Posts Tagged ‘beo’

Laki-laki itu burung … Wanita itu burung …

Mei 18, 2010

Membaca puisi pada bagian akhir posting ini membuat kami berefleksi soal burung, membuat pertanyaan tentang burung.

Maukah kita …?

Maukah kita menjadi burung hantu yang semakin banyak melihat semakin sedikit berbicara dan semakin sedikit berbicara semakin banyak mendengarkan?

Maukah kita menjadi burung beo yang semakin besar semakin cerewet dan semakin cerewet semakin menyebalkan?

Maukah kita menjadi burung walet yang semakin banyak semakin beribut dan semakin beribut semakin banyak membuang ludah dan semakin banyak membuang ludah semakin kaya yang empunya burung?

Maukah kita menjadi burung kakatua yang semakin tua semakin menarik jambulnya dan semakin menarik jambulnya semakin banyak jagung yang dimakan dan semakin banyak jagung yang dimakan semakin membuat petani menderita?

Maukah kita menjadi telur burung puyuh yang semakin kecil semakin banyak gizinya dan semakin banyak gizinya semakin menyehatkan anak manusia?

Maukah kita menjadi burung pelikan yang semakin banyak ikut berbaris semakin kompak jalannya dan semakin jauh terpisah dari barisan semakin bingung hendak berjalan ke mana?

Apakah laki-laki itu burung …?

Lukisan Kahlil Gibran

Apakah wanita itu burung …?


Apakah laki-laki itu burung hantu yang hanya berbicara 25 ribu kata dalam sehari sedangkan wanita itu burung beo yang berbicara 50 ribu kata dalam sehari? Dua kali lipat dari burung hantu?

Apakah wanita itu burung cendrawasih yang jika tersenyum sayap-sayapnya mekar memperlihatkan warna-warni sayap yang mempesona sedangkan laki-laki itu kelelawar yang suka makan buah-buah ranum lalu meninggalkannya tersobek dan terluka?

Apakah laki-laki itu burung rajawali yang gampang tertembak sedangkan wanita itu burung gereja yang sulit tertembak?

Apakah wanita itu burung pelikan yang rela memberikan darah kepada anak-anaknya dengan mengorbankan nyawanya sedangkan laki-laki itu burung bangau yang hanya berdiri dengan satu kaki tapi mudah mencaplok ikan-ikan kecil di laut dangkal?


Apakah laki-laki itu burung puyuh yang jika diburu larinya kencang dan tiba-tiba menghilang entah ke mana sedangkan wanita itu burung pipit yang terbang ke dalam kamar tanpa takut ditangkap karena keluguannya?

Ikutilah kisah nasib burung berikut ini!

TANPA  JUDUL 201

Oleh Martin Bhisu

Bernyanyilah kepada hatiku
burung-burung di menara hotel,melepas rindu
kembali ke lembah dan ngarai, habitatmu seperti dulu
tapi selalu kau tinggalkan lagu yang sama di hatiku, nada sendu.

Burung-burung apa yang bernyanyi di sana?
Tutuplah mulut mereka!
yang menyayat hati dengan gundah gulana
tak tahan lagi, bait-bait lagu yang mengiris sukma.

Kian lama nyanyian mereka memenuhi hidup memelas
seperti titik-titik air yang perlahan jatuh kedalam gelas
tumpah ruah, membasah, tak mengalir deras
tapi nyanyian itu semakin lama semakin keras.

Dan aku turut bernyanyi
lagu yang lunglai
hingga hati tak terurai
terlebur dalam nyanyian burung berderai.

Nyanyian penyesalan jatuh di tanah
amukan diriku tanpa gairah
entah bernyanyi, entah berpasrah
bertekuk lutut, pun maju selangkah.

Burung-burung berkicau, menangis
burung-burung menangis, airmata gerimis
hati yang lumpuh, menepis
rindu kembali ke gunung terkikis.

Guayaybi, PARAGUAY, 23 de abril de 2010.

Iklan

Janji raja & bunyi tokek

Oktober 24, 2009

disco.httpwww.ugotbling.comimgwidgetsanimate-your-picturethemesdisco.gif

BUNYI TOKEK

Senutan gigi meradang,

berdesahan di setiap tarikan napas,

di setiap terpaan gelombang laut provinsi seribu pulau

menghantam lambung bahtera.

Dan …

di deru burung besi membelah mega mendung,

sakit gigi lebih merangsek benak,

ketimbang pidato gombal sang raja bermahkota untaian intan,

hasil curian dari penambang bumi Borneo.

Sang raja tampil berbusana baru, bercelana dalam lama.

Bisakah bujuk rayu gombal mengelabui rakyat yang sakit gigi?

Masih percayakah kau, sang raja?

Wahai, rakyat yang sakit gigi!

Percayakah Anda celoteh beo dari sangkar emas?

Percayakah Anda data soal rakyat ilalang sabana?

Percayakah Anda tangisan pendekar jarahan,

yang tak lagi memimpin pasukan muda ke medan laga?

Percayakah Anda senyum sumringah pendekar,

pemenang lomba menjilat pantat sang raja?

Percayakah Anda kicauan burung di jelaga dahan tercemar?

Percayakah Anda tangisan pendekar pembela kaum tani,

tengadah memaksa langit mencurahkan hujan?

Percayakah Anda elang pemangsa anak ayam,

pengais remah-remah raskin?

Masih percayakah Anda janji sang raja dan para punggawa?

Percaya – tak percaya – percaya – tak percaya – ….

To-kek – to-kek – to-kek – to-kek – ….

S.Belen

Veranda pondok Jatibening

24 Oktober 2009