Sejauh mana telah terjadi transformasi pendidikan di Indonesia?

Apakah guru tidak lagi menyetrap siswa,  misalnya dengan menyuruh berlutut di depan kelas? Apakah guru berperilaku dengan motif kasih sayang?

Menghukum siswa tidak efektif mengubah perilaku. Mengapa guru tidak membuat suasana belajar menyenangkan dengan mendorong siswa bekerja sama dalam kelompok?

Tidak ada bukti hasil riset yang menyatakan kekerasan fisik, hukuman membuat siswa rajin belajar. Mengajarlah dengan hati, dengan kasih sayang!

Belajar itu bukanlah duduk, dengar, catat, dan hafal. Mengapa tidak menerapkan belajar sambil bekerja, learning by doing?

Duduk berbaris ke duduk dalam kelompok untuk memudahkan kerja sama

Mengapa harus belajar dalam ruang kelas? Mengapa tidak membawa siswa belajar di luar kelas? Mencatat hasil pengamatan terhadap tanaman.

Dulu siswa mencatat pada buku tulis dalam bentuk kalimat / alinea. Sekarang mencatat dalam bentuk mindmap. Mana yang lebih bagus?

Belajar itu haruslah menyenangkan

Kapan papan tulis dimuseumkan? Belajar yang benar adalah belajar yang mengaktifkan siswa, membuat siswa kreatif, dan mendorong pemecahan masalah.

Mengapa sekolah seperti kandang ayam? Mengapa tidak membuat sekolah dari bambu beratapkan ilalang seperti sekolah alam di Badung, Bali yang menarik sehingga bisa menarik bayaran mahal dari orang tua?

Dari guru sebagai komandan ke guru sebagai fasilitator

Mengapa perlu transformasi pendidikan

“Pendidikan adalah apa yang tetap ada setelah seseorang melupakan segala hal yang ia pelajari di sekolah” Einstein

 

“Di negara-negara besar pendidikan publik akan selalu mediocre (bermutu pas-pasan), karena alasan yang sama bahwa di dapur-dapur yang besar memasak biasanya jelek” – Nietzsche

(Sumber: Chambers English Dictionary)

“Belajar adalah apa yang kebanyakan orang dewasa akan lakukan agar bisa hidup pada abad ke-21.” Perelman

 

“Saya tidak dapat mengajarkan seseorang sesuatu pun, saya hanya dapat membuat mereka berpikir.”
– Socrates

(Sumber: http://www.etni.org.il/quotes/education.htm)

Apa makna transformasi?

Transformasi adalah:

  • …mengubah orang atau hal secara lengkap, terutama memperbaiki penampilan atau manfaatnya.
  • …mengubah pola pikir (mindset).
  • …perpindahan dari paradigma lama ke paradigma baru.

Perlunya transformasi

“Guru-guru pada umumnya tidak menggunakan TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi), atau jika mereka gunakan, seringkali dengan rasa enggan, dan pola yang digunakan hanya sedikit saja memanfaatkan potensi yang dimiliki. Hal ini tidak mencerminkan transformasi cara kita belajar.” – Wheeler

(Sumber: Wheeler, S. (2005) Transforming Primary ICT, p 1)

Jika Anda ingin membaca posting ini dalam bentuk file powerpoint, silahkan klik file ini!

Transformasi pendidikan

Posting ini ditulis untuk menjawab tantangan yang tercantum pada cerita ini. Silahkan baca juga posting ini!

https://sbelen.wordpress.com/2012/03/31/seorang-bapak-100-tahun-yang-lalu/

Iklan

annie dancing

Klik gambar kalau belum bergerak

Asma

Kunjungi posting ini:

https://sbelen.wordpress.com/2013/05/03/bawang-putih-cuka-apel-madu-jahe-lemon-jantung-sehat-tubuh-bugar/

Gambar spanduk Sano

Sano sembuhkan asma

Kartu nama Yuni 2

Tag: , , , , , , , , , , , ,

3 Tanggapan to “Sejauh mana telah terjadi transformasi pendidikan di Indonesia?”

  1. G Hidayat Tjokrodjojo Says:

    Pak Belen, thanks atas posting anda, yang terinspirasi oleh saya.

    Di tahun 60-an, ayah saya menulis buku pelajaran Bahasa Inggris yang dicetak oleh penerbit Erlangga dan setahu saya dipakai diseluruh Indonesia (???). Nama bukunya “Test Your English”. Sampai hari ini menurut saya, buku tersebut masih sangat relevan untuk dipergunakan. Bagaimana pendapat anda dan masyarakat luas?

    Kalau masih bisa dipakai saya merencanakan, mencetak kembali dan bagikan bagi yang mau pakai untuk menambah bahan dalam mempelajari pelajaran Bahasa Inggris.

    Transformasi atau perkembangan hingga hari ini ada yang menggembirakan, tapi ada yang malah menyedihkan. Kalau saja kita dapat meminta para pembuat keputusan agar hanya membuat keputusan yang “baik”, transformasi akan semakin baik pula. “Baik” itu yang bagaimana? Saya katakan baik itu, kalau sesuai dengan “kualitas dan standar”. Jangan sekali-kali mengorbankan kualitas dan standar, meski akibatnya tidak bisa “korupsi” bagi si pembuat keputusan.

    Ya Tuhan bantu kami agar dapat lebih banyak berbuat baik.
    Salam, Hidayat Tjokrodjojo

  2. S Belen Says:

    Pak Hidayat,

    Terima kasih atas tanggapan Pak. Saya salut atas kepiwaian ayah Pak yang bisa menerbitkan buku “Test Your English” yang masih relevan sampai sekarang. Walaupun kurikulum silih berganti tapi buku “Living English Structure” yang saya pakai waktu masih di SMA ternyata masih relevan sampai sekarang walaupun structural approach telah diganti dengan communicative approach dalam pelajaran bahasa Inggris dan juga bahasa Indonesia dan bahasa asing lainnya. Buku “Sari Ilmu Hayat” karangan Frater Vianney BHK almarhum yang saya pakai waktu di SMP doeloe masih dipakai terus sampai sekarang dalam pelajaran Biologi karena Penerbit Kanisius tetap menerbitkan dengan mengganti judul “Sari Biologi”. Buku Fr Vianney yang lain tentang ular juga masih diproduksi dan dijual sampai sekarang. Karena itu, Fr Clemens waktu menjadi provinsial BHK mengatakan, “Saya malu karena orang mati masih membiayai tarekat kami sampai sekarang.”

    Karena itu, niat Pak untuk menerbitkan buku ayah Pak saya dukung. Kalau boleh, mungkin juga di samping dicetak, dimuat juga di internet sehingga bisa diakses para siswa sekarang yang bergairah berselancar di dunia maya.

    Setuju dengan pandangan Pak bahwa transformasi apa pun dalam pendidikan jangan melupakan kualitas dan standar. Dan, satu kriteria lain yang perlu diperhatikan pengambil keputusan adalah berpihak kepada kepentingan terbaik anak, siswa. Masalah lain kebijakan pendidikan di Indonesia adalah kita suka tidak konsisten. Pendidikan Malaysia maju karena selama pemerintahan Mahatir Muhammad dan diteruskan sampai sekarang oleh UMNO ada konsistensi kebijakan. Singapura pun demikian di bawah kepemimpinan Lee Kuan Yu yang diteruskan putranya sampai sekarang. Konsistensi adalah masalah besar dalam pemerintahan kita di tanah air.

    Salam pendidikan!

  3. benise elmara Says:

    Like!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: