Mengapa peringkat kelulusan UN 2011 siswa SMA NTT tetap di nomor buntut?

Sumber: Padang Ekspres, 14 Mei 2011

Hari ini ketika kami sedang menatar 100 guru TK, SD, SMP, dan SMA Prayoga dari 3 kota di Sumatera Barat (Bukittinggi, Padang Panjang, dan Payakumbuh) di Bukittingi, Pak Siregar, ketua yayasan memberi saya koran lokal Sumatera Barat yang memberitakan NTT menduduki peringkat buntut hasil ujian SMA dan SMK sedangkan Bali tetap di peringkat I. Aceh peringkat 5, Sumatera Barat peringkat 6 (tahun lalu masuk 10 besar).

Saya sedih dan malu sekali di hadapan para guru dan kepala sekolah dalam forum penataran ini.

Dari data yang saya miliki NTT berada di nomor buntut sejak 2008 s.d. 2011. Tampaknya sebelumnya juga pada nomor buntut tapi tidak disiarkan secara nasional.

Tabel peringkat hasil UN SMA 2011 per provinsi

Lalu, apa langkah perbaikan mutu pendidikan NTT seperti yang kami usulkan pada liputan khusus Pos Kupang tahun lalu telah dilakukan? Lihat http://www.pos-kupang.com/read/artikel/48270/dr-sirilus-belen-tas-anak-sekolah-ntt-kempes

Tidak ada perbaikan signifikan yang dilakukan. Nol besar. Sepuluh usul atau gagasan yang kami lontarkan untuk membenahi pendidikan NTT terbang bersama angin di sabana NTT. Memang gue pikirin? Perkenankan menyimak kembali ke-10 usul / gagasan itu.

1.      Masalah yang luar biasa harus dipecahkan melalui tindakan yang luar biasa. Pertama, ganti kepala dinas pendidikan provinsi dengan orang yang kapabel, mempunyai visi yang jelas, dan mampu menggerakkan seluruh jajaran pendidikan di NTT yang bertanggung jawab memutar roda pendidikan NTT. Usul ini tidak dilakukan.

2.      Ganti kepala dinas kabupaten/kota yang tidak kompeten yang selama tiga tahun ini menunjukkan penurunan prestasi siswa dalam UN. Usul ini umumnya tidak dilakukan. Kepala dinas kabupaten yang diganti hanya yang memasuki pensiun, seperti di Lembata.

3.      Tutup SMA, SMP, dan SD negeri dan swasta yang para siswanya lulus 0% pada tahun 2008, 2009, atau 2010 ini. Pindahkan guru dan kepala sekolahnya yang berstatus PNS ke sekolah-sekolah lain. Inilah bentuk akuntabilitas dinas dan yayasan pendidikan. Lebih baik siswa tidak bersekolah daripada bersekolah di sekolah yang amat tidak bermutu. Usul ini umumnya tidak dilakukan.

4.      Ganti kepala sekolah yang siswa-siswanya menunjukkan penurunan prestasi selama dua tahun berturut-turut dalam UN dengan kepala sekolah yang kapabel, transparan, dan akuntabel. Umumnya usul ini tidak dilakukan.

5.      Mengembangkan mutu pendidikan NTT hendaknya dimulai dari SD, dengan fokus pembenahan kemampuan calistung (baca, tulis, hitung) siswa dengan menerapkan pendekatan belajar aktif dan dilandasi manajemen berbasis sekolah. Usul ini umumnya tidak dilakukan. Hanya satu-dua yayasan yang melakukan pelatihan selama 1 tahun ini. Pelatihan yang dilakukan dinas hanya sporadis, sedikit di sana-sini dan model pelatihannya ya 1 arah, ceramah, dan ini jelas tak bisa mengubah kemampuan guru. Materi penataran pun dominan diisi pembuatan silabus dan RPP, perangkat pembelajaran,  dokumen administrasi guru.

6.      Dinas Pendidikan NTT tahun-tahun terakhir ini lebih memilih menggunakan dana BOS untuk membeli buku sekolah elektronik (BSE) yang bermutu rendah, sedangkan untuk membeli buku-buku pelajaran bermutu terbitan penerbit swasta tampak tak ada kemauan dinas pendidikan menggunakan dana APBD. Usul ini umumnya tidak dilakukan.

Pemerintah pusat menggelontorkan dana 1 milyar per kabupaten di NTT untuk memperbaiki mutu pendidikan di NTT. Dari seorang kepala dinas kabupaten, saya tanya digunakan untuk apa uang 1 milyar itu. Dana itu langsung diberikan kepada sekolah. Lalu, apa yang dilakukan kepala sekolah. Membeli semen untuk membangun ruang belajar atau merenovasi sekolah. Saya bilang semen itu tidak bisa meningkatkan mutu.

7.      Rintis sekolah model belajar aktif dan TQM (Total Quality Management) di tiap kabupaten/kota. Mulailah dengan 1 atau 3 sekolah per jenjang (SD, SMP, dan SMA). Pengembangan model dilakukan melalui inhouse training dengan mendatangkan konsultan dari PGSD dan FKIP di Undana, Unwira, Unkris, Uniflor, STKIP Ruteng, bekerja sama dengan pengawas dan tim perekayasa kurikulum yang telah dirintis Pusat Kurikulum Balitbang Kemdiknas. Usul ini tidak dilakukan. Kami sendiri yang direncanakan mengembangkan sekolah model di Lembata, ternyata ditunda dan baru akan dimulai Juli ini.

8.      Dinas pendidikan provinsi dan kabupaten bekerja sama dengan universitas membentuk teacher centers di FKIP Undana, Unwira, Unkris, Uniflor, dan STKIP Ruteng. Tugas teacher centers adalah mendiseminasi gagasan baru, melalukan pendampingan sekolah, dan menatar para guru dan kepala sekolah potensial secara berjenjang dari tingkat elementary, intermediate sampai  advanced. Usul ini masuk telinga kiri keluar melalui telinga kanan.

9.      Ketiga, dalam waktu dua tahun ini dinas pendidikan provinsi dan kabupaten melalui policy gubernur dan bupati membuka dan memperluas jaringan internet sampai ke sekolah-sekolah di pelosok, bekerja sama dengan jaringan internet Kemdiknas. Gagasan ini sama sekali tidak digubris. NTT tetap terisolasi.

10.     Papua telah menyalib NTT karena mutu pendidikan Papua paling tidak dapat didongkrak melalui pendirian sekolah-sekolah berasrama yang dibiayai dengan dana OTSUS. Walaupun dana pendidikan NTT terbatas, tapi apa salahnya kita membantu tarekat suster dan frater serta organisasi Kristen dan Islam yang selama ini telah menyelenggarakan sekolah berasrama yang bermutu agar menambah sekolah- sekolah berasrama untuk siswa SMP, SMA, dan SMK? Gagasan ini terbang bersama angin, tak disambut.

Kalau guru tidak bermutu, ya pakai buku pelajaran bermutu karena setidak-tidaknya siswa dapat membantu dirinya sendiri didukung orang tua dan saudara atau tetangganya untuk mencerna buku itu. Tapi, apa kata kepala sekolah, guru, dan siswa di Flores? Pak, kalau bisa kirim kami buku-buku soal, dan kalau dapat bocoran soal UN kirim kepada kami. Saya bilang, mutu tidak bisa diraih secara instan. Perbaiki dan tingkatkan proses belajar-mengajar, dan dengan sendirinya mutu meningkat dan prestasi UN luar biasa. Ini sudah terbukti di sekolah-sekolah sekolah model yang telah kami bantu kembangkan.

Pendekatan strategis seperti ini hanya disadari oleh segelintir the small rest, sisa kecil yang mau bangkit dari keterpurukan. Sebagai contoh dan untuk informasi berikut ini dikemukan contoh berikut ini. Dalam waktu dekat kami diminta oleh SMP  Immanuel dan SMA St. Paulus Pontianak untuk memulai pengembangan dua sekolah ini menjadi sekolah model belajar aktif dan manajemen berbasis sekolah. Mungkin pula kami akan menatar guru-guru SMP Al Azhar dan sekolah-sekolah di Ketapang, Kalimantan Barat pada akhir Juli. Minggu lalu Fr Sarto menelepon dari SMA Ndao Ende agar tanggal 6 – 9 Juli kami membantu mengembangkan SMA ini menjadi sekolah model. Kami usulkan diikutkan juga SMP Ndao. Tadi siang di Bukittinggi Pak Siregar dan Ibu Silvia kepala SMA Prayoga meminta kami untuk membantu mengembangkan SMA ini menjadi sekolah model. Kalau tak ada aral melintang Juli ini kami akan memulai pengembangan sekolah model di Lembata.

Lalu, apa prakarsa dinas pendidikan provinsi dan kabupaten di NTT untuk melakukan terobosan inovasi pendidikan NTT guna meningkatkan mutu sekolah-sekolahnya? Mengapa hanya siswa yang divonis tidak lulus ujian nasional? Mengapa tak ada sanksi bagi pejabat pendidikan, kepala sekolah, dan guru yang tidak mampu mendidik anak agar lulus UN? Di manakah hati nurani kita ditaruh?

NTT-ku sayang, NTT-ku malang.

Kunjungilah posting yang berkaitan:

https://sbelen.wordpress.com/2013/04/20/bagaimana-ujian-nasional-un-di-belanda/

https://sbelen.wordpress.com/2013/04/17/sedih-menyaksikan-amburadulnya-ujian-nasional-un-tahun-ini/

https://sbelen.wordpress.com/2010/05/08/ganti-sistem-ujian-nasional-dengan-menerapkan-sistem-open-book-test-dan-tes-terstandar/

https://sbelen.wordpress.com/2008/12/29/belajar-aktif-pakem-ujian-nasional-un-ibarat-air-dengan-minyak/

https://sbelen.wordpress.com/2011/08/08/mengapa-mutu-pendidikan-finlandia-terbaik-di-dunia/

https://sbelen.wordpress.com/2011/01/11/3-tahun-banyak-siswa-tak-lulus-un-pecat-guru/

https://sbelen.wordpress.com/2008/07/30/tes-remidial-di-sd-sma-dan-sma-itu-salah-kaprah/

https://sbelen.wordpress.com/2008/07/09/mengapa-kita-memaksa-siswa-mempelajari-semua-mata-pelajaran/

https://sbelen.wordpress.com/2011/05/16/hasil-un-ntt-jeblok-tas-anak-sekolah-ntt-kempes/

 

 

 

Iklan

1243328602_school-abuse

Human heart

Kunjungilah posting ini:

https://sbelen.wordpress.com/2013/05/03/bawang-putih-cuka-apel-madu-jahe-lemon-jantung-sehat-tubuh-bugar/

Gambar spanduk Sano

Kartu nama Yuni 3

Tag: , , , , ,

10 Tanggapan to “Mengapa peringkat kelulusan UN 2011 siswa SMA NTT tetap di nomor buntut?”

  1. Stefanus Notan Tupen Says:

    Saya pada prinsipnya sangat setuju dengan ulasan dan perhatian Bapak, mutu pendidikan di NTT harus dibenahi. Menurut pengamatan saya untuk administrasi pembelajaran semua guru di NTT OK. tapi dalam pelaksanaan pembelajaran (di depan kelas) guru kebanyakan tidak memahami apa yang telah ia jabarkan dalam RPP (copy paste), yang bermuara pada evaluasi.

    Penekanan pada evaluasi proses tapi sangat disayangkan ketika evaluasi yang dilihat adalah nilai postnya, sehingga siswa bisanya menghafal dan tak mengulangnya kembali. Begitu soal yang diberikan untuk indikator yang sama tapi kalimatnya diubah siswa tak berkutik. Ini merupakan salah satu problem yang dihadapi. Terima kasih

  2. Etty Says:

    Sebelum memutuskan, ada baiknya dilakukan penelitian obyektif, cari akar permasalahannya, baru ada action… sesuai akar permasalahannya.
    Waktu saya ke NTT, ngobrol2 dengan para siswanya, lumayan bagus, cerdas, diskusi nyambung.. Saya juga pernah menatar guru2 MA- NTT di jakarta, lumayan kritis, seru berdiskusi………… Ada apa dengan NTT????

  3. Robert Valentino Says:

    Saya amat mengapresiasi sejumlah solusi yang Bapak tawarkan untuk memacu peningkatan mutu pendidikan di NTT. Praktis, realistis, dan rasional. Benturan ada pada batu birokrasi yang seakan tidak bergeming dari kemapanannya. Sementara itu ada trend guru lebih-lebih yang PNS lebih melihat dirinya sebagai PNS dengan segala hak-hak PNS yang diperjuangkan, ketimbang dirinya sebagai guru dan pendidik. Masih banyak yang kaya kata, miskin kreasi, kiat, dan strategi. Walau begitu, guru umumnya memang masih terabaikan peningkatan dan penyegaran kompetensinya.

    Ada satu hal yang sedikit mengganggu, pada butir 2 tentang usul mengganti Kepala Dinas yang tidak kompeten selama 3 tahun berturutan, dengan contoh hanya Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Lembata yang diganti karena pensiun. Sepengetahuan saya: usul bapak dimuat Pos Kupang tanggal 24 Mei 2010 (tentu maksudnya untuk dapat disikapi ke depan), padahal pergantian Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Lembata yang karena pensiun tersebut terjadi pada pertengahan tahun 2008.

    • S Belen Says:

      Terima kasih, Robert Valentino. Ya, kepala dinas pendidikan Lembata yang diangkat tahun 2008 itu digantikan oleh Bapak Alex Makin pada tahun 2011 karena kepala dinas yang lama memasuki masa pensiun. Semoga pendidikan di Lembata bisa maju di tangan pemimpin yang baru.

  4. valdano kleden Says:

    Pendidikan di NTT sudah sangat menyedihkan dan bisa dibilang darurat!! 3th sudah selalu mendapat nomer buntut. Bsa disimpulkan bahwa pihak2 yang menangani pendidikan di NTT tidak becus!!! Harus ada lngkah2 radikal untuk mengatasi permasalahan ini!!!
    Hanya keledai yang masuk ke lubang yang sama untuk kedua kalinya!!!

  5. kuswandi batubara Says:

    Terima kasih kepada para guru yang dengan setulus hati, sepenuh jiwa mendidik para siswanya. Semoga pendidikan di Indonesia semakin baik tanpa melupakan prinsip-prinsip Shiddq, amanah, tabligh, Fathanah.

  6. fritz Says:

    Saya pikir orang NTT tidak bodoh, namun yang perlu dibenahi adalah fasilitas, sarana dan prasarananya. Para kepala dinas pendidikan di semua kabupaten di NTT perlu perhatikan hal ini secara serius. Kalau tidak kita terus akan malu di tingkat nasional tiap tahunnya seperti ini. Simak dan siasati secara tepat dan serius mulai sekarang!!!!!!!

    shalom

    • Nho Says:

      Iya. Sebenarnya pelajar NTT punya kemampuan yang baik. Namun mereka kekurangan sarana dan prasarana. Ini yang perlu diperhatikan.

      • S Belen Says:

        Dear Nho,

        Benarlah pernyataan Nho, pelajar NTT itu punya kemampuan yang baik. Pelajar SMA NTT di seminari-seminari dan di sekolah berasrama seperti SMA Syuradikara di Ende lulus 100%. Pendidikan berasrama sejak dahulu kala sejak tahun 1913 didirikan di NTT telah menghasilkan imam, awam, dan tokoh yang unggul. Kini ada sekitar 400-an imam misionaris dikirim ke 42 negara di 5 belahan benua. Banyak tokoh yang meraih gelar Doktor di dalam dan di luar negeri. Ada Prof Dr W Z Yohannes yang pernah menjadi Rektor UI, Ir Johannes yang menjadi Menteri Pekerjaan Umum, Drs.Frans Seda yang menduduki posisi sebagai menteri pada berbagai kementerian dan menjadi penasihat 5 presiden. Terbanyak tokoh itu berasal dari sekolah-sekolah berasrama.

        Dalam perkembangan kemudian, satu demi satu SMP dan SMA berasrama ditutup. Siswa yang tinggal di rumah umumnya tidak didukung sarana belajar yang memadai, tidak punya buku pelajaran bermutu, penerangan di rumah sulit karena belum ada listrik, pesta-pesta adat, dan orang tua yang masih memakai kekerasan verbal dan fisik untuk mendisiplinkan anak. Karena itu, sekolah berasrama adalah alternatif terbaik. Untuk memperbaiki mutu pendidikan NTT, kalangan umat Katolik, Protestan, dan Islam hendaknya menggalakkan kembali sekolah berasrama.

        Pelajar Papua bertambah bagus karena banyak didirikan sekolah berasrama dengan dana OTSUS. Papua meniru sistem sekolah berasrama NTT, NTT malah melepas tradisinya yang telah terbukti ampuh. Tetap optimis. There will be a light in the end of a tunnel.

  7. vinsen dts Says:

    Orang NTT umumnya prihatin dengan mutu (persentase UN) pendidikannya. Sudah banyak dibicarakan, tapi aksi nyata yang benar-benar efektif tidak ada. Mungkin benar kata Etty, “perlu dilakukan penelitian objektif” dulu baru beraksi. Mungkin karena tanpa penelitian seperti ini, aksi yang dilakukan selama ini tidak tepat dan hasil akhirnya nol besar juga.

    Saya coba membeberkan satu-dua sebab mencolok yang mungkin:

    1. Mutu soal yang disiapkan oleh guru rendah. Jadi siswa di sekolahnya masing2 sudah terbiasa mengerjakan soal yang mutunya rendah, mudah, dan karenanya tes di sekolahnya pasti baik (tuntas). Ketika UN tiba, siswa merasa asing, sok dengan soal2 bermutu yang harus dikerjakannya. Ibarat seorang petinju yang berlatih hanya 1-2 ronde tiap sesi latihan, dan saat bertanding harus bertinju 12 ronde.

    2. Praktik merekayasa nilai. Dulu tidak naik kelas itu hal biasa…tapi sekarang itu luar biasa. Sekarang, naik kelas menjadi otomatis karena para guru dengan entengnya menaikkan nilai siswanya, dengan alasan macam2, mulai dari alasan kemanusiaan sampai reputasi pribadi. Praktik ini meluas karena sebagian besar guru di sekolah-sekolah sekarang ini adalah produk dari praktik seperti ini juga. Apa dampaknya terhadap siswa? Dia tidak mengenal diri dan kemampuannya dan, lebih jelek lagi, dia merasa diri orang pintar, karena tanpa belajar pun nilai rapornya bagus.

    Bapak sebagai alumni seminari tentu masih ingat betapa anak seminari belajar “membabi buta” hanya karena takut tidak naik kelas dan dikeluarkan dari seminari. Ketakutan tidak naik kelas di kalangan siswa sekarang ini tidak ada. Hanya satu yang mereka tahu: APAPUN HASIL TESNYA, PASTI NAIK KELAS.

    3. Karena begitu mudahnya naik kelas, dan praktik katrol nilai, siswa menghindari kerja keras. Ketika menghadapi soal yang sulit, ia mudah menyerah dan bukannya terus berusaha mempelajarinya… Guru yang sedikit ketat dalam memberi tes dan penilaian dimusuhi, dan guru yang “main2” jadi idola.

    4.Kualitas guru rendah. Saya pikir sertifikasi guru menjadi sarana seleksi guru berkualitas…tapi ah,…mengecewakan…ternyata itu cuma sarana mendapat uang…Faktanya tak ada beda antara guru bersertifikasi (yang diharapkan profesional) dengan yang non-sertifikasi

    Komentar Bapak?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: