Analisis SWOT Kurikulum 2013 Semua Jenjang & Solusi Kita

Anak tendang guru

Guru kencing berdiri, siswa kencing berlari

Perkembangan kurikulum Indonesia

Sejak merdeka sampai sekarang telah berlaku 10 kurikulum di Indonesia. Menurut pendapat saya, kurikulum terbaik adalah Kurikulum 1947 yang berorientasi dan menekankan model sekolah kerja (Arbeit Schule, Do School). Contoh sekolah kerja yang terkenal di tanah air adalah Indonesische Nederland School (INS) di Kayu Tanam (sekitar 60 km utara Kota Padang di pinggir jalan dari Padang menuju Bukittinggi) yang didirikan Mohamad Syafei pada tanggal 31 Oktober 1926.  Pelajaran di sekolah ini menggunakan bahasa Melayu (kemudian menjadi bahasa Indonesia) dan bahasa Inggris. Visi M Syafei adalah bangsa Indonesia bisa memenangkan persaingan dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Model sekolah seperti inilah yang dicita-citakan para penyusun Kurikulum 1947 seperti tampak pada dokumen kurikulum yang amat tipis tapi kaya gagasan dan amat substantif menatap masa depan Indonesia. Pelaksanaan belajar aktif pada model sekolah kerja tidak hanya terbatas pada pelajaran rutin tapi sampai kepada menghasilkan produk kerajinan tangan dan prakarya oleh siswa sendiri di bawah bimbingan guru. Implementasi Kurikulum Satuan Pendidikan (KTSP) 2006 dan desain Kurikulum 2013 tidak menganut orientasi ini. Hanya terbatas pada belajar aktif dalam pelajaran rutin. Sedangkan, pendidikan kewirausahaan sebagai wadah praktik konsep sekolah kerja kurang ditekankan. Gagasan sekolah kerja ternyata masih konsisten dilaksanakan di Finlandia. Siswa belajar membuat kerajinan tangan, menjahit, membuat makanan, membuat barang dari logam, mengutak-atik mesin, belajar fotografi, membuat kreasi dengan menggunakan teknologi informasi. Model sekolah kerja yang telah dimodifikasi sesuai dengan tuntutan zaman menyebabkan prestasi siswanya unggul dalam tes-tes internasional. Strengths (Kekuatan) Kurikulum 2013

  • Pendekatan tematik dilanjutkan ke kelas IV – VI SD. Penetapan ini tepat karena siswa usia SD masih berpikir holistik dan dampaknya adalah penghematan waktu dan tenaga serta pengurangan pengulangan dan tumpang tindih. Hanya harus diingat: Tetap ada mata pelajaran tersendiri karena tidak semua kompetensi dasar (KD) dapat seutuhnya diajarkan melalui pendekatan tematik. Mata pelajaran tersendiri, terutama Bahasa Indonesia dan Matematika harus diajarkan tersendiri juga karena tidak semua KD dapat seutuhnya diajarkan melalui pendekatan tematik. Jika semua KD diajarkan melalui pendekatan tematik, akan terjadi pendangkalan penguasaan kompetensi, terutama kompetensi membaca dan menulis siswa akan lemah. Inilah pelajaran atau hikmah dari implementasi KTSP 2006 yang melalaikan pelajaran tersendiri terutama untuk Bahasa Indonesia dan Matematika.
  • SMP: IPA dan IPS diajarkan / dipelajari secara terpadu. Tidak seluruh KD mata pelajaran dapat diajarkan secara terpadu. Ada KD yang tak bisa dipadukan. Perlu diajarkan tersendiri sebagai mata pelajaran terpisah. Tampaknya pembelajaran terpadu ini sulit dilaksanakan karena guru hanya disiapkan mengajar satu mata pelajaran selama studi di lembaga pendidikan tenaga kependidikan (LPTK).
  • Penjurusan (dengan istilah peminatan pada Kurikulum 2013) di SMA langsung dimulai dari awal kelas I (kelas X). Kebijakan ini memungkinkan siswa lebih mendalami mata-mata pelajaran jurusan. Namun, porsi jam pelajaran per minggu pada Kelompok A (Wajib) dan Kelompok B (Wajib) yang bersifat umum (bukan peminatan / jurusan) mencapai  24 jam atau 50% dari seluruh beban jam pelajaran per minggu (48 jam). Porsi jam pelajaran per minggu Kelompok C (Peminatan) adalah 24 jam atau 50% dari total jam pelajaran per minggu di SMA. Maksud penjurusan sejak awal untuk mengurangi beban belajar siswa ternyata tidak tercapai.
  • Dimasukkan Pancasila sehingga Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) pada KTSP berubah nama menjadi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn).
  • Pelajaran Sastra di SMA dan SMK lebih diperhatikan.
  • Pramuka ditekankan.
  • Imbauan dan dorongan melaksanakan kurikulum melalui belajar aktif karena kurikulum ini menekankan proses.
  • Pendidikan kewirausahaan masuk di SMA dan SMK dalam mata pelajaran Prakarya dan Kewirausahaan dengan porsi waktu 2 jam pelajaran per minggu.

Senam push up

Weaknesses (Kelemahan) Kurikulum 2013

  • Penekanan pengembangan karakter siswa melalui pembelajaran. Padahal yang paling efektif melalui proses peneladanan dan pembiasaan, bukan melalui proses pembelajaran. Betapa pun, hal ini cukup baik agar guru tak lupa memperhatikan pengembangan karakter siswa.
  • Mengapa jam pelajaran agama ditambah? Di SD dari 3 menjadi 4 jam dan di SMP, SMA, dan SMK dari 2 menjadi 3 jam. Padahal, seperti pendidikan karakter, pendidikan agama lebih efektif dilakukan melalui proses peneladanan dan proses pembiasaan. Proses pembelajaran hanya mendukung kedua proses itu. Karena itu, sebenarnya untuk pembelajaran agama cukup 2 jam karena hanya dibatasi pada kegiatan belajar agar siswa lebih mendalami ajaran agama. Praktiknya lebih terfokus kepada proses peneladanan dan proses pembiasaan.
  • Memperkuat mata pelajaran perekat bangsa -> OK setuju. Tapi mengapa hanya dibatasi pada mata pelajaran Bahasa Indonesia, PKn, Agama, dan Matematika? Mengapa IPS, terutama Sejarah tidak masuk? Malah digabungkan ke PPKn? Kalau Matematika sebagai mata pelajaran universal yang berlaku untuk semua bangsa di dunia masuk, mengapa IPA tak dimasukkan padahal IPA adalah mata pelajaran universal juga?
  • Alasan Mendikbud mengubah kurikulum (KTSP 2006) adalah deradikalisasi bangsa Indonesia yang terjebak dalam konflik vertikal dan horisontal dan ancaman terorisme. Namun, penekanannya justru kepada mata-mata pelajaran “perekat bangsa” tanpa didukung dan diikat oleh konsepsi substantif, seperti pendidikan lintas budaya atau pendidikan multikultural (multicultural education). Tak mungkin tercipta kehidupan yang damai di Indonesia jika masih ada konflik antar-agama dan konflik antar-aliran dalam satu agama.  Motif deradikalisasi malah dilakukan melalui penambahan jam pelajaran agama, bukan melalui membuka peluang bagi siswa untuk mengenal tradisi agama-agama lain selain agamanya agar menghargai agama lain. Bahkan, Kompetensi 1 yang harus mewarnai berbagai KD semua mata pelajaran malah menekankan agar siswa menerima dan menjalankan ajaran agama yang dianutnya. Semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang dikutip dari Kakawin Sutasoma karangan Mpu Tantular sekitar abad ke-14 Masehi justru mengajarkan toleransi antara umat Hindu Siwa dengan umat Buddha. Buddha dan Siwa merupakan dua zat yang berbeda, tetapi bagaimanakah bisa dikenali? Sebab kebenaran Jina (Buddha) dan Siwa adalah tunggal. Terpecah belahlah itu, tetapi satu jugalah itu. Tidak ada kerancuan dalam kebenaran. Apakah isi kurikulum pendidikan agama 2013 menekankan toleransi dengan penganut agama lain?
  • Menambah jumlah jam pelajaran per minggu: SD 4 jam, SMP 6 jam, SMA 2 jam, dan SMK menjadi 48 jam per minggu (24 jam atau 50% untuk kelompok mata pelajaran A dan B) -> Alasan tak jelas. Perbandingan antar-negara tidak jelas. Finlandia malah nomor I di dunia padahal jumlah jam pelajarannya sedikit. Yang penting pelajaran menyenangkan atau tidak. Faktor metodologi lebih penting daripada lamanya waktu. Indonesia: Jumlah hari belajar efektif termasuk yang tertinggi di dunia, sama dengan Korea Selatan.
  • Jumlah mata pelajaran masih banyak. Dikurangi tapi mengapa jumlah jam per minggu ditambah menjadi tertinggi di dunia? Di SD jumlah mata pelajaran dikurangi dari 10 menjadi 8 tapi jumlah jam per minggu ditambah dari 32 menjadi 36 jam (ditambah 4 jam di kelas IV, V, dan VI). Kalau tambahan 4 jam ini dikonversi dengan patokan 1 mata pelajaran 2 jam per minggu, jadinya jumlah mata pelajaran dalam pelaksanaan konkret di lapangan ditambah 2 mata pelajaran sehingga sama saja dengan 10  mata pelajaran dalam KTSP 2006. Jadinya bertambah 2 mata pelajaran dari sudut pandang waktu dalam Kurikulum 2013. Di SMP jumlah mata pelajaran dikurangi dari  12 menjadi 10 mata pelajaran tapi jumlah jam per minggu ditambah dari 32 menjadi 38 jam (ditambah 6 jam). Kalau tambahan 6 jam ini dikonversi dengan patokan 1 mata pelajaran dengan 2 jam per minggu, jadinya jumlah mata pelajaran dalam pelaksanaan konkret di lapangan ditambah 3 mata pelajaran sehingga sama saja dengan 13 mata pelajaran. Jadinya bertambah 1 mata pelajaran dari sudut pandang waktu dalam Kurikulum 2013. Di SMA jumlah mata pelajaran dikurangi dari  18 menjadi 16 dan 15 mata pelajaran tapi jumlah jam per minggu ditambah dari 38 menjadi 42 jam di kelas II dan III (ditambah 4 jam). Kalau tambahan 4 jam ini dikonversi dengan patokan 1 mata pelajaran 2 jam per minggu, jadinya jumlah mata pelajaran dalam pelaksanaan konkret di lapangan ditambah 2 mata pelajaran sehingga menjadi 18 dan 17 mata pelajaran. Jadinya di SMA sebenarnya jumlah mata pelajaran hampir sama dari sudut pandang waktu dalam Kurikulum 2013. Di SMK jumlah jam pelajaran per minggu bertambah dari 42 atau 44 menjadi 48 jam per minggu (ditambah 6 atau 4 jam). Kalau dikonversi jadinya bertambah 3 atau 2 mata pelajaran.

Total jam pelajaran berbagai negara

Total jam pelajaran di Finlandia sedikit, nomor 2 tersedikit namun prestasi siswanya unggul di peringkat atas pada tes-tes internasional. Non multa sed multum (makin sedikit makin baik) Mengapa Kurikulum 2013 menambah jam pelajaran? Apakah dengan belajar lebih lama anak Indonesia akan lebih pintar?

Finnish lessons

Pelajaran dari Finlandia:

“Lebih sedikit tes, lebih banyak belajar”

“Lebih banyak kreativitas, lebih kurang standardisasi”

“Pencegahan, bukan perbaikan”

“Anak-anak harus bermain”

  • Dengan dihapuskannya muatan lokal pada Kurikulum SD 2013, jam muatan lokal yang biasa diisi dengan pelajaran bahasa Inggris kehilangan kapling. Ini adalah satu kemunduran karena semakin banyak negara di dunia telah memasukkan pelajaran bahasa Inggris sejak SD, seperti Korea Selatan, Jepang, RRC, Arab Saudi, Suriah, Israel, Belanda, Prancis, dan Jerman.
  • Khusus mengenai bahasa asing kedua atau bahasa asing lainnya di SMA, pada Kurikulum 2006 bahasa asing lain selain bahasa Inggris, seperti bahasa Jerman, bahasa Prancis, Bahasa Jepang atau bahasa Mandarin diajarkan selama tiga tahun, dari kelas X s.d. XII. Sayang, dalam Kurikulum 2013 mata pelajaran bahasa asing lainnya itu dihilangkan Hanya diajarkan untuk peminatan bahasa. Ini amat merugikan negeri kita dalam persaingan global di abad ke-21. Di negara lain yang selama ini memenangkan persaingan ekonomi global, bahasa asing kedua, bahkan ketiga diajarkan selama 3 tahun di SMA. Dampak lainnya adalah pemecatan guru-guru bahasa asing lain di SMA. Nanti jika kurikulum berubah, sekolah sulit lagi mencari guru bahasa asing lain.
  • Pada sejumlah mata pelajaran, umumnya materi / kompetensi cenderung“sama” dengan Kurikulum 2006 (KTSP). Pertanyaan yang wajar diajukan adalah mengapa diganti?
  • Dari segi jumlah KD pada KTSP 2006 dalam Kurikulum 2013 terjadi “pembengkakan” jumlah KD. Jumlah KD total menjadi bertambah sebagai akibat digantikannya standar kompetensi dengan 4 kompetensi inti.
  • Kompetensi inti I yang berciri religius, yaitu menerima dan menjalankan ajaran agama yang dianutnya harus tercermin pada beragam KD mata-mata pelajaran membawa konsekuensi yang serius. Misalnya, contoh KD Biologi SMA. Kelas X: 1.1 Mengagumi keteraturan dan kompleksitas ciptaan Tuhan tentang keanekaragaman hayati, ekosistem, dan lingkungan hidup. Kelas XI: 1.1 Mengagumi keteraturan dan kompleksitas ciptaan Tuhan tentang struktur dan fungsi sel, jaringan, organ penyusun sistem dan bioproses yang terjadi pada makhluk hidup. Kelas XII: 1.1 Mengagumi keteraturan dan kompleksitas ciptaan Tuhan tentang struktur dan fungsi DNA, gen dan kromosom dalam pembentukan dan pewarisan sifat serta pengaturan proses pada makhluk hidup. Dalam pembelajaran Biologi misalnya dibahas tentang teori evolusi Charles Darwin yang berkaitan dengan asal usul manusia. Dari mana manusia berasal? Bagaimana proses penciptaan manusia? Nah, di sini bisa timbul persoalan jika guru Biologi membawa interpretasi agama guru yang bersangkutan. Kita tahu bahwa ajaran tentang penciptaan manusia itu berbeda-beda menurut agama Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghucu. Siswa yang tidak kritis dapat mengalami konflik kognitif karena terpengaruh oleh pandangan agama guru yang berbeda agama.
  • Kewirausahaan kurang ditekankan. Hanya eksplisit di SMA dan SMK dengan alokasi waktu 2 jam per minggu. Tidak tergambar dalam tujuan jenjang sekolah, tujuan kurikuler mata pelajaran. Walaupun hanya 2 jam per minggu pendidikan kewirausahaan sebenarnya dapat diintegrasikan dengan mata-mata pelajaran yang relevan. Misalnya, siswa memelihara ikan, ayam, kambing. Atau, siswa menanam sayur mayur atau tanaman penghasil buah. Praktik pendidikan kewirausahaan dapat diambil dari jam pelajaran Biologi dan Kimia sebagai aplikasi proses biologis dan kimiawi, dari jam pelajaran Ekonomi dan Akuntansi sebagai aplikasi konsep kebutuhan dan harga, promosi produk, dan pembukuan, serta jam pelajaran Matematika untuk menghitung selisih modal dan keuntungan. Orientasi ini tidak tampak dalam KD berbagai mata pelajaran.
  • Di SD penggabungan IPA ke terutama Bahasa Indonesia dan IPS ke terutama PPKn di kelas I – III bermasalah karena mengurangi penguasaan kompetensi siswa dalam mata pelajaran IPA dan IPS. Pengintegrasian semua mata pelajaran ke dalam tema-tema dengan menganut pendekatan tematik dari kelas I s.d. VI baik untuk mengurangi pengulangan dan tumpang tindih KD yang tak perlu. Namun, karena pemilihan tema dilakukan Pusat dan tema-tema yang dipilih masih umum serta tema-tema itu dituangkan ke dalam buku pelajaran, adaptasi dengan tema-tema dari lingkungan sekitar siswa menjadi terhambat. Padahal, di berbagai Negara pemilihan tema konkret dilakukan guru kelas atau guru mata pelajaran.
  • Mata pelajaran IPA dan IPS SMP yang terintegrasi menurunkan penguasaan siswa. Padahal, gurunya adalah spesialis mata pelajaran terpisah sesuai dengan jurusan studinya di fakultas keguruan universitas. Seharusnya dibenahi lebih dulu kurikulum di lembaga pendidikan tenaga kependidikan barulah dilakukan perubahan di lapangan.

tz-intro-o

Albert Einstein pernah tidak lulus ujian nasional SMA sehingga ia terpaksa tinggal kelas. Ketika berbaring di sakit ia diberi hadiah sebuah kompas. Dari sini bermula rasa ingin tahu Einstein tentang hukum yang mengatur alam semesta dan akhirnya mengantarnya meraih hadiah nobel Science dan menemukan Teori Relativitas yang menjadikannya sebagai tokoh ilmuwan terhebat selama milineum kedua. Sanggupkah kita menumbuhkembangkan “ilmuwan muda” (young scientist) jika kurikulum IPA kurang mendapatkan prioritas di SD dan SMP?

  • Pendekatan komunikatif pembelajaran bahasa Indonesia dan bahasa Inggris sejak Kurikulum 1994 sampai dengan KTSP 2006 diganti dengan pendekatan teks, padahal pendekatan teks itu adalah satu bagian dari pendekatan komunikatif. Dampaknya adalah penguasaan keterampilan-keterampilan berbahasa akan menurun. Padahal, di berbagai negara yang maju di bidang pendidikan, pendekatan komunikatif tetap dipakai.
  • Keberatan silabus kembali disusun oleh Pusat dalam pengembangan Kurikulum 2013 adalah wajar. Mengapa tugas guru mengembangkan silabus diambil alih oleh Pusat? Padahal, pada Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) 2003 dan KTSP 2006 telah 10 tahun guru dibiasakan. Di berbagai negara yang maju di dunia silabus tidak disusun Pusat tapi diserahkan kepada guru agar disesuaikan dengan kemampuan dan konteks siswa.
  • Instruktur Kurikulum 2013 SMK di DIY, Aragani Mizan Zakaria menyatakan, banyak guru SMK menilai isi materi buku pelajaran Bahasa Indonesia dan Sejarah terlalu sederhana. Guru SMK kelas X untuk 2 mata pelajaran ini menilai isi buku itu tidak sebanding dengan tujuan pembelajaran. Para guru dituntut mendorong siswa SMK membangun pola pikir untuk memecahkan masalah, mengelola kelompok kerja, dan menginisiasi penemuan baru. “Mereka menilai isinya terlalu biasa-biasa saja,” kata Kepala SMKN 2 Depok, Sleman. (http://koran.tempo.co/konten/2013/07/30/317395/Guru-Kritik-Panduan-Kurikulum-2013)

1243328602_school-abuse

Opportunities (Peluang) Kurikulum 2013

  • Kurikulum 2013 melanjutkan penekanan kepada metodologi belajar aktif yang telah dimulai sejak Kurikulum 1984, diteruskan pada Kurikulum 1994, Kurikulum Berbasis Kompetensi 2003, dan KTSP 2006. Kompetensi inti ketiga dan keempat mewadahi penekanan ini yang tercermin pada rumusan KD berbagai mata pelajaran. Kalau pendekatan ini konsisten dilakukan guru dari TK, SD sampai dengan SMA / SMK, para guru sebagai pemegang monopoli informasi dalam paradigma  pembelajaran berpusat kepada guru akan beralih ke peran guru sebagai fasilitator dalam paradigma pembelajaran berpusat kepada siswa. Harapan ini bisa tercapai jika lembaga pendidikan tenaga kependidikan menerapkan metodologi belajar aktif dan para guru dibina secara berkelanjutan melalui inservice training yang menekankan praktik langsung tanpa teori berlebihan.
  • Penetapan IPA dan IPS di SMP diajarkan / dipelajari secara terpadu dalam jangka panjang akan mendorong fakultas keguruan mengubah kurikulumnya agar calon guru IPA dan IPS disiapkan sebagai guru bidang studi, bukan guru spesialis mata pelajaran tersendiri.
  • Pejurusan di SMA dari awal kelas I (kelas X) memungkinkan siswa lebih mendalami mata-mata pelajaran peminatan. Yang masih mengganggu adalah porsi mata-mata pelajaran Kelompok A dan B yang bersifat umum yang masih mencakup 50% waktu. Saran kami adalah kepala sekolah dan guru dapat memodifikasi alokasi waktu yang ditetapkan secara nasional dalam Kurikulum 2013 dan dapat pula mengajarkan dengan sistem blok, misalnya Sejarah diajarkan secara intensif dalam waktu 1 – 2  bulan saja sehingga waktu yang tersisa dapat digunakan untuk memperdalam penguasaan mata pelajaran peminatan.
  • Penekanan kegiatan ekstrakurikuler Pramuka amat efektif untuk mengembangkan karakter siswa asalkan dilaksanakan secara serius dan konsisten.
  • Munculnya kewirausahaan dalam mata pelajaran Prakarya dan Kewirausahaan di SMA dan SMK merupakan langkah awal agar sekolah mulai memperhatikan pendidikan kewirausahaan yang dapat dilakukan dengan melibatkan guru-guru mata pelajaran yang relevan, seperti Biologi, Kimia, Ekonomi dan Akuntansi, dan Matematika serta mata-mata pelajaran yang relevan di SMK.

4a962ca7_771382cf_4a94a84d_58770434_1245515314_200906210131032906222601_01

Threats (Ancaman) Kurikulum 2013

  • Yang terpenting adalah pembenahan sistem pendidikan secara menyeluruh. “Quality is the result of the system”. Mutu adalah hasil dari sistem. (Edward Demings). Kalau sistem pendidikan guru, rekrutmen guru, prioritas alokasi dana bagi daerah dan sekolah yang tertinggal, manajemen kepala sekolah dan dinas pendidikan, format evaluasi dan ujian nasional, inservice training bagi guru tidak dibenahi, perubahan kurikulum hanyalah isapan jempol, akan sia-sia.
  • Peningkatan mutu pendidikan, prestasi belajar siswa tidak hanya bergantung kepada perubahan kurikulum. Yang lebih penting adalah mengubah mindset guru, paradigma dan kebiasaan guru dari guru sebagai pusat menjadi siswa sebagai pusat dalam proses pembelajaran. Harapan ini akan tercapai jika induksi inovasi ditekankan pada lembaga pendidikan tenaga kependidikan dan sistem inservice training guru dan kepala sekolah dilakukan secara kontinu dengan menekankan praktik dan dilanjutkan dengan inhouse training guru dan kepala sekolah di tiap unit sekolah.
  • Kurikulum yang dikendalikan buku teks (textbook-driven curriculum) dalam pelaksanaan yang selama ini dianut sampai dengan pencetakan buku pelajaran pemerintah yang berbarengan dengan pengembangan kurikulum akan membuat guru kurang kreatif, hanya berperan sebagai penyampai isi buku pelajaran. Padahal, implementasi kurikulum yang berhasil didukung oleh pemanfaatan beragam sumber belajar, seperti pengalaman siswa, lingkungan sekitar, produk cetakan, program audiovisual, serta internet. Buku pelajaran hanyalah satu sumber belajar.
  • Format ujian nasional yang masing berkutat kepada bentuk soal pilihan ganda akan mengkerdilkan capaian kurikulum. Karena, guru cenderung memilih jalan termudah dengan menekankan hafalan dan latihan soal kepada siswa. Belajar aktif yang didengungkan Kurikulum 2013 akan ditinggalkan para guru demi mengejar target lulus ujian nasional. Hanya kompetensi pada tingkat kognitif rendah yang ditekankan para guru. Pengembangan kompetensi psikomotor serta sikap dan nilai akan diselepekan para guru.
  • Walaupun guru adalah ujung tombak pendidikan, tanpa kepala sekolah yang baik ujung tombak itu akan tumpul dan tak akan mengenai sasaran. Tanpa pemberdayaan kemampuan kepemimpinan dan manajemen kepala sekolah, inovasi yang dibawa Kurikulum 2013 hanyalah isapan jempol. Tanpa dukungan manajemen berbasis sekolah yang menekankan transparansi, akuntabilitas, sikap demokratis, kerja sama, dan saling percaya, implementasi kurikulum akan berakhir pada capaian pas-pasan (mediocre).

Struktur program kurikulum Berikut ini disajikan perbandingan struktur program kurikulum SD, SMP, SMA, dan SMK menurut KTSP 2006 dan Kurikulum 2013.

Perbandingan struktur program kurikulum SD 2006 dan 2013

Struktur kurikulum SD 2006 dan 20013

Jumlah mata pelajaran berkurang dari 10 menjadi 8 tetapi jumlah jam pelajaran per minggu bertambah 4, 5, dan 6 jam. Pendekatan tematik yang sebelumnya hanya di kelas I, II, dan III kini diteruskan di kelas IV, V, dan VI. Yang mengkhawatirkan kemampuan berkompetisi di dunia glogal adalah dimasukkannya Ilmu Pengetahuan Alam terutama ke Bahasa Indonesia dan Ilmu Pengetahuan Sosial terutama ke Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan di kelas I – III SD. Tak ada negara di dunia yang mengambil kebijakan konyol seperti ini.

conquest-of-space2-1954-o

Perbandingan struktur program kurikulum SMP 2006 dan 2013

Struktur kurikulum SMP 2006 dan 2013

Jumlah mata pelajaran berkurang dari 12 menjadi 10 tetapi jumlah jam pelajaran per minggu bertambah 6 jam.

Struktur program kurikulum SMA menurut KTSP 2006

Mata pelajaran SMA Kelas 1 KTSP 2006

Jumlah mata pelajaran 18 dan jumlah jam pelajaran per minggu 38.

Mata pelajaran SMA Jurusan IPA Kelas XI dan XII

Mata pelajaran SMA Jurusan IPS Kelas XI dan XII

Mata pelajaran SMA Jurusan Bahasa Kelas XI dan XII

Mata pelajaran SMA Jurusan Keagamaan Kelas XI dan XII

Khusus mengenai bahasa asing, Kurikulum 2006 mewajibkan siswa SMA mempelajari bahasa asing kedua di samping bahasa Inggris. Mata pelajaran bahasa asing kedua ini hilang dalam Kurikulum 2013. Apakah ini adalah dampak kerja terburu-buru menyusun Kurikulum 2013?

science-o 5

Struktur program kurikulum sekolah menengah Kurikulum 2013

Mata pelajaran pendidikan menengah

7621300-looking-at-difficult-complex-mathematics-equation-on-balckboard

Struktur program Kurikulum 2013 SMA

Struktur program Kurikulum SMA 2013

Struktur program peminatan Kurikulum SMA 2013

Di SMA jumlah mata pelajaran dikurangi dari  18 menjadi 16 dan 15 mata pelajaran tapi jumlah jam per minggu ditambah dari 38 menjadi 42 jam di kelas II dan III (ditambah 4 jam). Kalau tambahan 4 jam ini dikonversi dengan patokan 1 mata pelajaran 2 jam per minggu, jadinya jumlah mata pelajaran dalam pelaksanaan konkret di lapangan ditambah 2 mata pelajaran sehingga menjadi 18 dan 17 mata pelajaran. Jadinya di SMA sebenarnya jumlah mata pelajaran hampir sama dari sudut pandang waktu dalam Kurikulum 2013.

Struktur program Kurikulum 2013 SMK 3 tahun

Mata pelajaran umum SMK 3 tahun Kurikulum 2013

Struktur program Kurikulum 2013 SMK 4 tahun

Mata pelajaran umum SMK 4 tahun Kurikulum 2013

Di SMK jumlah jam pelajaran per minggu bertambah dari 42 atau 44 menjadi 48 jam per minggu (ditambah 6 atau 4 jam). Kalau dikonversi jadinya bertambah 3 atau 2 mata pelajaran. Proporsi waktu untuk mata pelajaran umum (Kelompok A dan B) 24 jam dan untuk kelompok C peminatan 24 jam. Perbandingannya 50% : 50%.

Struktur program Kurikulum 2013 SMK bidang keahlian teknologi dan rekayasa

Mata pelajaran bidang keahlian teknologi dan rekayasa

Struktur program Kurikulum 2013 SMK bidang keahlian teknologi dan informasi

 Mata pelajaran bidang keahlian teknologi dan informasi

Struktur program SMK Kurikulum 2013 bidang keahlian kesehatan

Mata pelajaran bidang keahlian kesehatan

weird-science-o 4 Kesehatan

Struktur program SMK Kurikulum 2013 bidang keahlian agribisnis dan agriteknologi

Mata pelajaran bidang keahlian agribisnis dan agriteknologi

296

Struktur program SMK Kurikulum 2013 bidang keahlian perikanan dan kelautan

 Mata pelajaran bidang keahlian perikanan dan kelautan

Struktur program SMK Kurikulum 2013 bidang keahlian bisnis dan manajemen

Mata pelajaran bidang keahlian bisnis dan manajemen

education-connection-o 2

Struktur program SMK Kurikulum 2013 bidang keahlian pariwisata

 Mata pelajaran bidang keahlian pariwisata

Struktur program SMK Kurikulum 2013 bidang keahlian seni rupa dan kriya

Mata pelajaran bidang keahlian seni rupa dan kriya

high-school-musical-3-1-o

Struktur program SMK Kurikulum 2013 bidang keahlian seni pertunjukan

 Mata pelajaran bidang kealian seni pertunjukan

  Apa solusi kita?

Rincian berikut ini bukanlah peluang Kurikulum 2013. Walaupun kurang ditekankan atau dilalaikan dalam dokumen Kurikulum 2013, sekolah dapat menciptakan sendiri peluang sesuai dengan tuntutan zaman. Ini adalah contoh berpikir di luar kotak (thinking outside the box).

  • Orientasi kepada berpikir kritis dan memecahkan masalah, komunikasi dan kolaborasi, rasa ingin tahu dan imajinasi, kreativitas dan inovasi, inisiatif dan kewirausahaan, serta pengembangan karakter melalui proses peneladanan dan proses pembiasaan.
  • Peralihan dari time-based education kepada penekanan metodologi belajar aktif. Alokasi waktu dalam struktur program Kurikulum 2013 dapat dimofikasi kepala sekolah dan guru guna memenuhi kebutuhan dan kepentingan belajar siswa. Caranya dengan mengurangi jam pelajaran mata pelajaran tertentu dan menambah jam pelajaran lain dan juga memunculkan mata pelajaran yang dinilai amat penting yang tidak ada dalam Kurikulum 2013.
  • Dari orientasi ilmu kepada kecakapan hidup (life skills).
  • Dari pencari kerja ke pencipta kerja melalui integrasi pendidikan kewirausahaan dalam kurikulum yang berlaku.
  • Dari mendidik anak menjadi konsumen ke arah menjadi produsen.
  • Dari pengajaran berbasis buku teks ke beragam sumber belajar, termasuk teknologi informasi dan komunikasi.
  • Dari penekanan potensi otak kiri ke penekanan potensi otak kanan melalui pengembangan kreativitas sebagai hasil sinergi otak kiri dan kanan.
  • Penerapan hasil penelitian otak ke arah belajar berbasis otak (brain-based learning).
  • Grup perusahaan besar pun diharapkan ikut terlibat merancang kurikulum Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). “Misalnya kita kontak Astra. Kita nggak mau SMK kita belajar sesuatu yang tidak dipakai pabrik otomotif di sini. Lebih baik kontak dengan mereka kamu pengen kurikulum seperti apa,” jelas Ahok di Balai Kota DKI, Selasa (20/8/2013).
  • Ahok: Bagian Pemprov DKI menyediakan sekolah dan guru. Kurikulumnya diserahkan kepada grup perusahaan otomotif, disesuaikan dengan kebutuhannya. “Daihatsu, Toyota, mobil Eropa seperti apa. Kelas ini urusan Toyota misalnya. Kita adakan kurikulum SMK,” lanjutnya.
  • Kurikulum yang ada masih terlalu umum. Perusahaan masih harus mengadakan pelatihan kepada pekerja barunya.
  • http://news.detik.com/read/2013/08/20/092739/2334759/10/ahok-ingin-gandeng-perusahaan-besar-untuk-rancang-kurikulum-smk
  • Penerapan konsep link & match bisa lebih ditingkatkan dalam penerapan kurikulum SMK.

Berantam

Pendidikan karakter & perkembangan otak Pada Kurikulum 2013 tampak penekanan berlebihan kepada proses pembelajaran sebagai wahana pendidikan karakter. Kurang ditekankan pendidikan karakter melalui proses peneladanan dan proses pembiasaan kepada siswa. Padahal, menurut hasil riset otak terbaru, perkembangan otak anak itu dimulai dari belakang, dari cerebellum untuk koordinasi fisik, lalu ke tengah, yaitu nucleus accumbens untuk memunculkan motivasi dan kemudian amygdala sebagai pusat emosi, dan terakhir prefrontal cortex yang berperan melakukan penilaian dan keputusan benar-salah dan baik-buruk.

 perkembangan otak mulai dari belakang

Otak dan bagiannya

Perkemangan otak judgment terakhir

Perkemangan otak 24 tahun seimbang

Seorang muslim ketika dewasa rajin melakukan sholat dan taat berpuasa pada bulan puasa. Mengapa ia mampu melakukan perbuatan baik itu? Karena, sejak kanak-kanak ia telah dibiasakan melakukan sholat dan belajar berpuasa. Proses pembiasaan ini didukung oleh teladan orang tua. Dari kebiasaan barulah secara bertahap muncul motivasi dan perasaan senang melakukan kebiasaan ini. Hal ini berlaku untuk kebiasaan beribadah pada semua agama.

Perubahan perilaku mulai dari kaki sesuai otak

Apakah anak TK, siswa SD dan SMP telah menyadari kebaikan perbuatan ini? Menurut hasil penelitian otak, pada umumnya orang mampu menilai dan mengambil keputusan berdasarkan pertimbangan benar-salah dan baik-buruk secara sadar baru pada usia 24 tahun. Ini berarti setelah menjadi sarjana dan mulai bekerja. Karena itu, pendidikan karakter melalui proses pembelajaran bisa terpeleset ke kebiasaan guru memberi nasihat berulang kali kepada siswa agar melakukan perbuatan baik, kebiasaan baik yang dituntut pendidikan karakter. Yang lebih penting adalah siswa dibiasakan melakukan perbuatan dan kebiasaan yang mencerminkan nilai-nilai karakter yang baik. Pembiasaan ini akan berhasil jika didukung teladan dari guru, kepala sekolah, dan orang tua. Dalam dokumen Kurikulum 2013 banyak sekali nilai-nilai pendidikan karakter yang diharapkan ditumbuhkembangkan dalam diri siswa. Kompetensi inti – diambil contoh kompetensi inti 1 dan 2 SMP – tampak penekanan kepada pendidikan karakter. 1. Menghargai dan menghayati ajaran agama yang dianutnya. 2. Menghargai dan menghayati perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli (toleransi, gotong royong), santun, percaya diri, dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam dalam jangkauan pergaulan dan keberadaannya. Kompetensi religius (kompetensi inti pertama) mengandung banyak sekali nilai-nilai religius pada tiap agama. Kompetensi sosial (kompetensi inti kedua) menekankan nilai kejujuran, kedisiplinan, tanggung jawab, peduli (toleransi, gotong royong), santun, dan percaya diri. Hal ini dapat menyulitkan guru karena dalam pikirannya berseliweran sekian banyak nilai dan bisa bingung mau menerapkan nilai yang mana. Guna memudahkan guru, kami melakukan simulasi dengan para guru dengan latar belakang agama yang berbeda. Kami gunakan 12 nilai kehidupan (living values) yang digunakan di banyak negara di dunia. Dengan guru-guru yang beragama yang sama, dilakukan curah pendapat nilai mana yang merupakan sebab dan nilai mana yang merupakan akibat. Ditarik garis panah dari nilai penyebab ke nilai akibat.

Hubungan sebab akibat antar nilai kehidupan

Cinta inti nilai kehidupan

Hasil simulasi dengan kelompok guru beragama Islam, kelompok guru beragama Kristen, kelompok guru beragama Katolik, kelompok guru beragama Buddha, kelompok guru beragama Hindu, dan kelompok guru beragama Konghucu ternyata sama. Nilai cinta terpilih sebagai nilai hakiki yang menjadi penyebab, pendorong berkembangnya 11 nilai kehidupan yang lain. Ini berarti guru tak perlu bingung dengan sekian banyak nilai yang dituntut. Asalkan guru dan sekolah terfokus kepada tumbuh-kembang nilai cinta sebagai nilai hakiki, proses tumbuh kembang nilai-nilai karakter yang lain akan lebih mudah dan akan tertanam lebih kuat dalam diri siswa. Pendidikan lintas budaya Karena Kurikulum 2013 tidak berorientasi kepada pendidikan lintas budaya atau multikultural, kepala sekolah dan guru dapat mengintegrasikan kompetensi-kompetensi dasar pada mata-mata pelajaran yang relevan dengan menggunakan pendekatan pendidikan lintas budaya. Tiap siswa tidak hanya belajar mengenal identitas dirinya seperti agama dan budayanya tetapi juga mengenal identitas temannya yang berbeda agama dan budaya dengannya. Selanjutnya, pengenalan ini ditingkatkan melalui proses peneladanan dan proses pembiasaan menghargai agama dan budaya orang lain melalui tindakan dan praktik konkret di sekolah. Saling mengenal dan menghargai orang yang berbeda agama dan budaya dapat tercapai jika siswa memahami dan menyadari bahwa toleransi, persatuan, dan perdamaian tak mungkin dicapai tanpa keadilan dan kasih sayang. Keadilan adalah memberi hak kepada orang yang berhak sedangkan kasih sayang adalah memberi apa yang bukan menjadi hak orang lain.

Apa kata Panda

kucing hitam putih asia

Membenci dan menghina agama lain, apalagi melakukan kekerasan terhadap penganut agama lain itu absurd.  Saya ini juga putih, hitam, dan Asia. Tiap orang mengasihi saya. Wahai manusia, hentikan saling membenci dan mulailah saling mencintai.

anjing dan kucing 5

Kami, kucing dan anjing sering mendengar hardikan antar-manusia, “Eh, kamu kayak kucing dan anjing!” Kamu, manusia berpikir bahwa dari kodratnya kami ini bermusuhan. Siapa bilang? Kami, kaum binatang bisa saling menyayangi melalui peneladanan dan pembiasaan. Wahai manusia, belajarlah dari kami!

kucing dan anjing 4

“Kami bisa saling menolong. Belajarlah gotong royong dan Bhinneka Tunggal Ika dari kami!”

Belajar aktif Belajar aktif sebagai metodologi mengajar ditekankan sejak Kurikulum 1984. Tetapi, sampai sekarang metodologi ini belum tertanam sebagai kebiasaan di dunia persekolahan Indonesia. Kurikulum 2013 kembali menekankan proses pembelajaran aktif. Guru pun tidak bisa melaksanakan belajar aktif jika tidak ditatar dengan metodologi belajar aktif. Demikian pula, harapan belajar aktif menjadi kebiasan hanyalah khayalan belaka jika lembaga pendidikan guru tidak menerapkan belajar aktif dalam proses perkuliahan.

Belajar efektif = mengalami

Dari pengalaman kami mengembangkan sekolah model dan menatar para guru di berbagai daerah, belajar aktif mengandung unsur-unsur seperti terlihat pada gambar berikut ini.

Unsur belajar aktif

Belajar aktif yang berciri learning is fun tidak mengorbankan kedalaman penguasaan materi dan kompetensi siswa. Bahkan, belajar aktif mendorong penguasaan siswa yang mendalam, mendorong pencapakain hasil belajar yang bermutu.

 Hasil belajar bermutu

Hasil belajar bermutu 3

Hasil belajar bermutu 2

 

Agar menjadi kebiasaan belajar aktif tak mungkin dilaksanakan guru hanya melalui satu-dua kali penataran. Harus dilakukan penataran berkala secara berkelanjutan. Penataran pun tidak boleh satu arah yang diisi ceramah sambil menayangkan slides powerpoint dan dilanjutkan dengan diskusi dan tugas membuat rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP). Penataran harus diisi dengan porsi kegiatan praktik lebih banyak, termasuk praktik mengajar dengan siswa. Berikut ini dikemukan gambar dari pelatihan belajar aktif bagi guru SD dan praktik belajar aktif siswa di Flores.

 Guru Flores mengubah diri

Belajar di luar kelas

Belajar matematika dengan gerakan 2

Belajar di alam 2

Melayang terapung tenggelam

School assembly anak Flores

Belajar aktif disesuaikan dengan konteks daerah, sekolah, dan siswa. Berikut ini dikemukakan foto contoh praktik belajar aktif siswa di sekolah di wilayah perkotaan, dalam hal ini TK, SD, SMP, dan SMA Kristoforus di Grogol, Jakarta Barat dan di Palem, Cengkareng. Belajar aktif bisa diterapkan persekolahan ini karena yayasan melihat tantangan agar sekolah bertahan adalah melalui peningkatan mutu. Yayasan mengalokasikan dana untuk pelatihan guru. Bersama pembina yayasan kami membantu mendampingi inovasi metodologi belajar guru dan mendorong kepala sekolah agar mendukung proses inovasi.

Belajar aktif TK Kristoforus Grogol

Anak-anak TK senang belajar sambil bermain

Belajar aktif TK Kristoforus Grogol 2

Belajar yang manjur bagi anak TK adalah melalui melakukan, memanipulasi benda, bermain dengan beragam benda alamiah dan buatan pabrik

Belajar aktif TK Kristoforus Palem Cengkareng

Bernyanyi sambil bergerak berirama

Belajar aktif TK Kristoforus Palem Cengkareng 2

Belajar aktif TK dan SD Kristoforus Grogol School Assembly

School assembly TK dan SD Kristoforus

Belajar aktif TK dan SD Kristoforus Grogol School Assembly 2

School assembly TK dan SD Kristoforus. School assembly sebagai wahana pengembangan karakter siswa yang umum dilakukan di negara-negara Barat kami introduksi di sekolah-sekolah yang kami bina, seperti di Tapanuli Utara, Jakarta, Yogyakarta, NTT, Maluku, Maluku Utara sampai di Merauke, Papua.

Belajar aktif IPS SD Kristoforus Grogol

Anak SD membuat peta timbul dengan koran dan kanji

Belajar aktif SD Kristoforus Grogol

Anak SD belajar tentang daun dalam kelompok

Belajar aktif SMP Kristoforus Grogol 2

Belajar aktif siswa SMP

Belajar aktif SMP Kristoforus Grogol

Belajar aktif siswa SMP

Belajar aktif SMA Kristoforus Grogol

Belajar aktif Kimia siswa SMA

Belajar aktif SMA Kristoforus Grogol 2

Belajar aktif SMA Kristoforus Grogol 3

Observasi membandingkan ciri-ciri tumbuhan monokotil dan dikotil

Creativity and success

Guna memudahkan guru dalam melaksanakan belajar aktif, guru hendaknya menyadari bahwa hakikat dan inti belajar aktif itu adalah kreativitas. Jika kita ingin menyiapkan anak-anak kita menghadapi tantangan globalisasi abad ke-21, satu jalan yang paling manjur adalah berorientasi dan menekankan kreativitas dalam seluruh aktivitas sekolah.

Kreativitas berbagai bidang

Kreativitas sebagai pensinergi otak kiri dan kanan akan berhasil jika sekolah menekankan hal-hal seperti tertulis pada gambar ini.

Kecerdasan majemuk dan kreativitas

Kreativitas adalah pensinergi potensi otak kiri dan otak kanan siswa yang tercermin pada multi-kecerdasan menurut Howard Gardner, yaitu kecerdasan bahasa (word smart), kecerdasan  logika-matematika (logic smart), kecerdasan visual-spasial (picture smart), kecerdasan kinestetik (body smart), kecerdasan musikal (music smart), kecerdasan natural (nature smart), kecerdasan antarpribadi (people smart), dan kecerdasan intrapribadi (self smart). Dalam pembelajaran dan seluruh aktivitas sekolah, guru hendaknya menerapkan pengembangan tidak hanya kecerdasan intelektual tapi semua jenis kecerdasan dalam konsepsi multi-kecerdasan.

tototo-o

Tanpa imajinasi, kreativitas siswa tidak berkembang. Sejauh mana guru-guru kita mendorong daya imajinasi siswa?

Pendidikan kewirausahaan Satu langkah maju dalam Kurikulum 2013 adalah munculnya mata pelajaran Prakarya dan Kewirausahaan di SMP, SMA, dan SMK. Sayang tidak muncul secara eksplisit di SD. Sejak beberapa tahun lalu, kami masukkan gagasan unit produksi yang biasa dilakukan d SMK pada sekolah umum, mulai dari TK, SD, SMP sampai dengan SMA. Unit produksi merupakan wadah praktik wirausaha siswa, bukan hanya melalui mata pelajaran keterampilan, prakarya, atau kewirausahaan saja. Tetapi juga, diterapkan dalam kaitan dengan mata-mata pelajaran yang relevan dan dalam kerja sama dengan guru mata pelajaran seperti IPA, Biologi, Kimia, Fisika, IPS, Ekonomi dan Akuntansi, Kesenian dan dalam beragam kegiatan ekstrakurikuler yang relevan. Berikut ini dikemukakan gambar dari pelatihan unit produksi bagi guru-guru di Flores dan di Yogya.

Guru Flores membuat telur

Guru Flores membuar pocari sweat

Guru Flores membuat kripik

Guru Flores membuar abon ikan

Guru Flores membuar jagung titi emping

Guru Flores membuat ikan asin

Guru SD Mangunan membuat pupuk organik

Guru SD Mangunan membuat pupuk kompos

Guru SD Mangunan membuat menanam dalam polibag

Menanam di pot hidroponik

Wirausaha menanam pohon uang

Bacalah posting terkait:

https://sbelen.wordpress.com/2014/12/08/kelemahan-struktural-kurikulum-2013-kritik-kami-di-tweeter-facebook/

.

Advertorial

Dodgeball-tricking-headshot

Tifus

Kunjungilah posting ini:

https://sbelen.wordpress.com/2013/05/03/bawang-putih-cuka-apel-madu-jahe-lemon-jantung-sehat-tubuh-bugar/

gambar-spanduk-sano

Sano sembuhkan tifus

Kartu nama Yuni 3.

Khasiat FIDES & HP pemesanan

Kunjungilah:

https://sbelen.wordpress.com/2015/06/11/habbatussauda-jintan-hitam-bawang-putih-jahe-lemon-madu-diabetes-stroke-penyakit-komplikasi-sembuh-tubuh-sehat/

Tag: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

14 Tanggapan to “Analisis SWOT Kurikulum 2013 Semua Jenjang & Solusi Kita”

  1. steven m sukarto Says:

    Excellent pak S Belen

    • S Belen Says:

      Terima kasih, Pak Steven.

      Yang penting bukan kertas dokumen kurikulum. Yang lebih penting adalah menjadikan tulisan pada kertas itu menjadi aksi dan praksis nyata di lapangan. Itu bukan pekerjaan mudah. Perjalanan peningkatan mutu pendidikan Indonesia yang terpuruk masih panjang. Tapi, kita harus tetap optimis dan melakukan apa yang bisa kita lakukan sejauh kapasitas dan peluang yang muncul.

  2. B. Djoko Dwihatmono Says:

    Luar biasa dan murah hati, Pak Belen! Semoga bersedia menulis versi/edisi majalah EDUCARE Terimakasih.

    • S Belen Says:

      Matur nuwun, Pak Djoko. Kalau boleh saran bagi pembaca Educare untuk lirik posting ini dan berdiskusi untuk mensiasati pelaksanaan kurikulum di sekolah. Monggo kontak kami untuk menulis bagi Educare. Be positive and optimistic!

  3. S Belen Says:

    Perkenankan membaca tanggapan Ibu Solita Sarwono dari Belanda yang dikirim via email. Terima kasih.

    Bang Belen,

    Terima kasih atas kiriman analisis SWOT Kurikulum 2013, yang dihiasi dengan berbagai ilustrasi menarik dan dilengkapi dengan contoh ‘best practice’ di Flores. Kelihatannya analisisnya komprehensif sekali dan praktis. Seharusnya posting ini ini disampaikan kepada Menteri Dikbud, dan pejabat-pejabat tingginya, di samping para guru/kepala sekolah, untuk dijadikan masukan dan bahan pertimbangan.

    Saya ingin berbagi tentang apa yang kini terjadi di Belanda.
    Di Indonesia sudah beberapa tahun lamanya sekolah-sekolah berlomba-lomba membuka program pendidikan bilingual (bahasa Indonesia dan Inggris), terutama di Jakarta. Padahal SDM (guru-gurunya) dan materinya tidak siap untuk itu. Kalau tidak salah program sekolah internasional ini sudah dihapuskan, ya? Atau masih berjalan?

    Di Belanda sejak 2 minggu yang lalu, Kemendikbud mengeluarkan pernyataan akan melakukan pilot project untuk sekolah bilingual, mengingat makin meningkatnya tuntutan kemampuan berkomunikasi dalam bahasa Inggris. Untuk pilot procet ini dipilih 12 SD (dari 7000-an SD dengan 1,5 juta murid) yang dianggap mampu melaksanakan progam pengajaran dengan dua bahasa ini. Jumlah murid SD di sekolah maksimal 20-25/kelas, sehingga jumlah murid dari kelas 1 s/d 8 (umur 4 -12 tahun) rata-rata 250 murid se-SD. Murid-murid sekolah lanjutan jumlahnya lebih banyak per kelasnya (ada sekitar 700 SLP/SLA). Jumlah universitas 13 buah. Usia wajib belajar s.d. 16 tahun.

    Sebagai indikator sukses/gagalnya pilot project ini dipakai ukuran nilai bukan hanya nilai bahasa Inggris saja, tetapi juga nilai-nilai mata pelajaran lain seperti berhitung, bilogi, ilmu bumi dan bahasa Belanda, tidak boleh menurun, atau kurang dari sekolah-sekolah yang biasa. Jadi diperlukan guru-guru yang betul-betul bisa berbahasa Inggris dengan baik. Sebetulnya kebanyakan orang Belanda dapat berbahasa Inggris dengan lumayan bagus. Tetapi guru-guru di SD itu juga diseleksi penggunaan tata bahasa dan sebutannya (pronunciation). Jadi seleksinya ketat sekali. Sekarang telah ditemukan 12 sekolah percobaan itu. Sedang disediakan materi pengajarannya dalam bahasa Inggris, supaya bulan September nanti bisa dimulai program bilingual itu.

    Belanda memang berhati-hati dengan program pendidikannya. Jumlah anak menurun (karena banyak orang segan menambah kepadatan penduduk, dengan makin berkurangnya sumber alam dan tekanan/resesi ekonomi dunia). Banyak SD yang ditutup atau digabung. Jumlah universitas hanya 13, karena anak muda banyak yang memilih vocational schools atau sekolah tinggi yang mengajarkan keahlian/keterampilan siap-pakai –> lebih mudah dapat pekerjaan. Meski Belanda hanya punya 13 universitas, 4 buah di antaranya masuk 100 besar ranking universitas sedunia.

    Kita lebih maju dari Belanda, ya, sebab sudah lebih duluan memakai program bilingual…. hehehehe

    Salam, Lita

    • S Belen Says:

      Belanda, oh Belanda. Pernah orang Belanda bilang 75 % orang Belanda bisa berbahasa Inggris. Waktu saya di SMP dan SMA yang mengajar bahasa Inggris juga orang Belanda. Ada juga guru orang Amerika tapi yang lebih bagus justru orang Belanda. Kalau Belanda saja menekankan pembelajaran bilingual apalagi di Indonesia tampaknya amat penting dilakukan. Sayang sekolah internasional di sekolah negeri di tanah air telah dihapuskan karena perintah MK. Kita berlangkah mundur lagi. Padahal waktu masih aktif di birokrasi, kami yang sering ngotot soal menerapkan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar di sekolah guna mempersiakan generasi muda bersaing di dunia global. Tapi, untunglah sekolah nasional plus dan internasional swasta masih jalan terus dengan menerapkan Kurikulum Cambridge dan IB. Nanti satu waktu kebijakan ini akan ditetapkan lagi kalau sudah ada bukti nyata dari sekolah swasta. Sayang, kebijakan pendidikan suka bolak balik dan coba-coba. Ujian nasional – ujian sekolah – ujian nasional – ujian sekolah adalah contoh kebijakan maju mundur.

      Daripada mengumpat kegelapan, lebih baik menyalakan lilin.

      Selamat menyalakan lilin

  4. S Belen Says:

    Perkenanan membaca tanggapan Pak Fidelis Waruwu yang dikirim via email. Terima kasih.

    Waktu saya kursus Bahasa Jerman, salah satu analisis bacaan yang diberikan adalah sistem aturan sosial penataan kota-kota di Jerman. Bacaan yang menjadi latihan kami untuk menganalisis kalimat, menggunakan bacaan tentang aturan tata kota dan izin mendirikan bangunan. Dari analisis bacaan itu, saya baru memahami mengapa perlu ada izin mendirikan usaha. Oleh karena pemerintah kota yang memiliki data mengenai jumlah penduduk di satu tempat, maka pemerintah kotalah yang tahu menghitung bahwa sebuah kios (tempat jual koran) hanya boleh ada di satu wilayah tertentu, karena kalau diizinkan dua kios, otomatis tidak akan saling mematikan. Jadi izin usaha mesti diberi oleh pemerintah kota. Jadi sebenarnya, banyak dari pelajaran-pelajaran sosial dapat dijadikan bahan bacaan untuk analisis bahasa. Hal itu yang saya pikirkan untuk menyikapi bagaimana memasukkan pendidikan multikultural dalam dunia kurikulum sekolah kita.

    Menurut saya, kelemahan Kurikulum 2013 dapat kita sikapi ketika kita melaksanakannya di lapangan. Hanya guru-guru kita, terutama kepala sekolah perlu memahami dengan baik apa yang Pak Belen ulas dalam situs web tersebut. Saya sudah membacanya dan menurut saya menjadi sebuah bahan diskusi yang sangat menarik. Mungkin perlu dijadikan bahan diskusi para guru terutama kepala-kepala sekolah.

    Salamku,
    Fidelis

    • S Belen Says:

      Terima kasih, Pak Fidelis yang telah menekankan pentingnya pendidikan multikultural yang kurang ditekankan Kurkulum 2013. Contoh konkret pendidikan multikultural yang dapat diintegrasikan dalam pelajaran bahasa asing amat konkret dan menarik. Bahasa adalah jendela dunia, jendela untuk mengenal bangsa-bangsa lain. Banyak hal yang dapat dipelajari melalui pelajaran bahasa asing.

  5. S Belen Says:

    Perkenankan membaca tanggapan Ibu Febri Sidjaja dalam milis Psikologi Indonesia:

    Terima kasih atas link-nya, Pak Belen. Sangat menarik dan memperkaya wawasan.

    Hal yang ingin saya tanyakan, dari tahun 1947, sejak kurikulum pertama diterapkan, apakah ada riset-riset bidang pendidikan yang mungkin melihat atau membandingkan seberapa jauh kurikulum yang ada efektif diterapkan pada anak didik?

    Kalau ada link atau jurnal mengenai riset-riset tersebut, saya mohon di-share….Terima kasih sebelumnya.

    Kind Regards

    • S Belen Says:

      Dear Bu Febri,

      Pernyataan bahwa Kurikulum 1947 itu yang terbaik adalah kesimpulan kami setelah menyelesaikan buku sejarah kurikulum di Indonesia untuk berbagai jenjang sekolah. Saya kebagian menulis sejarah kurikulum SD.

      Riset tentang efektivitas kurikulum dilakukan oleh Pusat Penelitian Balitbang Kemdikbud. Bisa mampir ke Senayan dan meminta laporan penelitian pusat penelitian ini. Pusat Kurikulum juga melakukan evaluasi pelaksanaan kurikulum demi kurikulum yang diberlakukan sebelum dimulai pengembangan kurikulum baru. Tapi, sayang untuk KTSP 2006 tidak ada evaluasi implementasi secara khusus.

      Ada juga laporan hasil riset efektivitas kurikulum, khususnya inovasi yang dilakukan Unicef, Save the Children, World Vision Indonesia, dan NGO lain, terutama di wilayah yang mereka bantu. Biasanya kami peroleh secara kebetulan waktu membantu mereka. Di internet dapat kita download hasil riset tentang pendidikan Indonesia dari berbagai aspek yang dilakukan Bank Dunia. FKIP Universitas juga melakukan riset oleh para dosen tapi umumnya skala dan scope-nya lebih kecil karena dana yang terbatas.

      Riset yang serius dan berkesinambungan, apalagi longitudinal di bidang pendidikan di tanah air tampaknya masih jauh tertinggal. Menteri ganti menteri dan pola yang selalu terulang adalah pengambilan kebijakan pendidikan kurang menggunakan hasil-hasil riset yang telah dilakukan. Orang Indonesia itu senang rapat sehingga keputusan penting bidang pendidikan yang menyangkut masa depan anak bangsa sering dilakukan melalui rapat. Kalau begini ya tergantung siapa yang menghadiri rapat yang bisa meyakinkan menteri. Sering juga terlihat para pembantu menteri cenderung ewuh pakewuh, hanya manut menteri saja, padahal mungkin ide menteri itu baru muncul waktu mimpi tadi malam.

      Untuk membenahi pendidikan Indonesia, perlu kebijakan dan inovasi yang berkesinambungan seperti di Malaysia dan Singapura. Sekarang kedua negara ini memetik hasilnya setelah perjuangan 30 tahun.

      Terima kasih dan salam

  6. S Belen Says:

    Perkenankan membaca tanggapan lanjutan Ibu Solita Sarwono dari Belanda:

    Bang Belen,

    Memang banyak orang Belanda yang bisa berbahasa Inggris. Pelayan toko/supermarket, supir bus kota, kondektur kereta api, polisi, apalagi karyawan bank bisa berkomunikasi cukup baik dalam bahasa Inggris, sehingga orang yang tidak bisa berbahasa Belanda tidak usah bingung kalau mau tanya alamat atau butuh informasi tertentu.

    Tetapi, untuk mengajar anak-anak SD belajar berbagai mata pelajaran dalam bahasa Inggris, pemerintah Belanda merasa harus berhati-hati memilih sekolah, terutama dari segi kompetensi berbahasa Inggris guru-gurunya. Jangan sampai nantinya bahasa Inggris itu justru menurunkan prestasi anak-anak dalam berbagai mata pelajaran, dan juga jangan sampai menurunkan mutu bahasa Belanda mereka sendiri.

    Di Indonesia kalau ada upaya meningkatkan / menyempurnakan kemampuan berbahasa Inggris, tampaknya malah menyepelekan bahasa Indonesia. Lihat saja mutu bahasa Indonesia kita. Makin lama makin kacau. Bukan saja yang digunakan oleh generasi muda, tetapi generasi tua pun cenderung berbahasa Indonesia seenaknya saja. Padahal, kalau berbahasa Inggris (menulis / berbicara), kita cenderung berupaya sebaik mungkin. Itu yang tidak diinginkan oleh pemerintah Belanda. Bahasa ibu harus dipertahankan dengan baik.

    Sejumlah sekolah di Indonesia mengajarkan bahasa Inggris sejak SD, dan membuat sekolah nasional plus dan sekolah internasional dengan dua bahasa. Tetapi, apakah guru-gurunya kompeten mengajar bahasa Inggris dengan baik? Kelihatannya belum. Banyak yang memaksakan program bahasa Inggris ini. Itu saya lihat di beberapa sekolah di Jakarta dan kota lain.

    Jadi, bang Belen, jika pemerintah Indonesia ingin mengajarkan bahasa Inggris kepada generasi muda sejak dini, seharusnya dimulai dengan memberikan dana dan kesempatan untuk memperbaiki mutu / kemampuan bahasa Inggris para gurunya dulu. Jangan lekas-lekas mau membanggakan diri telah memiliki sekolah internasional sekian puluh, padahal mutunya tidak baik. Kita harus tiru Singapura dan Malaysia yang menekuni dan memperbaiki sistem pendidikan mereka sehingga makin lama makin maju.

    Betul sekali, kita perlu trobosan yang sifatnya nasional. berdasarkan pengalaman dari pelaksanaan pendidikan di beberapa daerah. Rapat-rapat saja tidak cukup. Buang waktu dan dana. Take action, do something real.

    Salam, Lita

    • S Belen Says:

      Mbak Lita,

      Terima kasih atas tanggapan mbak. Benar, kelemahan sekolah internasional di sekolah negeri (SBI) di tanah air itu adalah kurang persiapan kemampuan bahasa Inggris guru-gurunya. Di Sorong, Manado, kota-kota di Jawa dalam kunjungan ke SBI ternyata bahasa Inggris guru-gurunya belum bunyi. Sudah ikut kursus tapi kursusnya kurang bermutu sehingga bahasa Inggris siswanya belum berbunyi. Itu “kata” yang digunakan kepala SMA negeri di Sorong.

      Kalau sekolah internasional dan nasional plus swasta relatif lebih bagus. Ada yang merekrut native speakers. Dan, keuntungan mereka adalah menerapkan Kurikulum Cambridge dan IB yang dipadukan dengan kurikulum nasional dan harus mengikuti persyaratan yang ditentukan. Ada juga bantuan training bagi guru-guru secara berkala. Bayaran bagi pengelola Kurikulum Cambridge dan IB itu juga mahal. Sekarang sekolah internasional dari negeri-negeri Barat sudah masuk ke Indonesia dan ini jadi contoh betapa lama-kelamaan kita akan kehilangan “kedaulatan” di bidang pendidikan. Kepada kepala sekolah dan guru-guru negeri yang dulu berstatus SBI kami sarankan agar integrasi dengan Kurikulum Cambridge dan IB tetap dilakukan walaupun diajarkan pakai bahasa pengantar bahasa Indonesia karena kedua kurikulum internasional itu menekankan kreativitas, berpikir kiritis, dan pemecahan masalah.

      Bagi psikolog dan konselor di sekolah sekarang dalam pelaksanaan Kurikulum 2013 tidak ada lagi jam tatap muka dengan siswa karena mata pelajaran pengembangan diri telah dihapuskan. Anak yang dikirim ke konselor ya tampaknya mendapatkan cap anak bermasalah. Konselor tidak diberi waktu untuk memberi konseling yang bersifat komunal bersama-sama untuk mengatasi kenakalan anak. Guru bimbingan dan konseling di sekolah dari dulu tetap menjadi anak tiri.

      Salam kami

  7. kenti sundari Says:

    Menurut pendapat saya, apabila yang dimaksudkan oleh penulis adalah seperti yang kita lihat pada contoh animasi-animasi di atas saya setuju jika hasil akhirnya demikian. Dalam bayangan saya selama ini Kurikulum juga seperti itu, sederhana tetapi mengikuti perkembangan lokal dan global untuk lifeskills-nya, selesai.

    Tapi gak tahu, kenapa jadi terasa ribet mendengarkan keluhan banyak guru dari berbagai sekolah mengenai K-13. Mungkin apakah ada kesalahan pada proses sosialisasinya, karena menurut saya jika kita lihat dari proses penilaian dari awalnya seperti itu, guru-guru sebagai pelaksana di lapangan mungkin langsung dapat memperoleh gambaran bagaimana akan bekerja menggunakan K-13. Mungkin memang perlu pematangan yang lebih sederhana dan menyesuaikan dengan keadan di seluruh tanah air. Itu saja yang harus dikoreksi. Kalau untuk di Jakarta, tinggal SDM-nya saja yang diberi pelatihan sembari mematangkan K-13, karena tujuannya juga baik, hanya mungkin uraiannya membuat kita sebagao orang lapangan merasa terbebani oleh administrasi yang banyak.

    Yang terjadi adalah kita sebagai guru sudah mengajar, tetapi tentang penilaiannya yang online itu masih berubah-ubah saat akan di-input. Sebagai guru kita jadi kelabakan, ternyata ada beberapa nilai yang belum kita kelola sebelumnya, karena kurang sosialisasi dalam proses penilaian ini.

    Padahal, kita kembali ke Kurikulum 2006, sebagai guru mata pelajaran IPA, materi K-2006 sudah tersampaikan di semester 1, ini membuat saya tetap harus membuat suplemen mandiri untuk melengkapi materi-materi yang mestinya disampaikan di semester 1 mesti dimasukkan di semester 2. Belum kerepotan mengubah jadwal mengajar untuk semua guru.

    Memang akhirnya kita harus menerima penundaan ini, mungkin kepada pihak-pihak yang terkait, perlu kiranya membaca tulisan-tulisan para guru agar menjadikan masukan apa yang terjadi di lapangan. Mau kurikulum berbasis IT, kenyataan masih banyak bagian besar negeri kita listrik pun belum tersentuh, transportasi ke sekolah masih susah. Itu menjadi PR bersama. Jangan hanya memikirkan yang ada di kota-kota besar dengan segala fasilitasnya, karena kenyataan yang sering kita lihat di televisi atau media lainnya basih banyak daerah yang sangat terisolir dan tertinggal. Untuk ujian nasional saja mereka mesti berjalan kaki berhari-hari dan menginap di sebuah desa lain.

    Masih banyak kiranya yang harus kita pikirkan bersama . . .

    • S Belen Says:

      Dear Kenti Sundari,

      Terima kasih atas tanggapan. Yang ibu kemukakan lebih banyak ke sisi implementasi kurikulum. Sebagai orang kurikulum yang bekerja di Pusat Kurikulum dan bergulat dalam pengembangan kurikulum lebih dari 20 tahun dan bahkan sampai sekarang sering menatar para guru, kepala sekolah, dan pengawas serta mengembangkan sekolah model di berbagai daerah di Indonesia, saya lebih terfokus ke mengmati kelemahan struktural dalam Kurikulum 2013. Kelemahan dalam dokumen kurikulum yang lahir dari arahan steering commitee pengembangan Kurikulum 2013 bentukan Mendikbud yang banyak menyimpang dari prinsip-prinsip dan dalil-dalil dalam pengembangan kurikulum yang telah diakui secara internasional. Selain itu, mereka juga lemah dalam memperhitungkan keanekaragaman di lapangan dan kurang pengalaman mengenai implementasi di lapangan.

      Tujuan-tujuan mulia yang telah dirumuskan tidak match, tidak sinkron dengan kebijakan yang diambil.

      1. Empat kompetensi inti (KI), terutama KI 1 (aspek religius) dan 2 (aspek karkter) dipaksakan ke hampir semua kompetensi dasar mata-mata pelajaran. Fatal lagi KI 4 (aplikasi) KI 1, 2, dan 3 (mencari pengetahuan). Khusus untuk KI 3 mencari pengetahuan tidak langsung ke aplikasi, dipisahkan sehingga banyak sekali kompetensi dasar yang diajarkan pada semester 1 harus diulang untuk aplikasi pada semester 2. Pilihan kebijakan ini mengakibatkan membengkaknya kompetensi dasar dan materi seluruh kurikulum. K-13 adalah kurikulum terpadat selama Indonesia merdeka.

      2. Rumusan kompetensi dasar mengandung tidak hanya 1 konsep tapi beberapa konsep besar dipaksakan digabung dalam satu kompetensi dasar. Dampaknya, pengembang silabus akan bingung dan penyusunan persiapan mengajar (RPP) akan menyulitkan guru.

      3. K-13 terperangkap dalam textbook driven curriculum, kurikulum yang dominan dipengaruhi penggunaan buku pelajaran. Karena, penyusunan kurikulum dan buku pelajaran berjalan hampir bersamaan waktu. Dampaknya, apa yang tertulis dalam buku pelajaran itu yang dijadikan patokan, acuan dalam pengembangan silabus. Ini kan logika terbalik. Harusnya kurikulum selesai disusun dulu barulah dikembangkan buku pelajaran. Dan, buku pelajaran seharusnya hanya satu dari sekian banyak sumber belajar yang hendaknya dipakai guru dan siswa. Textbook driven curriculum justru sudah ditinggalkan oleh banyak negara di dunia.

      4. Penyusunan struktur kurikulum (daftar mata pelajaran dan alokasi waktu) dilakukan terburu-buru sehingga terjadi banyak keanehan yang tidak sesuai dengan kebutuhan anak didik untuk masa depan. Penambahan beban jam pelajaran per minggu sengaja ditambah sehingga menambbah beban belajar siswa. More but less. Tambah beban tapi hasil belajar jadi berkurang. Bukan less but more. Semakin sedikit beban jam belajar justru meningkatkan hasil belejar.

      5. Pedoman penilaian K-13 jelas disusun orang yang tidak ahli dan kurang berpengalaman lapangan. Bagaimana guru bisa menilai sambil mengajar dengan mengisi lembar observasi, kemudian membuat jurnal? Fokus guru ke mengajar atau menilai? Format rapor juga ngawur karena harus ditambahkan penilaian oleh rekan siswa dan penilaian diri siswa. Yang menyusun sendiri tidak pernah melakukan seperti dituntut kepada guru dan basis pengetahuan mengenai penilaian kualitatif mereka juga lemah. Penambahan format administrasi guru juga membengkak. Dari mana guru mengambl waktu untuk mengisi semua format ini?

      6. Pendekatan tematik di SD juga fatal karena Pusat yang menentukan tema. Bagaimana bisa beranekaragam sekolah di anekaragam daerah dan konteks harus mengajarkan tema yang sama di seluruh tanah air? Di berbagai negara di dunia tema-tema dipilih guru, bahkan dengan meminta pendapat siswa. Lalu buku pelajaran disusun per tema. Fatal lagi. Tidak ada negara di dunia yang menyusun buku per tema yang berlaku sama untuk seluruh tanah air.

      7. Masih banyak kelemahan struktural dalam K-13. Baca juga posting kami:
      https://sbelen.wordpress.com/2014/12/08/kelemahan-struktural-kurikulum-2013-kritik-kami-di-tweeter-facebook/

      Jika kita bandingkan apple to apple antara KTSP 2006 dan K-13 masih lebih banyak kelemahan K-13 dibandingkan KTSP. Karena itu menurut pendapat saya, Mendikbud bijaksana memberlakukan kembali KTSP. Tinggal diperbaiki saja KTSP maka kurikulum baru sudah jauh lebih baik. Perbaikan K-13 pasti menyentuh kelemahan strutural kurikulum ini. Dan, saya sudah bisa bayangkan akan terjadi perombakan besar-besaran terhadap K-13 sehingga walaupun namanya sama tapi isinya sudah berbeda sama sekali dengan K-13 yang ditunda ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: