Posts Tagged ‘dinas pendidikan’

Sejauh mana telah terjadi transformasi pendidikan di Indonesia?

Maret 31, 2012

Apakah guru tidak lagi menyetrap siswa,  misalnya dengan menyuruh berlutut di depan kelas? Apakah guru berperilaku dengan motif kasih sayang?

Menghukum siswa tidak efektif mengubah perilaku. Mengapa guru tidak membuat suasana belajar menyenangkan dengan mendorong siswa bekerja sama dalam kelompok?

Tidak ada bukti hasil riset yang menyatakan kekerasan fisik, hukuman membuat siswa rajin belajar. Mengajarlah dengan hati, dengan kasih sayang!

Belajar itu bukanlah duduk, dengar, catat, dan hafal. Mengapa tidak menerapkan belajar sambil bekerja, learning by doing?

Duduk berbaris ke duduk dalam kelompok untuk memudahkan kerja sama

Mengapa harus belajar dalam ruang kelas? Mengapa tidak membawa siswa belajar di luar kelas? Mencatat hasil pengamatan terhadap tanaman.

Dulu siswa mencatat pada buku tulis dalam bentuk kalimat / alinea. Sekarang mencatat dalam bentuk mindmap. Mana yang lebih bagus?

Belajar itu haruslah menyenangkan

Kapan papan tulis dimuseumkan? Belajar yang benar adalah belajar yang mengaktifkan siswa, membuat siswa kreatif, dan mendorong pemecahan masalah.

Mengapa sekolah seperti kandang ayam? Mengapa tidak membuat sekolah dari bambu beratapkan ilalang seperti sekolah alam di Badung, Bali yang menarik sehingga bisa menarik bayaran mahal dari orang tua?

Dari guru sebagai komandan ke guru sebagai fasilitator

Mengapa perlu transformasi pendidikan

“Pendidikan adalah apa yang tetap ada setelah seseorang melupakan segala hal yang ia pelajari di sekolah” Einstein

 

“Di negara-negara besar pendidikan publik akan selalu mediocre (bermutu pas-pasan), karena alasan yang sama bahwa di dapur-dapur yang besar memasak biasanya jelek” – Nietzsche

(Sumber: Chambers English Dictionary)

“Belajar adalah apa yang kebanyakan orang dewasa akan lakukan agar bisa hidup pada abad ke-21.” Perelman

 

“Saya tidak dapat mengajarkan seseorang sesuatu pun, saya hanya dapat membuat mereka berpikir.”
– Socrates

(Sumber: http://www.etni.org.il/quotes/education.htm)

Apa makna transformasi?

Transformasi adalah:

  • …mengubah orang atau hal secara lengkap, terutama memperbaiki penampilan atau manfaatnya.
  • …mengubah pola pikir (mindset).
  • …perpindahan dari paradigma lama ke paradigma baru.

Perlunya transformasi

“Guru-guru pada umumnya tidak menggunakan TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi), atau jika mereka gunakan, seringkali dengan rasa enggan, dan pola yang digunakan hanya sedikit saja memanfaatkan potensi yang dimiliki. Hal ini tidak mencerminkan transformasi cara kita belajar.” – Wheeler

(Sumber: Wheeler, S. (2005) Transforming Primary ICT, p 1)

Jika Anda ingin membaca posting ini dalam bentuk file powerpoint, silahkan klik file ini!

Transformasi pendidikan

Posting ini ditulis untuk menjawab tantangan yang tercantum pada cerita ini. Silahkan baca juga posting ini!

https://sbelen.wordpress.com/2012/03/31/seorang-bapak-100-tahun-yang-lalu/

Iklan

annie dancing

Klik gambar kalau belum bergerak

Asma

Kunjungi posting ini:

https://sbelen.wordpress.com/2013/05/03/bawang-putih-cuka-apel-madu-jahe-lemon-jantung-sehat-tubuh-bugar/

Gambar spanduk Sano

Sano sembuhkan asma

Kartu nama Yuni 2

Iklan

Hasil UN NTT jeblok: Tas Anak Sekolah NTT Kempes

Mei 16, 2011

Tony Kleden

Dr. Sirilus Belen: Tas Anak Sekolah NTT Kempes

pos kupang/tony kleden

Dr. Sirilus Belen

Senin, 24 Mei 2010 | 23:27 WIB

SEMUA meradang ketika tahu hasil UN NTT jeblok. SLTP maupun SLTA sama saja. Hancur. Semua mata tertuju ke NTT. Sulit dimengerti hasil itu. Karena Papua yang selama ini paling buruk, tahun ini lebih baik hasilnya dari NTT.

Bodohkah anak-anak NTT? Walahualam! Keprihatinan itu juga begitu memukul satu orang NTT di Depdiknas, namanya Dr. Sirilus Belen. Bagaimana tidak terpukul? Sirilus, boleh dibilang, salah seorang mastermind di Balitbang Depdiknas. Merekalah yang berada di dapur Depdiknas yang kerjanya merancang, menyusun dan memperkenalkan kurikulum, metode pengajaran dan juga bahan ajar untuk sekolah- sekolah di Indonesia.

Sirilus sudah sangat menyatu dengan dunia pendidikan. Seperti ikan dan air saja. Dia terbang ke begitu banyak daerah hingga ke pelosok-pelosok tanah air untuk memajukan dunia pendidikan. Masuk akal kalau dia menjerit menyaksikan hasil UN NTT kali ini. Bagaimana pandangannya tentang pendidikan, khususnya pendidikan di NTT? Melalui facebook, Sirilus menjawab sejumlah  pertanyaan Tony Kleden dari Pos Kupang.

Hasil UN NTT, baik SLTP maupun SLTA, tahun ini jeblok. Apa komentar Anda?
Benar benar memalukan. Karena prestasi siswa-siswa Papua ternyata lebih baik daripada prestasi siswa NTT. Jika kita browse internet, jelas tergambar bahwa pada hasil UN SMA tahun 2008 NTT juga berada di nomor buntut. Pak John Manulangga waktu itu memberi komentar faktor penyebabnya dan koran koran lokal seperti Pos Kupang dan Flores Pos memberitakan aneka tanggapan dari berbagai kalangan pendidikan yang relevan. Tapi, setelah UN berlalu, seperti biasa orang cepat melupakan tragedi ini. Dan, kita kembali ke business as usual, seperti tak ada apa apa, tak ada masalah.

Apa dan siapa yang salah?

Yang jelas salah adalah komandan pendidikan di NTT. Jika di propinsi, ya Kepala Dinas PPO  NTT,  dan di kabupaten/kota ya Kepala Dinas PPO kabupaten/kota. Karena, kepala dinas adalah pemimpin dan manejer pendidikan. Kepala dinas punya pasukan, yaitu kantor dinas yang didukung para pengawas yang bertugas membina sekolah. Kepala dinas juga punya wewenang untuk menggelontorkan dana pendidikan untuk berbagai keperluan. Walaupun lebih banyak sekolah swasta di NTT dibandingkan sekolah negeri tapi terbanyak guru sekolah swasta adalah PNS. Dan, yayasan pendidikan swasta kini menjadi macan ompong karena yang membayar gaji mereka adalah pemerintah.

Kalau kita telusuri lagi untuk mencari siapa yang salah, kita wajar bertanya siapa yang mengangkat kepala dinas pendidikan yang kurang kompeten, yang mungkin tidak berlatar belakang karier dari dunia pendidikan, atau yang berlatar belakang karier dari dunia pendidikan tapi kurang memiliki komitmen atau kurang bertanggung jawab. Jika kita lihat dari bawah ke atas, yang salah di tingkat akar rumput, ya kepala sekolah yang paling salah dan kemudian guru yang juga salah.

Apakah hasil itu juga mencerminkan taraf kemampuan intelektual anak anak NTT?
Jika kemampuan intelektual diartikan kecerdasan intelektual yang biasanya disebut IQ, menurut saya, hasil UN ini tidak mencerminkan tingkat kecerdasan intelektual anak anak NTT. Tingkat IQ anak adalah bawaan sejak lahir sehingga hasil ujian apa pun tidak mencerminkan IQ. Tingkat IQ yang tinggi akan terekspresikan jika kondisi lingkungan pendidikan di rumah dan di sekolah mendukung pemupukan dan peningkatan kecerdasan intelektual itu.

Seorang anak yang lahir sebagai insan jenius bisa saja tidak diketahui jika kondisi rumah dan sekolah tidak mendorong munculnya kejeniusan anak. Karena itu, banyak jenius yang berakhir sebagai gelandangan atau orang yang gagal dalam pekerjaan dan kehidupannya. Albert Einstein yang hebat itu pernah tidak lulus ujian SMA di Swiss karena mendapat nilai merah pada ujian matematika dan fisika. Ia harus belajar lagi sambil indekos di rumah kepala sekolahnya di sebuah kota lain dan kemudian baru lulus setelah menempuh ujian SMA pada kali kedua.

Lantas, faktor determinan apa yang jadi penyebab hasil UN yang buruk itu?
Ada banyak faktor. Pertama, inkompetensi kepala sekolah dan guru. Umumnya kepala sekolah diangkat dari para guru. Dan, tidak ada pendidikan khusus guru untuk menjadi kepala sekolah setelah program studi administrasi/manajemen pendidikan dihapus pada tingkat S1 di fakultas ilmu pendidikan universitas, cq. Universitas Nusa Cendana. Untuk guru SD ada PGSD dan untuk guru SMP, SMA, dan SMK ada FKIP universitas. Menurut pengamatan saya, dibandingkan dengan PGSD dan FKIP universitas yang bermutu di Jawa, mutu PGSD dan FKIP universitas-universitas di NTT masih memrihatinkan. Kedua, kurangnya tanggung jawab tugas seorang kepala sekolah dan guru serta kurangnya disiplin di sekolah.

Kedua hal ini disebabkan oleh tidak diterapkannya imbalan (reward) dan sanksi (punishment) yang tegas dan kurangnya pengawasan atau kontrol pengawas sekolah sebagai perpanjangan tangan dinas pendidikan.

Ketiga, kurangnya transparansi keuangan dan akuntabilitas penggunaan dana pendidikan baik dari sumber pemerintah maupun orangtua siswa.

Keempat, strategi pembinaan guru melalui penataran ternyata tidak membawa perubahan signifikan dalam proses belajar mengajar di sekolah. Jika Anda mengambil guru dan menatarnya di lokasi penataran, Anda hanya mengubah variabel guru tapi tidak mengubah variabel-variabel penentu mutu di sekolah.

Bagaimana mesti membenahinya?

Menurut saya, masalah yang luar biasa harus dipecahkan melalui tindakan yang luar biasa. Pertama, ganti kepala dinas pendidikan propinsi dengan orang yang kapabel, mempunyai visi yang jelas, dan mampu menggerakkan seluruh jajaran pendidikan di NTT yang bertanggung jawab memutar roda pendidikan NTT. Ganti kepala dinas kabupaten/kota yang tidak kompeten yang selama tiga tahun ini menunjukkan penurunan prestasi siswa dalam UN.

Kedua, tutup SMA, SMP, dan SD negeri dan swasta yang para siswanya lulus 0% pada tahun 2008, 2009, atau 2010 ini. Pindahkan guru dan kepala sekolahnya yang berstatus PNS ke sekolah-sekolah lain. Inilah bentuk akuntabilitas dinas dan yayasan pendidikan. Lebih baik siswa tidak bersekolah daripada bersekolah di sekolah yang amat tidak bermutu.

Ketiga, ganti kepala sekolah yang siswa-siswanya menunjukkan penurunan prestasi selama dua tahun berturut turut dalam UN dengan kepala sekolah yang kapabel, transparan, dan akuntabel. Keempat, mengembangkan mutu pendidikan NTT hendaknya dimulai dari SD, dengan fokus pembenahan kemampuan calistung (baca, tulis, hitung) siswa dengan menerapkan pendekatan belajar aktif dan dilandasi manajemen berbasis sekolah.

Anda keliling Indonesia melihat dan membenahi pendidikan di tempat lain. Bagaimana Anda melihat mutu pendidikan di NTT dibanding dengan daerah lain?
Indikator mutu pendidikan saya pilih berikut ini. Pertama, tulisan anak-anak kelas 3 SD. Belum pernah saya lihat tulisan anak SD kelas 3 di propinsi-propinsi yang amat tertinggal di bidang pendidikan, seperti Maluku, Maluku Utara, Sulawesi Tengah, dan Papua, yang seburuk tulisan anak anak kelas 3 SD NTT. Terbanyak masih menggambar huruf dan angka. Jelas anak-anak ini tidak bisa membaca dan memahami soal atau tugas kalau menulis saja masih pontang panting. Kemampuan membaca anak-anak kelas 3 dan kelas 5 SD juga parah di daerah-daerah tertentu di NTT.

Kedua, berdasarkan pengamatan dan pengalaman saya merintis inovasi di berbagai daerah di Indonesia, kemampuan siswa-siswa NTT pukul rata dua tahun tertinggal di belakang dibandingkan kemampuan para siswa di Jawa. Jika saya cek kemampuan siswa kelas 5 SD di Kota Kupang, misalnya, ternyata  masih setaraf kemampuan siswa kelas 3 SD di Malang. Kemampuan siswa kelas 3 SMP di Ende masih setaraf kemampuan siswa kelas 1 SMP di Solo. Kemampuan siswa kelas 3 SMA di Maumere masih setaraf kemampuan siswa SMA kelas 1 di Yogyakarta. Ini kesimpulan sementara saya pada awal tahun 2000. Dengan mengamati hasil UN tahun 2008-2010, mungkin perbedaan itu sudah melebar menjadi 3 tahun.

Ketiga, dari segi ketersediaan dan keterjangkauan buku pelajaran bermutu, tampaknya para siswa NTT amat sulit memiliki buku pelajaran mata-mata pelajaran kunci yang diuji dalam UN. Dinas Pendidikan NTT tahun-tahun terakhir ini lebih memilih menggunakan dana BOS untuk membeli buku sekolah elektronik (BSE) yang bermutu rendah, sedangkan untuk membeli buku-buku pelajaran terbitan-penerbit swasta yang bermutu tampak tak ada kemauan dinas pendidikan menggunakan dana APBD. Indikator sederhana yang kasat mata adalah melihat sebesar dan seberat apa tas sekolah yang dibawa para siswa di NTT. Jika kita lihat para siswa SD, SMP, dan SMA bermutu di Jawa dan Bali tampak mereka terbungkuk bungkuk membawa tas sekolah berisi buku. Sebaliknya di NTT, kita lihat para siswa sekolah bermutu di NTT hanya bawa sedikit sekali buku pelajaran. Tas mereka tampak kecil dan kempes.

Kalau begitu terobosan apa yang perlu dilakukan?

Pertama, rintis sekolah model belajar aktif dan TQM (Total Quality Management) di tiap kabupaten/kota. Mulailah dengan 1 atau 3 sekolah per jenjang (SD, SMP, dan SMA). Pengembangan model dilakukan melalui inhouse training dengan mendatangkan konsultan dari PGSD dan FKIP di Undana, Unwira, Unkris, Uniflor, STKIP Ruteng, bekerja sama dengan pengawas dan tim perekayasa kurikulum yang telah dirintis Pusat Kurikulum Balitbang Kemdiknas.

Kedua, dinas pendidikan propinsi dan kabupaten bekerja sama dengan universitas membentuk teacher centers di FKIP Undana, Unwira, Unkris, Uniflor, dan STKIP Ruteng. Tugas teacher centers adalah mendiseminasi gagasan baru, melalukan pendampingan sekolah, dan menatar para guru dan kepala sekolah potensial secara berjenjang dari tingkat elementary, intermediate sampai  advanced.

Ketiga, dalam waktu dua tahun ini dinas pendidikan propinsi dan kabupaten melalui policy gubernur dan bupati membuka dan memperluas jaringan internet sampai ke sekolah-sekolah di pelosok, bekerja sama dengan jaringan internet Kemdiknas. Keempat, Papua telah menyalib NTT karena mutu pendidikan Papua paling tidak dapat didongkrak melalui pendirian sekolah-sekolah berasrama yang dibiayai dengan dana OTSUS. Walaupun dana pendidikan NTT terbatas, tapi apa salahnya kita membantu tarekat suster dan frater serta organisasi Kristen dan Islam yang selama ini telah menyelenggarakan sekolah berasrama yang bermutu agar menambah sekolah- sekolah berasrama untuk siswa SMP, SMA, dan SMK?

Sekolah-sekolah misi dulu sangat hebat. Mengapa tidak diadopsi sekarang?
Satu demi satu sekolah misi berasrama ditutup karena masalah biaya. Para pejabat gereja berpikir bahwa pemerintah sekarang mengelola banyak dana dan mampu membuka sekolah-sekolah baru. Karena itu, tongkat estafet itu diserahkan kepada pemerintah. Kalau pemerintah telah mampu, gereja mundur ke belakang dan hanya memotivasi. Tapi, kita tahu sikap mental birokrat itu cenderung korup dan kejujuran atau transparansi keuangan itu sulit ditegakkan. Disiplin sekolah berantakan. Gereja terlalu cepat mundur ke belakang, padahal awam belum sepenuhnya mampu.  (*)

Berkat Artikel di Kompas
NAMA Sirilus Belen di NTT sepertinya kalah tenar dengan para politisi. Sosoknya juga tidak banyak diketahui. Meski lahir di Makassar,  7 Juli  1950, Sirilus  asli NTT. Bapak dan mamanya dari  Wailebe, Adonara, Flores Timur. Ayahnya, Antonius Sinaama Belen, adalah seorang guru SMP Negeri Airnona tahun 1951-1954.  Ibunya Sophia Belen bekerja di RSU Prof. WZ Johannes, Kupang. Ibunya lebih dikenal dengan panggilan Tanta Belen.

Tubuhnya kecil saja. Penampilannya juga sangat sederhana. Di tengah banyak orang, Anda pasti keliru, tak membayangkan orang ini punya otak cemerlang dan salah seorang periset penting di Balitbang Depdiknas di Jakarta. Di kalangan praktisi pendidikan di Indonesia, namanya sangat terkenal, melambung jauh menembus negeri ini. Klik saja namanya di google.com dan dalam waktu cuma 0,22 detik muncul  491.000 icon yang mencantumkan namanya.

Meski periset, sejatinya Sirilus Belen adalah ‘orang panggung.’ Tahun 1980-an sebelum bergabung di Depdiknas, Sirilus adalah kolumnis surat kabar dengan minat besar pada pendidikan. Bakatnya menulis telah diasa sejak masih mahasiswa di STF/TK (sekarang STFK) Ledalero awal tahun 1970-an.

Hasratnya mengunyah banyak ilmu nyata dari beberapa jenjang pendidikan yang dimasukinya. Setamat Seminari Menengah Lalian, Atambua, Sirilus meneruskan pendidikan di Ledalero. Cita-cita awal menjadi imam. Di jalan, cita-cita ini gagal diraih. Maka,  dia  masuk Undana tahun 1975. Dari Undana, Sirilus masuk IKIP Malang (1979 – 1980). Tamat dari sini, dia masuk lagi di Fakultas Psikologi UI, tetapi tidak tamat.

“Sejak dari IKIP Malang sampai waktu kuliah di UI, saya menjadi kolumnis Kompas. Dari artikel di Kompas, Prof. Dr. Soeroso Prawirohardjo sebagai Kepala Balitbang Depdikbud tertarik dengan ide-ide yang saya lontarkan. Waktu itu Komisi Pembaharuan Pendidikan Nasional (KPPN) baru menyelesaikan tugasnya merumuskan kebijakan jangka panjang sebagai bahan penyusunan draft UU Pendidikan Sistem Pendidikan Nasional. Karena, Pak Daoed Joesoef waktu itu sebagai Menteri Pendidikan belum merasa sreg dengan hasil KPPN, Balitbang Depdikbud diberi tugas mempertajam usulan KPPN melalui penjaringan gagasan- gagasan dari kalangan universitas, yayasan pendidikan keagamaan, dan jajaran departemen di daerah. Pak Soeroso memanggil saya dan menawarkan untuk membantu tugas Satgas pembaharuan sistem pendidikan nasional,” urai Sirilus.

Setelah bekerja sama dengan teman-temannya dari Balitbang Dikbud yang waktu itu berperan sebagai think tank inovasi pendidikan, Sirilus ‘terpaksa’ menjadi PNS. “Karena lebih baik mempengaruhi dari dalam daripada berteriak di luar melalui media massa. Setelah lolos seleksi PNS, Pak Soeroso menempatkan saya di Pusat Kurikulum Balitbang Dikbud. Waktu itu Ibu Conny Semiawan adalah tokoh yang paling gencar merintis berbagai inovasi pendidikan,” jelasnya.
Di dapur Depdiknas, kata Sirilus, beasiswa untuk belajar ke AS amat terbuka. Tapi karena anak ketiganya lahir, dia makin susah mengambil melanjutkan studi S3.  “Dari segi kualitas dan kerja saya merasa tak perlu mendapatkan gelar S3. Setelah terlibat inovasi pendidikan dengan nama CBSA selama 8 tahun, Dr. Roy Gardner, konsultan CBSA terus mendorong saya studi lanjut di Inggris. Karena melihat orang Indonesia menghargai orang dari segi gelar, akhirnya terpaksa saya melanjutkan studi ke London, walaupun anak yang ke 4 belum genap dua tahun. Semula saya mendaftar untuk S2 Sosiologi dan Antropologi, tapi karena Prof. Dr. John Taylor sebagai pembimbing menilai usul research project saya bagus dan kemampuan bahasa Inggris bagus, maka melalui rapat fakultas, saya diperbolehkan langsung proceed ke Ph.D (S3) tanpa melalui jenjang S2,” katanya.

Setelah lama berkiprah dalam pengembangan kurikulum sambil merintis inovasi di daerah-daerah dan menatar para guru, Sirilus berkesimpulan bahwa perubahan pendidikan tidak bisa diharapkan dari atas. “Kita mesti berbalik secara radikal dengan merintis inovasi mulai dari akar rumput, dari sekolah,” katanya.

Nah, dia kemudian berhenti sebagai peneliti dan pengembang lalu terjun langsung membina sekolah di daerah-daerah melalui pengembangan sekolah model. Melalui kerja sama dengan berbagai NGO dan penerbit buku, Sirilus langsung menggerakkan akar rumpul melalui pengembangan sekolah model. Selama ini yang terbanyak adalah SD model dan satu SMA, yaitu SMA Seminari Pematang Siantar sejak tahun 2007. Tahun 2009 melalui kerja sama dengan Save the Children dalam waktu tiga bulan berhasil terbentuk 1 SD model belajar aktif dan manajemen berbasis sekolah (MBS) yang menjadi SD terbaik di Ternate sekarang ini, yaitu SDN BTN Maliaro. Di Pulau Bacan, SDN Labuha 1 dan SDN Mandaong adalah dua SD terbaik di Kabupaten Halmahera Selatan.

Di NTT, melalui program WVI, Sirilus sedang mengembangkan tiga  SD model di Flores Timur. Model yang dikembangkannya adalah inhouse training. Hebatnya, model ini telah diterima dan diadopsi Mendiknas menjadi kebijakan nasional.  (len)

Sumber:

http://www.pos-kupang.com/read/artikel/48270/dr-sirilus-belen-tas-anak-sekolah-ntt-kempes

 

Kunjungilah posting yang berkaitan:

https://sbelen.wordpress.com/2013/04/20/bagaimana-ujian-nasional-un-di-belanda/

https://sbelen.wordpress.com/2013/04/17/sedih-menyaksikan-amburadulnya-ujian-nasional-un-tahun-ini/

https://sbelen.wordpress.com/2010/05/08/ganti-sistem-ujian-nasional-dengan-menerapkan-sistem-open-book-test-dan-tes-terstandar/

https://sbelen.wordpress.com/2008/12/29/belajar-aktif-pakem-ujian-nasional-un-ibarat-air-dengan-minyak/

https://sbelen.wordpress.com/2011/08/08/mengapa-mutu-pendidikan-finlandia-terbaik-di-dunia/

https://sbelen.wordpress.com/2011/05/15/mengapa-peringkat-kelulusan-un-2011-siswa-smantt-tetap-di-nomor-buntut/

https://sbelen.wordpress.com/2011/01/11/3-tahun-banyak-siswa-tak-lulus-un-pecat-guru/

https://sbelen.wordpress.com/2008/07/30/tes-remidial-di-sd-sma-dan-sma-itu-salah-kaprah/

https://sbelen.wordpress.com/2008/07/09/mengapa-kita-memaksa-siswa-mempelajari-semua-mata-pelajaran/

 

 

Iklan

 

 

 

Echo_Sooyoung_02

Human heart

Kunjungi posting ini:

https://sbelen.wordpress.com/2013/05/03/bawang-putih-cuka-apel-madu-jahe-lemon-jantung-sehat-tubuh-bugar/

https://sbelen.wordpress.com/2013/04/15/sano-ramuan-herbal-berkhasiat-mulai-bisnis-di-usia-62-tahun/

Gambar spanduk Sano

sano-menyuburkan-wanita-juga-pria

Kartu nama Yuni 3

Mengapa peringkat kelulusan UN 2011 siswa SMA NTT tetap di nomor buntut?

Mei 15, 2011

Sumber: Padang Ekspres, 14 Mei 2011

Hari ini ketika kami sedang menatar 100 guru TK, SD, SMP, dan SMA Prayoga dari 3 kota di Sumatera Barat (Bukittinggi, Padang Panjang, dan Payakumbuh) di Bukittingi, Pak Siregar, ketua yayasan memberi saya koran lokal Sumatera Barat yang memberitakan NTT menduduki peringkat buntut hasil ujian SMA dan SMK sedangkan Bali tetap di peringkat I. Aceh peringkat 5, Sumatera Barat peringkat 6 (tahun lalu masuk 10 besar).

Saya sedih dan malu sekali di hadapan para guru dan kepala sekolah dalam forum penataran ini.

Dari data yang saya miliki NTT berada di nomor buntut sejak 2008 s.d. 2011. Tampaknya sebelumnya juga pada nomor buntut tapi tidak disiarkan secara nasional.

Tabel peringkat hasil UN SMA 2011 per provinsi

Lalu, apa langkah perbaikan mutu pendidikan NTT seperti yang kami usulkan pada liputan khusus Pos Kupang tahun lalu telah dilakukan? Lihat http://www.pos-kupang.com/read/artikel/48270/dr-sirilus-belen-tas-anak-sekolah-ntt-kempes

Tidak ada perbaikan signifikan yang dilakukan. Nol besar. Sepuluh usul atau gagasan yang kami lontarkan untuk membenahi pendidikan NTT terbang bersama angin di sabana NTT. Memang gue pikirin? Perkenankan menyimak kembali ke-10 usul / gagasan itu.

1.      Masalah yang luar biasa harus dipecahkan melalui tindakan yang luar biasa. Pertama, ganti kepala dinas pendidikan provinsi dengan orang yang kapabel, mempunyai visi yang jelas, dan mampu menggerakkan seluruh jajaran pendidikan di NTT yang bertanggung jawab memutar roda pendidikan NTT. Usul ini tidak dilakukan.

2.      Ganti kepala dinas kabupaten/kota yang tidak kompeten yang selama tiga tahun ini menunjukkan penurunan prestasi siswa dalam UN. Usul ini umumnya tidak dilakukan. Kepala dinas kabupaten yang diganti hanya yang memasuki pensiun, seperti di Lembata.

3.      Tutup SMA, SMP, dan SD negeri dan swasta yang para siswanya lulus 0% pada tahun 2008, 2009, atau 2010 ini. Pindahkan guru dan kepala sekolahnya yang berstatus PNS ke sekolah-sekolah lain. Inilah bentuk akuntabilitas dinas dan yayasan pendidikan. Lebih baik siswa tidak bersekolah daripada bersekolah di sekolah yang amat tidak bermutu. Usul ini umumnya tidak dilakukan.

4.      Ganti kepala sekolah yang siswa-siswanya menunjukkan penurunan prestasi selama dua tahun berturut-turut dalam UN dengan kepala sekolah yang kapabel, transparan, dan akuntabel. Umumnya usul ini tidak dilakukan.

5.      Mengembangkan mutu pendidikan NTT hendaknya dimulai dari SD, dengan fokus pembenahan kemampuan calistung (baca, tulis, hitung) siswa dengan menerapkan pendekatan belajar aktif dan dilandasi manajemen berbasis sekolah. Usul ini umumnya tidak dilakukan. Hanya satu-dua yayasan yang melakukan pelatihan selama 1 tahun ini. Pelatihan yang dilakukan dinas hanya sporadis, sedikit di sana-sini dan model pelatihannya ya 1 arah, ceramah, dan ini jelas tak bisa mengubah kemampuan guru. Materi penataran pun dominan diisi pembuatan silabus dan RPP, perangkat pembelajaran,  dokumen administrasi guru.

6.      Dinas Pendidikan NTT tahun-tahun terakhir ini lebih memilih menggunakan dana BOS untuk membeli buku sekolah elektronik (BSE) yang bermutu rendah, sedangkan untuk membeli buku-buku pelajaran bermutu terbitan penerbit swasta tampak tak ada kemauan dinas pendidikan menggunakan dana APBD. Usul ini umumnya tidak dilakukan.

Pemerintah pusat menggelontorkan dana 1 milyar per kabupaten di NTT untuk memperbaiki mutu pendidikan di NTT. Dari seorang kepala dinas kabupaten, saya tanya digunakan untuk apa uang 1 milyar itu. Dana itu langsung diberikan kepada sekolah. Lalu, apa yang dilakukan kepala sekolah. Membeli semen untuk membangun ruang belajar atau merenovasi sekolah. Saya bilang semen itu tidak bisa meningkatkan mutu.

7.      Rintis sekolah model belajar aktif dan TQM (Total Quality Management) di tiap kabupaten/kota. Mulailah dengan 1 atau 3 sekolah per jenjang (SD, SMP, dan SMA). Pengembangan model dilakukan melalui inhouse training dengan mendatangkan konsultan dari PGSD dan FKIP di Undana, Unwira, Unkris, Uniflor, STKIP Ruteng, bekerja sama dengan pengawas dan tim perekayasa kurikulum yang telah dirintis Pusat Kurikulum Balitbang Kemdiknas. Usul ini tidak dilakukan. Kami sendiri yang direncanakan mengembangkan sekolah model di Lembata, ternyata ditunda dan baru akan dimulai Juli ini.

8.      Dinas pendidikan provinsi dan kabupaten bekerja sama dengan universitas membentuk teacher centers di FKIP Undana, Unwira, Unkris, Uniflor, dan STKIP Ruteng. Tugas teacher centers adalah mendiseminasi gagasan baru, melalukan pendampingan sekolah, dan menatar para guru dan kepala sekolah potensial secara berjenjang dari tingkat elementary, intermediate sampai  advanced. Usul ini masuk telinga kiri keluar melalui telinga kanan.

9.      Ketiga, dalam waktu dua tahun ini dinas pendidikan provinsi dan kabupaten melalui policy gubernur dan bupati membuka dan memperluas jaringan internet sampai ke sekolah-sekolah di pelosok, bekerja sama dengan jaringan internet Kemdiknas. Gagasan ini sama sekali tidak digubris. NTT tetap terisolasi.

10.     Papua telah menyalib NTT karena mutu pendidikan Papua paling tidak dapat didongkrak melalui pendirian sekolah-sekolah berasrama yang dibiayai dengan dana OTSUS. Walaupun dana pendidikan NTT terbatas, tapi apa salahnya kita membantu tarekat suster dan frater serta organisasi Kristen dan Islam yang selama ini telah menyelenggarakan sekolah berasrama yang bermutu agar menambah sekolah- sekolah berasrama untuk siswa SMP, SMA, dan SMK? Gagasan ini terbang bersama angin, tak disambut.

Kalau guru tidak bermutu, ya pakai buku pelajaran bermutu karena setidak-tidaknya siswa dapat membantu dirinya sendiri didukung orang tua dan saudara atau tetangganya untuk mencerna buku itu. Tapi, apa kata kepala sekolah, guru, dan siswa di Flores? Pak, kalau bisa kirim kami buku-buku soal, dan kalau dapat bocoran soal UN kirim kepada kami. Saya bilang, mutu tidak bisa diraih secara instan. Perbaiki dan tingkatkan proses belajar-mengajar, dan dengan sendirinya mutu meningkat dan prestasi UN luar biasa. Ini sudah terbukti di sekolah-sekolah sekolah model yang telah kami bantu kembangkan.

Pendekatan strategis seperti ini hanya disadari oleh segelintir the small rest, sisa kecil yang mau bangkit dari keterpurukan. Sebagai contoh dan untuk informasi berikut ini dikemukan contoh berikut ini. Dalam waktu dekat kami diminta oleh SMP  Immanuel dan SMA St. Paulus Pontianak untuk memulai pengembangan dua sekolah ini menjadi sekolah model belajar aktif dan manajemen berbasis sekolah. Mungkin pula kami akan menatar guru-guru SMP Al Azhar dan sekolah-sekolah di Ketapang, Kalimantan Barat pada akhir Juli. Minggu lalu Fr Sarto menelepon dari SMA Ndao Ende agar tanggal 6 – 9 Juli kami membantu mengembangkan SMA ini menjadi sekolah model. Kami usulkan diikutkan juga SMP Ndao. Tadi siang di Bukittinggi Pak Siregar dan Ibu Silvia kepala SMA Prayoga meminta kami untuk membantu mengembangkan SMA ini menjadi sekolah model. Kalau tak ada aral melintang Juli ini kami akan memulai pengembangan sekolah model di Lembata.

Lalu, apa prakarsa dinas pendidikan provinsi dan kabupaten di NTT untuk melakukan terobosan inovasi pendidikan NTT guna meningkatkan mutu sekolah-sekolahnya? Mengapa hanya siswa yang divonis tidak lulus ujian nasional? Mengapa tak ada sanksi bagi pejabat pendidikan, kepala sekolah, dan guru yang tidak mampu mendidik anak agar lulus UN? Di manakah hati nurani kita ditaruh?

NTT-ku sayang, NTT-ku malang.

Kunjungilah posting yang berkaitan:

https://sbelen.wordpress.com/2013/04/20/bagaimana-ujian-nasional-un-di-belanda/

https://sbelen.wordpress.com/2013/04/17/sedih-menyaksikan-amburadulnya-ujian-nasional-un-tahun-ini/

https://sbelen.wordpress.com/2010/05/08/ganti-sistem-ujian-nasional-dengan-menerapkan-sistem-open-book-test-dan-tes-terstandar/

https://sbelen.wordpress.com/2008/12/29/belajar-aktif-pakem-ujian-nasional-un-ibarat-air-dengan-minyak/

https://sbelen.wordpress.com/2011/08/08/mengapa-mutu-pendidikan-finlandia-terbaik-di-dunia/

https://sbelen.wordpress.com/2011/01/11/3-tahun-banyak-siswa-tak-lulus-un-pecat-guru/

https://sbelen.wordpress.com/2008/07/30/tes-remidial-di-sd-sma-dan-sma-itu-salah-kaprah/

https://sbelen.wordpress.com/2008/07/09/mengapa-kita-memaksa-siswa-mempelajari-semua-mata-pelajaran/

https://sbelen.wordpress.com/2011/05/16/hasil-un-ntt-jeblok-tas-anak-sekolah-ntt-kempes/

 

 

 

Iklan

1243328602_school-abuse

Human heart

Kunjungilah posting ini:

https://sbelen.wordpress.com/2013/05/03/bawang-putih-cuka-apel-madu-jahe-lemon-jantung-sehat-tubuh-bugar/

Gambar spanduk Sano

Kartu nama Yuni 3

Siapa saja benalu di “pohon” pendidikan Indonesia?

November 16, 2010

 

Ganti sistem ujian nasional dengan menerapkan sistem open book test dan tes terstandar

Mei 8, 2010

Sistem ujian nasional kita hanya menjatuhkan sanksi tidak lulus kepada siswa tapi para guru, kepala sekolah, kepala dinas pendidikan provinsi, dan kabupaten / kota serta ketua yayasan pendidikan swasta terbebas dari sanksi.

Tiap anak dilahirkan dengan potensi otak menjadi manusia brilyan. Namun, cara mengajar dan mendidik guru yang kuno dan satu arah mengakibatkan siswa hanya duduk, dengar, catat, dan hafal. Sistem ujian nasional kita justru mendukung cara mengajar kuno ini melalui penggunaan model soal pilihan ganda yang kurang mendorong kreativitas berpikir dan kemampuan memecahkan masalah.

Di dunia ini tidak ada masalah belajar. Yang ada adalah masalah mengajar. Mengapa yang salah mengajar dan mengelola pendidikan tidak terkena sanksi apa pun. Mengapa hanya siswa yang menangis malu dan histeris lalu pingsan mendengarkan namanya termasuk dalam daftar peserta yang tidak lulus diberi sanksi tidak lulus? Adilkan ini?

Sistem ujian nasional sebenarnya mudah sekali diubah untuk menghindari tim sukses yang terdiri dari guru dan kepala sekolah serta pengawas memberikan jawaban kepada siswa setelah soalnya dikerjakan pendidik itu. Atau, siswa mendapatkan bocoran soal sebelum ujian nasional. Pakai saja bentuk soal uraian atau esai. Siswa diperbolehkan membawa buku pelajaran dan membukanya, juga rumus-rumus Matematika dan Fisika. Jika soal esai  yang disusun menuntut penalaran siswa, walaupun ia membuka buku pelajaran dan rumus tak ada gunanya ia membuka buku  karena tuntutan penalaran untuk menjawab soal. Mudah sekali, bukan?

Alternatif solusi yang lain adalah menerapkan tes terstandar (standardized test) yang juga dipakai di Amerika Serikat dan Inggris. Di tengah semester atau setelah satu semester atau satu tahun, di kelas-kelas tertentu di SD, SMP, dan SMA siswa diwajibkan mengerjakan tes terstandar yang dikerjakan dan diterbitkan serta didistribusi Pusat Penilaian Pendidikan Nasional Balitbang Kemdiknas. Dengan memeriksa hasil tes ini, guru dapat mendiagnosis kelemahan siswa dan selanjutnya melakukan perbaikan dalam proses belajar-mengajar.

Pada akhir tiap jenjang SMA siswa mengikuti ujian nasional namun tiap siswa diberi kebebasan memilih mengikuti ujian mata pelajaran yang dia kuasai dan sesuai dengan rencana studinya di perguruan tinggi. Ujian nasional ini hendaknya terdiri dari ujian tulis dan praktik. Jika ia ingin masuk fakultas kedokteran misalnya, ia hanya memilih mengikuti ujian mata pelajaran Kimia, Biologi, dan Matematika. Jika ia ingin masuk fakultas teknik, ia hanya ikut ujian Fisika, Matematika, dan mungkin Bahasa Inggris. Jika ia ingin masuk fakultas sastra, program studi sastra Inggris, ia hanya memilih ikut ujian mata pelajaran Bahasa Inggris, Sejarah, dan Antropologi atau Sosiologi. Dengan mengantongi nilai kelulusan mata-mata pelajaran tertentu ini, lulusan SMA langsung diperbolehkan mendaftar di perguruan tinggi. Apa susahnya sih menempuh alternatif solusi ini?

Karena konsep kita soal UN ini tidak matang dan tidak cerdas, tiap tahun kita saksikan tragedi siswa merasa gagal, kasus pembocoran soal dan jawaban, dan sederet masalah yang membuat siswa merasa trauma dan konsep kegagalan telah kita tanamakan dalam hati sanubarinya. Karena kita kurang cerdas berpikir, tiap tahun tak kunjung berhenti polemik tentang relevan atau tidak relevannya ujian nasional dipertahankan. Jika kami amati betapa susah dan keteter Mendiknas menjawab gugatan anggota DPR dan pertanyaan wartawan. Demikian pun, anggota DPR juga dibuat pusing mempersoalkan sistem ujian yang diskriminatif ini. Seharusnya think tank di Kemdiknas-lah yang mencari solusi yang tepat untuk memperbaiki sistem ujian nasional yang buruk ini. Namun, tampaknya tidak ada think tank itu. BSNP juga bingung hendak berbuat apa dan daripada memikirkan solusi yang lain, lebih baik jalankan sistem yang rutin. Sampai kapan kita terkurung dan tersandera oleh pola pikir konvensional ini?

Sebenarnya, contoh yang baik dari berbagai negara sudah ada. Kita tinggal belajar dari negara-negara itu. Tahun ini India mereformasi sistem ujiannya dan bentuk soal pilihan ganda itu telah mereka kuburkan dalam kubur tradisi pendidikan yang kuno. Sistem ujian nasional Singapura dan Malaysia jauh lebih baik karena ada ujian praktik di samping ujian tulis. Mengapa kita tidak cerdas dan seolah tak bisa melihat negeri tetangga dan meniru yang baik dari mereka? Quo vadis dunia pendidikan Indonesia?

Silahkan baca juga goresan puisi berikut ini!

TANPA JUDUL 192

Oleh Martin Bhisu

Negeriku Indonesia
negeri tumpah darah,
serta air mata rakyat jelata
di sana indahnya bentangan pulau
bersama gunung-gunung yang tinggi dan buas,
tumpukan revolusi anti-korupsi.

Negeriku Indonesia
negeri siang dan malam penuh teror
bayang-bayang kejahatan hingga melacuri mimpi
tentang darah dan keringat rakyat jelata yang mengalir
tumpah ruah di lautan duka,
anakmu menangis, tiada air mata
berjuang hingga tumpah darah, darah tiada.

Negeriku Indonesia
negeri anak-anak suka nyontek
pemerintah dan guru-guru dengan dedikasi yang luntur
menabur benih-benih korupsi sejak dini
hidup enak di negeri ini tanpa kerja keras
mengajar melukis garis-garis pembatas
agar generasi baru selalu berada di bawah garis kemiskinan.

Guayaybi, Paraguay, 07 de mayo de 2010

Kunjungilah posting yang berkaitan:

https://sbelen.wordpress.com/2013/04/20/bagaimana-ujian-nasional-un-di-belanda/

https://sbelen.wordpress.com/2013/04/17/sedih-menyaksikan-amburadulnya-ujian-nasional-un-tahun-ini/

https://sbelen.wordpress.com/2008/12/29/belajar-aktif-pakem-ujian-nasional-un-ibarat-air-dengan-minyak/

https://sbelen.wordpress.com/2011/08/08/mengapa-mutu-pendidikan-finlandia-terbaik-di-dunia/

https://sbelen.wordpress.com/2011/05/15/mengapa-peringkat-kelulusan-un-2011-siswa-smantt-tetap-di-nomor-buntut/

https://sbelen.wordpress.com/2011/01/11/3-tahun-banyak-siswa-tak-lulus-un-pecat-guru/

https://sbelen.wordpress.com/2008/07/30/tes-remidial-di-sd-sma-dan-sma-itu-salah-kaprah/

https://sbelen.wordpress.com/2008/07/09/mengapa-kita-memaksa-siswa-mempelajari-semua-mata-pelajaran/

https://sbelen.wordpress.com/2011/05/16/hasil-un-ntt-jeblok-tas-anak-sekolah-ntt-kempes/

 

 

Iklan

Rumah

Tekanan darah tinggi

Kunjungilah posting ini:

https://sbelen.wordpress.com/2013/05/03/bawang-putih-cuka-apel-madu-jahe-lemon-jantung-sehat-tubuh-bugar/

https://sbelen.wordpress.com/2013/04/15/sano-ramuan-herbal-berkhasiat-mulai-bisnis-di-usia-62-tahun/

Gambar spanduk Sano

Sano darah tinggi

Kartu nama Yuni 3

Oleh-oleh dari Ambon: Mau aktifkan anak belajar? Aktifkan dulu gurunya!

Februari 1, 2009

p1000868

Belajar tidak selamanya dalam posisi duduk. Mau duduk atau berdiri yang penting belajar. Para guru dan kepala sekolah dalam penataran belajar aktif dilatih bekerja sama dalam kelompok agar mampu menerapkan belajar kelompok di sekolahnya.

p1010254

Orang Ambon dan Maluku gemar bernyanyi, berdansa, dan menari. Potensi ini hendaknya dimanfaatkan untuk menjadikan kegiatan belajar anak dinamis dan menyenangkan. Menurut riset otak: Jika Anda ingin meningkatkan prestasi anak dalam belajar, tambahkan gerakan dalam proses belajar-mengajar. Resep yang amat sederhana tanpa mengeluarkan biaya apa pun. Gratis!

p1000551

Lokakarya yang diselenggarakan Save the Children ini merupakan pemadatan dua tema yang sebenarnya membutuhkan waktu pelatihan 2 minggu (12 hari kerja). Namun, karena peserta bersemangat berpraktik belajar aktif, sasaran menyusun silabus dan RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) dan bagaimana menerapkan pendekatan belajar aktif dapat digabungkan dan bisa dikebut dalam waktu 6 hari pelatihan.

pic_1403

Seorang guru muda mengajari kepala sekolah cara mencuci tangan dan mengelap tangan dengan benar.

p1010151

Ini adalah pajangan jaringan tematik dengan memilih kompetensi dasar yang cocok. Dari tiap kompetensi dasar / kompetensi konkret, dikembangkan gagasan-gagasan kegiatan belajar aktif. Kemudian, kegiatan-kegiatan belajar yang terpilih diurutkan dan diperkirakan alokasi waktunya.

p10101501

Guru dapat menggunakan pendekatan dari garis finish ke garis start, dengan menyusun indikator dan penskoran menjadi alat penilaian kompetensi yang berciri kualitatif sebelum mengembangkan kegiatan-kegiatan belajar untuk mengembangkan / melatih kompetensi itu.

p1010148

Bernyanyi, bermain gitar, dan menari selalu menghiasi kegiatan penataran ini. Peserta tak merasa letih karena musik dan nyanyian menjadi terapi penyegar tubuh dan otak.

p1010072

Bekerja sama membuat jaringan tematik. Kalau bekerja sambil duduk di lantai lebih menyenangkan, mengapa harus duduk tegak di kursi. Jika sebagai guru Anda menerapkan hal ini, anak-anak yang bergaya belajar otak kanan akan bersemangat belajar karena posisi inilah yang lebih mereka senangi.

p1010071

Menempel potongan-potongan kompetensi dasar pada ujung garis-garis panah dari kotak tema di tengah. Kali ini kepala sekolah-lah yang lebih aktif daripada guru.

p1000968

Poster teks lagu yang dinyanyikan dengan irama lagu “Naik-naik ke puncak gunung” untuk belajar matematika.

p1000966

Poster teks lagu untuk mendorong anak agar gemar belajar matematika.

p1000925

Ibu guru ini sedang dinilai dengan menggunakan alat penilaian berisi indikator kompetensi memimpin lagu sebagai dirigen.

p1000711

Suara lebih bagus jika bernyanyi dalam posisi berdiri. Sang dirigen sedang dinilai dengan menggunakan kriteria berikut ini.

memimpin-lagusbelen

Ini adalah contoh alat penilaian yang sesuai dengan indikator-indikator kompetensi memimpin lagu sebagai dirigen. Skor maksimum untuk tiap indikator disesuaikan dengan bobot indikator tersebut.

p1000901

Para guru sedang dilatih kompetensi melakukan wawancara untuk mencari data tentang sejarah berdiri dan perkembangan hotel atau resort ini.

p1000881

Mewawancarai petugas cafe dekat kolam renang untuk mencari data tentang keuntungan yang diperoleh.

p10006981

Bekerja sama membuat sebuah bangunan atau ciptaan yang indah menurut kelompok.

p1000869

Status kepala sekolah dan guru senior untuk sementara dilepas.

p1000854

Belajar aktif sering menuntut aktivitas berpikir tinggi.

p10007951

Belajar sambil minum dan makan makanan kecil. Anak bergaya belajar otak kanan senang belajar sambil makan (ngemil) dan minum. Di sekolah sebaiknya anak diperbolehkan membawa tempat minumnya ke dalam kelas. Kapan saja merasa haus, anak langsung minum air karena otak yang kekurangan air akan lambat bekerja. Sebanyak 80% volume otak terdiri dari air. Di sebuah SD di Kota Sukabumi, Jawa Barat, bahkan di tiap kelas disediakan dispenser. Anak-anak sekelas urunan membeli air isi ulang. Mengapa dalam penataran guru dihidangkan air minum, sedangkan di sekolah para siswa malah menaruh tempat minumnya di luar kelas.

p1000773

Peserta tampak waspada dan bekerja cepat karena waktu yang disedikan untuk kegiatan ini hanya 15 menit. Memberi batasan waktu bagi anak untuk menyelesaikan sebuah kegiatan amat penting untuk memanfaatkan waktu secara efektif. The “enemy” of active learning approach is time, time and time. “Musuh” pendekatan belajar aktif adalah waktu yang tak cukup. Karena itu, pandai-pandailah mencari kiat mempercepat kegiatan anak.

p1000763

Ada yang menunjuk, ada yang membaca, ada yang memegang kertas, dan ada yang menulis. Kerja sama yang serasi!

p1000761

Kadang-kdang perlu diterapkan kegiatan kelompok besar. Namun, pada umumnya kelompok yang terdiri dari lebih dari 6 orang cenderung mengarah ke “masa” atau “crowd”.

p10006261

Tampil menjelaskan hasil kerja kelompok di depan.

p1000620

Tiap orang menyumbang melalui peran yang berbeda.

p10102441

Anak Maluku pasca-kerusuhan sosial menanti uluran tangan inovasi belajar aktif agar berani menatap dan menapaki masa depan yang penuh tantangan dan kejutan. Semoga Dinas Pendidikan meneruskan prakarsa dan rintisan Save the Children ini!

p1010240

Belajar aktif tak memerlukan alat bantu pelajaran yang mahal. Dengan lilin malam saja dapat dilakukan beragam kegiatan belajar aktif yang menarik minat anak.

p1010229

Tanaman dalam pot yang ditanam dan dirawat anak dapat ditaruh di gang depan ruang kelas di SDN Suli, Kabupaten Maluku Tengah.

p1010225

Si nona Ambon manise masih tampak ceria setelah melakukan kegiatan belajar aktif.

p1010217

Berilah kesempatan dan doronglah anak untuk mengekspresikan dirinya secara bebas.

p1010216

Larangan “jangan” atau “tidak boleh” mematikan rasa ingin tahu. kreativitas berpikir, dan kegemaran anak melakukan eksplorasi. Anak-anak akan berekspresi bebas jika merasa aman.

p1010222

Inilah contoh ruang pertemuan sederhana di sekolah yang bersih dan ditata secara menarik. Kampus lembaga pendidikan guru di universitas dapat berkaca kepada para kepala sekolah dan guru SD.

p1010218

Pajanglah karya siswa di ruang guru, di dinding luar kelas, sampai ke ruang kepala sekolah. Betapa bangga anak. Kebanggaan yang bakal terbawa sebagai kenangan manis seumur hidup.

p1010223

Betapa lebih lengkap jika dinas pendidikan mengusahakan perangkat komputer dan jaringan internet di sekolah, dimulai dulu dari kepala sekolah dan para guru.

p1010206

Sebagai fasilitator, guru berkeliling dan membantu anak atau kelompok yang memerlukan arahan dan umpan balik. Kosa kata seperti “bodoh”, “dungu”, “bebal”, “nakal”, “bandel”, “kurang ajar”, apalagi “anjing”, “babi”, “binatang” harus dibuang jauh-jauh, tak boleh terucapkan dari mulut guru dan terdengar telinga anak di ruang kelas dan dalam proses belajar-mengajar.

pic_1420

Bagi lemnya, dong! Lem amat penting untuk belajar aktif. Tak ada lem, pakai saja nasi, bubur, atau getah pohon yang lengket.

pic_1416

Nyong papua dan nona ambon berbaur dalam kerja sama tanpa membedakan asal-usul.

p1010185

Dalam kelas belajar aktif, duduk berbaris seperti ini seharusnya sudah “dimuseumkan”.

p10101791

Kompleks sekolah ini luas. Di halaman sekeliling sekolah perlu ditanami pohon-pohon perindang yang produktif, seperti jambu mente, mangga, asam, nangka. Tiap pohon dengan radius daun rimbun 4 m memberi supply oksigen bagi 10 orang.

p1010178

Toilet sekolah amat penting. Tersedia air dan sabun pencuci tangan dan sebaiknya ada toilet untuk anak pria dan wanita yang terpisah.

p1010172

Katong nona dan nyong Ambon kasi salam untuk anak-anak SD di seluruh Indonesia. Dangke (terima kasih) Save the Children!

Koleksi foto: Miftahudin & S.Belen

Iklan

annie dancing

Pneumonia

Kunjungilah posting ini:

https://sbelen.wordpress.com/2013/05/03/bawang-putih-cuka-apel-madu-jahe-lemon-jantung-sehat-tubuh-bugar/

Gambar spanduk Sano

sano-sembuhkan-pneumonia

Kartu nama Yuni 2