Sedih menyaksikan amburadulnya ujian nasional (UN) tahun ini

900x900px-LL-2219f1ca_after_being_proven_wrong_in_an_argument-13550

Cermin sistem pendidikan yang kurang menghargai hak anak untuk bertumbuhkembang, mengemukakan pendapat, dan menyeragamkan anak menurut kurikulum nasional yang kaku dan ujian nasional yang menekankan aspek kognitif sambil melalaikan aspek afektif.

Hati kita sedih menyaksikan hiruk pikuk dan amburadulnya urusan ujian nasional (UN). Marilah kita mendengarkan jeritan dari lapangan berikut ini. Kemarin pagi kami menerima email dari seorang Kepala SMA di Sibolga, Sumatera Utara. Tahun lalu kami menatar guru-gurunya 2 hari tentang contextual teaching & learning melalui praktik nyata dalam workshop.  Kemarin malam, seorang kepala sekolah di Halilulik, Kabupaten Belu, Timor menelepon dan protes terhadap penundaan UN di 11 provinsi, termasuk NTT. Isi protesnya mirip dengan yang dikemukakan kepala SMA di Sibolga. Perkenankan membaca email dari Sibolga itu dan jawaban kami

Pak Sil,

Selamat Pagi

Ujian nasional (UN) di sebagian negeri ini tidak serempak dilaksanakan hari ini (15-04-2013) sesuai POS. Pak Menteri cuma minta maaf. Kenapa ia tidak langsung menarik diri saja. Ini mengecewakan semua komponen pendidikan bangsa ini. Mengapa UN sudah dilaksanakan bertahun-tahun dan tahun ini terbengkelai? Benarkah sifat secret UN masih terjamin? Sudah waktunya pemerintah harus berpikir untuk meningkatkan mutu pendidikan di sekolah masih-masing sambil diawasi ketat oleh Dikbud. Kami di lapangan selalu menjadi sasaran dimaki-maki, karena ulah seperti ini. Terhambat UN anak-anak stres, biaya membengkak, habis waktu. Kerja tanpa perencaan yang matang seperti terjadi pada UN tahun ini.

Terima kasih

Tanggapan kami:

Ya, saya sendiri merasa malu kok birokrat bekerja semakin tidak profesional. Bikin kurikulum terburu-buru, bikin soal dan kertas ujian nasional amburadul. Menteri tidak memperlihatkan sense of crisis. Di TV malam ini menteri tanggapi imbauan untuk mengundurkan diri dengan berlangkah mundur lalu maju. Aduh, kok saya yang merasa malu, menunjukkan perilaku yang melecehkan para guru dan kepala sekolah yang kesal karena UN tertunda di 11 provinsi.

Apa gunanya jabatan jika hanya untuk menunjukkan sok kuasa atau melayani kepentingan anak didik, kepentingan rakyat.

Model, format UN dengan soal pilihan ganda itu yang bikin perkara, melestarikan urusan baku tipu yang melanda sejumlah kepala sekolah, guru, dan siswa. Kemdikbud juga membuat kebijakan nyetor rapor dan membuat soal yang gampang-gampang agar banyak yang lulus. Bukankah ini sebuah pembohongan publik? Mengapa sih kita tidak ubah format UN dengan memasukkan ujian praktik, dengan menerapkan penilaian portofolio atau dengan menerapkan open book test dan tes terstandar yang diberikan di kelas-kelas tertentu dalam rentang waktu belajar di satu jenjang sekolah.

Model UN kita sekarang masih berada di paradigma hard pedagogy, memvonis siswa lulus atau tidak lulus, padahal negara-negara lain telah beralih ke soft pedagogy dalam proses belajar-mengajar dan ujian dengan memberi peluang sebesar-besarnya kepada siswa untuk menunjukkan kompetensinya, bukan dinilai berdasarkan inkompetensinya karena bertolak dari patokan ideal siswa-siswa yang pintar secara kognitif.

Kita tertingggal secara teoritis dan praksis dalam gelombang perubahan ujian nasional di dunia.

Salam kami

Tanggapan balik kepala SMA di Sibolga:

Terima kasih atas tanggapan Pak Sil. Rinduku sebagai guru, sebelum mati saya ingin menikmati anak-anak itu lulus karena usahanya. Bocor-bocor, bocor lagi. Soal sama untuk semua kabupaten tetapi SMA jurusan IPS ditunda ujian, tetangganya jurusan IPS ujian dengan soal foto kopian, LJUN-nya pun kopian. Entahlah nanti diapakan saat pemeriksaannya–dimanualkan–sama dengan diluluskan–atau tidak diluluskan–gila-gila–tidak rasional. Pak Sil saya boleh minta–secara pedagogis anak dirugikan, karena itu saya minta penyelenggara ujian ini harus memberikan kompensasi kepada para siswa–diluluskan semuanya. Sebagai guru dan kepala sekolah saya sangat menuntut itu, karena gara-gara Pusat mau meningkatkan mutu, maka kita memacu siswa untuk belajar pagi-sore, ternyata ini tipuan saja. Kalau anak pintar atau kurang mampu kami sudah tahu. Pak Sil termasuk anak pandai di SMA kita dulu dan Pak Dan Tifa tahu itu…

Meskipun ada 30 soal berbeda tetapi jawaban siluman yang beredar pada waktu ujian ini bukan rahasia lagi. Mau bagaimana pendidikan kita ini? Dua puluh tahun lagi, kita harus belajar dari Timor Leste. Keluhan kami ini mungkin tak ada artinya, tetapi dari pada kami stres melihat situasi manipulatif di depan mata kami.

Bila mau ukur mutu, saya punya usul, semua SMA dan SMK bekerja sama dengan sejumlah perguruan tinggi (PT) tertentu yang bermutu. Perguruan tinggi itu membawahi sejumlah SMA dan SMK menjadi binaan mereka, lalu sama-sama membuat standar mutu kemudian diikuti bersama, dan terus dipantau oleh PT itu, karena mereka nanti yang akan menerima tamatan SMA dan SMK. Mohon maaf bila tidak pas. Terima kasih.

Marilah sejenak kita menoleh ke negara lain di ujung bumi ini. Tiga puluh tahun yang lalu Finlandia masih doyan dengan ujian nasional. Lalu, petinggi Kementerian Pendidikan di negara sekecil itu mengatakan bahwa ujian nasional ini menuntut pengelolaan yang rumit dan energi terkuras habis, lalu hasilnya prestasi belajar siswa ya biasa-biasa saja.

Karena itu, kemudian mereka memutuskan “Good bye, national examinations!” Ujian nasional yang didahului ujian kenaikan kelas, ujian semester atau caturwulan, dan semua urusan nilai-menilai itu ternyata percuma, hanya merampas waktu belajar siswa. So, mereka memutuskan evaluasi harus dilakukan guru seminimal mungkin. Yang lebih penting adalah membantu siswa yang keteter, tertinggal dari teman-temannya melalui kegiatan tutorial.

Direbus UN

Karena waktu untuk evaluasi dikurangi drastis ya waktu untuk proses belajar-mengajar ditingkatkan secara maksimal. Akhirnya, mereka memutuskan kurangi saja jumlah jam pelajaran per minggu dan jumlah hari sekolah per tahun.

Lalu, siswa-siswa Finlandia mengikuti tes internasional, seperti PISA, TIMMS, dan PEARLS, dan para penentu kebijakan, dosen, guru, kepala sekolah pada heran dan tak menyangka siswa-siswanya menoreh prestasi superunggul merebut peringka satu, dan kalau lagi apes ya peringkat 2 atawa 3, tapi selalu di puncak klasemen.

UN & kreativitas anak Indonesia

Berbondong-bondonglah penentu kebijakan pendidikan dari berbagai negara di 5 benua datang dan meneliti apa faktor penyebab keunggulan sistem pendidikan Finlandia. Banyak negara menyalahkan kebijakan pendidikan mereka dan semua pengambil keputusan dituntut rakyat untuk pergi belajar dari Finlandia.

Pengambil keputusan pendidikan Indonesia juga ke Finlandia tapi apa dampak kunjungan itu sampai sekarang juga belum jelas bagi kita. Ternyata kita masih terus mengikuti pola yang sudah berumur hampir 40 tahun, doyan tes pilihan ganda dalam ujian nasional. Masih ngotot kepada kebijakan UN dan kurang mau belajar dari pengalaman negara lain.

Sistem pendidikan Finlandia yang bagus yang terbukti dari prestasi siswanya dalam tes internasional berkorelasi signifikan dengan perkembangan ekonomi negara kecil ini. Tahun 2004, World Economic Forum menempatkan Finlandia sebagai negara dengan sistem ekonomi paling kompetitif di dunia, dan ini disebabkan oleh budaya inovasi tenaga kerjanya. Lihat:

http://news.bbc.co.uk/2/hi/uk_news/education/4031805.stm

Tentu kita masih ingat awal mula pakai HP ya mungkin Nokia dan itu adalah produksi Finlandia. Negara sekecil itu pernah merajai pasar HP dunia. Ya, seperti negara-negara di Eropa umumnya ya hasil bumi mereka ya paling gandum, domba dan hasil pertambangan umumnya tak menonjol. Mengapa mereka sampai menuntut siswanya belajar 3 s.d. 4 bahasa asing karena mereka ingin tenaga kerjanya laku di pasar kerja internasional, bukan senang tinggal di negeri sendiri dan jatuh miskin.

Hubungannya jelas dengan perkembangan ekonomi dan mereka tak bisa berharap dari gandum dan domba tapi siap bersaing di pasar global.

Akibat dipertahankannya UN dalam kenyataan siswa-siswa kita di SD hanya belajar selama 5 setengah tahun karena setengah tahun di kelas VI dikorbankan untuk persiapan ujian nasional. Di SMP siswa hanya belajar 2 setengah tahun, dan di SMA dan SMK hanya 2 setengah tahun. Sungguh merugikan waktu belajar siswa, jika kita hitung seluruh waktu yang tercurah untuk evaluasi mulai dari ulangan harian, mid-semester, ulangan umum semester / kenaikan kelas.

Mindset kita tentang evaluasi harus ditinjau kembali. Kalau kami mengajar siswa, kami tidak ambil pusing dengan evaluasi, tokh kami sudah tahu kelebihan dan kelemahan siswa. Kami lebih terfokus kepada proses belajar-mengajar.

Masih banyak hal yang perlu dibenahi dalam sistem pendidikan kita. Alih-alih pusing menanti perbaikan sistem, kita mulai saja dari sekolah kita, dari rumah kita, dari lingkungan kita untuk menyelamatkan anak bangsa.

Jika ingin melihat video demosntrasi para siswa SMA Muhammadiyah di Palembang yang meminta SBY mencopot Muhammad Nuh sebagai menteri pendidikan, meminta untuk mengusut transparansi anggaran UN, dan menghapus UN yang dinilai tidak bermanfaat, silahkan klik video dari berita MetroTV berikut ini.

https://www.facebook.com/video/embed?video_id=175104789310959

Kunjungilah posting yang berkaitan:

https://sbelen.wordpress.com/2013/04/20/bagaimana-ujian-nasional-un-di-belanda/

https://sbelen.wordpress.com/2010/05/08/ganti-sistem-ujian-nasional-dengan-menerapkan-sistem-open-book-test-dan-tes-terstandar/

https://sbelen.wordpress.com/2008/12/29/belajar-aktif-pakem-ujian-nasional-un-ibarat-air-dengan-minyak/

https://sbelen.wordpress.com/2011/08/08/mengapa-mutu-pendidikan-finlandia-terbaik-di-dunia/

https://sbelen.wordpress.com/2011/05/15/mengapa-peringkat-kelulusan-un-2011-siswa-smantt-tetap-di-nomor-buntut/

https://sbelen.wordpress.com/2011/01/11/3-tahun-banyak-siswa-tak-lulus-un-pecat-guru/

https://sbelen.wordpress.com/2008/07/30/tes-remidial-di-sd-sma-dan-sma-itu-salah-kaprah/

https://sbelen.wordpress.com/2008/07/09/mengapa-kita-memaksa-siswa-mempelajari-semua-mata-pelajaran/

https://sbelen.wordpress.com/2011/05/16/hasil-un-ntt-jeblok-tas-anak-sekolah-ntt-kempes/

 

 

 

Iklan

Jatuh dari ayunan

Migren & vertigo

Kunjungilah posting ini:

https://sbelen.wordpress.com/2013/05/03/bawang-putih-cuka-apel-madu-jahe-lemon-jantung-sehat-tubuh-bugar/

https://sbelen.wordpress.com/2013/04/15/sano-ramuan-herbal-berkhasiat-mulai-bisnis-di-usia-62-tahun/

Gambar spanduk Sano

sano-sembuhkan-migren-vertigo

Kartu nama Yuni 3

Tag: , , , , , , , , , ,

8 Tanggapan to “Sedih menyaksikan amburadulnya ujian nasional (UN) tahun ini”

  1. Pater Kanis Bhila, SVD Says:

    Salam jumpa om Sirilus. Derita pendidikan kita semakin parah, diperpanjang, diperluas tingkat keparahannya oleh mereka yang punya kewenangan walaupun samasekali tidak memiliki kompetensi. Mau sampai kapan derita kita ini, malah diperparah oleh sikap, pernyataan dan kebijakan Mendiknas? UN kali ini cerita dan kenyataannya SADIS benar. Mekanisme dan alurnya amburadul. Semuanya dibuat demi KEPENTINGAN…. Kasihan bangsa kita ini. Yang sebetulnya sudah baik (pencetakan soal UN) seperti tahun-tahun sebelumnya, kenapa diubah demi kepentingan politik dan harga diri?? Kalau boleh derita ini didiskusikan pada pertemuan MNPK yang katanya akan berlangsung akhir April ini.

  2. S Belen Says:

    Perkenankan membaca tanggapan P Rosindus dari Sibolga, Sumatera Utara yang dikirim via email:

    Kegelisahan sebagai seorang guru yang memproses siswanya secara benar akan menghantuinya kala anak itu dinyatakan tidak lulus. Jika dia tidak lulus dalam arti proses ujiannya berlangsung tertib sesuai POS, maka kegelisahan guru itu in se milik guru. Tetapi, kalau proses ujian yang dilakukan dengan acak-acakan, tidak profesional, ditambah pula media menyatakan harus ujian ulang, padahal anak-anak kami sementara ikut ujian membuat siswa, guru, orang tua menjadi bingung dan gelisah. Mana yang benar?

    Setelah ujian hari pertama sekelompok siswa menghadap saya mengatakan bahwa di TV bilang kita harus uji ulang– apakah benar? Saya jawab, “Kamu sementara berenang, masih jauh dari pantai, berenanglah terus atau kamu mau mati tenggelam di stu. Jalani dulu ujian ini dengan tenang, jangan terpengaruh dengan berita”. Tampaknya hal ini kecil tetapi bagi siswa yang mentalnya masih labil, seketika itu juga drop persiapannya.

    Hari ini (18-04) jam pertama sudah mulai ujian, naskah soal kopian kabur, LJUN kopian pun kabur. Bagi kami itu tidak ada masalah…tetapi ini menunjukkan esensi ‘asal kerja’ atau bekerja asal-asal. Untunglah pengawas dari Perguruan Tinggi, Kepolisian sangat welcome, jika tidak denyut jantung ini bisa memecahkan dada. Saya masih tetap pada pendirian, anak-anak saya harus diberi kompensasi. Bila perlu diluluskan semuanya. Karena bila mereka tidak lulus mereka akan kandas karena di belakang mereka akan diberlakukan Kurikulum 2013.

    Mengenai Kurikulum 2013, setahu saya para pakar pendidikan itu mengajukan agar dikurangi jam pelajaran pada semua jenjang (SD-SMP-SMK) tetapi bukan membuat kurikulum baru. Kami sekarang bingung untuk kelas X ini yang mau naik kelas XI bagaimana penjurusannya, katanya peminatan, materi kurikulum macam apa yang harus diberikan, semua tidak jelas. Apa lagi ditambah dengan dinas pendidikan yang bukan pro pendididk tetapi pro politik uang, maka lengkaplah penderitaan kami. Ini bukan keluhan irasional–tetapi ini fakta. Terus terang kami baru sekali dipanggil untuk sosialisasi Kurikulum 2013. Katanya, “baca saja di internet ‘sa rupa’ (bahasa Batak bilang, sama penjelasan pemberi dengan yang ada dalam internet).

    Pengambil keputusan dalam bidang pendidikan ini, sekarang lagi sakit berat–kami berharap supaya mereka membuka mata mereka bahwa memproses manusia itu memproses seluruh peradaban manusia, karena itu yang namanya ‘memle’ (bahasa Kupang bilang tenganga), jangan dipakai pada bidang ini. Bila menteri itu benar dia profesional dalam bidang pendidikan (mental, spiritual, intelektual, sosial) tak perlu waktu untuk mengatakan mundur, dia harus secepat kilat mundur atas kelalaiannya mengkoordinir pendidikan bangsa ini.
    Hei ketika masih mahasiswa di Universitas Sanata Dharma atas inisiatif Dosen mata kuliah penulisan kreatif, kami menulis sebuah buku (kumpulan karangan) dengan judul ‘Jengkrik dalam Kotak’, mungkin suara guru-guru ini akan terus-menerus seperti jengkrik dalam kotak. Tetapi bagi kami guru tak ada kata menyerah–menyerah berarti mengkhianati kemerdekaan!!Maaf mungkin berlebihan. Horas!!
    Aek Tolang, 18-04-2013
    P. Rosindus, Pr

  3. S Belen Says:

    Tanggapan Ibu Ifa Hanifah Misbach via milis:

    Terima kasih link-nya mas Sirilus.

    Ada Breaking News!
    Para pelajar SMA Muhammadiyah melakukan demo di bundaran Kota Palembang menuntut 3 hal (Metro TV siang hari ini)
    1. Meminta SBY mencopot Muhammad Nuh sebagai menteri pendidikan.
    2. Meminta untuk mengusut transparansi anggaran UN
    3. Menghapus UN yang dinilai para pelajar tidak bermanfaat
    Bravo! Suara pelajar murni.

  4. S Belen Says:

    Perkenankan membaca tanggapan dari Sumatera Utara yang dikirim via email:

    Kemarin (16/4, 2013) saya bersama seorang teman pergi ke Balige, Kabupaten Toba Samosir. Kami hendak menjumpai penulis buku kami, yang menjadi koordinator pengawas Ujian Nasional di Kabupaten tersebut. Tepatnya kami bertemu beliau di SMA Negeri Narumonda.

    Banyak cerita lucu (tetapi memalukan sekaligus menyedihkan) tentang pelaksanaan UN di daerah dan sekolah itu kami dengar. Salah satunya… soal matapelajaran Sosiologi ditemukan di dalam amplop Ekonomi, atau soalnya kurang cukup banyak… jadi harus difotocopy dulu.

    Tentang kecurangan… pengawas itu bilang: “Hebat di sini, untuk ujian bahasa Inggris, anak-anak tidak perlu mendengar kaset, mereka sudah bisa menjawab!”
    Ujian Nasional memang benar-benar penipuan publik.

    Salam,

    Daniel Erwin Manullang

  5. S Belen Says:

    Ya itulah kerja nasional supersibuk UN yang sia-sia, menguras energi dan dana tapi hasilnya tidak efektif meningkatkan mutu. Mengapa kita tidak ikut saja arus internasional yang meniru Finlandia yang meniadakan ujian nasional? Kan cara memetakan masalah pendidikan tak mesti lewat UN yang menentukan kelulusan siswa. Betapa buruk dampak pendidikan karakter soal kejujuran kepada ana-anak penerus masa depan bangsa.

  6. S Belen Says:

    Perkenankan membaca tanggapan Ben Wegho dari Amrik sebagai hasil renungan membaca email kami dengan judul “UN: Seremoni tahunan yang sia-sia”

    Anak-Anak Lahir pada Musim Semi
    (Skets)
    Ben Wego

    Anak-anak lahir di musim semi. Hujan bunga. Ini sebuah pesta. Ada yang melantai. Ada yang berlengkungan-berkelok-kelok pada pohon. Menunggu untuk lebih cepat melihat cahaya. Ada yang langsung menegak ke atas. Bunga dan dedaunan telah menciptakan sebuah orkes. Orkes warna dan bau. Bermacam-macam tapi siapa yang telah mencampuri warna-warna? Siapa yang menciptakan sehingga unik dan jadi bau bunga. Bau dari warna tentu saja tidak. Padahal ini sesudah musim gugur. Begitu cepat sebuah karya. Begitu sempurna sebuah tangan. Begitu tajam sebuah mata untuk membedakan. Musim semi itu adalah musim membongkar keindahan yang tersimpan. Pada rak-rak. Ruang-ruang yang selama ini pengap. Keindahan tidak bisa disembunyikan. Ia milik semua orang. Maka setiap orang yang mengetahui keindahan, ia tahu siapa sesungguhnya pemberi yang mengerjakan tanpa campur tangan siapapun.

    Tak ada yang akan terpendar sekalipun oleh angin yang dashyat atau hujan dengan sungai dan laut bergelombang. Mereka selalu bermain. Juga belajar menari sepanjang musim tanpa menanti musim gugur. Sebab musim gugur adalah milik semua. Tak ada yang terkecuali. Ada yang dengan cepat menemui matahari. Ada yang berkeliaran bak Tuhan yang sedang mengatur strategi menyumbang sebanyak mungkin bunga. Dan di situ dunia akan tahu. Semua terlahir tanpa peduli kapan musim gugur tiba. Ini musim semi yang selalu ingin kekal.

    Lake Charles 0413
    Iowa, USA

  7. S Belen Says:

    Perkenankan membaca komentar Herman Sina dari Ende, Flores yang dikirim via milis:

    Ini parahnya negara kita yang begitu sentralistik. Pendidikan itu kan soal pemberdayaan, baik para pelaku maupun para peserta didiknya. Kalau terus digenggam dari pusat, kapan otonomi dalam arti yang sebenarnya bisa dihidupkan. Dari NTT, di Atambua ada lembaran soal yang rusak, hampir seluruhnya tak terbaca. Di Ende kami belum dapat informasi. Amburadul situasi dan segala yg berhubungan dengan UN, membuka peluang bagi KPK untuk kejar para cukong dan kroninya. Sedih nian bangsa tercinta ini. Trims utk syering informasi seputar UN kali ini.

  8. Agam TrueBlue Says:

    Sebenernya apa sih manfaat UN?? Di dunia modern seperti sekarang ini, cari kerjaan cuma gak dari ijasah, kalau ijasah ada tapi kreativitas gak ada mau kerja apa?? Yang dicari di masa depan adalah orang yang punya kreativitas tinggi, bukan orang yang punya ijasah😐

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: