Posts Tagged ‘kreatif’

Mengapa sekarang siswa dan orang tua sulit mendapatkan buku pelajaran bagi anaknya? Pertanyaan dan jawaban

Juli 27, 2008

Perpustakaan SDN 005 Pekanbaru

(Foto koleksi Noor Indrastuti)

Pada post ini penulis kemukakan pertanyaan yang sering diajukan orang tua, siswa, dan guru tentang pengadaan buku pelajaran dan jawaban singkat atas pertanyaan itu.

(Penulis adalah pengamat buku pelajaran sekolah, pembimbing guru untuk menulis buku pelajaran, dan melatih penulis buku pelajaran dan editor agar memproduksi buku yang sesuai dengan tuntutan kurikulum, terutama tuntutan belajar aktif, untuk membuat siswa kreatif dalam belajar).

Selamat membaca!

1.Mengapa Anda sulit mendapatkan buku pelajaran bagi anak pada awal tahun ajaran ini?

Jawaban: Kesulitan ini muncul pada awal tahun ajaran ini karena pemerintah mengeluarkan Peraturan Menteri (Permen) No. 2 Tahun 2008 yang pada intinya mengusahakan buku murah bagi para siswa. Untuk itu, Depdiknas membeli copyright naskah buku pelajaran, yang berlaku selama 15 tahun. Naskah buku itu lalu didesain pemerintah dan dimasukkan ke Internet sehingga siswa dan sekolah dapat men-download buku pelajaran itu. Sekarang buku itu disebut E-book.

2.Siapa saja yang diizinkan mendownload, mencetak, dan menjual E-book tersebut?

Jawaban: Siapa saja diizinkan mendownload dan menggandakan buku itu dan dapat dijual kepada siswa dengan HET (Harga Eceran Tertinggi) yang ditentukan Mendiknas.

3.Lalu, mengapa buku murah tersebut sulit diperoleh?

Jawban: Karena, harga eceran tertinggi yang ditentukan Mendiknas terlalu rendah, tidak sesuai dengan harga pasar yang ditentukan oleh mekanisme pasar. Tampaknya tidak mungkin orang mencetak dan menggandakan buku itu lalu dijual dengan harga tersebut. Mengapa? Karena, harga kertas sering melambung terutama menjelang tahun ajaran baru, apalagi di tengah kelanggkaan yang dirasakan orang tua murid sekarang.

HET yang ditentukan pemerintah tak masuk akal karena harga kertas dan tinta sudah melambung naik, terutama sejak kenaikan harga BBM. Akibatnya, tak ada percetakan yang mau mencetak.

Lalu, masalah muncul karena dalam Permen No. 2 Tahun 2008 itu, pada Pasal 11 dinyatakan bahwa penerbit swasta tidak diperbolehkan menjual buku ke sekolah. Peraturan lain juga menyatakan bahwa guru dan kepala sekolah dilarang bekerja sama dengan penerbit, termasuk melalui koperasi sekolah. Buku pelajaran yang diperbolehkan hanyalah E-book tersebut.

Siswa SDN 005 Pekanbaru sedang belajar di taman sekolah

4.Apakah mudah men-download E-book?

Jawaban: Masyarakat kecewa karena amat sulit dan memerlukan waktu amat lama men-download E-book. Di Indonesia, maksimal hanya 5% populasi siswa yang dapat mengakses E-book. Siswa yang dapat mengakses dan menggunakan E-book tentu saja harus memiliki komputer atau menggunakan komputer sekolah, dan komputer pun harus terhubung dengan Internet. Dalam keadaan jaringan internet dan listrik PLN yang sering padam ini, penggunaan E-book tampak seperti impian di siang bolong.

5.Apakah benar dengan adanya E-book, siswa tak perlu membeli buku pelajaran karena tinggal menggunakan komputer dan langsung belajar dari layar komputer, termasuk mengerjakan PR?

Jawaban: Di dunia ini kenyataan menunjukkan bahwa di negara maju, seperti Inggris, Amerika Serikat, Australia, Singapura, dan Jepang, para siswa tetap menggunakan buku pelajaran. Mengapa? Karena, dari segi keterbacaan, siswa lebih mudah dan santai belajar dan mengerjakan PR dari buku pelajaran daripada langsung menggunakan komputer. Lalu, komputer pun harus tersambung dengan Internet. Penggunaan internet langsung dalam proses belajar-mengajar dengan membaca E-book akan menganggu konsentrasi siswa dan guru sulit mengendalikan para siswa.

Mengerjakan PR lebih baik dengan

buku pelajaran daripada dengan E=book

6.Mengapa pemerintah melarang penerbit swasta menjual buku ke sekolah?

Jawaban: Menurut pemerintah, hal ini akan menimbulkan kolusi antara guru dan kepala sekolah dengan penerbit. Namun, hal ini sebenarnya hanya dilakukan oleh satu-dua penerbit kecil yang tidak memiliki percetakan. Mereka berusaha membuat bukunya laris dengan memberi TV, kulkas, atau mengongkosi para guru mengadakan study tour ke tempat wisata. Pemerintah men-generalisasi seolah-olah semua penerbit melakukan hal yang sama. Sebenarnya, penerbit besar, terutama yang memiliki percetakan sendiri tidak melakukan hal itu. Mengapa? Karena untuk apa penerbit besar itu memberi hadiah TV atau kulkas kepada guru. Kan, lebih menguntungkan terjun saja ke bisnis menjual TV dan kulkas.

7.Apakah masuk akal jika pemerintah mewajibkan orang tua murid membeli buku di toko buku?

Jawaban: Di daerah di luar Jawa, semisal NTT, Maluku, Papua, Kalimantan, dan Sumatra ada berapa toko buku di tiap pulau? Terbanyak hanya ada di ibukota provinsi. Bagaimana bisa, orang tua dan siswa diwajibkan membeli buku di toko buku. Di Jakarta saja, orang tua murid yang mencari 1 judul buku Matematika SD kelas 5 misalnya harus berkeliling Jakarta karena di toko buku tidak semua jilid tersedia. Akhirnya, biaya untuk membeli buku itu berlipat ganda jika dihitung dengan biaya transportasi.

8.Apakah benar penerbit swasta yang besar hanya menarik keuntungan dari menjual buku ke sekolah?

Jawaban: Penerbit besar pada umumnya mengadakan perjanjian dengan kepala sekolah dan guru dengan prinsip saling memberi dan menerima. Penerbit sering melakukan pelayanan kepada pelanggan (customer service), misalnya dengan mensponsori penataran atau pelatihan bagi para guru, membantu pengadaan kurikulum, contoh silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) atau persiapan mengajar guru kepada para guru. Selain itu, ada penerbit yang membantu membuat laboratorium bagi sekolah, membantu pengadaan alat dan bahan lab, bahkan ada yang membantu pembuatan kolam renang bagi sekolah besar di kota besar.

9.Apakah sekolah dapat melakukan negosiasi harga buku dengan penerbit?

Jawaban: Dalam dunia bisnis, negosiasi harga adalah hal biasa. Jika sebuah sekolah memiliki jumlah siswa yang banyak, penerbit dapat saja menurunkan harga buku.

10.Apakah para guru dan kepala sekolah mendapatkan rabat dari pembelian buku pelajaran?

Jawaban: Dalam dunia bisnis, pemberian rabat adalah hal biasa dan dapat dinegosiasikan dengan penerbit. Ada penerbit yang memberikan rabat 25% – 30% dari hasil pembelian bruto. Sebagai contoh, jika sebuah sekolah memesan buku pelajaran dengan biaya total Rp 10 000 000, para guru dan kepala sekolah dapat memperoleh rabat Rp 2 500 000. Kalau omzet sebuah sekolah besar Rp 1 milyar, para guru dan kepala sekolah dapat memperoleh Rp 250 juta. Rabat ini dapat digunakan untuk menambah modal koperasi sekolah, membeli mobil operasional sekolah, membeli alat dan bahan lab, dan dibagi-bagikan kepada guru sebagai bonus untuk biaya meyekolahkan anaknya. Bahkan, ada sekolah besar yang mengalihkannya untuk membuat kolam renang.

11.Apakah ada perbedaan mutu antara buku paket pemerintah yang ada dahulu dengan mutu buku penerbit swasta?

Jawaban: Secara umum dapatlah dikatakan bahwa mutu buku pelajaran penerbit swasta lebih baik daripada buku paket pemerintah. Karena, penerbit swasta harus meningkatkan mutu produk agar menarik konsumen, yaitu siswa, orang tua murid, dan guru. Namun, kemudian Depdiknas tidak menerbitkan lagi buku paket. Namun, sejak dulu, bahkan sejak ada buku paket, Depdiknas berhak menetapkan sebuah buku pelajaran penerbit swasta telah lolos seleksi pemerintah untuk dijual kepada para siswa. Pada umumnya penerbit berusaha mengikuti aturan seleksi buku pemerintah. Dan, tahun-tahun terakhir ini sekolah berhak memilih buku penerbit swasta dari daftar yang diterbitkan pemerintah dan membelinya dengan dana BOS untuk jenjang SD dan SMP. Sedangkan, dana BOS buku untuk SMA sampai sekarang belum ada. Tahun ini, jadi tidaknya pemerintah memberikan dana BOS buku kepada sekolah belum ada kepastian.

12.Apakah tepat dan masuk akal jika pemerintah melarang penerbit swasta menjual buku ke sekolah dan menerbitkan aturan yang menghalangi bisnis buku penerbit swasta?

Jawaban: Penerbitan buku, termasuk buku pelajaran, adalah bisnis kreatif (creative business) yang termasuk kerja ilmu pengetahuan (knowlede work). Jika suatu bangsa ingin maju, untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia dalam rangka mencerdaskan bangsa, bisnis perbukuan seharusnya didukung, bukan dihalang-halangi dan dicurigai. Penerbit menjual buku, bukan narkoba. Mengapa penjual bakso dan jajanan yang menggunakan zat pewarna, pengawet, dan bisa juga formalin tidak dilarang pemerintah berjualan di sekolah?

Selain itu, selama ini pemerintah tetap bersikukuh sejak era Orde Baru sampai dengan sekarang untuk tidak menghapuskan pajak pembelian kertas kepada penerbit buku. Karena itu, harga buku menjadi mahal karena penerbit mengalihkan beban biaya pembelian kertas ini kepada konsumen.

Perpustakaan SDN Sumbersono, Mojokerto

(Foto koleksi Noor Indrastuti)

Advertorial

 

Anak tendang guru

Diabetes

Bacalah posting ini:

https://sbelen.wordpress.com/2013/05/03/bawang-putih-cuka-apel-madu-jahe-lemon-jantung-sehat-tubuh-bugar/

Gambar spanduk Sano

sano-normalkan-gula-darah

Kartu nama Yuni

Iklan

Berilah hak bicara kepada anak

Juli 11, 2008

Sssst!

Siapa yang sering melakukan hal seperti terlihat pada gambar ini? “Diam!” “Jangan bicara!” “Tutup mulutmu!” “Jangan berisik!” “Jangan ribut!” Kata-kata ini akan terlontar jika gerak tangan menyuruh diam itu tidak berhasil.

  1. Apakah guru yang suka berceramah? Yang berpendapat bahwa mengajar sama dengan berbicara? Atau, kalau tidak berbicara berarti belum mengajar?
  2. Apakah pengkotbah yang berpendapat bahwa tugasnya adalah berbicara dan berbicara berarti menasihati, menakut-nakuti atau mengancam dengan api neraka dan menjanjikan tempat yang layak di surga?
  3. Apakah orang tua yang cenderung melarang, yang mengucapkan kata “jangan”, “tidak boleh”, atau kata senada lainnya sekitar 100 kali dalam sehari kepada anaknya?

Bagaimana anak kita bisa berani berbicara, melakukan hak asasi anak untuk mengungkapkan pendapatnya, jika guru, orang tua, dan pengkotbah lebih sering melarang daripada mendorong anak mengekspresikan dirinya?

Dampak jangka panjang apa yang akan terlihat dalam diri anak tatkala dewasa? Menjadi:

  • manusia pasif?
  • manusia suka ikut arus?
  • “yes man” atau “yes woman”?
  • manusia yang tak suka mengambil inisiatif?
  • manusia yang kurang kreatif?


Ciri-ciri kreativitas Albert Einstein

Juli 9, 2008

earliest-known-photo-einstein

Foto masa kanak-kanak Albert Einstein yang dikenal selama ini

Apakah Albert Einstein menunjukkan ciri-ciri manusia yang kreatif? Apakah ciri-ciri itu menunjukkan sejauh mana Einstein menggunakan potensi otak kanannya? Apakah potensi otak kirinya didukung gaya belajar otak kanan yang menyebabkan Einstein menjadi penemu hebat, ilmuwan terbesar pada millenium kedua?

KREATIVITAS EINSTEIN

Apa saja ciri kreativitas Einstein?

  1. SUKA BERKHAYAL,BERIMAJINASI

Albert Einstein di masa kecil terkenal lamban, suka berkhayal.

Ada selentingan, Einstein agak “terbelakang” waktu kanak-kanak. Ia lambat berbicara, tak banyak bicara sampai usia 3 tahun.

 

  1. SUKA MEMANIPULASI BENDA

Di usia 5 tahun waktu sakit, ia bermain dengan kompas. Ia takjub. Mengapa jarum kompas selalu menunjuk ke arah utara? Ia tak percaya, lalu coba mengakali, agar jarumnya menunjuk ke arah lain. Tapi heran, kompas menolak permainannya!

Ia senang membangun ‘proyek’. Pernah ia membangun rumah dengan menyusun kartu-kartu sampai 14 lantai.

Ia lebih senang dengan proses belajar, bukan hasil akhir.

 

  1. SENANG BELAJAR SENDIRI (OTODIDAK)

Ia sering gagal ujian sejak SD sampai sekolah menengah.

Nilai bagus hanya untuk fisika dan matematika, yang sering dipelajari di rumah. Yang lain serba-anjlok.

 

  1. SENANG KEBEBASAN, ANTI-KEKUASAAN OTORITER

Ia malas belajar karena diajari guru berlagak bos, dan memaksa disiplin kaku.

Ia ‘memberontak’, karena kurang bebas berekspresi dan belajar sesuai minat. Waktu ujian, ia sering alami kesulitan.

Di usia 9 tahun, ia pindah ke gymnasium. Ia gemar bahasa Latin. Ia tekun belajar apa yang diminati & luar biasa menguasainya.

Di usia 12 tahun, Albert berteman dengan Max, mahasiswa kedokteran. Max pinjamkan buku geometri. Albert mendalami kalkulus. Akhirnya, Max sendiri tak bisa menandinginya. Max lalu meminjamkan buku filsafat Kant yang rumit & sulit. Biar ia pusing, menyerah, lalu senang pelajari biologi dan kedokteran. Ternyata Max keliru.

 

  1. SUKA BERTANYA

Ide demi ide merasuk otaknya. Ia tak betah duduk diam mendengarkan guru. Sejak kecil, pamannya memperkenalkan aljabar.

 

  1. KRITIS

Ia tidak senang di sekolah. Tidak disenangi guru dan kepala sekolah. Dicap bodoh.

Pada usia 15 tahun, ia tinggalkan sekolah. Gagal, tak mengantongi ijasah.

Dalam memoarnya, Einstein pernah menulis, KURIKULUM SEKOLAH ADALAH PEMBOHONGAN, TIDAK RELEVAN, MEMBOSANKAN.

Karena kemampuan matematika & fisikanya hebat, ia percaya diri. Dicap sombong & kurang ajar.

Ia menderita karena usaha ayahnya 2 x bangkrut. Keluarga pindah ke Munich di Jerman, dan kemudian ke Milan, Italia.

Tahun 1895, walaupun tanpa ijasah SMA, ia coba ikut tes masuk ETH           (Institut Politeknik Swiss) di Zurich. Tidak lulus!

Ia lalu masuk sekolah menengah di luar Zurich, persiapkan diri agar ‘tembus’ ke ETH.

3006-Young_Albert_Einstein3

 

7. SUKA BERPETUALANG, JUGA DALAM CINTA

Ia indekos di rumah gurunya. Bersama keluarga ini ia mendaki gunung.

Ia bermain biola, berduet dengan Marie, putri Pak kos yang bermain piano. Einstein tampan, berpakaian rapi, sopan, ramah. Marie jatuh cinta. Inilah pengalaman asmara pertama Einstein. Ia punya banyak teman wanita. Ia senang berlayar di Danau Zurich bersama Marie.

Berlayar dan merayu wanita adalah dua kegemarannya selama hidup. Ia gonta-ganti wanita, partner berlayarnya.

 

8. HUMORIS

Pada masa ini ia suka humor, tertawa terbahak-bahak, membuat olokan jenaka.

Dalam setahun, ia berhasil memperoleh sertifikat. Ia mencoba tes masuk lagi & diterima di ETH.

 

9. MENEKUNI APA YANG DISENANGI

Sejak 5 tahun ibunya mengajarkan bermain biola. Ia tertarik & berusaha bermain sebaik-baiknya. Sejak kecil ia senang menekuni apa yang disenangi. 4 tahun di ETH ia sering bolos. Seorang dosen menyebutnya “anjing malas.”

Ia lebih senang membaca & melakukan percobaan sendiri. Akhirnya, lulus juga, meski dengan nilai terendah di kelas.

Ia jatuh hati kepada Mileva Maric, satu-satunya mahasiswi Serbia di kelasnya. Tak begitu cantik, agak pincang, jarang tertawa. Tapi, ia teman diskusi & amat mandiri.

 

10. PANTANG MENYERAH, TAHAN BANTING

@ Einstein melamar jadi guru ETH tetapi ditolak. Akhirnya, jadi guru bantu di sekolah teknik. Gaji rendah. Terpaksa mengajar part time lain & memberi les privat.

@ Mileva hamil, mengungsi ke Serbia & melahirkan anak wanita, Lieserl. Ia sakit-sakitan,diadopsi orang lain & menghilang.

@ Tahun 1902, Einstein bekerja di kantor paten di Bern. Teknisi rendahan.

th.physik.uni-frankfurt.de.barcelona 1923

Ia pun bisa membiayai hidup & meneruskan penelitian mandiri. Ia terbitkan 3 makalah yang menghebohkan. Makalah tentang efek fotolistrik membuahkan hadiah nobel tahun 1921.

Tahun 1903, Einstein & Mileva menikah, tahun 1904 lahir Hans Albert.

Eduard, Mileva, Hans Einstein

Putri Einstein, Eduard, istirnya Mileva, dan putranya Hans

7 tahun bekerja di sana, tahun 1905 meraih gelar doktor dari Universitas Zurich. Tapi, masih susah meraih pekerjaan terhormat.

@ Tahun 1909 ia diterima jadi asisten profesor di Universitas Zurich, 1910 lahir putra kedua, Edouard, 1911 jadi dosen di Praha. Makin mashur.

Di sana ia bertemu saudara sepupunya,   Elsa Lowenthal, berusia 38 tahun, 5 tahun lebih tua, janda dengan 2 putri. Akhirnya, Einstein bercerai dengan Mileva, menikahi Elsa. Tapi, tetap senang merayu wanita. Suami yang tak setia!

elsa-einstein

Einstein dan istrinya Elsa

Ciri-ciri kreativitas inilah yang menghantar Einstein meraih yang melampaui gelar akademis apa pun.

Einstein membuktikan, betapa otak mampu menjangkau yang tak terbayangkan manusia!

Apakah Anda seorang yang kreatif?

  1. Apakah Anda suka berimajinasi?
  2. Apakah Anda suka memanipulasi objek?
  3. Apakah Anda senang belajar sendiri (otodidak)?
  4. Apakah Anda senang kebebasan, anti-kemapanan yang otoriter, melawan arus zaman, terdorong menjadi perintis?
  5. Apakah Anda suka bertanya?
  6. Apakah Anda kritis
  7. Apakah Anda suka bertualang?
  8. Apakah Anda humoris?
  9. Apakah Anda suka menekuni apa yang disenangi, dicita-citakan?
  10. Apakah Ada pantang menyerah, tahan banting?

 

th.physik.uni-frankfurt.de.einstein 1929

 

Bila anda ingin mendapatkan uraian ini dalam bentuk file powerpoint, silahkan klik dan download file ppt ini.

Kreativitas Einstein

 

 

Advertorial

900x900px-LL-ac6c238e_wtf-japan-gif-headbutt

Tekanan darah tinggi

Sano darah tinggi

Kunjungilah posting ini:

https://sbelen.wordpress.com/2013/05/03/bawang-putih-cuka-apel-madu-jahe-lemon-jantung-sehat-tubuh-bugar/

 

Gambar spanduk Sano

Kartu nama Yuni Juli 2015