Posts Tagged ‘KTSP’

Kado bagi guru: Format baru silabus & RPP 1 halaman

April 28, 2009

Contoh silabus & RPP Tematik 1 halaman

Format silabus dan RPP pada prinsipnya dapat dikembangkan sendiri oleh guru. Format yang disampaikan BSNP dan Pusat Kurikulum Balitbang Depdiknas pada prinsipnya hanyalah tawaran yang dapat digunakan guru. Dalam pengembangan KTSP, guru diberi otonomi dan kebebasan mengembangkan kurikulum sekolah sendiri, termasuk format silabus dan RPP.  Jika format tersebut Anda rasa kurang cocok, kurang relevan, sebaiknya Anda kembangkan sendiri untuk mendapatkan format yang terbaik.

43

Berikut ini kami kemukakan format silabus & RPP mata pelajaran dan tematik dalam bentuk jaringan topik 1 halaman. Walaupun contoh ini untuk tingkat SD, guru SMP, SMA, dan SMK dapat menerapkannya sesuai dengan kompetensi dasar dalam kurikulum. Unsur tujuan pembelajaran dalam RPP kami hilangkan karena sudah terwakili pada kompetensi dasar dan indikator. Unsur metode pembelajaran juga tak perlu karena sudah terwakili dalam kegiatan pembelajaran. Dua unsur ini kurang relevan karena hanya membuat pengulangan yang tak perlu. Unsur standar kompetensi juga cenderung tak kami cantumkan karena umumnya standar kompetensi hanyalah akumulasi berbagai kompetensi dasar. Yang lebih penting dan terfokus adalah kompetensi dasar. Jika kompetensi dasar masih bersifat umum, belum spesifik, sebaiknya Anda jabarkan ke dalam kompetensi konkret. Guru-guru di Ambon, Jambi, Indramayu, Ternate, Tidore, dan Bacan senang memakai format ini. Silahkan klik di sini!

Contoh Silabus & RPP 1 halaman

Bagaimana tanggapan Anda?

DSCN5672

Seorang ibu guru di sebuah SD di Ternate, Maluku Utara sedang menulis di lantai keramik silabus & RPP 1 halaman berbentuk jaringan topik (mindmap) dalam inhouse training staf guru dan  kepala sekolah di sekolah ini. Jika tak ada kertas besar, lantai menjadi pengganti kertas.

PIC_1729

Ini adalah Silabus & RPP 1 halaman dengan tema “Kenampakan Alam”, yang dibuat Ibu Wati Lasidi, guru kelas III SD Labuha 1 di Pulau Bacan, Kabupaten Halmahera Selatan.

PIC_1673 - Copy

Para siswa kelas III SD Labuha 1 yang dibimbing Ibu Wati Lasidi sedang bermain drama dokter-dokteran dalam kegiatan belajar tema Malaria yang dirancang dalam bentuk silabus & RPP 1 halaman.

Salam hangat dari Labuha, Pulau Bacan, Maluku Utara

S.Belen

Iklan

 

 

1243328602_school-abuse

heart-attack

Kunjungilah posting ini:

https://sbelen.wordpress.com/2013/05/03/bawang-putih-cuka-apel-madu-jahe-lemon-jantung-sehat-tubuh-bugar/

https://sbelen.wordpress.com/2013/04/15/sano-ramuan-herbal-berkhasiat-mulai-bisnis-di-usia-62-tahun/

Gambar spanduk Sano

Kartu nama Yuni 6

Iklan

Omong kosong menatar belajar aktif melalui ceramah tentang belajar aktif!

Februari 1, 2009

51885388hoderoschmetterlinghttpwwwpbasecomerichmanglimage51885388

Proyek demi proyek penataran guru dan kepala sekolah setiap tahun hanya menghamburkan dana negara. Ini terjadi karena umumnya pelatihan guru didominasi ceramah para tutor, bahkan ada yang dimulai dari Pukul 9.00 pagi sampai dengan Pukul 9.00 malam. Kerja individual atau kelompok dalam porsi waktu terbatas cenderung tertuju ke membuat RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) dan silabus. Itu memang perlu tapi hanya demi kepentingan administratif.

Padahal, jumlah tetek-bengek urusan administrasi guru sudah mencapai angka 24. Gila benar cara kerja orang Indonesia! Sepengetahuan saya belum ada negara lain di dunia yang “mengalahkan” rekor beban administrasi guru Indonesia. Tugas administratif menjadi fokus kepala sekolah, pengawas, dan pembina Dinas Pendidikan di daerah untuk mempermainkan tongkat komando penanda cengekraman kekuasaannya kepada guru, sang pahlawan tanpa tanda jasa. Pengawas yang datang ke sekolah tidak masuk ke ruang kelas untuk mengamati cara guru mengajar dan memberi advis yang relevan. Malah, yang diminta pertama kali adalah di mana RPP sesuai KTSP? Tunjukkan! Dan, mengalirlah serapah kritik tak berujung pangkal! Itu hanyalah demonstrasi inkompetensi pengawas!


larangan-2sbelen1

Dampaknya adalah pola mengajar tradisional guru malah memperkuat kesalahan yang dibuat orang tua dalam mendidik anak seperti terlihat pada gambar ini.

Tradisi pengajaran tradisional zaman baheula tak bisa dihentikan. Karena itu, beberapa tahun lalu, dalam penataran guru, kepala sekolah, dan pengawas sering saya lontarkan guyonan: “Kita goreng saja para pengawas di wajan dengan minyak panas. Lalu, kita keluarkan dan mudah-mudahan mereka menjadi manusia baru.” Di Inggris pada awal tahun 1990-an, profesi pengawas dihapus dalam sistem pendidikan Inggris. Karena, pengawaslah yang menjadi penghambat inovasi, padahal job description tugasnya adalah membina guru.

Pengawaslah yang menjadi “penghalang” gelombang semangat guru melakukan pendekatan belajar aktif yang sudah dimulai sejak tahun 1970-an. Jika seorang pengawas tidak berkunjung ke sekolah, kata guru-guru Inggris: “Nobody says, I miss my supervisor!” (Tak ada guru yang bilang ia kangen pengawas agar cepat berkunjung ke sekolah). Pemerintah Inggris memutuskan, OK, siapa yang mau menjadi pengawas silahkan. Tapi, pemerintah tak mau membayar. Kalau guru dan kepala sekolah merasa Anda seorang yang ahli dan kompeten, mereka dipersilahkan mengundang dan membayar Anda. Nah, dipilihlah mantan pengawas sekitar 200 orang yang berkedudukan di ibukota dan tugas mereka hanyalah melakukan audit keuangan sekolah sekali per tahun. Tamatlah profesi pengawas di Inggris.

imagesphphttpimageskompascomimagesphppathctz2img_1439

Perilaku pengawas kita cenderung seperti terlihat di dunia militer.

Di Indonesia banyak pengawas yang telah bertransformasi menjadi fasilator bagi guru setelah mendapatkan bantuan profesional melalui program Sistem Pembinaan Profesional (SPP) CBSA yang dimulai di Cianjur pada tahun 1979, kerja sama ODA Pemerintah Inggris melalui The British Council dengan Pusat Kurikulum Balitbang Depdikbud. Gelombang gerakan ini terhenti pada awal tahun 1990-an karena kesalahpahaman yang terjadi di internal Depdikbud. Gerakan ini kembali dihidupkan melalui program Manajemen Berbasis Sekolah (MBS)-Pakem (Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan) di tingkat SD, yang digerakkan oleh Unicef dan Unesco bekerja sama dengan Depdiknas sejak tahun 1999. Kini berbagai LSM internasional seperti US-Aid, Aus-aid, Save the Children, World Vision, Plan International, Compassion Indonesia, Bank Dunia, dan sederet LSM lain telah berkiprah mendorong gelombang gerakan inovasi ini. Dan, gerakan ini telah masuk ke dalam sistem beberapa unit utama Depdiknas dan dinas pendidikan di wilayah sasaran.

Bulan November 2008 lalu, kami terlibat dalam program Save the Children untuk menatar guru, kepala sekolah, dan pengawas di Pulau Bacan, Maluku Utara. Di bulan Januari 2009 ini kami menatar lagi guru dan kepala sekolah dari wilayah Pulau Seram dan Ambon bersama Pak Mohammad Miftahudin dan Ibu Alison Peareth dari Save the Children. Para pengawas kali ini tak ikut karena mereka telah mengikuti penataran terdahulu.

Berikut ini kami sajikan oleh-oleh foto sebagai bahan refleksi dan pemercik gagasan kita bersama.

p1000871

Menggunakan balon, sedotan, lem, dan spidol untuk menciptakan sebuah objek yang indah menurut kelompok.

p1000772

Lebih baik menggunakan kartu untuk belajar matematika daripada berjudi.

p10005511

Lokakarya mengembangkan kurikulum berbasis sekolah yang dikenal dengan nama Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang berciri pendekatan belajar aktif.

p1000721

Variasi dalam bentuk lingkaran besar juga penting dilakukan, terutama untuk kegiatan icebreaker.

p1000698

Kerja sama kelompok antara yang tua dan yang muda, antara kepala sekolah dan guru, antara laki-laki dan wanita, dan antara orang yang beragama berbeda.

p1000870

Setiap orang berpartisipasi memberikan sumbangan gagasan dan uluran tangan menciptakan suatu objek atau bangunan yang indah.

p1010097

Menggambar orang-orangan pada kertas lebar yang dilem sebagai starting point tema “Diri Saya”

p1010083

Sebelumnya, buatlah garis-garis berpetak untuk menghitung luas tubuh.

p10100961

Kepala sekolah ini tak jaga gengsi. Ia langsung membuat garis-garis dengan spidol besar.

p10008891

Peserta bebas memilih tempat mengerjakan tugas kelompok. Kalau bisa belajar di luar kelas, mengapa memaksa anak duduk manis, dengar, catat, dan hafal di dalam kelas?

p1000967

Versi teks gubahan guru dari lirik lagu “Naik-naik ke puncak gunung” untuk mengajarkan matematika.

p1000959

Guru dilatih membuat poster yang dipajang di ruang kelas. Inilah poster lagu “Oh Maluku” yang digubah untuk mendorong rekonsiliasi masyarakat Maluku pasca-kerusuhan!

p1000932

Ibu Poppy Siahaya dari Masohi, Seram sedang menilai kompetensi menanam tanaman dalam pot dengan menggunakan indikator-indikator kompetensi.

p1000933

Dimulai dari mengamati dan menilai daun, kemudian batang, tanah, tunas, dan keserasian tanaman dengan pot.

p1000579

Sabar, Pak. Main gitarnya nanti ya! Sekarang bekerja dulu.

p1000853

Langsung catat pada pajangan sebelum lupa.

p10005801

Kelompok ini paling senang memilih bekerja di pondok mungil yang indah di area Baguala Resort.

p1000881

Melakukan wawancara di cafe untuk mencatat data perkembangan keuntungan cafe di sebelah kolam renang ini.

p1000905

Melaporkan hasil kerja kelompok melatih berbagai kompetensi berkomunikasi.

pic_1414

Pengalaman dari penataran akan mendorong guru meminta anak tampil di depan kelas guna melatih keberanian anak.

Ruang di depan kelas hendaknya tidak digunakan untuk menghukum anak bernyanyi, atau menyetrap anak, atau dipermalukan melalui kritik guru yang menjatuhkan semangat anak. Karena, dampaknya adalah disuruh maju ke depan akan menjadi ‘doa’ anak setiap hari agar jangan sampai ia dipanggil untuk dipermalukan di depan teman-temannya.

p1000920

Peserta melepas kepenatan dengan berenang di kolam renang satu-satunya yang dibangun di Baguala untuk anak-anak Kota Ambon. Pemilik hotel ini mengabdikan diri untuk mendorong perlindungan hak-hak anak. Dangke Ibu!

pic_1447

Pohon sagu tidak pernah ditanam. Tumbuh sendiri. Manusia hanya diminta mengolahnya menjadi aneka-makanan. Tanaman pakis yang berharga mahal di Jakarta tumbuh seperti rerumputan di hutan. Mau buat sayur tinggal ambil saja di belakang rumah. Ikan-ikan di laut Maluku begitu beragam dan berlimpah. Manusia hanya diminta menangkap, memasak, dan menghindangkan di meja makan. Air berlimpah selalu berada di areal tanaman sagu. Namun, mengapa orang-orang Maluku beralih makan nasi, daging ayam ras, dan junk food serba instan serta minum air mineral dalam botol plastik? Apa yang salah pada bangsa ini?

pic_1445

Kalau kita inginkan anak berekspresi bebas, mulailah mendorong ekspresi bebas peserta pelatihan. Marie, Wia, dan Lia, nona-nona Ambon manise su siap manyanyi dan badangsa. Kapan katong makan papeda lai? Eh, ternyata makan “lem” pung enak lai! He hehe.

pic_1443

Lihatlah tanaman dengan matamu, ciumlah baunya, rabalah ranting dan daunnya! Semakin banyak indra dipakai semakin lancar kerja otak, semakin mudah kita membangun konsep, membangun makna. Dorong anak agar lebih sering menggunakan tangan kiri untuk memberi stimulus kepada belahan otak kanan!

pic_1441

Ibu-ibu kepala sekolah ini sedang mengamati tanaman dan menjadikan tiang sebagai alas buku catatan. Inilah yang persis akan dilakukan anak di sekolah.

pic_1440

Seumur hidup baru kali ini guru meninggalkan dulu buku pelajaran dan langsung mengamati tanaman di alam. Sambil menghirup oksigen segar, kerja otak lebih lancar.

pic_1437

Serius sekali ibu guru muda ini menggambar tanaman yang diamati. Tugas yang jelas dengan batasan waktu yang pasti membuat siswa memanfaatkan waktu secara efisien.

pic_1436

Pak guru muda ini tak banyak berbicara selama pelatihan. Tetapi, begitu ada kegiatan praktik, ia langsung bertindak dan amat tekun bekerja. Belajar tanpa berbuat sama dengan bercinta tanpa menyentuh. Trims, Pak, su bawa air kasi beta waktu haus, tarlalu lama manyanyi!

pic_1435

Rambut bapak kepala sekolah ini sudah banyak beruban. Tapi, ia benar-benar menunjukkan teladan rajin bekerja dalam kegiatan individual dan berperan serta aktif dalam kegiatan kelompok.

p1010193

Mengajar tidak berarti memberi tahu tetapi membawa anak mendekat, mengamati, dan meraba objek yang dipelajari serta memanipulasinya dalam kegiatan percobaan.

pic_1415

Anak turunan Jawa, anak Papua, dan anak Maluku bekerja sama tanpa prasangka rasial dan agama.

pic_1409

Kegiatan belajar yang baik adalah yang berhasil membuat anak terfokus dan terkonsentrasi berpikir melalui pelibatan aktivitas fisik.

p1010170

Jajan yang dijual di sekolah hendaknya memperhatikan kecukupan gizi anak, bersih, dan tak dihinggapi lalat. Selamat makan, nona!

p1010228

Jika Anda mendambakan generasi masa depan memperhatikan pelestarian lingkungan hidup, mulailah dengan hal sederhana, seperti melatih tiap anak menanam tanaman di pot yang setiap hari disiram! Dan, jangan lupa sediakan tempat cuci tangan dan sabun untuk melatih anak hidup bersih dan sehat!

p1010215

Salam belajar aktif dari katong, anak-anak Maluku!

Foto-foto koleksi Miftahudin & S.Belen

Iklan


1243328602_school-abuse

Asam urat yang menyakitkan

Kunjungilah posting ini:

https://sbelen.wordpress.com/2013/05/03/bawang-putih-cuka-apel-madu-jahe-lemon-jantung-sehat-tubuh-bugar/

https://sbelen.wordpress.com/2013/04/15/sano-ramuan-herbal-berkhasiat-mulai-bisnis-di-usia-62-tahun/

Gambar spanduk Sano

sano-sembuhkan-asam-urat-anda

Kartu nama Yuni 2

Oleh-oleh dari Ambon: Mau aktifkan anak belajar? Aktifkan dulu gurunya!

Februari 1, 2009

p1000868

Belajar tidak selamanya dalam posisi duduk. Mau duduk atau berdiri yang penting belajar. Para guru dan kepala sekolah dalam penataran belajar aktif dilatih bekerja sama dalam kelompok agar mampu menerapkan belajar kelompok di sekolahnya.

p1010254

Orang Ambon dan Maluku gemar bernyanyi, berdansa, dan menari. Potensi ini hendaknya dimanfaatkan untuk menjadikan kegiatan belajar anak dinamis dan menyenangkan. Menurut riset otak: Jika Anda ingin meningkatkan prestasi anak dalam belajar, tambahkan gerakan dalam proses belajar-mengajar. Resep yang amat sederhana tanpa mengeluarkan biaya apa pun. Gratis!

p1000551

Lokakarya yang diselenggarakan Save the Children ini merupakan pemadatan dua tema yang sebenarnya membutuhkan waktu pelatihan 2 minggu (12 hari kerja). Namun, karena peserta bersemangat berpraktik belajar aktif, sasaran menyusun silabus dan RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) dan bagaimana menerapkan pendekatan belajar aktif dapat digabungkan dan bisa dikebut dalam waktu 6 hari pelatihan.

pic_1403

Seorang guru muda mengajari kepala sekolah cara mencuci tangan dan mengelap tangan dengan benar.

p1010151

Ini adalah pajangan jaringan tematik dengan memilih kompetensi dasar yang cocok. Dari tiap kompetensi dasar / kompetensi konkret, dikembangkan gagasan-gagasan kegiatan belajar aktif. Kemudian, kegiatan-kegiatan belajar yang terpilih diurutkan dan diperkirakan alokasi waktunya.

p10101501

Guru dapat menggunakan pendekatan dari garis finish ke garis start, dengan menyusun indikator dan penskoran menjadi alat penilaian kompetensi yang berciri kualitatif sebelum mengembangkan kegiatan-kegiatan belajar untuk mengembangkan / melatih kompetensi itu.

p1010148

Bernyanyi, bermain gitar, dan menari selalu menghiasi kegiatan penataran ini. Peserta tak merasa letih karena musik dan nyanyian menjadi terapi penyegar tubuh dan otak.

p1010072

Bekerja sama membuat jaringan tematik. Kalau bekerja sambil duduk di lantai lebih menyenangkan, mengapa harus duduk tegak di kursi. Jika sebagai guru Anda menerapkan hal ini, anak-anak yang bergaya belajar otak kanan akan bersemangat belajar karena posisi inilah yang lebih mereka senangi.

p1010071

Menempel potongan-potongan kompetensi dasar pada ujung garis-garis panah dari kotak tema di tengah. Kali ini kepala sekolah-lah yang lebih aktif daripada guru.

p1000968

Poster teks lagu yang dinyanyikan dengan irama lagu “Naik-naik ke puncak gunung” untuk belajar matematika.

p1000966

Poster teks lagu untuk mendorong anak agar gemar belajar matematika.

p1000925

Ibu guru ini sedang dinilai dengan menggunakan alat penilaian berisi indikator kompetensi memimpin lagu sebagai dirigen.

p1000711

Suara lebih bagus jika bernyanyi dalam posisi berdiri. Sang dirigen sedang dinilai dengan menggunakan kriteria berikut ini.

memimpin-lagusbelen

Ini adalah contoh alat penilaian yang sesuai dengan indikator-indikator kompetensi memimpin lagu sebagai dirigen. Skor maksimum untuk tiap indikator disesuaikan dengan bobot indikator tersebut.

p1000901

Para guru sedang dilatih kompetensi melakukan wawancara untuk mencari data tentang sejarah berdiri dan perkembangan hotel atau resort ini.

p1000881

Mewawancarai petugas cafe dekat kolam renang untuk mencari data tentang keuntungan yang diperoleh.

p10006981

Bekerja sama membuat sebuah bangunan atau ciptaan yang indah menurut kelompok.

p1000869

Status kepala sekolah dan guru senior untuk sementara dilepas.

p1000854

Belajar aktif sering menuntut aktivitas berpikir tinggi.

p10007951

Belajar sambil minum dan makan makanan kecil. Anak bergaya belajar otak kanan senang belajar sambil makan (ngemil) dan minum. Di sekolah sebaiknya anak diperbolehkan membawa tempat minumnya ke dalam kelas. Kapan saja merasa haus, anak langsung minum air karena otak yang kekurangan air akan lambat bekerja. Sebanyak 80% volume otak terdiri dari air. Di sebuah SD di Kota Sukabumi, Jawa Barat, bahkan di tiap kelas disediakan dispenser. Anak-anak sekelas urunan membeli air isi ulang. Mengapa dalam penataran guru dihidangkan air minum, sedangkan di sekolah para siswa malah menaruh tempat minumnya di luar kelas.

p1000773

Peserta tampak waspada dan bekerja cepat karena waktu yang disedikan untuk kegiatan ini hanya 15 menit. Memberi batasan waktu bagi anak untuk menyelesaikan sebuah kegiatan amat penting untuk memanfaatkan waktu secara efektif. The “enemy” of active learning approach is time, time and time. “Musuh” pendekatan belajar aktif adalah waktu yang tak cukup. Karena itu, pandai-pandailah mencari kiat mempercepat kegiatan anak.

p1000763

Ada yang menunjuk, ada yang membaca, ada yang memegang kertas, dan ada yang menulis. Kerja sama yang serasi!

p1000761

Kadang-kdang perlu diterapkan kegiatan kelompok besar. Namun, pada umumnya kelompok yang terdiri dari lebih dari 6 orang cenderung mengarah ke “masa” atau “crowd”.

p10006261

Tampil menjelaskan hasil kerja kelompok di depan.

p1000620

Tiap orang menyumbang melalui peran yang berbeda.

p10102441

Anak Maluku pasca-kerusuhan sosial menanti uluran tangan inovasi belajar aktif agar berani menatap dan menapaki masa depan yang penuh tantangan dan kejutan. Semoga Dinas Pendidikan meneruskan prakarsa dan rintisan Save the Children ini!

p1010240

Belajar aktif tak memerlukan alat bantu pelajaran yang mahal. Dengan lilin malam saja dapat dilakukan beragam kegiatan belajar aktif yang menarik minat anak.

p1010229

Tanaman dalam pot yang ditanam dan dirawat anak dapat ditaruh di gang depan ruang kelas di SDN Suli, Kabupaten Maluku Tengah.

p1010225

Si nona Ambon manise masih tampak ceria setelah melakukan kegiatan belajar aktif.

p1010217

Berilah kesempatan dan doronglah anak untuk mengekspresikan dirinya secara bebas.

p1010216

Larangan “jangan” atau “tidak boleh” mematikan rasa ingin tahu. kreativitas berpikir, dan kegemaran anak melakukan eksplorasi. Anak-anak akan berekspresi bebas jika merasa aman.

p1010222

Inilah contoh ruang pertemuan sederhana di sekolah yang bersih dan ditata secara menarik. Kampus lembaga pendidikan guru di universitas dapat berkaca kepada para kepala sekolah dan guru SD.

p1010218

Pajanglah karya siswa di ruang guru, di dinding luar kelas, sampai ke ruang kepala sekolah. Betapa bangga anak. Kebanggaan yang bakal terbawa sebagai kenangan manis seumur hidup.

p1010223

Betapa lebih lengkap jika dinas pendidikan mengusahakan perangkat komputer dan jaringan internet di sekolah, dimulai dulu dari kepala sekolah dan para guru.

p1010206

Sebagai fasilitator, guru berkeliling dan membantu anak atau kelompok yang memerlukan arahan dan umpan balik. Kosa kata seperti “bodoh”, “dungu”, “bebal”, “nakal”, “bandel”, “kurang ajar”, apalagi “anjing”, “babi”, “binatang” harus dibuang jauh-jauh, tak boleh terucapkan dari mulut guru dan terdengar telinga anak di ruang kelas dan dalam proses belajar-mengajar.

pic_1420

Bagi lemnya, dong! Lem amat penting untuk belajar aktif. Tak ada lem, pakai saja nasi, bubur, atau getah pohon yang lengket.

pic_1416

Nyong papua dan nona ambon berbaur dalam kerja sama tanpa membedakan asal-usul.

p1010185

Dalam kelas belajar aktif, duduk berbaris seperti ini seharusnya sudah “dimuseumkan”.

p10101791

Kompleks sekolah ini luas. Di halaman sekeliling sekolah perlu ditanami pohon-pohon perindang yang produktif, seperti jambu mente, mangga, asam, nangka. Tiap pohon dengan radius daun rimbun 4 m memberi supply oksigen bagi 10 orang.

p1010178

Toilet sekolah amat penting. Tersedia air dan sabun pencuci tangan dan sebaiknya ada toilet untuk anak pria dan wanita yang terpisah.

p1010172

Katong nona dan nyong Ambon kasi salam untuk anak-anak SD di seluruh Indonesia. Dangke (terima kasih) Save the Children!

Koleksi foto: Miftahudin & S.Belen

Iklan

annie dancing

Pneumonia

Kunjungilah posting ini:

https://sbelen.wordpress.com/2013/05/03/bawang-putih-cuka-apel-madu-jahe-lemon-jantung-sehat-tubuh-bugar/

Gambar spanduk Sano

sano-sembuhkan-pneumonia

Kartu nama Yuni 2

Anak-anak SD Maluku berpraktik belajar aktif

Januari 20, 2009

pak-agus-praktik-2

Pak Agus Matayani, kepala SD Inpres Siaputih / Piru, Kecamatan Seram Barat, Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB) sedang berpraktik mengajar sebagai salah satu kegiatan lokakarya pengembangan KTSP dan belajar aktif yang diselenggarakan Save the Children. Anak-anak SDN 3 Suli yang dekat dengan Kota Ambon sedang mengamati bagian-bagian bunga.

pak-agus-praktik-1

Pak Harlin Suluki dari Save the Children di latar belakang ikut merasa gembira dalam keceriaan anak-anak pasca-kerusuhan sosial yang melanda Maluku

Belajar aktif mendorong anak-anak langsung mengamati dengan melihat, meraba, dan mencium bunga, lalu membuat deskripsi. Rasa ingin tahu anak ditanggapi. Dari mengamati, anak-anak didorong untuk melakukan percobaan menanam tanaman dengan memanipulasi variabel pencahayaan, media tanaman, jenis tanah, atau frekuensi penyiraman.

pak-agus-praktik-3

Ibu guru kelas ini sedang mengamati dari jauh dan Ibu Alison Peareth dari Save the Children Jakarta sedang mengamati bunga di luar ruang kelas.

Sepulang dari lokakarya ini, Pak Agus Matayani sebagai kepala sekolah bertekad mengajar anak-anak kelas 1 s.d. 6 di sekolahnya di Pulau Seram sambil diamati semua gurunya. Setelah setiap demonstrasi mengajar dengan gaya belajar aktif (PAKEM = Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan), para guru dipersilahkan mengeritik apa saja yang masih kurang. Sesudah itu, para guru akan dilatih bersama dalam pelatihan tingkat sekolah (inhouse training) secara berkala. Dalam penerapan di masing-masing kelas, para guru akan terbuka menerima masukan kepala sekolah karena ia sendiri terbuka terhadap kritik membangun.

p1010152

Salah satu pajangan hasil kerja peserta lokakarya. Agar memahami cara belajar anak dan memiliki rasa percaya diri, para guru dan kepala sekolah mengalami kegiatan belajar seperti siswa.

Selamat berkarya terus mengembangkan potensi anak-anak Maluku! Anak-anak Maluku secara alami berotak cerdas karena banyak mengkonsumsi ikan, senang bernyanyi, bermain musik, dan berenang. Cara mengajar guru yang tradisional dengan gaya duduk-dengar-catat-hafal justru membuat potensi anak-anak berotak cerdas terhambat berkembang secara maksimal. Para guru dan kepala sekolah yang mengikuti lokakarya telah bertekad melakukan “pertobatan” untuk menghentikan kekerasan fisik dengan memukul anak atau mengeluarkan kata-kata yang mematahkan semangat anak-anak. Teman-teman, kutunggu janjimu. Janji kita belumlah putus.

p1010257

Para guru dan kepala sekolah peserta lokakarya sedang bernyanyi “Topi Saya Bundar”.

Dalam acara lokakarya, baik di ruang pelatihan maupun di cafe yang menghadap ke teluk di Tabuala Resort, kami terus-menerus bernyanyi hanya dengan modal satu gitar. Kata para guru, “Pak, jangan pancing katong manyanyi! Orang Maluku kalau su mulai manyanyi seng mau barenti.” Mohon maaf ya, katong seng jadi manyanyi dan badangsa di malam terakhir pelatihan karena teman-teman harus membuat silabus dan RPP tematik. He he he. Terima kasih atas suara merdu dan membahana menyanyikan lagu “Mama bakar sagu”, lagu Ambon favoritku.

Foto-foto: Koleksi Muhammad Miftahudin

From Bacan with love: swimming children on the beach. Dari Bacan dengan cinta: anak-anak berenang di pantai.

November 17, 2008

map_malukuhttpbp1bloggercom_lf7q3-sepbysdiv_hh78niaaaaaaaaaekfeil8wmjbcws1600-hmap_maluku1

The map of Maluku archipelago, Indonesia. (Peta Kepulauan Maluku, Indonesia)

httpuploadwikimediaorgwikipediacommonsddekarta_id_maluku_isl1

The map of Maluku Islands. Look at the Bacan Island in the south of Ternate! (Pulau Bacan di selatan Ternate).

Bacan in the afternoon. Beautiful scenery from Talaga Biru beach of Bacan Island.

Bacan in the afternoon. Beautiful scenery from Dermaga Biru beach of Bacan Island.

(Bacan tatkala mentari terbenam). (Photographer: Ayok)

jembatan-perenang

Wooden bridge of Labuha beach in Bacan Island. (Jembatan kayu di Labuha, Kota Bacan, ibukota Kabupaten Halmahera Selatan). (photographer: S Belen)

pic_1165

Chidren are swimming on the seabeach of Labuha in the little town of Bacan (taken by S Belen). (Anak-anak SD berenang di pantai Labuha di Kota Bacan).

preparing-for-jumping

Preparing for making salto jump into the seawater (taken by S.Belen). (Bersiap membuat loncatan salto).

salto-jump

Salto jump to the seawater. (Lompatan salto ke air laut).

melayang-01

“I rule the waves!”

These children are learning a lifeskill of safety by their own choice. In school they are never taught how to swim. Their teachers are busy to make syllabi dan lesson plans based on government-driven curriculum. Many schools located along beaches of Indonesia, especially in urban areas neglect to provide this type of lifeskill education. (“Saya menguasai laut!” Anak-anak ini belajar kecakapan hidup tentang keselamatan, kegiatan belajar pilihan mereka sendiri. Di sekolah mereka tidak diajarkan berenang. Guru-gurunya sibuk membuat silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran / RPP sesuai dengan KTSP. Banyak sekolah di pesisir pantai Indonesia, terutama di wilayah perkotaan lupa atau bahkan alpa memberikan pendidikan kecakapan hidup berenang).

standing-child

I do master swimming competence!

During the time of emergency like tsunami in Aceh, mathematics competencies will not help me. This swimming competence will save my life. And we learn this competence without any teacher, any lesson plan, any book, any teaching aid, any budget. Hi, our teachers (throughout Indonesia), do you help us? Or, do you even destroy our future? (Saya benar-benar menguasai kompetensi berenang! Jika tiba-tiba datang bencana tsunami seperti di Aceh, kompetensi matematika tak akan mampu menolong saya. Kompetensi berenanglah yang akan menyelamatkanhidupkan. Dan kami belajar kompetensi ini tanpa guru, tanpa RPP, tanpa buku, tanpa alat peraga, tanpa dana. Wahai, guru,guru (di seluruh Indonesia), apakah kalian membantu kami? Atau, apakah kalian bahkan menghancurkan masa depan kami?)

flying-to-the-future

Flying to the future.

Childhood is a golden time for learning to face unpredictable life in the future. Child’s brain will develop faster  if  the child makes lots of movements, swims and conduct a variety of chid traditional games. (Terbang ke masa depan. Masa kanak-kanak adalah masa keemasan untuk belajar menghadapi masa depan yang tak terduga. Otak anak akan berkembang pesat jika anak banyak bergerak, berenang, dan melakukan aneka-ragam permainan tradisional.)

siap-terjun-02

I’m courageous to face the waves. Do teachers encourage children to solve problems? Problemsolving is a key concept of lifeskill education. (Saya berani menghadapi gelombang. Apakah guru-guru mendorong anak-anak memecahkan masalah? Pemecahan masalah adalah salah satu konsep kunci pendidikan kecakapan hidup).

thirsty-child

“Welcome the unpredictable future!”

The standing kid on the wooden bridge is holding a softdrink, produced by a company in Java, under license of a multinational corporation. Indonesian children, especially in the cities, face a problem of obecity due to softdrinks and junk food. Bacan people prefer mineral water produced by companies in Java than healthy water from the soil of Bacan. This is a wrong life style which should be changed by teachers. (“Selamat datang, masa depan yang tak dapat diramalkan!” Anak yang berdiri di atas jembatan kayu sambil memegang minimuman kaleng, produksi sebuah perusahaan di Jawa yang mendapatkan lisensi dari salah satu multinational corporation. Anak-anak Indonesia, terutama di kota-kota besar, sedang menghadapi masalah obesitas sebagai dampak minuman ringan dan makanan serba-instan. Penduduk Bacan lebih senang mengkonsumsi air mineral produksi perusahaan di Jawa daripada minum air sehat dari tanah Bacan. Inilah gaya hidup salah yang harus diubah guru-guru).

jumping-quieu

Make a quieu for jumping. Children can organise themselves. (Mengantri untuk melompat. Anak-anak dapat mengatur dirinya sendiri.

flying-in-the-air

“I’m coming! Accept me, please!” (“Saya datang!. Silahkan terimalah saya!”

brave-jump

Exploring into the sea.

Look at the sea instead of looking at the land. The future of Indonesia, especially the future of North Maluku, depends on the vision of maritime excellence. Primary teachers can start with the local content curriculum to be integrated in relevant topics. They will solve the problem of fish bribery by the Thailand fishboats and the use of tigger trawl by rich fishermen and the use of dinamite which destroys sea wealth and treasure of North Maluku. (Menjelajahi laut. Menghadaplah ke laut, bukan menghadap ke darat. Masa depan Indonesia, terutama masa depan Maluku Utara, bergantung kepada visi keunggulan maritim. Guru-guru SD dapat memulai dengan kurikulum muatan lokal yang diintegrasikan ke dalam topik-topik belajar yang relevan. Anak-anak ini di masa depan akan memecahkan masalah pencurian ikan oleh kapal-kapal ikan Thailand, masalah penggunaan pukat harimau dan dinamit yang menghancurkan kekayaan dan harta karun laut Maluku Utara.)

pic_11311

From Ternate to Bacan island, 8 hour journey to Bacan Island. Bacan, where are you? (Dari Ternate ke Pulau Bacan, 8 jam pelayaran di malam hari. Bacan, di manakah engkau?

pic_1196

The head of Halmahera Selatan education office is addressing teachers during the opening of the workshop of master tutors for developing school level curriculum accross the district on 10th of November 2008. This workshop is conducted by Save the Children. From left to right: Mr Ramli, the division head of primary education of the district, the head nof education office, Mr Mifta from Save the children and me. (Kepala Dinas Kabupaten Halmahera Selatan sedang memberi pengarahan dalam acara pembukaan Lokakarya Pelatih Pengembangan KTSP pada 10 November 2008. Dari kiri ke kanan: Pak Ramli, Kepala Dinas, Pak Mifta dari Save the Children, dan saya).

pic_1200

Training participants are listening to the opening address. (Peserta lokakarya mendengarkan arahan).

pic_1206

Icebreaker pasangan melepas tali. Tertawa melancarkan kerja otak. (The icebreaker of releasing the holding strings by a pair. Laughing stimulates brain).

pic_1207

Masih sungkan saling melepas tali yang mengikat pasangan. (Being still uneasy to release the holding strings of this pair)

pic_1189

Bacan, earlly in the morning. (Bacan di pagi hari)

pic_11371

Dermaga Biru, Bacan, menjelang maghrib. (Bacan during the sunset)

pic_1158

Benteng Portugis “Bernaveld” di Pulau Bacan. Bacan dan Maluku Utara yang kaya rempah-rempah, hasil bumi, dan hasil hutan menarik penjajah Portugis, Belanda, dan Inggris datang untuk mengeruk kekayaan wilayah ini. (Portuguese Bernaveld Castle in Bacan Island. The wealth spices, agricultural and forest commodities attracted Portuguese, British and Dutch colonialists to exploitate the natural wealth of this area).

bacan-in-the-afternoon1

Good bye, Bacan! From Bacan with love to children, teachers, people and its natural wealth. (Selamat tinggal, Bacan! Dari Bacan dengan cinta kepada anak-anaknya, guru-gurunya, penduduknya, dan kekayaan alamnya.)

bacan-children-on-becak

Hello, Indonesia! Warm wishes from us, the children of Bacan! (Hallo, Indonesia! Salam hangat dari kami, anak-anak Bacan!)

bacan-little-girls

Original smile of Bacan litte girls. (Senyuman asli gadis-gadis cilik Bacan)

we-are-the-champions

We are the champions!

If Obama’s brain was able to develop by the support of tempe and tohu during his life in Jakarta, we can be better, because fish is our daily food menu. Provide us wtth a variety of access and we are ready to make a quantum leap! Thank you, Save the Children. You come to encourage us to move forward on our own feet. (Kami adalah pemenang! Jika otak Obama mampu berkembang dengan dukungan tahu dan tempe selama hidupnya di Jakarta, kami dapat lebih baik, karena ikan adalah menu makanan harian kami. Berilah kami kesempatan melalui berbagai akses dan kami siap membuat loncatan kuantum. Terima kasih, LSM Save the Children. Kalian datang untuk mendorong kami melangkah maju dengan kaki kami sendiri.

Salam hangat dari Pulau Bacan, Maluku Utara!

Koleksi Foto: Ayok dan S.Belen

Iklan

alison-brie-shirlet-dance-1

Osteoartritis pengapuran tulang

Kunjungilah posting ini:

https://sbelen.wordpress.com/2013/05/03/bawang-putih-cuka-apel-madu-jahe-lemon-jantung-sehat-tubuh-bugar/

Gambar spanduk Sano

Sano sembuhkan pengapuran tulang

Kartu nama Yuni