Archive for the ‘Tuhan’ Category

Ateisme Stephen Hawking dan debat kami tentang eksistensi Tuhan

Maret 16, 2018

Inilah 2 buku Stephen Hawking yang kami beli di London waktu studi di sana. Baca juga ceramah-ceramahnya di berbagai negara karena kami debat soal eksistensi Tuhan dengan orang-orang Inggris dan China daratan yang tidak percaya Tuhan.

Argumen yang mereka gunakan a.l. pandangan-pandangan Stephen Hawking. Debat selalu tidak bisa meyakinkan mereka. Akhirnya kami sepakat untuk tidak sepakat. Hehehe.

Ini teman-teman ateis ini bilang hidup saya diteruskan anak-anak saya. Ya sudah, saya mati ya selesai. Sama seperti babi, hidup babi diteruskan anak-anak babi. Ya sesudah babi mati ya selesai. Apakah babi masuk surga atau neraka? Ya, manusia kan seperti babi saja. Mati ya selesai.

Waktu kakak saya meninggal teman-teman ateis ini menghibur saya dengan bilang ya saya tidak percaya Tuhan, tapi andaikan Tuhan itu ada, ya saya harap kakakmu masuk surga. Hehehe. Walau tidak percaya Tuhan tapi cinta kasih dalam hidup sehari-hari mereka oke banget.

Kalau dengan mahasiswa China daratan, mereka bilang kamu percaya Tuhan karena dari kecil sudah dicekoki Tuhan itu ada. Lha, kami di China sejak kecil tidak pernah diajari tentang Tuhan. Ya, tambah belajar ilmu-ilmu sains segala ini ya semakin yakin bahwa Tuhan tidak ada. Waduh.

Waktu kakak laki-laki sulung meninggal di Timor, yang memperjuangkan ke British Council agar saya pulang dengan biaya mereka adalah orang Inggris yang tidak percaya Tuhan. Dia juga perjuangkan agar ditambah uang untuk diberi kepada mama.

Pulang dari tanah air, satu lagi orang Inggris yang ateis di The Institute of Education University of London sudah rencanakan agar saya diberi tugas mengantar rombongan dosen Indonesia yang kursus 3 bulan keliling London. Nah, untuk itu saya diberi honor cukup besar.

Satu lagi teman yang ateis bilang, Belen, kami mengerti sekali kesedihanmu. Kalau kamu sedih telepon saja dan datang main-main ke rumah. Kami masak makanan Indonesia sebisanya untuk kamu. Itulah compassion orang ateis yang kami alami.

Kemarin, kami mulai baca-baca lagi buku A Brief History of Time: From the Big Bang to Black Holes, karya Stephen Hawking.

Ia menyatakan bahwa konsep waktu tidak punya arti sebelum penciptaan alam semesta.

Ini pertama kali dikemukakan Agustinus (dari Hippo). Ketika ditanya: Apa yang Tuhan lakukan sebelum Dia menciptakan alam semesta? Agustinus tidak menjawab: “Dia sedang menyiapkan neraka bagi orang yang mengajukan pertanyaan seperti itu.”

Sebagai gantinya ia mengatakan bahwa waktu adalah satu khasanah alam semesta yang Tuhan ciptakan, dan tidak ada waktu sebelum Tuhan menciptakan alam semesta.

Apakah ada causa prima, penyebab pertama? Kalau ada causa prima lalu sebelum causa prima itu, ada apa? Wah, kepala mulai pening. Saya berhenti dulu meneruskan membaca buku ini.

Hayo, sebelum ada alam semesta ini, yang ada apa?

Lalu sebelum penciptaan, Tuhan kerja apa?

Hawking bilang ya ada penciptaan atau tidak ada penciptaan (forever), alam semesta ini sudah ada terus berkembang dan nanti akan menyusut.

Tampaknya ia lebih yakin, Tuhan tidak perlu ada. Konsep Tuhan cenderung hanyalah rekaan manusia, yang terpesona mengamati alam semesta, dan tidak mengerti bekerjanya hukum alam.

Perubahan alam semesta, seperti tabrakan bintang, bintang punah cocok dengan teori evolusi Darwin yang disetujui Hawking.

Cogito ergo sum. Saya ada jadi saya berpikir. Ada yang bilang sebaliknya, Sum ergo cogito. Saya ada maka saya berpikir. Coba kalau gak ada, ya bagaimana kita bisa berpikir.

Satu kelebihan Hawking dari Einstein adalah dia lebih menguasai matematika. Einstein mengaku kurang serius belajar Matematika sehingga telat membuat persamaan relativitas. Kalau beristri, keduanya sama-sama kawin 2 x. Hehehe

Dari segi rasional tanpa ajaran agama, ya Tuhan ibarat gajah yang diraba orang-orang buta.

Si buta A meraba gading ya gajah itu seperti kayu yang melengkung.

Si buat B yang pegang ekor, ya gajah itu ya seperti ular-lah.

Si buta C yang meraba kaki gajah mengatakan ya gajah seperti batang pohon pendek yang kasar.

Apa pun, gambaran gajah menurut tiap orang buta, gajah ya gajah yang satu dan sama yang kita ketahui.

Apa pun pemahaman Tuhan oleh manusia, ya ibarat orang-orang buta meraba dan menggambarkan gajah berdasarkan apa yang dirabanya.

Betapa pun gambaran Tuhan menurut beragam manusia dari berbagai agama dan kepercayaan, Tuhan ya tetaplah Tuhan yang satu dan sama.

Epilog Sang Maestro Stephen Hawking: Akhirnya percaya eksistensi dan peran Tuhan serta hidup setelah mati?

Apakah suatu bentuk kesadaran (atau suatu bentuk kecerdasan) berada di balik penciptaan alam semesta? Itu adalah hal yang amat mungkin. Itulah pernyataan Stephen Hawking pada tahun 2017.

Setelah berpulangnya sang maestro ini, berita-berita dan ulasan serta video membahas bahwa ia tidak percaya Tuhan. Ia mengaku sebagai seorang ateis. Namun, pernyataan Stephen Hawking mengindikasikan bahwa ia memberi ruang, memberi peluang terhadap faktor Tuhan dalam penciptaan dan kehidupan setelah kematian manusia.

Dalam presentasi di hadapan mahasiswa di Universitas Cambridge, ilmuwan terkenal di dunia ini menyatakan bahwa tahun-tahun penelitiannya tentang penciptaan kosmos telah membawanya untuk mengisolasi faktor ilmiah aneh yang menurutnya bertentangan dengan hukum fisika universal.

Berikut ini penjelasan tentang pernyataan itu.

Fisikawan dan kosmolog teoretis Inggris, Stephen Hawking, mengejutkan komunitas ilmuwan minggu lalu saat dia mengumumkan dalam sebuah pidato di Universitas Cambridge bahwa dia percaya bahwa “suatu bentuk kecerdasan” sebenarnya berada di balik penciptaan Alam Semesta.

Fenomena aneh inilah yang dia namakan faktor Tuhan, menjadi asal mula proses penciptaan dan akan memainkan peran penting dalam menentukan bentuk alam semesta yang sebenarnya.

Ilmuwan terkenal di dunia ini mengakui bahwa pengalaman kematian di dekat saudaranya, yang meninggal secara klinis selama 43 menit setelah serangan jantung pada Oktober 2017 lalu, mengubah pandangannya secara radikal tentang sifat kesadaran manusia dan alam semesta secara keseluruhan.

(Saudaranya ini adalah Edward Hawking, yang diadopsi ayah dan ibu Stephen Hawking).

“Saudaraku selalu menjadi teladan bagiku. Pikirannya yang rasional, cerdik, dan tidak sadar telah membentuk kepribadian saya menjadi pribadi saya hari ini dan telah membawa saya ke dalam studi tentang dunia fisika yang menakjubkan. Tapi sejak kecelakaan itu pada bulan Oktober yang lalu, dia telah kembali menjadi orang yang berubah”, kenangnya.

“Dia mengatakan kepada saya tentang keberadaan makhluk hidup, dunia lain yang tidak diketahui manusia, dia  mengatakan kepada saya tentang Tuhan”, ujarnya kepada hadirin, yang tampak terkejut mendengarkan penegasan tersebut.

“Ilmu pengetahuan modern bergantung kepada persepsi bahwa kesadaran terletak di dalam otak manusia, tapi apa yang dialami saudara laki-laki saya selama kematian klinisnya, saya tidak dapat menjelaskannya. Apakah kesadaran berada di luar tubuh manusia? Apakah otak manusia hanyalah reseptor, yang mampu menerima “gelombang kesadaran” karena radio AM / FM menerima gelombang radio? Ini adalah pertanyaan sains modern yang belum terjawab dan bisa mendefinisikan kembali pandangan kita tentang alam semesta dan fisika modern sepenuhnya”, akunya.

Sumber:

http://worldnewsdailyreport.com/stephen-hawkins-admits-intelligent-design-is-highly-probable/

Video: BREAKING NEWS: HAWKING ADMITS GOD DOES EXIST! Pada https://www.youtube.com/watch?v=Ae39R98577Q

Suatu bentuk kesadaran di balik penciptaan mirip dengan pandangan Henri Bergson, filsuf Prancis

PANDANGAN HENRI BERGSON TENTANG PERAN ELAN VITAL DALAM PENCIPTAAN & KESADARAN YANG BERLANJUT SETELAH KEMATIAN

Henri Bergson, 1927

Henri Bergson adalah filsuf Prancis yang amat terkenal di zamannya dan pandangan-pandangannya amat berpengaruh pada abad 19 dan 20, dan bahkan sampai sekarang.

Henri Bergson lahir di Paris, Prancis pada 18 Oktober 1859 dan meninggal akibat sakit bronkitis juga di Paris, pada 4 Januari 1941 (81 tahun).

Pada Januari 1913 Bergson pertama kali berkunjung ke AS untuk memberikan kuliah pertamanya di Columbia University, berjudul Spiritualitas dan Libertas (Kebebasan). Seminggu sebelumnya, The New York Times menerbitkan sebuah artikel panjang tentang Bergson. Artikel ini mendorong banyak orang menyerbu tempat kuliahnya, mengakibatkan kemacetan lalu lintas, kemacetan lalu lintas pertama dalam sejarah Broadway.

Bergson berpendapat bahwa impuls vital atau élan vital itu yang berperan pada awal penciptaan. Selanjutnya, dalam evolusi kreatif, melalui konsep pelipatgandaan (multiplicity), divergensi, dan diferensiasi terjadilah evolusi anekatumbuhan dan hewan. Kemudian, selain insting, intuisi memungkinkan manusia menggunakan impuls kreatif asli untuk memecahkan berbagai hambatan yang muncul dalam upaya mencapai pengetahuan yang benar.

Dari baca-baca di internet tentang Henri Bergson, kami tertarik terhadap pernyataannya, “all the brain was in the mind but not all the mind was in the brain.” Kata “mind” ini sulit diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Karena, maknanya melebihi pikiran. Untuk sementara kita artikan pikiran saja dulu. Jadi terjemahan pernyataan Bergson itu, seluruh otak berada dalam “pikiran” tetapi tidak semua pikiran berada dalam otak”.

Pandangannya tentang ketaktergantungan (independensi) pikiran terhadap tubuh membawa dia mengajukan probabilitas eksistensi pribadi yang berlanjut setelah kematian.

Bergson merahasiakan kegiatannya seperti bermain jailangkung. Namun kemudian diketahui bahwa suatu kesempatan, ia mencoba berkomunikasi dengan arwah temannya yang telah meninggal, juga dengan koleganya filsuf William James, namun gagal.

Seperti dinyatakan William James sebelumnya, Bergson mempertimbangkan hipotesis kehidupan yang terus berlangsung dalam konteks riset telepati dan berkomunikasi lewat perantara (mediumship).

Olah pikir Bergson akhirnya sampai ke gagasan bahwa conscience qui déborde l’organisme, kesadaran meluap melampaui organisme. Gagasan ini membuat ide kehidupan sesudah kematian tampak alamiah (natural) dan mungkin (probable). Akan tetapi, pandangannya ini tidak bisa disamakan dengan hipotesis roh arwah dalam permainan seperti jailangkung.

Henri Bergson meraih Hadiah Nobel Sastra tahun 1927 untuk menghargai gagasan-gagasannya yang kaya dan menghidupkan serta keterampilannya yang brilyan. Ia dianugerahi banyak award yang lain.

Sumber:

https://psi-encyclopedia.spr.ac.uk/articles/henri-bergson

https://en.wikipedia.org/wiki/Henri_Bergson

https://plato.stanford.edu/entries/bergson/

Iklan

Agama & Spiritualitas

Januari 28, 2018

Agama bukan hanya satu, tapi ratusan.
Spiritualitas hanyalah satu.

Agama adalah untuk mereka yang tidur.
Spiritualitas adalah untuk mereka yang sudah terbangun.

Agama adalah untuk mereka yang membutuhkan seseorang untuk memberi tahu mereka apa yang harus dilakukan dan ingin dibimbing.
Spiritualitas adalah untuk mereka yang memperhatikan Suara Batinnya.

Agama memiliki seperangkat aturan dogmatik.
Spiritualitas mengundang Anda untuk bernalar tentang segala hal, mempertanyakan segala hal.

Agama mengancam dan menakut-nakuti.
Spiritualitas memberi Anda Kedamaian Batin.

Agama berbicara tentang dosa dan kesalahan.
Spiritualitas memberitahu Anda untuk “belajar bersama kekeliruan” ..

Agama menekan segalanya, mempersalahkan Anda.
Spiritualitas melampaui segalanya, membuat Anda benar!

Agama bukanlah Tuhan.
Spiritualitas adalah Segala, dan karenanya di sana ada Tuhan.

Agama menemukan apa yang belum ada.
Spiritualitas menemukan apa yang sudah ada.

Agama tidak bertanya atau menggugat.
Spiritualitas mempertanyakan segalanya.

Agama itu manusiawi, ia adalah organisasi dengan peraturan.
Spiritualitas itu Ilahi, tanpa peraturan.

Agama adalah penyebab perpecahan.
Spiritualitas adalah penyebab persatuan.

Agama mencari Anda agar percaya.
Spiritualitas adalah yang harus Anda cari.

Agama mengikuti ajaran dari kitab suci.
Spiritualitas mencari yang suci di semua buku.

Agama memupuk rasa takut.
Spiritualitas memupuk Saling Percaya dan Iman.

Agama membuat seseorang hidup dalam pikiran.
Spiritualitas membuat seseorang Hidup dalam Kesadaran.

Agama memperhatikan berbuat.
Spiritualitas memperhatian Mengada.

Agama memupuk ego.
Spiritualitas membuat kita Bertransendensi.

Agama membuat kita meninggalkan dunia.
Spiritualitas membuat kita hidup di dalam Tuhan, tidak meninggalkanNya.

Agama adalah ibadah.
Spiritualitas adalah Meditasi.

Agama bermimpi tentang kemuliaan dan surga.
Spiritualitas membuat kita menghidupi kemuliaan dan surga di sini dan sekarang.

Agama hidup di masa lalu dan di masa depan.
Spiritualitas hidup di masa sekarang.

Agama mengkerangkeng ingatan kita.
Spiritualitas membebaskan Kesadaran kita.

Agama percaya akan kehidupan kekal.
Spiritualitas membuat kita sadar akan kehidupan yang kekal.

Agama menjanjikan kehidupan setelah kematian.
Spiritualitas adalah menemukan Tuhan di dalam Hidup Batin kita.


“Kita bukanlah manusia yang melewati pengalaman spiritual. Kita adalah makhluk spiritual yang melewati pengalaman manusiawi … ” (Teilhard de Chardin, Paleontolog-filsuf Prancis, 1881 – 1955)

Sumber: TriState Spiritist Federation, 24 January 2017, pada https://www.facebook.com/tssfederation/posts/1916594838571280

Terjemahan S Belen