Asmara Nababan, pahlawan HAM sejati tanpa tanda jasa

 

 

Agak lama tak melihat Pak Asmara tampil di TV memperjuangkan hak asasi sesama warga bangsa, tiba-tiba saya baca dari running text di TV, Pak Asmara telah meninggal dunia.

 

Kebetulan dalam riwayat perjuangan aktivis amat hebat dan excellent ini, kami sempat bekerja sama soal penegakan HAM tatkala Pak Asmara menjadi anggota KOMNAS-HAM yang menangani pendidikan HAM pada awal tahun 1998 bersama Prof Sutandyo dan Prof Saparinah Sadli.

 

Berkat dorongan ketiga tokoh ini, kami berkesempatan berbagi pengalaman bagaimana melaksanakan pelatihan, training of trainers pemerhati dan pegiat HAM dari kalangan TNI, kepolisian, ulama dan rohaniwan, dan pendidik dengan gaya belajar aktif. Pelatihan perdana akhirnya dimulai pada Mei 1998. Sehari menjelang kerusuhan Mei 1998 yang kemudian menumbangkan rezim Orde Baru, kami masih terlibat sebagai peserta pelatihan HAM di Puncak, Bogor. Pak Asmara dan Pak Sutandyo berani menerobos masuk ke Jakarta untuk menghubungi tokoh-tokoh, seperti Megawati Soekarnoputri, Gus Dur, dan Amin Rais secara langsung atau melalui orang kepercayaannya agar memprakarsai pembentukan triumvirat untuk mengambil alih kekuasaan sementara bila Presiden Suharto tumbang dari tahtanya. Triumvirat ini akan memimpin dan mempersiapkan pemilihan umum presiden. Namun, gagasan triumvirat ini gagal karena ketiga tokoh itu masing-masing ingin menjadi presiden.

Pak Asmara waktu mendeklarasikan resolusi untuk mengadili mantan Presiden Soeharto

 

Sepulang dari Jakarta ke Puncak kami berbagi cerita pengalaman manusia pemberani yang masuk ke ibukota tatkala massa sudah menjejali dan menutup jalan-jalan utama ibukota. Mereka naik mobil kijang dan dipasang label Komnas HAM di kaca depan. Lama-lama mereka khawatir jangan sampai ada dari massa yang mengamuk karena pengaduannya ke Komnas HAM tak terlayani.  Label itu pun dicabut.

 

Sampai tengah malam tinggal kami bertiga bersama Pak Mansoer Fakih, pendiri LSM Insist di Jogjakarta yang menjadi pelatih kami, mengobrol tentang nasib bangsa. Pendapat saya cuma berciri spekulatif. Waktu Pak Harto di bandara tersenyum dalam wawancara sebelum berangkat ke Mesir saya mendapatkan firasat, ini adalah perjalanan terakhir Pak Harto ke luar negeri sebagai presiden. Menurut pendapatku, Pak Harto bakalan jatuh karena kondisi negara mirip sebelum kejatuhan Presedian Soekarno. Pertama, harga beras naik, tarif angkutan umum dinaikkan, dan ada mahasiswa di Medan yang tewas dalam demonstrasi melawan Orde Baru.

 

Pak Asmara mengatakan, ya, saya merasa kasihan kepada diri sendiri, karena waktu masih mahasiswa saya turut berjuang menjatuhkan Soekarno untuk menaikkkan Pak Harto jadi presiden. Dan, sekarang sejarah terulang dan saya berada pada posisi menggusur Soeharto.

 

Obrolan bertiga bersama Mansoer Fakih kemudian terulang lagi ketika Komnas HAM melakukan pelatihan tentang keseteraan jender yang dipimpin Pak Mansoer di tempat yang sama di Puncak. Masih teringat, setelah sampai ke kamar saya kembali mencari Pak Asmara karena korek gas saya hilang. Pak Asmara seperti biasa memakai jaket longgar dengan banyak saku. Dan, sebagai sesama perokok kita saling mengerti bahwa walau rokoknya ada tapi korek gas atau korek api tak ada bisa tak bisa tidur semalaman ketika semua kios sudah tutup. Pak Asmara merasa tidak mengambil tapi setelah berkali-kali memeriksa saku demi saku pada celana, baju, dan jaketnya akhirnya korek gasku ditemukan di salah satu saku jaket Pak Asmara. Ha ha ha.

 

Waktu pulang ke Jakarta, saya nebeng mobil kijang sederhana Pak Asmara. Waktu itu HP masih langka dan aktivis beken yang jujur ini memakai uang sendiri untuk membayar pulsa mahal ketika itu untuk segala urusan Komnas HAM. Saya bertanya kepada Pak Asmara, sampai kapan Pak pakai HP dengan biaya pulsa mahal begini. Sebagai ilustrasi, waktu itu Prof Soetandyo menelepon ke HP Pak Asmara, ternyata beliau menjawab dari Jerman, dan pulsa HP Prof Soetandyo langsung terkuras. Beliau menjawab, ”Ya, kalau sudah tak mampu bayar ya jual saja HP ini. Gampang, kan!” Ya, begitulah bukti kesederhanaan beliau yang ikut berjuang menaikkan rekan-rekannya ke posisi penting yang bergelimang uang dan fasilitas, termasuk rekannya Gus Dur yang menjadi presiden, Pak Asmara tetaplah orang sederhana yang tetap konsisten memperjuangkan penegakan HAM.

Saya tanya tentang latar belakang pendidikan Pak Asmara, dan beliau jelaskan bahwa ia tak suka pakai gelar SH yang ia raih dari Fakultas Hukum UI. Setelah dinyatakan lulus meraih gelar SH, beliau tidak mau ikut wisuda tapi ayahnya yang tinggal di Tanah Batak protes dan memaksa ingin melihat putranya mengenakan toga wisuda sarjana. Sebagai jalan kompromi, beliau bilang ya sudah terpaksa saya ikut wisuda yang dihadiri bapak tapi bapak harus menerima bahwa ijasah sarjana hukum UI tak akan pernah saya ambil. Nah, sampai hembusan napas terakhirnya ia tak pernah mengambil ijasah itu. Kadang-kadang dalam beradu argumentasi keluar kata-katanya, seperti ”Dari yang saya tahu waktu belajar hukum, bla-bla-bla …”

 

Pak Asmara adalah orang yang rendah hati, suka humor, suka berterus terang dan orang dari golongan, agama, dan suku atau bangsa apa pun tampaknya menerima beliau dan betah berbincang dan bekerja sama dengannya. Tak ada silang pendapat yang tak ada solusinya jika rekan diskusi kita adalah Pak Asmara. Waktu kami merintis introduksi pendidikan HAM di sejumlah SD di Cianjur, dan kemudian pengembangan inovasi pendidikan HAM di sejumlah sekolah dasar, SMP dan MTs, dan SMA serta Universitas Nusa Cendana di Kupang sebagai ganti ide merintis pendidikan HAM di Timor Timur yang kurang kondusif waktu itu, Pak Asmara selalu mendorong dari belakang.

Pak Asmara adalah salah seorang pembuka jalan bagi saya untuk merambah pemajuan pendidikan HAM di lingkup ASEAN. Pak Asmara jugalah yang mendukung kami bersama Prof Saparinah Sadli mengikuti Konferensi Pendidikan HAM Asia-Pasifik di Puna, India. Beliau selalu memberikan buku-buku tentang HAM untuk dikaji. Sambil belajar dari sosok aktivis HAM yang kata-hati-perbuatannya satu dalam satu urat nadi dan napas perjuangan, kami menjadi salah seorang peserta dari 30 pakar pendidikan HAM di sekolah dalam workshop persiapan naskah pendidikan HAM di Genewa, Swiss untuk dibawa ke Sidang Umum PBB. Ya, kiprah penegakan HAM kami masih jauh jika dibandingkan dengan beliau. Walaupun lama kami tak bertemu langsung tapi teladan Pak Asmara selalu menuntun kami kini ketika mendorong para guru melaksanakan hak asasi anak, hak perlindungan anak di berbagai daerah.

Pak Asmara adalah tokoh yang tak ingin tampil merebut jabatan. Sepengetahuan saya, beliau menerima dipilih oleh sesama anggota Komnas HAM menjadi Sekjen Komnas HAM demi menjaga komitmen perjuangan Komnas HAM yang berada di ambang bahaya direcoki penguasa. Pak Asmara selalu mendorong orang lain maju, mendapatkan posisi dan beliau tetap mendukung dari belakang dan tetap betah pada jalur perjuangannya di lapangan sambil menyabung nyawa. Jika harus menginap di hotel yang sama, Pak Asmara malah memilih kamar yang lebih lux untuk teman-temannya dan beliau mengalah menempati kamar yang lebih sederhana.

 

Beliau adalah orang yang mudah dihubungi. Tengah malam jika terpaksa menelepon ke rumah, beliau pasti bangun dan menjawab telepon. Tak ada yang sulit dalam berinteraksi dan berkomunikasi dengan beliau. Kalau bisa dipermudah mengapa harus dipersulit, itulah prinsip kerja beliau. Hidupnya telah diserahkan kepada cita-cita kemanusiaan untuk pemuliaan martabat manusia.

 

Selamat jalan, Pak Asmara, tokoh pejuang HAM yang berkarakter. Doakan kami yang masih berziarah di dunia ini untuk sekadar meneruskan cita-citamu di tempat pengabdian kami masing-masing. Anda-lah, pahlawan HAM sejati tanpa tanda jasa. Horas! Mauliate godang atas jasa-jasamu, atas kenangan manis keteladanan ”abadi” bersamamu.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tag: , , , ,

Satu Tanggapan to “Asmara Nababan, pahlawan HAM sejati tanpa tanda jasa”

  1. S Belen Says:

    Perkenankan kami muat sms Erwin Manullang, Direktur SMA Seminari dari Pematang Siantar:

    “Pak Belen, saya baca tulisan bapak tentang ‘Asmara Nababan’ di blog bapak. Bagus. Tiga tulisan tentang ‘Asmara Nababan’ (dari Ignas Kleden, satu lagi saya lupa penulisnya, dan dari Pak Belen) mengatakan hal yang sama: orangnya sederhana, rendah hati, lembut, tetapi sangat tegas dalam prinsip. Terima kasih, pak, atas tulisannya. Tulisan kalian punya banyak makna untuk dihidupi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: