurutnya, proses peneladanan dan pembiasaan harus dimulai dari ‘kaki’, kemudian menyentuh ‘hati’, dan terakhir barulah ‘pikiran’. Perubahan perilaku individu dimulai dari kaki, dalam arti mulai bertindak, melakukan, berbuat, walaupun dalam tindakan kecil dan sederhana. Pada tahap berikutnya setelah anak terbiasa melakukan, ia mulai tertarik, termotivasi. Ia mulai ‘jatuh hati’ terhadap tindakan-tindakan yang biasa ia lakukan. Barulah, pada tahap terakhir perubahan perilaku individu dipengaruhi konsep, pikiran, pandangan di benaknya mengenai perilaku mana yang baik dan mana yang buruk. (len)

Editor : Bildad Lelan

Sumber: http://kupang.tribunnews.com/read/artikel/61260/kupangnews/senibudaya/2011/5/5/yang-utama-adalah-keteladanan

Iklan

Semprot

Hepatitis

Kunjungilah posting ini:

https://sbelen.wordpress.com/2013/05/03/bawang-putih-cuka-apel-madu-jahe-lemon-jantung-sehat-tubuh-bugar/

Gambar spanduk Sano

sano-sembuhkan-hepatitis

Kartu nama Yuni 2

Iklan

Kado bagi guru: Format baru silabus & RPP 1 halaman

April 28, 2009

Contoh silabus & RPP Tematik 1 halaman

Format silabus dan RPP pada prinsipnya dapat dikembangkan sendiri oleh guru. Format yang disampaikan BSNP dan Pusat Kurikulum Balitbang Depdiknas pada prinsipnya hanyalah tawaran yang dapat digunakan guru. Dalam pengembangan KTSP, guru diberi otonomi dan kebebasan mengembangkan kurikulum sekolah sendiri, termasuk format silabus dan RPP.  Jika format tersebut Anda rasa kurang cocok, kurang relevan, sebaiknya Anda kembangkan sendiri untuk mendapatkan format yang terbaik.

43

Berikut ini kami kemukakan format silabus & RPP mata pelajaran dan tematik dalam bentuk jaringan topik 1 halaman. Walaupun contoh ini untuk tingkat SD, guru SMP, SMA, dan SMK dapat menerapkannya sesuai dengan kompetensi dasar dalam kurikulum. Unsur tujuan pembelajaran dalam RPP kami hilangkan karena sudah terwakili pada kompetensi dasar dan indikator. Unsur metode pembelajaran juga tak perlu karena sudah terwakili dalam kegiatan pembelajaran. Dua unsur ini kurang relevan karena hanya membuat pengulangan yang tak perlu. Unsur standar kompetensi juga cenderung tak kami cantumkan karena umumnya standar kompetensi hanyalah akumulasi berbagai kompetensi dasar. Yang lebih penting dan terfokus adalah kompetensi dasar. Jika kompetensi dasar masih bersifat umum, belum spesifik, sebaiknya Anda jabarkan ke dalam kompetensi konkret. Guru-guru di Ambon, Jambi, Indramayu, Ternate, Tidore, dan Bacan senang memakai format ini. Silahkan klik di sini!

Contoh Silabus & RPP 1 halaman

Bagaimana tanggapan Anda?

DSCN5672

Seorang ibu guru di sebuah SD di Ternate, Maluku Utara sedang menulis di lantai keramik silabus & RPP 1 halaman berbentuk jaringan topik (mindmap) dalam inhouse training staf guru dan  kepala sekolah di sekolah ini. Jika tak ada kertas besar, lantai menjadi pengganti kertas.

PIC_1729

Ini adalah Silabus & RPP 1 halaman dengan tema “Kenampakan Alam”, yang dibuat Ibu Wati Lasidi, guru kelas III SD Labuha 1 di Pulau Bacan, Kabupaten Halmahera Selatan.

PIC_1673 - Copy

Para siswa kelas III SD Labuha 1 yang dibimbing Ibu Wati Lasidi sedang bermain drama dokter-dokteran dalam kegiatan belajar tema Malaria yang dirancang dalam bentuk silabus & RPP 1 halaman.

Salam hangat dari Labuha, Pulau Bacan, Maluku Utara

S.Belen

Iklan

 

 

1243328602_school-abuse

heart-attack

Kunjungilah posting ini:

https://sbelen.wordpress.com/2013/05/03/bawang-putih-cuka-apel-madu-jahe-lemon-jantung-sehat-tubuh-bugar/

https://sbelen.wordpress.com/2013/04/15/sano-ramuan-herbal-berkhasiat-mulai-bisnis-di-usia-62-tahun/

Gambar spanduk Sano

Kartu nama Yuni 6

Apa yang mendorong orang bertindak?

Agustus 7, 2008

Banyak orang tua dan guru berpendapat keliru. Mereka amat yakin bahwa untuk mendorong anak bertindak sesuai dengan harapan, haruslah anak diberi pengertian atau pemahaman. Pandangan seperti ini terpengaruh oleh cara berpikir Barat, yang dipengaruhi filsafat yang mengagung-agungkan rasio, kemampuan berpikir selama berabad-abad.

Patung The Thinker (Pemikir) karya Auguste Rodin ini

amat terkenal di dunia (www.forcounsel.com.1942).

Kapan Anda bertindak kalau terus saja berpikir dan berpikir?

Apa pikiran yang membuat manusia bergerak, berjuang, dan berprestasi?

Konsekuensi aliran pikiran ini adalah sikap mengagung-agungkan IQ. Tradisi pendidikan kita amat menekankan pengembangan kecerdasan intelektual siswa. Kecerdasan intelektual-lah yang melahirkan ilmu dan anak kandungnya teknologi. Karena itu, untuk menguasai ilmu dan teknologi, kecerdasan intelektual-lah yang harus ditekankan. Lihat saja mata-mata pelajaran yang diuji dalam Ujian Nasional (UN)! Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika, IPA, dan IPS.

(gardkarlsen.com.The_Thinker_at_Musee_Rodin)

Kita lupa, bahwa menurut hasil riset otak, yang lebih dominan berperan mendorong orang bertindak adalah hatinya. Suara hatinya! Kehendak hatinya! Bukan pikiran, bukan rasio! Nah, hati itu bermukim, bertempat tinggal, bersemayam dalam ranah emosi manusia. Nabi-nabi dari zaman ke zaman sebenarnya lebih terfokus kepada menyentuh dan mendorong hati manusia daripada rasio atau pikiran.

Namun, lihatlah pendidikan agama di sekolah-sekolah kita. Yang lebih ditekankan adalah pengetahuan dan pemahaman agama, bukan bagaimana menggarap hati anak agar menjalankan ajaran agama. Buktinya, kurikulum pendidikan agama terlalu kognitif, kurang afektif. Buku pelajarannya terlalu kognitif, kurang afektif. Apalagi, evaluasi pendidikan agama terlalu kognitif.

Akhir-akhir ini sebelum pelatihan guru, kami sering memberikan tes gaya belajar otak kiri dan otak kanan. Setiap kali hasilnya selalu sama. Jumlah guru TK, SD, SMP, SMA, dan SMK yang bergaya belajar otak kiri amat dominan. Mayoritas mutlak! Hanya sedikit sekali yang bergaya belajar otak kanan atau bergaya belajar kombinasi otak kiri dan otak kanan. Dalam populasi, sekitar 10% orang bergaya belajar otak kiri, 10% bergaya belajar otak kanan, dan 80% bergaya belajar kombinasi otak kiri dan otak kanan. Jelaslah hanya 10% siswa yang terlayani secara baik dan efektif oleh guru-guru yang mayoritas bergaya belajar otak kiri. 90% siswa menjadi pelengkap penderita. Dirugikan! Menjadi korban!

Mengapa ada begitu banyak guru yang bergaya belajar otak kiri di sekolah? Lihat saja tesnya. Tes seleksi menjadi guru adalah Bahasa, Matematika, IPA, dan IPS. Ada juga sekolah swasta yang memasukkan pula tes IQ. Lengkaplah sudah kekeliruan kita. Yang bergaya belajar otak kiri cenderung membuat sekolah menjadi tempat yang tak nyaman dan tak menyenangkan bagi siswa. Mengapa? Karena orang yang bergaya belajar otak kiri menunjukkan ciri-ciri, antara lain:

  • Perfeksionis (selalu menuntut yang sempurna)
  • Menekankan disiplin yang keras dan kaku
  • Bertanggung jawab
  • Suka menyalahkan orang lain
  • Kurang suka bekerja bersama dengan orang lain
  • Cenderung memaksa diri dan karena itu mudah terserang stres
  • Kurang mudah menyesuaikan diri (kurang adaptif
  • Mudah memotivasi diri
  • Pikirannya lebih banyak berisi angka dan kata-kata, kurang berisi gambar, bayangan, dan citra (image)
  • Patuh kepada orang yang berkuasa atau yang memiliki otoritas

Apa yang harus kita lakukan untuk memperbaiki keadaan yang sudah parah dan memfosil ini? Kapan kita lebih berpihak kepada pengembangan hati daripada pengembangan pikiran?

Iklan

andy

Kolesterol tinggi

Kunjungilah posting ini:

https://sbelen.wordpress.com/2013/05/03/bawang-putih-cuka-apel-madu-jahe-lemon-jantung-sehat-tubuh-bugar/

Gambar spanduk Sano

sano-kolesterol-tinggi

Kartu nama Yuni

Mengapa sekarang siswa dan orang tua sulit mendapatkan buku pelajaran bagi anaknya? Pertanyaan dan jawaban

Juli 27, 2008

Perpustakaan SDN 005 Pekanbaru

(Foto koleksi Noor Indrastuti)

Pada post ini penulis kemukakan pertanyaan yang sering diajukan orang tua, siswa, dan guru tentang pengadaan buku pelajaran dan jawaban singkat atas pertanyaan itu.

(Penulis adalah pengamat buku pelajaran sekolah, pembimbing guru untuk menulis buku pelajaran, dan melatih penulis buku pelajaran dan editor agar memproduksi buku yang sesuai dengan tuntutan kurikulum, terutama tuntutan belajar aktif, untuk membuat siswa kreatif dalam belajar).

Selamat membaca!

1.Mengapa Anda sulit mendapatkan buku pelajaran bagi anak pada awal tahun ajaran ini?

Jawaban: Kesulitan ini muncul pada awal tahun ajaran ini karena pemerintah mengeluarkan Peraturan Menteri (Permen) No. 2 Tahun 2008 yang pada intinya mengusahakan buku murah bagi para siswa. Untuk itu, Depdiknas membeli copyright naskah buku pelajaran, yang berlaku selama 15 tahun. Naskah buku itu lalu didesain pemerintah dan dimasukkan ke Internet sehingga siswa dan sekolah dapat men-download buku pelajaran itu. Sekarang buku itu disebut E-book.

2.Siapa saja yang diizinkan mendownload, mencetak, dan menjual E-book tersebut?

Jawaban: Siapa saja diizinkan mendownload dan menggandakan buku itu dan dapat dijual kepada siswa dengan HET (Harga Eceran Tertinggi) yang ditentukan Mendiknas.

3.Lalu, mengapa buku murah tersebut sulit diperoleh?

Jawban: Karena, harga eceran tertinggi yang ditentukan Mendiknas terlalu rendah, tidak sesuai dengan harga pasar yang ditentukan oleh mekanisme pasar. Tampaknya tidak mungkin orang mencetak dan menggandakan buku itu lalu dijual dengan harga tersebut. Mengapa? Karena, harga kertas sering melambung terutama menjelang tahun ajaran baru, apalagi di tengah kelanggkaan yang dirasakan orang tua murid sekarang.

HET yang ditentukan pemerintah tak masuk akal karena harga kertas dan tinta sudah melambung naik, terutama sejak kenaikan harga BBM. Akibatnya, tak ada percetakan yang mau mencetak.

Lalu, masalah muncul karena dalam Permen No. 2 Tahun 2008 itu, pada Pasal 11 dinyatakan bahwa penerbit swasta tidak diperbolehkan menjual buku ke sekolah. Peraturan lain juga menyatakan bahwa guru dan kepala sekolah dilarang bekerja sama dengan penerbit, termasuk melalui koperasi sekolah. Buku pelajaran yang diperbolehkan hanyalah E-book tersebut.

Siswa SDN 005 Pekanbaru sedang belajar di taman sekolah

4.Apakah mudah men-download E-book?

Jawaban: Masyarakat kecewa karena amat sulit dan memerlukan waktu amat lama men-download E-book. Di Indonesia, maksimal hanya 5% populasi siswa yang dapat mengakses E-book. Siswa yang dapat mengakses dan menggunakan E-book tentu saja harus memiliki komputer atau menggunakan komputer sekolah, dan komputer pun harus terhubung dengan Internet. Dalam keadaan jaringan internet dan listrik PLN yang sering padam ini, penggunaan E-book tampak seperti impian di siang bolong.

5.Apakah benar dengan adanya E-book, siswa tak perlu membeli buku pelajaran karena tinggal menggunakan komputer dan langsung belajar dari layar komputer, termasuk mengerjakan PR?

Jawaban: Di dunia ini kenyataan menunjukkan bahwa di negara maju, seperti Inggris, Amerika Serikat, Australia, Singapura, dan Jepang, para siswa tetap menggunakan buku pelajaran. Mengapa? Karena, dari segi keterbacaan, siswa lebih mudah dan santai belajar dan mengerjakan PR dari buku pelajaran daripada langsung menggunakan komputer. Lalu, komputer pun harus tersambung dengan Internet. Penggunaan internet langsung dalam proses belajar-mengajar dengan membaca E-book akan menganggu konsentrasi siswa dan guru sulit mengendalikan para siswa.

Mengerjakan PR lebih baik dengan

buku pelajaran daripada dengan E=book

6.Mengapa pemerintah melarang penerbit swasta menjual buku ke sekolah?

Jawaban: Menurut pemerintah, hal ini akan menimbulkan kolusi antara guru dan kepala sekolah dengan penerbit. Namun, hal ini sebenarnya hanya dilakukan oleh satu-dua penerbit kecil yang tidak memiliki percetakan. Mereka berusaha membuat bukunya laris dengan memberi TV, kulkas, atau mengongkosi para guru mengadakan study tour ke tempat wisata. Pemerintah men-generalisasi seolah-olah semua penerbit melakukan hal yang sama. Sebenarnya, penerbit besar, terutama yang memiliki percetakan sendiri tidak melakukan hal itu. Mengapa? Karena untuk apa penerbit besar itu memberi hadiah TV atau kulkas kepada guru. Kan, lebih menguntungkan terjun saja ke bisnis menjual TV dan kulkas.

7.Apakah masuk akal jika pemerintah mewajibkan orang tua murid membeli buku di toko buku?

Jawaban: Di daerah di luar Jawa, semisal NTT, Maluku, Papua, Kalimantan, dan Sumatra ada berapa toko buku di tiap pulau? Terbanyak hanya ada di ibukota provinsi. Bagaimana bisa, orang tua dan siswa diwajibkan membeli buku di toko buku. Di Jakarta saja, orang tua murid yang mencari 1 judul buku Matematika SD kelas 5 misalnya harus berkeliling Jakarta karena di toko buku tidak semua jilid tersedia. Akhirnya, biaya untuk membeli buku itu berlipat ganda jika dihitung dengan biaya transportasi.

8.Apakah benar penerbit swasta yang besar hanya menarik keuntungan dari menjual buku ke sekolah?

Jawaban: Penerbit besar pada umumnya mengadakan perjanjian dengan kepala sekolah dan guru dengan prinsip saling memberi dan menerima. Penerbit sering melakukan pelayanan kepada pelanggan (customer service), misalnya dengan mensponsori penataran atau pelatihan bagi para guru, membantu pengadaan kurikulum, contoh silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) atau persiapan mengajar guru kepada para guru. Selain itu, ada penerbit yang membantu membuat laboratorium bagi sekolah, membantu pengadaan alat dan bahan lab, bahkan ada yang membantu pembuatan kolam renang bagi sekolah besar di kota besar.

9.Apakah sekolah dapat melakukan negosiasi harga buku dengan penerbit?

Jawaban: Dalam dunia bisnis, negosiasi harga adalah hal biasa. Jika sebuah sekolah memiliki jumlah siswa yang banyak, penerbit dapat saja menurunkan harga buku.

10.Apakah para guru dan kepala sekolah mendapatkan rabat dari pembelian buku pelajaran?

Jawaban: Dalam dunia bisnis, pemberian rabat adalah hal biasa dan dapat dinegosiasikan dengan penerbit. Ada penerbit yang memberikan rabat 25% – 30% dari hasil pembelian bruto. Sebagai contoh, jika sebuah sekolah memesan buku pelajaran dengan biaya total Rp 10 000 000, para guru dan kepala sekolah dapat memperoleh rabat Rp 2 500 000. Kalau omzet sebuah sekolah besar Rp 1 milyar, para guru dan kepala sekolah dapat memperoleh Rp 250 juta. Rabat ini dapat digunakan untuk menambah modal koperasi sekolah, membeli mobil operasional sekolah, membeli alat dan bahan lab, dan dibagi-bagikan kepada guru sebagai bonus untuk biaya meyekolahkan anaknya. Bahkan, ada sekolah besar yang mengalihkannya untuk membuat kolam renang.

11.Apakah ada perbedaan mutu antara buku paket pemerintah yang ada dahulu dengan mutu buku penerbit swasta?

Jawaban: Secara umum dapatlah dikatakan bahwa mutu buku pelajaran penerbit swasta lebih baik daripada buku paket pemerintah. Karena, penerbit swasta harus meningkatkan mutu produk agar menarik konsumen, yaitu siswa, orang tua murid, dan guru. Namun, kemudian Depdiknas tidak menerbitkan lagi buku paket. Namun, sejak dulu, bahkan sejak ada buku paket, Depdiknas berhak menetapkan sebuah buku pelajaran penerbit swasta telah lolos seleksi pemerintah untuk dijual kepada para siswa. Pada umumnya penerbit berusaha mengikuti aturan seleksi buku pemerintah. Dan, tahun-tahun terakhir ini sekolah berhak memilih buku penerbit swasta dari daftar yang diterbitkan pemerintah dan membelinya dengan dana BOS untuk jenjang SD dan SMP. Sedangkan, dana BOS buku untuk SMA sampai sekarang belum ada. Tahun ini, jadi tidaknya pemerintah memberikan dana BOS buku kepada sekolah belum ada kepastian.

12.Apakah tepat dan masuk akal jika pemerintah melarang penerbit swasta menjual buku ke sekolah dan menerbitkan aturan yang menghalangi bisnis buku penerbit swasta?

Jawaban: Penerbitan buku, termasuk buku pelajaran, adalah bisnis kreatif (creative business) yang termasuk kerja ilmu pengetahuan (knowlede work). Jika suatu bangsa ingin maju, untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia dalam rangka mencerdaskan bangsa, bisnis perbukuan seharusnya didukung, bukan dihalang-halangi dan dicurigai. Penerbit menjual buku, bukan narkoba. Mengapa penjual bakso dan jajanan yang menggunakan zat pewarna, pengawet, dan bisa juga formalin tidak dilarang pemerintah berjualan di sekolah?

Selain itu, selama ini pemerintah tetap bersikukuh sejak era Orde Baru sampai dengan sekarang untuk tidak menghapuskan pajak pembelian kertas kepada penerbit buku. Karena itu, harga buku menjadi mahal karena penerbit mengalihkan beban biaya pembelian kertas ini kepada konsumen.

Perpustakaan SDN Sumbersono, Mojokerto

(Foto koleksi Noor Indrastuti)

Advertorial

 

Anak tendang guru

Diabetes

Bacalah posting ini:

https://sbelen.wordpress.com/2013/05/03/bawang-putih-cuka-apel-madu-jahe-lemon-jantung-sehat-tubuh-bugar/

Gambar spanduk Sano

sano-normalkan-gula-darah

Kartu nama Yuni