Archive for the ‘Kurikulum’ Category

SMA Selamat Pagi Indonesia: Model sekolah entrepreneur berasrama serba-gratis

Januari 26, 2016

Pentas pesona sang garuda di SMA SPI

Siswa SMA Selamat Pagi Indonesia mementaskan Pesona Sang Garuda

 

Adakah sekolah menengah umum, SMA di tanah air yang terfokus membekali siswa menjadi entrepreneur? Umumnya dapat dikatakan tidak ada. Kalau sekolah menengah kejuruan, SMK membekali siswa menjadi entrepreneur ya itu logis, masuk akal karena itulah satu tujuan SMK sebagai sekolah terminal, lulusan terjun ke dunia kerja.

Jawaban atas pertanyaan ini adalah ada SMA seperti itu, yaitu SMA Selamat Pagi Indonesia (SMA SPI) di Kota Batu, Kabupaten Malang. Sekolah ini memiliki laboratorium entrepreneurship , sebagai sarana mendidik untuk membekali siswa menjadi entrepreneur.

SMA Selamat Pagi Indonesia Pentas 3

Inilah gedung utama SMA Selamat Pagi Indonesia di Batu, Malang

Adakah SMA di tanah air yang dapat dikatakan sebagai sekolah terminal terakhir yang tidak mendorong siswanya melanjutkan ke perguruan tinggi (PT) tetapi memotivasi siswanya untuk merintis usaha menjadi entrepreneur, menjadi pebisnis belia? Tidak ada. Tujuan SMA adalah terutama menyiapkan siswa agar mampu melanjutkan pendidikan ke PT. Lulusan yang tidak melanjutkan ke PT biasanya karena orang tua tidak mampu membiayai pendidikan lanjutan anaknya.

Jawaban atas pertanyaan ini adalah ada SMA seperti itu, yaitu SMA Selamat Pagi Indonesia. Sekolah ini mendidik untuk membekali siswa menjadi entrepreneur. Sekolah ini tidak melarang lulusannya melanjutkan pendidikan ke PT. Namun, mengingat lulusannya tidak lagi memiliki orang tua atau masih memiliki orang tua tapi tidak mampu, tampaknya hanya ada segelintir siswa yang akan melanjutkan ke PT. Ada lulusan yang telah bekerja atau punya usaha sendiri yang kemudian melanjutkan pendidikan ke PT atas biaya sendiri.

Adakah SMA tanpa bayar uang sekolah untuk sumbangan pembangunan pendidikan (SPP) yang disebut sekolah gratis? Ada, yaitu sekolah negeri. Namun, pakaian seragam, buku pelajaran harus tetap dibeli orang tua. Kegiatan ekskul (ekstrakurikuler) tetap harus dibiayai orang tua. Adakah SMA swasta di tanah air yang gratis, tanpa bayar SPP, tanpa bayar pakaian seragam dan tanpa bayar buku pelajaran, serta tanpa bayar kegiatan ekskul? Pada umumnya tidak ada.

Jawaban lain atas pertanyaan ini adalah ada SMA seperti itu, yaitu SMA Selamat Pagi Indonesia.

Adakah SMA berasrama yang orang tuanya tidak membayar uang asrama? Ada sedikit sekolah terutama yang didirikan panti asuhan. Namun, adakah SMA berasrama yang gratis segala-galanya, termasuk tanpa bayar uang asrama tapi siswanya malah mendapatkan uang tabungan bulanan sebagai imbalan terhadap kerjanya? Tidak ada.

Jawaban lain atas pertanyaan ini adalah ada SMA seperti itu, yaitu SMA Selamat Pagi Indonesia. Setiap bulan tiap siswa mendapatkan uang tabungan bulanan, yaitu di kelas I Rp 100 ribu dan di kelas II dan III Rp 150 ribu.

Adakah SMA serbagratis yang menerima anak yatim, anak piatu, anak yatim piatu, dan anak dari keluarga miskin dari Sabang siswa Merauke , dari Sangir-Talaud siswa Rote dan mendidik mereka menjadi calon entrepreneur? Tidak ada.

Jawaban lain atas pertanyaan ini adalah ada SMA seperti itu, yaitu SMA Selamat Pagi Indonesia.

?????????????

 

Seeing is believing

Tiga tahun ini dalam berbagai kesempatan pertemuan dengan pimpinan yayasan sekolah swasta, dalam pelatihan guru, dalam diskusi lewat milis, kami selalu mempromosikan SMA Selamat Pagi Indonesia. Agar omongan kami dipercaya, kami berpura-pura seolah-olah telah melihat langsung sekolah ini. Padahal, data yang kami gunakan hanya berbekal informasi dari internet dan cerita seorang ketua yayasan persekolahan di Palangkaraya ketika kami menatar guru-guru dan kepala sekolah yayasan ini di Palangkaraya. Agar lebih dipercaya, bila ada yang bertanya bagaimana meminta izin berkunjung ke sekolah ini, kami memberi nomor telepon sekolah, bahkan No. Hp pendirinya, yaitu Pak Julianto Eka Putra.

Sabtu, 16 Januari 2016, kesempatan berkunjung ke sekolah ini datang. Tanggal 15 s.d. 17 Januari, angkatan 1979 Fakultas Psikologi UI melakukan reuni di Surabaya, menjadi tamu Laksma A W Burhan dan Kolonel Mithra, dua teman angkatan kami yang bekerja di Dinas Psikologi Angkatan Laut di Sidoarjo. Laksma A W Burhan adalah Kepala Dinas Psikologi AL ini. Pada hari kedua Surabaya tour ini, kami berkunjung ke Malang, khususnya ke Kota Batu untuk mengunjungi Museum Angkut.

Ketika bus yang mengantar kami mendekati Museum Angkut di Kota Batu, tiba-tiba timbul niat saya untuk mengunjungi SMA Selamat Pagi Indonesia. Kunjungan ke Museum Angkut dapat dilakukan di waktu lain, bersama keluarga nanti. Langsung saya minta izin kepada ketua rombongan untuk memisahkan diri dari rombongan yang akan berkunjung ke Museum Angkut selama 2 jam. Setelah diizinkan saya menelepon temanku, seorang pengacara yang berdomisili di Kota Batu. Temanku yang masih muda ini bergerak cepat. Ketika bus rombongan tiba di Museum Angkut, temanku ini sudah tiba duluan di sana, siap mengantar saya ke SMA SPI.

 

 

?????????????

 

?????????????

Hamparan lahan 3,3 ha SMA Selamat Pagi Indonesia, dibatasi kali, anak sungai Brantas: Medan latihan kecakapan hidup dan entrepreneurship.

Setelah melapor ke Pos Satpam, kami dipersilahkan menemui Pak Didiek. Ketika berjalan menyusuri gedung-gedung sekolah ini mencari Pak Didiek, kami bertemu dengan seorang anak putri bernama Cika. Yang membuat saya heran, Cika menyapa kami, “Selamat pagi, Pak.” Dalam hati saya pikir, ah, anak ini salah. Masa’ siang dibilang selamat pagi. Waktu berjabat tangan, tangan kanan kami ditempelkan pada pipinya. Ia adalah seorang siswa kelas III, berusia 17 tahun, berasal dari Tobelo, Halmahera, Maluku Utara. Ayah dan ibunya telah berpisah.

Cika tampak ceria, lancar menjawab pertanyaan-pertanyaan. Tidak ada rasa canggung berbicara dengan tamu. Ia tidak ingin melanjutkan pendidikan ke PT. Cita-citanya menjadi pengusaha. Tiap bulan uang tabungannya bertambah Rp 150 ribu. Dengan uang yang terkumpul ia bisa berlibur ke Tobelo. Tapi, ia merasa tidak perlu berlibur. Ia betah terus belajar dan menimba kiat-kiat bisnis di sekolah ini. Berkali-kali ia menyelipkan kalimat “Semuanya ini karena kemurahan Tuhan.”

Waktu sedang diantar Cika, tiba-tiba seorang anak cowok berlalu. Cika memanggilnya untuk mendekat dan ia langsung mengucapkan selamat pagi, padahal hari telah siang. Kami berjabat tangan dan ia menempelkan tangan kanan kami ke pipinya. Melihat tampangnya sudah bisa kutebak, ah, anak ini pasti berasal dari Timor, dari “negeriku” NTT. Benar, dari SoE, Timor Tengah Selatan (TTS). Bilis anak yatim piatu. Ia kini berusia 16 tahun, kelas II. Iabetah di sini. Ia sudah bisa mengerti bahasa Jawa dan sekali-sekali menjawab dengan bahasa Jawa dalam percakapan dengan teman-temannya. Ia bernasib baik sampai ke sekolah ini karena didorong kepala SMP-nya di SoE agar melamar ke sekolah ini. Alekot (bagus), Bilis!

?????????????

Selalu selamat pagi. Ceria, gembira, sehat. Cika (kanan) dan Bilis (kiri).

 

Sekolah ini fenomenal karena gratis segala-galanya dan bahkan memberi uang kepada siswa sebagai imbalan latihan bekerja, latihan entrepreneurship. Sekolah ini hanya menerima anak yatim, anak piatu, anak yatim-piatu termasuk yang orang tuanya cerai, anak keluarga miskin orang tua masih bersatu dan lengkap. Dari seluruh Indonesia, dari Sabang sampai Merauke, dari Sangir-Talaud siswa Rote. Persentase siswa yang diterima menurut persentase penganut agama di Indonesia sambil mengikuti kuota daerah agar siswa dari kelima agama yang diakui resmi di Indonesia dan dari berbagai daerah di Indonesia terwakili. Di sekolah yang menampung siswa beragam agama dan suku bangsa ini ditumbuhkembangkan semangat persatuan sebagai bangsa Indonesia yang menghargai perbedaan dan melaksanakan toleransi. Selain itu ditumbuhkembangkan pula jiwa entrepreneurship sebagai bekal mencari nafkah dan berbuat bagi bagi masyarakat sekitar.

mencemoh

Julianto Eka Putra pendiri SMA SPI.

Julianto Eka Putra 2

Bersemangat. Julianto di tahun 2012

Julianto Eka Putra

Julianto Eka PutraL Belajar dari mengalami. Mewujudkan impian anak-anak Indonesia harus mendapatkan pendidikan walau orang tuanya miskin.

Yenny Tantono

Yenny Tantono, istri Pak Julianto Eka Putra. Di belakang suami yang hebat ada istri yang hebat.

11825910_1130067353673595_5513002837954372967_n

Berlibur ke luar negeri bersama istri dan ketiga anak: Dari kiri ke kanan: Pak Julianto, Angeline, Bu Yenny Tantono, Jean, dan Stevanus. Anak-anak SMA Selamat Pagi Indonesia juga diberi kesempatan studi banding ke luar negeri.

 

Pendirinya adalah Julianto Eka Putra, pria asal Surabaya yang kini berusia 43 tahun. Masih muda. Ia bermimpi Indonesia menjadi bangsa yang saling menghargai perbedaan suku dan agama. Ia pun coba mewujudkan mimpi tersebut lewat SMA Selamat Pagi Indonesia, sekolah serbagratis yang dia bangun di Batu, Jawa Timur.

Sekolah yang mulai beroperasi pada 2007 ini unik. Siswa yang diterima di sekolah itu harus memenuhi syarat utama, yaitu yatim piatu atau punya orangtua tetapi amat miskin. Selama bersekolah, mereka tak mengeluarkan uang sedikit pun, bahkan mendapat uang saku Rp 100.000 – Rp 150.000 per bulan.

Tak hanya itu, dalam setiap penerimaan siswa baru, komposisi siswa yang diterima harus berasal dari sejumlah daerah, dari Sabang siswa Merauke. Proses seleksi semakin ketat karena siswa yang diterima per tahun harus mewakili kelima agama yang diakui di Indonesia.

Pada penerimaan siswa baru tahun 2007, sebanyak 27 siswa yang diterima dari kuota penerimaan 30 orang. Jumlah siswa sekolah ini tak sebanyak sekolah pada umumnya karena SMA Selamat Pagi Indonesia (SPI) bersistem asrama dengan tempat terbatas.

Ide spontan

Tahun 2000 Julianto memberikan motivasi bisnis di Surabaya. Waktu itu ia menjadi distributor sebuah produk kesehatan yang dipasarkan secara multi-level marketing (MLM). Pekerjaan yang ditekuninya sejak 1995.

”Tahun 2010 kita harus punya sebuah sekolah gratis,” kata Julianto waktu itu. Ia menyerukan kalimat itu secara spontan dan di luar naskah. Hadirin langsung bersorak. Namun, rekan dekat dan istri Julianto menganggap seruan spontannya itu sebagai keteledoran. Ia dianggap berbicara tanpa berpikir dulu.

Setelah itu dia baru bingung, bagaimana bisa membangun sebuah sekolah gratis, sementara penghasilannya sekitar Rp 20 juta per bulan.

Ia lalu mengajak rekannya berpartisipasi dengan menyumbang 5 persen dari pendapatan. Namun, uang yang terkumpul baru sekitar Rp 300 juta, masih jauh dari cukup.

Pendiri perusahaan tempat Julianto bekerja, Peter Chia, yang berada di Singapura, mendengar rencana pembangunan sekolah itu pada tahun 2003. Dia menghubungi Julianto dan menyatakan mau membantu. Peter meminta Julianto segera mencari tanah.

Batu dipilihnya karena daerah itu berhawa sejuk sehingga sekolah sekaligus asrama tak memerlukan banyak mesin pendingin ruangan. Biaya operasional bisa ditekan.

Julianto mendapat tanah 3,3 hektar seharga Rp 5,3 miliar. Tanah sudah ada, tetapi sekolah tak segera bisa dibangun karena dia sibuk dan biaya pembangunan gedung yang ditaksir Rp 7,5 miliar belum terkumpul.

Tahun 2005, selama tiga hari berturut-turut ia membaca berita tentang siswa yang bunuh diri karena tak punya uang untuk sekolah. Julianto berjanji dalam hati, jika esok hari masih mendapati berita serupa, artinya berita itu merupakan teguran dari Tuhan. Keesokan hari, ia membaca berita serupa.

Tanpa pikir panjang, Julianto mengumpulkan koleganya di Surabaya untuk membahas pembangunan sekolah. ”Apapun yang terjadi, sekolah itu harus dibangun sekarang,” katanya waktu itu.

Sekolah dan asrama itu pun dapat dibangun dengan dana sumbangan dari rekan-rekan Julianto dan uang pribadi. Kebetulan tahun 2001-2005 Julianto mendapat bonus 300 persen per tahun. Di perusahaan, Julianto kini menjadi distributor dengan tingkatan tertinggi, Royal Crown.

Saat sekolah itu berhasil dibangun lebih cepat dari yang diimpikan, Julianto merasa takjub. Ia menyebut sekolah yang berawal dari gagasan mustahil itu sebagai karya Tuhan.

Belajar hidup

Sistem pendidikan SMA SPI memakai kurikulum umum. Namun, siswa sebanyak mungkin tak belajar di kelas karena kelas akan memenjarakan imajinasi dan kreativitas siswa. Mereka banyak belajar di kebun atau pendopo di lingkungan sekolah.

Dengan misi menanamkan jiwa toleransi, ada lima guru agama berbeda di sini. Namun, dalam setiap perayaan hari besar agama, siswa yang tak merayakan ikut membantu. Mereka dilatih menghargai cara berdoa dan keyakinan pemeluk agama lain.

Keistimewaan lain yang dirasakan siswa adalah kesempatan studi banding ke luar negeri. Siswa diajak Julianto ke Singapura, China, Makao, dan Hongkong. ”Tak semua siswa ikut, hanya 13-17 siswa terpilih.”

Di luar negeri, siswa belajar melihat cara hidup orang lain. Misalnya, kerja keras para pedagang di China atau cara berjalan para pekerja di Singapura yang cepat. Julianto berharap, hal-hal positif itu dapat dicontoh dan kelak siswa pun menularkannya kepada masyarakat.

Setelah lulus, para siswa tak wajib menjadi entrepreneur. Mereka bebas menentukan profesi sesuai dengan bakat. Sekolah hanya memancing bakat mereka dan mengarahkan. Namun, banyak siswa yang lalu mengembangkan usaha seperti makanan ringan dan biro perjalanan.

Daya tarik SMA SPI itulah yang membuat banyak orang tua ingin menyekolahkan anaknya di sini. Pada penerimaan siswa baru angkatan pertama, tahun 2007, hanya ada 27 siswa. Mulai tahun 2012, kuota ditingkatkan menjadi 40 siswa, tetapi pendaftar mencapai 150 orang.

Penerimaan siswa juga dibantu jaringan Julianto dalam bisnis MLM yang tersebar di Indonesia. Sesuai namanya, sekolah itu bertujuan memberikan semangat dan harapan bagi anak yatim piatu dan tak mampu. SMA SPI juga mematahkan pola lama bahwa hanya anak pandai yang mendapatkan beasiswa. Jika sekolah seperti ini tersedia di banyak daerah, setiap pagi anak-anak akan berseru lantang, ”Selamat Pagi Indonesia!”

Sumber:

http://www.kaskus.co.id/thread/512aa7137e1243fa01000001/julianto-eka-putra-ajarkan-toleransi-lewat-sekolah-gratis/1

http://smaspi.blogspot.co.id/2012/06/kampoeng-kidz-julianto-eka-putras-story.html

http://hdabangherrys.blogspot.co.id/2010_11_01_archive.html

 

Sampai tahun 2011 tiap tahun sekolah ini menerima 30 anak, tahun 2012 – 2014 menerima 40 anak karena baru ada satu gedung tingkat yang menampung baik anak putra maupun putri. Tahun 2015 sekolah ini menerima 70 anak karena satu gedung tingkat baru untuk anak putri selesai dibangun. Kini menampung 142 anak dan 40 anak yang sudah lulus tapi tak tahu pulang ke kampung mau usaha apa. Ke-40 anak ini masih perlu bekal tambahan entrepreneurship.

 

?????????????

Latar belakang: Gedung bertingkat, asrama putri. Latar depan: lapangan dan fasilitas teater.

Angkatan I SMA SPI

Siswa angkatan I SMA SPI yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia dan beragama Islam, Kristen, Katolik, Hindu, dan Buddha. “Kami bersatu. Kami optimis menatap masa depan.”

 

Proporsi anak putri sekitar 55% dan anak putra 45%. Mengapa lebih banyak anak putri? Karena, lebih banyak anak putri yang melamar. Jumlah guru 23 orang. Jumlah anak yang masih bersekolah di SMA ini sebanyak 142 orang. Jumlah ini ditambah 40 anak yang telah lulus SMA tapi masih ingin memperdalam penguasaan soal entrepreneurship, soal bisnis agar lebih percaya diri merintis usaha setelah kembali ke kampung halamannya

Kriteria penilaian siswa

?????????????

Pak Didiek, wakil kepala sekolah yang kami temui dalam kunjungan singkat ini. Pak Didiek menjalani pendidikan tinggi selama 4 tahun di Solo, 2 tahun di Australia, lalu 2 tahun di Malang. Hidupnya didedikasikan untuk mendidik anak-anak bernasib kurang beruntung agar mengubah nasib masa depannya.

Menurut Pak Didiek, SMA SPI tetap melaksanakan Kurikulum 2006 (KTSP 2006). Sekolah ini kurang sepaham dengan Kurikulum 2013, khususnya soal penilaian siswa. Karena, guru dituntut menilai siswa selagi mengajar dan terlalu dibebani administrasi penilaian. Dari pengalaman mendidik siswa, sekolah ini berpendapat, menilai siswa sebaiknya menerapkan kriteria sesuai dengan tujuan sekolah ini. Penilaian pun dilakukan dalam rentang waktu yang panjang. Kriteria penilaian siswa disingkat dengan akronim PAKSA, yaitu Pray, Attitude, Knowledge, Skill, Action.

?????????????

 

?????????????

Akronim kriteria penilaian pada baju kaus: PAKSA

 

Pray: Anak dibiasakan berdoa pribadi dan bersama-sama. Tiap pagi dan malam, 2 x sehari anak-anak berdoa bersama menurut agamanya masing-masing. Ada 5 guru untuk tiap agama yang siap memberi bimbingan.

Attitude: Sikap dan nilai-nilai yang penting agar menjadi insan berkarakter.

Knowledge: Pengetahuan akademis yang dinilai dari rapor.

Skill: terutama yang penting untuk menjadi entrepreneur.

Action: Jangan suka omong tanpa tindakan. Yang penting rajin. Praktik. Kerja.

?????????????

Latar depan: Bangunan yang menampung asesori yang dibutuhkan untuk pentas teater. Sekolah ini menekankan seni drama, seni pentas teater. Banyak pentas yang menunjukkan semangat nasionalisme, cinta bangsa dan tanah air. Para siswa mengatur sendiri, menjadi koreografer aneka-pentas.

?????????????

Asesori teater

?????????????

Asesori teater

Sekolah ini menyediakan fasilitas dan pendidikan kecakapan hidup (life skills) dan entrepreneurship dalam 12 divisi usaha, antara lain:

  • Pertanian, tanam-menanam
  • Peternakan kelinci, kambing, ayam, burung
  • Perikanan: ikan lele, ikan nila, dan jenis ikan lain
  • Restoran
  • Air isi ulang
  • Pemasaran
  • Merchandise: Jual suvenir dan oleh-oleh
  • Outbound
  • Event organizer (EO)
  • Tour & travel
  • Perhotelan: penginapan

Ke-12 divisi usaha itu dimaknai sebagai Laboratorium Enterpreneuership. Menurut Pak Julianto, hadangan ekonomi atau keuangan menjadi masalah bagi siswa SMA ini bila mereka ingin melanjutkan pendidikan ke PT. Karena itu, pendidikan di SMA ini merupakan pendidikan terminal, terakhir untuk terjun ke dunia kerja. Karena itu, sekolah ini membekali siswa dengan kecakapan hidup (life skills), yaitu kemampuan untuk memenangkan kehidupan, dan entrepreneurship, yaitu kemampuan menjadi seorang pengusaha. Melalui cara ini, kata Pak Julianto, kami memiliki kerinduan uinuk bisa melihat adik-adik ini bisa membangun kehidupannya menjadi lebih baik dari sebelumnya.

Untuk keperluan PRAKTIK LIFE SKILLS dan ENTERPRENEURSHIP yang dipelajari, SMA SELAMAT PAGI mendirikan LABORATORIUM bernama KAMPOENG SUCCEZZ dan KAMPOENG KIDZ.

Melalui sarana laboratorium yang ada, para siswa bisa belajar mempraktikkan:

  1. Bagaimana menjadi customer service.
  2. Bagaimana menjadi seorang sales dan marketing.
  3. Bagaimana menjadi seorang petugas administrasi dan accounting.
  4. Bagaimana proses membangun dan mengelola sebuah kedai (kantin-tempat makan).
  5. Bagaimana menjadi seorang event organizer (EO) yang baik.
  6. Bagaimana melaksanakan hospitality (menerima tamu) melalui pengelolaan rumah tamu yang ada (guest house).
  7. Bagaimana melayani orang lain dengan baik.
  8. Bagaimana menjadi seorang team player yang baik.
  9. Bagaimana menjadi seorang supervisor yang baik.
  10. Bagaimana menjadi seorang pemimpin yang baik.

Sumber: http://www.selamatpagiindonesia.org/?module=academic&ID=5

?????????????

Tulisan pada bagian belakang baju kaus menunjukkan bahwa SMA SPI menggembleng siswa agar menjadi lulusan yang nanti mampu menjadi insan yang berguna (a valuable person) bagi masyarakat sekitarnya.

Untuk itulah, sebagai bekal hidup mereka, SMA Selamat Pagi Indonesia  memberikan fasilitas pembelajaran selain akademis juga tidak kalah penting pada pembelajaran life skills. Sebagai bagian tak terpisahakan, Yayasan menyediakan laboratorium Entrepreneurship, yaitu Transformer Center yang merupakan wadah bagi siswa-siswi SMA Selamat Pagi untuk belajar dengan model Experiential Learning.

Dalam Transformer Center ada beberapa unit usaha, yang dibangun sejak tahun 2009. Beberapa unit usaha itu, antara lain:

1. KAMPOENG KIDZ : Penyedia program edukatif untuk anak-anak.

Gambar Kampoeng Kidz

2. KAMPOENG TEENZ : Penyedia program edukatif untuk remaja.

Gambar Kampoeng Teens3. KAMPOENG SUCCEZZ : Penyedia program edukatif untuk mahasiswa dan profesional.

Gambar Kampoeng Profezzional

?????????????

 

?????????????

Baju kaus Kampoeng Kidz

3. PRODUCTION : Bidang usaha penghasil produk snack dan  minyak angin aroma teraphy.

Gambar production

4. LEARNING CENTER ACCOMODATION : Usaha penginapan untuk keluarga dan akomodasi training.

Penginapan SMA SPI

 

5. EAGLE TOUR & TRAVEL : Penyedia perjalanan wisata (tour and travel).

Eagle Tour

 

6. MERCHANDISE : Outlet penjualan suvenir dengan ribuan jenis produk lokal dan impor.

?????????????

 

7. ZPRING : Usaha air minum isi ulang dengan standar keamanan resmi.

8. RESTO : Usaha kuliner makanan tradisional Indonesia.

9. PERTANIAN & PETERNAKAN : Budidaya ternak kelinci, unggas, kambing, dan merpati serta unit usaha budidaya tanaman sehat berupa sayuran dan buah-buahan.

Anak-anak peternakan

Anak-anak pengunjung bermain dengan kelinci

Bertani SMA SPI

Menanam, menanam, dan menanam guna mencapai cita-cita ketahanan pangan nasional.

 

Berbagai macam usaha ini menjadi bagian pendidikan karakter, karena dengan berbagai kondisi dan permasalahan yang ada, dapat menjadi medan latihan yang luar biasa bagi perkembangan pengetahuan dan kepribadian siswa. Dengan didampingi langsung oleh praktisi-praktisi usaha yang selalu mendukung dan membekali siswa dalam mengoperasionalkan seluruh unit usaha mereka, membuat siswa-siswi SMA Selamat Pagi Indonesia mempunyai bekal teori maupun praktik.

Selain itu, siswa pun dididik agar peduli kepada masyarakat sekitar, terutama orang miskin di lingkungan sekitar sekolah. Dengan berbagai cara mereka terjun berbaur ke masyarakat setempat dan membantu orang yang susah. Ada ibu yang dibantu merasa terharu. Karena, anak-anak ini adalah anak yatim piatu atau anak keluarga miskin namun berhati mulia masih ingin membantu kami yang susah.

Para siswa dididik untuk memberi dari kekurangan, bukan dari kelimpahan.

 

Keceriaan di SMA SPI

Keceriaan, kegembiraan memperlancar kerja otak

 

Sumber: http://kampoengkidz.com/study-banding/

?????????????

Sari yang mengantar kami

Sari adalah siswa kelas II, muslim, berasal dari Malang. Orang tuanya masih lengkap namun tergolong keluarga kurang mampu. Ia dipanggil Pak Didiek dan diminta tolong mengantar kami berkeliling melihat kegiatan dan fasilitas sekolah ini. Seperti telah diduga, ia mengucapkan selamat pagi padahal hari sudah siang menjelang sore. Berjabat tangan dan menempelkan tangan kanan kami ke pipi. Bicaranya lancar, ceria, percaya diri. Ia bercita-cita menjadi reporter. Sering terucap dari mulutnya: “Semua ini karena kemurahan hati Tuhan.” Kata Sari, “Teman-teman dari luar Jawa pada awalnya belum mengerti bahasa Jawa. Tapi, kemudian bisa mengerti dan akhirnya bisa juga berbahasa Jawa.”

Waktu hendak berpisah, kami ingin memberi uang sekadarnya tapi ditolak dengan halus. Kemudian, kami tahu bahwa para siswa di sekolah ini dididik untuk tidak menerima uang dari orang lain. Walau berasal dari keluarga miskin, mereka dididik untuk tidak bergantung kepada pemberian orang. Harus percaya diri untuk mencari uang dengan kemampuan sendiri, melalui bekerja, melalui berwirausaha, melalui usaha berbisnis. Luar biasa!

20160116_161537

 

20160116_154707

Fasilitas kantin. Tiap anak yang datang untuk belajar dan bermain di Kampoeng Kidz, Kampoeng Teens atau Kampoeng Succezz membayar Rp 150 ribu, termasuk makan siang di kantin ini.

?????????????

Rumah produksi. Di rumah produksi ini siswa belajar antara lain membuat keripik snack dan minyak angin untuk terapi.

 

20160116_154851

 

20160116_154902

20160116_155344

20160116_154925

20160116_154920

Fasilitas budidaya burung puyuh

20160116_155333

Budidaya merpati

?????????????

 

?????????????

Budidaya anggsa dan mentok (sejenis ayam)

20160116_155243

20160116_155234

?????????????

Budidaya ayam negeri

 

20160116_155516

 

?????????????

 

?????????????

Budidaya ikan

 

?????????????

Tempat orang tua atau pengantar anak duduk santai ketika anak belajar sambil bermain

 

20160116_155105

20160116_155057

Budidaya kambing

 

20160116_155035

20160116_155031

Budidaya kelinci sekaligus menjadi ajang anak-anak pengunjung belajar memberi makan kepada kelinci dan bermain-main dengan kelinci.

20160116_154940

20160116_154937

Budidaya burung gelatik

 

?????????????

Kolam pada latar depan kiri adalah kolam yang dimanfaatkan untuk kegiatan bertualang, adventure anak-anak pengunjung yang ingin belajar sambil bermain.

20160116_160936

20160116_160932

Pertanda jalinan kerja sama dengan perusahaan. Isi tulisan ini adalah ucapan terima kasih dari anak-anak SMA SPI kepada kakak-kakak AO BCA yang menyumbang anakan pohon jambu, sebagai perwujudan cinta dan kasih sayang kepada mereka. Berharap pohon jambu ini bakal berbuah lebat dan dapat dinikmati banyak orang.

20160116_161107

20160116_155504

20160116_161318

Bercocok tanam dengan teknik pertanian organik

20160116_161002

Budidaya cendawan

20160116_162155

Kolam ikan dan kolam sebagai arena adventure (petualangan) anak-anak pengunjung

20160116_161923

Anak-anak pengunjung dapat belajar menangkap ikan

20160116_161916

Budidaya pohon buah-buahan

20160116_161709-1

Dua siswa putra: Kiri: dari Jogja. Kanan: dari Madura. Sehat, ceria, optimis menatap masa depan.

 

20160116_161612

Fasilitas rumah ibadah yang sedang dibangun. Untuk tiap agama dari 5 agama dibangun satu rumah ibadah.

 

20160116_161149

Dalam perjalanan keliling diantar Sari, kami bertemu dengan Wayan yang berasal dari Lampung, telah lulus SMA tapi masih ingin belajar lebih banyak tentang marketing (pemasaran) di sekolah ini. Sari tertawa, kok bisa ya ketemu kamu yang pakai baju kaus yang sama. Hahaha.

20160116_154833

Tempat anak-anak pengunjung belajar bercocok tanam

20160116_155758

Kedua siswa ini berpraktik melayani konsumen di Kidz Corner. Anak-anak pengunjung mengambil “uang” Kampoeng Kidz untuk membeli alat dan bahan, lalu membuat desain dan membuat karya seni dan kerajinan sendiri, seperti lukisan, bingkai lukisan, kalung dan gelang hiasan, tas, topi, dan rumah-rumahan 3 dimensi. Hasil karya ini dijual dengan harga yang ditentukan kedua siswa ini.

20160116_161801

Siswa ini menjelaskan cara dan proses mengambil “uang” Kampoeng Kidz kepada anak pengunjung, menciptakan desain atau karya buatan sendiri, lalu dijual. Kerja siswa ini dihargai dengan diberi imbalan uang yang dihitung untuk menambah tabungan Rp 100 000 – Rp 150 000 per bulan. Betapa indah belajar mencari uang untuk pemenuhan kebutuhan pribadi. Dari tabungan ini, siswa dapat mengirim uang kepada orang tua atau saudaranya ataupun mengirim ke adiknya agar bisa bersekolah di kampung halaman. Luar biasa!

 

Craft 4

Craft 3

Craft

Alat dan bahan untuk membuat desain dan karya sendiri

 

20160116_161033

20160116_161115

Anak-anak ini bermain memanen buah-buahan didampingi siswa SMA ini dan orang tua anak yang memakai topi petani.

 

Adventure di SMA SPI

20160116_161051

20160116_161048

Tempat anak-anak pengunjung belajar bertualang (adventure).

 

20160116_160745

Wishing Garden, taman harapan. Pengunjung dapat mengungkapkan harapannya di waktu mendatang atau masa depan. Siswa dan pengunjung yang beragama yang sama berdoa bersama menurut agama masing-masing agar harapan dikabulkan Tuhan.

 

20160116_160815

Agama Islam

 

20160116_160811

Agama Katolik

 

20160116_160805

Agama Hindu

 

20160116_160751

Agama Buddha

 

20160116_160757

Agama Kristen

20160116_162033

Tempat kasir

 

20160116_162030

Belajar menjual, bagaimana melayani pembeli dengan ramah.

 

20160116_160407

Kiri: Fang Fang dari Selat Panjang, sebuah pulau di Kepulauan Riau. Kanan: Clara Rima dari Blitar. Ceria, gembira, ramah, optimis. Belajar menjual, melayani konsumen. Ketika uang kembalian dibilang untuk adik saja, mereka menolak dengan halus. Belajar mencari uang dengan keringat sendiri. Tidak bergantung kepada belas kasihan orang dalam perjuangan kehidupan.

 

20160116_160335

Born to be great”. Setiap anak dilahirkan dengan potensi menjadi orang hebat. Sekolah ini menyediakan lingkungan yang mendukung perkembangan potensi anak agar mengubah nasib di masa depan.

20160116_155843

 

20160116_155902

Kae Gita yang berasal dari Sidrap, Sulawesi Selatan, belajar melayani konsumen yang ingin membeli suvenir dan oleh-oleh. Orang tua masih lengkap tapi kurang mampu secara ekonomis untuk menyekolahkan anaknya. Percaya diri untuk berjuang mengubah nasib.

 

20160116_161944

“Hall berkat” ini adalah gedung pertemuan untuk menampung kegiatan seminar, lokakarya, dan training perusahaan atau instansi apapun.

 

20160116_160927

Pak Julianto sedang berbicara memberi motivasi dalam acara di dalam gedung pertemuan ini.

 

20160116_230002

Bagian depan baju kaus sekolah ini: Selamat Pagi Indonesia. Membawa fajar semangat persatuan bangsa.

20160116_230028

20160116_230052

Bagian belakang baju kaus sekolah ini: Menjadi jembatan persatuan bangsa Indonesia dari beragam suku dan agama.

 

Pengumuman pendaftaran siswa baru lewat email dan WhAtsup

Selamat Pagi….

Tahun ajaran 2016-2017 Sekolah Gratis SMA SELAMAT PAGI INDONESIA-Kota Batu kembali membuka pendaftaran siswa baru.

Bagi rekan-rekan dapat merekomendasikan anak-Anak Yatim piatu/yatim/piatu dan tidak mampu di sekitar Anda untuk dapat mengikuti seleksi tahun ajaran ini.
Sedikit hal yang kita bisa lakukan untuk dapat ikut memastikan anak-anak bangsa yang benar-benar sangat membutuhkan pendidikan setingkat SMA, tapi hal itu akan sangat berharga bagi mereka. Kami menerima pendaftaran untuk siswa-siswi dari 5 agama dan dari berbagai daerah di Indonesia.

Sekolah gratis SMA Selamat Pagi Indonesia akan membiayai mereka dalam pendidikan berikut dengan biaya hidup di asrama Selama 3 tahun.
Informasi selengkapnya dapat menghubungi:

Didik Tri Hanggono 081233005205
Abdy Riskiyanto 085933088017
Risna amalia 081233199919
atau langsung unduh formulir pendaftarannya di www.selamatpagiindonesia.org

Graha Belajar SMA SPI.
Jl. Raya Pandanrejo No. 2 Bumiaji-Kota Batu-Jawa Timur
Telp. 0341-512743

Pentas seni teater

Sekolah ini amat menekankan pendidikan seni drama, seni pentas teater. Perlengkapan dan asesori pentas teater disediakan sekolah. Koreagrafi teater dikembangkan siswa sendiri dan penanganan teater diatur siswa sendiri. Belajar mengorganisasi dan mengembangkan kreativitas.

Pentas pesona sang garuda di SMA SPI

Pentas Pesona Sang Garuda

The Chipmunks Penampilan gerak dan lagu enerjik dan lucu

The Chipmunks: Penampilan gerak dan lagu yang enerjik dan lucu

 

My transformation pentas kisah anak-anak SMA SPI

My transformation: Pentas kisah anak-anak kurang beruntung bertransformasi di SMA SPI

 

Studi banding ke luar negeri

Anak-anak yang semula tampak bernasib kurang beruntung mendapatkan kesempatan mengubah nasib melalui pendidikan di SMA Selamat Pagi Indonesia. Sekolah ini memiliki program studi banding bagi para siswa yang memenuhi kriteria untuk mengunjungi negeri-negeri lain, seperti ke Hongkong, Makau, dan Shenzhen di China. Para siswa pun melakukan studi banding dengan menumpangi kapal pesiar terbesar di Asia, yaitu Mariner of the Seas 6 hari 5 malam, untuk mengunjungi Garden by the bay, Orchad Road di Singapura, Penang dan Langkawi di Malaysia, dan James Bond Island, Phuket di Thailand. Pada kesempatan ini siswa melakukan panjat tebing (rock climbing), bermain golf mini, bermain basket, melakukan aktivitas kebugaran fitness, berendam di kolam air panas Jacuzzi, dan makan enak (fine dinning) di atas kapal pesiar Mariner of the Seas. Kata siswa waktu makan enak di atas kapal itu, “Baru tahu bagaimana merasa seperti orang kaya.”

Rasanya seperti mimpi menjadi kenyataan. Bahkan, waktu kecil mereka pesiar ke luar negeri mungkin tak mampir dalam mimpi mereka. Meskipun demikian, di sekolah ini ditekankan:

A dream doesn’t become reality

through magic.

It takes sweat, faith, determination, hard work

and miracles.

(Sebuah mimpi tidak menjadi kenyataan melalui magi. Ia menuntut keringat, iman, ketekunan, kerja keras, dan mujizat).

Kunjungan luar negeri akan membuka wawasan siswa dan diberi peluang mengaati bagaimana kenyataan hidup di negeri orang.

 

Studi banding ke luar negeri SMA SPI 3

Studi banding ke luar negeri SMA SPI 2

Studi banding ke luar negeri SMA SPI 1

 

Studi banding ke luar negeri SMA SPI 4

Dunia tidak selebar daun kelor. Peluang bisnis terbuka lebar asalkan kita jeli membaca dan memanfaatkan peluang.

Amati video

Inilah gambar 5 siswa SMA Selamat Pagi Indonesia yang kami ambil dari Video Our Story – SMA Selamat Pagi Indonesia (Official Video).

 

Ona dari Maluku SMA SPI

“Saya Ona. Saya berasal dari Maluku. Sejak saya lahir sampai sekarang ini, saya belum pernah melihat wajah ayah saya. Ayah saya sudah meninggal.”

Fatkha dari Jombang SMA SPI

“Saya Fatkha dari Jombang. Sejak ibu saya meninggal, saya terpaksa menjadi pembantu rumah tangga. Supaya saya tetap bisa bersekolah.”

Olfa dari Poso SMA SPI

“Saya Olfa dari Poso. Saat kerusuhan itu terjadi di tanah saya, saya merasa sangat takut. Sejak saat itu, saya mengalami trauma yang sangat dalam. Saat saya berusia 13 tahun, saat itulah ayah saya dipanggil Tuhan.”

Keller dari Papua SMA SPI

“Saya Keller dari Papua. Untuk bisa ke sekolah, saya harus berlari melewati enam sungai dan tiga gunung dan pernah dikejar macan.”

Ien dari Medan SMA SPI

“Saya Ien dari Medan. Orang tua saya sudah tidak ada. Sekarang saya tidak punya siapa-siapa lagi.”

Guna mengenal lebih jauh tentang SMA yang fenomenal ini, bagaimana rasanya menjadi siswa di sekolah ini, dan pengalaman mereka, amatilah video berikut ini:

Our Story – SMA Selamat Pagi Indonesia (Official Video). Klik: https://www.youtube.com/watch?v=fpxWEmSfcZM

Our Story 2015 (SMA Selamat Pagi Indonesia). Klik: https://www.youtube.com/watch?v=c9feXmlsU4k

SMA Selamat Pagi Indonesia Explore with Mariner of The Seas – Transformer Center. Klik: https://www.youtube.com/watch?v=Yv8GwiV-X9M

The Kitchen of Kampoeng Kidz – Transformer Center. Klik: https://www.youtube.com/watch?v=0eEPWcs8D7k

.

Advertorial

Logo CV Sano

CV SANO, Jatibening, Bekasi telah memproduksi dan menjual 4 produk sirup herbal ke seluruh Indonesia dan bahkan Malaysia.

Dari Sano ke Xanthi

Sano mampu menyembuhkan sekitar 50 penyakit (harga per botol 125 mili Rp 60 ribu dari kami sebagai produsen untuk 30 sendok makan atau konsumsi 30 hari; tiap hari hanya 1 sendok makan), Fides sekitar 70 penyakit (Rp 75 ribu), VCO Plus (Rp 85 ribu)  dan Xanthi (Rp 85 ribu) masing-masing sekitar 100 penyakit. Harga pada tingkat agen dinaikkan untuk menutupi ongkos kirim dan kurir, biaya promosi, dan sedikit keuntungan dari jasa melayani konsumen.

Ekstrak kulit manggis kombinasi - Copy

.

Kartu nama Yuni Juli 2015

Iklan

Kelemahan struktural Kurikulum 2013: Kritik kami di Tweeter & Facebook

Desember 8, 2014

Pagi ini, hari Minggu 7 Desember 2014  kami berkicau di Tweeter (S Belen @sbelen07) dan menerbitkan kicauan itu di Facebook (S Belen). Seperti biasa, kicauan dan posting kami sering disertai gambar. Perkenankan membaca kicauan dan posting kami itu serta komentar teman-teman dan tanggapan kami di Facebook.

.
Kicauan 1: Kurikulum 2013 terburuk selama kita merdeka. Kurikulum 1947 terbaik, berbasis konsep sekolah kerja ‪#‎Kurikulum2013‬

.

Sejarah Kurikulum SD

.

Komentar Karim Karhami: Pak mungkin perlu dipisahkan antara konsepsi dan implementasi kur 2013. Seingat saya, kur 2013 memaksa semua guru untuk mengajar dengan pendekatan 5 M/ penilaian otentik, dan bermuara pada prilaku (KI1 dan KI2)

.

Tanggapan kami: Pak Karim Karhami, kritik kami justru terfokus ke masalah dalam konsepsi Kurikulum 2013 yang bertentangan dengan dalil-dalil pengembangan kurikulum yang dianut negara-negara di dunia ini. Yang menyusun penilaian otentik itu tampaknya tidak pernah mengajar sehingga tidak tahu bagaimana guru bingung menilai berdasarkan observasi, penilaian diri dan penilaian antar-teman, dan jurnal. Adakah literatur di dunia pendidikan yang mendukung cara menilai begitu? Guru siapa yang bisa menilai sambil membuat catatan dalam mengajar. Fokus konsentrasi terbelah. Lihat saja pengisian rapor membuat guru bingung dan akhirnya nipu-nipu.

.

Komentar Karim Karhami: Kalau saya berpendapat begini pak Belen, semua kebijakan Diknas sejak dulu sampai sekarang termasuk kebijakan kur. 1947, pasti ada bolongnya. Menyikapi ini, praktisi pendidikan perlu memandang ;’gagasan besarnya’ dan tidak usah mengamati pernik kecil-kecilnya yang tentu saja, ada yang menyesakkan dada kita, mantan pengembang kurikuum. Seperti kita ketahui, ada tiga jenis guru, guru 1: those who can explain well, guru 2: those who can either explain well or demonstrate well, guru 3: those who can both explain well, demonstrate well, and inspire children. Guru 3 ini adalah guru profesional yang tidak either mengembalikan kebijakan yang ‘bolong; ke pusat or ‘menyalahkan pusat’. tetapi mereka menambal sendiri yang bolong itu. Mungkin termasuk kita, mantan pengembang kurikulum perlu memberi solusi yang tidak meresahkan guru. Apa pun lemahnya, kur 2013, ada positif nya, seperti kurikulum 2013 memaksa semua mapel untuk bermuara pada pengembangan sikap dan prilaku positif siswa.yang diiejawantahkan dalam KI1 dan KI2.

.

Tanggapan kami: Pak Karim, please read my posting entitled https://sbelen.wordpress.com/…/analisis-swot-kurikulum…/ Di situ saya berikan solusi bagaimana guru dan kepala sekolah mensiasati kelemahan Kurikulum 2013 dalam implementasi. Solusi inilah yang saya ajak guru dan kepala sekolah berdiskusi dan melakukan kegiatan-kegiatan belajar aktif, kegiatan kewirausahaan, dan bagaimana melakukan penilaian otentik dalam pengataran dan pengembangan sekolah model di daerah-daerah. Energi saya tak perlu terkuras bila Kurikulum 2013 itu sudah benar ideologinya. Kurikulum ini lahir tanpa ideologi, tanpa passion meraih cita-cita menjadi bangsa besar di masa depan.

.

Kicauan 2: Kurikulum 2013 kurikulum terpadat membebani siswa & guru. Sulit kembangkan kreativitas.Thank u Mendikbud ‪#‎Kurikulum2013‬

.

Kreativitas dan otak

.

Kicauan 3: Dunia: Finlandia jampel per minggu terendah,prestasi siswa ngetop, Indonesia tertinggi, prestasi anjlok ‪#‎Kurikulum2013‬

.
Struktur KTSP 2006 dan Kurikulum 2013 SMP
.
Kicauan 4: Dunia: Finlandia jampel per minggu terendah,prestasi siswa ngetop, Indonesia tertinggi, prestasi anjlok ‪#‎Kurikulum2013‬
.
Struktur KTSP 2006 dan Kurikulum 2013 SD
.
.

Kicauan 5: Dunia: Finlandia jampel per minggu terendah, prestasi siswa ngetop, Indonesia tertinggi, prestasi anjlok ‪#‎Kurikulum2013‬
.
Struktur program Kurikulum 2013 SMA & SMK
.
.

Komentar M Dominggus: Harap mengerti saja karena kita kan : “Banyak bicara sedikit yang dihasilkan”, sedangkan Finlandia : “Sedikit berbicara namun banyak yang dihasilkan.” Haaa… haaa…
.
Kicauan 6: Saya tatar Kurikulum 2013 sambil kritik kelemahan & beri guru solusi. Syukur K 13 dihentikan. Bacalah: https://sbelen.wordpress.com/2014/01/16/analisis-swot-kurikulum-2013-semua-jenjang-solusi-kita/
.
Analisis SWOT Kurikulum 2013
.
Komentar Karim Karhami: Pak, yang saya baca, kur 2013 tidak dihentikan lho hanya ditunda setelah guru siap

.
Kicauan 7: Kurikulum 2013 paling kontroversial selama Indonesia merdeka. Mengapa? Ditangani orang bukan ahlinya ‪#‎Kurikulum2013‬
.
Analisis SWOT Kurikulum 2013 dan solusi kita
.
Komentar Hilda Karli:  Pak Belen… Dua tabel mohon penjelasannya…. Ya..trims
.
Tanggapan kami: Dua tabel ini menunjukkan bertambahnya jam pelajaran per minggu dari Kurikulum KTSP 2006 ke Kurikulum 2013. IPA dan IPS diintegrasikan ke Bahasa Indonesia dan PPKn di kelas I – III. Penambahan jam pelajaran Agama dan Budi Pekerti serta PPKn dan Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan mengakibatkan hilangnya muatan lokal dan pengembangan diri dalam kurikulum. Dampaknya bahasa daerah, bahasa Inggris, teknologi inforrmasi dan komunikasi (TIK) yang biasanya diambil dari jam muatan lokal tidak mendapatkan tempat. Penambahan waktu ini mengakibatkan siswa di sekolah lebih lama. Ditambah kegiatan ekskul dll bisa pulang sore. Lalu, siswa makan di mana? Di kantin atau warung dekat sekolah. Apakah makanannya sehat? Juga, sekolah 5 hari, Sabtu libur sulit diterapkan. Jam pelajaran per minggu di Finlandia terendah di dunia tapi prestasi siswanya di papan atas dalam tes2 internasional. Less is more prinsipnya. Waktu sedikit tapi prestasi siswa bagus sekali. Prinsip pengembang Kurikulum 2013 adalah more but less. Waktu banyak tapi prestasi siswa rendah.
.
Komentar Hilda Karli:  Trima kasih penjelasannya… Pak Belen. Saya sudah baca buku sejarah kurikulum…bagus tulisannya….Jempol… Apakah ada buku baru lagi?
.
Tanggapan kami: Mbak Hilda Karli, baca di mana? Apakah buku itu sudah diterbitkan Pusat Kurikulum? Kalau Pusat Kurikulum tidak kunjung terbitkan ada niat akan saya upload ke blog saya. Terima kasih.
.
Komentar Hilda Karli: Saya sedang kuliah… Jadi saya baca di perpustakaan kampus…
.
Komentar Karim Karhami: Keputusan menteri bukan kur 2013 dibatalkan tetapi ditunda setelah guru siap (siap buku dan siap kemampuan). Kelebihan kur 2013 adalah agar semua mapel bermuara pada sikap dan prilaku yang membangun kultur global (tepat waktu, tidak biasa melanggar aturan, biasa makan habis, biasa mendengarkan sewaktu orang bicara dan baru bicara setelah orang selesai berbicara, biasa berpikir kritis dan berkarya kreatif dll). Kita perlu refleksi untuk juga mengidentifikasi keunggulan kur. 2013. Wass
.
Tanggapan kami: Pak Karim Karhami, Yang saya persoalkan itu bukan masalah implementasi tapi masalah struktural dalam dokumen kurikulum: Penentuan mata pelajaran dan alokasi tanpa mempertimbangkan kondisi lapangan, 4 kompetensi inti yang berakibat overdosis, pemaksaan nilai-nilai agama dan nilai-nilai karakter pada semua kompetensi dasar serta pemisahan mencari pengetahuan di semester 1 dan aplikasinya di semester 2. Rumusan kompetensi dasar (KD) juga memalukan karena dalam Biologi misalnya konsep yang menyangkut tumbuhan, hewan, dan manusia disatukan dalam hanya 1 KD. Beberapa konsep ‘besar’ IPA misalnya disatukan dalam 1 KD. Ini berdampak kurikulum 2013 jadi terlalu padat. Dari mana waktu diambil untuk mengajarkan segunung KD itu? Juga, pendidikan karakter lebih efektif melalui proses peneladanan dan pembiasaan, bukan overdosis pemaksanaan penerapan pada tiap KD.
.
Komentar Karim Karhami: Ya pak kalau kita kaji komponen kurikulum 2013, termasuk KD terdapat kelemahan tetapi gagasan besarnya, saya pikir, pas dengan kebutuhan Indonesia masa depan: terutama dalam kurun wakktu 2015 sd 2045 (100 tahun Indonesia merdeka)
.
Tanggapan kami: Pak Karim, sudah saya kaji seluruh dokumen Kurikulum 2013 dan tidak menemukan gagasan besar yang khas kurikulum ini. Apakah belajar aktif (active learning)? Bukankah ini juga sudah ada di KTSP 2006 dan ke belakang, Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) 2003, Kurikulum 1994, dan Kurikulum 1984? Apakah pendidikan karakter? Kan dengan mengingtegrasikan 18 nilai karakter dalam KD yang relevan sudah dilakukan guru sejak 2010? Lalu, yang lebih penting adalah pembinaan karakter melalui proses peneladanan dan pembiasaan, bukan pembelajaran. Finlandia maju, Singapura maju, Jepang maju, Korea Selatan maju tidak dengan menekankan berlebihan integrasi nilai-nilai karakter dalam pembelajaran. Mengpa pengembangan diri yang memberi peluang konselor berjumpa dengan siswa dihilangkan? Kalau Kurikulum 2013 menyiapkan generasi muda menyongsong persaingan global, mengapa mata pelajaran Teknologi dan Informasi Pendidikan dihilangkan? Mengapa tidak ada pelajaran bahasa Inggris di SD? Mengapa tidak ada bahasa asing kedua selain bahasa Inggris di SMA jurusan IPA dan IPS? Bahasa Jepang, Jerman, Prancis, Mandarin tidak mendapatkan alokasi waktu. Mengapa kewirausahaan tidak dimulai dari SD dan di SD, SMP, dan SMA kewirausahaan tidak didukung mata-mata pelajaran lain?
.
Kicauan 8: Mengapa terjadi musibah lumpur Lapindo? Mengapa Kurikulum 2013 terburuk? Ditangani orang yang bukan ahlinya. ‪#‎Kurikulum2013‬
.
Analisis SWOT Kurikulum 2013 dan solusi kita
.

Kicauan 9: Kurikulum 2013 eksperimen pendidikan paling konyol, habiskan uang rakyat milyaran, trilyun rupiah ‪#‎Kurikulum2013‬

.
Analisis SWOT Kurikulum 2013 dan solusi kita
.
Komentar Ridwan Ried: pak, kira2 ke depannya K13 ini gmn ya? kan skrg masih diujicobakan, terutama pd sekolah yg telah menggunakannya 3 semester, sementara sekolah yg baru menggunakannya 1 semester maka otomatis dihentikan dan beralih ke KTSP…

.
Tanggapan kami: Dear Pak Ridwan Ried, Perkiraan saya 6 ribuan sekolah yang melaksanakan Kurikulum 2013 itu dibiarkan jalan terus agar guru tidak resah. Lalu implementasi itu dievaluasi dan kurikulum diperbaiki. Dari pengalaman saya ubah 1 mapel saja akan mengubah seluruh bangunan kurikulum. Karena itu, K 13 bakal dikuburkan. Lebih mungkin perbaikan KTSP dengan mengambil unsur baik dari K 13 seperti penilaian otentik, mapel Prakarya dan Kewirausahaan, tematik SD kelas I – VI. Penjelasan Mendikbud itu bahasa politis dengan kata lain K 13 dikuburkan. Kan S 3 Mendikbud itu bidang politik. Bahasa yang dipakai bahasa politis. Apalagi beliau kan orang Jawa. Ngono ya ngono mbok ya ojo ngono. Kurikikulum 2013 ya Kurikulum 2013 mbok ya ojo Kurikulum 2013. He he he. Boso Jawaku rusak.
.
Komentar Muhammad Hamka: Tumben, kali ini Pak Belen analisisnya kurang cerdas.
.
Tanggapan kami: Pak Muhammad Hamka, analisis yang mana yang kurang cerdas? He he he. Posting di blog tentang Analisis SWOT Kurikulum 2013 itu komprehensif, lengkap.
.
Kicauan 10: Waktu susun Kurikulum 2013 orang Puskur berdoa kurikulum tak jadi dilaksanakan. Akhirnya doa terkabul ‪#‎Kurikulum2013‬
.
Analisis SWOT Kurikulum 2013 dan solusi kita
.
Info: Dalam talkshow di Kompas TV Minggu 7 Desember 2014, kicauan kami ini ditampilkan di layar bersama kicauan lain dari kepala sekolah, guru, siswa.

.
Komentar Budijuwono: Ya setuju pak. Proficiaat…saya dari awal dgn kurikulum 13 sdh merupakan kurikulum sial
.
Pagi ini, hari Senin 8 Desember 2014, kami teruskan kicauan.
.
Kicauan 11: Dampak 4 Kompetensi Inti: overdosis agamaisasi, karakterisasi, pengetahuan & aplikasi. Keliru terapkan konsep manusia seutuhnya. ‪#‎Kurikulum2013‬
.
4 kompetensi ini Kurikulum 2013
Kicauan 12: Gara-gara 4 kompetensi inti dipaksakan, Kurikulum 2013 jadi kurikulum terpadat selama kita merdeka. ‪#‎Kurikulum2013‬
.
4 kompetensi ini Kurikulum 2013

Komentar Karim Karhami: Pak, bukankah 4 KI ini perintah UUSPN No. 2003. Ini kan landasan hukumnya.

.
Tanggapan kami: Benar itu landasan hukumnya tapi dalam penerapannya tidak perlu memaksakan ke semua kompetensi dasar tiap mata pelajaran. Itu kan berlebihan, overdosis. Bukankah penjabaran seperti ini hanya mengulangi kekeliruan Kurikulum 1975 yang menjabarkan nilai-nilai manusia seutuhnya sehingga kurikulum ini menjadi padat?
.
Komentar Mario Josef: Bila kita semua mendisposisikan Kurikulum Tahun 2006 secara bijak, mendalam, kreatif, sungguh-sungguh dikawal dan terus didalami, dievaluasi secara mendasar, maka kita tidak main uji coba kurikulum. Tak mungkin 4 kompetensi itu tidak terdapat dalam kurikulum. Kompetensi itu akan berubah kalau ideologi bangsa ini diubah. Peradaban suatu bangsa itu baru berkarakter kalau seluruh bangsa tahu lewat hukum sosial kita bagaimana beradab. Jika seluruh masyarakat itu sudah jadi guru maka kompetensi yang akan direalisasi dalam kurikulum akan terwujud sempurna. Semakin merumitkan kerja kurikulum semakin rumit pula pengejawantahannya. Makasih Pak Belen!!
.
Kicauan 13: Hanya terjadi di Indonesia, buku pelajaran terbit baru Puskur disuruh revisi silabus. Logika terbalik ‪#‎Kurikulum2013‬
.
proxy
.
Kicuan 14: Hanya terjadi di Indonesia, penulis buku pelajaran pemerintah bisa selesaikan naskah dalam 1 bulan. ‪#‎Kurikulum2013‬
.
proxy
 .
Komentar Hilda Karli: Oleh karena itu isi buku tidak berurutan… Terutama konsep matematika lalu contoh yang diulang-ulang…  di berbagai tema. Keterbacaan tidak sesuai dengan perkembangan anak.
.
Komentar Karim Karhami: Kalau kita cara kerja Isaac Asimov, penulis buku non-fiksi terkenal itu, dia bisa menyelesaikan satu buku yang berkualitas tidak sampai 1 minggu
.
Tanggapan kami: Kalau kebiasaan saya menulis buku pelajaran, penulisan naskah 1 tahun dan revisi bersama editor sebelum naik ke percetakan 1 tahun. Menulis buku pelajaran tidak boleh sembarangan karena apa yang tertulis dalam buku pelajaran akan mempengaruhi anak sampai 40 tahun ke depan, bahkan sepanjang hidupnya.
.
Komentar Hilda Karli: Betul…apalagi penulisannya dalam bentuk tim jadi ada beberapa orang yang punya anggapan beda yang perlu disatukan dulu dalam bentuk tim rencana ato kerangka penulisan dulu …setelah setiap orang selesai menulis harus ada satu orang yang bertnggung jawab penuh pada penulisannya agar kesinambungan materi, tingkat kesulitan, dan keterbacaan serta contoh menjadi satu kesatuan yang utuh untuk diterima siswa. Baru diedit oleh editor sehingga meminimalisasi kesalahan.
.
Komentar Joko Sutrisno: Alhamdulillah….peran editor masih diperhitungkan….
.
Kicauan 15: Hanya terjadi di Indonesia, anak SD boleh menulis di buku pelajaran. Tahun depan cetak lagi. Proyek! ‪#‎Kurikulum2013‬
.
proxy
.
Kicauan 16: Siklus hidup buku pelajaran Inggris, AS, Finlandia, Singapura 5 tahun. Indonesia 1 tahun. Kaya amat! ‪#‎Kurikulum2013‬
.
proxy
 Komentar Kang Maman Sutarman: Punyakah catatan untuk Pendidikan Agama ? Saya tunggu! Trims
.
Komentar Julius Juih: Ini yang unik untungnya perjanjian penulis bukan dibayar dengan royalti.
.
Kicauan 17: Hanya di Indonesia tema2 tematik SD ditentukan Pusat. Di negara2 lain ditentukan guru sesuai konteks ‪#‎Kurikulum2013‬
.
Contoh tema Kurikulum 2013
.
Komentar Joko Sutrisno: Bukan hanya tema Pak, tapi Subtema juga
.
Komentar Alif Ida: Dulu diserahkan sekolah juga gak jalan pak…
.
Tanggapan kami: Dear Alif Ida, Sebenarnya guru sudah bersentuhan dengan cara mengembangkan dan melaksanakan pembelajaran tematik sejak Kurikulum Berbasis Kompetensi (2003) dan kemudian pada KTSP 2006. Jadi pengalaman guru sudah sekitar 11 tahun. Walaupun di sana-sini ada guru yang tak mampu karena suka copy-paste, tapi ada juga guru yang telah mampu mengembangkan dan melaksanakannya. Kurang bijak jika ada guru yang tak mampu, mendikbud malah menarik pengembangan silabus ke Pusat. Padahal di berbagai negara sudah jadi tradisi guru mengembangkan silabus sesuai dengan konteks yang dihadapi.
.
Komentar Debora Dapamerang: Pak Belen, kami sedang lakukan di Maumere pak, tematik sesuai konteks’namanya Pendidikan kontekstual dengan spirit Kulababong. Rencana tanggal 12 Desember buku dengan judul Tunas Karakter Nusantara dari Nian Sikka untuk pendidikan Indonesia akan di-launching. Buku ini dibuat oleh 60 guru di Sikka. Semua tema yang dihasilkan sesuai konteks lokal.
.
Tanggapan kami: Dear Debora Dapamerang. Oih Salam jumpa. Dari Poso, ke mana, kok sekarang mendarat di Maumere? Apa yang dilakukan Debora dkk. di Maumere itu yang paling tepat. Memberdayakan guru, bukan menarik pembuatan silabus ke Pusat yang melanggengkan penyeragaman. Indonesia ini beranekaragam. Ada yang tinggal di tepi pantai, ada yang di atas gunung. Ada yang tinggal di kota besar, kota kecil dan ada yang tinggal di desa, dusun, bahkan kampung terpencil di pulau-pulau kecil. Tak masuk akal jika tema-tema ditentukan dari Pusat.
.
Komenar Debora Dapamerang: Bapak ke Maumere kah? Sekalian kunjungan ke sekolah yang sudah jadi pak. Saya di Maumere sudah 2 tahun lebih pak. Pengen bangun pendidikan di kampung halaman pak. Salam dari Maumere.
.
Komentar Alif Ida: Dear Pak S Belen, Betul apa yang Bapak sampaikan. Tapi kami memaknai silabus dan buku tematik terpusat sebagai contoh minimal yang bisa dikembangkan. Saya menemani guru di lapangan lebih dari 10 tahun…. Fakta menunjukkan betapa berat guru mengelola tematik. Dari merancang, menyajikan hingga menilai. Kalau pun ada yang merancang hingga menyajikan serta mampu mengelola bahan ajar tematik itu tidak lebih dari 20%.  Sepanjang contoh buku yang disediakan pemerintah berbasis learning by doing, joyful learning… selayaknya sangat diapresiasi pak. O ya pak Belen.. kita pernah jadi narsum bersama di MA Matholiul Falah dan SMPN2 Pati sekian tahun yll….
.
Kicauan 18: Integrasi IPA ke Bahasa Indonesia: IPA sastra, bukan IPA berdasar observasi, penyelidikan, eksperimen ‪#‎Kurikulum2013‬
.
Struktur KTSP 2006 dan Kurikulum 2013 SD
 .
Komentar Karim Karhami: Integrasi IPA ke Bahasa Indonesia, bisa saja seperti ini: anak membuat komik tanya jawab tentang suatu objek. Setelah itu dipresentasikan. Tanya jawabnya dapat mengarah pada penelitian IPA seperti mengajukan pertanyaan produktif, ‘Berapa helai mahkota bunga alamanda?’. Lalu pertanyaan diteruskan, ‘apakah jumlah mahkota bunga alamanda dalam satu pohon selalu sama?’, apakah jumlah mahkota bunga alamanda yang berbeda pohon selalu sama? Lalu, ‘apakah jumlah mahkota bunga alamanda selalu sama dengan mahkota bunga kembang sepatu?’ Setelah itu, anak didorong melakukan penelitian langsung dan menyusun laporan berdasarkan hasil temuannya. Dengan cara, ini, integrasi IPA ke Bahasa Indonesia tidak menjadi IPA sastera. Kegiatan yang mengembangkan keterampilan proses tetap dapat dilakukan. Karena realita sehari-hari, tidak adda mata pelajaran yang berdiri sendiri. Lalu, kalau menjadi IPA sastera, apa salahnya? Maaf pak Belen ini saya nsampaikan sebagai mantan pengembang kurikulum IPA.
.
Tanggapan kami: Pak Karim, apakah yang Pak jelaskan itu tercantum dalam Buku tematik menyangkut Bahasa Indonesia terbitan Kemdikbud? Kalau tidak ada di buku, mana ada guru yang mau bersusah payah menggiring anak melakukan penelitian langsung?
.
Tanggapan Karim Karhami: Maksud saya begini Pak Belen, kita perlu melatih guru untuk berpikir positif, sehingga tidak berpikir masalah terus-menerus, harapannya supaya guru mampu merubah pola pikir dari pola pikir ‘selalu tidak bisa dan bermasalah’ ke pola pikir baru ‘selalu bisa dan semua masalah pasti bisa dipecahkan’ termasuk permasalahan tentang implementasi kurikulum 2013 seperti tentang buku, tentang perumusan KD, tentang penilaian otentik, dan permasalahan lainnya. Mereka harus menjadi guru profesional, those who can overcome all professional teacher problem yang diawali dengan berpikir ‘tidak ada masalah dan kalau ada masalah pasti bisa dipecahkan’.
.
Kicauan 19: Integrasi IPS ke Bahasa Indonesia: IPS sastra, bukan IPS berdasar observasi, penyelidikan, penelitian ‪#‎Kurikulum2013‬
.
Struktur KTSP 2006 dan Kurikulum 2013 SD
.
Komentar Hilda Karli: Jadi menggunakan konsep apa Pak Belen?
.
Tanggapan kami: Seharusnya untuk SD kelas I – VI disusun dulu kurikulum mata pelajaran IPA dan IPS serta mata-mata pelajaran secara terpisah. Kemudian, gurulah yang memilih tema dan mengaitkan kompetensi dasar (KD) berbagai mata pelajaran dengan tema itu. Keliru langkah yang ditempuh pengembang Kurikulum 2013: merumuskan KD IPA dan IPS lalu mengintegrasikannya ke dalam kurikulum Bahasa Indonesia (dan PPKn). Nah, konsep-konsep IPA dan IPS yang dipilih sesuai tema diambil dari kurikulum Bahasa Indonesia dan PPKn. Periksa buku pelajarannya. Anak diminta membaca tentang menanam pohon dan mencangkok, bukan dilatih menanam dan mencangkok lalu membuat laporan. Laporan itulah yang seharusnya dibaca sebagai bahan bacaan Bahasa Indonesia. Di dunia ini tak ada negara yang membuat kekeliruan fatal seperti itu. Hal ini berlaku juga untuk pembelajaran IPS. Fatal lagi, di rapor SD dicantumkan nilai menurut tema, bukan menurut mata pelajaran. Padahal, seharusnya penilaian dilakukan per mata pelajaran. Pembelajarannya tematik tapi bila tiba waktu penilaian harus kembali ke mata pelajaran. Inilah bermin cara kerja acak kadut, terburu-buru. Tidak mengerti, tidak tahu seluk-beluk praktik di lapangan. Hanya berandai-andai. Tidak heran begitu gencar kritik terhadap Kurikulum 2013.
.
Komentar Karim Karhami: Maaf pak Belen saya berbeda, ‘Membaca cara menanam pohon dan mencangkok’ tidak salah, bergantung kompetensi yang ingin dicapai. Pada kegiatan ini, mungkin siswa hanya dituntut ‘speed reading’ atau ‘membaca pemahaman’. Bisa juga, setelah membaca siswa diminta membuat tulisan berdasarkan pengalamannya dan pemahamannya ttg cara menanam dan mencangkok pohon. Lalu siswa diminta membandingkan tuisannya dengan tuisan yang ada dalam buku teks. Sebenarnya tidak semua ahli mengeritik kurikuum 2013, ada juga ahli pendidikan yang mendukung termasuk pak DR. CIpto, ketua UIK dari UNJ
.
Tanggapan kami: Hello, Pak Karim Karhami. Serius amat sih. He he he. Masih ingatkah Pak Karim diskusi kita di tengah kedinginan kota London tahun 1992. Waktu itu kan Pak Karim banyak bahas tentang bagaimana mendidik siswa sejak dini menjadi young scientist sesuai dengan tesis S2 Pak di Intitute of Education University of London. Kan waktu itu kita sama-sama sepakat bahwa sejak anak TK dan SD kelas-kelas awal perlu berimjainasi, berkreasi, mencoba berbagai kegiatan IPA secara langsung. Bukankah itu praktik keseharian anak-anak TK dan SD di Inggris? Dalam Kurikulum 2013, fatalnya anak-anak tidak diarahkan mencoba dan mencoba, bahkan berteori beredasarkan percobaannya tapi membaca cerita tentang menanam pohon dan mencangkok. Mengapa sekarang Pak Karim tak memperjuangkan pendekatan pembelajaran aktif untuk menumbuhkembangkan young scientist? Bagaimana mungkin membuat anak menjadi scientist melalui membaca cerita. Ini yang kunamakan IPA sastra. He he he
.
Komentar Hilda Karli: Terima asih penjelasannya Pak Belen
.
Komentar Mario Josef: Lima jam seminggu untuk Matematika dan Bahasa Indonesia untuk SD sangat mengagumkan karena logika bahasa dan matematika itu sama untuk membangun kekritisan, tetapi bahasa membangun kehalusan jiwa, sedangkan matematika untuk membuat anak itu sakelijk-pasti-tidak terombang-ambing, benar ya benar, salah ya salah. Maksih Pak Belen!!
.
Tanggapan kami: Dear Mario Yosef, Setuju 5 jam untuk Matematika dan Bahasa Indonesia di SD sesuai KTSP 2006. Tidak perlu menambah jam untuk kedua mata pelajaran ini secara berlebihan.
.
Komentar Julius Juih: Makasih Pak Senior saya. Kalau saya sebagai penulis Seni Budaya membaca Kurikulum 2013 untuk SD mulai dengan KD ke-4 sehingga pasti dengan aktivitas berkesenian konsep tentang seni akan mudah dipahami karena mengalami secara langsung. KD3 tercapai, belajar aktif pasti terlaksana dan bukan seperti belajar IPA Sastra, tapi saya di Seni Budaya juga kecewa adanya Permendikbud 104 Tahun 2014 ada non-autentik yang ini kurang tepat pada seni budaya selain SMK seni.
.

SMK Pertanian St Pius X Bitauni, Insana di Timor: Model sekolah berasrama yang nyaris gratis

Agustus 22, 2014

Sekolah berasrama termurah di tanah air berkat unit produksi yang sukses

Jalan menuju Gua Maria Bitauni

Jalan masuk menuju Sekolah Menengah Kejuruan Pertanian Bitauni, Insana, Timor

 

Kamis subuh, 30 Juli 2014 saya dan istri terbang dari Jakarta, transit di Bandara Juanda Surabaya, dan melanjutkan penerbangan ke Kupang. Dari Kupang kami menuju Nenuk, 10 km sebelum Kota Atambua, ibu kota Kabupaten Belu (yang berbatasan dengan Timor Leste) untuk berpartisipasi dalam seminar Pendidikan yang dihadiri uskup, para imam, dan pengurus yayasan persekolahan Katolik Keuskupan Atambua. Keuskupan ini meliputi 3 kabupaten, yaitu Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Kabupaten Belu, dan kabupaten pemekaran yang baru, yaitu Kabupaten Malaka. Dalam perjalanan ini kami singgah untuk mengunjungi SMK Pertanian Pius X di Bitauni, Kiupukan, Insana, Kabupaten TTU, sekitar 23 km selepas Kota Kefamenanu, ibu kota Kabupaten TTU ke arah Atambua.

Mengapa kami mengunjungi SMK Pertanian berasrama ini? Dalam benak kami, menjelang presentasi dalam seminar pendidikan pada 31 Juli di Nenuk, kami akan menyampaikan pentingnya mempertahankan, menambah, dan meningkatkan pendidikan sekolah berasrama di tanah Timor khususnya dan NTT umumnya. Mengapa? Sekolah berasrama seperti seminari, SMP, SMA, dan SPG berasrama di tanah Timor sejak dimulainya pendidikan missi telah terbukti mampu meningkatkan mutu dan relevansi pendidikan. Yang lebih penting lagi adalah sekolah berasrama mampu menumbuhkembangkan nilai-nilai pendidikan karakter yang tangguh, tahan banting, dan pantang menyerah sebagai bekal lulusan melanjutkan pendidikan dan berkiprah dalam kehidupan profesi dan bermasyarakat.

Sekolah berasrama di Timor khususnya dan NTT umumnya telah terbukti menjadi pintu mobilitas sosial individu dan menjadi agen perubahan masyarakat Timor dan NTT.  Tak terbayangkan ketertinggalan masyarakat Timor dan NTT tanpa eksistensi sekolah berasrama.

Di sekolah berasrama selama 24 jam tiap hari pendidikan anak berlangsung. Disiplin belajar, kemahiran menggunakan waktu, kemandirian mencuci dan menyeterika pakaian, bekerja tangan (opus manuale) menyapu dan mengepel sekolah dan asrama, membersihkan kamar mandi, toilet, dan got, menyiangi rerumputan, menanam dan menyirami tanaman, bahkan menggunting rambut. Waktu mengikuti ibadah, pelajaran, makan, istirahat dan tidur, studi mandiri, berolahraga dan bekerja tangan, berlatih bakat bermain musik, berolah vokal, melukis, membuat patung dan kerajinan tangan, bermain drama, menanam dan memelihara tanaman, membudidayakan unggas dan ternak telah diatur mengikuti jadwal yang ketat. Pada jam studi mandiri diterapkan aturan silentium yang keras (harus diam, tenang, tidak boleh berisik) sehingga ibarat bila ada jarum yang jatuh ke lantai pasti terdengar bunyinya.

Pola asuh seperti ini hanya bisa dilakukan di oase “keluarga buatan” yang bernama sekolah berasrama. Dukungan aktivitas belajar dan pendidikan karakter siswa belum mampu dilakukan orang tua dalam keluarga secara baik dan benar. Kamar belajar siswa yang tenang dan dilengkapi meja belajar dan pencahayaan yang memadai (listrik) umumnya belum mampu disediakan orang tua baik di pedesaan maupun di perkotaan. Pengaturan waktu belajar dan istirahat siswa serta aktivitas olahraga dan bermain sulit disinkronkan dengan aktivitas orang tua, keluarga, dan lingkungan masyarakat setempat.

Selain itu, faktor pengaruh negatif lingkungan semakin meresahkan. Misalnya, kebiasaan pesta adat berhari-hari, kebiasaan konsumsi minuman keras, mabuk-mabukan, perjudian, pelecehan dan kejahatan seksual, konsumsi narkoba, pergaulan remaja dan muda-mudi yang berdampak penularan penyakit seksual dan kehamilan usia muda semakin meresahkan orang tua dalam mendidik anak-anaknya.

Namun, pembiayaan anak di sekolah berasrama yang mahal sulit ditanggung orang tua yang berprofesi petani, nelayan, supir, buruh, dan pegawai negeri biasa tanpa jabatan tinggi. Kemampuan ekonomi orang tua umumnya belum meningkat secara signifikan sehingga sekolah berasrama dipandang sebagai alternatif pendidikan yang mewah. Faktor ini mengakibatkan sejumlah sekolah berasrama terpaksa menutup asrama, tinggal menjadi sekolah biasa.

Memasuki kompleks SMK Pertanian Bitauni kami melihat para siswa pria sedang bermain bola kaki dan para siswa wanita dan pria yang lain menonton. Sesaat kemudian permainan berhenti dan mereka berjalan menuju asrama. Kami disapa sekian banyak siswa yang mengucapkan selamat sore dengan ramah. Romo Vinsen Manek Mau (kepala sekolah), Romo Yerem Seran, dan Romo Agus Klau serta Uskup emeritus Anton Pain Ratu yang tinggal di sebuah kamar di SMK ini sudah pergi ke Nenuk. Kami hanya bisa bertanya kepada beberapa siswa yang sempat ditemui.

Pertandingan bola kaki SMK Bitauni vs Desa Bitauni 2

Para penonton pertandingan bola kaki antara siswa SMK Pertanian Bitauni dengan pemuda Desa Bitauni dalam rangka perayaan hari Proklamasi 17 Agustus

Pertandingan bola kaki SMK Bitauni vs Desa Bitauni 3

Pertandingan bola kaki SMK Bitauni vs Desa Bitauni

 

Pertanyaan pertama kami kepada siswa-siswa itu adalah apakah semua siswa wajib tinggal di asrama. Jawabannya ya. Berapa uang asrama yang harus dibayar siswa per bulan? Jawabannya Rp 15 ribu per bulan. Waduh, ini benar-benar mengagetkan. Masa’ Rp 15 ribu per bulan. Apakah siswa masak sendiri untuk makan 3 x sehari? Jawabannya ya. Apakah masak pakai kompor? Jawabannya, ada yang pakai kompor, ada yang pakai kayu api. Agar pekerjaan memasak tak terlalu menyita waktu  belajar, mereka atur masak dalam kelompok-kelompok pertemanan dengan giliran memasak secara bergilir. Apakah siswa membawa bekal dari rumah. Jawabannya ya, bawa bekal beras dari rumah. Lalu, kami bertanya lagi, kalau makan lauknya apa? Jawabannya ya kami makan dengan sayur yang kami tanam sendiri di bedeng individu tiap siswa. Lauk yang lain bisa sup kacang hijau, ikan teri, daging dendeng kering, telur kalau ada. Kalau sudah tak ada lauk lagi ya makan dengan supermie. He he he. Mereka tampak bangga bisa makan dari usaha sendiri dan tidak memberatkan beban keuangan orang tua.

Mayoritas orang tua yang berprofesi petani sulit mendapatkan uang tunai tapi mereka memiliki beras dan jagung yang disimpan di lumbung untuk konsumsi keluarga selama satu tahun atau lebih. Kalau siswa tinggal di rumah ya orang tua harus menjamin terpenuhinya kebutuhan makan anak 3 x sehari. Kalau mereka diwajibkan tinggal di asrama dan masak sendiri ya jatah makanan yang dimakan di rumah tinggal dialihkan menjadi bekal yang dapat dibawa ke asrama. Beban ini terasa tidak terlalu memberatkan.

 

Dua siswa SMK Pertanian Bitauni bangga atas hasil kerjanya 3 - Copy

Bangga menunjukkan hasil kerja dengan keringat sendiri, sambil menunjukkan tanda victory, kemenangan.

Dua siswa SMK Pertanian Bitauni bangga atas hasil kerjanya 2 - Copy

 

Berapa besar uang sekolah (SPP) yang harus dibayar tiap siswa? Jawabannya Rp 50 ribu per semester. Waduh, tambah kaget lagi. Kalau tiap semester itu 6 bulan berarti tiap orang tua siswa membayar uang sekolah tiap siswa per bulan hanya sekitar Rp 8 500 + uang asrama Rp 15 000 = Rp 23 500 per bulan. Dengan demikian, dalam setahun orang tua hanya mengeluarkan biaya Rp 282 000 bagi anaknya di sekolah berasrama ini. Angka ini benar-benar berbeda antara bumi dan langit jika dibandingkan dengan biaya uang sekolah dan uang asrama dari sekolah berasrama, dalam hal ini SMA berasrama yang terkenal di Jabodatabek. Di sini orang tua harus membayar total Rp 70 juta s.d. Rp 100 juta per tahun bergantung kepada reputasi sekolah itu, apakah sekolah internasional, sekolah nasional plus atau sekolah nasional. Padahal, jika dibandingkan kualitas pendidikan karakter  di SMK Pertanian Bitauni apa yang dialami siswa di kampung itu mungkin jauh lebih bermakna daripada yang dialami siswa di sekolah berasrama supermahal itu.

Kami benar-benar kaget mendengar informasi betapa murah uang sekolah dan uang asrama di SMK Pertanian Bitauni karena sejauh informasi yang kami ketahui, tak ada sekolah berasrama di tanah air yang semurah ini. Nyaris gratis. Slogan sekolah negeri gratis telah dilaksanakan sekolah swasta berasrama ini. Kami belum menemukan model sekolah seperti ini yang lain di tanah air dan di negara-negara lain yang pernah kami kunjungi.

Kami bertanya lagi, apakah siswa wajib ikut misa (ibadah harian biasanya di pagi hari)? Jawabannya ya. Bangun pagi jam berapa? Jam 5.00 pagi. Apakah siswa berolahraga di sore hari? Jawabannya ya, diatur cabang olahraga yang mana digilir antar-siswa. Yang penting semboyan “mens sana in corpore sano” (jiwa yang sehat dalam tubuh yang sehat) diterapkan dalam kehidupan keseharian mereka.

Kamis 21 Juli 2014 pada Pesta Santo Pius X, sekolah ini merayakan pesta perak (25 tahun usia) sekolah ini, yang didirikan tahun 1989. Lahan sekolah ini seluas sekitar 26,5 hektar. Tanah ini dulunya bersifat asam sehingga kurang diminati penduduk. Setelah ditanami aneka- pohon dan dibudidaya kini tanah menjadi subur.   Kepada para siswa, pembina sering mendengungkan semboyan bahwa di atas batu karang tanaman dapat tumbuh subur dan akhirnya menghasilkan cukup makanan, asalkan anda tidak hanya mau bekerja keras tapi juga bekerja cerdas. Biji sesawi itu adalah biji yang paling kecil dari segala jenis benih, tetapi apabila sudah tumbuh, sesawi itu lebih besar daripada sayuran yang lain, bahkan menjadi pohon, sehingga burung-burung di udara datang bersarang pada cabang-cabangnya.

Kini SMK ini menampung 469 siswa yang tersebar dalam tiga program studi, yaitu Agronomi, Teknologi Hasil Pertanian, dan Budidaya Ternak. Enrolmen meningkat dari tahun ke tahun dan tahun ini diterima 309 siswa baru. Siapa pun siswa yang datang dari latar belakang suku dan agama apa pun diterima tanpa tes seleksi. Didukung kehidupan berasrama yang menjamin disiplin belajar siswa, praktik teori yang dapat dilanjutkan di sore hari dan hari libur, dan bimbingan para guru dan pamong asrama, kelulusan 100% dalam ujian nasional merupakan prestasi siswa sekolah ini. Tahun ajaran 2012, 120 siswa kelas III mengikuti ujian nasional dan kelulusannya 100%. Ujian nasional tahun 2013 diikuti 112 peserta sedangkan tahun 2014 diikuti 72 peserta dan semuanya lulus 100%. Tak ada yang tercecer.

Dalam olimpiade sains terapan SMK 2014 tingkat Provinsi NTT, siswa sekolah ini merebut juara I bidang studi Fisika dan Kimia dan akan ikut lomba olimpiade sains terapan tingkat nasional di Jakarta. Minggu kedua Agustus siswa SMK ini mengikuti lomba di Kupang dan dua siswa merebut juara I Biologi dan Fisika dan satu siswa merebut juara III Kimia. Pada minggu ketiga Agustus dua siswa ikut lomba kompetensi siswa bidang pertanian dan peternakan di Kupang dan berhasil merebut juara II. Dalam rangka perayaan 17 Agustus para siswa ikut perlombaan kesenian, olahraga, dll. dan merebut juara I bola kaki putra dan juara I bola voli putri.

Inilah indikator dan sekadar contoh prestasi siswa SMK Bitauni yang secara umum menggambarkan mutu dan relevansi sekolah ini. Mengapa bisa begitu? Ya, karena pendidikan yang berkualitas dan karakter yang ditumbuhkembangkan melalui revolusi mental di sekolah berasrama ini.

Belajar biologi, kimia, fisika tidak semata teoritis tapi dipraktikkan untuk memecahkan masalah dalam aktivitas bertani dan beternak melalui eksperimentasi dan inovasi. Pelajaran akademis melalui pemecahan masalah dan kreativias berproduksi divariasikan dengan pengembangan potensi kinestetik melalui olahraga dan kreativitas berkesenian serta pengembangan kecerdasan spiritual melalui ibadah dan sosialisasi dengan sesama teman serta guru dan pembina.

Teknologi penanaman, pengolahan, pemupukan, pemberian makanan yang terbaru diterapkan. Siswa per kelompok program studi menghasilkan produk berupa aneka-sayuran, bawang merah, cabe, dan tomat. Siswa pun membuat anggur dari buah dan kulit pisang dan dijual seharga Rp 15 ribu per botol. Siswa pun memelihara unggas (ayam) dan menjual ayam dan telur. Siswa juga memelihara babi yang sudah bisa dijual dengan harga Rp 2,5 juta s.d. Rp 3,5 juta bergantung kepada beratnya. Babi divaksinasi dan diberi makanan sehat yang mampu menggemukkan babi dan bisa dijual setelah berusia 6 – 7 bulan. Pasar babi di Timor khususnya dan NTT umumnya menjanjikan karena daging babi menjadi bagian dari adat pesta berbagai suku. Kalau terjadi kekurangan babi di Timor, orang akan impor dari Flores atau sebaliknya. Kalau Sumba kekurangan babi akan diimpor dari Flores dan Timor. Produk unit produksi siswa dijual ke pasar, juga ke Kupang, dan ada yang sudah diekspor ke Jawa dan Kalimantan. Ada juga penjual di pasar yang datang sendiri ke sekolah membeli produk sekolah ini.

 

Embung penampung air hujan di SMK Pertanian Bitauni Timor

Segala aktivitas budidaya tanaman, unggas, dan ternak mengandalkan cadangan air dari satu-satunya embung di sekolah ini. Air tidak dialirkan melalui pipa tapi ditimba siswa dan dibawa untuk menyirami tanaman dan memberi minuman kepada unggas dan ternak.

Bedeng sayuran, tomat, cabe di SMK Pertanian Bitauni Timor

Bedeng sayuran, tomat, cabe di SMK Pertanian Bitauni Timor 4

Embung dan bedeng sayur di SMK Pertanian Bitauni Timor 2

Embung dan bedeng sayur di SMK Pertanian Bitauni Timor

 

Romo Vinsen Manek mengatakan, menjelang perayaan ulang tahun perak sekolah ini, tanaman sayur brokoli, tomat, dan bawang merah siap panen.

Brokoli

Kebun Tomat

bawang merah

Melalui penjualan produk yang dihasilkan siswa per kelompok program studi, siswa memberikan sumbangan pembiayaan sekolah melalui pendapatan asli sekolah (PAS). Dengan demikian, secara tidak langsung sebenarnya siswa mensubsidi dirinya sendiri sehingga uang sekolah per semester dan uang asrama per bulan bisa ditekan semurah mungkin. Selain produk hasil belajar siswa, dana BOS sebesar Rp 500 ribu per siswa per tahun membantu pembiayaan sekolah. Beasiswa bagi siswa “miskin” sebesar Rp 1 juta per tahun juga membantu sehingga uang sekolah bisa ditekan seminimal mungkin. Selain itu, ada bantuan dana juga dari yayasan lokal dan bantuan pengembangan kapasitas dari Plan International. Pengelolaan dana sekolah yang dilakukan secara transparan, akuntabel, dan kredibel memungkinkan sekolah ini membayar gaji guru secara memadai, lebih besar dari gaji guru SMK dan SMA swasta lain di Timor khususnya dan NTT umumnya.  Bahkan gaji guru sekolah ini lebih tinggi dari gaji dosen universitas swasta. Jumlah guru sekolah ini yang merangkap tenaga lapangan sebanyak 30 orang dan karyawan 11 orang. Jumlah guru dapat ditekan menjadi minimal karena tiap guru berperan juga sebagai tenaga lapangan. Tidak dipisahkan status guru dan status tenaga lapangan seperti di SMK yang lain.

Kisah sukses SMK Pertanian Bitauni tidaklah jatuh dari langit, tapi melalui perjuangan konsisten dan tekun selama 25 tahun. Faktor lain yang tak kalah mendukung adalah pimpinan gereja, dalam hal ini uskup memberi perhatian dan bantuan langsung. Baik uskup Dominikus Saku kini dan uskup Anton Pain Ratu (sekarang dalam status uskup emeritus, pensiun) membantu melalui pemanfaatan networking untuk pengembangan SDM (sumber daya manusia), tenaga pendidik di sekolah ini. Kehadiran uskup emeritus Anton Pain Ratu langsung di tempat yang hidup dalam komunitas kecil dengan tiga romo di sana menjadi motivasi yang tak ternilai bagi ketekunan memecahkan masalah yang dihadapi. Ketiga romo yang bertugas di sana menunjukkan passion mendidik anak-anak remaja untuk menjadi petani teladan.

Uskup emeritus Anton Pain Ratu memilih tinggal di SMK Pertanian ini setelah beliau pensiun. Banyak imam dan warga umat terheran-heran mengapa beliau memilih tinggal di sebuah kamar sederhana di sekolah ini. Dalam obrolan di meja makan selama seminar di Nenuk, kami katakan kepada Mgr Anton Pain Ratu mengapa beliau tetap sehat dan berumur panjang. Tiap hari beliau melihat anak-anak tumbuh dan berkembang menjadi petani teladan. Ini membuatnya berumur panjang. Di forum seminar, kami katakan bahwa melihat kamar sederhana uskup tituler, bukan kaul kemiskinan tapi kaul kemelaratan yang diterapkan. Dari obrolan di meja makan, baru saya tahu bahwa selama jadi uskup aktif, beliau hanya tidur di atas papan tanpa kasur. Suatu kali datang keluarga dari Adonara, Flores Timur berkunjung dan menangis melihat opa uskup kok tidur tidak pakai kasur, hanya beralas papan dan tikar. Keluarga langsung ke Atambua membeli kasur. Sejak waktu itu ia terpaksa pakai kasur agar tidak mengecewakan keluarga. Waktu umat mendengar bahwa Paus Fransiskus hidup sederhana, sambil bercanda umat bilang, oh pasti bapa paus meniru kesederhanaan uskup Anton Pain Ratu. He he he.

Setelah saya bercerita kepada teman-teman tentang kisah sukses SMK Pertanian Bitauni, Pak Fidelis Waruwu, pakar pendidikan karakter dan pendidikan nilai menyatakan: “Kelihatannya kita membutuhkan revolusi mental, kita bisa belajar bagaimana memanfaatkan semua lahan yang ada, beternak dan berkebun. Kalau ini kita lakukan, kelihatannya pemberdayaan seluruh masyarakat sedang terjadi. Saya ingat pepatah China kuno yang selalu dikutip melawan kebijakan pemerintah yang gemar memberi ‘Bantuan Langsung Tunai’ — ‘Beri seseorang ikan, Anda memberinya makan sehari; ajari dia mengail, Anda menghidupinya seumur hidupnya.; — Jadi yang dilakukan sekolah ini adalah memberi anak-anak itu kail.”

 

Kiprah alumni, kita bisa, dan unit produksi di sekolah umum

 

Lulusan sekolah ini ada yang melanjutkan ke fakultas pertanian di universitas atau ke politeknik pertanian di Kupang dan di luar Timor. Ada pula yang telah menjadi dosen universitas. Namun terbanyak terjun menjadi petani yang dapat menjadi teladan kepada sesama petani di lingkungannya.

Betapa cocok dan relevan para penggagas dan pembina memilih jenis SMK yang sesuai dengan potensi pertanian lahan kering dan peternakan Timor. Mereka tidak memilih SMK perhotelan atau bisnis dan akuntansi yang membuat anak Timor tercerabut dari habitatnya. Sukses sekolah ini mendorong orang tua untuk lebih memilih menyekolahkan anaknya di SMK daripada di SMA lalu melanjutkan ke universitas, lalu pulang ke kampung menjadi penganggur.

Di tanah air, bahkan di NTT sendiri sekolah ini tidak banyak dikenal. Namun, reputasinya telah dikenal pemerintah Timor Leste yang telah menjalin kerja sama dengan sekolah ini. Para guru di Timor Leste telah datang dan belajar dari sekolah ini.

Gagasan unit produksi di SMK mendorong kami dalam beberapa tahun ini membawa ide ini untuk diterapkan di sekolah umum (SD, SMP, dan SMA) melalui pendidikan kewirausahaan siswa. Saran ini kami ulangi lagi dalam penataran Kurikulum 2013 di SMA Surya di Atambua pada 1 Agustus 2014 yang dihadiri 120 guru dan kepala sekolah dari 7 sekolah. Biarlah anak-anak Timor bisa jadi wirausahawan di negeri sendiri. Masa’ warung dimiliki orang Padang dan orang Jawa, lalu orang Timor jadi konsumen sepanjang masa. Orang Timor menjual murah daging sapi, lalu orang Jawa bikin bakso, kita beli lebih mahal. Aneh tapi nyata.

20140801_082206

Menata ulang kelas dari duduk berbaris ke duduk dalam kelompok di SMA Surya untuk memudahkan interaksi dan komunikasi guru – siswa- siswa dalam melaksanakan belajar aktif.

20140801_082157

Pada tanggal 2 Agustus pagi saya dan istri dari Kupang terbang ke Pulau Sumba dan tiba di Bandara Tambolaka dan segera ke Seminari (SMP dan SMA) Sinar Buana, di Waitabula, ibu kota Kabupaten baru, Sumba Barat Daya. Dari Senin 4 Agustus s.d. Rabu 6 Agustus kami menatar para guru seminari tentang Kurikulum 2013 melalui belajar aktif sekaligus mengajak menemukan solusi pendidikan kewirausahaan siswa dan unit usaha apa yang cocok bagi seminari untuk menciptakan sumber dana baru agar seminari ini mampu meraih financial freedom, kebebasan finansial dalam menyelenggarakan dan mengelola sekolah. Tradisi seminari itu mandiri, berdiri di atas kaki sendiri, tidak mengandalkan bantuan pemerintah walaupun bantuan itu bersumber dari pajak rakyat. Di mana-mana di dunia ini, pengelolaan sekolah swasta itu cenderung efisien dan umumnya sekolah swasta-lah yang lebih bermutu dan mampu menyesuaikan diri dengan tuntutan zaman. Betapa pun besar dukungan dana pemerintah, sekolah negeri di mana-mana cenderung kalah bersaing dalam mutu dan relevansi serta pendidikan karakter siswa dibandingkan sekolah swasta.

IMG-20140806-04083

IMG-20140806-04082

Belajar tidak selalu harus di dalam ruang kelas. Siswa SMP dan SMA Seminari Sinar Buana Sumba belajar matematika, IPA, IPS, bahasa, bahkan agama di luar kelas, di alam. Sirkulasi darah lebih lancar, stimuli dari pepohonan, bebatuan, awan, pemandangan, dan manusia sekitar meningkatkan kreativitas dan kelancaran kinerja otak.

IMG-20140806-04088

IMG-20140806-04106

Impian kami adalah menerapkan model sekolah kerja (Arbeit Schule, Do School) seperti INS Kayu Tanam di Sumatera Barat pada zaman penjajahan dan gagasan kunci Kurikulum 1947, ide sekolah kerja pada awal kemerdekaan. Tampaknya model sekolah kerja ini telah diterapkan SMK Pertanian Bitauni dan pasti dapat diterapkan pada sekolah umum (SD, SMP, dan SMA) melalui pendidikan kewirausahaan yang memadukan kegiatan kurikuler mata-mata pelajaran dan kegiatan ekstrakurikuler.

SMK Pertanian ini hanya mengandalkan satu embung yang menampung air hujan tatkala musim hujan dan dipakai selama 1 tahun, termasuk di musim kemarau. Siswa menimba air dari embung dan menyirami aneka tanaman tiap kelas dan tiap siswa (bedeng pribadi). Selama ini air di embung masih cukup. Untuk keperluan mencuci pakaian, memasak, dan mandi digunakan air tanah. Lahan yang dulunya berciri asam dan gersang kini telah memiliki cadangan air tanah yang memadai.

 

 Embung dan bedeng sayur di SMK Pertanian Bitauni Timor 2

 

Siswa SMK Bitauni menari dalam pertemuan kakak alumni

Suasana pesta reuni alumni SMK Pertanian Bitauni

Romo Vincent Kepala SMK Pertanian Pius X Bitauni

Kepala sekolah Romo Vinsen Manek (tengah) sedang memimpin rapat alumni sebagai persiapan perayaan ulang tahun sekolah

Reuni alumni SMK Bitauni 4

Suasana rapat alumni

Alumni SMK Pertanian Bitauni bermusik dan menyanyikan anggur merah

Suasana perayaaan temu alumni

Alumni SMK Bitauni reuni di sekolahnya Agustus 2013

Alumni SMK Bitauni di sekolahnya Agustus 2013

Acara reuni alumni SMK Bitauni nostalgia

Tarian siswa SMK Bitauni pada acara reuni

Acara reuni alumni SMK Bitauni nostalgia 2

Betapa pun tantangan yang dihadapi, kita bisa

 

Timor khususnya dan Nusa Tenggara Timur (NTT) adalah salah satu wilayah yang berada di garda terdepan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan 22 kabupaten/kota karena berbatasan langsung dengan Timor Leste dan bertetangga dekat dengan Australia. NTT juga menjadi salah satu daerah “3T” (Terluar, Terpencil, dan Terdepan), saya tambahkan satu “T” lagi, Tertinggal. Meskipun kata-kata itu kedengarannya sangat menyayat hati, tetapi itulah kenyataan yang harus kita hadapi. NTT tertinggal dalam banyak hal, seperti ekonomi, kesehatan, pendidikan dan lain sebagainya.

Dalam bidang pendidikan NTT masih tertinggal jauh dari provinsi lain di Indonesia. Pada tahun 2013 yang lalu, persentase kelulusan hasil ujian nasional (salah satu indikator keberhasilan bidang pendidikan) NTT berada di urutan ke-29 dari 33 propinsi, lebih baik dari tahun sebelumnya urutan ke-33. Hasil ini mencerminkan keprihatinan bidang pendidikan di NTT. Banyak hal yang menjadi biang dari masalah itu. Salah satunya adalah minimnya sarana dan prasarana pendidikan. Ini juga sebagai sumbangsih dari masalah politik, dan kesejahteraan rakyat. Isu yang paling sering diangkat juga adalah kita tertinggal jauh dalam hal teknologi informasi dan modernisasi.

Namun, di tengah pesimisme ini, muncul fajar menyingsing dari Bitauni, Kecamatan Insana, di tengah tanah Timor. SMK Pertanian Bitauni telah membuktikan bahwa melalui revolusi mental yang ditunjang manajemen dan kepemimpinan para pembina yang memiliki passion, gairah luar biasa pengabdian, di atas batu karang Pulau Timor dapat dibuat mujizat. Tanah berbatu karang dapat menghasilkan tanaman dan ternak melalui pembinaan karakter siswa yang melandasi mutu pendidikan yang terandalkan. Para pembina terus menanamkan kepercayaan diri siswa melalui slogan, kita bisa, kita bisa. Tak ada yang mustahil dalam hidup ini kalau kita selalu berprinsip, kita bisa.

Pengalaman keterampilan karakter

&

Pengalaman keterampilan karakter 2

Kami coba browse facebook alumni SMK Pertanian Santo Pius X Bitauni, Timor Tengah Utara, NTT dan mendapatkan ungkapan seorang alumnus, Alex Tikneon yang menilai sekolahnya ini pada status facebook-nya dalam rangka reuni alumni sekolah ini sbb:

“Di dalam nama grup ini, yaitu SMK ST PIUS X BITAUNI, mental saya dibentuk untuk kemudian menjadi orang yang bermental kerja keras, tanggung jawab, berkarismatik, dan hal-hal positif dalam mengarungi hidup ini…. Di sekolah ini, aku diajar untuk menghargai waktu, di sekolah ini, aku diajar tentang bagaimana hidup mandiri kelak, dan di sekolah ini tidak diajarkan suatu saat menjadi PNS melainkan pekerja, di sekolah ini, aku diajarkan bagaimana mendekatkan diri dengan Tuhan…. Akhirnya Puji Tuhan, dengan bekal yang diberikan sekolah ini, aku bisa menjalankan hidup ini dengan berdiri di atas kaki sendiri…. Salam semua alumni sekolah ini. Tuhan memberkati kalian semua.”

 

Alex Tikneon alumnus SMK Pertanian Bitauni dan istri

Alex Tikneon dan istri

Alex Tikneon dan keluarga, seorang alumnus SMK Pertanian Bitauni

Alex Tikneon di tengah keluarga

Alex Tikneon alumnus SMK Pertanian Bitauni dengan foto latar belakang rumahnya

Mengarungi masa depan dengan rasa percaya diri dan optimisme

Selama 25 tahun usia sekolah ini, telah dihasilkan sekian banyak alumni, terbanyak terjun menjadi petani di lingkungan masyarakatnya. Ada yang tidak duduk diam dan menyaksikan karut marut politik yang berciri transaksi pragmatis. Pengamatan kemiskinan yang masih membelit penduduk mendorong sejumlah alumni untuk mewarnai pertarungan politik melalui terjun langsung.

Para pembina sekolah ini sering mengingatkan para siswa bahwa jika kita berikhtiar, mujizat Tuhan, kemahamurahan hati Tuhan bisa terjadi dan terjadi lagi. Dari semula dua ekor ikan dan lima potong roti akhirnya kita bisa memberi makan kepada lima ribu orang dan sisanya bisa dijual.

Dalam obrolan dengan siswa kelas II SMK ini anak-anak remaja itu dengan bangga bercerita tentang aktivitas belajarnya menanam dan memelihara ternak. Mereka tampak optimis menghadapi masa depan. Ketika ditanya, selesai sekolah mau jadi apa umumnya mengatakan bercita-cita menjadi petani teladan.

Unit produksi di sekolah umum melalui pendidikan kewirausahaan

Khusus untuk NTT umumnya dan Timor khususnya, kami mengidam-idamkan sekolah berasrama yang bisa hidup melalui unit produksi, tidak hanya SMK tapi juga SMP dan SMA berasrama dan juga SD tanpa asrama. Sekolah berasrama sering terbayangkan sebagai sekolah mahal karena uang asrama yang cenderung tinggi sehingga hanya orang tua yang mampu dapat menyekolahkan anaknya di sekolah berasrama. Ternyata, SMK Pertanian Bitauni telah membuktikan bahwa sekolah berasrama tidak mesti mahal, bisa murah, bahkan demikian murahnya sehingga dikatakan nyaris gratis.

Kami kemukakan beberapa contoh awal pendidikan kewirausahaan yang dapat berkembang menjadi unit produksi. Para siswa SMA Terpadu HTM (berasrama) di Halilulik, Kabupaten Belu telah menanam pohon naga dan buahnya yang lezat dan bergizi dimakan para siswa. Kepala sekolah bingung mau diapakan buah naga yang berlimpah yang siap panen. Dalam obrolan waktu seminar pendidikan di Nenuk, kami katakan, mengapa tidak melatih siswa memproses buah naga menjadi sirup dan selai yang bisa dijual ke Kupang, bahkan ke luar pulau? Mau tahu caranya? Tinggal googling saja di internet dan dapat ditemukan proses cara membuatnya. Kalau kurang jelas ya cari videonya di Yotube. He he he.

??????????

??????????

Para siswa SMA Seminari Lalian di Kabupaten Belu telah berwirausaha melalui menanam sayuran, memelihara ayam dan babi, dan akan memelihara sapi. Sayur yang dipanen dijual ke seminari untuk dimakan mereka sendiri. Telur dan ayam serta babi dijual ke pasar di Atambua. Selain itu, siswa membuat dan mengelola koperasi siswa sendiri.

Para siswa SMA Giovanni di Kupang belajar desain grafis dasar yang ditindaklanjuti dalam mata pelajaran Prakarya dan Kewirausahaan. Mesin untuk sablon gelas dan baju telah dipesan. Ternyata gelas dan baju yang disablon coba dijual dan ternyata laris manis. Kini penyablonan telah menjadi cikal bakal unit produksi. Hasil penjualan dapat digunakan untuk membeli keperluan sekolah. Kata kepala sekolah, “Intinya kami ajarkan skill kepada anak agar di kemudian hari mereka bisa berkuliah sambil usaha.”

Para siswa SMP Negeri Buti di Merauke yang terletak tak jauh dari pantai dilatih membuat abon ikan dari ikan yang dibeli murah waktu musim ikan. Hasil penjualan abon ikan a.l. digunakan untuk memberi makan kepada semua siswa dan guru 2 x per minggu. Mereka pun dilatih budidaya ikan pada bekas lubang galian pasir yang disulap menjadi kolam ikan. Kemudian, siswa juga dilatih memelihara angsa dan sapi yang didatangkan dari Jayapura atas bantuan dinas pertanian Merauke. Kalau upaya ini konsisten dilakukan, sekolah ini dapat menjadi sekolah kaya.

Tiga ratus lima puluh siswa dari kelas I s.d. VI sebuah SD di Batu Raja, Sumatera Selatan telah mencoba menanam sayur pada pot hidroponik. Waktu pelatihan Kurikulum 2013 di Bandar Lampung kami memberi file tentang cara membuat pupuk padat dan cair organik dan cara menanam pada pot hidroponik dan polibag. Kepala sekolah menelepon kami mengabarkan berita gembira bahwa para siswa telah berhasil menanam sayur pada pot hidroponik dan akan panen. Saya tanya, sayur itu nanti diapakan? Jawabnya, ya siswa memasak dan makan rame-rame. Saya tantang lagi, hayo, bertahap ditingkatkan tiap siswa 2, 3, 4, dan kemudian 5 pot hidroponik dan berkembang terus akhirnya bisa diatur penjualan sayur sawi, bayam, tomat, cabe, dll. ke pasar di Batu Raja. Hasil penjualan bisa digunakan untuk membeli keperluan sekolah.

Sayur sawi di pot hidroponik

Contoh sayur sawi yang berhasil tumbuh subur pada pot hidroponik. Sayur ini mendapatkan asupan makanan dari pupuk cair yang dicampurkan dengan air. Tak perlu disiram lagi. Tidak bergantung pada hujan. Di musim kemarau pun sayur dapat ditanam.

Inspirasi dari Nenuk, Kabupaten Belu, Timor

Di Nenuk sebagai biara induk Soverdi (SVD) Timor, para calon imam dan bruder menjalani pendidikan rohani selama 2 tahun sebelum melanjutkan pendidikan filsafat dan teologi untuk menjadi imam atau pendidikan bidang lain untuk menjadi bruder. Para novis ini adalah lulusan SMA seminari atau SMA dan SMK umum.

Waktu mengikuti seminar pendidikan di Nenuk, kami sempat melihat-lihat ‘unit produksi’ sebagai media praktik para novis sebagai implementasi prinsip hidup ora et labora (berdoa dan bekerjalah). Mereka menanam dan memelihara tanaman serta beternak. Melalui upaya ini paling tidak mereka bisa makan dari apa yang diproduksi sendiri sekaligus menumbuhkembangkan semangat kewirausahaan agar sebagai imam mereka termotivasi memberdayakan kemampuan ekonomi umat dan sebagai bruder mereka bisa menempuh studi lanjut spesialisasi pertanian, peternakan atau bidang-bidang lain.

IMG-20140731-03996

Kompleks biara induk tampak depan

IMG-20140731-03994

Kamar Rektor biara tepat di sudut bangunan

IMG-20140731-03976

Panti pendidikan novis tampak belakang. Di area inilah berpusat ‘unit produksi’ peternakan dan sebagian pertanian.

IMG-20140731-03985

IMG-20140731-03986

Ternak ayam

IMG-20140731-03965

Ternak bebek

IMG-20140731-03969

IMG-20140731-03970

Ternak kambing

IMG-20140731-03967

IMG-20140731-03982

Ternak sapi

IMG-20140731-03977

Ternak burung merpati

IMG-20140731-03972

Bagian hutan tempat dibudidaya pula vanili

Kebun vanili

Tanaman vanili

Pendidikan kewirausahaan di lembaga pendidikan kejuruan atau umum di mana pun dapat dilakukan. Bidang praktik wirausaha dipilih sesuai dengan potensi dan konteks setempat. Praktik wirausaha ini dapat berkembang menjadi unit produksi sekolah jika dilakukan secara konsisten dan dikelola dengan semangat bisnis. Produk unit produksi bisa dijual untuk menambah sumber dana sekolah.

Advertorial

Diabetes

Bacalah posting kami berjudul:

https://sbelen.wordpress.com/2013/05/03/bawang-putih-cuka-apel-madu-jahe-lemon-jantung-sehat-tubuh-bugar/

Sano sembuhkan diabetes

Kartu nama Yuni 3

Analisis SWOT Kurikulum 2013 Semua Jenjang & Solusi Kita

Januari 16, 2014

Anak tendang guru

Guru kencing berdiri, siswa kencing berlari

Perkembangan kurikulum Indonesia

Sejak merdeka sampai sekarang telah berlaku 10 kurikulum di Indonesia. Menurut pendapat saya, kurikulum terbaik adalah Kurikulum 1947 yang berorientasi dan menekankan model sekolah kerja (Arbeit Schule, Do School). Contoh sekolah kerja yang terkenal di tanah air adalah Indonesische Nederland School (INS) di Kayu Tanam (sekitar 60 km utara Kota Padang di pinggir jalan dari Padang menuju Bukittinggi) yang didirikan Mohamad Syafei pada tanggal 31 Oktober 1926.  Pelajaran di sekolah ini menggunakan bahasa Melayu (kemudian menjadi bahasa Indonesia) dan bahasa Inggris. Visi M Syafei adalah bangsa Indonesia bisa memenangkan persaingan dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Model sekolah seperti inilah yang dicita-citakan para penyusun Kurikulum 1947 seperti tampak pada dokumen kurikulum yang amat tipis tapi kaya gagasan dan amat substantif menatap masa depan Indonesia. Pelaksanaan belajar aktif pada model sekolah kerja tidak hanya terbatas pada pelajaran rutin tapi sampai kepada menghasilkan produk kerajinan tangan dan prakarya oleh siswa sendiri di bawah bimbingan guru. Implementasi Kurikulum Satuan Pendidikan (KTSP) 2006 dan desain Kurikulum 2013 tidak menganut orientasi ini. Hanya terbatas pada belajar aktif dalam pelajaran rutin. Sedangkan, pendidikan kewirausahaan sebagai wadah praktik konsep sekolah kerja kurang ditekankan. Gagasan sekolah kerja ternyata masih konsisten dilaksanakan di Finlandia. Siswa belajar membuat kerajinan tangan, menjahit, membuat makanan, membuat barang dari logam, mengutak-atik mesin, belajar fotografi, membuat kreasi dengan menggunakan teknologi informasi. Model sekolah kerja yang telah dimodifikasi sesuai dengan tuntutan zaman menyebabkan prestasi siswanya unggul dalam tes-tes internasional. Strengths (Kekuatan) Kurikulum 2013

  • Pendekatan tematik dilanjutkan ke kelas IV – VI SD. Penetapan ini tepat karena siswa usia SD masih berpikir holistik dan dampaknya adalah penghematan waktu dan tenaga serta pengurangan pengulangan dan tumpang tindih. Hanya harus diingat: Tetap ada mata pelajaran tersendiri karena tidak semua kompetensi dasar (KD) dapat seutuhnya diajarkan melalui pendekatan tematik. Mata pelajaran tersendiri, terutama Bahasa Indonesia dan Matematika harus diajarkan tersendiri juga karena tidak semua KD dapat seutuhnya diajarkan melalui pendekatan tematik. Jika semua KD diajarkan melalui pendekatan tematik, akan terjadi pendangkalan penguasaan kompetensi, terutama kompetensi membaca dan menulis siswa akan lemah. Inilah pelajaran atau hikmah dari implementasi KTSP 2006 yang melalaikan pelajaran tersendiri terutama untuk Bahasa Indonesia dan Matematika.
  • SMP: IPA dan IPS diajarkan / dipelajari secara terpadu. Tidak seluruh KD mata pelajaran dapat diajarkan secara terpadu. Ada KD yang tak bisa dipadukan. Perlu diajarkan tersendiri sebagai mata pelajaran terpisah. Tampaknya pembelajaran terpadu ini sulit dilaksanakan karena guru hanya disiapkan mengajar satu mata pelajaran selama studi di lembaga pendidikan tenaga kependidikan (LPTK).
  • Penjurusan (dengan istilah peminatan pada Kurikulum 2013) di SMA langsung dimulai dari awal kelas I (kelas X). Kebijakan ini memungkinkan siswa lebih mendalami mata-mata pelajaran jurusan. Namun, porsi jam pelajaran per minggu pada Kelompok A (Wajib) dan Kelompok B (Wajib) yang bersifat umum (bukan peminatan / jurusan) mencapai  24 jam atau 50% dari seluruh beban jam pelajaran per minggu (48 jam). Porsi jam pelajaran per minggu Kelompok C (Peminatan) adalah 24 jam atau 50% dari total jam pelajaran per minggu di SMA. Maksud penjurusan sejak awal untuk mengurangi beban belajar siswa ternyata tidak tercapai.
  • Dimasukkan Pancasila sehingga Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) pada KTSP berubah nama menjadi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn).
  • Pelajaran Sastra di SMA dan SMK lebih diperhatikan.
  • Pramuka ditekankan.
  • Imbauan dan dorongan melaksanakan kurikulum melalui belajar aktif karena kurikulum ini menekankan proses.
  • Pendidikan kewirausahaan masuk di SMA dan SMK dalam mata pelajaran Prakarya dan Kewirausahaan dengan porsi waktu 2 jam pelajaran per minggu.

Senam push up

Weaknesses (Kelemahan) Kurikulum 2013

  • Penekanan pengembangan karakter siswa melalui pembelajaran. Padahal yang paling efektif melalui proses peneladanan dan pembiasaan, bukan melalui proses pembelajaran. Betapa pun, hal ini cukup baik agar guru tak lupa memperhatikan pengembangan karakter siswa.
  • Mengapa jam pelajaran agama ditambah? Di SD dari 3 menjadi 4 jam dan di SMP, SMA, dan SMK dari 2 menjadi 3 jam. Padahal, seperti pendidikan karakter, pendidikan agama lebih efektif dilakukan melalui proses peneladanan dan proses pembiasaan. Proses pembelajaran hanya mendukung kedua proses itu. Karena itu, sebenarnya untuk pembelajaran agama cukup 2 jam karena hanya dibatasi pada kegiatan belajar agar siswa lebih mendalami ajaran agama. Praktiknya lebih terfokus kepada proses peneladanan dan proses pembiasaan.
  • Memperkuat mata pelajaran perekat bangsa -> OK setuju. Tapi mengapa hanya dibatasi pada mata pelajaran Bahasa Indonesia, PKn, Agama, dan Matematika? Mengapa IPS, terutama Sejarah tidak masuk? Malah digabungkan ke PPKn? Kalau Matematika sebagai mata pelajaran universal yang berlaku untuk semua bangsa di dunia masuk, mengapa IPA tak dimasukkan padahal IPA adalah mata pelajaran universal juga?
  • Alasan Mendikbud mengubah kurikulum (KTSP 2006) adalah deradikalisasi bangsa Indonesia yang terjebak dalam konflik vertikal dan horisontal dan ancaman terorisme. Namun, penekanannya justru kepada mata-mata pelajaran “perekat bangsa” tanpa didukung dan diikat oleh konsepsi substantif, seperti pendidikan lintas budaya atau pendidikan multikultural (multicultural education). Tak mungkin tercipta kehidupan yang damai di Indonesia jika masih ada konflik antar-agama dan konflik antar-aliran dalam satu agama.  Motif deradikalisasi malah dilakukan melalui penambahan jam pelajaran agama, bukan melalui membuka peluang bagi siswa untuk mengenal tradisi agama-agama lain selain agamanya agar menghargai agama lain. Bahkan, Kompetensi 1 yang harus mewarnai berbagai KD semua mata pelajaran malah menekankan agar siswa menerima dan menjalankan ajaran agama yang dianutnya. Semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang dikutip dari Kakawin Sutasoma karangan Mpu Tantular sekitar abad ke-14 Masehi justru mengajarkan toleransi antara umat Hindu Siwa dengan umat Buddha. Buddha dan Siwa merupakan dua zat yang berbeda, tetapi bagaimanakah bisa dikenali? Sebab kebenaran Jina (Buddha) dan Siwa adalah tunggal. Terpecah belahlah itu, tetapi satu jugalah itu. Tidak ada kerancuan dalam kebenaran. Apakah isi kurikulum pendidikan agama 2013 menekankan toleransi dengan penganut agama lain?
  • Menambah jumlah jam pelajaran per minggu: SD 4 jam, SMP 6 jam, SMA 2 jam, dan SMK menjadi 48 jam per minggu (24 jam atau 50% untuk kelompok mata pelajaran A dan B) -> Alasan tak jelas. Perbandingan antar-negara tidak jelas. Finlandia malah nomor I di dunia padahal jumlah jam pelajarannya sedikit. Yang penting pelajaran menyenangkan atau tidak. Faktor metodologi lebih penting daripada lamanya waktu. Indonesia: Jumlah hari belajar efektif termasuk yang tertinggi di dunia, sama dengan Korea Selatan.
  • Jumlah mata pelajaran masih banyak. Dikurangi tapi mengapa jumlah jam per minggu ditambah menjadi tertinggi di dunia? Di SD jumlah mata pelajaran dikurangi dari 10 menjadi 8 tapi jumlah jam per minggu ditambah dari 32 menjadi 36 jam (ditambah 4 jam di kelas IV, V, dan VI). Kalau tambahan 4 jam ini dikonversi dengan patokan 1 mata pelajaran 2 jam per minggu, jadinya jumlah mata pelajaran dalam pelaksanaan konkret di lapangan ditambah 2 mata pelajaran sehingga sama saja dengan 10  mata pelajaran dalam KTSP 2006. Jadinya bertambah 2 mata pelajaran dari sudut pandang waktu dalam Kurikulum 2013. Di SMP jumlah mata pelajaran dikurangi dari  12 menjadi 10 mata pelajaran tapi jumlah jam per minggu ditambah dari 32 menjadi 38 jam (ditambah 6 jam). Kalau tambahan 6 jam ini dikonversi dengan patokan 1 mata pelajaran dengan 2 jam per minggu, jadinya jumlah mata pelajaran dalam pelaksanaan konkret di lapangan ditambah 3 mata pelajaran sehingga sama saja dengan 13 mata pelajaran. Jadinya bertambah 1 mata pelajaran dari sudut pandang waktu dalam Kurikulum 2013. Di SMA jumlah mata pelajaran dikurangi dari  18 menjadi 16 dan 15 mata pelajaran tapi jumlah jam per minggu ditambah dari 38 menjadi 42 jam di kelas II dan III (ditambah 4 jam). Kalau tambahan 4 jam ini dikonversi dengan patokan 1 mata pelajaran 2 jam per minggu, jadinya jumlah mata pelajaran dalam pelaksanaan konkret di lapangan ditambah 2 mata pelajaran sehingga menjadi 18 dan 17 mata pelajaran. Jadinya di SMA sebenarnya jumlah mata pelajaran hampir sama dari sudut pandang waktu dalam Kurikulum 2013. Di SMK jumlah jam pelajaran per minggu bertambah dari 42 atau 44 menjadi 48 jam per minggu (ditambah 6 atau 4 jam). Kalau dikonversi jadinya bertambah 3 atau 2 mata pelajaran.

Total jam pelajaran berbagai negara

Total jam pelajaran di Finlandia sedikit, nomor 2 tersedikit namun prestasi siswanya unggul di peringkat atas pada tes-tes internasional. Non multa sed multum (makin sedikit makin baik) Mengapa Kurikulum 2013 menambah jam pelajaran? Apakah dengan belajar lebih lama anak Indonesia akan lebih pintar?

Finnish lessons

Pelajaran dari Finlandia:

“Lebih sedikit tes, lebih banyak belajar”

“Lebih banyak kreativitas, lebih kurang standardisasi”

“Pencegahan, bukan perbaikan”

“Anak-anak harus bermain”

  • Dengan dihapuskannya muatan lokal pada Kurikulum SD 2013, jam muatan lokal yang biasa diisi dengan pelajaran bahasa Inggris kehilangan kapling. Ini adalah satu kemunduran karena semakin banyak negara di dunia telah memasukkan pelajaran bahasa Inggris sejak SD, seperti Korea Selatan, Jepang, RRC, Arab Saudi, Suriah, Israel, Belanda, Prancis, dan Jerman.
  • Khusus mengenai bahasa asing kedua atau bahasa asing lainnya di SMA, pada Kurikulum 2006 bahasa asing lain selain bahasa Inggris, seperti bahasa Jerman, bahasa Prancis, Bahasa Jepang atau bahasa Mandarin diajarkan selama tiga tahun, dari kelas X s.d. XII. Sayang, dalam Kurikulum 2013 mata pelajaran bahasa asing lainnya itu dihilangkan Hanya diajarkan untuk peminatan bahasa. Ini amat merugikan negeri kita dalam persaingan global di abad ke-21. Di negara lain yang selama ini memenangkan persaingan ekonomi global, bahasa asing kedua, bahkan ketiga diajarkan selama 3 tahun di SMA. Dampak lainnya adalah pemecatan guru-guru bahasa asing lain di SMA. Nanti jika kurikulum berubah, sekolah sulit lagi mencari guru bahasa asing lain.
  • Pada sejumlah mata pelajaran, umumnya materi / kompetensi cenderung“sama” dengan Kurikulum 2006 (KTSP). Pertanyaan yang wajar diajukan adalah mengapa diganti?
  • Dari segi jumlah KD pada KTSP 2006 dalam Kurikulum 2013 terjadi “pembengkakan” jumlah KD. Jumlah KD total menjadi bertambah sebagai akibat digantikannya standar kompetensi dengan 4 kompetensi inti.
  • Kompetensi inti I yang berciri religius, yaitu menerima dan menjalankan ajaran agama yang dianutnya harus tercermin pada beragam KD mata-mata pelajaran membawa konsekuensi yang serius. Misalnya, contoh KD Biologi SMA. Kelas X: 1.1 Mengagumi keteraturan dan kompleksitas ciptaan Tuhan tentang keanekaragaman hayati, ekosistem, dan lingkungan hidup. Kelas XI: 1.1 Mengagumi keteraturan dan kompleksitas ciptaan Tuhan tentang struktur dan fungsi sel, jaringan, organ penyusun sistem dan bioproses yang terjadi pada makhluk hidup. Kelas XII: 1.1 Mengagumi keteraturan dan kompleksitas ciptaan Tuhan tentang struktur dan fungsi DNA, gen dan kromosom dalam pembentukan dan pewarisan sifat serta pengaturan proses pada makhluk hidup. Dalam pembelajaran Biologi misalnya dibahas tentang teori evolusi Charles Darwin yang berkaitan dengan asal usul manusia. Dari mana manusia berasal? Bagaimana proses penciptaan manusia? Nah, di sini bisa timbul persoalan jika guru Biologi membawa interpretasi agama guru yang bersangkutan. Kita tahu bahwa ajaran tentang penciptaan manusia itu berbeda-beda menurut agama Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghucu. Siswa yang tidak kritis dapat mengalami konflik kognitif karena terpengaruh oleh pandangan agama guru yang berbeda agama.
  • Kewirausahaan kurang ditekankan. Hanya eksplisit di SMA dan SMK dengan alokasi waktu 2 jam per minggu. Tidak tergambar dalam tujuan jenjang sekolah, tujuan kurikuler mata pelajaran. Walaupun hanya 2 jam per minggu pendidikan kewirausahaan sebenarnya dapat diintegrasikan dengan mata-mata pelajaran yang relevan. Misalnya, siswa memelihara ikan, ayam, kambing. Atau, siswa menanam sayur mayur atau tanaman penghasil buah. Praktik pendidikan kewirausahaan dapat diambil dari jam pelajaran Biologi dan Kimia sebagai aplikasi proses biologis dan kimiawi, dari jam pelajaran Ekonomi dan Akuntansi sebagai aplikasi konsep kebutuhan dan harga, promosi produk, dan pembukuan, serta jam pelajaran Matematika untuk menghitung selisih modal dan keuntungan. Orientasi ini tidak tampak dalam KD berbagai mata pelajaran.
  • Di SD penggabungan IPA ke terutama Bahasa Indonesia dan IPS ke terutama PPKn di kelas I – III bermasalah karena mengurangi penguasaan kompetensi siswa dalam mata pelajaran IPA dan IPS. Pengintegrasian semua mata pelajaran ke dalam tema-tema dengan menganut pendekatan tematik dari kelas I s.d. VI baik untuk mengurangi pengulangan dan tumpang tindih KD yang tak perlu. Namun, karena pemilihan tema dilakukan Pusat dan tema-tema yang dipilih masih umum serta tema-tema itu dituangkan ke dalam buku pelajaran, adaptasi dengan tema-tema dari lingkungan sekitar siswa menjadi terhambat. Padahal, di berbagai Negara pemilihan tema konkret dilakukan guru kelas atau guru mata pelajaran.
  • Mata pelajaran IPA dan IPS SMP yang terintegrasi menurunkan penguasaan siswa. Padahal, gurunya adalah spesialis mata pelajaran terpisah sesuai dengan jurusan studinya di fakultas keguruan universitas. Seharusnya dibenahi lebih dulu kurikulum di lembaga pendidikan tenaga kependidikan barulah dilakukan perubahan di lapangan.

tz-intro-o

Albert Einstein pernah tidak lulus ujian nasional SMA sehingga ia terpaksa tinggal kelas. Ketika berbaring di sakit ia diberi hadiah sebuah kompas. Dari sini bermula rasa ingin tahu Einstein tentang hukum yang mengatur alam semesta dan akhirnya mengantarnya meraih hadiah nobel Science dan menemukan Teori Relativitas yang menjadikannya sebagai tokoh ilmuwan terhebat selama milineum kedua. Sanggupkah kita menumbuhkembangkan “ilmuwan muda” (young scientist) jika kurikulum IPA kurang mendapatkan prioritas di SD dan SMP?

  • Pendekatan komunikatif pembelajaran bahasa Indonesia dan bahasa Inggris sejak Kurikulum 1994 sampai dengan KTSP 2006 diganti dengan pendekatan teks, padahal pendekatan teks itu adalah satu bagian dari pendekatan komunikatif. Dampaknya adalah penguasaan keterampilan-keterampilan berbahasa akan menurun. Padahal, di berbagai negara yang maju di bidang pendidikan, pendekatan komunikatif tetap dipakai.
  • Keberatan silabus kembali disusun oleh Pusat dalam pengembangan Kurikulum 2013 adalah wajar. Mengapa tugas guru mengembangkan silabus diambil alih oleh Pusat? Padahal, pada Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) 2003 dan KTSP 2006 telah 10 tahun guru dibiasakan. Di berbagai negara yang maju di dunia silabus tidak disusun Pusat tapi diserahkan kepada guru agar disesuaikan dengan kemampuan dan konteks siswa.
  • Instruktur Kurikulum 2013 SMK di DIY, Aragani Mizan Zakaria menyatakan, banyak guru SMK menilai isi materi buku pelajaran Bahasa Indonesia dan Sejarah terlalu sederhana. Guru SMK kelas X untuk 2 mata pelajaran ini menilai isi buku itu tidak sebanding dengan tujuan pembelajaran. Para guru dituntut mendorong siswa SMK membangun pola pikir untuk memecahkan masalah, mengelola kelompok kerja, dan menginisiasi penemuan baru. “Mereka menilai isinya terlalu biasa-biasa saja,” kata Kepala SMKN 2 Depok, Sleman. (http://koran.tempo.co/konten/2013/07/30/317395/Guru-Kritik-Panduan-Kurikulum-2013)

1243328602_school-abuse

Opportunities (Peluang) Kurikulum 2013

  • Kurikulum 2013 melanjutkan penekanan kepada metodologi belajar aktif yang telah dimulai sejak Kurikulum 1984, diteruskan pada Kurikulum 1994, Kurikulum Berbasis Kompetensi 2003, dan KTSP 2006. Kompetensi inti ketiga dan keempat mewadahi penekanan ini yang tercermin pada rumusan KD berbagai mata pelajaran. Kalau pendekatan ini konsisten dilakukan guru dari TK, SD sampai dengan SMA / SMK, para guru sebagai pemegang monopoli informasi dalam paradigma  pembelajaran berpusat kepada guru akan beralih ke peran guru sebagai fasilitator dalam paradigma pembelajaran berpusat kepada siswa. Harapan ini bisa tercapai jika lembaga pendidikan tenaga kependidikan menerapkan metodologi belajar aktif dan para guru dibina secara berkelanjutan melalui inservice training yang menekankan praktik langsung tanpa teori berlebihan.
  • Penetapan IPA dan IPS di SMP diajarkan / dipelajari secara terpadu dalam jangka panjang akan mendorong fakultas keguruan mengubah kurikulumnya agar calon guru IPA dan IPS disiapkan sebagai guru bidang studi, bukan guru spesialis mata pelajaran tersendiri.
  • Pejurusan di SMA dari awal kelas I (kelas X) memungkinkan siswa lebih mendalami mata-mata pelajaran peminatan. Yang masih mengganggu adalah porsi mata-mata pelajaran Kelompok A dan B yang bersifat umum yang masih mencakup 50% waktu. Saran kami adalah kepala sekolah dan guru dapat memodifikasi alokasi waktu yang ditetapkan secara nasional dalam Kurikulum 2013 dan dapat pula mengajarkan dengan sistem blok, misalnya Sejarah diajarkan secara intensif dalam waktu 1 – 2  bulan saja sehingga waktu yang tersisa dapat digunakan untuk memperdalam penguasaan mata pelajaran peminatan.
  • Penekanan kegiatan ekstrakurikuler Pramuka amat efektif untuk mengembangkan karakter siswa asalkan dilaksanakan secara serius dan konsisten.
  • Munculnya kewirausahaan dalam mata pelajaran Prakarya dan Kewirausahaan di SMA dan SMK merupakan langkah awal agar sekolah mulai memperhatikan pendidikan kewirausahaan yang dapat dilakukan dengan melibatkan guru-guru mata pelajaran yang relevan, seperti Biologi, Kimia, Ekonomi dan Akuntansi, dan Matematika serta mata-mata pelajaran yang relevan di SMK.

4a962ca7_771382cf_4a94a84d_58770434_1245515314_200906210131032906222601_01

Threats (Ancaman) Kurikulum 2013

  • Yang terpenting adalah pembenahan sistem pendidikan secara menyeluruh. “Quality is the result of the system”. Mutu adalah hasil dari sistem. (Edward Demings). Kalau sistem pendidikan guru, rekrutmen guru, prioritas alokasi dana bagi daerah dan sekolah yang tertinggal, manajemen kepala sekolah dan dinas pendidikan, format evaluasi dan ujian nasional, inservice training bagi guru tidak dibenahi, perubahan kurikulum hanyalah isapan jempol, akan sia-sia.
  • Peningkatan mutu pendidikan, prestasi belajar siswa tidak hanya bergantung kepada perubahan kurikulum. Yang lebih penting adalah mengubah mindset guru, paradigma dan kebiasaan guru dari guru sebagai pusat menjadi siswa sebagai pusat dalam proses pembelajaran. Harapan ini akan tercapai jika induksi inovasi ditekankan pada lembaga pendidikan tenaga kependidikan dan sistem inservice training guru dan kepala sekolah dilakukan secara kontinu dengan menekankan praktik dan dilanjutkan dengan inhouse training guru dan kepala sekolah di tiap unit sekolah.
  • Kurikulum yang dikendalikan buku teks (textbook-driven curriculum) dalam pelaksanaan yang selama ini dianut sampai dengan pencetakan buku pelajaran pemerintah yang berbarengan dengan pengembangan kurikulum akan membuat guru kurang kreatif, hanya berperan sebagai penyampai isi buku pelajaran. Padahal, implementasi kurikulum yang berhasil didukung oleh pemanfaatan beragam sumber belajar, seperti pengalaman siswa, lingkungan sekitar, produk cetakan, program audiovisual, serta internet. Buku pelajaran hanyalah satu sumber belajar.
  • Format ujian nasional yang masing berkutat kepada bentuk soal pilihan ganda akan mengkerdilkan capaian kurikulum. Karena, guru cenderung memilih jalan termudah dengan menekankan hafalan dan latihan soal kepada siswa. Belajar aktif yang didengungkan Kurikulum 2013 akan ditinggalkan para guru demi mengejar target lulus ujian nasional. Hanya kompetensi pada tingkat kognitif rendah yang ditekankan para guru. Pengembangan kompetensi psikomotor serta sikap dan nilai akan diselepekan para guru.
  • Walaupun guru adalah ujung tombak pendidikan, tanpa kepala sekolah yang baik ujung tombak itu akan tumpul dan tak akan mengenai sasaran. Tanpa pemberdayaan kemampuan kepemimpinan dan manajemen kepala sekolah, inovasi yang dibawa Kurikulum 2013 hanyalah isapan jempol. Tanpa dukungan manajemen berbasis sekolah yang menekankan transparansi, akuntabilitas, sikap demokratis, kerja sama, dan saling percaya, implementasi kurikulum akan berakhir pada capaian pas-pasan (mediocre).

Struktur program kurikulum Berikut ini disajikan perbandingan struktur program kurikulum SD, SMP, SMA, dan SMK menurut KTSP 2006 dan Kurikulum 2013.

Perbandingan struktur program kurikulum SD 2006 dan 2013

Struktur kurikulum SD 2006 dan 20013

Jumlah mata pelajaran berkurang dari 10 menjadi 8 tetapi jumlah jam pelajaran per minggu bertambah 4, 5, dan 6 jam. Pendekatan tematik yang sebelumnya hanya di kelas I, II, dan III kini diteruskan di kelas IV, V, dan VI. Yang mengkhawatirkan kemampuan berkompetisi di dunia glogal adalah dimasukkannya Ilmu Pengetahuan Alam terutama ke Bahasa Indonesia dan Ilmu Pengetahuan Sosial terutama ke Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan di kelas I – III SD. Tak ada negara di dunia yang mengambil kebijakan konyol seperti ini.

conquest-of-space2-1954-o

Perbandingan struktur program kurikulum SMP 2006 dan 2013

Struktur kurikulum SMP 2006 dan 2013

Jumlah mata pelajaran berkurang dari 12 menjadi 10 tetapi jumlah jam pelajaran per minggu bertambah 6 jam.

Struktur program kurikulum SMA menurut KTSP 2006

Mata pelajaran SMA Kelas 1 KTSP 2006

Jumlah mata pelajaran 18 dan jumlah jam pelajaran per minggu 38.

Mata pelajaran SMA Jurusan IPA Kelas XI dan XII

Mata pelajaran SMA Jurusan IPS Kelas XI dan XII

Mata pelajaran SMA Jurusan Bahasa Kelas XI dan XII

Mata pelajaran SMA Jurusan Keagamaan Kelas XI dan XII

Khusus mengenai bahasa asing, Kurikulum 2006 mewajibkan siswa SMA mempelajari bahasa asing kedua di samping bahasa Inggris. Mata pelajaran bahasa asing kedua ini hilang dalam Kurikulum 2013. Apakah ini adalah dampak kerja terburu-buru menyusun Kurikulum 2013?

science-o 5

Struktur program kurikulum sekolah menengah Kurikulum 2013

Mata pelajaran pendidikan menengah

7621300-looking-at-difficult-complex-mathematics-equation-on-balckboard

Struktur program Kurikulum 2013 SMA

Struktur program Kurikulum SMA 2013

Struktur program peminatan Kurikulum SMA 2013

Di SMA jumlah mata pelajaran dikurangi dari  18 menjadi 16 dan 15 mata pelajaran tapi jumlah jam per minggu ditambah dari 38 menjadi 42 jam di kelas II dan III (ditambah 4 jam). Kalau tambahan 4 jam ini dikonversi dengan patokan 1 mata pelajaran 2 jam per minggu, jadinya jumlah mata pelajaran dalam pelaksanaan konkret di lapangan ditambah 2 mata pelajaran sehingga menjadi 18 dan 17 mata pelajaran. Jadinya di SMA sebenarnya jumlah mata pelajaran hampir sama dari sudut pandang waktu dalam Kurikulum 2013.

Struktur program Kurikulum 2013 SMK 3 tahun

Mata pelajaran umum SMK 3 tahun Kurikulum 2013

Struktur program Kurikulum 2013 SMK 4 tahun

Mata pelajaran umum SMK 4 tahun Kurikulum 2013

Di SMK jumlah jam pelajaran per minggu bertambah dari 42 atau 44 menjadi 48 jam per minggu (ditambah 6 atau 4 jam). Kalau dikonversi jadinya bertambah 3 atau 2 mata pelajaran. Proporsi waktu untuk mata pelajaran umum (Kelompok A dan B) 24 jam dan untuk kelompok C peminatan 24 jam. Perbandingannya 50% : 50%.

Struktur program Kurikulum 2013 SMK bidang keahlian teknologi dan rekayasa

Mata pelajaran bidang keahlian teknologi dan rekayasa

Struktur program Kurikulum 2013 SMK bidang keahlian teknologi dan informasi

 Mata pelajaran bidang keahlian teknologi dan informasi

Struktur program SMK Kurikulum 2013 bidang keahlian kesehatan

Mata pelajaran bidang keahlian kesehatan

weird-science-o 4 Kesehatan

Struktur program SMK Kurikulum 2013 bidang keahlian agribisnis dan agriteknologi

Mata pelajaran bidang keahlian agribisnis dan agriteknologi

296

Struktur program SMK Kurikulum 2013 bidang keahlian perikanan dan kelautan

 Mata pelajaran bidang keahlian perikanan dan kelautan

Struktur program SMK Kurikulum 2013 bidang keahlian bisnis dan manajemen

Mata pelajaran bidang keahlian bisnis dan manajemen

education-connection-o 2

Struktur program SMK Kurikulum 2013 bidang keahlian pariwisata

 Mata pelajaran bidang keahlian pariwisata

Struktur program SMK Kurikulum 2013 bidang keahlian seni rupa dan kriya

Mata pelajaran bidang keahlian seni rupa dan kriya

high-school-musical-3-1-o

Struktur program SMK Kurikulum 2013 bidang keahlian seni pertunjukan

 Mata pelajaran bidang kealian seni pertunjukan

  Apa solusi kita?

Rincian berikut ini bukanlah peluang Kurikulum 2013. Walaupun kurang ditekankan atau dilalaikan dalam dokumen Kurikulum 2013, sekolah dapat menciptakan sendiri peluang sesuai dengan tuntutan zaman. Ini adalah contoh berpikir di luar kotak (thinking outside the box).

  • Orientasi kepada berpikir kritis dan memecahkan masalah, komunikasi dan kolaborasi, rasa ingin tahu dan imajinasi, kreativitas dan inovasi, inisiatif dan kewirausahaan, serta pengembangan karakter melalui proses peneladanan dan proses pembiasaan.
  • Peralihan dari time-based education kepada penekanan metodologi belajar aktif. Alokasi waktu dalam struktur program Kurikulum 2013 dapat dimofikasi kepala sekolah dan guru guna memenuhi kebutuhan dan kepentingan belajar siswa. Caranya dengan mengurangi jam pelajaran mata pelajaran tertentu dan menambah jam pelajaran lain dan juga memunculkan mata pelajaran yang dinilai amat penting yang tidak ada dalam Kurikulum 2013.
  • Dari orientasi ilmu kepada kecakapan hidup (life skills).
  • Dari pencari kerja ke pencipta kerja melalui integrasi pendidikan kewirausahaan dalam kurikulum yang berlaku.
  • Dari mendidik anak menjadi konsumen ke arah menjadi produsen.
  • Dari pengajaran berbasis buku teks ke beragam sumber belajar, termasuk teknologi informasi dan komunikasi.
  • Dari penekanan potensi otak kiri ke penekanan potensi otak kanan melalui pengembangan kreativitas sebagai hasil sinergi otak kiri dan kanan.
  • Penerapan hasil penelitian otak ke arah belajar berbasis otak (brain-based learning).
  • Grup perusahaan besar pun diharapkan ikut terlibat merancang kurikulum Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). “Misalnya kita kontak Astra. Kita nggak mau SMK kita belajar sesuatu yang tidak dipakai pabrik otomotif di sini. Lebih baik kontak dengan mereka kamu pengen kurikulum seperti apa,” jelas Ahok di Balai Kota DKI, Selasa (20/8/2013).
  • Ahok: Bagian Pemprov DKI menyediakan sekolah dan guru. Kurikulumnya diserahkan kepada grup perusahaan otomotif, disesuaikan dengan kebutuhannya. “Daihatsu, Toyota, mobil Eropa seperti apa. Kelas ini urusan Toyota misalnya. Kita adakan kurikulum SMK,” lanjutnya.
  • Kurikulum yang ada masih terlalu umum. Perusahaan masih harus mengadakan pelatihan kepada pekerja barunya.
  • http://news.detik.com/read/2013/08/20/092739/2334759/10/ahok-ingin-gandeng-perusahaan-besar-untuk-rancang-kurikulum-smk
  • Penerapan konsep link & match bisa lebih ditingkatkan dalam penerapan kurikulum SMK.

Berantam

Pendidikan karakter & perkembangan otak Pada Kurikulum 2013 tampak penekanan berlebihan kepada proses pembelajaran sebagai wahana pendidikan karakter. Kurang ditekankan pendidikan karakter melalui proses peneladanan dan proses pembiasaan kepada siswa. Padahal, menurut hasil riset otak terbaru, perkembangan otak anak itu dimulai dari belakang, dari cerebellum untuk koordinasi fisik, lalu ke tengah, yaitu nucleus accumbens untuk memunculkan motivasi dan kemudian amygdala sebagai pusat emosi, dan terakhir prefrontal cortex yang berperan melakukan penilaian dan keputusan benar-salah dan baik-buruk.

 perkembangan otak mulai dari belakang

Otak dan bagiannya

Perkemangan otak judgment terakhir

Perkemangan otak 24 tahun seimbang

Seorang muslim ketika dewasa rajin melakukan sholat dan taat berpuasa pada bulan puasa. Mengapa ia mampu melakukan perbuatan baik itu? Karena, sejak kanak-kanak ia telah dibiasakan melakukan sholat dan belajar berpuasa. Proses pembiasaan ini didukung oleh teladan orang tua. Dari kebiasaan barulah secara bertahap muncul motivasi dan perasaan senang melakukan kebiasaan ini. Hal ini berlaku untuk kebiasaan beribadah pada semua agama.

Perubahan perilaku mulai dari kaki sesuai otak

Apakah anak TK, siswa SD dan SMP telah menyadari kebaikan perbuatan ini? Menurut hasil penelitian otak, pada umumnya orang mampu menilai dan mengambil keputusan berdasarkan pertimbangan benar-salah dan baik-buruk secara sadar baru pada usia 24 tahun. Ini berarti setelah menjadi sarjana dan mulai bekerja. Karena itu, pendidikan karakter melalui proses pembelajaran bisa terpeleset ke kebiasaan guru memberi nasihat berulang kali kepada siswa agar melakukan perbuatan baik, kebiasaan baik yang dituntut pendidikan karakter. Yang lebih penting adalah siswa dibiasakan melakukan perbuatan dan kebiasaan yang mencerminkan nilai-nilai karakter yang baik. Pembiasaan ini akan berhasil jika didukung teladan dari guru, kepala sekolah, dan orang tua. Dalam dokumen Kurikulum 2013 banyak sekali nilai-nilai pendidikan karakter yang diharapkan ditumbuhkembangkan dalam diri siswa. Kompetensi inti – diambil contoh kompetensi inti 1 dan 2 SMP – tampak penekanan kepada pendidikan karakter. 1. Menghargai dan menghayati ajaran agama yang dianutnya. 2. Menghargai dan menghayati perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli (toleransi, gotong royong), santun, percaya diri, dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam dalam jangkauan pergaulan dan keberadaannya. Kompetensi religius (kompetensi inti pertama) mengandung banyak sekali nilai-nilai religius pada tiap agama. Kompetensi sosial (kompetensi inti kedua) menekankan nilai kejujuran, kedisiplinan, tanggung jawab, peduli (toleransi, gotong royong), santun, dan percaya diri. Hal ini dapat menyulitkan guru karena dalam pikirannya berseliweran sekian banyak nilai dan bisa bingung mau menerapkan nilai yang mana. Guna memudahkan guru, kami melakukan simulasi dengan para guru dengan latar belakang agama yang berbeda. Kami gunakan 12 nilai kehidupan (living values) yang digunakan di banyak negara di dunia. Dengan guru-guru yang beragama yang sama, dilakukan curah pendapat nilai mana yang merupakan sebab dan nilai mana yang merupakan akibat. Ditarik garis panah dari nilai penyebab ke nilai akibat.

Hubungan sebab akibat antar nilai kehidupan

Cinta inti nilai kehidupan

Hasil simulasi dengan kelompok guru beragama Islam, kelompok guru beragama Kristen, kelompok guru beragama Katolik, kelompok guru beragama Buddha, kelompok guru beragama Hindu, dan kelompok guru beragama Konghucu ternyata sama. Nilai cinta terpilih sebagai nilai hakiki yang menjadi penyebab, pendorong berkembangnya 11 nilai kehidupan yang lain. Ini berarti guru tak perlu bingung dengan sekian banyak nilai yang dituntut. Asalkan guru dan sekolah terfokus kepada tumbuh-kembang nilai cinta sebagai nilai hakiki, proses tumbuh kembang nilai-nilai karakter yang lain akan lebih mudah dan akan tertanam lebih kuat dalam diri siswa. Pendidikan lintas budaya Karena Kurikulum 2013 tidak berorientasi kepada pendidikan lintas budaya atau multikultural, kepala sekolah dan guru dapat mengintegrasikan kompetensi-kompetensi dasar pada mata-mata pelajaran yang relevan dengan menggunakan pendekatan pendidikan lintas budaya. Tiap siswa tidak hanya belajar mengenal identitas dirinya seperti agama dan budayanya tetapi juga mengenal identitas temannya yang berbeda agama dan budaya dengannya. Selanjutnya, pengenalan ini ditingkatkan melalui proses peneladanan dan proses pembiasaan menghargai agama dan budaya orang lain melalui tindakan dan praktik konkret di sekolah. Saling mengenal dan menghargai orang yang berbeda agama dan budaya dapat tercapai jika siswa memahami dan menyadari bahwa toleransi, persatuan, dan perdamaian tak mungkin dicapai tanpa keadilan dan kasih sayang. Keadilan adalah memberi hak kepada orang yang berhak sedangkan kasih sayang adalah memberi apa yang bukan menjadi hak orang lain.

Apa kata Panda

kucing hitam putih asia

Membenci dan menghina agama lain, apalagi melakukan kekerasan terhadap penganut agama lain itu absurd.  Saya ini juga putih, hitam, dan Asia. Tiap orang mengasihi saya. Wahai manusia, hentikan saling membenci dan mulailah saling mencintai.

anjing dan kucing 5

Kami, kucing dan anjing sering mendengar hardikan antar-manusia, “Eh, kamu kayak kucing dan anjing!” Kamu, manusia berpikir bahwa dari kodratnya kami ini bermusuhan. Siapa bilang? Kami, kaum binatang bisa saling menyayangi melalui peneladanan dan pembiasaan. Wahai manusia, belajarlah dari kami!

kucing dan anjing 4

“Kami bisa saling menolong. Belajarlah gotong royong dan Bhinneka Tunggal Ika dari kami!”

Belajar aktif Belajar aktif sebagai metodologi mengajar ditekankan sejak Kurikulum 1984. Tetapi, sampai sekarang metodologi ini belum tertanam sebagai kebiasaan di dunia persekolahan Indonesia. Kurikulum 2013 kembali menekankan proses pembelajaran aktif. Guru pun tidak bisa melaksanakan belajar aktif jika tidak ditatar dengan metodologi belajar aktif. Demikian pula, harapan belajar aktif menjadi kebiasan hanyalah khayalan belaka jika lembaga pendidikan guru tidak menerapkan belajar aktif dalam proses perkuliahan.

Belajar efektif = mengalami

Dari pengalaman kami mengembangkan sekolah model dan menatar para guru di berbagai daerah, belajar aktif mengandung unsur-unsur seperti terlihat pada gambar berikut ini.

Unsur belajar aktif

Belajar aktif yang berciri learning is fun tidak mengorbankan kedalaman penguasaan materi dan kompetensi siswa. Bahkan, belajar aktif mendorong penguasaan siswa yang mendalam, mendorong pencapakain hasil belajar yang bermutu.

 Hasil belajar bermutu

Hasil belajar bermutu 3

Hasil belajar bermutu 2

 

Agar menjadi kebiasaan belajar aktif tak mungkin dilaksanakan guru hanya melalui satu-dua kali penataran. Harus dilakukan penataran berkala secara berkelanjutan. Penataran pun tidak boleh satu arah yang diisi ceramah sambil menayangkan slides powerpoint dan dilanjutkan dengan diskusi dan tugas membuat rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP). Penataran harus diisi dengan porsi kegiatan praktik lebih banyak, termasuk praktik mengajar dengan siswa. Berikut ini dikemukan gambar dari pelatihan belajar aktif bagi guru SD dan praktik belajar aktif siswa di Flores.

 Guru Flores mengubah diri

Belajar di luar kelas

Belajar matematika dengan gerakan 2

Belajar di alam 2

Melayang terapung tenggelam

School assembly anak Flores

Belajar aktif disesuaikan dengan konteks daerah, sekolah, dan siswa. Berikut ini dikemukakan foto contoh praktik belajar aktif siswa di sekolah di wilayah perkotaan, dalam hal ini TK, SD, SMP, dan SMA Kristoforus di Grogol, Jakarta Barat dan di Palem, Cengkareng. Belajar aktif bisa diterapkan persekolahan ini karena yayasan melihat tantangan agar sekolah bertahan adalah melalui peningkatan mutu. Yayasan mengalokasikan dana untuk pelatihan guru. Bersama pembina yayasan kami membantu mendampingi inovasi metodologi belajar guru dan mendorong kepala sekolah agar mendukung proses inovasi.

Belajar aktif TK Kristoforus Grogol

Anak-anak TK senang belajar sambil bermain

Belajar aktif TK Kristoforus Grogol 2

Belajar yang manjur bagi anak TK adalah melalui melakukan, memanipulasi benda, bermain dengan beragam benda alamiah dan buatan pabrik

Belajar aktif TK Kristoforus Palem Cengkareng

Bernyanyi sambil bergerak berirama

Belajar aktif TK Kristoforus Palem Cengkareng 2

Belajar aktif TK dan SD Kristoforus Grogol School Assembly

School assembly TK dan SD Kristoforus

Belajar aktif TK dan SD Kristoforus Grogol School Assembly 2

School assembly TK dan SD Kristoforus. School assembly sebagai wahana pengembangan karakter siswa yang umum dilakukan di negara-negara Barat kami introduksi di sekolah-sekolah yang kami bina, seperti di Tapanuli Utara, Jakarta, Yogyakarta, NTT, Maluku, Maluku Utara sampai di Merauke, Papua.

Belajar aktif IPS SD Kristoforus Grogol

Anak SD membuat peta timbul dengan koran dan kanji

Belajar aktif SD Kristoforus Grogol

Anak SD belajar tentang daun dalam kelompok

Belajar aktif SMP Kristoforus Grogol 2

Belajar aktif siswa SMP

Belajar aktif SMP Kristoforus Grogol

Belajar aktif siswa SMP

Belajar aktif SMA Kristoforus Grogol

Belajar aktif Kimia siswa SMA

Belajar aktif SMA Kristoforus Grogol 2

Belajar aktif SMA Kristoforus Grogol 3

Observasi membandingkan ciri-ciri tumbuhan monokotil dan dikotil

Creativity and success

Guna memudahkan guru dalam melaksanakan belajar aktif, guru hendaknya menyadari bahwa hakikat dan inti belajar aktif itu adalah kreativitas. Jika kita ingin menyiapkan anak-anak kita menghadapi tantangan globalisasi abad ke-21, satu jalan yang paling manjur adalah berorientasi dan menekankan kreativitas dalam seluruh aktivitas sekolah.

Kreativitas berbagai bidang

Kreativitas sebagai pensinergi otak kiri dan kanan akan berhasil jika sekolah menekankan hal-hal seperti tertulis pada gambar ini.

Kecerdasan majemuk dan kreativitas

Kreativitas adalah pensinergi potensi otak kiri dan otak kanan siswa yang tercermin pada multi-kecerdasan menurut Howard Gardner, yaitu kecerdasan bahasa (word smart), kecerdasan  logika-matematika (logic smart), kecerdasan visual-spasial (picture smart), kecerdasan kinestetik (body smart), kecerdasan musikal (music smart), kecerdasan natural (nature smart), kecerdasan antarpribadi (people smart), dan kecerdasan intrapribadi (self smart). Dalam pembelajaran dan seluruh aktivitas sekolah, guru hendaknya menerapkan pengembangan tidak hanya kecerdasan intelektual tapi semua jenis kecerdasan dalam konsepsi multi-kecerdasan.

tototo-o

Tanpa imajinasi, kreativitas siswa tidak berkembang. Sejauh mana guru-guru kita mendorong daya imajinasi siswa?

Pendidikan kewirausahaan Satu langkah maju dalam Kurikulum 2013 adalah munculnya mata pelajaran Prakarya dan Kewirausahaan di SMP, SMA, dan SMK. Sayang tidak muncul secara eksplisit di SD. Sejak beberapa tahun lalu, kami masukkan gagasan unit produksi yang biasa dilakukan d SMK pada sekolah umum, mulai dari TK, SD, SMP sampai dengan SMA. Unit produksi merupakan wadah praktik wirausaha siswa, bukan hanya melalui mata pelajaran keterampilan, prakarya, atau kewirausahaan saja. Tetapi juga, diterapkan dalam kaitan dengan mata-mata pelajaran yang relevan dan dalam kerja sama dengan guru mata pelajaran seperti IPA, Biologi, Kimia, Fisika, IPS, Ekonomi dan Akuntansi, Kesenian dan dalam beragam kegiatan ekstrakurikuler yang relevan. Berikut ini dikemukakan gambar dari pelatihan unit produksi bagi guru-guru di Flores dan di Yogya.

Guru Flores membuat telur

Guru Flores membuar pocari sweat

Guru Flores membuat kripik

Guru Flores membuar abon ikan

Guru Flores membuar jagung titi emping

Guru Flores membuat ikan asin

Guru SD Mangunan membuat pupuk organik

Guru SD Mangunan membuat pupuk kompos

Guru SD Mangunan membuat menanam dalam polibag

Menanam di pot hidroponik

Wirausaha menanam pohon uang

Bacalah posting terkait:

https://sbelen.wordpress.com/2014/12/08/kelemahan-struktural-kurikulum-2013-kritik-kami-di-tweeter-facebook/

.

Advertorial

Dodgeball-tricking-headshot

Tifus

Kunjungilah posting ini:

https://sbelen.wordpress.com/2013/05/03/bawang-putih-cuka-apel-madu-jahe-lemon-jantung-sehat-tubuh-bugar/

gambar-spanduk-sano

Sano sembuhkan tifus

Kartu nama Yuni 3.

Khasiat FIDES & HP pemesanan

Kunjungilah:

https://sbelen.wordpress.com/2015/06/11/habbatussauda-jintan-hitam-bawang-putih-jahe-lemon-madu-diabetes-stroke-penyakit-komplikasi-sembuh-tubuh-sehat/

Bagaimana ujian nasional (UN) di Belanda?

April 20, 2013

EINDEXAMEN-VWO-NEDERLANDS

Siswa Belanda sedang mengerjakan ujian nasional

The Legatum Institute melaporkan bahwa 87% warga Belanda puas dengan sistem pendidikan negaranya dan 94% penduduk percaya bahwa para siswa memiliki kesempatan untuk belajar dan bertumbuh di sekolah.

Para pengambil keputusan sistem pendidikan Belanda dan negara-negara di Eropa sedang mengintip sistem pendidikan Finlandia yang ngetop di negara-negara OECD dan untuk meniru mereka tak terlalu sulit karena kondisinya tak jauh berbeda. Apalagi, dalam European Union negara-negara di Eropa sedang berproses ke “The United States of Europe“. Sistem kurikulum dan ujian nasional mereka mungkin tak lama lagi akan mengikuti pola Finlandia, yang menghapus ujian nasional di SD dan sekolah menengah dan hanya menyisakan tes matrikulasi untuk masuk ke jurusan di universitas yang sesuai dengan bakat dan minat siswa.

Di Belanda, ujian nasional SD bersifat optional, sekolah boleh memilih ikut atau tidak ikut. Hal ini dinyatakan oleh orang-orang dari CITO (The National Institute for Educational Measurement, semacam Puspendik Balitbang Dikbud di kita) tahun 2001, waktu diundang Pusat Kurikulum. Namun, banyak SD di sana tak mau ketinggalan, ramai-ramai ikut UN agar dihargai masyarakat dan lulusannya mulus masuk sekolah menengah. CITO menyatakan bahwa sekitar 85% SD ikut UN ini.

school_children1

Siswa SD Belanda sedang mengerjakan ujian nasional

Gambaran struktur pendidikan Belanda dapat dilihat pada gambar berikut ini,

Sistem pendidikan Belanda

Tujuan UN SD adalah dasar bagi siswa untuk memilih tiga jalur, yaitu (1) sekolah menengah akademis (VWO) 6 tahun yang merupakan jalur bergengsi masuk universitas. Ya, gymnasium biasanya masuk kategori ini; (2) sekolah menengah umum (HAVO) 5 tahun yang berciri sekolah komprehensif seperti sekolah GCSE di Inggris, semacam gabungan SMP dan SMA di Indonesia; dan (3) sekolah menengah vokasional / kejuruan (VMBO) 4 tahun, semacam SMK di Indonesia. Pada akhir program 3 jalur ini siswa mengikuti ujian nasional tapi nilai yang tercantum di ijasah diambil dari hasil ujian internal sekolah 50% dan 50% dari hasil ujian nasional. Siswa cenderung hanya mengikuti ujian nasional 2 atau 3 mata pelajaran saja. Tidak seperti di Indonesia, siswa SMP harus mengikuti ujian semua mata pelajaran yang diujikan dan siswa SMA harus mengiuti ujian semua mata pelajaran yang diujikan pada jurusan IPA, IPS atau Bahasa SMA.

Pada 2 tahun pertama di sekolah menengah siswa dapat berpindah jalur kalau merasa tidak cocok. Hasil ujian SD juga tidak mutlak menentukan jalur sekolah menengah yang dipilih karena siswa dan orang tua punya kebebasan untuk memilih jenis sekolah yang diinginkan.

Bahasa Inggris menjadi mata pelajaran wajib di SD dan di sekolah menengah akademis dan umum ditambah pilihan mata pelajaran bahasa asing lainnya. Bahasa asing lain yang populer dipilih adalah bahasa Jerman dan Prancis.

Di samping UN, CITO menerbitkan tes-tes pilihan dalam mata-mata pelajaran, seperti Bahasa Belanda, Bahasa Inggris, Matematika, mata-mata pelajaran IPA dan IPS yang dapat diikuti siswa agar guru bisa memantau kemajuan belajar siswa. Tes-tes ini berciri diagnostik dan hasil diagnosis guru dapat digunakan untuk meningkatkan pembelajaran dan membantu siswa.

Ujian nasional di Belanda bukan seperti di Indonesia yang mendewakan tes pilihan ganda. Di sana berbagai bentuk alat penilaian digunakan, yaitu tes lisan, tertulis (tes jawaban terbuka atau esai dan tes pilihan ganda), serta praktik. Pendewaan tes pilihan ganda ternyata berdampak kepada upaya contek-mencontek, kebocoran soal melalui beredarnya kunci jawaban, guru bahkan pengawas membantu siswa mengerjakan ujian, dan pernah malah diterjunkan Densus 88 untuk menggerebek siswa yang sedang mengikuti UN.

Exames_Image7

Ujian nasional SMA di Belanda tidak dibuat seram alias genting. Siswa boleh bawa kamus dan rumus. Tapi, soalnya berbentuk esai sehingga mungkin tidak sempat buka kamus dan lihat rumus. Yang penting, kecurangan bisa ditekan seminimal mungkin agar tidak membuayarkan buah pendidikan karakter yang dibina sekian lama.

 

Untuk mengatasi kebocoran soal dan karut marut ini diintroduksi 20 jenis kertas ujian yang berdampak kepada keterlambatan pencetakan dan pengiriman bahan ujian ke sekolah. Belum lagi jika dipersoalkan apakah 20 jenis kertas ujian itu memiliki validitas kesetaraan. Mungkin ada benarnya kata para pengusaha, “Kalau pemerintah itu suka mempersulit apa yang sebenarnya mudah dikerjakan, tapi kalau pengusaha suka mempermudaha apa yang sulit dikerjakan.”

Kalau kita belum bisa mengikuti sistem pendidikan Finlandia yang menghapus ujian nasional, paling tidak kita bisa mengikuti format ujian nasional yang dicontohkan Belanda dan juga negara-negara lainnya.

Sumber:

http://www.ncee.org/programs-affiliates/center-on-international-education-benchmarking/top-performing-countries/netherlands-overview/netherlands-instructional-systems/

http://myinternationaladventure.com/01/live-in-the-netherlands/4/

 

Kunjungilah posting yang berkaitan:

https://sbelen.wordpress.com/2013/04/17/sedih-menyaksikan-amburadulnya-ujian-nasional-un-tahun-ini/

https://sbelen.wordpress.com/2010/05/08/ganti-sistem-ujian-nasional-dengan-menerapkan-sistem-open-book-test-dan-tes-terstandar/

https://sbelen.wordpress.com/2008/12/29/belajar-aktif-pakem-ujian-nasional-un-ibarat-air-dengan-minyak/

https://sbelen.wordpress.com/2011/08/08/mengapa-mutu-pendidikan-finlandia-terbaik-di-dunia/

https://sbelen.wordpress.com/2011/05/15/mengapa-peringkat-kelulusan-un-2011-siswa-smantt-tetap-di-nomor-buntut/

https://sbelen.wordpress.com/2011/01/11/3-tahun-banyak-siswa-tak-lulus-un-pecat-guru/

https://sbelen.wordpress.com/2008/07/30/tes-remidial-di-sd-sma-dan-sma-itu-salah-kaprah/

https://sbelen.wordpress.com/2008/07/09/mengapa-kita-memaksa-siswa-mempelajari-semua-mata-pelajaran/

https://sbelen.wordpress.com/2011/05/16/hasil-un-ntt-jeblok-tas-anak-sekolah-ntt-kempes/

 

 

 

Iklan

Naik kambing

Sakit kanker

 

Kunjungilah posting ini:

https://sbelen.wordpress.com/2013/05/03/bawang-putih-cuka-apel-madu-jahe-lemon-jantung-sehat-tubuh-bugar/

https://sbelen.wordpress.com/2013/04/15/sano-ramuan-herbal-berkhasiat-mulai-bisnis-di-usia-62-tahun/

Gambar spanduk Sano

sano-serang-sel-kanker

Kartu nama Yuni 3

Sedih menyaksikan amburadulnya ujian nasional (UN) tahun ini

April 17, 2013

900x900px-LL-2219f1ca_after_being_proven_wrong_in_an_argument-13550

Cermin sistem pendidikan yang kurang menghargai hak anak untuk bertumbuhkembang, mengemukakan pendapat, dan menyeragamkan anak menurut kurikulum nasional yang kaku dan ujian nasional yang menekankan aspek kognitif sambil melalaikan aspek afektif.

Hati kita sedih menyaksikan hiruk pikuk dan amburadulnya urusan ujian nasional (UN). Marilah kita mendengarkan jeritan dari lapangan berikut ini. Kemarin pagi kami menerima email dari seorang Kepala SMA di Sibolga, Sumatera Utara. Tahun lalu kami menatar guru-gurunya 2 hari tentang contextual teaching & learning melalui praktik nyata dalam workshop.  Kemarin malam, seorang kepala sekolah di Halilulik, Kabupaten Belu, Timor menelepon dan protes terhadap penundaan UN di 11 provinsi, termasuk NTT. Isi protesnya mirip dengan yang dikemukakan kepala SMA di Sibolga. Perkenankan membaca email dari Sibolga itu dan jawaban kami

Pak Sil,

Selamat Pagi

Ujian nasional (UN) di sebagian negeri ini tidak serempak dilaksanakan hari ini (15-04-2013) sesuai POS. Pak Menteri cuma minta maaf. Kenapa ia tidak langsung menarik diri saja. Ini mengecewakan semua komponen pendidikan bangsa ini. Mengapa UN sudah dilaksanakan bertahun-tahun dan tahun ini terbengkelai? Benarkah sifat secret UN masih terjamin? Sudah waktunya pemerintah harus berpikir untuk meningkatkan mutu pendidikan di sekolah masih-masing sambil diawasi ketat oleh Dikbud. Kami di lapangan selalu menjadi sasaran dimaki-maki, karena ulah seperti ini. Terhambat UN anak-anak stres, biaya membengkak, habis waktu. Kerja tanpa perencaan yang matang seperti terjadi pada UN tahun ini.

Terima kasih

Tanggapan kami:

Ya, saya sendiri merasa malu kok birokrat bekerja semakin tidak profesional. Bikin kurikulum terburu-buru, bikin soal dan kertas ujian nasional amburadul. Menteri tidak memperlihatkan sense of crisis. Di TV malam ini menteri tanggapi imbauan untuk mengundurkan diri dengan berlangkah mundur lalu maju. Aduh, kok saya yang merasa malu, menunjukkan perilaku yang melecehkan para guru dan kepala sekolah yang kesal karena UN tertunda di 11 provinsi.

Apa gunanya jabatan jika hanya untuk menunjukkan sok kuasa atau melayani kepentingan anak didik, kepentingan rakyat.

Model, format UN dengan soal pilihan ganda itu yang bikin perkara, melestarikan urusan baku tipu yang melanda sejumlah kepala sekolah, guru, dan siswa. Kemdikbud juga membuat kebijakan nyetor rapor dan membuat soal yang gampang-gampang agar banyak yang lulus. Bukankah ini sebuah pembohongan publik? Mengapa sih kita tidak ubah format UN dengan memasukkan ujian praktik, dengan menerapkan penilaian portofolio atau dengan menerapkan open book test dan tes terstandar yang diberikan di kelas-kelas tertentu dalam rentang waktu belajar di satu jenjang sekolah.

Model UN kita sekarang masih berada di paradigma hard pedagogy, memvonis siswa lulus atau tidak lulus, padahal negara-negara lain telah beralih ke soft pedagogy dalam proses belajar-mengajar dan ujian dengan memberi peluang sebesar-besarnya kepada siswa untuk menunjukkan kompetensinya, bukan dinilai berdasarkan inkompetensinya karena bertolak dari patokan ideal siswa-siswa yang pintar secara kognitif.

Kita tertingggal secara teoritis dan praksis dalam gelombang perubahan ujian nasional di dunia.

Salam kami

Tanggapan balik kepala SMA di Sibolga:

Terima kasih atas tanggapan Pak Sil. Rinduku sebagai guru, sebelum mati saya ingin menikmati anak-anak itu lulus karena usahanya. Bocor-bocor, bocor lagi. Soal sama untuk semua kabupaten tetapi SMA jurusan IPS ditunda ujian, tetangganya jurusan IPS ujian dengan soal foto kopian, LJUN-nya pun kopian. Entahlah nanti diapakan saat pemeriksaannya–dimanualkan–sama dengan diluluskan–atau tidak diluluskan–gila-gila–tidak rasional. Pak Sil saya boleh minta–secara pedagogis anak dirugikan, karena itu saya minta penyelenggara ujian ini harus memberikan kompensasi kepada para siswa–diluluskan semuanya. Sebagai guru dan kepala sekolah saya sangat menuntut itu, karena gara-gara Pusat mau meningkatkan mutu, maka kita memacu siswa untuk belajar pagi-sore, ternyata ini tipuan saja. Kalau anak pintar atau kurang mampu kami sudah tahu. Pak Sil termasuk anak pandai di SMA kita dulu dan Pak Dan Tifa tahu itu…

Meskipun ada 30 soal berbeda tetapi jawaban siluman yang beredar pada waktu ujian ini bukan rahasia lagi. Mau bagaimana pendidikan kita ini? Dua puluh tahun lagi, kita harus belajar dari Timor Leste. Keluhan kami ini mungkin tak ada artinya, tetapi dari pada kami stres melihat situasi manipulatif di depan mata kami.

Bila mau ukur mutu, saya punya usul, semua SMA dan SMK bekerja sama dengan sejumlah perguruan tinggi (PT) tertentu yang bermutu. Perguruan tinggi itu membawahi sejumlah SMA dan SMK menjadi binaan mereka, lalu sama-sama membuat standar mutu kemudian diikuti bersama, dan terus dipantau oleh PT itu, karena mereka nanti yang akan menerima tamatan SMA dan SMK. Mohon maaf bila tidak pas. Terima kasih.

Marilah sejenak kita menoleh ke negara lain di ujung bumi ini. Tiga puluh tahun yang lalu Finlandia masih doyan dengan ujian nasional. Lalu, petinggi Kementerian Pendidikan di negara sekecil itu mengatakan bahwa ujian nasional ini menuntut pengelolaan yang rumit dan energi terkuras habis, lalu hasilnya prestasi belajar siswa ya biasa-biasa saja.

Karena itu, kemudian mereka memutuskan “Good bye, national examinations!” Ujian nasional yang didahului ujian kenaikan kelas, ujian semester atau caturwulan, dan semua urusan nilai-menilai itu ternyata percuma, hanya merampas waktu belajar siswa. So, mereka memutuskan evaluasi harus dilakukan guru seminimal mungkin. Yang lebih penting adalah membantu siswa yang keteter, tertinggal dari teman-temannya melalui kegiatan tutorial.

Direbus UN

Karena waktu untuk evaluasi dikurangi drastis ya waktu untuk proses belajar-mengajar ditingkatkan secara maksimal. Akhirnya, mereka memutuskan kurangi saja jumlah jam pelajaran per minggu dan jumlah hari sekolah per tahun.

Lalu, siswa-siswa Finlandia mengikuti tes internasional, seperti PISA, TIMMS, dan PEARLS, dan para penentu kebijakan, dosen, guru, kepala sekolah pada heran dan tak menyangka siswa-siswanya menoreh prestasi superunggul merebut peringka satu, dan kalau lagi apes ya peringkat 2 atawa 3, tapi selalu di puncak klasemen.

UN & kreativitas anak Indonesia

Berbondong-bondonglah penentu kebijakan pendidikan dari berbagai negara di 5 benua datang dan meneliti apa faktor penyebab keunggulan sistem pendidikan Finlandia. Banyak negara menyalahkan kebijakan pendidikan mereka dan semua pengambil keputusan dituntut rakyat untuk pergi belajar dari Finlandia.

Pengambil keputusan pendidikan Indonesia juga ke Finlandia tapi apa dampak kunjungan itu sampai sekarang juga belum jelas bagi kita. Ternyata kita masih terus mengikuti pola yang sudah berumur hampir 40 tahun, doyan tes pilihan ganda dalam ujian nasional. Masih ngotot kepada kebijakan UN dan kurang mau belajar dari pengalaman negara lain.

Sistem pendidikan Finlandia yang bagus yang terbukti dari prestasi siswanya dalam tes internasional berkorelasi signifikan dengan perkembangan ekonomi negara kecil ini. Tahun 2004, World Economic Forum menempatkan Finlandia sebagai negara dengan sistem ekonomi paling kompetitif di dunia, dan ini disebabkan oleh budaya inovasi tenaga kerjanya. Lihat:

http://news.bbc.co.uk/2/hi/uk_news/education/4031805.stm

Tentu kita masih ingat awal mula pakai HP ya mungkin Nokia dan itu adalah produksi Finlandia. Negara sekecil itu pernah merajai pasar HP dunia. Ya, seperti negara-negara di Eropa umumnya ya hasil bumi mereka ya paling gandum, domba dan hasil pertambangan umumnya tak menonjol. Mengapa mereka sampai menuntut siswanya belajar 3 s.d. 4 bahasa asing karena mereka ingin tenaga kerjanya laku di pasar kerja internasional, bukan senang tinggal di negeri sendiri dan jatuh miskin.

Hubungannya jelas dengan perkembangan ekonomi dan mereka tak bisa berharap dari gandum dan domba tapi siap bersaing di pasar global.

Akibat dipertahankannya UN dalam kenyataan siswa-siswa kita di SD hanya belajar selama 5 setengah tahun karena setengah tahun di kelas VI dikorbankan untuk persiapan ujian nasional. Di SMP siswa hanya belajar 2 setengah tahun, dan di SMA dan SMK hanya 2 setengah tahun. Sungguh merugikan waktu belajar siswa, jika kita hitung seluruh waktu yang tercurah untuk evaluasi mulai dari ulangan harian, mid-semester, ulangan umum semester / kenaikan kelas.

Mindset kita tentang evaluasi harus ditinjau kembali. Kalau kami mengajar siswa, kami tidak ambil pusing dengan evaluasi, tokh kami sudah tahu kelebihan dan kelemahan siswa. Kami lebih terfokus kepada proses belajar-mengajar.

Masih banyak hal yang perlu dibenahi dalam sistem pendidikan kita. Alih-alih pusing menanti perbaikan sistem, kita mulai saja dari sekolah kita, dari rumah kita, dari lingkungan kita untuk menyelamatkan anak bangsa.

Jika ingin melihat video demosntrasi para siswa SMA Muhammadiyah di Palembang yang meminta SBY mencopot Muhammad Nuh sebagai menteri pendidikan, meminta untuk mengusut transparansi anggaran UN, dan menghapus UN yang dinilai tidak bermanfaat, silahkan klik video dari berita MetroTV berikut ini.

https://www.facebook.com/video/embed?video_id=175104789310959

Kunjungilah posting yang berkaitan:

https://sbelen.wordpress.com/2013/04/20/bagaimana-ujian-nasional-un-di-belanda/

https://sbelen.wordpress.com/2010/05/08/ganti-sistem-ujian-nasional-dengan-menerapkan-sistem-open-book-test-dan-tes-terstandar/

https://sbelen.wordpress.com/2008/12/29/belajar-aktif-pakem-ujian-nasional-un-ibarat-air-dengan-minyak/

https://sbelen.wordpress.com/2011/08/08/mengapa-mutu-pendidikan-finlandia-terbaik-di-dunia/

https://sbelen.wordpress.com/2011/05/15/mengapa-peringkat-kelulusan-un-2011-siswa-smantt-tetap-di-nomor-buntut/

https://sbelen.wordpress.com/2011/01/11/3-tahun-banyak-siswa-tak-lulus-un-pecat-guru/

https://sbelen.wordpress.com/2008/07/30/tes-remidial-di-sd-sma-dan-sma-itu-salah-kaprah/

https://sbelen.wordpress.com/2008/07/09/mengapa-kita-memaksa-siswa-mempelajari-semua-mata-pelajaran/

https://sbelen.wordpress.com/2011/05/16/hasil-un-ntt-jeblok-tas-anak-sekolah-ntt-kempes/

 

 

 

Iklan

Jatuh dari ayunan

Migren & vertigo

Kunjungilah posting ini:

https://sbelen.wordpress.com/2013/05/03/bawang-putih-cuka-apel-madu-jahe-lemon-jantung-sehat-tubuh-bugar/

https://sbelen.wordpress.com/2013/04/15/sano-ramuan-herbal-berkhasiat-mulai-bisnis-di-usia-62-tahun/

Gambar spanduk Sano

sano-sembuhkan-migren-vertigo

Kartu nama Yuni 3

Pendidikan kewirausahaan lewat unit produksi di SD, SMP, SMA. Mengapa tidak?

November 2, 2012

 

 Para guru di Flores membuat telur asin

Mengapa mutu pendidikan NTT terpuruk? Faktor penyebab utama: kemiskinan yang berakibat siswa kekurangan gizi. Orang tua kurang mampu membeli buku pelajaran dan mendukung kondisi dan fasilitas belajar anak. Faktor lain: Budaya kekerasan yang dialami siswa di rumah  dan di sekolah.

Sebagai salah satu langkah nyata, diselenggarakan workshop pengembangan unit produksi / usaha sekolah sebagai terapan contextual teaching & learning bagi guru dan kepala sekolah seluruh SD, SMP / MTs, SMA dan SMK se-Adonara, Flores Timur, NTT tanggal 1- 4 Oktober 2012 di Waiwerang, Ile Boleng, dan Botung. Workshop ini bertujuan membangun mimpi dan mewujudkan mimpi agar sebuah sekolah menjadi sekolah kaya, bermutu tinggi, dan murah bagi siswa. Untuk itu, sekolah dimotivasi merintis-kembangkan unit produksi sebagai wadah praktik kewirausahaan siswa yang dikaitkan dengan beragam mata pelajaran dan sumber dana untuk membiayai kebutuhan pendidikan siswa. Workshop ini dapat terlaksana berkat dukungan dana dari Ir Anton Doni Dihen MSc melalui LSM Local Development Consulting (LDC).

Ide unit produksi ini kemudian ditularkan ke Lewoleba, ibukota Kabupaten Lembata, Flores, NTT tanggal 5 – 7 Oktober 2012. Hanya 2 sekolah yang mendapatkan gagasan ini, yaitu SMK Kesehatan Stella Maris dan SMA Frater Don Bosco di Lewoleba.

Contoh unit produksi / usaha yang dipililih sekolah:

  1. Membuat makanan ringan: jagung titi (emping), kacang, keripik pisang, keripik ubi, manisan asam, kacang, telur
  2. Abon ikan
  3. Menanam sayur-mayur
  4. Beternak ayam kampung
  5. Beternak kambing dan babi
  6. Membuat gerabah seperti vas bunga
  7. Membuat kerajinan piring lidi
  8. Membuat koperasi sekolah yang menyelenggarakan kantin dan menjual alat tulis, makanan ringan, minuman ringan
  9. Menanam jagung

Contoh unit produksi SD Kecamaran Ile Boleng, Flores:

  1. Ternak ayam
  2. Tanam pohon sirsak, mangga, nangka
  3. Krupuk ubi kayu dan/atau jagung
  4. Kantin sekolah
  5. Marning jagung
  6. Kripik pisang
  7. Kripik pisang & ubi kayu / singkong
  8. Obat herbal
  9. Apotek hidup & buah-buahan
  10. Tanam ubi kayu, pisang, jagung
  11. Koperasi sekolah
  12. Minyak kelapa murni
  13. Minyak kelapa

Contoh unit produksi SD Kecamaran Wotan Ulu Mado, Flores:

  1. Apotek hidup, sayur-mayur, buah-buahan
  2. Ternak babi & kambing dan kripik pisang & ubi kayu, menangkap ikan dengan bubu
  3. Sayur-mayur & kantin sekolah
  4. Koperasi sekolah
  5. Anyaman daun lontar & manisan buah lontar
  6. Kantin sekolah
  7. Ternak babi
  8. Sayur mayur & apotek hidup
  9. Kripik singkong, marning jagung, manisan asam, ternak babi, anggur kulit pisang
  10. Sayur mayur, apotek hidup
  11. Ternak ayam & kambing, pertanian jagung, kacang tanah, pisang, marungge (kelor), ubi kayu

Kegiatan dalam workshop diawali dengan presentasi narasumber dilanjutkan dengan diskusi menentukan jenis unit produksi / usaha sekolah, membahas cara mengumpulkan modal, bagaimana struktur organisasi pengelolaan, siapa saja sumber daya manusia (SDM) yang memproduksi, bagaimana pemasaran hasil produksi. Setelah itu, peserta melakukan praktik membuat pocari sweat dan perangkap nyamuk alami, membuat kain sasirangan dan menggambar dalam air. Selanjutnya, peserta berpraktik membuat abon ikan, ikan asin, telur bebek asin, emping jagung titi, keripik pisang, dan manisan asam.

Membuat abon ikan. Provinsi NTT menghasilkan anekajenis ikan yang berpotensi ekspor.

 Tarian tandak “dolo-dolo” guna memupuk sikap dan nilai kekompakan dalam kerja sama tim

Untuk mendapatkan gambaran yang lengkap mengenai workshop ini, silahkan download file powerpoint berikut ini!

Album foto workshop unit produksi pendidikan kewirausahaan di Flores

Semoga bermanfaat!

Iklan

 

gif-aug-4-12-12_zpsfd12c40d

Osteoporosis

Kunjungilah posting ini:

https://sbelen.wordpress.com/2013/05/03/bawang-putih-cuka-apel-madu-jahe-lemon-jantung-sehat-tubuh-bugar/

Gambar spanduk Sano

Sano sembuhkan osteoporosis

Kartu nama Yuni 2

Seorang bapak 100 tahun yang lalu

Maret 31, 2012

Tahun 2008 waktu saya kunjungi alma mater-ku Seminari Lalian (SMP & SMA), sekitar 10 km dari Kota Atambua (ibu kota Kabupaten Belu) di perbatasan antara Timor Barat dan Timor Leste dan di hadapan kepala sekolah dan para guru, kuceritakan satu ilustrasi berikut ini.

 

Adalah seorang bapak, orang Belu yang telah meninggal 100 tahun lalu dan kini diizinkan Tuhan meninggalkan surga, hidup kembali dan boleh pesiar-pesiar di dunia, berkunjung sejenak ke Belu dan nanti setelah puas boleh kembali ke surga.

 

Sesampai di Atambua, ia heran melihat kok ada kendaraan roda dua yang bisa berlari kencang. Ia tanya kendaraan apa ini. Orang menjelaskan, ini namanya sepeda motor. Oh, katanya, dulu saya hanya tahu naik kuda yang berjalan pelan-pelan. Dari Belu Selatan ke Atambua, saya bawa hasil bumi dipikul kuda dan terpaksa bermalam di bawah pohon beringin di Lalian, lalu besoknya baru bisa terus ke Atambua. Waktu melihat ada kendaraan berlari kencang dengan 4 roda, ia bertanya, ini kendaraan apa? Jawab orang, oh itu namanya oto, kalau di Jawa dibilang mobil.

 

Ia heran melihat rumah-rumah batu begitu banyak di Atambua, termasuk hotel bertingkat 3. Ia heran melihat katedral yang megah. Dulu 100 tahun yang lalu kita cuma beribadah di kapela seperti gubuk berdinding bambu dan beratap alang-alang. Ia heran melihat jembatan beton di atas kali, padahal dulu kudanya harus menyeberangi kali termasuk waktu banjir. Ia mampir ke bandara Haliwen dan melihat kok ada burung besar bisa terbang dan mendarat, lalu bisa berlari kencang dan terbang. Dia Tanya burung besi apa ini. Jawab orang oh, itu pesawat udara, kapal terbang. Ia pergi juga ke rumah sakit dan terheran-heran melihat alat ronsen, kamar bedah, dan apotek. Dulu kita cuma tahunya berobat ke dukun, pakai ramuan herbal.

 

Tiba-tiba ia teringat sekolah dasarnya dulu. Ah, pingin lihat, bisa nostalgia mengenang guru-gurunya. Dari jendela ia memandang ke dalam kelas. Gurunya masih menulis di papan tulis dengan kapur sambil menerangkan seperti orang berteriak kepada murid-murid. Ketika guru bertanya, anak-anak berlomba angkat tangan, tunjuk jari untuk menjawab. Di akhir pelajaran, gurunya memberi PR. Sontak ia berujar. Di tanah Belu ini semuanya berubah, jalan-jalan diaspal, jembatan beton dipasang, ada sepeda motor, oto, kapal terbang, rumah sakit. Katedral megah menjulang. Hanya satu yang masih tetap sama dengan waktu 100 tahun lalu, yaitu SD saya, cara mengajar guru masih sama dengan yang dulu. Belum berubah.

 

Jika Anda ingin membaca posting ini dalam bentuk file powerpoint, silahkan klik!

Seorang bapak 100 tahun lalu

Apa yang harus diubah? Silahkan kunjungi posting ini!

 

https://sbelen.wordpress.com/2012/03/31/sejauh-mana-telah-terjadi-transformasi-pendidikan-di-indonesia/

Sejauh mana telah terjadi transformasi pendidikan di Indonesia?

Maret 31, 2012

Apakah guru tidak lagi menyetrap siswa,  misalnya dengan menyuruh berlutut di depan kelas? Apakah guru berperilaku dengan motif kasih sayang?

Menghukum siswa tidak efektif mengubah perilaku. Mengapa guru tidak membuat suasana belajar menyenangkan dengan mendorong siswa bekerja sama dalam kelompok?

Tidak ada bukti hasil riset yang menyatakan kekerasan fisik, hukuman membuat siswa rajin belajar. Mengajarlah dengan hati, dengan kasih sayang!

Belajar itu bukanlah duduk, dengar, catat, dan hafal. Mengapa tidak menerapkan belajar sambil bekerja, learning by doing?

Duduk berbaris ke duduk dalam kelompok untuk memudahkan kerja sama

Mengapa harus belajar dalam ruang kelas? Mengapa tidak membawa siswa belajar di luar kelas? Mencatat hasil pengamatan terhadap tanaman.

Dulu siswa mencatat pada buku tulis dalam bentuk kalimat / alinea. Sekarang mencatat dalam bentuk mindmap. Mana yang lebih bagus?

Belajar itu haruslah menyenangkan

Kapan papan tulis dimuseumkan? Belajar yang benar adalah belajar yang mengaktifkan siswa, membuat siswa kreatif, dan mendorong pemecahan masalah.

Mengapa sekolah seperti kandang ayam? Mengapa tidak membuat sekolah dari bambu beratapkan ilalang seperti sekolah alam di Badung, Bali yang menarik sehingga bisa menarik bayaran mahal dari orang tua?

Dari guru sebagai komandan ke guru sebagai fasilitator

Mengapa perlu transformasi pendidikan

“Pendidikan adalah apa yang tetap ada setelah seseorang melupakan segala hal yang ia pelajari di sekolah” Einstein

 

“Di negara-negara besar pendidikan publik akan selalu mediocre (bermutu pas-pasan), karena alasan yang sama bahwa di dapur-dapur yang besar memasak biasanya jelek” – Nietzsche

(Sumber: Chambers English Dictionary)

“Belajar adalah apa yang kebanyakan orang dewasa akan lakukan agar bisa hidup pada abad ke-21.” Perelman

 

“Saya tidak dapat mengajarkan seseorang sesuatu pun, saya hanya dapat membuat mereka berpikir.”
– Socrates

(Sumber: http://www.etni.org.il/quotes/education.htm)

Apa makna transformasi?

Transformasi adalah:

  • …mengubah orang atau hal secara lengkap, terutama memperbaiki penampilan atau manfaatnya.
  • …mengubah pola pikir (mindset).
  • …perpindahan dari paradigma lama ke paradigma baru.

Perlunya transformasi

“Guru-guru pada umumnya tidak menggunakan TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi), atau jika mereka gunakan, seringkali dengan rasa enggan, dan pola yang digunakan hanya sedikit saja memanfaatkan potensi yang dimiliki. Hal ini tidak mencerminkan transformasi cara kita belajar.” – Wheeler

(Sumber: Wheeler, S. (2005) Transforming Primary ICT, p 1)

Jika Anda ingin membaca posting ini dalam bentuk file powerpoint, silahkan klik file ini!

Transformasi pendidikan

Posting ini ditulis untuk menjawab tantangan yang tercantum pada cerita ini. Silahkan baca juga posting ini!

https://sbelen.wordpress.com/2012/03/31/seorang-bapak-100-tahun-yang-lalu/

Iklan

annie dancing

Klik gambar kalau belum bergerak

Asma

Kunjungi posting ini:

https://sbelen.wordpress.com/2013/05/03/bawang-putih-cuka-apel-madu-jahe-lemon-jantung-sehat-tubuh-bugar/

Gambar spanduk Sano

Sano sembuhkan asma

Kartu nama Yuni 2

Bagaimana gambaran pelatihan pendidikan karakter?

Januari 15, 2012

Pendidikan karakter = pendidikan hati

Kemajuan sebuah negara amat ditentukan oleh karakter penduduknya

Sejak tahun 2010 Kemdiknas telah meluncurkan 3 program, yaitu
pendidikan karakter, belajar aktif, dan pendidikan kewirausahaan &
ekonomi kreatif. Ketiga program ini dikembangkan oleh Pusat Kurikulum Balitbang Kemdiknas dan telah disosialisasikan ke berbagai unit relevan di Kemdiknas, kepala dinas pendidikan di tingkat provinsi dan kabupaten / kota, LPMP, dan perguruan tinggi. Diharapkan semua lembaga yang relevan menganggarkan dana untuk pelatihan guru, kepala sekolah, dan pengawas dari tingkat PAUD / TK, SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA, SMK, pendidikan non-formal dan pelatihan dosen di PT.

Tampaknya dari ketiga program ini, pendidikan karakter cenderung
disambut lebih entusias, mungkin karena amat relevan dengan kondisi bangsa saat ini dan dipandang sebagai ganti pendidikan budi pekerti yang telah hilang dalam kurikulum.

Pendidikan karakter dilaksanakan melalui tiga proses, yaitu proses
peneladanan, proses pembiasaan, dan proses pembelajaran. Khusus untuk proses pembelajaran, para guru didorong untuk mengintegrasikan nilai-nilai pendidikan karakter dalam silabus dan RPP yang disusun.

Tampaknya banyak dinas pendidikan di daerah belum menganggarkan dana untuk pelatihan pendidikan karakter dan Kemdiknas Pusat pun tidak bisa memaksa dinas pendidikan di daerah untuk segera mensosialisasikan program ini.

Sesuai dengan arahan dari Kemdiknas, dalam proses pembelajaran
pendidikan karakter sebaiknya dilakukan dengan pendekatan belajar
aktif karena the method is the message itself. Belajar aktif lebih
mampu mendorong tumbuhkembang nilai-nilai karakter, seperti kerja
sama, rasa ingin tahu, gemar membaca, kreativitas, peduli sosial, dan
saling menghargai.

Akhir tahun 2011 dan awal 2012 ini kami telah menatar guru, kepala sekolah, dan pengawas di Ambon bersama Save the Children dan di Riau dan Tenggarong, Kaltim bersama Penerbit Erlangga.

Jika Anda ingin mendapatkan gambaran workshop pendidikan karakter yang telah kami lakukan, silahkan klik file powerpoint berikut ini!

Workshop Pendidikan Karakter di Kaltim, Riau & Ambon

Semoga bermanfaat.

Iklan

ahs-shelley

Parkinson

Kunjungilah posting ini:

https://sbelen.wordpress.com/2013/05/03/bawang-putih-cuka-apel-madu-jahe-lemon-jantung-sehat-tubuh-bugar/

Gambar spanduk Sano

sano-sembuhkan-parkinson

Kartu nama Yuni 2