Titik biru pucat di alam semesta, refleksi tentang bumi rumah kita

buzz-aldrin-moon-landing-easep-apollo-11

Tanggal 20 Juli 1969, Neil Amstrong dan Buzz Aldrin adalah dua manusia yang pertama kali menginjakkan kaki di bulan. Keduanya berada hanya dua setengah jam di luar pesawat ruang angkasa yang dipiloti Michael Collins. Keduanya berhasil mengumpulkan material bulan seberat 21,5 kg untuk dibawa pulang ke Bumi. Di sebuah museum Geologi di London, pernah kami lihat satu batu bulan sekecil kuku jari kelingking, secercah bagian dari material yang dibawa ketiga astronot itu ke bumi.

Apollo_11_first_step

Ada astronom yang mengingatkan bahwa pada missi luar angkasa yang menghebohkan itu, baru pertama kali manusia bisa melihat Bumi dari luar angkasa, dari bulan. Itulah prestasi umat manusia yang luar biasa.

Delapan tahun kemudian, NASA mengirimkan pesawat robot ruang angkasa Voyager 1, yang diluncurkan pada 5 September 1977 (berat 722 kg) untuk missi mempelajari luaran sistem surya dan akhirnya ruang antar-bintang.

Voyager 1

 

Dua puluh satu tahun sejak manusia pertama kali mampu melihat Bumi dari bulan, pada tanggal 14 Februari 1990, pesawat ruang angkasa Voyager 1 dapat mengambil foto Bumi, sebagai bagian dari seri foto keluarga sistem surya dari jarak sekitar 6 milyar km dari Bumi.

Tatkala Voyager 1 yang telah menyelesaikan misi utamanya sedang meninggalkan sistem tata surya, pesawat robot ruang angkasa itu diperintahkan NASA untuk membalikkan kameranya dan mengambil satu foto terakhir Bumi di hamparan mahaluas jagat raya, atas permintaan astronom dan penulis Carl Sagan.

Bagaimana Bumi tampak pada foto itu? Bumi hanya tampak seperti A Pale Blue Dot, satu titik biru pucat di jagat raya. Inilah pertama kali manusia dapat melihat Bumi melalui foto yang diambil dari luar tata surya.

Pada foto ini, ukuran Bumi tampak lebih kecil dari 1 pixel (1 noktah pada foto); planet ini tampak seperti satu titik kecil dalam kemahaluasan ruang alam semesta, di antara berkas-berkas cahaya mentari yang tersebar oleh optik kamera.

Pale_Blue_Dot

.

Pada gambar di atas, garis elips berwarna hijau menunjukkan lokasi Voyager 1 yang terdekat saat foto Bumi itu diambil.

.

Voyager blue dot svg

.

Dari foto yang dikirim dari jarak sekitar 6 milyar km dari Bumi, Bumi tampak seperti satu titik kecil (titik putih kebiruan sekitar separuh jalur coklat sebelah kanan) dalam kegelapan jagat raya.

PaleBlueDot

Sagan menekankan, “semua sejarah manusia terjadi pada satu noktah kecil”, terlihat pada lingkaran biru pada gambar, “yang merupakan satu-satunya rumah kita.” (pidato di Universitas Cornell, 13 Oktober 1994).

Carl Sagan memberi judul kepada bukunya yang terbit tahun 1994 “Pale Blue Dot: A Vision of the Human Future in Space. (“Titik Biru Pucat: Sebuah Visi Masa Depan Manusia di Alam Semesta). Dalam buku ini, ia mengekspresikan pandangannya tentang makna lebih mendalam foto itu. Inilah hasil refleksi Carl Sagan.

.

TITIK BIRU PUCAT DI ALAM SEMESTA

 

Dari sudut pandang manfaat yang jauh ini,

Bumi mungkin sama sekali tidak menarik perhatian.

Tapi bagi kita, hal itu berbeda.

Perhatikan lagi titik itu.

Yang ada di sini.

Itulah rumah.

Itulah kita.

Di sini setiap orang yang Anda cintai,

setiap orang yang Anda ketahui,

setiap orang yang pernah Anda dengar,

setiap manusia yang pernah ada,

menghidupi kehidupannya.

Segenap sukacita dan penderitaan,

ribuan agama, ideologi, dan doktrin ekonomi yang diyakini,

setiap pemburu dan penjelajah,

setiap pahlawan dan pengecut,

setiap pencipta dan perusak peradaban,

setiap raja dan petani,

setiap pasangan belia yang jatuh cinta,

setiap ibu dan ayah,

anak pemberi harapan,

penemu dan penjelajah,

setiap guru moral,

setiap politisi korup,

setiap “superstar,”

setiap “pemimpin tertinggi,”

setiap orang kudus dan pendosa

dalam sejarah spesies kita

tinggal di sana – pada setitik debu

yang melayang pada secercah sinar mentari.

######################################

Bumi adalah satu panggung amat kecil

di gelanggang kosmik yang luas.

Pikirkan tentang sungai-sungai darah

yang ditumpahkan para jenderal dan kaisar

sehingga dalam kemuliaan dan kemenangan

mereka bisa menjadi tuan sesaat pada satu bagian kecil titik itu.

Pikirkan tentang kekejaman tanpa akhir

yang dialami penghuni salah satu sudut noktah gambar ini

yang hampir tak bisa dibedakan dari penghuni suatu sudut yang lain.

Betapa sering terjadi kesalahpahaman antar-mereka,

betapa bernafsunya mereka saling membunuh,

betapa keji kebencian mereka.

Sikap kita, bayangan kehebatan diri kita,

khayalan bahwa kita memiliki kedudukan istimewa di alam semesta,

ditantang oleh titik pucat ini.

Planet kita adalah setitik sepi

dalam selimut kegelapan kosmik yang besar.

Dalam kekaburan kita – pada semua kemahaluasan ini –

tiada petunjuk bahwa bantuan akan datang dari tempat lain

untuk menyelamatkan kita dari diri kita sendiri.

###########################################

Bumi adalah satu-satunya dunia yang dikenal, sejauh ini,

untuk menopang kehidupan.

Tiada tempat lain, setidaknya di masa depan yang dekat,

ke mana spesies kita dapat bermigrasi.

Berkunjung? Ya.

Menetap? Belum.

Suka atau tidak, untuk saat ini, Bumi adalah tempat kita berpijak.

Telah dikatakan bahwa astronomi adalah sebuah pengalaman

yang membuat kita rendah hati

dan pengalaman pembinaan karakter.

Mungkin tiada cara yang lebih baik untuk menunjukkan

betapa bodohnya kesombongan manusia

daripada gambar tampilan jauh dunia kecil kita.

Bagi saya, hal itu menggarisbawahi tanggung jawab kita

agar saling peduli lebih ramah

dan untuk melestarikan dan menghargai titik biru pucat,

satu-satunya rumah yang pernah kita kenal.

 

Sumber:

https://en.wikipedia.org/wiki/Pale_Blue_Dot

https://en.wikipedia.org/wiki/Apollo_11

Terjemahan S Belen

#############################################

Bila Anda ingin mengamati video untuk melihat ilustrasi dan mendegar suara Carl Sagan membacakan hasil refleksi bak puisi ini, silahkan kunjungi video pada Youtube

Carl Sagan – The Pale Blue Dot [Indonesian Sub] .mp4

Klik: https://www.youtube.com/watch?v=Zb-XHHn1fPQ

 

 

 

Tag: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: