Laki-laki itu burung … Wanita itu burung …

Membaca puisi pada bagian akhir posting ini membuat kami berefleksi soal burung, membuat pertanyaan tentang burung.

Maukah kita …?

Maukah kita menjadi burung hantu yang semakin banyak melihat semakin sedikit berbicara dan semakin sedikit berbicara semakin banyak mendengarkan?

Maukah kita menjadi burung beo yang semakin besar semakin cerewet dan semakin cerewet semakin menyebalkan?

Maukah kita menjadi burung walet yang semakin banyak semakin beribut dan semakin beribut semakin banyak membuang ludah dan semakin banyak membuang ludah semakin kaya yang empunya burung?

Maukah kita menjadi burung kakatua yang semakin tua semakin menarik jambulnya dan semakin menarik jambulnya semakin banyak jagung yang dimakan dan semakin banyak jagung yang dimakan semakin membuat petani menderita?

Maukah kita menjadi telur burung puyuh yang semakin kecil semakin banyak gizinya dan semakin banyak gizinya semakin menyehatkan anak manusia?

Maukah kita menjadi burung pelikan yang semakin banyak ikut berbaris semakin kompak jalannya dan semakin jauh terpisah dari barisan semakin bingung hendak berjalan ke mana?

Apakah laki-laki itu burung …?

Lukisan Kahlil Gibran

Apakah wanita itu burung …?


Apakah laki-laki itu burung hantu yang hanya berbicara 25 ribu kata dalam sehari sedangkan wanita itu burung beo yang berbicara 50 ribu kata dalam sehari? Dua kali lipat dari burung hantu?

Apakah wanita itu burung cendrawasih yang jika tersenyum sayap-sayapnya mekar memperlihatkan warna-warni sayap yang mempesona sedangkan laki-laki itu kelelawar yang suka makan buah-buah ranum lalu meninggalkannya tersobek dan terluka?

Apakah laki-laki itu burung rajawali yang gampang tertembak sedangkan wanita itu burung gereja yang sulit tertembak?

Apakah wanita itu burung pelikan yang rela memberikan darah kepada anak-anaknya dengan mengorbankan nyawanya sedangkan laki-laki itu burung bangau yang hanya berdiri dengan satu kaki tapi mudah mencaplok ikan-ikan kecil di laut dangkal?


Apakah laki-laki itu burung puyuh yang jika diburu larinya kencang dan tiba-tiba menghilang entah ke mana sedangkan wanita itu burung pipit yang terbang ke dalam kamar tanpa takut ditangkap karena keluguannya?

Ikutilah kisah nasib burung berikut ini!

TANPA  JUDUL 201

Oleh Martin Bhisu

Bernyanyilah kepada hatiku
burung-burung di menara hotel,melepas rindu
kembali ke lembah dan ngarai, habitatmu seperti dulu
tapi selalu kau tinggalkan lagu yang sama di hatiku, nada sendu.

Burung-burung apa yang bernyanyi di sana?
Tutuplah mulut mereka!
yang menyayat hati dengan gundah gulana
tak tahan lagi, bait-bait lagu yang mengiris sukma.

Kian lama nyanyian mereka memenuhi hidup memelas
seperti titik-titik air yang perlahan jatuh kedalam gelas
tumpah ruah, membasah, tak mengalir deras
tapi nyanyian itu semakin lama semakin keras.

Dan aku turut bernyanyi
lagu yang lunglai
hingga hati tak terurai
terlebur dalam nyanyian burung berderai.

Nyanyian penyesalan jatuh di tanah
amukan diriku tanpa gairah
entah bernyanyi, entah berpasrah
bertekuk lutut, pun maju selangkah.

Burung-burung berkicau, menangis
burung-burung menangis, airmata gerimis
hati yang lumpuh, menepis
rindu kembali ke gunung terkikis.

Guayaybi, PARAGUAY, 23 de abril de 2010.

Tag: , , , , , , , , , , , ,

5 Tanggapan to “Laki-laki itu burung … Wanita itu burung …”

  1. Hendrik Rogan Ole Says:

    Laki-laki seperti burung elang yang terbang tinggi.
    Terbang menguasai ruang huni.
    wanita itu seperti burung ketilang yang menyanyi riang.
    Menyanyi merenggut sudut hati terdalam.

    Bagus benar pak Sil.
    Tingkah dan karsa setiap burung punya manfaat bagi manusia yang ingin merenung demi mengenal siapakah anak manusia itu..
    Salam

  2. Martín Bhisu Says:

    Hahaha…kreatif sekali yea!
    Burung2 itu
    aneka rupa dari segala rimba
    spesies eksotik, warna warni
    pada paduan yang kita rangkai
    hingga nyanyian mereka
    menggema di hati kita,
    bersama burung-burung kita
    harap nggak sontoloyo
    hahahaha
    profisiat Mas Sil Belen
    ke KPP, jangan bawa seekor burungpun
    nanti dosanya berkicau di menara Gereja.

  3. zilmita. S Says:

    tinggal qt memilih atw melihat ke dlm diri, burung spt apakah qt..lam kenal mas..blog yg oke…

  4. ANJALION Says:

    salam, kisah burung tuan menarik. tahniah. kalau ditambah suara burung lagi menarik. dpt mengubat hati kesunyian tq

  5. Martin Bhisu Says:

    Masih terus dengan burung-burung berkicau?
    seperti bung Sil ke mana-mana berkicau,
    di sarang pun selagi hati tak galau.
    Salam dari Paraguay

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: