Posts Tagged ‘belajar’

Filsafat tentang permainan & permainan menurut riset otak

Desember 27, 2009

Bung Martin Bhisu dari Paraguay mengingatkan tulisan Fritz Lake di majalah ACADEMIA, milik Senat STFK Ledalero, Maumere, Flores tentang pemikiran seorang filsuf Belanda. (saya tidak tahu namanya). Menurut filsuf ini, semua kebudayaan berasal dari permainan. Benar, analisis Anda, permainan menanamkan kreativitas, dan semua kebudayan adalah ekspresi dari kreativitas manusiawi.

Saya telepon Fritz Lake tapi teleponnya tak bisa dihubungi, hanya sms menanyakan siapa nama filsuf Belanda itu. Sambil menanti sms balasan, iseng-iseng saya coba browse di google, dan menemukan nama filsuf itu, yaitu Johan Huizinga yang menulis buku Homo Ludens atau “Man the Player” (“Playing Man”), terbit tahun 1938. Beliau sendiri wafat tahun 1945. Lihat http://en.wikipedia.org/wiki/Homo_Ludens_%28book%29.

Huizinga berpendapat bahwa permainan adalah awal pertama dan merupakan suatu kondisi yang perlu bagi lahirnya sebuah kebudayaan. Binatang-lah yang pertama-tama bermain dalam ulasannya tentang kerangka evolusi permainan. Salah satu aspek permainan yang amat signifikan (manusiawi dan kultural) adalah kesenangan. (It is fun). Permainan adalah fungsi manusiawi paling fundamendal yang melahirkan semua kebudayaan sejak dari awal.

Lima ciri khas permainan menurut Huizinga adalah:

  1. Bermain itu bebas, ia dalam kenyataannya adalah kebebasan.
  2. Permainan bukanlah kehidupan yang “biasa” atau “riil”.
  3. Permainan berbeda dari kehidupan “sehari-hari” menurut tempat dan lamanya (durasi).
  4. Permainan menciptakan aturan dan ia adalah aturan itu sendiri. Permainan menuntut keteraturan mutlak dan tertinggi.
  5. Permainan tidak berhubungan dengan kepentingan material dan tak ada keuntungan (profit) yang dapat diperoleh darinya.

Kata dan gagasan tidak lahir dari pemikiran ilmiah atau logis tapi dari bahasa yang kreatif. Dari sekian banyak istilah permainan, terutama dari ludus dalam bahasa Latin, ia menunjukkan persamaan permainan dengan “perjuangan yang serius” dan aplikasi erotis.

Kebudayaan lahir dalam bentuk permainan sejak awal mula. Kehidupan sosial yang lebih tinggi berhubungan dengan bentuk-bentuk suprabiologis, dalam bentuk permainan yang meningkat nilainya. Ia tidak memaknai bahwa permainan berubah menjadi kebudayaan. Ia mensejajarkan permainan dan kebudayaan dan membahasnya sebagai sebuah kesatuan bayi kembar, namun ia menegaskan bahwa permainan-lah yang muncul lebih dulu dari kebudayaan.

Permainan itu menjelma dalam 3 bentuk tuntutan hukum yang didahului masyarakat purba, yaitu the game of chance, kontes, dan perang kata.

Orang dapat menyebut masyarakat sebagai sebuah permainan dalam arti formal jika diingat bahwa sebuah permainan adalah prinsip hidup semua peradaban. Tanpa kehadiran semangat peradaban sebagai permainan tak mungkinlah lahir peradaban.

Bagi manusia purba, berbuat atau melakukan dan keberanian adalah power, tetapi mengetahui adalah kekuatan magis. Mengetahui apa pun berhubungan langsung dengan aturan kosmos itu sendiri.

Puisi lahir dari permainan kata sudah sejak era penyair purba. Karena efek matafora terdiri dari deskripsi hal-hal atau kejadian-kejadian yang berhubungan dengan kehidupan dan gerakan, kita berada di jalan menuju personifikasi. Merepresentasi hal yang bukan jasmaniah dan benda mati sebagai seorang manusia pribadi adalah jiwa seluruh mitos dan hampir semua puisi.

Permainan berhubungan juga dengan musik dan tarian. Arsitek, pematung, pelukis, kartunis, seniman keramik, dan seniman dekorasi walaupun memiliki impuls kreatif, dikuasai, diatur oleh disiplin, “selalu menjadi subjek terhadap keterampilan dan ketangkasan dalam menggunakan tangan.”

Peradaban pada tahap awal tidak datang dari permainan seperti seorang bayi lahir dari rahim ibu, tapi ia lahir dalam dan sebagai permainan dan tidak pernah meninggalkan permainan itu.

Dalam politik zaman modern faktor permainan hadir dalam semua aturan pemilihan umum bahkan lebih jelas. Jauh sebelum sistem dua partai di Amerika Serikat, pemilihan umum di Amerika berkembang seperi sebuah olahraga nasional (national sport).

Kata mutiara:

“Biarlah permainanku menjadi belajarku, dan belajarku menjadi permainanku.”

“Anak tertawa: Permainan adalah kebijaksanaanku dan cintaku.” “Anak muda bernyanyi: Cinta adalah kebijaksanaanku dan permainanku.” “Orang tua diam: Kebijaksaan adalah cintaku dan permainanku.” (Lucian Blaga, 3 wajah).

Bermain mencerdaskan otak anak

Dari segi riset otak disimpulkan bahwa:

  1. DUNIA FISIK ADALAH DUNIA TEMPAT SEMUA AKTIVITAS BELAJAR BERASAL. Gerakan kepala mengarahkan organ indrawi kita – mata, telinga, hidung, dan lidah) terhadap input dari lingkungan.
  2. GERAKAN AMAT VITAL BAGI SEMUA TINDAKAN BELAJAR, pemahaman kita, dan diri kita. Gerakan janin dalam kandungan adalah awal pengetahuan dan pengalaman bagi manusia tentang hukum gravitasi.

“Gerakan adalah pintu menuju aktivitas belajar” (Paul Dennison). Gerakan membangkitkan dan mengaktifkan kapasitas mental kita. Gerakan duduk, berdiri, berjalan, dan berlari waktu bayi membantu kita kelak menciptakan karya seni yang indah lewat proses yang rumit.

Gerakan membuat kita mampu mengungkapkan kesedihan, amarah, kebahagiaan, dan cinta. Menulis angka dan huruf mengikuti gerakan yang dituntut agar terbaca waktu kita melihatnya dengan indra mata. Gerakan yang terpadu dengan pengindraan membuat kita mampu bermain, menghubungkan, dan menciptakan pemahaman baru.

Melalui gerakan kita dapat menyalurkan pikiran dan perasaan kita ke dalam kata-kata dan mimik serta ekspresi tubuh.

Kompetensi dokter, seniman, musikus, ilmuwan, dan profesi lainnya berkembang dalam jaringan internal yang rumit antara PIKIRAN, OTOT, dan EMOSI.

Dalam proses belajar, amat penting membiarkan seseorang bergerak, mengeksplorasi gerakan, dan keseimbangan dalam lingkungannya. Apakah berjalan di titian, memanjat pohon, menyeberangi banjir, berenang, melompati kursi, koprol, berlari, berlutut, merangkak, atau melempar. Karena itu, dalam kegiatan belajar sebaiknya siswa melakukan kegiatan pengamatan atau memegang benda 3 dimensi, membuat gambar 2 dimensi, lalu membuat tulisan 2 dimensi.

Tahapan memperkenalkan tulisan kata kepada anak kelas 1 SD adalah:

☻    Mengamati / memegang buah apel

☻    Menggambar buah apel

☻    Menulis kata apel

Jika seorang anak mengalami ketertinggalan dalam pelajaran di sekolah, karena mengalami hambatan mental atau kesulitan belajar yang serius, solusinya adalah menambah permainan dalam aktivitas bimbingan guru. Anak itu bisa membuat loncatan quantum, misalnya dari tidak bisa membaca, menulis, atau pun berkomunikasi pada level kelas 2 SD sampai ke level kemampuan anak kelas 5 SD yang bisa membaca, menulis, dan berkomunikasi jika ditambahkan gerakan dalam kegiatan sehari-hari, yang dijelmakan dalam bentuk permainan. LONCATAN KEMAMPUAN YANG TIBA-TIBA ITU DISEBABKAN OLEH TAMBAHAN GERAKAN DALAM KEGIATAN SEHARI-HARINYA. Gerakan itu bisa dalam bentuk kegiatan, seperti:

☻    Senam otak

☻    Sepak bola

☻    Seni; dan

☻    Musik.

Ulasan tentang filsafat permainan Huizinga dan paparan hasil riset otak dapatlah disimpulkan pada gambar berikut ini.

Seluruh aktivitas manusia dikendalikan dan bergantung kepada kinerja otak. Imajinasi yang berkembang pada otak mendorong kreativitas berpikir dan bertindak (berbuat). Kreativitas selanjutnya dilaksanakan melalui beragam tindakan manusia yang lahir dari gerakan tubuh. Dari seluruh gerakan tubuh ada gerakan yang diwujudkan dalam bentuk permainan. Ditinjau dari pandangan filsafat Huizinga dapatlah dikatakan bahwa aneka-ragam tindakan (actions) manusia melahirkan kebudayaan. Namun, permainan berperan menciptakan kondisi yang perlu bagi lahirnya sebuah kebudayaan. Mengapa? Karena permainan mengalun mengikuti irama kreativitas dan kreativitas mengalun mengikuti irama imajinasi.

Baca juga Rules, Play and Culture: Towards an Aesthetic of Games, oleh Frank Lantz & Eric Zimmerman dalam

http://www.ericzimmerman.com/texts/RulesPlayCulture.htm

Iklan

Sepeda jatuh di kolam

Sakit herpes

Kunjungilah posting ini:

https://sbelen.wordpress.com/2013/05/03/bawang-putih-cuka-apel-madu-jahe-lemon-jantung-sehat-tubuh-bugar/

Gambar spanduk Sano

sano-sembuhkan-herpes

Kartu nama Yuni 2

Iklan

Janganlah mendayung melawan arus!

Juli 2, 2009

Intan dayung

Intan tidak mendayung melawan arus di pantai Adonara, Flores.

Contra aquam remigamus. Ini adalah kata bijak bahasa Latin yang berarti “Kita mendayung melawan arus.” Kata bijak ini diambil dari penggalan akhir kalimat filsuf Seneca dalam sebuah suratnya kepada Lucilius. Kata-kata Seneca adalah sbb: “Ideo, Lucili, tenenda nobis uia est quam natura praescripsit, nec ab illa declinandum: illam sequentibus omnia facilia, expedita sunt, contra illam nitentibus non alia vita est quam contra aquam remigantibus.

Nah, sebenarnya “Contra aquam remigamus” sudah dialihkan ke bentuk present tense (waktu sekarang), untuk menunjukkan bahwa kecenderungan ini terlihat terus-menerus pada banyak orang. Sedangkan, “…contra aquam remigantibus”, kata kerja ini dalam bentuk future tense. (Kita akan berenang melawan arus). Terjemahannya sbb: “Jadi, Lucilius, kita harus selalu mengikuti jalan yang sudah ditentukan Alam, dan tidak menyimpang darinya; jika kita mengikuti jalan Alam, semua hal menjadi gampang dan tak terhalang, tetapi jika kita berjuang melawan jalan Alam, kehidupan kita menjadi tak berarti karena kita (akan) mendayung melawan arus air.”

original

Barrack Obama berenang melawan arus. Lebih susah maju & menguras tenaga.

Seneca mengeritik kecenderungan orang mendayung melawan arus. Menurut Seneca, alam sudah mengatur seluruh kehidupan. Kepiting tidak pernah akan mampu berjalan tegak. Gajah tidak dapat menari. Besi tidak dapat berenang. Kucing tidak mungkin terbang. Ikan tidak mungkin berjalan di darat.


Bagi Seneca, gagasan mendayung melawan arus adalah sesuatu yang sulit dan bahkan sia-sia. Dan, ia berargumentasi bahwa kita tidak boleh menerapkan pendekatan ini terhadap kehidupan.


Namun, dalam hidup ini, terkadang atau bahkan sering kita dituntut atau bahkan terpaksa berenang melawan arus, setidak-tidaknya untuk sejenak, atau bahkan kita tinggalkan perahu sama sekali dan berenang sambil mengangkat kepala ke atas dan terus menantang arus. Namun, ini hanyalah kasus, kekecualian yang terkadang terpaksa kita lakukan.

Gagasan Seneca ini menunjukkan “kebenaran” abadi. Dalam kehidupan ultramodern di era global ini, umat manusia cenderung berenang melawan arus dan ternyata dampak merugikan dirinya sendiri, manusia yang lain, dan generasi masa depan.

original 5

Barrack Obama berenang mengikuti arus. Lebih mudah & lebih cepat.

Contoh-contohnya makin banyak. Kita kemukakan saja sejumlah contoh.

l      Penduduk Jakarta dan sekitarnya terus saja mengambil air tanah untuk konsumsi hotel, kantor, mall, pabrik, dan rumah keluarga. Dua puluh lima tahun lalu, intrusi air laut diperkirakan telah sampai ke kawasan Monas dan belum muncul data kini sudah sampai di mana. Namun, kebanyakan orang tidak peduli. Lalu, bukankah tidak mungkin bahwa permukaan tanah semakin turun dan kini kita lihat di pesisir Jakarta utara, air laut sudah lebih tinggi daripada permukaan tanah. Lama-lama penduduk Jakarta akan berenang di air laut!

l      Bencana banjir dan tanah longsor sudah menjadi acara rutin setiap musim penghujan di berbagai wilayah tanah air karena kita serakah menebang pepohonan di hutan, menanam dengan sistem ladang berpindah. Alam tidak bisa dilawan.

l      Kita sudah tahu bahwa makanan cepat saji dan minuman bersoda merusak kesehatan tetapi kita biarkan anak-anak terus mengkonsumsi dan kini semakin banyak orang mati muda.

l      Di dunia pendidikan kita tahu dari hasil riset otak bahwa otak manusia, otak anak tidak mampu berkonsentrasi menerima informasi melalui ceramah guru lebih dari 10 menit. Tetapi, para guru terus saja berceramah selama 30 menit, 40 menit, dan bahkan di perguruan tinggi bisa sampai 60 menit s.d. 80 menit. Apa yang didengar melalui telinga kiri akan keluar melalui telinga kanan.

RECO1989

Biarkan anak-anak “mendayung” mengikuti arus. Mengapa kita memaksa anak belajar dengan cara yang bertentangan dengan kehendak otak?

l      Otak anak akan lebih mampu mengingat atau menyusun memori dan memproduksi kembali jika informasi yang masuk ke dalam otak diterima melalui lebih dari satu indra.Misalnya siswa SMA belajar menghitung 1 – 10 dalam bahasa Jerman.  Jika hanya mendengarkan sebutan lisan guru, siswa mudah lupa. Tapi bila guru menyebut sambil menulis eins, zwei, drei dan siswa juga langsung menulis angka-angka itu sambil menyebut keras-keras agar telinganya mendengar, ingatan akan lebih mantap tersimpan di memori otak. Nah, jika guru hanya mengajarkan bahasa asing hanya melalui ocehan ceramah guru tentang grammar tanpa memanfaatkan mata dan tangan anak untuk menulis dan langsung praktik berbahasa asing, sia-sialah upaya guru. Karena, guru berenang melawan arus, melawan kodrat alamiah otak anak.

DSCN3958

Anak senang bermain sambil belajar (playing while learning).Anak-anak SD Labuha 1 di Pulau Bacan Provinsi Maluku Utara bermain meloncat tali. Mengapa kita harus memaksa anak belajar sambil duduk tegak di kursi depan meja padahal hal ini menghambat kebebasan tubuh untuk bergerak sehingga aliran darah yang lancar meningkatkan kinerja otak anak?

DSCN3948

Anak-anak senang belajar sambil bermain (learning by playing). Anak-anak SD Labuha 1 kelas III sedang bermain drama menjadi perawat dan dokter waktu belajar tentang penyakit malaria dan penyebabnya nyamuk Annopheles.

Sumber:

http://audiolatinproverbs.blogspot.com/2006/12/contra-aquam-remigamus.html

Iklan

andydwyer-lapdance

Pneumonia

Kunjungilah posting kami:

https://sbelen.wordpress.com/2013/05/03/bawang-putih-cuka-apel-madu-jahe-lemon-jantung-sehat-tubuh-bugar/

Gambar spanduk Sano

sano-sembuhkan-pneumonia

Kartu nama Yuni 2

Laptop: Tak ada akar, rotan pun berguna

Desember 22, 2008

notebook005the-better-ways-to-use-your-laptop-_-funtasticuscom-humor-fun

notebook006the-better-ways-to-use-your-laptop-_-funtasticuscom-humor-fun

notebook007the-better-ways-to-use-your-laptop-_-funtasticuscom-humor-fun

Sumber:

The Better Ways to Use Your Laptop _ Funtasticus.com Humor & Fun

Tips awet muda

Agustus 31, 2008

1.Buanglah angka-angka yang tak penting. Ini mencakup umur, berat dan tinggi badan. Biarlah dokter yang khawatir terhadap angka-angka itu. Itulah sebabnya Anda membayar dokter.

2.Pertahankanlah hanya teman-teman yang gembira. Orang-orang yang suka mengeluh akan membuatmu down. (Ingatlah jika Anda adalah salah seorang yang suka mengeluh).

3.Tetaplah belajar.Belajarlah lebih banyak tentang komputer, kerajinan tangan, berkebun, apa saja.Jangan pernah membiarkan otak bermalas-malasan. “Sebuah pikiran yang malas adalah bengkel kerja setan.”Dan nama setan itu adalah Alzheimer.

4.Nikmatilah hal-hal sederhana.

5.Seringlah tertawa, lebih lama dan keras. Tertawalah sampai Anda terpaksa harus menarik napas.Dan jika Anda      mempunyai teman yang membuatmu tertawa, gunakanlah banyak-banyak waktu dengannya, entah dia lelaki atau perempuan.

6.Jika Anda air mata harus tumpah: Bertahanlah, bersedihlah, dan maju terus. Satu-satunya orang yang selalu bersama kita sepanjang hidup kita adalah diri kita. HIDUPLAH ketika Anda masih hidup.

7.Kelilingilah dirimu dengan apa yang Anda cintai:Apakah itu keluarga, hewan peliharaan, kado kenangan, musik, tanaman, hobi, apa pun rumahmu jadikanlah ia tempat pelarianmu.

8.Hargailah kesehatanmu;

Jika kesehatanmu baik, pertahankanlah.

Jika kesehatanmu tak stabil, sembuhkanlah.

Jika kesehatanmu melewati apa yang dapat Anda sembuhkan, carilah bantuan.


9.Jangan membuat perjalanan yang mengingatkan kesalahanmu.Pergilah ke mall, bahkan ke kabupaten tetangga, ke luar negeri, tapi JANGAN bepergian ke tempat di mana kesalahan telah diperbuat.

10. Katakan kepada orang yang Anda cintai bahwa Anda mencintai mereka pada setiap kesempatan.

Patung Asmat: Ibu dan kedua anaknya

(Sumber: WR-BAZ.havaikiart)

(Sumber: www.thankyouink)

Iklan

alison-brie-yes-2

Awet muda

Kunjungi posting ini:

https://sbelen.wordpress.com/2013/05/03/bawang-putih-cuka-apel-madu-jahe-lemon-jantung-sehat-tubuh-bugar/

Gambar spanduk Sano

Sano bikin anda awet muda

Kartu nama Yuni

Mengapa sekarang siswa dan orang tua sulit mendapatkan buku pelajaran bagi anaknya? Pertanyaan dan jawaban

Juli 27, 2008

Perpustakaan SDN 005 Pekanbaru

(Foto koleksi Noor Indrastuti)

Pada post ini penulis kemukakan pertanyaan yang sering diajukan orang tua, siswa, dan guru tentang pengadaan buku pelajaran dan jawaban singkat atas pertanyaan itu.

(Penulis adalah pengamat buku pelajaran sekolah, pembimbing guru untuk menulis buku pelajaran, dan melatih penulis buku pelajaran dan editor agar memproduksi buku yang sesuai dengan tuntutan kurikulum, terutama tuntutan belajar aktif, untuk membuat siswa kreatif dalam belajar).

Selamat membaca!

1.Mengapa Anda sulit mendapatkan buku pelajaran bagi anak pada awal tahun ajaran ini?

Jawaban: Kesulitan ini muncul pada awal tahun ajaran ini karena pemerintah mengeluarkan Peraturan Menteri (Permen) No. 2 Tahun 2008 yang pada intinya mengusahakan buku murah bagi para siswa. Untuk itu, Depdiknas membeli copyright naskah buku pelajaran, yang berlaku selama 15 tahun. Naskah buku itu lalu didesain pemerintah dan dimasukkan ke Internet sehingga siswa dan sekolah dapat men-download buku pelajaran itu. Sekarang buku itu disebut E-book.

2.Siapa saja yang diizinkan mendownload, mencetak, dan menjual E-book tersebut?

Jawaban: Siapa saja diizinkan mendownload dan menggandakan buku itu dan dapat dijual kepada siswa dengan HET (Harga Eceran Tertinggi) yang ditentukan Mendiknas.

3.Lalu, mengapa buku murah tersebut sulit diperoleh?

Jawban: Karena, harga eceran tertinggi yang ditentukan Mendiknas terlalu rendah, tidak sesuai dengan harga pasar yang ditentukan oleh mekanisme pasar. Tampaknya tidak mungkin orang mencetak dan menggandakan buku itu lalu dijual dengan harga tersebut. Mengapa? Karena, harga kertas sering melambung terutama menjelang tahun ajaran baru, apalagi di tengah kelanggkaan yang dirasakan orang tua murid sekarang.

HET yang ditentukan pemerintah tak masuk akal karena harga kertas dan tinta sudah melambung naik, terutama sejak kenaikan harga BBM. Akibatnya, tak ada percetakan yang mau mencetak.

Lalu, masalah muncul karena dalam Permen No. 2 Tahun 2008 itu, pada Pasal 11 dinyatakan bahwa penerbit swasta tidak diperbolehkan menjual buku ke sekolah. Peraturan lain juga menyatakan bahwa guru dan kepala sekolah dilarang bekerja sama dengan penerbit, termasuk melalui koperasi sekolah. Buku pelajaran yang diperbolehkan hanyalah E-book tersebut.

Siswa SDN 005 Pekanbaru sedang belajar di taman sekolah

4.Apakah mudah men-download E-book?

Jawaban: Masyarakat kecewa karena amat sulit dan memerlukan waktu amat lama men-download E-book. Di Indonesia, maksimal hanya 5% populasi siswa yang dapat mengakses E-book. Siswa yang dapat mengakses dan menggunakan E-book tentu saja harus memiliki komputer atau menggunakan komputer sekolah, dan komputer pun harus terhubung dengan Internet. Dalam keadaan jaringan internet dan listrik PLN yang sering padam ini, penggunaan E-book tampak seperti impian di siang bolong.

5.Apakah benar dengan adanya E-book, siswa tak perlu membeli buku pelajaran karena tinggal menggunakan komputer dan langsung belajar dari layar komputer, termasuk mengerjakan PR?

Jawaban: Di dunia ini kenyataan menunjukkan bahwa di negara maju, seperti Inggris, Amerika Serikat, Australia, Singapura, dan Jepang, para siswa tetap menggunakan buku pelajaran. Mengapa? Karena, dari segi keterbacaan, siswa lebih mudah dan santai belajar dan mengerjakan PR dari buku pelajaran daripada langsung menggunakan komputer. Lalu, komputer pun harus tersambung dengan Internet. Penggunaan internet langsung dalam proses belajar-mengajar dengan membaca E-book akan menganggu konsentrasi siswa dan guru sulit mengendalikan para siswa.

Mengerjakan PR lebih baik dengan

buku pelajaran daripada dengan E=book

6.Mengapa pemerintah melarang penerbit swasta menjual buku ke sekolah?

Jawaban: Menurut pemerintah, hal ini akan menimbulkan kolusi antara guru dan kepala sekolah dengan penerbit. Namun, hal ini sebenarnya hanya dilakukan oleh satu-dua penerbit kecil yang tidak memiliki percetakan. Mereka berusaha membuat bukunya laris dengan memberi TV, kulkas, atau mengongkosi para guru mengadakan study tour ke tempat wisata. Pemerintah men-generalisasi seolah-olah semua penerbit melakukan hal yang sama. Sebenarnya, penerbit besar, terutama yang memiliki percetakan sendiri tidak melakukan hal itu. Mengapa? Karena untuk apa penerbit besar itu memberi hadiah TV atau kulkas kepada guru. Kan, lebih menguntungkan terjun saja ke bisnis menjual TV dan kulkas.

7.Apakah masuk akal jika pemerintah mewajibkan orang tua murid membeli buku di toko buku?

Jawaban: Di daerah di luar Jawa, semisal NTT, Maluku, Papua, Kalimantan, dan Sumatra ada berapa toko buku di tiap pulau? Terbanyak hanya ada di ibukota provinsi. Bagaimana bisa, orang tua dan siswa diwajibkan membeli buku di toko buku. Di Jakarta saja, orang tua murid yang mencari 1 judul buku Matematika SD kelas 5 misalnya harus berkeliling Jakarta karena di toko buku tidak semua jilid tersedia. Akhirnya, biaya untuk membeli buku itu berlipat ganda jika dihitung dengan biaya transportasi.

8.Apakah benar penerbit swasta yang besar hanya menarik keuntungan dari menjual buku ke sekolah?

Jawaban: Penerbit besar pada umumnya mengadakan perjanjian dengan kepala sekolah dan guru dengan prinsip saling memberi dan menerima. Penerbit sering melakukan pelayanan kepada pelanggan (customer service), misalnya dengan mensponsori penataran atau pelatihan bagi para guru, membantu pengadaan kurikulum, contoh silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) atau persiapan mengajar guru kepada para guru. Selain itu, ada penerbit yang membantu membuat laboratorium bagi sekolah, membantu pengadaan alat dan bahan lab, bahkan ada yang membantu pembuatan kolam renang bagi sekolah besar di kota besar.

9.Apakah sekolah dapat melakukan negosiasi harga buku dengan penerbit?

Jawaban: Dalam dunia bisnis, negosiasi harga adalah hal biasa. Jika sebuah sekolah memiliki jumlah siswa yang banyak, penerbit dapat saja menurunkan harga buku.

10.Apakah para guru dan kepala sekolah mendapatkan rabat dari pembelian buku pelajaran?

Jawaban: Dalam dunia bisnis, pemberian rabat adalah hal biasa dan dapat dinegosiasikan dengan penerbit. Ada penerbit yang memberikan rabat 25% – 30% dari hasil pembelian bruto. Sebagai contoh, jika sebuah sekolah memesan buku pelajaran dengan biaya total Rp 10 000 000, para guru dan kepala sekolah dapat memperoleh rabat Rp 2 500 000. Kalau omzet sebuah sekolah besar Rp 1 milyar, para guru dan kepala sekolah dapat memperoleh Rp 250 juta. Rabat ini dapat digunakan untuk menambah modal koperasi sekolah, membeli mobil operasional sekolah, membeli alat dan bahan lab, dan dibagi-bagikan kepada guru sebagai bonus untuk biaya meyekolahkan anaknya. Bahkan, ada sekolah besar yang mengalihkannya untuk membuat kolam renang.

11.Apakah ada perbedaan mutu antara buku paket pemerintah yang ada dahulu dengan mutu buku penerbit swasta?

Jawaban: Secara umum dapatlah dikatakan bahwa mutu buku pelajaran penerbit swasta lebih baik daripada buku paket pemerintah. Karena, penerbit swasta harus meningkatkan mutu produk agar menarik konsumen, yaitu siswa, orang tua murid, dan guru. Namun, kemudian Depdiknas tidak menerbitkan lagi buku paket. Namun, sejak dulu, bahkan sejak ada buku paket, Depdiknas berhak menetapkan sebuah buku pelajaran penerbit swasta telah lolos seleksi pemerintah untuk dijual kepada para siswa. Pada umumnya penerbit berusaha mengikuti aturan seleksi buku pemerintah. Dan, tahun-tahun terakhir ini sekolah berhak memilih buku penerbit swasta dari daftar yang diterbitkan pemerintah dan membelinya dengan dana BOS untuk jenjang SD dan SMP. Sedangkan, dana BOS buku untuk SMA sampai sekarang belum ada. Tahun ini, jadi tidaknya pemerintah memberikan dana BOS buku kepada sekolah belum ada kepastian.

12.Apakah tepat dan masuk akal jika pemerintah melarang penerbit swasta menjual buku ke sekolah dan menerbitkan aturan yang menghalangi bisnis buku penerbit swasta?

Jawaban: Penerbitan buku, termasuk buku pelajaran, adalah bisnis kreatif (creative business) yang termasuk kerja ilmu pengetahuan (knowlede work). Jika suatu bangsa ingin maju, untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia dalam rangka mencerdaskan bangsa, bisnis perbukuan seharusnya didukung, bukan dihalang-halangi dan dicurigai. Penerbit menjual buku, bukan narkoba. Mengapa penjual bakso dan jajanan yang menggunakan zat pewarna, pengawet, dan bisa juga formalin tidak dilarang pemerintah berjualan di sekolah?

Selain itu, selama ini pemerintah tetap bersikukuh sejak era Orde Baru sampai dengan sekarang untuk tidak menghapuskan pajak pembelian kertas kepada penerbit buku. Karena itu, harga buku menjadi mahal karena penerbit mengalihkan beban biaya pembelian kertas ini kepada konsumen.

Perpustakaan SDN Sumbersono, Mojokerto

(Foto koleksi Noor Indrastuti)

Advertorial

 

Anak tendang guru

Diabetes

Bacalah posting ini:

https://sbelen.wordpress.com/2013/05/03/bawang-putih-cuka-apel-madu-jahe-lemon-jantung-sehat-tubuh-bugar/

Gambar spanduk Sano

sano-normalkan-gula-darah

Kartu nama Yuni