SMK Pertanian St Pius X Bitauni, Insana di Timor: Model sekolah berasrama yang nyaris gratis

Sekolah berasrama termurah di tanah air berkat unit produksi yang sukses

Jalan menuju Gua Maria Bitauni

Jalan masuk menuju Sekolah Menengah Kejuruan Pertanian Bitauni, Insana, Timor

 

Kamis subuh, 30 Juli 2014 saya dan istri terbang dari Jakarta, transit di Bandara Juanda Surabaya, dan melanjutkan penerbangan ke Kupang. Dari Kupang kami menuju Nenuk, 10 km sebelum Kota Atambua, ibu kota Kabupaten Belu (yang berbatasan dengan Timor Leste) untuk berpartisipasi dalam seminar Pendidikan yang dihadiri uskup, para imam, dan pengurus yayasan persekolahan Katolik Keuskupan Atambua. Keuskupan ini meliputi 3 kabupaten, yaitu Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Kabupaten Belu, dan kabupaten pemekaran yang baru, yaitu Kabupaten Malaka. Dalam perjalanan ini kami singgah untuk mengunjungi SMK Pertanian Pius X di Bitauni, Kiupukan, Insana, Kabupaten TTU, sekitar 23 km selepas Kota Kefamenanu, ibu kota Kabupaten TTU ke arah Atambua.

Mengapa kami mengunjungi SMK Pertanian berasrama ini? Dalam benak kami, menjelang presentasi dalam seminar pendidikan pada 31 Juli di Nenuk, kami akan menyampaikan pentingnya mempertahankan, menambah, dan meningkatkan pendidikan sekolah berasrama di tanah Timor khususnya dan NTT umumnya. Mengapa? Sekolah berasrama seperti seminari, SMP, SMA, dan SPG berasrama di tanah Timor sejak dimulainya pendidikan missi telah terbukti mampu meningkatkan mutu dan relevansi pendidikan. Yang lebih penting lagi adalah sekolah berasrama mampu menumbuhkembangkan nilai-nilai pendidikan karakter yang tangguh, tahan banting, dan pantang menyerah sebagai bekal lulusan melanjutkan pendidikan dan berkiprah dalam kehidupan profesi dan bermasyarakat.

Sekolah berasrama di Timor khususnya dan NTT umumnya telah terbukti menjadi pintu mobilitas sosial individu dan menjadi agen perubahan masyarakat Timor dan NTT.  Tak terbayangkan ketertinggalan masyarakat Timor dan NTT tanpa eksistensi sekolah berasrama.

Di sekolah berasrama selama 24 jam tiap hari pendidikan anak berlangsung. Disiplin belajar, kemahiran menggunakan waktu, kemandirian mencuci dan menyeterika pakaian, bekerja tangan (opus manuale) menyapu dan mengepel sekolah dan asrama, membersihkan kamar mandi, toilet, dan got, menyiangi rerumputan, menanam dan menyirami tanaman, bahkan menggunting rambut. Waktu mengikuti ibadah, pelajaran, makan, istirahat dan tidur, studi mandiri, berolahraga dan bekerja tangan, berlatih bakat bermain musik, berolah vokal, melukis, membuat patung dan kerajinan tangan, bermain drama, menanam dan memelihara tanaman, membudidayakan unggas dan ternak telah diatur mengikuti jadwal yang ketat. Pada jam studi mandiri diterapkan aturan silentium yang keras (harus diam, tenang, tidak boleh berisik) sehingga ibarat bila ada jarum yang jatuh ke lantai pasti terdengar bunyinya.

Pola asuh seperti ini hanya bisa dilakukan di oase “keluarga buatan” yang bernama sekolah berasrama. Dukungan aktivitas belajar dan pendidikan karakter siswa belum mampu dilakukan orang tua dalam keluarga secara baik dan benar. Kamar belajar siswa yang tenang dan dilengkapi meja belajar dan pencahayaan yang memadai (listrik) umumnya belum mampu disediakan orang tua baik di pedesaan maupun di perkotaan. Pengaturan waktu belajar dan istirahat siswa serta aktivitas olahraga dan bermain sulit disinkronkan dengan aktivitas orang tua, keluarga, dan lingkungan masyarakat setempat.

Selain itu, faktor pengaruh negatif lingkungan semakin meresahkan. Misalnya, kebiasaan pesta adat berhari-hari, kebiasaan konsumsi minuman keras, mabuk-mabukan, perjudian, pelecehan dan kejahatan seksual, konsumsi narkoba, pergaulan remaja dan muda-mudi yang berdampak penularan penyakit seksual dan kehamilan usia muda semakin meresahkan orang tua dalam mendidik anak-anaknya.

Namun, pembiayaan anak di sekolah berasrama yang mahal sulit ditanggung orang tua yang berprofesi petani, nelayan, supir, buruh, dan pegawai negeri biasa tanpa jabatan tinggi. Kemampuan ekonomi orang tua umumnya belum meningkat secara signifikan sehingga sekolah berasrama dipandang sebagai alternatif pendidikan yang mewah. Faktor ini mengakibatkan sejumlah sekolah berasrama terpaksa menutup asrama, tinggal menjadi sekolah biasa.

Memasuki kompleks SMK Pertanian Bitauni kami melihat para siswa pria sedang bermain bola kaki dan para siswa wanita dan pria yang lain menonton. Sesaat kemudian permainan berhenti dan mereka berjalan menuju asrama. Kami disapa sekian banyak siswa yang mengucapkan selamat sore dengan ramah. Romo Vinsen Manek Mau (kepala sekolah), Romo Yerem Seran, dan Romo Agus Klau serta Uskup emeritus Anton Pain Ratu yang tinggal di sebuah kamar di SMK ini sudah pergi ke Nenuk. Kami hanya bisa bertanya kepada beberapa siswa yang sempat ditemui.

Pertandingan bola kaki SMK Bitauni vs Desa Bitauni 2

Para penonton pertandingan bola kaki antara siswa SMK Pertanian Bitauni dengan pemuda Desa Bitauni dalam rangka perayaan hari Proklamasi 17 Agustus

Pertandingan bola kaki SMK Bitauni vs Desa Bitauni 3

Pertandingan bola kaki SMK Bitauni vs Desa Bitauni

 

Pertanyaan pertama kami kepada siswa-siswa itu adalah apakah semua siswa wajib tinggal di asrama. Jawabannya ya. Berapa uang asrama yang harus dibayar siswa per bulan? Jawabannya Rp 15 ribu per bulan. Waduh, ini benar-benar mengagetkan. Masa’ Rp 15 ribu per bulan. Apakah siswa masak sendiri untuk makan 3 x sehari? Jawabannya ya. Apakah masak pakai kompor? Jawabannya, ada yang pakai kompor, ada yang pakai kayu api. Agar pekerjaan memasak tak terlalu menyita waktu  belajar, mereka atur masak dalam kelompok-kelompok pertemanan dengan giliran memasak secara bergilir. Apakah siswa membawa bekal dari rumah. Jawabannya ya, bawa bekal beras dari rumah. Lalu, kami bertanya lagi, kalau makan lauknya apa? Jawabannya ya kami makan dengan sayur yang kami tanam sendiri di bedeng individu tiap siswa. Lauk yang lain bisa sup kacang hijau, ikan teri, daging dendeng kering, telur kalau ada. Kalau sudah tak ada lauk lagi ya makan dengan supermie. He he he. Mereka tampak bangga bisa makan dari usaha sendiri dan tidak memberatkan beban keuangan orang tua.

Mayoritas orang tua yang berprofesi petani sulit mendapatkan uang tunai tapi mereka memiliki beras dan jagung yang disimpan di lumbung untuk konsumsi keluarga selama satu tahun atau lebih. Kalau siswa tinggal di rumah ya orang tua harus menjamin terpenuhinya kebutuhan makan anak 3 x sehari. Kalau mereka diwajibkan tinggal di asrama dan masak sendiri ya jatah makanan yang dimakan di rumah tinggal dialihkan menjadi bekal yang dapat dibawa ke asrama. Beban ini terasa tidak terlalu memberatkan.

 

Dua siswa SMK Pertanian Bitauni bangga atas hasil kerjanya 3 - Copy

Bangga menunjukkan hasil kerja dengan keringat sendiri, sambil menunjukkan tanda victory, kemenangan.

Dua siswa SMK Pertanian Bitauni bangga atas hasil kerjanya 2 - Copy

 

Berapa besar uang sekolah (SPP) yang harus dibayar tiap siswa? Jawabannya Rp 50 ribu per semester. Waduh, tambah kaget lagi. Kalau tiap semester itu 6 bulan berarti tiap orang tua siswa membayar uang sekolah tiap siswa per bulan hanya sekitar Rp 8 500 + uang asrama Rp 15 000 = Rp 23 500 per bulan. Dengan demikian, dalam setahun orang tua hanya mengeluarkan biaya Rp 282 000 bagi anaknya di sekolah berasrama ini. Angka ini benar-benar berbeda antara bumi dan langit jika dibandingkan dengan biaya uang sekolah dan uang asrama dari sekolah berasrama, dalam hal ini SMA berasrama yang terkenal di Jabodatabek. Di sini orang tua harus membayar total Rp 70 juta s.d. Rp 100 juta per tahun bergantung kepada reputasi sekolah itu, apakah sekolah internasional, sekolah nasional plus atau sekolah nasional. Padahal, jika dibandingkan kualitas pendidikan karakter  di SMK Pertanian Bitauni apa yang dialami siswa di kampung itu mungkin jauh lebih bermakna daripada yang dialami siswa di sekolah berasrama supermahal itu.

Kami benar-benar kaget mendengar informasi betapa murah uang sekolah dan uang asrama di SMK Pertanian Bitauni karena sejauh informasi yang kami ketahui, tak ada sekolah berasrama di tanah air yang semurah ini. Nyaris gratis. Slogan sekolah negeri gratis telah dilaksanakan sekolah swasta berasrama ini. Kami belum menemukan model sekolah seperti ini yang lain di tanah air dan di negara-negara lain yang pernah kami kunjungi.

Kami bertanya lagi, apakah siswa wajib ikut misa (ibadah harian biasanya di pagi hari)? Jawabannya ya. Bangun pagi jam berapa? Jam 5.00 pagi. Apakah siswa berolahraga di sore hari? Jawabannya ya, diatur cabang olahraga yang mana digilir antar-siswa. Yang penting semboyan “mens sana in corpore sano” (jiwa yang sehat dalam tubuh yang sehat) diterapkan dalam kehidupan keseharian mereka.

Kamis 21 Juli 2014 pada Pesta Santo Pius X, sekolah ini merayakan pesta perak (25 tahun usia) sekolah ini, yang didirikan tahun 1989. Lahan sekolah ini seluas sekitar 26,5 hektar. Tanah ini dulunya bersifat asam sehingga kurang diminati penduduk. Setelah ditanami aneka- pohon dan dibudidaya kini tanah menjadi subur.   Kepada para siswa, pembina sering mendengungkan semboyan bahwa di atas batu karang tanaman dapat tumbuh subur dan akhirnya menghasilkan cukup makanan, asalkan anda tidak hanya mau bekerja keras tapi juga bekerja cerdas. Biji sesawi itu adalah biji yang paling kecil dari segala jenis benih, tetapi apabila sudah tumbuh, sesawi itu lebih besar daripada sayuran yang lain, bahkan menjadi pohon, sehingga burung-burung di udara datang bersarang pada cabang-cabangnya.

Kini SMK ini menampung 469 siswa yang tersebar dalam tiga program studi, yaitu Agronomi, Teknologi Hasil Pertanian, dan Budidaya Ternak. Enrolmen meningkat dari tahun ke tahun dan tahun ini diterima 309 siswa baru. Siapa pun siswa yang datang dari latar belakang suku dan agama apa pun diterima tanpa tes seleksi. Didukung kehidupan berasrama yang menjamin disiplin belajar siswa, praktik teori yang dapat dilanjutkan di sore hari dan hari libur, dan bimbingan para guru dan pamong asrama, kelulusan 100% dalam ujian nasional merupakan prestasi siswa sekolah ini. Tahun ajaran 2012, 120 siswa kelas III mengikuti ujian nasional dan kelulusannya 100%. Ujian nasional tahun 2013 diikuti 112 peserta sedangkan tahun 2014 diikuti 72 peserta dan semuanya lulus 100%. Tak ada yang tercecer.

Dalam olimpiade sains terapan SMK 2014 tingkat Provinsi NTT, siswa sekolah ini merebut juara I bidang studi Fisika dan Kimia dan akan ikut lomba olimpiade sains terapan tingkat nasional di Jakarta. Minggu kedua Agustus siswa SMK ini mengikuti lomba di Kupang dan dua siswa merebut juara I Biologi dan Fisika dan satu siswa merebut juara III Kimia. Pada minggu ketiga Agustus dua siswa ikut lomba kompetensi siswa bidang pertanian dan peternakan di Kupang dan berhasil merebut juara II. Dalam rangka perayaan 17 Agustus para siswa ikut perlombaan kesenian, olahraga, dll. dan merebut juara I bola kaki putra dan juara I bola voli putri.

Inilah indikator dan sekadar contoh prestasi siswa SMK Bitauni yang secara umum menggambarkan mutu dan relevansi sekolah ini. Mengapa bisa begitu? Ya, karena pendidikan yang berkualitas dan karakter yang ditumbuhkembangkan melalui revolusi mental di sekolah berasrama ini.

Belajar biologi, kimia, fisika tidak semata teoritis tapi dipraktikkan untuk memecahkan masalah dalam aktivitas bertani dan beternak melalui eksperimentasi dan inovasi. Pelajaran akademis melalui pemecahan masalah dan kreativias berproduksi divariasikan dengan pengembangan potensi kinestetik melalui olahraga dan kreativitas berkesenian serta pengembangan kecerdasan spiritual melalui ibadah dan sosialisasi dengan sesama teman serta guru dan pembina.

Teknologi penanaman, pengolahan, pemupukan, pemberian makanan yang terbaru diterapkan. Siswa per kelompok program studi menghasilkan produk berupa aneka-sayuran, bawang merah, cabe, dan tomat. Siswa pun membuat anggur dari buah dan kulit pisang dan dijual seharga Rp 15 ribu per botol. Siswa pun memelihara unggas (ayam) dan menjual ayam dan telur. Siswa juga memelihara babi yang sudah bisa dijual dengan harga Rp 2,5 juta s.d. Rp 3,5 juta bergantung kepada beratnya. Babi divaksinasi dan diberi makanan sehat yang mampu menggemukkan babi dan bisa dijual setelah berusia 6 – 7 bulan. Pasar babi di Timor khususnya dan NTT umumnya menjanjikan karena daging babi menjadi bagian dari adat pesta berbagai suku. Kalau terjadi kekurangan babi di Timor, orang akan impor dari Flores atau sebaliknya. Kalau Sumba kekurangan babi akan diimpor dari Flores dan Timor. Produk unit produksi siswa dijual ke pasar, juga ke Kupang, dan ada yang sudah diekspor ke Jawa dan Kalimantan. Ada juga penjual di pasar yang datang sendiri ke sekolah membeli produk sekolah ini.

 

Embung penampung air hujan di SMK Pertanian Bitauni Timor

Segala aktivitas budidaya tanaman, unggas, dan ternak mengandalkan cadangan air dari satu-satunya embung di sekolah ini. Air tidak dialirkan melalui pipa tapi ditimba siswa dan dibawa untuk menyirami tanaman dan memberi minuman kepada unggas dan ternak.

Bedeng sayuran, tomat, cabe di SMK Pertanian Bitauni Timor

Bedeng sayuran, tomat, cabe di SMK Pertanian Bitauni Timor 4

Embung dan bedeng sayur di SMK Pertanian Bitauni Timor 2

Embung dan bedeng sayur di SMK Pertanian Bitauni Timor

 

Romo Vinsen Manek mengatakan, menjelang perayaan ulang tahun perak sekolah ini, tanaman sayur brokoli, tomat, dan bawang merah siap panen.

Brokoli

Kebun Tomat

bawang merah

Melalui penjualan produk yang dihasilkan siswa per kelompok program studi, siswa memberikan sumbangan pembiayaan sekolah melalui pendapatan asli sekolah (PAS). Dengan demikian, secara tidak langsung sebenarnya siswa mensubsidi dirinya sendiri sehingga uang sekolah per semester dan uang asrama per bulan bisa ditekan semurah mungkin. Selain produk hasil belajar siswa, dana BOS sebesar Rp 500 ribu per siswa per tahun membantu pembiayaan sekolah. Beasiswa bagi siswa “miskin” sebesar Rp 1 juta per tahun juga membantu sehingga uang sekolah bisa ditekan seminimal mungkin. Selain itu, ada bantuan dana juga dari yayasan lokal dan bantuan pengembangan kapasitas dari Plan International. Pengelolaan dana sekolah yang dilakukan secara transparan, akuntabel, dan kredibel memungkinkan sekolah ini membayar gaji guru secara memadai, lebih besar dari gaji guru SMK dan SMA swasta lain di Timor khususnya dan NTT umumnya.  Bahkan gaji guru sekolah ini lebih tinggi dari gaji dosen universitas swasta. Jumlah guru sekolah ini yang merangkap tenaga lapangan sebanyak 30 orang dan karyawan 11 orang. Jumlah guru dapat ditekan menjadi minimal karena tiap guru berperan juga sebagai tenaga lapangan. Tidak dipisahkan status guru dan status tenaga lapangan seperti di SMK yang lain.

Kisah sukses SMK Pertanian Bitauni tidaklah jatuh dari langit, tapi melalui perjuangan konsisten dan tekun selama 25 tahun. Faktor lain yang tak kalah mendukung adalah pimpinan gereja, dalam hal ini uskup memberi perhatian dan bantuan langsung. Baik uskup Dominikus Saku kini dan uskup Anton Pain Ratu (sekarang dalam status uskup emeritus, pensiun) membantu melalui pemanfaatan networking untuk pengembangan SDM (sumber daya manusia), tenaga pendidik di sekolah ini. Kehadiran uskup emeritus Anton Pain Ratu langsung di tempat yang hidup dalam komunitas kecil dengan tiga romo di sana menjadi motivasi yang tak ternilai bagi ketekunan memecahkan masalah yang dihadapi. Ketiga romo yang bertugas di sana menunjukkan passion mendidik anak-anak remaja untuk menjadi petani teladan.

Uskup emeritus Anton Pain Ratu memilih tinggal di SMK Pertanian ini setelah beliau pensiun. Banyak imam dan warga umat terheran-heran mengapa beliau memilih tinggal di sebuah kamar sederhana di sekolah ini. Dalam obrolan di meja makan selama seminar di Nenuk, kami katakan kepada Mgr Anton Pain Ratu mengapa beliau tetap sehat dan berumur panjang. Tiap hari beliau melihat anak-anak tumbuh dan berkembang menjadi petani teladan. Ini membuatnya berumur panjang. Di forum seminar, kami katakan bahwa melihat kamar sederhana uskup tituler, bukan kaul kemiskinan tapi kaul kemelaratan yang diterapkan. Dari obrolan di meja makan, baru saya tahu bahwa selama jadi uskup aktif, beliau hanya tidur di atas papan tanpa kasur. Suatu kali datang keluarga dari Adonara, Flores Timur berkunjung dan menangis melihat opa uskup kok tidur tidak pakai kasur, hanya beralas papan dan tikar. Keluarga langsung ke Atambua membeli kasur. Sejak waktu itu ia terpaksa pakai kasur agar tidak mengecewakan keluarga. Waktu umat mendengar bahwa Paus Fransiskus hidup sederhana, sambil bercanda umat bilang, oh pasti bapa paus meniru kesederhanaan uskup Anton Pain Ratu. He he he.

Setelah saya bercerita kepada teman-teman tentang kisah sukses SMK Pertanian Bitauni, Pak Fidelis Waruwu, pakar pendidikan karakter dan pendidikan nilai menyatakan: “Kelihatannya kita membutuhkan revolusi mental, kita bisa belajar bagaimana memanfaatkan semua lahan yang ada, beternak dan berkebun. Kalau ini kita lakukan, kelihatannya pemberdayaan seluruh masyarakat sedang terjadi. Saya ingat pepatah China kuno yang selalu dikutip melawan kebijakan pemerintah yang gemar memberi ‘Bantuan Langsung Tunai’ — ‘Beri seseorang ikan, Anda memberinya makan sehari; ajari dia mengail, Anda menghidupinya seumur hidupnya.; — Jadi yang dilakukan sekolah ini adalah memberi anak-anak itu kail.”

 

Kiprah alumni, kita bisa, dan unit produksi di sekolah umum

 

Lulusan sekolah ini ada yang melanjutkan ke fakultas pertanian di universitas atau ke politeknik pertanian di Kupang dan di luar Timor. Ada pula yang telah menjadi dosen universitas. Namun terbanyak terjun menjadi petani yang dapat menjadi teladan kepada sesama petani di lingkungannya.

Betapa cocok dan relevan para penggagas dan pembina memilih jenis SMK yang sesuai dengan potensi pertanian lahan kering dan peternakan Timor. Mereka tidak memilih SMK perhotelan atau bisnis dan akuntansi yang membuat anak Timor tercerabut dari habitatnya. Sukses sekolah ini mendorong orang tua untuk lebih memilih menyekolahkan anaknya di SMK daripada di SMA lalu melanjutkan ke universitas, lalu pulang ke kampung menjadi penganggur.

Di tanah air, bahkan di NTT sendiri sekolah ini tidak banyak dikenal. Namun, reputasinya telah dikenal pemerintah Timor Leste yang telah menjalin kerja sama dengan sekolah ini. Para guru di Timor Leste telah datang dan belajar dari sekolah ini.

Gagasan unit produksi di SMK mendorong kami dalam beberapa tahun ini membawa ide ini untuk diterapkan di sekolah umum (SD, SMP, dan SMA) melalui pendidikan kewirausahaan siswa. Saran ini kami ulangi lagi dalam penataran Kurikulum 2013 di SMA Surya di Atambua pada 1 Agustus 2014 yang dihadiri 120 guru dan kepala sekolah dari 7 sekolah. Biarlah anak-anak Timor bisa jadi wirausahawan di negeri sendiri. Masa’ warung dimiliki orang Padang dan orang Jawa, lalu orang Timor jadi konsumen sepanjang masa. Orang Timor menjual murah daging sapi, lalu orang Jawa bikin bakso, kita beli lebih mahal. Aneh tapi nyata.

20140801_082206

Menata ulang kelas dari duduk berbaris ke duduk dalam kelompok di SMA Surya untuk memudahkan interaksi dan komunikasi guru – siswa- siswa dalam melaksanakan belajar aktif.

20140801_082157

Pada tanggal 2 Agustus pagi saya dan istri dari Kupang terbang ke Pulau Sumba dan tiba di Bandara Tambolaka dan segera ke Seminari (SMP dan SMA) Sinar Buana, di Waitabula, ibu kota Kabupaten baru, Sumba Barat Daya. Dari Senin 4 Agustus s.d. Rabu 6 Agustus kami menatar para guru seminari tentang Kurikulum 2013 melalui belajar aktif sekaligus mengajak menemukan solusi pendidikan kewirausahaan siswa dan unit usaha apa yang cocok bagi seminari untuk menciptakan sumber dana baru agar seminari ini mampu meraih financial freedom, kebebasan finansial dalam menyelenggarakan dan mengelola sekolah. Tradisi seminari itu mandiri, berdiri di atas kaki sendiri, tidak mengandalkan bantuan pemerintah walaupun bantuan itu bersumber dari pajak rakyat. Di mana-mana di dunia ini, pengelolaan sekolah swasta itu cenderung efisien dan umumnya sekolah swasta-lah yang lebih bermutu dan mampu menyesuaikan diri dengan tuntutan zaman. Betapa pun besar dukungan dana pemerintah, sekolah negeri di mana-mana cenderung kalah bersaing dalam mutu dan relevansi serta pendidikan karakter siswa dibandingkan sekolah swasta.

IMG-20140806-04083

IMG-20140806-04082

Belajar tidak selalu harus di dalam ruang kelas. Siswa SMP dan SMA Seminari Sinar Buana Sumba belajar matematika, IPA, IPS, bahasa, bahkan agama di luar kelas, di alam. Sirkulasi darah lebih lancar, stimuli dari pepohonan, bebatuan, awan, pemandangan, dan manusia sekitar meningkatkan kreativitas dan kelancaran kinerja otak.

IMG-20140806-04088

IMG-20140806-04106

Impian kami adalah menerapkan model sekolah kerja (Arbeit Schule, Do School) seperti INS Kayu Tanam di Sumatera Barat pada zaman penjajahan dan gagasan kunci Kurikulum 1947, ide sekolah kerja pada awal kemerdekaan. Tampaknya model sekolah kerja ini telah diterapkan SMK Pertanian Bitauni dan pasti dapat diterapkan pada sekolah umum (SD, SMP, dan SMA) melalui pendidikan kewirausahaan yang memadukan kegiatan kurikuler mata-mata pelajaran dan kegiatan ekstrakurikuler.

SMK Pertanian ini hanya mengandalkan satu embung yang menampung air hujan tatkala musim hujan dan dipakai selama 1 tahun, termasuk di musim kemarau. Siswa menimba air dari embung dan menyirami aneka tanaman tiap kelas dan tiap siswa (bedeng pribadi). Selama ini air di embung masih cukup. Untuk keperluan mencuci pakaian, memasak, dan mandi digunakan air tanah. Lahan yang dulunya berciri asam dan gersang kini telah memiliki cadangan air tanah yang memadai.

 

 Embung dan bedeng sayur di SMK Pertanian Bitauni Timor 2

 

Siswa SMK Bitauni menari dalam pertemuan kakak alumni

Suasana pesta reuni alumni SMK Pertanian Bitauni

Romo Vincent Kepala SMK Pertanian Pius X Bitauni

Kepala sekolah Romo Vinsen Manek (tengah) sedang memimpin rapat alumni sebagai persiapan perayaan ulang tahun sekolah

Reuni alumni SMK Bitauni 4

Suasana rapat alumni

Alumni SMK Pertanian Bitauni bermusik dan menyanyikan anggur merah

Suasana perayaaan temu alumni

Alumni SMK Bitauni reuni di sekolahnya Agustus 2013

Alumni SMK Bitauni di sekolahnya Agustus 2013

Acara reuni alumni SMK Bitauni nostalgia

Tarian siswa SMK Bitauni pada acara reuni

Acara reuni alumni SMK Bitauni nostalgia 2

Betapa pun tantangan yang dihadapi, kita bisa

 

Timor khususnya dan Nusa Tenggara Timur (NTT) adalah salah satu wilayah yang berada di garda terdepan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan 22 kabupaten/kota karena berbatasan langsung dengan Timor Leste dan bertetangga dekat dengan Australia. NTT juga menjadi salah satu daerah “3T” (Terluar, Terpencil, dan Terdepan), saya tambahkan satu “T” lagi, Tertinggal. Meskipun kata-kata itu kedengarannya sangat menyayat hati, tetapi itulah kenyataan yang harus kita hadapi. NTT tertinggal dalam banyak hal, seperti ekonomi, kesehatan, pendidikan dan lain sebagainya.

Dalam bidang pendidikan NTT masih tertinggal jauh dari provinsi lain di Indonesia. Pada tahun 2013 yang lalu, persentase kelulusan hasil ujian nasional (salah satu indikator keberhasilan bidang pendidikan) NTT berada di urutan ke-29 dari 33 propinsi, lebih baik dari tahun sebelumnya urutan ke-33. Hasil ini mencerminkan keprihatinan bidang pendidikan di NTT. Banyak hal yang menjadi biang dari masalah itu. Salah satunya adalah minimnya sarana dan prasarana pendidikan. Ini juga sebagai sumbangsih dari masalah politik, dan kesejahteraan rakyat. Isu yang paling sering diangkat juga adalah kita tertinggal jauh dalam hal teknologi informasi dan modernisasi.

Namun, di tengah pesimisme ini, muncul fajar menyingsing dari Bitauni, Kecamatan Insana, di tengah tanah Timor. SMK Pertanian Bitauni telah membuktikan bahwa melalui revolusi mental yang ditunjang manajemen dan kepemimpinan para pembina yang memiliki passion, gairah luar biasa pengabdian, di atas batu karang Pulau Timor dapat dibuat mujizat. Tanah berbatu karang dapat menghasilkan tanaman dan ternak melalui pembinaan karakter siswa yang melandasi mutu pendidikan yang terandalkan. Para pembina terus menanamkan kepercayaan diri siswa melalui slogan, kita bisa, kita bisa. Tak ada yang mustahil dalam hidup ini kalau kita selalu berprinsip, kita bisa.

Pengalaman keterampilan karakter

&

Pengalaman keterampilan karakter 2

Kami coba browse facebook alumni SMK Pertanian Santo Pius X Bitauni, Timor Tengah Utara, NTT dan mendapatkan ungkapan seorang alumnus, Alex Tikneon yang menilai sekolahnya ini pada status facebook-nya dalam rangka reuni alumni sekolah ini sbb:

“Di dalam nama grup ini, yaitu SMK ST PIUS X BITAUNI, mental saya dibentuk untuk kemudian menjadi orang yang bermental kerja keras, tanggung jawab, berkarismatik, dan hal-hal positif dalam mengarungi hidup ini…. Di sekolah ini, aku diajar untuk menghargai waktu, di sekolah ini, aku diajar tentang bagaimana hidup mandiri kelak, dan di sekolah ini tidak diajarkan suatu saat menjadi PNS melainkan pekerja, di sekolah ini, aku diajarkan bagaimana mendekatkan diri dengan Tuhan…. Akhirnya Puji Tuhan, dengan bekal yang diberikan sekolah ini, aku bisa menjalankan hidup ini dengan berdiri di atas kaki sendiri…. Salam semua alumni sekolah ini. Tuhan memberkati kalian semua.”

 

Alex Tikneon alumnus SMK Pertanian Bitauni dan istri

Alex Tikneon dan istri

Alex Tikneon dan keluarga, seorang alumnus SMK Pertanian Bitauni

Alex Tikneon di tengah keluarga

Alex Tikneon alumnus SMK Pertanian Bitauni dengan foto latar belakang rumahnya

Mengarungi masa depan dengan rasa percaya diri dan optimisme

Selama 25 tahun usia sekolah ini, telah dihasilkan sekian banyak alumni, terbanyak terjun menjadi petani di lingkungan masyarakatnya. Ada yang tidak duduk diam dan menyaksikan karut marut politik yang berciri transaksi pragmatis. Pengamatan kemiskinan yang masih membelit penduduk mendorong sejumlah alumni untuk mewarnai pertarungan politik melalui terjun langsung.

Para pembina sekolah ini sering mengingatkan para siswa bahwa jika kita berikhtiar, mujizat Tuhan, kemahamurahan hati Tuhan bisa terjadi dan terjadi lagi. Dari semula dua ekor ikan dan lima potong roti akhirnya kita bisa memberi makan kepada lima ribu orang dan sisanya bisa dijual.

Dalam obrolan dengan siswa kelas II SMK ini anak-anak remaja itu dengan bangga bercerita tentang aktivitas belajarnya menanam dan memelihara ternak. Mereka tampak optimis menghadapi masa depan. Ketika ditanya, selesai sekolah mau jadi apa umumnya mengatakan bercita-cita menjadi petani teladan.

Unit produksi di sekolah umum melalui pendidikan kewirausahaan

Khusus untuk NTT umumnya dan Timor khususnya, kami mengidam-idamkan sekolah berasrama yang bisa hidup melalui unit produksi, tidak hanya SMK tapi juga SMP dan SMA berasrama dan juga SD tanpa asrama. Sekolah berasrama sering terbayangkan sebagai sekolah mahal karena uang asrama yang cenderung tinggi sehingga hanya orang tua yang mampu dapat menyekolahkan anaknya di sekolah berasrama. Ternyata, SMK Pertanian Bitauni telah membuktikan bahwa sekolah berasrama tidak mesti mahal, bisa murah, bahkan demikian murahnya sehingga dikatakan nyaris gratis.

Kami kemukakan beberapa contoh awal pendidikan kewirausahaan yang dapat berkembang menjadi unit produksi. Para siswa SMA Terpadu HTM (berasrama) di Halilulik, Kabupaten Belu telah menanam pohon naga dan buahnya yang lezat dan bergizi dimakan para siswa. Kepala sekolah bingung mau diapakan buah naga yang berlimpah yang siap panen. Dalam obrolan waktu seminar pendidikan di Nenuk, kami katakan, mengapa tidak melatih siswa memproses buah naga menjadi sirup dan selai yang bisa dijual ke Kupang, bahkan ke luar pulau? Mau tahu caranya? Tinggal googling saja di internet dan dapat ditemukan proses cara membuatnya. Kalau kurang jelas ya cari videonya di Yotube. He he he.

??????????

??????????

Para siswa SMA Seminari Lalian di Kabupaten Belu telah berwirausaha melalui menanam sayuran, memelihara ayam dan babi, dan akan memelihara sapi. Sayur yang dipanen dijual ke seminari untuk dimakan mereka sendiri. Telur dan ayam serta babi dijual ke pasar di Atambua. Selain itu, siswa membuat dan mengelola koperasi siswa sendiri.

Para siswa SMA Giovanni di Kupang belajar desain grafis dasar yang ditindaklanjuti dalam mata pelajaran Prakarya dan Kewirausahaan. Mesin untuk sablon gelas dan baju telah dipesan. Ternyata gelas dan baju yang disablon coba dijual dan ternyata laris manis. Kini penyablonan telah menjadi cikal bakal unit produksi. Hasil penjualan dapat digunakan untuk membeli keperluan sekolah. Kata kepala sekolah, “Intinya kami ajarkan skill kepada anak agar di kemudian hari mereka bisa berkuliah sambil usaha.”

Para siswa SMP Negeri Buti di Merauke yang terletak tak jauh dari pantai dilatih membuat abon ikan dari ikan yang dibeli murah waktu musim ikan. Hasil penjualan abon ikan a.l. digunakan untuk memberi makan kepada semua siswa dan guru 2 x per minggu. Mereka pun dilatih budidaya ikan pada bekas lubang galian pasir yang disulap menjadi kolam ikan. Kemudian, siswa juga dilatih memelihara angsa dan sapi yang didatangkan dari Jayapura atas bantuan dinas pertanian Merauke. Kalau upaya ini konsisten dilakukan, sekolah ini dapat menjadi sekolah kaya.

Tiga ratus lima puluh siswa dari kelas I s.d. VI sebuah SD di Batu Raja, Sumatera Selatan telah mencoba menanam sayur pada pot hidroponik. Waktu pelatihan Kurikulum 2013 di Bandar Lampung kami memberi file tentang cara membuat pupuk padat dan cair organik dan cara menanam pada pot hidroponik dan polibag. Kepala sekolah menelepon kami mengabarkan berita gembira bahwa para siswa telah berhasil menanam sayur pada pot hidroponik dan akan panen. Saya tanya, sayur itu nanti diapakan? Jawabnya, ya siswa memasak dan makan rame-rame. Saya tantang lagi, hayo, bertahap ditingkatkan tiap siswa 2, 3, 4, dan kemudian 5 pot hidroponik dan berkembang terus akhirnya bisa diatur penjualan sayur sawi, bayam, tomat, cabe, dll. ke pasar di Batu Raja. Hasil penjualan bisa digunakan untuk membeli keperluan sekolah.

Sayur sawi di pot hidroponik

Contoh sayur sawi yang berhasil tumbuh subur pada pot hidroponik. Sayur ini mendapatkan asupan makanan dari pupuk cair yang dicampurkan dengan air. Tak perlu disiram lagi. Tidak bergantung pada hujan. Di musim kemarau pun sayur dapat ditanam.

Inspirasi dari Nenuk, Kabupaten Belu, Timor

Di Nenuk sebagai biara induk Soverdi (SVD) Timor, para calon imam dan bruder menjalani pendidikan rohani selama 2 tahun sebelum melanjutkan pendidikan filsafat dan teologi untuk menjadi imam atau pendidikan bidang lain untuk menjadi bruder. Para novis ini adalah lulusan SMA seminari atau SMA dan SMK umum.

Waktu mengikuti seminar pendidikan di Nenuk, kami sempat melihat-lihat ‘unit produksi’ sebagai media praktik para novis sebagai implementasi prinsip hidup ora et labora (berdoa dan bekerjalah). Mereka menanam dan memelihara tanaman serta beternak. Melalui upaya ini paling tidak mereka bisa makan dari apa yang diproduksi sendiri sekaligus menumbuhkembangkan semangat kewirausahaan agar sebagai imam mereka termotivasi memberdayakan kemampuan ekonomi umat dan sebagai bruder mereka bisa menempuh studi lanjut spesialisasi pertanian, peternakan atau bidang-bidang lain.

IMG-20140731-03996

Kompleks biara induk tampak depan

IMG-20140731-03994

Kamar Rektor biara tepat di sudut bangunan

IMG-20140731-03976

Panti pendidikan novis tampak belakang. Di area inilah berpusat ‘unit produksi’ peternakan dan sebagian pertanian.

IMG-20140731-03985

IMG-20140731-03986

Ternak ayam

IMG-20140731-03965

Ternak bebek

IMG-20140731-03969

IMG-20140731-03970

Ternak kambing

IMG-20140731-03967

IMG-20140731-03982

Ternak sapi

IMG-20140731-03977

Ternak burung merpati

IMG-20140731-03972

Bagian hutan tempat dibudidaya pula vanili

Kebun vanili

Tanaman vanili

Pendidikan kewirausahaan di lembaga pendidikan kejuruan atau umum di mana pun dapat dilakukan. Bidang praktik wirausaha dipilih sesuai dengan potensi dan konteks setempat. Praktik wirausaha ini dapat berkembang menjadi unit produksi sekolah jika dilakukan secara konsisten dan dikelola dengan semangat bisnis. Produk unit produksi bisa dijual untuk menambah sumber dana sekolah.

Advertorial

Diabetes

Bacalah posting kami berjudul:

https://sbelen.wordpress.com/2013/05/03/bawang-putih-cuka-apel-madu-jahe-lemon-jantung-sehat-tubuh-bugar/

Sano sembuhkan diabetes

Kartu nama Yuni 3

Tag: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

16 Tanggapan to “SMK Pertanian St Pius X Bitauni, Insana di Timor: Model sekolah berasrama yang nyaris gratis”

  1. S Belen Says:

    Komentar Prof Dr Robert Lawang, Guru Besar FISIP UI:

    Pak Sirilus selamat sore. Ini baru berita. Kalau saya ke TTU ingin mengunjungi sekolah bagus itu. Kebetulan akhir akhir ini minat saya terhadap pertanian besar sekali. Robert Lawang

    • S Belen Says:

      Pak Robert Lawang,

      Alamat SMK Pertanian St Pius X Bitauni, Insana:
      Jalan Gua Bitauni, Kecamatan Insana, KabupatenTimor Tengah Utara (TTU), Timor, NTT. Kode Pos: 85671.

      Letak sekolah ini sekitar 23 km selepas Kota Kefamenanu (ibukota Kabupaten TTU ) menuju Kota Atambua (ibukota Kabupaten Belu). Letaknya tak jauh dari jalan, berbelok ke jalan masuk menuju Gua Santa Maria Bitauni. Dari Terminal di Kupang bisa naik mobil travel dengan ongkos Rp 100 ribu. Kalau mau pakai mobil rental, ongkosnya Rp 650 ribu pp (pergi-pulang). No. HP Kepala Sekolah Romo Vinsen Manek Pr: 0813 3781 0522. Terima kasih

  2. S Belen Says:

    Pak Bernad Barang Miten, Jakarta:

    Terima kasih pak Sil…ini informasi A1 yang perlu mendapat perhatian kita semua. Bagaimana masing-masing kita bisa menjadi ‘iklan’ bagi sekolah contoh ini bagi masyarakat luas. Tapi, terutama barangkali menjadi PR besar bagi kita untuk mengedifikasi / mereplikasi contoh yang baik ini, paling tidak bagi anak-anak kita atau keluarga terdekat kita. Ini tantangan terberat bagi kita yang hidup di kota, tapi tidak mudah juga buat orang di kampung Adonara, Flores dan Lembata sana. Yah….mental juang harus mengawali terobosan perjuangan ini. Karena tanpa pembaharuan mental maka selalu saja ada alasan yang menjadi penghalang.

    Semoga dengan safari keliling pak Sil dengan para pakar pendidikan lainnya dalam memberikan pelatihan dan training ini bisa membangun strategi baru demi menumbangkan kemiskinan berpikir, bergerak dan penghasilan masyarakat kita. Selamat menjalankan tugas dalam membagi berkah Tuhan kepada sesama. Salam hormat. Bernad

    • S Belen Says:

      Pak Bernad,

      Tentu saja kita amat mengapresiasi jasa penggagas, pimpinan gereja, dan para pendidik di sekolah ini. Di akhir presentasi kami dalam seminar pendidikan di Nenuk, kami mengajak seluruh hadirin bertepuk tangan bagi orang-orang yang berjasa menciptakan model sekolah yang cocok dengan kondisi dan kebutuhan Timor. Dalam diskusi di seminar ini kami menyarankan agar sekolah umum (SD, SMP, dan SMA) mengikuti langkah menerapkan ide unit produksi dalam pendidikan kewirausahaan siswa.

  3. S Belen Says:

    Tanggapan Pak Lukman S Sriamin, Admin Milis Psikologi Indonesia, Jakarta:

    Wooowww info tertulis saja sudah membuat tertarik. Mau berkunjung, datang ke lokasi rasanya tidak bisa dalam waktu dekat ini.

    Bagaimana kalau bung Belen membuat rekamannya dalam CD sehingga saya dan teman-teman di Psikologi Indonesia di Jakarta bisa lebih menghayati hal tsb? Bung ada alat perekam? Hal yang terkait permintaan tsb di atas cukup direkam biasa tak usah secara profesional. Silahkan dikirimkan ke saya dalam waktu dekat ini; dan kami akan menggantinya. Bung Belen kabari kalau sudah siap kirim. Tks. Lukman S

    • S Belen Says:

      Mas Lukman,

      Terima kasih atas tanggapan mas. Sayang saya tak punya rekaman video sekolah ini. Waktu kunjungan juga amat singkat. Biasanya juga saya cuma pakai HP untuk merekam kejadian sesaat dengan kualitas amatiran. Usul mas membuat saya terdorong untuk membeli alat perekam yang lebih bagus dan mulai mencoba.

      Ada niat dalam hati untuk satu waktu nanti kami akan menawarkan penataran gratis bagi para guru dan pembina SMK Pertanian Bitauni untuk mengubah pola belajar-mengajar ke arah belajar aktif dan mendorong ke arah pengolahan produk menjadi kripik, selai, sirup, daging kaleng, saus tomat, saus cabe agar pemasaran ke Jawa dan pulau-pulau lain tidak terhambat masa kedaluwarsa produk. Nilai tambah produk olahan akan meningkatkan income sekolah ini.

      Kalau niat ini terlaksana ya kami bisa merekam proses pembelajaran dan kehidupan asrama berupa video walaupun tanpa editing. Ya, lihatlah ini bukan sebagai janji karena kami paling takut membuat janji.

      Sebagai orang NTT saya sendiri juga terheran-heran atas prestasi sekolah ini dengan biaya seefisien mungkin tanpa membebani orang tua. Semoga contoh best practice ini dapat memberi inspirasi bagi pengelola sekolah dan asrama serta pesantren di berbagai wilayah di tanah air.

      Seeing is believing.

      Salam kami,

      S Belen

      • S Belen Says:

        Balasan dari Pak Lukman S Sriamin:

        Salut bung Belen. Salut untuk semangat anda yang konsisten
        sejak kenal anda saat beberapa tahun lalu saat saya di Komnas HAM.

        Tentang beli alat perekam….oh jangan dulu bung. Kumpulkan saja hasil rekaman via alat yang saat kini sudah ada saja. Alat perekam tergolong tidak murah. Jadi semisal sekarang ini direkam melalui hp, lalu dipindah disave di komputer / laptop. Nah, baru satu saat kelak dipindah / disimpan di CD.

        Sementara itu dulu, bung. Salam

  4. S Belen Says:

    Tanggapan Pak Hidayat Tjokrodjojo, pengusaha, filantropis Indonesia yang bekerja sama dengan Bill Gates membantu masyarakat Indonesia:

    Pak Belen, angkat topi, terima kasih atas info dan mengharap Pak Belen semakin luas melaksanakan revolusi mental agar mempunyai semangat mencari alternatif secara kreatif sebagai solusi menuju “financial freedom”… miskin hanya untuk yang tidak berupaya …, ya kan? Saya sangat gembira pak Belen, sudah menemukan “The Secret” of “Financial Freedom” …. Salam, Hidayat.

    • S Belen Says:

      Dear Pak Hidayat,

      Kalau Pak Hidayat sebagai anak seorang guru / kepala sekolah yang merangkak dari bawah dan akhirnya menjadi pengusaha sukses, saya sebagai anak guru amat telat mengikuti jejak Pak Hidayat. Baru di usia 62 tahun saya mulai terjun berbisnis, baru mulai belajar tapi rasanya barusan menemukan makna the secret of financial freedom.

      Waktu seminar pendidikan di Nenuk, saya tunjukkan satu botol ramuan herbal yang telah satu tahun lebih ini kami produksi dan jual. Karena hampir semua peserta seminar itu, baik laki-laki maupun perempuan adalah jebolan sekolah berasrama, saya katakan, “Saya berhutang budi kepada Seminari Lalian, alma materku yang telah membekali spirit wirausaha melalui tindakan-tindakan kecil. Tapi, terutama membekali kita dengan sikap dan semangat berjuang, pantang menyerah.”

      “Terbanyak orang tua kita adalah petani tapi mereka telah menanam dan menjual hasil tanaman, beternak dan menjual hasil ternak. Mereka adalah orang-orang yang memiliki sikap wirausahawan. Kita semua bisa, kalau kita mau dan berjuang secara konsisten. Kalau kita mengelola sekolah, ya kita bisa menggerakkan pendidikan kewirausaan bagi siswa dan mencari peluang unit usaha untuk menggali sumber dana bagi sekolah. Sehingga, kita tidak bergantung kepada uang sekolah sebagai sumber dana utama. Biarlah pemeritah membuat sekolah gratis, kita tetap berjuang untuk membuat sekolah swasta kita menjadi sekolah nyaris gratis atau gratis.”

      “Nah, SMK Pertanian Bitauni telah menunjukkan bahwa sekolah berasrama tidak harus mahal, bisa murah sekali. Nyaris gratis. Orang di Kota Kupang biasa bilang ah, orang dari Belu, TTU itu orang gunung. Tapi, ternyata orang gunung di pedalaman, di kampung malah telah menemukan rahasia kebebasan finansial dalam mengelola sekolah.”

      Ke mana-mana kami mendorong pimpinan yayasan, kepala sekolah, dan para guru untuk menggerakkan pendidikan kewirausahaan melalui unit produksi sekolah dan melalui unit usaha khusus yayasan yang tidak mesti harus dalam bidang usaha yang berkaitan dengan pendidikan, misalnya membuat kolam renang dengan water boom. Ternyata, SMK Pertanian Bitauni telah lebih dulu menemukan solusi yang kami sendiri masih membayang-bayangkan. Sejauh yang kami tahu tidak ada sekolah berasrama semurah begini di tanah air dan di luar negeri pun kami belum menemukan. Tepuk tangan bagi para penggagas dan pengelola sekolah ini.

  5. S Belen Says:

    Tanggapan Pastor Erwin Manullang, Medan:

    Pak Belen,
    Terima kasih atas cerita tentang SMK Pertanian Pius X. Hebat !! Benar-benar hebat!

    Pelajaran kewirausahaan tidak lagi teoritis, tetapi langsung dipraktikkan dan dirasakan. Belum pernah kudengar SMK seperti itu di Sumatera Utara. Di sini pada umumnya semua sekolah asyik menunggu bantuan dari pemerintah.

    Senang mendengar cerita Pak Belen. Sehat selalu ya Pak Belen. Salam untuk Ibu Yuni.
    Salam,
    Daniel Erwin Manullang

  6. S Belen Says:

    Komentar Pak Simon Leya, Tangerang via facebook:

    Semoga manajemen seperti ini terus berlanjut, karena biasanya awal-awal bagus, ke belakang mulai amburadul, terutama dalam tata kelola keuangan.

    • S Belen Says:

      Pak Simon, Semoga kekhawatiran Pak itu tidak menimpa SMK ini. Pengalaman 25 tahun sampai pesta perak tahun ini semoga menjadi pelajaran untuk terus memajukan sekolah ini, melakukan adaptasi dan perubahan sesuai arus tuntutan zaman. Secara pribadi saya salut kepada Romo Vinsen Manek sebagai kepala sekolah yang telah terbukti berhasil.

      Romo Rosindus yang kini menjadi Kepala SMK Fransiskus di Sibolga sekaligus praeses Seminari Menengah Sibolga mengirim sms sbb: “Romo Vinsen itu siswaku yang cerdas, kerja keras, dan rendah hati. Waktu jadi kepala sekolah, dia ngeluh kepada saya: ‘Kakak, saya tidak mampu.’ Saya jawab, mendidik bukan bertinju. Kalau bertinju saja ada ilmunya, mengapa kau nggak bisa?”

      • S Belen Says:

        Balasan Pak Simon Leya, Tangerang:

        Pak Sil, saya teringat SPMA Boawae dan Ir Vitalis Djuang yang tamatan Jerman. Sayangnya, sebagian besar hanya mau jadi pegawai negeri. Hanya sedikit lulusan yang mau terjun jadi petani hebat. Satu dari sedikit lulusan yang mau jadi petani dan berkiprah di kampung adalah orang Laja (kampung P Yanus Lobo SVD). Lulus dari Ledalero orang itu masuk SPMA dan menjadi petani dan kepala desa yang selalu diingat orang.

        Tanggapan kami:

        Pak Simon Leya,

        Lulusan SPMA Boawae mirip lulusan IPB, banyak yang tak mau terjun bertani. Dalam hidup ini, dinamika mencari pekerjaan untuk nafkah hidup berbeda sekali dengan dinamika spesialisasi / jurusan studi kita. Karena orang jor-joran membangun lembaga pendidikan asal bisa menarik banyak siswa / mahasiswa tidak peduli nanti setelah tamat mau kerja apa. Kurang ada link and match antara dunia pendidikan dan dunia kerja. Mungkin sekarang di NTT telah mencapai angka 100 ribu sarjana yang menganggur. Biaya kuliah diboroskan untuk tujuan yang tak jelas.

        Menurut pengamatan kami, yang penting pendidikan membekali siswa / mahasiswa dengan nilai-nilai karakter unggul, kreativitas berpikir dan memecahkan masalah, jiwa kewirausahaan serta kemampuan bahasa Inggris atau bahasa asing lain dan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) guna survive dalam bekerja dan mencari makan. Mau spesialisasi bidang apa saja, kompetensi inilah yang membuat orang berhasil dalam hidup. Inilah harapan yang kami temukan implementasinya pada SMK Pertanian Bitauni. Soal penguasaan bahasa Inggris dan TIK mungkin yang perlu ditingkatkan di SMK ini.

        Dalam hidup ini, ternyata kita menelusuri jalan berkelok dan berliku, tidak selalu sama dengan impian kita waktu belajar di sekolah atau perguruan tinggi.

  7. S Belen Says:

    Komentar Mario Yosef dari Sumatera Utara:

    Jika hari ini kau menanam dengan air mata, pasti besok kau akan menuai dengan sukacita. Menanam karakter menuai peradaban. Jika SMK itu berhasil berarti cita-cita Uskup Emeritus Antonius Pain Ratu SVD mulai tercapai, karena kondisi alam dan ekonomi masyarakat maka beliau menginginkan agar masyarakat Timor tahu bertani dan beternak secara cerdas. Horas! Terima kasih!!

  8. niko usfinit Says:

    Mantap….. SMPTP terus membina dan memberikan ilmu sebanyak mungkin biar bisa menghasilkan SDM yang bermutu dan menghasilkan kader-kader pertanian dan peternakan demi membangun dan mensejahterakan masyarakat kita, terutama di Timor Tengah Utara (TTU) …………..

    Kami sedang mencari pengalaman dan ilmu di daerah lain untuk membekali ilmu yang sudah dimiliki …

    • S Belen Says:

      Terima kasih, Niko Usfinit. Sekolah yang tidak berubah, tidak mau memperbaharui diri, tidak menghasilkan lulusan yang berguna bagi masyarakat lama-kelamaan akan ditinggalkan masyarakat (orang tua siswa). Yang tidak pernah berubah adalah perubahan itu sendiri. Sekolah yang tak mau berubah akan tenggelam ke dalam laut, ke dalam album sejarah, hanya jadi kenangan alumni. Sekolah yang selalu ingin berubah sesuai tuntutan zaman akan bertahan dalam persaingan dengan sekolah-sekolah lain. Alekot, alekot, SMK Pertanian Bitauni. Maju terus.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: