Hasil UN NTT jeblok: Tas Anak Sekolah NTT Kempes

Tony Kleden

Dr. Sirilus Belen: Tas Anak Sekolah NTT Kempes

pos kupang/tony kleden

Dr. Sirilus Belen

Senin, 24 Mei 2010 | 23:27 WIB

SEMUA meradang ketika tahu hasil UN NTT jeblok. SLTP maupun SLTA sama saja. Hancur. Semua mata tertuju ke NTT. Sulit dimengerti hasil itu. Karena Papua yang selama ini paling buruk, tahun ini lebih baik hasilnya dari NTT.

Bodohkah anak-anak NTT? Walahualam! Keprihatinan itu juga begitu memukul satu orang NTT di Depdiknas, namanya Dr. Sirilus Belen. Bagaimana tidak terpukul? Sirilus, boleh dibilang, salah seorang mastermind di Balitbang Depdiknas. Merekalah yang berada di dapur Depdiknas yang kerjanya merancang, menyusun dan memperkenalkan kurikulum, metode pengajaran dan juga bahan ajar untuk sekolah- sekolah di Indonesia.

Sirilus sudah sangat menyatu dengan dunia pendidikan. Seperti ikan dan air saja. Dia terbang ke begitu banyak daerah hingga ke pelosok-pelosok tanah air untuk memajukan dunia pendidikan. Masuk akal kalau dia menjerit menyaksikan hasil UN NTT kali ini. Bagaimana pandangannya tentang pendidikan, khususnya pendidikan di NTT? Melalui facebook, Sirilus menjawab sejumlah  pertanyaan Tony Kleden dari Pos Kupang.

Hasil UN NTT, baik SLTP maupun SLTA, tahun ini jeblok. Apa komentar Anda?
Benar benar memalukan. Karena prestasi siswa-siswa Papua ternyata lebih baik daripada prestasi siswa NTT. Jika kita browse internet, jelas tergambar bahwa pada hasil UN SMA tahun 2008 NTT juga berada di nomor buntut. Pak John Manulangga waktu itu memberi komentar faktor penyebabnya dan koran koran lokal seperti Pos Kupang dan Flores Pos memberitakan aneka tanggapan dari berbagai kalangan pendidikan yang relevan. Tapi, setelah UN berlalu, seperti biasa orang cepat melupakan tragedi ini. Dan, kita kembali ke business as usual, seperti tak ada apa apa, tak ada masalah.

Apa dan siapa yang salah?

Yang jelas salah adalah komandan pendidikan di NTT. Jika di propinsi, ya Kepala Dinas PPO  NTT,  dan di kabupaten/kota ya Kepala Dinas PPO kabupaten/kota. Karena, kepala dinas adalah pemimpin dan manejer pendidikan. Kepala dinas punya pasukan, yaitu kantor dinas yang didukung para pengawas yang bertugas membina sekolah. Kepala dinas juga punya wewenang untuk menggelontorkan dana pendidikan untuk berbagai keperluan. Walaupun lebih banyak sekolah swasta di NTT dibandingkan sekolah negeri tapi terbanyak guru sekolah swasta adalah PNS. Dan, yayasan pendidikan swasta kini menjadi macan ompong karena yang membayar gaji mereka adalah pemerintah.

Kalau kita telusuri lagi untuk mencari siapa yang salah, kita wajar bertanya siapa yang mengangkat kepala dinas pendidikan yang kurang kompeten, yang mungkin tidak berlatar belakang karier dari dunia pendidikan, atau yang berlatar belakang karier dari dunia pendidikan tapi kurang memiliki komitmen atau kurang bertanggung jawab. Jika kita lihat dari bawah ke atas, yang salah di tingkat akar rumput, ya kepala sekolah yang paling salah dan kemudian guru yang juga salah.

Apakah hasil itu juga mencerminkan taraf kemampuan intelektual anak anak NTT?
Jika kemampuan intelektual diartikan kecerdasan intelektual yang biasanya disebut IQ, menurut saya, hasil UN ini tidak mencerminkan tingkat kecerdasan intelektual anak anak NTT. Tingkat IQ anak adalah bawaan sejak lahir sehingga hasil ujian apa pun tidak mencerminkan IQ. Tingkat IQ yang tinggi akan terekspresikan jika kondisi lingkungan pendidikan di rumah dan di sekolah mendukung pemupukan dan peningkatan kecerdasan intelektual itu.

Seorang anak yang lahir sebagai insan jenius bisa saja tidak diketahui jika kondisi rumah dan sekolah tidak mendorong munculnya kejeniusan anak. Karena itu, banyak jenius yang berakhir sebagai gelandangan atau orang yang gagal dalam pekerjaan dan kehidupannya. Albert Einstein yang hebat itu pernah tidak lulus ujian SMA di Swiss karena mendapat nilai merah pada ujian matematika dan fisika. Ia harus belajar lagi sambil indekos di rumah kepala sekolahnya di sebuah kota lain dan kemudian baru lulus setelah menempuh ujian SMA pada kali kedua.

Lantas, faktor determinan apa yang jadi penyebab hasil UN yang buruk itu?
Ada banyak faktor. Pertama, inkompetensi kepala sekolah dan guru. Umumnya kepala sekolah diangkat dari para guru. Dan, tidak ada pendidikan khusus guru untuk menjadi kepala sekolah setelah program studi administrasi/manajemen pendidikan dihapus pada tingkat S1 di fakultas ilmu pendidikan universitas, cq. Universitas Nusa Cendana. Untuk guru SD ada PGSD dan untuk guru SMP, SMA, dan SMK ada FKIP universitas. Menurut pengamatan saya, dibandingkan dengan PGSD dan FKIP universitas yang bermutu di Jawa, mutu PGSD dan FKIP universitas-universitas di NTT masih memrihatinkan. Kedua, kurangnya tanggung jawab tugas seorang kepala sekolah dan guru serta kurangnya disiplin di sekolah.

Kedua hal ini disebabkan oleh tidak diterapkannya imbalan (reward) dan sanksi (punishment) yang tegas dan kurangnya pengawasan atau kontrol pengawas sekolah sebagai perpanjangan tangan dinas pendidikan.

Ketiga, kurangnya transparansi keuangan dan akuntabilitas penggunaan dana pendidikan baik dari sumber pemerintah maupun orangtua siswa.

Keempat, strategi pembinaan guru melalui penataran ternyata tidak membawa perubahan signifikan dalam proses belajar mengajar di sekolah. Jika Anda mengambil guru dan menatarnya di lokasi penataran, Anda hanya mengubah variabel guru tapi tidak mengubah variabel-variabel penentu mutu di sekolah.

Bagaimana mesti membenahinya?

Menurut saya, masalah yang luar biasa harus dipecahkan melalui tindakan yang luar biasa. Pertama, ganti kepala dinas pendidikan propinsi dengan orang yang kapabel, mempunyai visi yang jelas, dan mampu menggerakkan seluruh jajaran pendidikan di NTT yang bertanggung jawab memutar roda pendidikan NTT. Ganti kepala dinas kabupaten/kota yang tidak kompeten yang selama tiga tahun ini menunjukkan penurunan prestasi siswa dalam UN.

Kedua, tutup SMA, SMP, dan SD negeri dan swasta yang para siswanya lulus 0% pada tahun 2008, 2009, atau 2010 ini. Pindahkan guru dan kepala sekolahnya yang berstatus PNS ke sekolah-sekolah lain. Inilah bentuk akuntabilitas dinas dan yayasan pendidikan. Lebih baik siswa tidak bersekolah daripada bersekolah di sekolah yang amat tidak bermutu.

Ketiga, ganti kepala sekolah yang siswa-siswanya menunjukkan penurunan prestasi selama dua tahun berturut turut dalam UN dengan kepala sekolah yang kapabel, transparan, dan akuntabel. Keempat, mengembangkan mutu pendidikan NTT hendaknya dimulai dari SD, dengan fokus pembenahan kemampuan calistung (baca, tulis, hitung) siswa dengan menerapkan pendekatan belajar aktif dan dilandasi manajemen berbasis sekolah.

Anda keliling Indonesia melihat dan membenahi pendidikan di tempat lain. Bagaimana Anda melihat mutu pendidikan di NTT dibanding dengan daerah lain?
Indikator mutu pendidikan saya pilih berikut ini. Pertama, tulisan anak-anak kelas 3 SD. Belum pernah saya lihat tulisan anak SD kelas 3 di propinsi-propinsi yang amat tertinggal di bidang pendidikan, seperti Maluku, Maluku Utara, Sulawesi Tengah, dan Papua, yang seburuk tulisan anak anak kelas 3 SD NTT. Terbanyak masih menggambar huruf dan angka. Jelas anak-anak ini tidak bisa membaca dan memahami soal atau tugas kalau menulis saja masih pontang panting. Kemampuan membaca anak-anak kelas 3 dan kelas 5 SD juga parah di daerah-daerah tertentu di NTT.

Kedua, berdasarkan pengamatan dan pengalaman saya merintis inovasi di berbagai daerah di Indonesia, kemampuan siswa-siswa NTT pukul rata dua tahun tertinggal di belakang dibandingkan kemampuan para siswa di Jawa. Jika saya cek kemampuan siswa kelas 5 SD di Kota Kupang, misalnya, ternyata  masih setaraf kemampuan siswa kelas 3 SD di Malang. Kemampuan siswa kelas 3 SMP di Ende masih setaraf kemampuan siswa kelas 1 SMP di Solo. Kemampuan siswa kelas 3 SMA di Maumere masih setaraf kemampuan siswa SMA kelas 1 di Yogyakarta. Ini kesimpulan sementara saya pada awal tahun 2000. Dengan mengamati hasil UN tahun 2008-2010, mungkin perbedaan itu sudah melebar menjadi 3 tahun.

Ketiga, dari segi ketersediaan dan keterjangkauan buku pelajaran bermutu, tampaknya para siswa NTT amat sulit memiliki buku pelajaran mata-mata pelajaran kunci yang diuji dalam UN. Dinas Pendidikan NTT tahun-tahun terakhir ini lebih memilih menggunakan dana BOS untuk membeli buku sekolah elektronik (BSE) yang bermutu rendah, sedangkan untuk membeli buku-buku pelajaran terbitan-penerbit swasta yang bermutu tampak tak ada kemauan dinas pendidikan menggunakan dana APBD. Indikator sederhana yang kasat mata adalah melihat sebesar dan seberat apa tas sekolah yang dibawa para siswa di NTT. Jika kita lihat para siswa SD, SMP, dan SMA bermutu di Jawa dan Bali tampak mereka terbungkuk bungkuk membawa tas sekolah berisi buku. Sebaliknya di NTT, kita lihat para siswa sekolah bermutu di NTT hanya bawa sedikit sekali buku pelajaran. Tas mereka tampak kecil dan kempes.

Kalau begitu terobosan apa yang perlu dilakukan?

Pertama, rintis sekolah model belajar aktif dan TQM (Total Quality Management) di tiap kabupaten/kota. Mulailah dengan 1 atau 3 sekolah per jenjang (SD, SMP, dan SMA). Pengembangan model dilakukan melalui inhouse training dengan mendatangkan konsultan dari PGSD dan FKIP di Undana, Unwira, Unkris, Uniflor, STKIP Ruteng, bekerja sama dengan pengawas dan tim perekayasa kurikulum yang telah dirintis Pusat Kurikulum Balitbang Kemdiknas.

Kedua, dinas pendidikan propinsi dan kabupaten bekerja sama dengan universitas membentuk teacher centers di FKIP Undana, Unwira, Unkris, Uniflor, dan STKIP Ruteng. Tugas teacher centers adalah mendiseminasi gagasan baru, melalukan pendampingan sekolah, dan menatar para guru dan kepala sekolah potensial secara berjenjang dari tingkat elementary, intermediate sampai  advanced.

Ketiga, dalam waktu dua tahun ini dinas pendidikan propinsi dan kabupaten melalui policy gubernur dan bupati membuka dan memperluas jaringan internet sampai ke sekolah-sekolah di pelosok, bekerja sama dengan jaringan internet Kemdiknas. Keempat, Papua telah menyalib NTT karena mutu pendidikan Papua paling tidak dapat didongkrak melalui pendirian sekolah-sekolah berasrama yang dibiayai dengan dana OTSUS. Walaupun dana pendidikan NTT terbatas, tapi apa salahnya kita membantu tarekat suster dan frater serta organisasi Kristen dan Islam yang selama ini telah menyelenggarakan sekolah berasrama yang bermutu agar menambah sekolah- sekolah berasrama untuk siswa SMP, SMA, dan SMK?

Sekolah-sekolah misi dulu sangat hebat. Mengapa tidak diadopsi sekarang?
Satu demi satu sekolah misi berasrama ditutup karena masalah biaya. Para pejabat gereja berpikir bahwa pemerintah sekarang mengelola banyak dana dan mampu membuka sekolah-sekolah baru. Karena itu, tongkat estafet itu diserahkan kepada pemerintah. Kalau pemerintah telah mampu, gereja mundur ke belakang dan hanya memotivasi. Tapi, kita tahu sikap mental birokrat itu cenderung korup dan kejujuran atau transparansi keuangan itu sulit ditegakkan. Disiplin sekolah berantakan. Gereja terlalu cepat mundur ke belakang, padahal awam belum sepenuhnya mampu.  (*)

Berkat Artikel di Kompas
NAMA Sirilus Belen di NTT sepertinya kalah tenar dengan para politisi. Sosoknya juga tidak banyak diketahui. Meski lahir di Makassar,  7 Juli  1950, Sirilus  asli NTT. Bapak dan mamanya dari  Wailebe, Adonara, Flores Timur. Ayahnya, Antonius Sinaama Belen, adalah seorang guru SMP Negeri Airnona tahun 1951-1954.  Ibunya Sophia Belen bekerja di RSU Prof. WZ Johannes, Kupang. Ibunya lebih dikenal dengan panggilan Tanta Belen.

Tubuhnya kecil saja. Penampilannya juga sangat sederhana. Di tengah banyak orang, Anda pasti keliru, tak membayangkan orang ini punya otak cemerlang dan salah seorang periset penting di Balitbang Depdiknas di Jakarta. Di kalangan praktisi pendidikan di Indonesia, namanya sangat terkenal, melambung jauh menembus negeri ini. Klik saja namanya di google.com dan dalam waktu cuma 0,22 detik muncul  491.000 icon yang mencantumkan namanya.

Meski periset, sejatinya Sirilus Belen adalah ‘orang panggung.’ Tahun 1980-an sebelum bergabung di Depdiknas, Sirilus adalah kolumnis surat kabar dengan minat besar pada pendidikan. Bakatnya menulis telah diasa sejak masih mahasiswa di STF/TK (sekarang STFK) Ledalero awal tahun 1970-an.

Hasratnya mengunyah banyak ilmu nyata dari beberapa jenjang pendidikan yang dimasukinya. Setamat Seminari Menengah Lalian, Atambua, Sirilus meneruskan pendidikan di Ledalero. Cita-cita awal menjadi imam. Di jalan, cita-cita ini gagal diraih. Maka,  dia  masuk Undana tahun 1975. Dari Undana, Sirilus masuk IKIP Malang (1979 – 1980). Tamat dari sini, dia masuk lagi di Fakultas Psikologi UI, tetapi tidak tamat.

“Sejak dari IKIP Malang sampai waktu kuliah di UI, saya menjadi kolumnis Kompas. Dari artikel di Kompas, Prof. Dr. Soeroso Prawirohardjo sebagai Kepala Balitbang Depdikbud tertarik dengan ide-ide yang saya lontarkan. Waktu itu Komisi Pembaharuan Pendidikan Nasional (KPPN) baru menyelesaikan tugasnya merumuskan kebijakan jangka panjang sebagai bahan penyusunan draft UU Pendidikan Sistem Pendidikan Nasional. Karena, Pak Daoed Joesoef waktu itu sebagai Menteri Pendidikan belum merasa sreg dengan hasil KPPN, Balitbang Depdikbud diberi tugas mempertajam usulan KPPN melalui penjaringan gagasan- gagasan dari kalangan universitas, yayasan pendidikan keagamaan, dan jajaran departemen di daerah. Pak Soeroso memanggil saya dan menawarkan untuk membantu tugas Satgas pembaharuan sistem pendidikan nasional,” urai Sirilus.

Setelah bekerja sama dengan teman-temannya dari Balitbang Dikbud yang waktu itu berperan sebagai think tank inovasi pendidikan, Sirilus ‘terpaksa’ menjadi PNS. “Karena lebih baik mempengaruhi dari dalam daripada berteriak di luar melalui media massa. Setelah lolos seleksi PNS, Pak Soeroso menempatkan saya di Pusat Kurikulum Balitbang Dikbud. Waktu itu Ibu Conny Semiawan adalah tokoh yang paling gencar merintis berbagai inovasi pendidikan,” jelasnya.
Di dapur Depdiknas, kata Sirilus, beasiswa untuk belajar ke AS amat terbuka. Tapi karena anak ketiganya lahir, dia makin susah mengambil melanjutkan studi S3.  “Dari segi kualitas dan kerja saya merasa tak perlu mendapatkan gelar S3. Setelah terlibat inovasi pendidikan dengan nama CBSA selama 8 tahun, Dr. Roy Gardner, konsultan CBSA terus mendorong saya studi lanjut di Inggris. Karena melihat orang Indonesia menghargai orang dari segi gelar, akhirnya terpaksa saya melanjutkan studi ke London, walaupun anak yang ke 4 belum genap dua tahun. Semula saya mendaftar untuk S2 Sosiologi dan Antropologi, tapi karena Prof. Dr. John Taylor sebagai pembimbing menilai usul research project saya bagus dan kemampuan bahasa Inggris bagus, maka melalui rapat fakultas, saya diperbolehkan langsung proceed ke Ph.D (S3) tanpa melalui jenjang S2,” katanya.

Setelah lama berkiprah dalam pengembangan kurikulum sambil merintis inovasi di daerah-daerah dan menatar para guru, Sirilus berkesimpulan bahwa perubahan pendidikan tidak bisa diharapkan dari atas. “Kita mesti berbalik secara radikal dengan merintis inovasi mulai dari akar rumput, dari sekolah,” katanya.

Nah, dia kemudian berhenti sebagai peneliti dan pengembang lalu terjun langsung membina sekolah di daerah-daerah melalui pengembangan sekolah model. Melalui kerja sama dengan berbagai NGO dan penerbit buku, Sirilus langsung menggerakkan akar rumpul melalui pengembangan sekolah model. Selama ini yang terbanyak adalah SD model dan satu SMA, yaitu SMA Seminari Pematang Siantar sejak tahun 2007. Tahun 2009 melalui kerja sama dengan Save the Children dalam waktu tiga bulan berhasil terbentuk 1 SD model belajar aktif dan manajemen berbasis sekolah (MBS) yang menjadi SD terbaik di Ternate sekarang ini, yaitu SDN BTN Maliaro. Di Pulau Bacan, SDN Labuha 1 dan SDN Mandaong adalah dua SD terbaik di Kabupaten Halmahera Selatan.

Di NTT, melalui program WVI, Sirilus sedang mengembangkan tiga  SD model di Flores Timur. Model yang dikembangkannya adalah inhouse training. Hebatnya, model ini telah diterima dan diadopsi Mendiknas menjadi kebijakan nasional.  (len)

Sumber:

http://www.pos-kupang.com/read/artikel/48270/dr-sirilus-belen-tas-anak-sekolah-ntt-kempes

 

Kunjungilah posting yang berkaitan:

https://sbelen.wordpress.com/2013/04/20/bagaimana-ujian-nasional-un-di-belanda/

https://sbelen.wordpress.com/2013/04/17/sedih-menyaksikan-amburadulnya-ujian-nasional-un-tahun-ini/

https://sbelen.wordpress.com/2010/05/08/ganti-sistem-ujian-nasional-dengan-menerapkan-sistem-open-book-test-dan-tes-terstandar/

https://sbelen.wordpress.com/2008/12/29/belajar-aktif-pakem-ujian-nasional-un-ibarat-air-dengan-minyak/

https://sbelen.wordpress.com/2011/08/08/mengapa-mutu-pendidikan-finlandia-terbaik-di-dunia/

https://sbelen.wordpress.com/2011/05/15/mengapa-peringkat-kelulusan-un-2011-siswa-smantt-tetap-di-nomor-buntut/

https://sbelen.wordpress.com/2011/01/11/3-tahun-banyak-siswa-tak-lulus-un-pecat-guru/

https://sbelen.wordpress.com/2008/07/30/tes-remidial-di-sd-sma-dan-sma-itu-salah-kaprah/

https://sbelen.wordpress.com/2008/07/09/mengapa-kita-memaksa-siswa-mempelajari-semua-mata-pelajaran/

 

 

Iklan

 

 

 

Echo_Sooyoung_02

Human heart

Kunjungi posting ini:

https://sbelen.wordpress.com/2013/05/03/bawang-putih-cuka-apel-madu-jahe-lemon-jantung-sehat-tubuh-bugar/

https://sbelen.wordpress.com/2013/04/15/sano-ramuan-herbal-berkhasiat-mulai-bisnis-di-usia-62-tahun/

Gambar spanduk Sano

sano-menyuburkan-wanita-juga-pria

Kartu nama Yuni 3

Tag: , , , ,

6 Tanggapan to “Hasil UN NTT jeblok: Tas Anak Sekolah NTT Kempes”

  1. Etty Says:

    Jika bersungguh-sungguh mau lebih baik, pasti di situ ada jalan….

  2. Stefen Says:

    Ya…..IQ anak NTT tidak kalah bersaing dengan mereka yang di luar NTT tapi motivasi yang tidak ada karena para elit pendidikan saja tidak memahami metodologi pendidikan, Yang dipahami adalah bagaimana mendapatkan jabatan. Soal prestasi itu urusan anak kalau sudah di plus dengan guru yang tidak linear apa yang terjadi ??????

    Barometer untuk mengetahui kemampuan IQ anak NTT adalah mereka yang sekolah di luar NTT pada umumnya masuk 10 besar. Jadi, sekolah-sekolah yang selama lebih 3 tahun berprestasi tidak baik bigabungkan saja karena yang hilang jabatan. Daripoada kaya jabatan miskin kualitas.

  3. Ipi Says:

    Saya dibesarkan dan dididik di Larantuka oleh guru-guruku yang berdedikasi tinggi. Mereka jujur dan tekun. Saya tidak kaget bila dewasa ini banyak anak yang tidak lulus. Ini bukan karena salah mereka, bukan salah anak-anak, juga bukan salah orang tua dan masyarakat. Tapi ya… tidak seperti tempat lain. Yang lulus di provinsi lain belum tentu LULUS UJIAN tapi yang TIDAK LULUS UN DI NTT mereka lulus sebenarnya.

  4. bUNDA gINA YEYE Says:

    Udah lama saya di perantauan, ya di pedalaman Kalimantan… Banyak teman yang tidak berhasil di nagi, tapi di rantau mereka berhasil dalam pendidikan. Ada yang jadi pewaris dari Yesus untuk guru agama… Mereka hebat dan pandai. Banyak koor di rantau diikuti orang nagi. Saya juga seorang guru yang hampir 27 tahun mengabdi di pedalaman Kalimantan Barat. Guru-guru saya ada yang masih hidup, guru SD, SMP San Pankratio yang sudah ditutup, SMA PGRI. Saya salut dengan guru-guruku yang hebat dan baik. Saya tahu bahwa guru-guru di Nagi sekarang juga sama hebatnya dengan semua guru yang mendidik anak bangsa. Anak-anak murid juga saya sangka sama, mempunyai keinginan belajar yang tinggi,orang tua juga. Saya tidak tahu mengapa sampai begini.

  5. jefri andrade Says:

    iya ampunn ksian bangat propsi ntt,, pkox qt doakn saja mudh’ NTT thun kdepanx lbih baik…,, n lebih mningkat presentsi klulusanx bila perlu 100% .. amen

  6. Gabriel Michael Kia Tolok Says:

    Rupanya pemerintah NTT dan pejabat yang terkait dengan pendidikan tuli dan buta dengan hasil UN semua unit satuan pendidikan di NTT. Krisis moral dan kepedulian terhadap keadaan itu tidak ada pada mereka. Mereka lebih getol studi banding ke tempat lain dan menghabiskan dana (uang rakyat) secara sia-sia tanpa hasil, tetapi lupa untuk melakukan perbaikan dan langkah konkret untuk mengantar peserta didik (= baca generasi muda NTT) keluar dari persoalan itu.

    Tidak ada kata terlambat
    Kita lupa bahwa dengan begitu kita memberikan stigma buruk dan negatif kepada anak-anak NTT sendiri. Ketika mereka yang berhasil menyelesaikan pendidikannya di perguruan tinggi maupun mereka yang mungkin nasibnya tidak beruntung dan langsung mencari pekerjaan akan diinterview, “Fernandes dari mana, Boli atau Pareira atau Dhae dari mana? Dari NTT, oh dari NTT? Kamu dari NTT? Kamu bisa apa? Secara tidak sadar akan tercipta pemikiran seperti itu. Mereka akan kalah bersaing dengan lulusan dari tempat lain, belum lagi mereka akan tertekan secara psikologis. Untuk itu saya mengajak semua pihak, buatlah analisis yang mendalam dan komprehensif mengenai akar permasalahan yang ada. Lantas, buat renstra yang bagus demi langkah perbaikan secara bertahap, terukur, teruji demi memperbaiki persentasi kelulusan dan yang terpenting adalah mutu kelulusan siswa NTT. Belum ada kata terlambat. Tidak ada orang lain yang lebih hebat yang mampu memperbaiki orang NTT (= baca pendidikan), kecuali orang NTT sendiri. Kita Bisa!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: