Posts Tagged ‘kampanye’

Kebijakan pendidikan gratis: Mutu kian merosot

Mei 16, 2009

Dampak kebijakan pend gratis

Bulan-bulan ini saya terjun langsung ke sekolah guna membantu mengembangkan lima SD agar dapat dicontoh sekolah-sekolah lain di wilayah itu.

Karena isu pendidikan gratis tampak populer, “jual obat” slogan, kampanye,  dan iklan pendidikan gratis bahkan telah diterjemahkan menjadi kebijakan pendidikan gratis di daerah-daerah. Yuran komite sekolah di sekolah negeri guna menutupi kekurangan dana pemerintah dihapuskan. Alasan utamanya, karena sudah ada kucuran dana BOS dan di daerah tertentu ada tambahan insentif dari pemerintah daerah. Namun, hanya sekitar 20% kebutuhan biaya rutin sekolah yang tertanggulangi dana-dana tersebut, yang nota bene seharusnya merupakan dana rutin namun dipolitikkan menjadi kucuran dana dari kemurahan hati pemerintah. Ini kan hanya tipuan.

Dampak mudharat kebijakan yang tak bijak ini yang dimotori slogan, kampanye, dan iklan politik ini  jauh lebih banyak daripada manfaatnya. Dampak negatif yang menonjol sesuai dengan pengamatanku disajikan pada gambar di atas.

Mana ada pendidikan yang bermutu dengan “barang” gratisan? Bahkan, kampanye pendidikan gratis itu pun dibiayai dengan uang rakyat yang pajaknya tidak digratiskan. Ke mana dan bagaimana logika berpikir para pejabat ini? Ke mana perasaan mereka?

Iklan

big love dance

Klik gambar kalau belum bergerak

Human heart

Kunjungilah posting ini:

https://sbelen.wordpress.com/2013/05/03/bawang-putih-cuka-apel-madu-jahe-lemon-jantung-sehat-tubuh-bugar/

https://sbelen.wordpress.com/2013/04/15/sano-ramuan-herbal-berkhasiat-mulai-bisnis-di-usia-62-tahun/

Gambar spanduk Sano

sano-normalkan-gula-darah

Kartu nama Yuni

Iklan

SD St Theresia Surabaya mendidik siswa mencintai lingkungan hidup

September 28, 2008

Sekolah dasar ini terletak di tengah Kota Surabaya yang penuh sesak, gerah, dan pengap. Terbanyak siswa dari keluarga menengah atas. Mereka adalah generasi ‘manja’ yang tak suka berkotor tangan dan bergantung kepada pembantu. Anak-anak tak terbiasa menanam tumbuhan dan merawat tanaman. Hidupnya mencerminkan perilaku masyarakat kota yang suka membuang sampah sembarangan. Belum berbudaya lingkungan, cenderung boros air, listrik, bahan bakan minyak. Menjadi penyumbang terbesar sampah plastik serta botol dan pembungkus makanan kecil dan siap saji! Guna mengubah perilaku salah ini, sekolah memilih melaksanakan Program Adiwiyata.

Ibu Noor Indrastuti, ahli kurikulum IPA dan Biologi dari Pusat Kurikulum Balitbang Depdiknas sedang mengamati dan mendengarkan penjelasan siswa di green house. Siswa bangga menjelaskan hasil karyanya. Ibu Noor adalah salah seorang konseptor Program Adiwiyata yang digagas dan disebarkan Kementerian Lingkungan Hidup.

Program “Adiwiyata” digagas Kementerian Lingkungan Hidup dan dikembangkan bekerja sama dengan Depdiknas.Prinsip dasar: Partisiatif & berkelanjutan.
Indikator & kriteria:
1. Pengembangan kebijakan sekolah peduli &
berbudaya lingkungan.
2. Pengembangan kurikulum berbasis lingkungan.
3. Pengembangan kegiatan berbasis partisipatif.
4. Pengembangan dan/atau pengelolaan sarana
pendukung sekolah.

Sasarannya antara lain: Hemat energi, hemat air, dan ramah lingkungan.

Inilah SD St Theresia tampak depan. Sekolah ini berupaya merindangkan sekolah dan membuatnya tampak asri.

Dibagi atas tempat sampah organik dan non-organik


Siswa yang dibiasakan membuat sampah pada tempatnya bahkan dapat menegur orang tuanya yang membuang sampah sembarangan.

Salah satu langkah membuat kompos.

Salah satu langkah membuat kertas daur ulang. Siswa dilatih agar berhati-hati menggunakan alat elektronik.

Salah satu langkah membuat kertas daur ulang.

Bahan dan peralatan perlu disimpan pada tempatnya.

Membuat karya kerajinan tangan dengan menggunakan barang bekas.

Contoh pemanfaatan barang bekas.

Salah satu pajangan hasil kerja siswa.

Contoh buku hasil kerja siswa yang memanfaatkan kertas daur ulang buatan sendiri.

Pajangan kerajinan tangan yang bisa dijual.


Walaupun lahan sekolah sempit, pimpinan sekolah berusaha membuat green house untuk praktik menanam. Amat penting bagi siswa yang tinggal di kota besar.

Contoh minuman dari kunyit yang dapat dibuat siswa.

Alat bantu pelajaran Permainan Ular Tangga untuk pendidikan lingkungan hidup. Dibuat dengan kertas daur ulang produksi siswa.

Sempitnya ruang kelas tidak dijadikan alasan untuk tidak mengaktifkan siswa dalam kegiatan belajar. Siswa dapat melakukan kegiatan belajar di gang dan halaman sekolah.

Ruang apa pun di sekolah, termasuk dinding luar digunakan untuk memajangkan hasil kerja siswa. Secara fisik tercipta suasana yang mendorong siswa belajar.

Sekolah dapat mengundang orang tua ke bazar sekolah. Apresiasi bagi siswa.

Kegiatan belajar di halaman sekolah. Semakin banyak siswa bergerak dan menghirup oksigen waktu belajar semakin baik kinerja otaknya.

Kampanye melestarikan lingkungan hidup pada Hari Bumi. Siswa dilatih hidup berdemokrasi. Setelah mempraktikkan kepedulian dan budaya lingkungan di sekolah, layaklah siswa mengajak masyarakat. Siswa dilatih hidup berdemokrasi.

IIbu Noor Indrastuti sedang mengapresiasi hasil kerja siswa.

Belahan otak kanan siswa perlu dikembangkan melalui seni tari yang disertai musik dan lagu. Kegiatan ekstrakurikuler yang beragam mendorong pengembangan kreativitas siswa. Tampaknya untuk sekolah di Indonesia berlaku sebuah penunjuk mutu berikut ini: Semakin bagus kegiatan ekstrakurikuler sebuah sekolah, semakin bermutu sekolah itu.

Bersama siswa sekolah menetapkan tata tertib kantin yang memperhatikan kebersihan, kesehatan, dan penghematan sumber daya alam.

Siswa dibiasakan menghemat air dan mencuci tangan dengan sabun. Salah satu penunjuk apakah kepala sekolah dan staf guru memperhatikan kesehatan dan kebersihan adalah menyediakan sabun untuk mencuci tangan. Di bandara internasional dan domestik di Indonesia sering tak disediakan sabun di toilet.

Kapan sekolah Anda mulai? Please, take action now! And be the best!

Catatan: Post ini direvisi total karena lampiran file powerpoint tak dapat di-download pengunjung. Foto dan narasi langsung ditampilkan di halaman depan. Maaf & terima kasih).

Sumber foto: Koleksi Noor Indrastuti.

Iklan

900x900px-LL-92a6f817_girls-football-trick-animation

Klik gambar kalau belum bergerak

Tekanan darah tinggi

Kunjungilah posting kami ini:

https://sbelen.wordpress.com/2013/05/03/bawang-putih-cuka-apel-madu-jahe-lemon-jantung-sehat-tubuh-bugar/

Gambar spanduk Sano

sano-darah-tinggi

Kartu nama Yuni 3

900x900px-LL-6f6a3862_17841067f0927d0c1694b2cde86c8adf_large

Kampanye Pemilu boros uang

Juli 10, 2008

MENYAMBUT KAMPANYE PEMILU 2009:

Kampanye pemilu: Bangsa kaya menghemat uang, bangsa miskin malah memboros uang

Tanggal 12 Juli 2008 s.d. 9 April 2009! Kampanye pemilu legislatif ini berlangsung selama 9 bulan 7 hari. Lamaaaa sekali. Hampir 1 tahun. Selain itu, sampai dengan 9 April 2009 rakyat tetap dibuat bingung mengikuti sekitar 100 kampanye Pilkada bupati, walikota, dan gubernur. Selama itu, konsentrasi kerja rakyat Indonesia diganggu. Elit politik tak berpikir dan mengerjakan hal lain kecuali membujuk rayu rakyat (‘ngapusi’, meminjam istilah Pak Harto).

Pada tahun 1992 saya berada di Inggris dan sempat menyaksikan pemilu perdana menteri, pertarungan antara John Major dari Partai Konservatif dan Neil Kinnock dari Partai Buruh. Kemudian, pada tahun 1996 saya menyaksikan juga kampanye pemilu perdana menteri antara John Major dan Tony Blair, walaupun tak menyaksikan hari pemungutan suara. Di antara kurun waktu itu, sejumlah pemilu tingkat kabupaten saya saksikan juga.

Yang menarik adalah kampanye pemilu amat sepi, seolah tak ada apa-apa. Di jalan-jalan raya yang ramai hanya terpampang satu-dua gambar perdana menteri dan calon perdana menteri. Bendera dan umbul-umbul tak tampak. Apalagi, mana ada rakyat yang mau pakai baju kaus partai? Malu! Rapat umum hampir tak tampak, paling-paling hanya terlihat 50 orang berbaris sepanjang satu-dua km dan bubar di sebuah taman.

Pertarungan antar-partai justru amat dominan tampak pada acara TV. Secara berkala debat di parlemen antara perdana menteri dan partai yang berkuasa dengan partai oposisi disiarkan TV. Talk show sering ditampilkan dalam acara TV. Selain itu, kita bisa juga membaca persaingan politik itu dalam berita surat kabar. Lain kata, kampanye itu direntang-sebarkan antara satu pemilu dan pemilu berikutnya, sehingga tidak perlu memboros uang untuk aktivitas yang pasti ditertawakan rakyat.

Tampak paradoks yang membuat kita tak percaya. Mengapa negara sekaya Inggris yang memiliki investasi terbesar di Amerika Serikat begitu paham dan brilyan menghemat dana politik. Tidak membiarkan rakyatnya ditipu dengan dana politik hasil siluman?

Mengapa kita belum sadar juga? Mengapa kita berbuat seolah-olah rakyat sedang hidup makmur, damai, sejahtera, gemah ripah loh jinawi, tata tenteram kerta raharja? Mengapa kita memboros uang selama kampanye di tengah rakyat yang kian menderita? Indonesia, oh Indonesia!

“Nak, ambil kepalamu! Biarlah kamu berpikir dengan kepala. Jangan seperti elit politik yang suka berpikir tanpa kepala. Lebih suka menghambur-hamburkan uang di tengah penderitaan rakyat daripada berjuang mensejahterakan rakyat.”