Salah diagnosis penyakit bisa sama fatal dengan salah obat

Andreas Moritz, penulis buku The Amazing Liver and Gallbladder Flush (Pembersihan Liver dan Kantong Empedu), 2012, menyatakan: “Diagnosis is just as dangerous as treatment.” Diagnosis penyakit sejatinya sama berbahaya seperti pengobatan.

Jika dokter salah mendiagnosis penyakit atau penyebab penyakit, pengobatan berdasarkan kesimpulan diagnosisnya yang salah akan berdampak negatif terhadap penyakit pasien. Demikian pun, diagnosis penyakit atau penyebab penyakit sudah benar, tapi pengobatannya salah, pasien tidak bakalan sembuh.

Om kandung saya, Bruder Paskalis Koke SVD pernah didiagnosis menderita penyakit tuberkulosis (TBC) pada usia sekitar 50-an tahun. Bertahun-tahun ia minum obat TBC dan karena ia orang yang disiplin, tiada hari tanpa minum obat TBC, kondisi kesehatannya malah kian memburuk.

Kemudian ternyata, ketika ia memeriksakan diri di sebuah rumah sakit terkenal di Surabaya, dokter mengatakan, bahwa sebenarnya ia tidak pernah terkena penyakit TBC. Nah, lho.

Ketika om saya ini mencapai usia 92 tahun, ia terkena sakit hernia dan perutnya membengkak besar, membuncit. Dibawa ke rumah sakit di daerah. Dokter memfokus diagnosisnya pada sakit susah buang air besar (sembelit) yang menyebabkan perutnya buncit.

Dilakukan operasi untuk mengeluarkan cairan hitam dari perutnya dan dipasangi kantong di samping kanan perutnya untuk menampung feces. Dokter dan perawat terheran-heran karena ternyata usus buntunya tidak ada. Mereka menyerah.

Om dibawa ke rumah sakit terkenal di Surabaya. Para dokter menilai betapa bodoh dokter di daerah karena tidak mengetahui bahwa usus buntunya telah pecah. Mengapa mereka membedah perut?

Inilah contoh salah diagnosis mengakibatkan salah tindakan dan pengobatan.

Akhirnya, dilakukan operasi dua kali. Operasi pertama dilakukan untuk mengoreksi kesalahan yang dilakukan dokter di daerah. Operasi kedua dilakukan untuk menyambung kembali usus dengan dubur sehingga dapat buang air besar secara normal. Kantong penampung tidak diperlukan lagi. Setelah itu dibereskan sakit hernianya.

Pulang kembali ke daerah, om hanya minum sirup herbal Sano kami karena sudah tidak mengkonsumsi macam-macam obat lagi mengingat usianya yang sudah amat lanjut.

Berikutnya kisah tentang diri saya sendiri.

Pernah juga saya divonis dokter terserang penyakit hepatitis. Berbulan-bulan saya minum obat hepatitis, namun kondisi kesehatan saya kian memburuk. Selera makan akhirnya lenyap, dan hanya tinggal senang makan buah papaya.

Dokter itu pun kemudian menyarankan saya memeriksa darah di sebuah lab terkenal di Jakarta Timur. Tidak ditemukan penyakit hepatitis dalam tubuh saya, entah hepatitis B atau C. Dokter pun tetap pada hasil diagnosisnya bahwa saya menderita penyakit hepatitis kronis.

Kepada istriku, dokter itu membisikkan vonisnya, bahwa mungkin umur saya hanya tinggal 3 bulan. Ibu siap-siap saja dengan kemungkinan terburuk, suami ibu meninggal. Istri menceritakan vonis ini kepada anak-anak yang masih kecil dan anak-anak pun ikut merasa terpukul, sedih dan cemas.

Tiga bulan berlalu dan ternyata saya tidak mati. Berdasarkan kesimpulan diagnosis dokter ini, ketika bertugas ke daerah saya memeriksakan diri ke dokter di Kupang. Dan, dokter ini pun terpengaruh hasil diagnosis dokter yang pertama, dan saya diberi resep obat yang semakin keras.

Dengan berjalannya waktu, badan saya terus bertambah kurus sehingga ada teman yang mengatakan, maaf, badan Pak ini seperti tengkorak dibalut kulit.

Sekali waktu saya bertugas ke Yogyakarta. Ketika itu tubuh terasa amat lemah dan saya memeriksakan diri ke dokter spesialis di Rumah Sakit Panti Rapih, Yogyakarta.

Sesuai dengan kisah penyakit saya, dokter di rumah sakit ini memberi obat hepatitis. Namun, beliau mengatakan, Pak, saya curiga jangan-jangan Pak ini sakit jantung koroner. Beliau pun menulis rujukan ke rekan sejawatnya di Rumah Sakit Cipto, Jakarta.

Setiba di Jakarta, istri mengantar saya memeriksakan diri ke dokter di Rumah Sakit Cipto. Karena alat tes ekoardiografi atau echo atau USG jantung waktu itu masih langka, saya dijadwalkan sebulan lagi baru diperiksa.

Pada hari yang dijanjikan saya diperiksa dengan alat itu. Saat itu ada sejumlah mahasiswa keperawatan sedang berpraktik di rumah sakit. Dan, mereka pun ikut mengamati gambaran jantungku yang tertera di layar. Dokter menyimpulkan bahwa saya menderita sakit jantung koroner.

Hari itu saya benar-benar kaget dan shok. Rasanya dunia ini gelap gulita seketika. Ternyata sakit jantung yang saya takuti telah hinggap ke tubuh saya.

Berarti selama ini dokter salah mendiagnosis bahwa saya sakit hepatitis dan jadinya obat yang diberikan pun salah.

Berarti kejadian tahun 2001 ketika saya merasa dada tertikam-tikam sampai menjalar ke pundak disertai keringat dingin dan muntah-muntah itu adalah serangan jantung. Dokter di klinik 24 jam yang memeriksa dengan enteng mengatakan, oh ini maag kambuh, dan diberi obat maag.

Salah diagnosis jadinya salah pengobatan.

Belajar dari pengalaman ini, setiap kali sakit saya tidak percaya pendapat satu dokter. Tidak hanya mencari pendapat kedua, second opinion. Bahkan, saya sampai mencari pendapat keempat, fourth opinion atau bahkan lebih.

Iklan

Tag: , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: