Pencuri & polisi; kakek jompo & panggilan darurat

Pencuri dan polisi

PENCURI & POLISI

Helen … seorang perempuan kulit hitam di Alabama, Amerika Serikat tertangkap basah mencuri dari sebuah supermarket. Denis … polisi yang dipanggil untuk menahannya menemukan bahwa yang dicuri Helen hanyalah 5 butir telur …. Ia tidak jadi menangkapnya …. “Saya mencuri ini sebab saya dan anak-anak dua hari ini belum makan”, ratap Helen. Ini membuat hati Denis teriris …. Polisi itu lalu mengantar Helen pulang ke rumahnya, setelah membelikan untuknya sekeranjang telur …. Keesokan harinya , Denis dan rekan-rekannya sesama polisi datang ke rumah Helen dengan 2 mobil penuh makanan dan keperluan sehari-hari…. “Kamu tidak perlu melakukan ini”, kata Helen terharu seraya memeluk polisi itu …. Denis berkata: “Kadang-kadang kebutuhan kita akan KEMANUSIAAN lebih besar daripada kebutuhan kita akan hukum.”

 

Unit 911

KAKEK JOMPO DAN PANGGILAN DARURAT

Saya pernah membaca cerita tentang satu kejadian di Amerika Serikat.

Seorang kakek jompo (lebih tua dari 90 tahun) yang miskin dan hidup sebatang kara pulang ke rumahnya setelah beberapa waktu dirawat di rumah sakit. Sampai di rumah dia lihat bahwa bahan-bahan makanan dan minuman yang tidak seberapa banyaknya, semua sudah kadaluwarsa, karena lama dia tinggalkan. Semua harus dibuang. Lemari esnya menjadi kosong melompong. Dia merasa sangat sedih karena dia tidak punya uang dan tubuhnya masih terlalu lemah untuk pergi berbelanja.

Putus asa, dia menelepon 911, pusat penanggulangan kasus-kasus gawat darurat. Dia jelaskan kondisinya. Si penerima telepon (ibu) menjawab bahwa kasus seperti ini bukan urusan 911. Kakek jompo menjadi lemas, dan pergi berbaring, berdoa meminta jalan keluar.

Tak lama kemudian bel di rumahnya berdering. Ketika dia buka pintu, berdiri di depan pintu seorang ibu, dengan membawa beberapa tas belanja yang penuh dengan bahan makanan dan minuman.

Si ibu itu adalah si penerima telepon di unit 911. Rupanya dia kasihan kepada sang kakek, dan bercerita kepada rekan-rekannya yang saat itu sedang berdinas. Mereka secara spontan mengumpulkan uang untuk membeli keperluan sehari-hari bagi kakek yang sebatang kara itu. Seusai dinas, si ibu mampir ke supermarket untuk berbelanja, dan menyisakan sedikit uang tunai sebagai pegangan sang kakek yang tidak dikenalnya itu.

Sang kakek mengucurkan air mata haru, menerima kiriman dari ‘surga’ itu. Dan, karena banyaknya bahan makanan dan minuman itu, maka dia berkata bahwa dia akan membagikannya kepada tetangga dan teman-temannya yang juga miskin.

Ini satu contoh kesediaan orang untuk berkorban dan berbagi rezeki dengan orang lain. Anehnya, seringkali yang rela berbagi ini justru orang-orang ‘kecil’, yang kurang atau tidak mampu. Itu gejala yang terlihat di mana-mana. Padahal rezeki yang mereka miliki itu kecil sekali, mungkin tidak cukup untuk diri sendiri. Akan tetapi, kalau melihat ada orang lain yang juga kekurangan, mereka rela membagikan milik mereka kepada yang lain. Mereka tidak tamak atau rakus.

Malah, orang kaya cenderung lebih meperkaya diri dan kurang rela membantu atau berbagi dengan yang membutuhkan bantuan. Apakah hal ini terjadi karena orang-orang mampu kurang memiliki empati terhadap kondisi yang sulit (kelaparan, tidur di emperan toko atau kolong jembatan, ketika sakit tidak bisa berobat)? Orang yang melarat paham betul rasanya menderita karena tidak punya uang, sehingga mereka mau membantu orang lain yang mereka pandang lebih menderita dari diri mereka.

Kasus penipuan produk-produk seperti yang dialami bang Belen dan berbagai macam penipuan lain yang merugikan masyarakat merupakan akibat dari rasa tamak. Orang tamak ingin mendapat harta dan keuntungan sebesar mungkin. Mereka menghalalkan segala macam cara, tanpa mempedulikan etika dan dampaknya bagi orang banyak yang mengkonsumsi produk-produk makanan dan minuman yang bisa berbahaya bagi konsumennya.

Mudah-mudahan buku Revolusi Mental yang ditulis para psikolog kita banyak dibaca orang dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Paling tidak, dilaksanakan oleh diri sendiri. Syukur-syukur kalau bisa diterapkan oleh instansi-instansi yang berwenang dan bisa diteruskan ke generasi muda.

Salam, Lita (Ibu Solita Sarwono dari Negeri Belanda, diambil dari Milis Psikologi Indonesia)

Sumber:

https://www.facebook.com/pages/Sirup-SANO/1442545299377444

 

 

Tag: , , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: