Bencana Merapi: Mencekam dan tak tahu kapan berakhir

Kami kini berada untuk tugas di Jogja. Masyarakat Jogja dan sekitarnya kini tercekam ketakutan. Tadi malam sekitar lewat jam 12 Gunung Merapi meletus yang terhebat sejak letusan tanggal 26 Oktober. Material yang terlempar ke angkasa mencapai 10 km, tertinggi sejak 100 tahun terakhir menurut catatan badan vulkanologi. Material yang dikeluarkan Merapi sebelum kejadian tadi malam sudah mencapai 50 juta meter kubik.

Wedhus gembel, awan panas yang paling ditakuti

Tadi malam baru pertama kali dalam hidup ini saya mendengarkan gemuruh Merapi seperti guntur yang tak berkesudahan. Penduduk dalam radius 20 km dari titik kawah Merapi diharuskan mengungsi melalui seruan di masjid-masjid, bunyi kentongan, dan sirene setelah diputuskan Dr Surono, Kepala Badan Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Jogjakarta. Dalam kepanikan sejauh ini tercatat 5 jenasah yang ditemukan tak sempat menyelamatkan diri, tewas karena wedhus gembel, awan panas 600 derajat Celcius yang bergerak 200 km per jam disertai batu, pasir, dan debu.

Lahar dingin kini sudah mengalir antara lain melalui Kali Code yang melewati Kota Jogja. Kini lahar dingin di Kali Code meluap sambil membawa juga sapi-sapi yang mati, Hari ini kami lihat sendiri banjir lahar dingin yang coklat-hitam pekat. Kota Jogja diselimuti debu yang menyakitkan mata dan mengganggu pernapasan. Sekolah-sekolah diliburkan.

Di Stadion Maguwoharjo di Jogja dekat Universitas Sanata Dharma kini dihuni 36 ribu lebih pengungsi. Boyolali termasuk wilayah yang terkena dampak parah tapi bupatinya malah mengadakan studi banding ke Bali. Sejauh ini tercatat 64 orang meninggal dan seratus lebih luka-luka. Ribuan sapi dan kambing terbakar gosong. Rumah-rumah, persawahan, dan kebun luluh lantak. Presiden SBY datang ke Jogja mengunjungi pengungsi hari Selasa tapi Pemda membuat tipuan dengan menyuruh sebagian pengungsi ke dusunnya sehingga tampak barak pengungsi tidak terlalu berjejalan manusia. Ada pengungsi yang dibagikan selimut tapi bersifat pinjaman, akan diambil kembali setelah presiden pergi. Presiden mengajak masyarakat tabah. Hari ini presiden akan datang lagi dengan pesawat udara yang akan mendarat di Semarang sehingga sampai Pukul 10 malam ini jalan raya dari Semarang ke Jogja ditutup untuk angkutan umum, padahal warga masyarakat berbondong-bongong mengungsi ke Semarang, Surabaya, dan Jakarta.

Pak Surono adalah orang yang paling diharapkan mengambil keputusan yang tepat karena keputusan yang salah akan berakibat fatal. Beliau mengaku sudah 5 hari tidak tidur karena harus terus memantau gerak-gerik Merapi melalui gardu-gardu pemantau yang kini sudah dimundurkan makin jauh dari gunung. Dan, wartawan TV jika mewawancarainya tidak to the point dan terkadang dia jawab secara tegas dengan gaya orang Jawa yang tidak kasar.

Pemimpin yang solider dengan sesama dan konsisten melaksanakan tugas sebagai juru kunci Merapi sampai gugur dalam keadaan sujud berdoa. Kata Mbah Marijan, bahwa kita jangan mau enaknya saja dari Merapi, kita juga harus menderita waktu Merapi murka.

Mohon dukungan doa kita semua agar aktivitas Merapi mereda, tidak makin meningkat. Bencana Merapi tidak membeda-bedakan kaya dan miskin. Semua warga Jogja, Magelang, Boyolali kini terkena dampak bencana. Debu mencapai Bandung dan Sukabumi di Jawa Barat.  Ada uang juga susah karena bahan makanan mulai sulit didapat. Kita solider dengan sesama kita yang dirundung derita yang sulit diprediksi kapan berakhir.

Salam solidaritas

 

Jogja diselimuti debu Merapi pada 5 November 2010

Tag: , , , , ,

6 Tanggapan to “Bencana Merapi: Mencekam dan tak tahu kapan berakhir”

  1. Clarina CIJ Says:

    Terima kasih banyak bapak S.Belen, atas informasinya. Kita semua berdoa agar “badai ini segera berlalu” seperti yang dikehendakiNya.

    • S Belen Says:

      Dear Clarina CIJ, terima kasih atas tanggapannya. Gemuruh dari lubang kawah Merapi adalah gemuruh hati kita yang berempati dan berbela rasa dengan saudara-saudara kita dalam sejuta doa berseru-seru agar bencana ini segera berakhir.

      Pagi-pagi kami membeli nasi bungkus dan ibu yang menjual hanya memberi separuh porsi dari yang kami minta. Kata ibu itu, saya harus batasi agar lebih banyak nasi bungkus dikirim ke barak pengungsi. Ibu ini menjadi teladan action yang menyertai doa.

  2. S Belen Says:

    Pembaca budiman,

    Perkenankan kami muat komentar teman-teman via email sbb:

    Terimakasih Cyl utk info ini. Jaga keselamatan. Kalo bisa, utk sementara, stop dulu rokok ka. Nanti tidak jelas, isap asap rokok atau wedhus gembel heheheh….
    Yang tak habis mengerti, koq dalam situasi bencana begini, masih sempat2nya juga para elit itu ber-tipu-daya ya… Gak ngerti, moralitas semacam apa yang mereka peragakan ini. Setahu saya, bumi nusantara lahan kesuburan jiwa. Semoga Merapi sudah merekam siapa tulus dan tidak tulus dalam situasi begini..Doa kami dari Jakarta…

    broer-gb

    Yth. Bapak Belen S

    Trimakasih informasinya Bapak.
    Salam
    Eny W dari Tulung Agung

    Terima kasih Sil atas info sebagai saksi mata, beritanya hidup, tapi menyedihkan kita. Kita, dari bencana ke bencana, dan susahnya orang kecil yang tak berdaya, menderita bencana seribu kali.

    Martin Bhisu dari Paraguay, Amerika Latin

    Selamat pagi bapak dan ibu, terima kasih atas info dan berita terkini tentang Merapi. Kami cuma dapat mereka lewat layar televisi, tapi hampir pasti yang ditayangkan itulah yang bagus dan aman terkendali, ternyata masih banyak tempat yang disembunyikan demi nama dan ABS.

    Kita cuma dapat mendoakan semoga Tuhan pencipta Gunung Merapi dan kita semua itu sanggup dan pasti mengatur YANG TERBAIK bagi setiap anakNYA. Bapak dan Ibu, hati-hati ya di Jogya. Rencana kapan balik? Selamat bertugas dan God Bless You.

    Clarina dari Ende, Flores, NTT

  3. Faesol Says:

    Pak Belen
    Makasih atas foto2nya – menambah secara personal apa yang kita terima dari reportase TV-TV.
    Semoga cobaan dari Allah SWT ini bisa membuat kita menjadi orang yang lebih baik lagi bagi sesamanya dan bagi lingkungannya sehingga tak perlu ada lagi kerusakan lingkungan. Amin
    Makasih Pak Belen dan selamat kerja
    Faesol

  4. Hendrik Rogan Ole Says:

    Pak Sil dan Ibu, terima kasih atas informasi tentang situasi masyarakat Yogya dan sekitarnya akibat letusan Merapi. Susah benar masyarakat kita. Dalam situasi seperti ini butuh pemimpin yang bekerja demi korban dan bukan demi status. Saya doakan agar dalam situasi demikian Tuhan buka hati dan mata kita agar lebih banyak orang rela bersolidaritas dengan mereka yang menderita. Salam

  5. Sr Marsela,SSpS Says:

    Pak Sil dan Ibu Yuni, Salam dari Russia.
    Terima kasih banyak untuk beritanya dan juga foto2 saat Merapi meletus.Saya ingat waktu masih kuliah di Yogya, saya dan teman2 sering bersepeda motor bermalam minggu ke kaki Gunung Merapi. Dulu Merapi sangat indah dan sejuk, ternyata di balik itu tersembunyi api, lahar, abu panas yang membahayakan dan mematikan. Besok saya akan mengajak umat di paroki kami supaya mendoakan warga Yogya dan Merapi khususnya.
    Ok bapak dan ibu selamat ber-weekend

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: