Bagaimana gambaran pelatihan pendidikan karakter?

Pendidikan karakter = pendidikan hati

Kemajuan sebuah negara amat ditentukan oleh karakter penduduknya

Sejak tahun 2010 Kemdiknas telah meluncurkan 3 program, yaitu
pendidikan karakter, belajar aktif, dan pendidikan kewirausahaan &
ekonomi kreatif. Ketiga program ini dikembangkan oleh Pusat Kurikulum Balitbang Kemdiknas dan telah disosialisasikan ke berbagai unit relevan di Kemdiknas, kepala dinas pendidikan di tingkat provinsi dan kabupaten / kota, LPMP, dan perguruan tinggi. Diharapkan semua lembaga yang relevan menganggarkan dana untuk pelatihan guru, kepala sekolah, dan pengawas dari tingkat PAUD / TK, SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA, SMK, pendidikan non-formal dan pelatihan dosen di PT.

Tampaknya dari ketiga program ini, pendidikan karakter cenderung
disambut lebih entusias, mungkin karena amat relevan dengan kondisi bangsa saat ini dan dipandang sebagai ganti pendidikan budi pekerti yang telah hilang dalam kurikulum.

Pendidikan karakter dilaksanakan melalui tiga proses, yaitu proses
peneladanan, proses pembiasaan, dan proses pembelajaran. Khusus untuk proses pembelajaran, para guru didorong untuk mengintegrasikan nilai-nilai pendidikan karakter dalam silabus dan RPP yang disusun.

Tampaknya banyak dinas pendidikan di daerah belum menganggarkan dana untuk pelatihan pendidikan karakter dan Kemdiknas Pusat pun tidak bisa memaksa dinas pendidikan di daerah untuk segera mensosialisasikan program ini.

Sesuai dengan arahan dari Kemdiknas, dalam proses pembelajaran
pendidikan karakter sebaiknya dilakukan dengan pendekatan belajar
aktif karena the method is the message itself. Belajar aktif lebih
mampu mendorong tumbuhkembang nilai-nilai karakter, seperti kerja
sama, rasa ingin tahu, gemar membaca, kreativitas, peduli sosial, dan
saling menghargai.

Akhir tahun 2011 dan awal 2012 ini kami telah menatar guru, kepala sekolah, dan pengawas di Ambon bersama Save the Children dan di Riau dan Tenggarong, Kaltim bersama Penerbit Erlangga.

Jika Anda ingin mendapatkan gambaran workshop pendidikan karakter yang telah kami lakukan, silahkan klik file powerpoint berikut ini!

Workshop Pendidikan Karakter di Kaltim, Riau & Ambon

Semoga bermanfaat.

Iklan

ahs-shelley

Parkinson

Kunjungilah posting ini:

https://sbelen.wordpress.com/2013/05/03/bawang-putih-cuka-apel-madu-jahe-lemon-jantung-sehat-tubuh-bugar/

Gambar spanduk Sano

sano-sembuhkan-parkinson

Kartu nama Yuni 2

Tag: , , , , , , , , ,

6 Tanggapan to “Bagaimana gambaran pelatihan pendidikan karakter?”

  1. Buana Sakti Says:

    good article,,,

  2. S Belen Says:

    Pembaca, perkenankan mengikuti komentar Pak Daulat Tampubolon via Japri.

    Pak Belen yth

    Sudah lama kita tidak bincang-bincang dan terimakasih atas share informasinya.Dari pengalaman dan pengamatan, saya sangat risau dan galau melihat aplikasi dari kebijakan para petinggi bangsa ini, mulai dari DPR dan birokratnya yang disampaikannya berbau normatif-normatif saja. Mereka memposisikan diri sebagai pengamat padahal mereka pengambil keputusan dan kebijakan. Seperti Kasus Masuji, ini hanya akibat dari ketidaktegasan penerapan perundang-undangan pertanahan sehingga mengakibatkan saling tarik-menarik antar-kepentingan, seperti agraria, ada departemen kehutanan,ada departemen pertanian dan perkebunan ada BPN. Padahal, yang diatur hanya tanah/lahan yang peruntukannya saja yang berbeda seperti tanah untuk hutan, tanah perkebunan, tanah pertanian, serta tanah hunian manusia dan tanah hunian binatang. Karena ketidaktegasan akhirnya terjadi serobot-menyerobot.

    Dalam pendidikan konsep dan semangatnya sudah OK namun penyampaian ke bawah masih ada yang mengambang dan bersifat normatif, seperti yang bapak sampaikan (Sesuai dengan arahan dari Kemdiknas, dalam proses pembelajaran pendidikan karakter sebaiknya dilakukan dengan pendekatan belajar aktif .

    Dari dulu yang saya tahu belajar itu memang harus aktif, belajar berhitung guru menyuruh memotong lidi dan menghitungnya. Itu belajar aktif juga, kan? Karena, the method is the message itself. Belajar aktif lebih mampu mendorong tumbuhkembang nilai-nilai karakter, seperti kerja sama, rasa ingin tahu, gemar membaca, kreativitas, peduli sosial, dan saling menghargai. (Di zaman saya waktu anak-anak diaplikasikan saat bermain petak umpet, gotong royong, dll).

    Kalau saya berpendapat, pemimpin sekarang ini jangan berpikiran aji mumpung> Mumpung saya pejabat, ah saya hanya menjabat 5 tahun. Pejabat sekarang ini diharapkan berpikir tentang konsep menyelesaikan masalah, berpikir bagaiamana proses pelaksanaannya, dan yang paling penting berpikir bagaimana aplikasinya. Jangan dibuat konsep tapi aplikasinya membingungkan atau sulit dilaksanakan.

    Yang paling lucu lagi pak Belen, biaya rehab ruang sidang Banggar DPR yang sampai menelan biaya 20 M dan tidak diketahui ketua DPR atau ketua BURT DPR.

    Bingungngngng kita kita rakyat ini.

  3. S Belen Says:

    Komentar Pak Anton Doni via japri:

    Sekadar sharing, Pak Sil,
    Mungkin pendidikan karakter butuh kerangka yang lebih baik. Dan kalau kita baca buku The Seven Habits of Highly Effective People, kita bisa menangkap ada satu kerangka teori tentang karakter yang cukup solid di situ. Saya belum pernah membaca buku lain yang menyajikan kerangka sebagus buku tersebut. Bukunya (Stephen Covey) kemudian berjudul The 8th Habit juga tidak sebagus buku The Seven Habits. Buku tersebut sudah diturunkan dalam program-program pelatihan orang dewasa, tapi saya belum ketemu penerjemahannya dalam program-program pendidikan atau pelatihan remaja dan anak-anak. Kalau ada sedikit kerja keras, kayaknya bisa dihasilkan program pendidikan karakter anak-anak atau kaum remaja yang memiliki landasan yang kuat dari buku tersebut. Thanks.

  4. S Belen Says:

    Tampaknya Pak Anton Doni benar. Langsung kami membaca buku Stephen R Covey tersebut dan browse di internet tentang isi ringkas gagasan-gagasan yang ditekankan dalam buku itu. Kami sendiri belum pernah membaca panduan atau buku yang menterjemahkan pendekatan The 7 habits dalam pendidikan karakter anak-anak.

    Beberapa ide Stephen Covey yang menarik, a.l.:

    1. Kritiknya terhadap buku-buku psikologi populer dan buku tentang
    kiat sukses melalui jalan pintas. Ia membuktikan bahwa pendekatan
    etika kepribadian hanya melahirkan keberhasilan semu sedangkan
    pendekatan etika karakter lebih awet dan berhasil dalam pengembangankarakter individu.

    2. Ia menekankan pentingnya paradigma dalam pendidikan karakter yang terutama menekankan prinsip dan kemudian nilai yang berusaha
    diterapkan dalam beragam aktivitas dan kiat untuk memecahkan masalah dalam kehidupan.

    3. Tujuh kebiasaan yang ditawarkan menurut argumentasinya akan membawa orang ke keberhasilan membangun karakter positif yang kuat.

    4. Ilustrasinya yang menampilkan kisah-kisah menarik memberikan
    gambaran bagaimana kita bisa mendidik anak dan remaja agar memiliki
    karakter yang kuat dan tahan banting.

    Sesuai dengan kapasitas, kami akan berupaya mengelaborasi lebih lanjut gagasan utama Stephen Covey dalam materi pelatihan pendidikan karakter. Kami juga harapkan teman-teman yang berkecimpung dalam pendidikan karakter anak dapat mengembangkan pendekatan Covey ini lebih lanjut.

  5. L.E Purwanto,M.Pd Says:

    Bagaimana memberikan pendidikan karakter bagi anak tuna rungu SD?

    • S Belen Says:

      Pak Purwanto,

      Untuk menjawab pertanyaan pak ini tentu saja yang lebih kompeten menjawab adalah para guru anak-anak tunarungu SD. Pengalaman kami dengan anak tunarungu amat terbatas. Dulu sekali pada tahun akhir tahun 1980-an pernah kami menatar guru-guru SLB khusus anak tunarungu di Jakarta. Para guru mengingatkan agar kami tak perlu bersusah payah menyesuaikan bagaimana menangani anak-anak tunarungu. Tatarlah kami seolah menatar guru SD biasa dan nanti tugas kami menyesuaikannya dengan anak tunarungu.

      Sekali dalam kunjungan ke SLB Santi Rama di Jakarta betapa kaget kami mendengarkan suara melengking anak-anak ketika bermain di aula sekolah. Suara mereka amat keras terdengar karena mereka kan kenyataannya tak bisa memperkirakan betapa keras suara yang mereka keluarkan. Berdasarkan ini, mungkin guru perlu mengingatkan agar dalam interaksi mereka dengan orang-orang di sekitar mereka perlu membiasakan diri menurunkan volume suara.

      Pernah juga kami edit buku panduan bagi guru SLB, dan dalam buku itu diingatkan agar anak-anak tunarungu perlu amat berhati-hati ketika berjalan di jalan raya. Mereka disarankan berjalan di pinggir jalan atau di trotoar karena mereka tak mendengar suara klakson sepeda motor atau mobil. Setelah mengamati tabrakan maut di dekat tugu patung Pak Tani dekat Stasiun Gambir melalui TV, mungkin perlu mengingatkan anak tunarungu untuk bila perlu berjalan di pinggir jalan melawan arus lalu lintas agar mereka lebih mudah melihat kendaraan yang datang dari depan agar tidak tertabrak dari belakang.

      Pendidikan karakter bagi anak tunarungu pada prinsipnya sama dengan anak biasa yang lain, hanya perlu penyesuaian dengan kekhususan mereka. Misalnya, kurangi ceramah, perbanyak game dan tontonan video action yang relevan dengan pendidikan karakter. Yang lebih penting adalah proses peneladanan dan proses pembiasaan dalam lingkungan pendidikan anak tunarungu.

      Mungkin yang lebih penting adalah pendidikan karakter bagi anak-anak biasa tentang bagaimana mempelakukan anak tunarungu yang bersumber pada empati dan belarasa terhadap anak-anak ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: