Posts Tagged ‘bahtera’

Perkawinan ibarat resleting?

Oktober 29, 2015

900x900px-LL-ddaf0acc_Supergirl-reporter-costume-smack

Dulu waktu remaja saya pernah membaca sebuah kata mutiara tentang perkawinan. Lupa dari Majalah Intisari atau Reader’s Digest. “Perkawinan itu ibarat surga bagi yang berada di luar. Ingin cepat-cepat masuk. Namun, perkawinan itu ibarat neraka bagi yang sudah berada di dalam. Ingin cepat-cepat keluar.” Nah, ini ada sebuah ibarat lain tentang perkawinan.

RESTETING DAN PERKAWINAN

Ada orang bilang, perkawinan itu seperti resleting. Ada dua deret gigi di sebuah resleting. Gigi-gigi itu masuk satu sama lain dengan amat rapi.

Tetapi, Anda tidak akan pernah bisa menutup resleting, kecuali Anda menggunakan kepala resleting itu. Kepala itulah yang menutup gigi-gigi itu bersama dan menguncinya.

Dalam perkawinan hal yang sama terjadi. Dua orang mungkin bisa sangat erat berhubungan, seperti dua sisi resleting, yang saling masuk dan saling mengikat.

Ikatan yang erat itu ditopang oleh rasa saling kasih. Diperkuat oleh bumbu pengorbanan tiada henti. Lalu, siapa kepala bahtera rumah tangga itu? Tentu saja kepalanya adalah Tuhan sendiri.

Apa yang terjadi jika pasangan suami-istri menjauhkan diri dari Tuhan, dalam kehidupan dan perkawinan mereka? Mereka akan menjadi dua sisi resleting tanpa kepala. Tentu saja ristelting itu tidak bisa berfungsi dengan benar.

Tanpa Tuhan sebagai “nakhoda” bahtera rumah tangga, hubungan suami-istri mudah retak dan terputus seperti dua sisi resleting yang terlepas, tak mau bersatu lagi.

Karena itu, tokoh spiritualitas biasa mengatakan, “Untuk menikah diperlukan tiga pihak, yaitu pria, wanita, dan Tuhan.”

Jika ingin memiliki file powerpoint tentang topik ini, silahkan klik file powerpoint ini!

Resleting dan perkawinan

Advertorial

ahs-shelley

Anak terserang anemia aplastik

Anak terseranng anemia (kurang darah) dengan kelainan trombosit

Fides sembuhkan anemia

.

Kunjungilah posting ini:

https://sbelen.wordpress.com/2015/06/11/habbatussauda-jintan-hitam-bawang-putih-jahe-lemon-madu-diabetes-stroke-penyakit-komplikasi-sembuh-tubuh-sehat/

Kartu nama Yuni Juli 2015

Iklan

Kotak perkawinan

Februari 6, 2014

Ketika masih pacaran:

 piggybackride

Ciuman motor

learn-how-to-mambo-o

Seorang kakak perempuan yang telah berkeluarga mengingatkan adik perempuannya yang hendak memasuki mahligai rumah tangga: “Dik, dalam perkawinan itu tidak ada cinta. Kalau memang ada cinta, makan tuh cinta.” Ayah dan ibu mereka berpura-pura tidak mendengar dan dalam hati hanya mengakui, ah, anak ini sudah mulai mengerti apa itu hidup perkawinan.

Memasuki hidup perkawinan:

marriage-o

marriage-o 2

big-k-drama-marriage-photos-scene-o

Kebanyakan orang yang kawin percaya sebuah mitos bahwa perkawinan itu adalah kotak yang indah penuh dengan hal-hal yang sekian lama diidam-idamkan: pendampingan, keintiman, persahabatan, dsb. ….

Yang benar adalah bahwa perkawinan itu pada awalnya ibarat sebuah kotak kosong, yang harus anda isi dengan sesuatu sebelum anda mengambil apa pun. Tidak ada cinta dalam perkawinan, cinta itu ada pada manusia, dan manusia-lah yang mengisi cinta dalam perkawinan. Tiada romantisme dalam perkawinan, anda justru harus memasukkannya ke dalam perkawinan. Sebuah pasangan harus belajar seni mempertahankan agar kotak itu tetap penuh, melalui membangun kebiasaan memberi, mencintai, melayani, memuji. Jika anda mengambil lebih banyak dari yang anda isi, kotak itu akan kosong. (Anonim)

Ketika telah cukup lama dalam hidup perkawinan:

Psikolog Damona Poespa menyatakan bahwa bagus sekali filosofi kotak kosong ini. Psikolog Dewi Chabi menandaskan bahwa memang kita tidak bisa hidup dengan kata cinta dari dua orang tapi bagaimana kita bisa saling menyayangi satu dengan yang lain dalam keluarga dan menyatukan seluruh anggota keluarga. Dengan sendirinya cinta itu akan timbul dari kasih sayang dari semua anggota keluarga. Selain dari memberi, menerima, memuji, melayani, dan mempercayai.

Filosofi cinta itu akan ditemukan setelah kita terjun ke dalam “kolam renang” hidup perkawinan. Sebelumnya, hanyalah berteori.

carey-o 2

ahs-shelley

Selain dari saling menyayangi, memberi, menerima, memuji, melayani, dan mempercayai seperti yang dikatakan Damona dan Dewi, ingin saya tambahkan satu lagi, yaitu berkorban. Tiada cinta dalam hidup perkawinan tanpa pengorbanan.

 bad-education-o 2

Dulu waktu masih duduk di bangku SMP di Lalian, Atambua, Timor yang berbatasan dengan Timor Portugis waktu itu, saya baca kata mutiara di Majalah Intisari yang waktu itu masih anyar. “Perkawinan itu ibarat surga bagi yang berada di luar. Ingin cepat-cepat masuk. Tapi, ibarat neraka untuk yang berada di dalam. Ingin cepat-cepat keluar.”

Kata mutiara ini saya hafal dan tidak lupa sampai sekarang.

900x900px-LL-13fc5305_hDE906F1B

tumblr_mkx4lngz0S1qcwhkeo4_250

tumblr_mlmk33Kzs41qcwhkeo4_250

Dalam hidup perkawinan yang penuh dengan ups and downs, terutama ketika badai datang melanda, syukurlah banyak pasangan tetap bertahan agar terus berada di dalam, walau terkadang ada bisikan untuk cepat-cepat keluar.

Psikolog Buntje Harbunangin menimpali, sekian puluh tahun lalu, seorang tokoh orde baru pernah memberi nasihat kepada mempelai dalam satu acara pernikahan: Perkawinan itu ibarat kapal di tengah samudra. Kadang tenang, kadang dihantam badai. Yang penting, jangan pernah sekali pun meninggalkan kapal 🙂 … Kalo hanya bisikan saja mungkin bolehlah didengar lalu lupakan.

Psikolog Solita Sarwono dari negeri kincir angin, Belanda menegaskan, “Kiasan ‘a marriage is an empty box’ memang benar. Orang tidak perlu saling mencintai untuk memasuki suatu perkawinan. Buktinya, kebanyakan generasi sebelum kita menikah karena dijodohkan. Bahkan ada yang sama sekali belum pernah saling kenal pada saat menikah. Tapi kok mereka bisa bertahan menjadi suami-istri sampai puluhan tahun lamanya, bahkan sampai meninggal dunia?

Bahwa cinta itu ‘dibuat’ / ditumbuhkan oleh manusia itu betul. Pepatah Jawa mengatakan : tresno jalaran kulino (cinta tumbuh karena terbiasa – ala cinta karena biasa). Suami-istri belajar untuk saling menghargai dan mencintai pasangannya.

Menurut saya, kunci pengikat hubungan suami-istri adalah kejujuran, kepercayaan (trust), toleransi, dan apresiasi. Dengan aspek-aspek ini kita bersedia menerima kekurangan pasangan kita, mensyukuri apa yang kita peroleh / miliki bersama dan percaya bahwa kita dapat memecahkan masalah apa pun bersama-sama, menghadapi badai yang melanda bahtera perkawinan kita. Hati kita juga akan tenang dan senang, tidak diliputi kecurigaan, kegelisahan dan stress, sekali pun berpisah dari pasangan kita. Kita masih tetap bisa mengisi kotak perkawinan kita dari jarak jauh.

Semoga pasangan-pasangan muda dapat menciptakan waktu untuk mengisi kotak perkawinan sepenuh mungkin.”

Psikolog Cecil Widya mengatakan,  “Ibu Lita terima kasih atas nasihatnya. Proses menerima sampai akhirnya bisa mencintai memang luar biasa. Semoga bisa menjadi peneguhan untuk terus menjalani bersama walau sangat berat, sangat sakit. Apapun itu saya percaya ada yang lebih, yakni Beliau Sang Mahakarya kita tidak tidur … Gusti mboten sare.”

happy-o

Kebahagiaan perkawinan melalui menyenangkan anak. Anak adalah makhluk paling berbahagia di muka bumi ini.

 

Sebuah solusi

Tidak marah

Siapa pun dapat marah, itu gampang. Tetapi, marah kepada orang yang tepat, dan dengan kadar yang tepat, dan pada waktu yang tepat, dan demi tujuan yang benar, dan dengan cara yang tepat, tidak mampu dilakukan semua orang karena itu tidak gampang. (Aristoteles)

  Kuburan emosi

Perasaan yang ditekan tidak mati, tidak bisa dikuburkan – Perasaan-perasaan itu kembali membayangi kita.

 Reaksi perasaan

 Perasaan tertekan menyebabkan kita bereaksi tidak tepat terhadap orang dan keadaan.

Bosan

Dengan menguburkan emosi, bertahap anda jadi mati rasa terhadap kehidupan dan cinta

 Padahal, perasaan tidak pernah mati walaupun anda berusaha menguburkannya.

 Hai sayang

 Amat sulit menekan perasaan anda dan lalu pulang ke rumah dan tetap sayang kepada istri anda!

 Puncak gunung es

 Emosi kita seperti puncak gunung es; umumnya kita hanya menunjukkan sebagian kecil dan sisanya tetap terpendam.

 Cinta pengampunan

 Di bawah semua emosi negatif ada cinta menanti untuk terpancar ke luar

Bagaimana caranya agar rasa cinta di dasar gunung es itu terpancar ke luar?

Kemarahan

  • Kemarahan yang terpendam dapat memicu stres.
  • Permusuhan kronis bisa berdampak penyakit jantung dan penyakit berbahaya lainnya.
  • Kemarahan membuat anda bereaksi lebih keras.
  • Kemarahan mengantar ke pembicaraan hal yang menimbulkan amarah dengan orang yang menyerang.
  • Masyarakat yang menghargai saling ketergantungan melihat amarah sebagai ancaman terhadap harmoni kelompok.

Tangani amarah

  • Janganlah menekan amarah!
  • Janganlah mengekspresikan amarah secara agresif!
  • Akuilah itu dan berbuatlah sesuatu terhadapnya!
  • Kalau anda terpaksa harus memarahi, marah-lah kepada orang yang tepat, dengan kadar yang tepat, pada waktu yang tepat, demi tujuan yang tepat, dan dengan cara yang tepat.
  • Lebih baik mencari rekonsiliasi (berdamai) daripada balas dendam. Kalau anda dendam, anda hanya merusak diri sendiri.

bitch-ass-nerd-granpa-n-ma-o

Kebahagiaan perkawinan sampai kakek-nenek

Psikolog Mona Sugianto menyampaikan pandangan berikut ini.

BIASA: mencintai orang yang mudah dicintai, yang nurut sama apa yang kita mau, yang gak banyak nuntut, apalagi sehat, tampan atau seksi, wangi, kaya raya pula.

LUAR BIASA: kalau kita tetap mencintai orang yang sulit dicintai, pemarah, tidak mudah dipahami, banyak tuntut, sakit pula, dah keriput, dan tidak pandai cari uang pula.

Mencintai dan perkawinan membuat kita yang BIASA, menjadi LUAR BIASA bila kita bersedia dibentuk dan bersedia untuk SETIA.

Selamat ya, bagi yang sedang merayakan ulang tahun perkawinan, berapa pun usianyaaaa…. Setuju sama Bu Lita (Solita Sarwono), isi kotak cinta. Dan, bagi yang orang tercintanya sudah pulang duluan kepada Sang Pencipta, kita bahkan masih bisa mencintainya dengan hidup sebaik mungkin, mencintai dan berkarya sebanyak mungkin. Sehingga, doa-doa mereka di sana tidak sia-siaaa…

fmom39

Ibu Solita Sarwono menanggapi berikut ini. Mona, saya pikir yang paling LUAR BIASA adalah orang yang tetap setia mencintai dan merawat pasangannya yang mendadak sakit keras/cacat selama bertahun-tahun. Mempertahankan kasih sayang terhadap orang yang kondisi fisik / mentalnya sangat menurun seperti itu, berat sekali. Dorongan untuk ‘cepat-cepat lari keluar dari perkawinan’ (seperti kata bang Belen) pada orang itu akan besar sekali; lebih besar daripada keinginan meninggalkan perkawinan dengan seseorang yang sejak awal sudah sakit / cacat, sehingga orang sudah menerima kondisi seperti itu pada saat menikah.

Semoga musibah seperti itu tidak terjadi pada kita. Kalau pun hal itu terjadi, semoga kita semua diberi kekuatan dan ketabahan untuk tetap setia dan mencintai pasangan kita yang dalam kondisi sakit justru membutuhkan lebih banyak kasih sayang.

moshin-o

Tertawa adalah obat mujarab mempertahankan kondisi kesehatan tubuh tanpa mengeluarkan uang, bahkan satu sen pun.

Psikolog Amanda MW mengatakan, “Membaca tanggapan rekan-rekan tentang kotak perkawinan, saya jadi tergugah untuk menambahkan. Saya ingat sewaktu melangsungkan upacara pernikahan, romo yang menikahkan kami berkotbah: “Perkawinan itu sebenarnya bukan hanya antara 2 pihak tapi ada pihak ke-3. Bukan PIL (pria idaman lain)  atau WIL (wanita idaman lain) tetapi Tuhan berperan serta di sana. Karena cinta 2 orang manusia tidak akan bertahan, tetapi cinta Tuhan yang menyatukan akan kekal selamanya. Sehingga, bila perkawinan dilanda masalah, kita dapat minta pertolongan Sang Mahacinta. Semoga dapat menambah warna dalam peneguhan perkawinan kita semua. Amin.”

Psikolog senior Koentjoro Soeparno nimbrung berpendapat. Kalau menurut pendapat saya PIL dan WIL itu nggak ada. Yang ada adalah teman kencan atau teman selingkuh. Menurut saya tidak ada istilah idaman dalam perselingkuhan…

Kami tanggapi berikut ini. Setuju Pak Koentjoro. Tidak ada WIL dan PIL. Teman kencan lebih tepat atau TTM, teman tapi mesra. He he he. Wong, yang ketangkap disuruh kawin eh malah nggak mau. Kalau idaman lain ya disuruh kawin ya hayo.

Orang Indonesia terkadang suka bikin istilah aneh.

Soal selingkuh itu kebetulan baru saya baca ungkapan bahasa Latin Vola libere sed semper domum redi. Terbanglah dengan bebas tapi selalu kembali ke rumah. Suami yang selingkuh itu terbang bebas tapi selalu kembali ke rumah. Terutama ketika sakit, nah suami-suami itu pasti kembali ke rumah, istri-lah yang paling pusing ngurus orang sakit. Waktu sehat milik semua orang, eh ketika sakit baru milik keluarga. He he he. Sekadar bercanda.

Ibu Lita menimpali, “Apalagi kalau suami pulang ke rumah bawa penyakit ….. HIV/Aids! Si istri gak tahu, jadi ketularan juga …. Aduuuh, celaka-lah seluruh keluarga. Amit-amiit.”

Tanggapan kami, Gusti Allah mboten sare dan perkawinan itu adalah ikatan segitiga antara pasangan dan Sang Mahacinta itu memang benar. Hal ini tampak dalam krisis perkawinan jika orang kembali bertopang kepada Tuhan.

Mengenai minta pertolongan Tuhan barusan saya baca hasil penelitian tentang pasien yang ingin sembuh. Sekelompok pasien yang berdoa dengan tekun dibandingkan dengan sekelompok pasien lain yang tidak berdoa. Ternyata kadar kolesterol, asam urat, tekanan darah, dan kadar trigliserida kelompok yang berdoa turun cukup signifikan sedangkan pada kelompok yang tidak berdoa tak ada perubahan berarti. Kelompok pasien yang berdoa lebih cepat sembuh.

Eksperimen dicoba lagi dengan dua kelompok pasien ateis yang tidak percaya adanya Tuhan. Kelompok ateis yang pertama diminta berdoa saja untuk kesembuhan walaupun berpura-pura saja. Kelompok kedua dibiarkan tidak berdoa. Ternyata kelompok ateis yang berdoa pura-pura dan yang pura-pura percaya Tuhan sembuh lebih cepat.

Bagi kita yang percaya Tuhan tentu kita yakin ada peran tangan Tuhan dan itu bisa kita akui setelah merefleksi rentetan kejadian dalam hidup kita. Bagi kelompok ateis itu hasil eksperimen ini menunjukkan bahwa faktor harapan kepada bantuan sesuatu zat yang lebih tinggi, yang lebih mampu menjadi faktor yang membantu tubuh memulihkan kondisinya.

Kita percaya bahwa Tuhan itu membantu tanpa mengenal seseorang itu agama apa, suku atau bangsa apa, percaya Tuhan atau tidak. Tuhan menciptakan matahari bagi semua umat manusia.

madonna-like-a-prayer-o

Madonna berdoa

Dalam situasi krisis yang genting manusia cenderung bertopang kepada Tuhan. Setiap kali menjelang seorang istri melahirkan rasanya suaminya mau bergantung kepada siapa demi keselamatan anak yang akan dilahirkan. Yang paling bisa diharapkan adalah bantuan Sang Mahacinta.

Waktu Perang Dunia II tentara Inggris yang berperang berdoa kepada Tuhan. Mereka kemudian heran, kok tentara Jerman juga berdoa kepada Tuhan. Tentara Inggris berdoa, My God, Our God eh tentara Jerman ternyata menulis pada senapan mereka yang disita: Meiner Gott, Unser Gott. Nah, siapa yang benar? Tuhan mana yang berpihak?

Dalam krisis perkawinan yang penting mungkin adalah faktor masih ada harapan untuk memperbaiki tali kasih yang lagi retak. Dan, harapan itu kepada siapa? Manusia? Kalau manusia tak mampu ya kepada Sang Mahamampu. Tak ada doa yang terbuang percuma. Doa pasti menghasilkan sesuatu yang baik bagi manusia.

Psikolog Hanna Djumhana Bastaman bercerita, saya teringat pada sebuah nasihat perkawinan dari seorang ayah kepada anaknya yang bernama Hana dan menantunya yang namanya Hani. Begini katanya: “Wahai Hana, engkau tidak menikahi Hani sebagai seorang bidadari, tetapi engkau wajib untuk menjadikan Hani sebagai bidadari dalam rumah tanggamu. Dan sebaliknya engkau Hani, engkau tidak menikahi Hana sebagai seorang pahlawan, tetapi kewajiban engkaulah untuk menjadikan Hana sebagai pahlawan dalam rumah tanggamu”.

Psikolog Retno Priyani mengatakan, saya teringat kata-kata seorang dosen filsafat saya, kalau tak salah namanya Bapak Damarjati Supajar: ” Orang yang kawin, itu melepas semua yang melekat pada tubuhnya. Kalau masih pakai pangkat, perhiasan dan sebagainya malahan mengganggu. Itu menyimbolkan bahwa perkawinan sesungguhnya adalah antar manusia. Tak perlu apa pun, kecuali yang ada pada diri manusia itu. Kalau masih pakai tanda pangkat, malah menusuk badan…..”

Waktu itu, saya agak risih mendengarnya. Mosok kuliah kok ngomong “kawin” (karena masih mahasiswa yang belum menikah), tapi agaknya makna yang tersirat dari peristiwa itu benar juga ya?

LNOGX

Mengapa wajah suami-istri yang sudah lama berumah tangga mirip?

Dari yang kami amati sehari-hari di berbagai tempat, suami dan istri yang memiliki ciri-ciri fisik yang berbeda ketika sudah tua kok wajahnya tampak mirip. Termasuk suami-istri dari dua suku yang berbeda.

Kebetulan kami temukan tulisan Why Do Couples Start to Look Like Each Other? Amber Angelle , 26 Juni 2010 pada link: http://www.livescience.com/8384-couples-start.html

Tulisan ini sedikit membantu menjawab pertanyaan ini.

Psikolog Robert Zajonc membuat eksperimen untuk menguji gejala pepatah lama bahwa yang berlawanan itu saling tertarik tapi dalam kenyataan hati menginkan seseorang yang mencerminkan dirinya – dan cerminan itu meningkat pada sepasang burung jantan dan betina yang lebih lama tinggal bersama-sama.

Ia menganalisis foto pasangan-pasangan yang diambil saat baru kawin dan foto-foto pasangan yang sama 25 tahun kemudian. Hasilnya menunjukkan bahwa pasangan-pasangan suami-istri itu tampak semakin mirip. Dan, semakin bahagia pasangan itu, semakin mirip tampilan fisiknya.

Zajonc coba menjelakan bahwa kemiripan itu disebabkan pasangan itu saling meniru mimik ekspresi wajah. Misalnya, suami memiliki rasa humor yang tinggi dan banyak tertawa. Jadinya istrinya juga sering tertawa. Lama-kelamaan terbentuk garis-garis ketawa sekitar mulut sang istri atau sebaliknya.

Bukti yang lain juga menunjukkan bahwa para pria dan wanita mungkin pada awalnya tertarik kepada partner yang memiliki kesamaan kepribadian. Tahun 2006, ilmuwan di Universitas Liverpool meminta peserta dalam sebuah studi mengamati foto-foto para pria dan wanita dan menilai kepribadian mereka.

Peserta tidak tahu siapa yang kawin dengan siapa dari foto-foto itu. Pasangan yang telah hidup bersama-sama yang terlama yang dinilai memiliki kepribadian yang lebih mirip. Peneliti menyimpulkan bahwa, memiliki ciri-ciri kepribadian yang menarik adalah yang punya hubungan kausal yang membuat wajah seseorang itu tampak menarik. Dengan kata lain, waktu awal mula waktu seorang pria menaksir seorang wanita atau sebaliknya karena ketertarikan fisik sebenarnya yang ditaksir itu memiliki ciri-ciri kepribadian yang mirip dengannya.

Orang yang memiliki DNA yang mirip cenderung jatuh cinta. Dalam sebuah studi terhadap anak-anak kembar, ilmuwan di Universitas Western Ontario menemukan bahwa peserta tidak hanya cenderung memilih partner yang memiliki kemiripan DNA tapi juga pasangan dari anak-anak kembar. Dua anak kembar satu telur lebih cenderung memilih pasangan hidupnya yang lebih mirip dengaannya daripada dua anak kembar dua telur.

Maksudnya begini. Dua anak kembar perempuan satu telur setelah dewasa berpacaran dan kemudian kawin dengan pria idamannya masing-masing. Lalu, dua anak kembar perempuan dua telur setelah dewasa berpacaran dan kemudian kawin dengan pria idamannya masing-masing.  Kemiripan keempat pria itu kemudian dibandingkan dengan empat anak kembar perempuan itu. Ternyata, dua suami dari dua anak kembar perempuan satu telur ternyata lebih mirip dibandingkan dengan dua suami dari dua anak kembar perempuan dua telur. Hal ini berlaku sebaliknya untuk anak kembar laki-laki satu telur dan dua telur.

Pasangan suami-istri mungkin mulai tampak mirip karena dalam beberapa hal mereka memang sudah mirip sejak awal.

Mungkin ada penjelasan yang lain atas pertanyaan ini?

Mungkin prinsip ini perlu diikuti. Dalam hidup perkawinan, setiap kali badai datang menerjang bahtera rumah tangga, tetaplah berpikir positif: “Badai pasti berlalu.”

Betapa pun hebat badai menerjang bahtera rumah tangga anda, tetaplah bertahan. Jangan meloncat ke luar dari bahtera karena anda bisa tenggelam atau dimangsa ikan buas. Tataplah ke horison happy ending.

Sumber:

16quotes.com

Chapter 11 –  Emotions, Stress and Health

Milis Psikologi Indonesia

 

Topik posting yang berhubungan:

https://sbelen.wordpress.com/2014/04/30/pernak-pernik-cinta-dari-pengalaman-2/

https://sbelen.wordpress.com/2014/04/30/kata-mutiara-tentang-cinta-apakah-cinta-itu-sebuah-misteri/

https://sbelen.wordpress.com/2014/04/29/makna-cinta-di-hari-ulang-tahun-perkawinan-untuk-suami-dan-istri/

https://sbelen.wordpress.com/2009/12/29/apa-yang-dapat-dibeli-dengan-uang-seks-tapi-bukan-cinta/

https://sbelen.wordpress.com/2009/05/12/the-secret-of-love-rahasia-cinta/

https://sbelen.wordpress.com/2008/09/07/kahlil-gibran-gaya-bahasa-petualangan-cinta-dan-surat-surat-cinta-dengan-mary-haskell/

https://sbelen.wordpress.com/2008/09/02/kata-mutiara-hari-ulang-tahun-perkawinan/

https://sbelen.wordpress.com/2008/08/13/peribahasa-latin-tentang-cinta/

https://sbelen.wordpress.com/2008/08/06/mutiara-kata-dan-pepatah-tentang-cinta-dan-perkawinan/

https://sbelen.wordpress.com/2008/08/06/mutiara-kata-dan-pepatah-tentang-cinta-dan-perkawinan/

https://sbelen.wordpress.com/2008/08/04/kata-mutiara-cinta-dan-perkawinan/

https://sbelen.wordpress.com/2008/07/26/bingung-membedakan-cinta-dan-seks/

https://sbelen.wordpress.com/2008/07/21/hidup-tanpa-cinta-ibarat-sebuah-bintang-tanpa-cahaya/

https://sbelen.wordpress.com/2008/07/16/kata-mutiara-perkawinan/

 

Advertorial

weird-science-magic-2-o

heart-attack

Kunjungilah posting ini:

https://sbelen.wordpress.com/2013/05/03/bawang-putih-cuka-apel-madu-jahe-lemon-jantung-sehat-tubuh-bugar/

Sano sembuhkan jantung koroner

gambar-spanduk-sano

Kartu nama Yuni 3.

Khasiat FIDES & HP pemesanan

Kunjngilah:

https://sbelen.wordpress.com/2015/06/11/habbatussauda-jintan-hitam-bawang-putih-jahe-lemon-madu-diabetes-stroke-penyakit-komplikasi-sembuh-tubuh-sehat/

Janji raja & bunyi tokek

Oktober 24, 2009

disco.httpwww.ugotbling.comimgwidgetsanimate-your-picturethemesdisco.gif

BUNYI TOKEK

Senutan gigi meradang,

berdesahan di setiap tarikan napas,

di setiap terpaan gelombang laut provinsi seribu pulau

menghantam lambung bahtera.

Dan …

di deru burung besi membelah mega mendung,

sakit gigi lebih merangsek benak,

ketimbang pidato gombal sang raja bermahkota untaian intan,

hasil curian dari penambang bumi Borneo.

Sang raja tampil berbusana baru, bercelana dalam lama.

Bisakah bujuk rayu gombal mengelabui rakyat yang sakit gigi?

Masih percayakah kau, sang raja?

Wahai, rakyat yang sakit gigi!

Percayakah Anda celoteh beo dari sangkar emas?

Percayakah Anda data soal rakyat ilalang sabana?

Percayakah Anda tangisan pendekar jarahan,

yang tak lagi memimpin pasukan muda ke medan laga?

Percayakah Anda senyum sumringah pendekar,

pemenang lomba menjilat pantat sang raja?

Percayakah Anda kicauan burung di jelaga dahan tercemar?

Percayakah Anda tangisan pendekar pembela kaum tani,

tengadah memaksa langit mencurahkan hujan?

Percayakah Anda elang pemangsa anak ayam,

pengais remah-remah raskin?

Masih percayakah Anda janji sang raja dan para punggawa?

Percaya – tak percaya – percaya – tak percaya – ….

To-kek – to-kek – to-kek – to-kek – ….

S.Belen

Veranda pondok Jatibening

24 Oktober 2009