Mengapa kita pelit memberi pujian?

Ada satu gejala perilaku orang Indonesia. Jika kita memuji salah seorang teman, lebih sering kita dengar tanggapan: Ya, ya, tapi dia … (menyebutkan kelemahannya).

Kalau kita lihat perilaku guru-guru kita dari SD s.d. PT tampaknya mereka pelit sekali memberi pujian. Di sekolah ada gejala, jika seorang siswa dipuji beberapa guru, lalu kemudian guru-guru yang lain dan kemudian para siswa, banyak orang ramai-ramai seperti koor memuji siswa itu, tapi kasihan mayoritas siswa yang lain, di sekolah hidup merana tanpa pujian. Kalau seorang siswa sering direndahkan guru, guru-guru lain ikut merendahkan dan kemudian para siswa lain ramai-ramai seperti koor ikut merendahkan siswa itu. Mungkin itu latar belakang mengapa orang kita jarang memuji orang lain.

Pujian atau hinaan orang tidak mengubah tingkat kebaikan / keburukan seseorang, Ia akan berada pada status apa adanya, tidak tambah baik atau tambah buruk. Namun, menurut hasil riset otak, otak manusia secara alamiah membutuhkan kata-kata positif, kata-kata pujian dari orang di sekitar.

Ada orang yang menilai bahwa orang Inggris itu kalau memberi pujian cenderung superlatif, dilebih-lebihkan. Sekali dengan teman-teman mahasiswa di London, kita kumpul rayakan hari ulang tahun seorang teman wanita. Saya cuma bawa sebotol anggur Prancis yang murah. Lho, kok mereka puji anggur yang saya bawa, katanya enak sekali, padahal anggur yang mereka bawa lebih mahal dan jelas lebih enak. Saya cuma malu sendiri, mendapat pujian yang tak sepantasnya. Tapi, itulah ciri masyarakat Barat, hidup mereka dari masa kanak-kanak sampai tua selalu berada dalam udara haruam wangi pujian. Di sekolah-sekolah yang saya kunjungi tak pernah saya dengar kata stupid, silly, bad, naughty, apalagi bullshit dari mulut seorang guru. Kalau ada anak yang lemah daya tangkap sang guru tarik kita ke belakang dan sambil berbisik mengatakan anak itu agak lemah, tapi dia bagus dalam …

Nah, dari mereka saya belajar cara mengeritik, “burger appraisal”. Burger itu terdiri dari lapisan atas roti, lapisan tengah sayuran dan daging, dan lapisan bawahnya roti lagi. Jika ingin mengeritik, pertama angkat dulu, puji hal-hal yang positif (roti lapisan atas), lalu sebut satu hal negatif (lapisan sayuran dan daging), tapi jangan lupa diakhiri dengan puji lagi satu hal positif (lapisan roti bagian bawah). Kalau kita angkat orang lalu banting. Kalau mereka, angkat-banting-angkat lagi. Jadi yang dikritik tidak merasa tersinggung.

Burger appraisal saya kenalkan kepada para guru. Guru-guru orang Jawa usul pakai tahu isi saja karena burger tak begitu dikenal. Guru-guru kita cenderung bukan angkat-banting, tapi banting-banting-banting dengan kata-kata kepada siswa-siswa: bodoh, dungu, otak udang, bego, oon, bandel, anjing, babi, monyet, dst., dst. Kosa kata negatif kita jauh lebih banyak dari kosa kata pujian.

Tag: , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: