Posts Tagged ‘hernia’

Salah diagnosis penyakit bisa sama fatal dengan salah obat

Oktober 9, 2017

Andreas Moritz, penulis buku The Amazing Liver and Gallbladder Flush (Pembersihan Liver dan Kantong Empedu), 2012, menyatakan: “Diagnosis is just as dangerous as treatment.” Diagnosis penyakit sejatinya sama berbahaya seperti pengobatan.

Jika dokter salah mendiagnosis penyakit atau penyebab penyakit, pengobatan berdasarkan kesimpulan diagnosisnya yang salah akan berdampak negatif terhadap penyakit pasien. Demikian pun, diagnosis penyakit atau penyebab penyakit sudah benar, tapi pengobatannya salah, pasien tidak bakalan sembuh.

Om kandung saya, Bruder Paskalis Koke SVD pernah didiagnosis menderita penyakit tuberkulosis (TBC) pada usia sekitar 50-an tahun. Bertahun-tahun ia minum obat TBC dan karena ia orang yang disiplin, tiada hari tanpa minum obat TBC, kondisi kesehatannya malah kian memburuk.

Kemudian ternyata, ketika ia memeriksakan diri di sebuah rumah sakit terkenal di Surabaya, dokter mengatakan, bahwa sebenarnya ia tidak pernah terkena penyakit TBC. Nah, lho.

Ketika om saya ini mencapai usia 92 tahun, ia terkena sakit hernia dan perutnya membengkak besar, membuncit. Dibawa ke rumah sakit di daerah. Dokter memfokus diagnosisnya pada sakit susah buang air besar (sembelit) yang menyebabkan perutnya buncit.

Dilakukan operasi untuk mengeluarkan cairan hitam dari perutnya dan dipasangi kantong di samping kanan perutnya untuk menampung feces. Dokter dan perawat terheran-heran karena ternyata usus buntunya tidak ada. Mereka menyerah.

Om dibawa ke rumah sakit terkenal di Surabaya. Para dokter menilai betapa bodoh dokter di daerah karena tidak mengetahui bahwa usus buntunya telah pecah. Mengapa mereka membedah perut?

Inilah contoh salah diagnosis mengakibatkan salah tindakan dan pengobatan.

Akhirnya, dilakukan operasi dua kali. Operasi pertama dilakukan untuk mengoreksi kesalahan yang dilakukan dokter di daerah. Operasi kedua dilakukan untuk menyambung kembali usus dengan dubur sehingga dapat buang air besar secara normal. Kantong penampung tidak diperlukan lagi. Setelah itu dibereskan sakit hernianya.

Pulang kembali ke daerah, om hanya minum sirup herbal Sano kami karena sudah tidak mengkonsumsi macam-macam obat lagi mengingat usianya yang sudah amat lanjut.

Berikutnya kisah tentang diri saya sendiri.

Pernah juga saya divonis dokter terserang penyakit hepatitis. Berbulan-bulan saya minum obat hepatitis, namun kondisi kesehatan saya kian memburuk. Selera makan akhirnya lenyap, dan hanya tinggal senang makan buah papaya.

Dokter itu pun kemudian menyarankan saya memeriksa darah di sebuah lab terkenal di Jakarta Timur. Tidak ditemukan penyakit hepatitis dalam tubuh saya, entah hepatitis B atau C. Dokter pun tetap pada hasil diagnosisnya bahwa saya menderita penyakit hepatitis kronis.

Kepada istriku, dokter itu membisikkan vonisnya, bahwa mungkin umur saya hanya tinggal 3 bulan. Ibu siap-siap saja dengan kemungkinan terburuk, suami ibu meninggal. Istri menceritakan vonis ini kepada anak-anak yang masih kecil dan anak-anak pun ikut merasa terpukul, sedih dan cemas.

Tiga bulan berlalu dan ternyata saya tidak mati. Berdasarkan kesimpulan diagnosis dokter ini, ketika bertugas ke daerah saya memeriksakan diri ke dokter di Kupang. Dan, dokter ini pun terpengaruh hasil diagnosis dokter yang pertama, dan saya diberi resep obat yang semakin keras.

Dengan berjalannya waktu, badan saya terus bertambah kurus sehingga ada teman yang mengatakan, maaf, badan Pak ini seperti tengkorak dibalut kulit.

Sekali waktu saya bertugas ke Yogyakarta. Ketika itu tubuh terasa amat lemah dan saya memeriksakan diri ke dokter spesialis di Rumah Sakit Panti Rapih, Yogyakarta.

Sesuai dengan kisah penyakit saya, dokter di rumah sakit ini memberi obat hepatitis. Namun, beliau mengatakan, Pak, saya curiga jangan-jangan Pak ini sakit jantung koroner. Beliau pun menulis rujukan ke rekan sejawatnya di Rumah Sakit Cipto, Jakarta.

Setiba di Jakarta, istri mengantar saya memeriksakan diri ke dokter di Rumah Sakit Cipto. Karena alat tes ekoardiografi atau echo atau USG jantung waktu itu masih langka, saya dijadwalkan sebulan lagi baru diperiksa.

Pada hari yang dijanjikan saya diperiksa dengan alat itu. Saat itu ada sejumlah mahasiswa keperawatan sedang berpraktik di rumah sakit. Dan, mereka pun ikut mengamati gambaran jantungku yang tertera di layar. Dokter menyimpulkan bahwa saya menderita sakit jantung koroner.

Hari itu saya benar-benar kaget dan shok. Rasanya dunia ini gelap gulita seketika. Ternyata sakit jantung yang saya takuti telah hinggap ke tubuh saya.

Berarti selama ini dokter salah mendiagnosis bahwa saya sakit hepatitis dan jadinya obat yang diberikan pun salah.

Berarti kejadian tahun 2001 ketika saya merasa dada tertikam-tikam sampai menjalar ke pundak disertai keringat dingin dan muntah-muntah itu adalah serangan jantung. Dokter di klinik 24 jam yang memeriksa dengan enteng mengatakan, oh ini maag kambuh, dan diberi obat maag.

Salah diagnosis jadinya salah pengobatan.

Belajar dari pengalaman ini, setiap kali sakit saya tidak percaya pendapat satu dokter. Tidak hanya mencari pendapat kedua, second opinion. Bahkan, saya sampai mencari pendapat keempat, fourth opinion atau bahkan lebih.

Iklan

Manfaat tembakau untuk kesehatan: Antara benci dan cinta

Mei 18, 2015

panen tembakau

Tembakau menjadi tumbuhan yang semakin dibenci di seluruh dunia. Gara-gara nikotin pada rokok yang dibuat dari daun tembakau. Tumbuhan ini mungkin bertanggung jawab atas lebih banyak kematian daripada yang disebabkan oleh tumbuhan-tumbuhan lain.

Cutting cigarette

Pandangan ekstranegatif terhadap tembakau ini bertolak belakang dengan pandangan pada zaman kuno. Tembakau adalah satu tumbuhan suci selain sage, sweetgrass (sejenis pandanwangi), dan cedar (sejenis cemara) menurut pandangan bangsa-bangsa asli Benua Amerika. Empat tumbuhan ini menjelmakan roh-roh yang mewakili 4 arah mataangin. Tembakau mewakili arah timur dan pikiran. Asap tembakau diyakini mampu membuka pintu Pencipta. Tumbuhan tembakau dipandang sebagai penghubung bumi dan langit, karena akarnya menghunjam cukup dalam ke dalam tanah dan asapnya tinggi mencapai langit.

4 sacred plants

Tumbuhan ini amat dihargai dan dihormati. Pemberian hadiah tembakau amat bagus untuk menjalin persahabatan. Seremoni menggunakan tembakau menciptakan hubungan dengan energi-energi alam semesta, dan terakhir dengan Pencipta. Hubungan antara kehidupan duniawi dan kehidupan akhirat tidak boleh terputus.

Ada 4 cara tradisional penggunaan tembakau.

  1. Digunakan dalam doa untuk menghubungkan dunia dan alam atas.
  2. Dibakar sebelum terjadi guntur dan kilat agar tidak merugikan manusia.
  3. Sebagai persembahan untuk menyucikan manusia sebelum berkomunikasi dengan Pencipta
  4. Sebagai wujud ekspresi penghargaan kepada Pencipta dan sesama dalam jaringan kehidupan.

Tembakau digunakan untuk memperbaiki hubungan antar-manusia yang dirusak oleh pertikaian atau konflik. Tembakau juga digunakan sebagai hadiah kepada tetua yang akan diminta nasihatnya.

Tembakau sebagai tumbuhan suci amat ampuh. Tapi, bila salah digunakan atau tidak dihargai, keampuhannya akan balik “memangsa, memakan” manusia. Tembakau dapat menjadi penyembuh atau perusak. Itu bergantung kepada bagaimana dan betapa sering digunakan.

Tembakau pada rokok menjadi racun yang berisi 4 ribu senyawa kimia. Ini adalah contoh penggunaan yang salah, tidak sakral. Bila tembakau pada rokok digunakan sehari-hari, terlalu sering, ia kehilangan khasiatnya. Ia kehilangan keampuhannya. Manusia menantang Pencipta bila tembakau digunakan di luar acara sakral.

Sumber:

http://www.oocities.org/redroadcollective/SacredTobacco.html

Tahun 1492 Kolumbus menemukan orang-orang asli Amerika menanam dan menggunakan tembakau, kadang-kadang untuk kenikmatan tapi sering untuk mengobati beragam penyakit. Kolumbus juga menduga, asap tembakau digunakan untuk anestesi (pembiusan) sebelum dukun melakukan operasi.

Tembakau yang dicampur dengan kapur (yang biasa dipakai orang yang makan sirih dan pinang) digunakan untuk memutihkan gigi.

Tembakau digunakan sebagai obat mujarab untuk menyembuhkan abses, fistula (saluran anus yang meluas dan terbuka pada kulit di dekat anus), luka, polip, dan banyak penyakit lainnya. Aroma daun tembakau segar dicium untuk menyembuhkan sakit kepala menahun. Daun tembakau segar atau bubuknya dikunyah di mulut untuk menyembuhkan flu dan katarak.

Penyakit pada kelenjar leher dapat disembuhkan dengan memotong akar lesi (jaringan abnormal), lalu pada bagian itu di leher ditempelkan cacahan daun tembakau yang dicampur dengan garam.

Bangsa-bangsa Eropa membawa tembakau dari Benua Amerika ke Eropa dan pada awalnya digunakan untuk pengobatan seperti pada bangsa-bangsa asli Amerika.

Pada abad ke-19 orang mulai menemukan efek negatif nikotin pada tembakau. Namun, asap tembakau masih digunakan untuk menyembuhkan keracunan, sembelit, hernia, tetanus, cacingan, dan penyakit anjing gila.

Penggunaan dari luar untuk menyembuhkan gigitan reptil atau serangga berbisa, histeria, nyeri, neuralgia, kejang laring (kejang pada otot-otot pangkal tenggorok akibat menyempitnya jalan napas), gout, gangguan pertumbuhan rambut, tetanus, cacingan, kurap, luka, dan perangsang pernapasan.

Tembakau ditempelkan untuk mengobati sembelit dan pendarahan melalui anus.

Tembakau dengan menggunakan mulut: asapnya untuk menyembuhkan hernia, dikunyah untuk menyembuhkan malaria atau demam berkala, dan untuk mengeluarkan benda berbahaya dari kerongkongan (esofagus) melalui muntah.

Sampai abad ke-20 manfaat terapi tembakau tidak sepenuhnya tenggelam. Misalnya, pada tahun 1924, sebuah salep yang dibuat dari daun tembakau yang dibakar, dicampur dengan lanolin (sejenis alkohol) diklaim bersifat anti-kelembaban, stimulan, dan antiseptik terhadap gatal-gatal, kurap, menyembuhkan kaki atlit, borok dangkal, dan luka (juga utuk membersihkan logam).

Selama wabah besar London tahun 1665 akibat penyakit pes, anak-anak disuruh merokok dalam ruang kelas agar terlindungi dari wabah ini. Tahun 1882 selama wabah cacar di Bolton, AS, tembakau dibagikan kepada semua penduduk. Kenyataan ini pun diperdebatkan kalangan ahli.

Tahun 1889 sebuah artikel pada British Medical Journal menunjukkan bukti eksperimen bahwa piridina (senyawa organik berbentuk cincin aromatik sederhana; rumus kimia: C5H5N) pada asap tembakau membunuh kuman. Eksperimen ini jua membuktikan bahwa para perokok tampak berisiko rendah terhadap penyakit difteri dan tifus. Karena, orang yang dapat mentoleransi tembakau tampaknya lebih kuat dan mampu melawan infeksi. Orang yang tidak merokok disarankan tidak merokok karena mereka akan lebih rentan terhadap penyakit-penyakit itu.

Tahun 1913 sebuah artikel pada The Lancet membahas isi piridina pada asap tembakau, berdasarkan eksperimen, mampu menghancurkan basil comma kolera. Artikel ini juga menyarankan agar hal ini tidak dilakukan orang yang tidak merokok karena mereka rentan terhadap basil ini.

Nikotin & penyakit Parkinson

Pada abad ke-20 perhatian beralih ke penyakit yang mempengaruhi otak dan sistem saraf. Pada tahun 1926 Moll melaporkan bahwa dari 13 penderita Parkinson yang diberi suntikan nikotin, 9 orang langsung menunjukkan peningkatan gerakan otot. Ia menyimpulkan, bahwa walaupun efeknya hanya sementara, tapi dampak cepat ini tak terbantahkan.

Ciri-ciri penderita Parkinson

Sebuah pengamatan, sekurang-kurangnya pada tiga studi menunjukkan, bahwa risiko relatif penyakit Parkinson lebih rendah pada perokok daripada orang yang tidak merokok, walaupun faktor-faktor lain dapat saja mempengaruhi hasil ini. Studi lain juga menunjukkan suatu hubungan yang mungkin terbalik antara mengisap rokok, penyakit Alzheimer, dan sindrom Tourette. Hasilnya mirip seperti studi tentang Parkinson.

Baru saja studi-studi dilakukan untuk mengukur dampak zat kimia nikotin terhadap penyakit Parkinson.

Pada tahun 2000 sebuah studi dilakukan terhadap efek nikotin pada penyakit Parkinson dan diterbitkan pada American Psychological Association. Dalam studi ini, 15 pria (usia rata-rata 66 tahun) yang didiagnosis menderita Parkinson tahap awal sampai sedang menerima satu dosis nikotin, diikuti dengan dosis nikotin kronis selama 2 minggu. Para pria ini menunjukkan peningkatan dalam penampilan kognitif, terutama waktu reaksi, kecepatan pemrosesan pusat, dan menurunnya pelacakan kesalahan. Setelah diberi nikotin kronis, perbaikan tampak pada beberapa pengukuran gerak, menunjukkan peningkatan fungsi exktrapiramidal. Ini bertahan selama 1 bulan setelah pengobatan.

Nikotin juga berperan kunci dalam pencegahan. Ini tidak berarti mulai merokok, karena nikotin dapat ditemukan dalam “Solanaceae“, satu keluarga tumbuhan bunga (seperti juga pada lombok dan tomat). Makan makanan ini dapat membantu mencegah perkembangan Parkinson dan menurunkan risiko terkena penyakit ini. Walaupun dalam banyak cara, zat kimia ini – “dipikirkan” memiliki dampak melindungi saraf terhadap neuron energi dompanin – memberi dampak melindungi terhadap penyakit ini (Medical News Today).

Fresh red and green hot chili peppers and ripe tomatos on a white background with copy space.

Fresh red and green hot chili peppers and ripe tomatos on a white background with copy space.

Susan Searles Nielsen PhD melakukan studi yang diterbitkan pada Annals of Neurology yang terdiri dari 490 penderita awal Parkinson dan 644 pasien tak berpenyakit ini (kelompok kontrol). Studi ini menyelidiki apakah Parkinson berhubungan dengan frekuensi konsumsi lombok, tomat, jus tomat, dan kentang selama masa dewasa, sambil menyesuaikan dengan konsumsi sayuran lain, usia, jenis kelamin, ras / etnik, penggunaan tembakau, dan kafeine.

Apa yang ia temukan adalah sementara makan sayuran tidak berdampak, tapi makan sayuran dalam keluarga Solanaceae justru berdampak. Kenyataannya, ini mengurangi risiko rata-rata 19% terkena  Parkinson. Dan, makan 2 – 4 lombok tiap minggu mengurangi risiko sebesar 30%.

Parkinson adalah penyakit parah yang melelahkan dan menjengkelkan, dan cara terbaik untuk melawannya adalah mendapatkan informasi yang benar dan makan sayuran yang tepat.

Sumber tentang nikotin dan Parkinson:

http://www.personal.psu.edu/afr3/blogs/siowfa13/2013/12/be-sure-to-eat-your-nicotine.html

Kesimpulan: Pemanfaatan tembakau untuk kesehatan hendaknya diteliti secara proporsional dan profesional. Akibat negatif parah yang disebabkan nikotin tidak boleh membuat kita alergi terhadap penelitian untuk memastikan khasiat tembakau bagi kesehatan manusia, termasuk untuk menyembuhkan kanker.

Sumber:

http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC1079499

Manfaat lain nikotin / merokok dari hasil studi

Selain manfaat nikotin pada tembakau bagi penderita Parkinson, ada sejumlah hasil penelitian yang menunjukkan manfaat nikotin pada rokok atau efek samping merokok yang menolong para perokok pada penyakit tertentu. Karena gencarnya kampanye antirokok dan meningkatnya kebencian kepada rokok, hasil-hasil studi ini cenderung langsung dibantah. Namun, mungkin hal ini ibarat garis perak pada awan hitam saat mendung.

Walaupun merokok jangka panjang umumnya memberi tiket bagi kematian dini, inilah beberapa kemungkinan manfaat merokok.

Merokok menurunkan risiko operasi ganti lutut

Hasil studi dari University of Adelaide di Australia, terbit pada Jurnal Arthritis & Reumatik. Studi ini menunjukkan, bahwa operasi ganti lutut lebih umum dilakukan terhadap orang yang biasa jogging dan orang yang kegemukan (obesitas). Mengapa? Para perokok itu jarang jogging dan banyak yang tidak kegemukan.

Setelah mengontrol usia, berat dan latihan fisik, para peneliti sulit menjelaskan hasil penelitiannya, walaupun ada dampak protektif kecil dari merokok terhadap osteoporosis. Bisa jadi nikotin dalam tembakau membantu mencegah kerusakan  tulang rawan dan sendi.

Merokok menurunkan risiko obesitas

Nikotin pada tembakau menekan nafsu makan. Ini telah diketahui berabad-abad sejak Kolumbus menemukan Benua Amerika.

Sebuah studi yang diterbitkan pada Juli 2011 pada jurnal Fisiologi & Perilaku, melaporkan bahwa inilah hambatan untuk mendorong perokok berhenti merokok

Hubungan antara merokok dan pengendalian berat badan itu kompleks. Nikotin sendiri bertindak sebagai sebuah stimulan dan penekan nafsu makan. Dan, tindakan merokok memicu perubahan perilaku yang menyebabkan perokok kurang makan camilan (snack). Merokok juga mungkin membuat makanan kurang sedap bagi sejumlah perokok, dan selanjutnya menurunkan nafsu makan.

Sebagai penekan nafsu makan, nikotin tampak mempengaruhi kerja satu unsur otak yang disebut hypothalamus, sekurang-kurangnya terbukti pada tikus-tikus yang diteliti, seperti diungkapkan sebuah studi oleh para peneliti  University of Yale yang diterbikan pada 10 Juni 2011 pada jurnal Science.

Tidak ada dokter profesional yang akan merekomendasikan merokok untuk mengendalikan berat badan, mengingat potensi racun pada rokok. Betapapun, studi Yale ini memberi sebersit harapan untuk menciptakan obat guna menolong orang obesitas mengontrol nafsu makannya.

 

Merokok membantu obat jantung clopidogrel bekerja lebih baik

Clopidogrel adalah satu obat yang digunakan untuk melancarkan aliran darah pendeita sakit jantung koroner dan penyakit pembuluh darah lainnya yang bisa menimbulkan stroke dan serangan jantung. Merokok tampaknya membantu obat ini bekerja lebih baik.

Sebuah studi yang dilakukan para peneliti Korea menerbitkan hasil studinya pada jurnal Riset Trombosis yang dilakukan berdasarkan karya peneliti Harvard yang diterbitkan tahun 2009, yang menunjukkan manfaat merokok sekurang-kurangnya 10 batang rokok per hari. Tampaknya sesuatu dalam asap rokok mengaktifkan protein tertentu, yang disebut cytochromes, yang lebih mengaktifkan obat clopidogrel.

Tidak ada dokter profesinal yang mendorong pasien untuk mulai merokok guna mendapatkan manfaat dari obat ini.

Hasil-hasil studi tentang manfaat rokok sering menjadi topik kontroversial karena dibantah para dokter dan institusi kesehatan. Namun, tidak seperti tumbuhan-tumbuhan lain yang mengandung racun, tembakau mungkin mengandung unsur kimiawi yang bermanfaat untuk terapi kesehatan. Perlu riset dan terutama eksperimen lebih lanjut.

the-power-of-tobacco-tembakau

Sumber:

5 Health Benefits of Smoking pada:http://www.livescience.com/15115-5-health-benefits-smoking-disease.html

https://indocropcircles.wordpress.com/2014/06/30/10-manfaat-rokok-bagi-kesehatan-manusia/