Posts Tagged ‘Add new tag’

From Bacan with love: swimming children on the beach. Dari Bacan dengan cinta: anak-anak berenang di pantai.

November 17, 2008

map_malukuhttpbp1bloggercom_lf7q3-sepbysdiv_hh78niaaaaaaaaaekfeil8wmjbcws1600-hmap_maluku1

The map of Maluku archipelago, Indonesia. (Peta Kepulauan Maluku, Indonesia)

httpuploadwikimediaorgwikipediacommonsddekarta_id_maluku_isl1

The map of Maluku Islands. Look at the Bacan Island in the south of Ternate! (Pulau Bacan di selatan Ternate).

Bacan in the afternoon. Beautiful scenery from Talaga Biru beach of Bacan Island.

Bacan in the afternoon. Beautiful scenery from Dermaga Biru beach of Bacan Island.

(Bacan tatkala mentari terbenam). (Photographer: Ayok)

jembatan-perenang

Wooden bridge of Labuha beach in Bacan Island. (Jembatan kayu di Labuha, Kota Bacan, ibukota Kabupaten Halmahera Selatan). (photographer: S Belen)

pic_1165

Chidren are swimming on the seabeach of Labuha in the little town of Bacan (taken by S Belen). (Anak-anak SD berenang di pantai Labuha di Kota Bacan).

preparing-for-jumping

Preparing for making salto jump into the seawater (taken by S.Belen). (Bersiap membuat loncatan salto).

salto-jump

Salto jump to the seawater. (Lompatan salto ke air laut).

melayang-01

“I rule the waves!”

These children are learning a lifeskill of safety by their own choice. In school they are never taught how to swim. Their teachers are busy to make syllabi dan lesson plans based on government-driven curriculum. Many schools located along beaches of Indonesia, especially in urban areas neglect to provide this type of lifeskill education. (“Saya menguasai laut!” Anak-anak ini belajar kecakapan hidup tentang keselamatan, kegiatan belajar pilihan mereka sendiri. Di sekolah mereka tidak diajarkan berenang. Guru-gurunya sibuk membuat silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran / RPP sesuai dengan KTSP. Banyak sekolah di pesisir pantai Indonesia, terutama di wilayah perkotaan lupa atau bahkan alpa memberikan pendidikan kecakapan hidup berenang).

standing-child

I do master swimming competence!

During the time of emergency like tsunami in Aceh, mathematics competencies will not help me. This swimming competence will save my life. And we learn this competence without any teacher, any lesson plan, any book, any teaching aid, any budget. Hi, our teachers (throughout Indonesia), do you help us? Or, do you even destroy our future? (Saya benar-benar menguasai kompetensi berenang! Jika tiba-tiba datang bencana tsunami seperti di Aceh, kompetensi matematika tak akan mampu menolong saya. Kompetensi berenanglah yang akan menyelamatkanhidupkan. Dan kami belajar kompetensi ini tanpa guru, tanpa RPP, tanpa buku, tanpa alat peraga, tanpa dana. Wahai, guru,guru (di seluruh Indonesia), apakah kalian membantu kami? Atau, apakah kalian bahkan menghancurkan masa depan kami?)

flying-to-the-future

Flying to the future.

Childhood is a golden time for learning to face unpredictable life in the future. Child’s brain will develop faster  if  the child makes lots of movements, swims and conduct a variety of chid traditional games. (Terbang ke masa depan. Masa kanak-kanak adalah masa keemasan untuk belajar menghadapi masa depan yang tak terduga. Otak anak akan berkembang pesat jika anak banyak bergerak, berenang, dan melakukan aneka-ragam permainan tradisional.)

siap-terjun-02

I’m courageous to face the waves. Do teachers encourage children to solve problems? Problemsolving is a key concept of lifeskill education. (Saya berani menghadapi gelombang. Apakah guru-guru mendorong anak-anak memecahkan masalah? Pemecahan masalah adalah salah satu konsep kunci pendidikan kecakapan hidup).

thirsty-child

“Welcome the unpredictable future!”

The standing kid on the wooden bridge is holding a softdrink, produced by a company in Java, under license of a multinational corporation. Indonesian children, especially in the cities, face a problem of obecity due to softdrinks and junk food. Bacan people prefer mineral water produced by companies in Java than healthy water from the soil of Bacan. This is a wrong life style which should be changed by teachers. (“Selamat datang, masa depan yang tak dapat diramalkan!” Anak yang berdiri di atas jembatan kayu sambil memegang minimuman kaleng, produksi sebuah perusahaan di Jawa yang mendapatkan lisensi dari salah satu multinational corporation. Anak-anak Indonesia, terutama di kota-kota besar, sedang menghadapi masalah obesitas sebagai dampak minuman ringan dan makanan serba-instan. Penduduk Bacan lebih senang mengkonsumsi air mineral produksi perusahaan di Jawa daripada minum air sehat dari tanah Bacan. Inilah gaya hidup salah yang harus diubah guru-guru).

jumping-quieu

Make a quieu for jumping. Children can organise themselves. (Mengantri untuk melompat. Anak-anak dapat mengatur dirinya sendiri.

flying-in-the-air

“I’m coming! Accept me, please!” (“Saya datang!. Silahkan terimalah saya!”

brave-jump

Exploring into the sea.

Look at the sea instead of looking at the land. The future of Indonesia, especially the future of North Maluku, depends on the vision of maritime excellence. Primary teachers can start with the local content curriculum to be integrated in relevant topics. They will solve the problem of fish bribery by the Thailand fishboats and the use of tigger trawl by rich fishermen and the use of dinamite which destroys sea wealth and treasure of North Maluku. (Menjelajahi laut. Menghadaplah ke laut, bukan menghadap ke darat. Masa depan Indonesia, terutama masa depan Maluku Utara, bergantung kepada visi keunggulan maritim. Guru-guru SD dapat memulai dengan kurikulum muatan lokal yang diintegrasikan ke dalam topik-topik belajar yang relevan. Anak-anak ini di masa depan akan memecahkan masalah pencurian ikan oleh kapal-kapal ikan Thailand, masalah penggunaan pukat harimau dan dinamit yang menghancurkan kekayaan dan harta karun laut Maluku Utara.)

pic_11311

From Ternate to Bacan island, 8 hour journey to Bacan Island. Bacan, where are you? (Dari Ternate ke Pulau Bacan, 8 jam pelayaran di malam hari. Bacan, di manakah engkau?

pic_1196

The head of Halmahera Selatan education office is addressing teachers during the opening of the workshop of master tutors for developing school level curriculum accross the district on 10th of November 2008. This workshop is conducted by Save the Children. From left to right: Mr Ramli, the division head of primary education of the district, the head nof education office, Mr Mifta from Save the children and me. (Kepala Dinas Kabupaten Halmahera Selatan sedang memberi pengarahan dalam acara pembukaan Lokakarya Pelatih Pengembangan KTSP pada 10 November 2008. Dari kiri ke kanan: Pak Ramli, Kepala Dinas, Pak Mifta dari Save the Children, dan saya).

pic_1200

Training participants are listening to the opening address. (Peserta lokakarya mendengarkan arahan).

pic_1206

Icebreaker pasangan melepas tali. Tertawa melancarkan kerja otak. (The icebreaker of releasing the holding strings by a pair. Laughing stimulates brain).

pic_1207

Masih sungkan saling melepas tali yang mengikat pasangan. (Being still uneasy to release the holding strings of this pair)

pic_1189

Bacan, earlly in the morning. (Bacan di pagi hari)

pic_11371

Dermaga Biru, Bacan, menjelang maghrib. (Bacan during the sunset)

pic_1158

Benteng Portugis “Bernaveld” di Pulau Bacan. Bacan dan Maluku Utara yang kaya rempah-rempah, hasil bumi, dan hasil hutan menarik penjajah Portugis, Belanda, dan Inggris datang untuk mengeruk kekayaan wilayah ini. (Portuguese Bernaveld Castle in Bacan Island. The wealth spices, agricultural and forest commodities attracted Portuguese, British and Dutch colonialists to exploitate the natural wealth of this area).

bacan-in-the-afternoon1

Good bye, Bacan! From Bacan with love to children, teachers, people and its natural wealth. (Selamat tinggal, Bacan! Dari Bacan dengan cinta kepada anak-anaknya, guru-gurunya, penduduknya, dan kekayaan alamnya.)

bacan-children-on-becak

Hello, Indonesia! Warm wishes from us, the children of Bacan! (Hallo, Indonesia! Salam hangat dari kami, anak-anak Bacan!)

bacan-little-girls

Original smile of Bacan litte girls. (Senyuman asli gadis-gadis cilik Bacan)

we-are-the-champions

We are the champions!

If Obama’s brain was able to develop by the support of tempe and tohu during his life in Jakarta, we can be better, because fish is our daily food menu. Provide us wtth a variety of access and we are ready to make a quantum leap! Thank you, Save the Children. You come to encourage us to move forward on our own feet. (Kami adalah pemenang! Jika otak Obama mampu berkembang dengan dukungan tahu dan tempe selama hidupnya di Jakarta, kami dapat lebih baik, karena ikan adalah menu makanan harian kami. Berilah kami kesempatan melalui berbagai akses dan kami siap membuat loncatan kuantum. Terima kasih, LSM Save the Children. Kalian datang untuk mendorong kami melangkah maju dengan kaki kami sendiri.

Salam hangat dari Pulau Bacan, Maluku Utara!

Koleksi Foto: Ayok dan S.Belen

Iklan

alison-brie-shirlet-dance-1

Osteoartritis pengapuran tulang

Kunjungilah posting ini:

https://sbelen.wordpress.com/2013/05/03/bawang-putih-cuka-apel-madu-jahe-lemon-jantung-sehat-tubuh-bugar/

Gambar spanduk Sano

Sano sembuhkan pengapuran tulang

Kartu nama Yuni

Iklan

Kematian nenek Obama, rahmat tersamar bagi sang cucu & data keluarga Obama

November 4, 2008

httpnewsyahoocomnphotosobama-grandmother-dies-before-electionsseventspl102108obamagrandmothim081103480d2b83dfb5df141bf9bf6aeef538382ffphotoviewer081104ids_photos_tsr1337811286

Obama menangis ketika mengumumkan kematian neneknya.

Kematian nenek Barack Obama, Madelyn Payne Dunham, menyiratkan pesan seorang wanita tangguh. “Biarlah saya bukan hanya makin kecil dan akhirnya ‘habis’ tapi cucuku makin besar dan maju meraih impian yang telah dipateri ketika berada dalam asuhannya. Pasti sang nenek menahan derita dalam a battle with cancer menahan detik demi detik penderitaan agar sempat menyaksikan cucunya mencatat sejarah menjadi presiden Amerika Serikat kulit hitam pertama.

Itulah tragika hidup. Namun sehari menjelang the eve of presidential election, Tuhan memanggil hambaNya. Mungkin Tuhan mempunyai rancangan lain yang gilang-gemilang bagi Berry, panggilan akrab Barack Obama. Biarlah sejumlah insan kulit putih yang masih ragu-ragu merasa terharu dengan kisah kepergian pada saat yang menentukan dan berbalik memilih Obama. Rasa terharu atas panggilan kematian yang tak mengenal insan itu putih atau hitam, kaya atau miskin, beragama atau tidak menimbulkan rasa empati kepada orang terkasih yang ditinggalkan. Dan, empati itu mendapatkan peluang disalurkan tatkala orang yang paling merasa kehilangan itu, Barack Obama, membutuhkan satu suara Anda untuk menghiburnya. Menurut saya, inilah “kejutan Oktober” yang amat ditakuti kubu Obama telah terjadi. Namun, kejutan kali ini malah memporakparandakan harapan John McCain.

httpnewsyahoocomnphotosobama-grandmother-dies-before-electionsseventspl102108obamagrandmothim081103480d2b83dfb5df141bf9bf6aeef538382ffphotoviewer081104photos_pl_afpd43bd8b959629dd252

Sang nenek memeluk cucunya yang lulus SMA tahun 1979, disaksikan sang kakek.

Kejutan bahagia ini dipersembahkan seorang wanita tangguh berkulit putih malah ‘mengorbankan’ nyawanya, harta utama dan terakhirnya. Pengorbanan ini menjadi a blessing in disguise, rahmat tersamar yang mempermulus jalan sang cucu tercintanya meraih impian sang nenek, meraih impian Amerika. Dan, sang nenek meninggalkan pesan melalui kematiannya, bahwa jarak antara kesedihan luar biasa karena nenek terkasih wafat dan kegembiraan luar biasa atas kemenangan menjadi presiden bukannya tipis, malah berbaur terpadu menjadi satu. Pesan peristiwa yang dipersembahkan sang nenek adalah jika sang cucu mendapatkan kehormatan amat besar menjadi presiden, jangan pernah lupa bahwa kesedihan tetap mengintip tiap langkah maju.

httpnewsyahoocomnphotosobama-grandmother-dies-before-electionsseventspl102108obamagrandmothim081104photos_pl_afp0cd185d852284f9bf1d2b1136b985364photoviewer081104photos_pl_afp933f9d7f

Ketika dikunjungi kakek dan nenek terkasih ketika kuliah di Harvard.

Banyak tokoh di dunia ini yang berhasil menjadi tokoh berkat kasih sayang, pengorbanan, dan pembinaan karakter yang dilakukan sang ibu atau sang nenek. Sang nenek telah membuktikan diri sebagai batu penjuru keluarga, dengan menampung dan mengasuh Berry dan Maya Soetoro, korban ‘broken home’ yang datang dari Jakarta. Sang nenek diakui Barack Obama sebagai wanita yang kuat, rendah hati, dan mampu menyelesaikan tugasnya secara luar biasa. Wanita yang mendorong dan mengizinkan cucu-cucunya mengambil kesempatan. Setelah kembali menjenguk neneknya yang kritis, Obama dalam pidato kampanye tentang ras di Philadephia mengatakan, “Betapa pun kekuatan, disiplin yang saya miliki, itu berasal dari dia.”

Dalam pidato penerimaan nominasi Partai Demokrat di Denver, yang disaksikan jutaan orang, Obama mengatakan, pengaruh neneknya terhadap siapa dirinya dan cara ia memandang dunia adalah substansial. “Ia adalah orang yang mengajarkan saya tentang kerja keras. Ia adalah orang yang menunda pembelian sebuah mobil baru atau sebuah pakaian baru untuk dirinya demi kehidupan yang lebih baik bagiku. Ia mencurahkan segalanya yang ia miliki kepadaku.”

“Ia telah pulang ke rumah,” kata Obama tatkala puluhan ribu pendukungnya di Universitas North Carlina-Charlotte terdiam membisu dalam gerimis senja. “Dan ia meninggal dengan damai dalam tidurnya dengan adikku yang berada di sampingnya. Dan dengan demikian ada kegembiraan yang besar sebagaimana pula air mata.”

httpwwwkansasprairienetkansasprairieblogwp-contentuploads200712copy-of-28585910

Maya Soetoro, sang adik tiri memeluk kakaknya yang baru lulus SMA.

Data keluarga Obama:

©Obama mudah sekali membuat keputusan mengunjungi neneknya minggu lalu karena tak mau membuat kesalahan dua kali, karena ketika ibunya meninggal karena kanker rahim tahun 1995 pada usia 53 tahun, ia tak sempat mengunjunginya. Ia datang terlalu terlambat.

©Neneknya lahir tahun 1922 di Peru tetapi menghabiskan masa kecilnya dekat Augusta. Ia adalah sulung dari empat bersaudara dan ia gemar membaca aa saja, dari buku James Hilton‘s “Lost Horizon” sampai dengan buku Agatha Christie’s “The Murder of Roger Ackroyd.”

©Neneknya dan kakeknya nikah tahun 1940, beberapa minggu sebelum neneknya lulus dari sekolah menengah. Tahun 1942 ibu Obama, Stanley Ann lahir. Setelah beberapa kali berpindah ke dan dari California, Texas, Washington, dan Kansas, karena pekerjaan kakeknya keluarga pindah ke Hawaii.

©Neneknya berkuliah di universitas tapi tak tamat. Namun ia menanjak dari seorang pegawai tata usaha di Bank of Hawaii sampai menjadi salah satu wakil direktur bank wanita pertama pada bank pemerintah itu.

©Obama remaja pernah dibawa neneknya berkeliling AS dengan bus, berhenti di Grand Canyon, Yellowstone Park, Disneyland, dan Chicago, tempat tinggalnya bertahun-tahun kemudian.

©Neneknya pernah diserang seorang seorang gelandangan pria yang meminta uang dan ia meminta suaminya mengantarnya ke tempat kerja. Ketika Obama bertanya mengapa, kakeknya mengatakan neneknya ketakutan karena gelandangan itu adalah orang hitam. Kata-kata ini ibarat sebuah tinju ke perutnya, tulis Obama yang menyandang ras campuran. Ia yakin kakek dan neneknya amat mencintainya. Tetapi, itulah, orang yang saya tahu dapat dengan mudah menjadi saudaraku masih dapat membuat saya ketakutan. Kejadian ini dikemukakan Obama dalam sebuah pidato pengumuman di bulan Maret bahwa ia akan ikut bertarung menjadi calon presiden. Cerita itu untuk menanggapi sebuah kontroversi dengan mantan pendetanya, Jeremiah Wright. “Saya tidak akan merasa lebih kehilangan dia daripada kehilangan neneknya yang berkulit putih. Kakeknya meninggal tahun 1992.

©Saudari tiri Obama Maya Soetoro-Ng mengatakan, bahwa dari nenek mereka, Obama belajar bersikap pragmatis, sabar, dan kemampuan bertahan di sentrum, di inti cerita yang sedang dibuat. Dari nenek mereka, ia mewarisi sikap bijaksana, cara berpikir sehat.

©Di Hawaii, ibunya kemudian bertemu dan jatuh cinta dengan ayah Obama, seorang Kenya bernama Barack Hussein Obama. Keduanya bertemu dalam kuliah bahasa Rusia di Universitas Hawaii. Barack Obama lahir di bulan Agustus 1961. Tetapi, perkawinan ini tak berlangsung lama. Keduanya hidup terpisah ketika Obama berusia 2 tahun dan akhirnya bercerai waktu Obama berusia 4 tahun. Citra tentang ayahnya terbentuk dari cerita yang disampaikan ibu dan kakek-neneknya. Kemudian sang ibu nikah dengan seorang Indonesia, Lolo Soetoro, seorang mahasiswa yang ia temui di Hawaii.

httpimgtimeincnettimedaily20080804a_wmama_0421

Obama dan ibunya Ann Dunham

©Ketika Obama berusia 2 tahun, ibunya kembali berkuliah. Uang amat terbatas dan ia bergantung kepada orang tua yang membantu memelihara Obama. Seharusnya ia memperoleh gelar sarjana 4 tahun kemudian, namun ia bertemu dengan Leo Soetoro di University of Hawai. Ia adalah orang yang santai, gemar bermain catur dengan ayahnya, dan senang adu gulat dengan Obama sang anak.

©Bersama ibunya Obama yang berusia 6 tahun pindah ke Indonesia untuk tinggal bersama ayah tirinya.

©Tahun 1971 ibunya mengirimkan Obama kembali ke Hawaii untuk tinggal bersama kakek-neneknya sampai tamat sekolah menengah tahun 1979. Obama senang bermain basket di lapangan karena dapat dilihat neneknya dari lantai 10 apartemen mereka; apartemen yang sama tempat neneknya wafat.

©Kembali ke Hawaii Obama masuk ke kelas 5 di Punahou School, sebuah sekolah swasta. Di sinilah ia memulai sesuatu yang bernilai tinggi. Kakek dan neneknya amat bangga dan bercerita kepada semua orang karena dengan masuknya ia ke sekolah ini status keluarga naik di mata orang-orang lain. Ia adalah salah satu dari tiga siswa berkulit hitam di antara mayoritas siswa Asia-Amerika. Di sinilah ia pertama kali sadar akan rasisme dan apa artinya menjadi seorang kulit hitam Afro-Amerika. Di sini ayahnya pernah datang mengunjunginya dan keluarganya. Inilah kali terakhir Obama bertemu dengannya sebelum kematiannya karena kecelakaan mobil tahun 1982.

httpari3ffileswordpresscom200803285859251

Saat paling bahagia dikunjungi ayahnya. Kali terakhir bertemu sang ayah.

©Ibu Obama wafat karena kanker beberapa bulan sesudah Obama menerbitkan buku kenangannya, Dreams from My Father, tahun 1995.

©Setelah tamat sekolah menengah ia masuk ke Occidental College, tempat ia terlibat narkoba dan alkohol. Ia kemudian pindah belajar ilmu politik di Columbia College pada Columbia University. Setelah tamat ia bekerja setahun di perusahaan bisnis. Kemudian ia pindah ke Chicago, bekerja pada sebuah organisasi kemasyarakatan. Di sinilah Obama bergabung dengan Trinity United Church of Christ.

Obama 2008 Profile

Dikunjungi mantan suami, ayah Obama, di Hawaii.

©Sebelum masuk Harvard Law School, Obama memutuskan mengunjungi keluarganya di Kenya. Sebagian pengalamannya di Kenya ia masukkan ke dalam buku kenangan untuk menggambarkan sisi emosional kehidupannya.

©Rumah di Jakarta yang terletak di Tebet amat sederhana. Tak ada listrik dan jalan ke rumahnya tak diaspal. Waktu itu zaman susah di Indonesia. Inflasi lebih dari 600% dan barang-barang amat langka.

©Obama masuk SD Katolik Fransiksus Asisi di Tebet. Ia satu-satunya orang asing di situ dan juga lebih gemuk daripada anak-anak yang lain. Ia tak takut diolok teman-temannya dan makan tahu dan tempe seperti anak-anak yang lain, bermain bola kaki, dan makan jambu biji yang dipetik langsung dari pohon. Ia tak peduli dipanggal ‘negro’ oleh anak-anak lain, kata Bambang Sukoco, tetangganya dulu.

httpari3ffileswordpresscom20080328587177

Obama, si anak Jakarta, digendong ibunya.

©Awalnya ibu Obama sering memberi uang kepada setiap pengemis yang datang di depan pintu. Berbondong-bondonglah pengemis, anak-anak, dan orang yang sakit lepra datang setiap hari meminta dan ia terpaksa harus lebih selektif.

©Leo Soetoro ayah tirinya pertama kali bekerja di Dinas Topografi TNI AD. Kemudian bekerja sebagai konsultan hubungan pemerintah pada Mobil Oil. Keluarga pun kemudian pindah ke lingkungan yang lebih nyaman, Menteng. Ketika ibunya makin berminat tentang Indonesia, suaminya malah menjadi lebih kebarat-baratan.

©Ibunya bosan dengan pesta malam mendampingi suaminya karena orang-orang angkuh bercerita tentang skor golf dan para istri mengeluhkan pembantu-pembantunya. Pasangan suami istri jarang bertengkar namun kian hari kian berkurang dalam kesamaan. “Ia tidak siap untuk hidup sendirian,” tulis Obama dalam buku kenangannya. “Namun kejadian itu datang begitu begitu cepat seperti satu tarikan napas yang singkat.”

©Ibunya bekerja sebagai guru bahasa Inggris di Kedutaan AS. Ia bangun subuh, pergi ke kamar anaknya Obama tiap hari dan mengajarinya bahasa Inggris melalui sebuah kursus korespondensi AS. Ia tak mampu menyekolahkan Obama di sekolah internasional. Setelah 2 tahun di sekolah Katolik, Obama pindah ke SD Negeri dekat rumahnya.

©Tahun 1970 lahirlah Maya Soetoro. Barack Obama mendeskripsikan bahwa ayah tirinya, Lolo Soetoro, adalah pribadi yang ramah, santun, dan mudah bergaul dengan orang lain. Dia juga menulis bahwa Lolo Soetoro secara fisik adalah tidak terlalu tinggi, berpenampilan baik, bermata coklat, dan berambut hitam.

31063810ari3ffileswordpresscom

Ayah tiri, ibu yang memangku Maya, dan si gendut Obama.

©Pada tahun 1972 Ann Dunham kemudian meninggalkan Lolo Soetoro dan kembali ke Hawaii dan bertemu kembali dengan putranya yang telah terlebih dahulu meninggalkan Indonesia tahun 1971 untuk bersekolah. Setelah itu Lolo Soetoro dan Ann Dunham masih saling berjumpa secara berkala pada tahun 1970an namun mereka tidak tinggal bersama lagi. Pada tahun 1980 Lolo Soetoro dan Ann Dunham akhirnya bercerai.

©Menurut keponakannya, Lolo Soetoro “gemar minum, seorang yang pandai dan hangat, dan bocah paling nakal di dalam keluarga” Lolo Soetoro meninggal dunia tahun 1993 dan dimakamkan di TPU Tanah Kusir.

©Maya Soetoro menjadi guru sejarah sekolah menengah di Hawaii dan memberi kuliah malam di University of Hawai.

©Ia masuk juga ke sekolah yang sama seperti Obama. Tamat dari Barnard College, Columbia University. Kemudian ia meraih gelar PhD (Doktor) dalam bidang pendidikan dari University of Hawai’i at Manoa di tahun 2006.

©Maya Soetoro menikah dengan Konrad Ng, seorang Chinese Kanada, asisten profesor pada Academy of Creative Media dari University of Hawaii pada tahun 2003 dan dianugerahi seorang putri, Suhaila. Ia adalah penganut Buddha.

maya-with-husband-and-dau-smallhttpwwwkansasprairienetkansasprairieblogp7491

Maya Soetoro bersama suami dan putrinya,


My condolescence goes to Barack Obama and Maya Soetoro-Ng from the bottom of my heart and congratulation for being elected as a new black President of the United States of America.

Sumber:

1.NEDRA PICKLER, Associated Press Writer Nedra Pickler, Associated Press Writer dalam httpen.wikipedia.orgwikiDreams_from_My_Father

2.httpimg.timeinc.nettimedaily20080804a_wmama_0421.jpg

3.Lolo_Soetoro.httpid.wikipedia.orgwikiLolo_Soetoro

4.Maya_Soetoro-Ng.httpen.wikipedia.orgwikiMaya_Soetoro-Ng

5.Foto-foto dari berbagai website

Iklan

1243328602_school-abuse

Parkinson

Kunjungilah posting ini:

https://sbelen.wordpress.com/2013/05/03/bawang-putih-cuka-apel-madu-jahe-lemon-jantung-sehat-tubuh-bugar/

Gambar spanduk Sano

sano-sembuhkan-parkinson

Kartu nama Yuni 2

Ada 15 toilet / kamar mandi di rumah Romo Mangun! Bisa masuk rekor MURI atau …?

Oktober 30, 2008

Tahun 1999 pertama kali saya menginjakkan kaki di rumah Romo Mangun (Y.B.Mangunwijaya) yang terletak di Gang Kuwera No. 14, Jalan Gejayan, Jogjakarta. Dalam kunjungan untuk membantu SD Mangunan dan untuk kepentingan lain di Jogjakarta, sering saya menginap di rumah Rm Mangun. Salah satu motif yang mendorong adalah setiap kali muncul pertanyaan baru dari segi teknik sipil dan arsitektur ketika mengamati rumah ini dan sering pertanyaanku lama tak terjawab dan ada yang sampai sekarang belum terjawab.

Rumah Rm Mangun tampak depan

Setelah sekian kali menginap di rumah itu, akhirnya baru kusadari betapa banyak toilet / kamar mandi di rumah yang luasnya hampir sama dengan rumah-rumah di sekitarnya. Hampir semua toilet dan kamar mandi disatukan, kecuali satu toilet dekat garasi yang begitu sempitnya sehingga sulit digunakan untuk mandi. Setelah menghitung sendiri, betapa mengherankan! Seluruhnya ada 15 toilet / kamar mandi di rumah ini. Ada 13 di lantai dasar dan 2 di lantai dua. Di bangunan induk ada 8 tempat tidur berarti kapasitasnya untuk 8 penghuni. Walaupun, ada loteng mungil terbuka yang bisa digunakan untuk tidur. Di sini ada 9 toilet / kamar mandi. Berarti rata-rata 1 orang untuk 1 toilet / kamar mandi. Di asrama indekos mahasiswa ada 18 tempat tidur dan 6 toilet / kamar mandi. Berarti 3 orang untuk 1 toilet / kamar mandi.

Secara keseluruhan, jika dirata-ratakan perbandingan antara daya tampung atau jumlah penghuni rumah ini dengan jumlah toilet / kamar mandi adalah 1,73 atau dibulatkan 2 orang untuk 1 toilet / kamar mandi. Nah, seperti hotel dengan 2 tempat tidur dengan 1 toilet / kamar mandi di dalam. Selama kunjungan saya ke berbagai daerah di Indonesia dan sejumlah negara, belum pernah saya temukan jumlah toilet / kamar mandi sebanyak ini untuk ukuran sebuah rumah keluarga yang ditambah dengan asrama indekos mahasiswa. Muncul pertanyaan,apakah rumah Rm Mangun ini bisa masuk ke dalam rekor MURI atau siapa tahu bisa meraih rekor lebih tinggi? Atau, masuk nominasi Guinness World Records? Andaikan Romo Mangun masih hidup, beliau pasti tertawa terkekeh-kekeh. Juara kok soal WC?! Weleh, weleh!

Setelah bertanya sana-sini barulah kuperoleh jawaban mengapa ada sekian banyak toilet / kamar mandi. Menurut pandangan Rm Mangun, buang hajat dan kencing tak boleh ditunda-tunda dan jaraknya hanya beberapa langkah jika tiba saatnya kebutuhan itu harus secepatnya dipenuhi. Para penghuni juga tak perlu antri jika terburu-buru hendak mandi.

Asrama indekos mahasiswa di bagian belakang

Menurut pemikiran Rm Mangun, rumah itu seperti manusia. Bayi bertumbuh makin besar mencapai kedewasaan dan kemudian menciut tatkala tua. Waktu pasangan suami istri baru memperoleh seorang anak ukuran rumah kecil, namun dengan bertambahnya anak dan bila tiba waktunya tiap anak yang sudah remaja menuntut kamar sendiri, rumah dapat diperlebar. Jika anak telah kawin dan masih tinggal bersama orang tua, rumah bisa diperlebar lagi. Namun, jika anak yang telah berkeluarga bisa mandiri dan pindah ke rumah sendiri, bangunan rumah tambahan yang diperlebar bisa dibongkar. Ketika semua anak sudah keluar dan tinggal suami-istri yang mendiami rumah itu, tibalah waktunya rumah dipersempit. Agar mudah memperlebar dan mempersempit rumah, terbanyak bahan bangunan terdiri dari kayu, sedangkan tembok batu jauh lebih sedikit.

Pada awalnya bangunan rumah ini kecil. Namun, karena rumah ini kemudian digunakan juga sebagai kantor DED dan banyak tamu silih berganti datang berkunjung dan menginap, jumlah toilet / kamar mandi ditambah. Kemudian, rumah ini digunakan pula untuk indekos mahasiswa, ditambahlah bangunan asrama dengan kapasitas 18 tempat tidur / mahasiswa. Untuk itu, dibuat lagi 6 toilet / kamar mandi.

Logo MURI

Pemikiran Rm Mangun ini mungkin dilatarbelakangi pengamatannya di Eropa, terutama di Jerman tempat beliau studi arsitektur. Dari segi rasio antara jumlah pengguna dan jumlah toilet dan kamar mandi saya amati orang-orang di negara-negara maju lebih rasional. Jaranglah kita menghadapi kesulitan membuang hajat jika perut sudah menuntut, baik di rumah keluarga, asrama mahasiswa, kampus, terminal, dan stasiun. Di jalan-jalan raya yang jauh dari stasiun dan terminal umumnya ada toilet kecil di tepi jalan yang pintunya hanya dapat dibuka dengan koin.

Di tanah air menurut pendapat saya jumlah toilet tak sebanding dengan jumlah penumpang di bandara internasional, termasuk Bandara Soekarno-Hatta. Gejala yang sama tampak di terminal, stasiun, pasar, gedung olahraga, dan rumah sakit. Selain itu, proporsi antara toilet / kamar mandi untuk laki-laki dan wanita umumnya sama. Untuk keperluan kencing, malah laki-laki diuntungkan karena ada toilet kecil untuk kencing. Padahal, wanita tak bisa menggunakan toilet kencing seperti laki-laki. Dan, wanita yang mendapatkan menstruasi cenderung lebih lama menggunakan toilet / kamar mandi. Karena itu, sering kita amati panjang antrian wanita depan toilet / kamar mandi wanita lebih panjang daripada yang untuk laki-laki. Seharusnya jumlah toilet / kamar mandi untuk wanita lebih banyak. Agaknya kita kurang menggunakan akal sehat waktu merancang jumlah toilet yang terpisah untuk laki-laki dan wanita.

Advertorial

900x900px-LL-9d1f8547_tumblr_mdv0l9LqfL1ryv12ko1_500

Osteoporosis

Kunjungilah posting ini:

https://sbelen.wordpress.com/2013/05/03/bawang-putih-cuka-apel-madu-jahe-lemon-jantung-sehat-tubuh-bugar/

Gambar spanduk Sano

Sano sembuhkan osteoporosis

Kartu nama Yuni 2

Berilah hak bicara kepada anak

Juli 11, 2008

Sssst!

Siapa yang sering melakukan hal seperti terlihat pada gambar ini? “Diam!” “Jangan bicara!” “Tutup mulutmu!” “Jangan berisik!” “Jangan ribut!” Kata-kata ini akan terlontar jika gerak tangan menyuruh diam itu tidak berhasil.

  1. Apakah guru yang suka berceramah? Yang berpendapat bahwa mengajar sama dengan berbicara? Atau, kalau tidak berbicara berarti belum mengajar?
  2. Apakah pengkotbah yang berpendapat bahwa tugasnya adalah berbicara dan berbicara berarti menasihati, menakut-nakuti atau mengancam dengan api neraka dan menjanjikan tempat yang layak di surga?
  3. Apakah orang tua yang cenderung melarang, yang mengucapkan kata “jangan”, “tidak boleh”, atau kata senada lainnya sekitar 100 kali dalam sehari kepada anaknya?

Bagaimana anak kita bisa berani berbicara, melakukan hak asasi anak untuk mengungkapkan pendapatnya, jika guru, orang tua, dan pengkotbah lebih sering melarang daripada mendorong anak mengekspresikan dirinya?

Dampak jangka panjang apa yang akan terlihat dalam diri anak tatkala dewasa? Menjadi:

  • manusia pasif?
  • manusia suka ikut arus?
  • “yes man” atau “yes woman”?
  • manusia yang tak suka mengambil inisiatif?
  • manusia yang kurang kreatif?


Kampanye Pemilu boros uang

Juli 10, 2008

MENYAMBUT KAMPANYE PEMILU 2009:

Kampanye pemilu: Bangsa kaya menghemat uang, bangsa miskin malah memboros uang

Tanggal 12 Juli 2008 s.d. 9 April 2009! Kampanye pemilu legislatif ini berlangsung selama 9 bulan 7 hari. Lamaaaa sekali. Hampir 1 tahun. Selain itu, sampai dengan 9 April 2009 rakyat tetap dibuat bingung mengikuti sekitar 100 kampanye Pilkada bupati, walikota, dan gubernur. Selama itu, konsentrasi kerja rakyat Indonesia diganggu. Elit politik tak berpikir dan mengerjakan hal lain kecuali membujuk rayu rakyat (‘ngapusi’, meminjam istilah Pak Harto).

Pada tahun 1992 saya berada di Inggris dan sempat menyaksikan pemilu perdana menteri, pertarungan antara John Major dari Partai Konservatif dan Neil Kinnock dari Partai Buruh. Kemudian, pada tahun 1996 saya menyaksikan juga kampanye pemilu perdana menteri antara John Major dan Tony Blair, walaupun tak menyaksikan hari pemungutan suara. Di antara kurun waktu itu, sejumlah pemilu tingkat kabupaten saya saksikan juga.

Yang menarik adalah kampanye pemilu amat sepi, seolah tak ada apa-apa. Di jalan-jalan raya yang ramai hanya terpampang satu-dua gambar perdana menteri dan calon perdana menteri. Bendera dan umbul-umbul tak tampak. Apalagi, mana ada rakyat yang mau pakai baju kaus partai? Malu! Rapat umum hampir tak tampak, paling-paling hanya terlihat 50 orang berbaris sepanjang satu-dua km dan bubar di sebuah taman.

Pertarungan antar-partai justru amat dominan tampak pada acara TV. Secara berkala debat di parlemen antara perdana menteri dan partai yang berkuasa dengan partai oposisi disiarkan TV. Talk show sering ditampilkan dalam acara TV. Selain itu, kita bisa juga membaca persaingan politik itu dalam berita surat kabar. Lain kata, kampanye itu direntang-sebarkan antara satu pemilu dan pemilu berikutnya, sehingga tidak perlu memboros uang untuk aktivitas yang pasti ditertawakan rakyat.

Tampak paradoks yang membuat kita tak percaya. Mengapa negara sekaya Inggris yang memiliki investasi terbesar di Amerika Serikat begitu paham dan brilyan menghemat dana politik. Tidak membiarkan rakyatnya ditipu dengan dana politik hasil siluman?

Mengapa kita belum sadar juga? Mengapa kita berbuat seolah-olah rakyat sedang hidup makmur, damai, sejahtera, gemah ripah loh jinawi, tata tenteram kerta raharja? Mengapa kita memboros uang selama kampanye di tengah rakyat yang kian menderita? Indonesia, oh Indonesia!

“Nak, ambil kepalamu! Biarlah kamu berpikir dengan kepala. Jangan seperti elit politik yang suka berpikir tanpa kepala. Lebih suka menghambur-hamburkan uang di tengah penderitaan rakyat daripada berjuang mensejahterakan rakyat.”