From Flores with love: Sebuah contoh kebijakan inovasi untuk meningkatkan mutu siswa NTT yang terpuruk

Beratraksi menyilangkan tangan membentuk tanda kali, membentuk tanda tambah, kurang, dan bagi saambil menggunakan 1o jari tangan untuk melakukan operasi bilangan, sambil bergoyang badan.

Membuat hipotesis dan melakukan percobaan “Melayang, terapung, dan tenggelam” di tepi pantai.

Besoknya siswa guru langsung mempraktikkan ide baru yang kemarin dipelajari dalam inhouse training. Siswa membuat hipotesis dan melakukan perocobaan “Melayang, terapung, dan tenggelam”.

Hari-hari ini orang NTT di provinsi ini dan di luar NTT, bahkan sampai di mancanegara diliputi rasa malu luar biasa karena hasil UN SMA & SMK serta SMP tahun 2010 ini benar-benar mencapai titik nadir setelah presentase kelulusan siswanya berbeda amat jauh dari provinsi yang menduduki ranking ke-32 nasional sebelum NTT pada ranking ke-33. Sebenarnya proses kemerosotan ini telah berlangsung sekian lama. Dan, sekarang ternyata lebih jelek dari Papua yang biasa dikenal dulu menempati urutan ekor!

Salah satu faktor penyebabnya adalah mutu pendidikan SD yang amat rendah. Hasil penelitian kemampuan baca-tulis-hitung (Calistung) siswa SD pada sejumlah kabupaten di NTT, yang dilakukan para dosen FKIP Universitas Nusa Cendana Kupang, menunjukkan bahwa banyak siswa kelas 3 SD masih pada taraf menggambar huruf dan angka.

Basis pendidikan SD yang amat buruk akan tercermin dalam prestasi belajar siswa SMP dan SMA & SMK. Jika Calistung sebagai learning tools tak terbenahi bagaimana mengharapkan peningkatan mutu di sekolah menengah?

Para guru melakukan pelatihan di tepi pantai. Angin laut kaya oksigen dan deburan ombak meningkatkan kinerja otak.

Dari hasil analisis faktor penyebab amat rendahnya mutu pendidikan, salah satu langkah yang kami tempuh bersama World Vision Indonesia (WVI) adalah melakukan inhouse training di sekolah model. Salah satu upaya yang diprioritaskan adalah membenahi kemampaun Calistung melalui implementasi belajar aktif yang didukung kemampuan manajemen berbasis sekolah kepala sekolah dan ketua komite sekolah. Setelah para kepala sekolah dan guru SD model diberi contoh bagaimana melakukan inhouse training, diharapkan mereka meneruskan kebiasaan inhouse training melalui saling melatih antar-mereka secara internal di sekolah.

Dari hasil penelitian di Amerika Serikat, terbukti bahwa para siswa sekolah di slum areas yang melakukan inhouse training dalam waktu 4 tahun akan mengalahkan prestasi belajar siswa sekolah favorit di kota besar. Dalam inhouse training kontinu di sekolah, kepala sekolah, guru, dan fasilitas tidak diganti. Tetap. Siswanya juga tetap, demikian pula tingkat kemampuan ekonomi orang tuanya. Hanya dengan intervensi inhouse training, mutu sebuah sekolah yang terpuruk dapat diperbaiki dalam rentang waktu 2 s.d. 4 tahun.

Di Flores Timur, WVI ADP Flores Timur telah memilih 3 SD untuk dikembangkan menjadi SD model. Setelah model ini jadi, ke-3 sekolah ini bertanggung jawab mengembangkan 3 SD model yang lain. Tinggal direkrut kepala sekolah dan guru-guru yang menunjukkan kinerja yang hebat untuk mengembangkan sekolah lain dan berperan sebagai fasilitator penataran tingkat kecamatan / kabupaten dan dalam kegiatan kelompok kerja guru (KKG) di tingkat gugus sekolah.

Bekerja kelompok: Siswa berdiskusi dan belajar mengemukakan pendapat dalam suasana santai

Langkah terobosan WVI ini hendaknya diikuti langkah yang sama pada jenjang SMP serta SMA dan SMK. Di sinilah peran dinas pendidikan untuk mendorong dan membiayai proses inovasi untuk meningkatkan mutu.

Untuk memberi gambaran apa yang kami lakukan, perkenankan men-download file powerpoint ini. Inhouse training kali ini masih dalam bentuk gabungan dengan penataran karena diundang para kepala dinas pendidikan kecamatan, pengawas, kepala sekolah, dan guru dari 5 kecamatan dalam inhouse training di SD Lewotobi di kaki Gunung Lewotobi, Flores Timur, NTT.

Selahkan klik file powerpoint ini!

Guru-guru Flores mengubah diri

Siswa-siswa menari dalam school assembly di SD Lewotobi. Orang tua diundang menyaksikan pentas putra-putrinya.

Iklan

407c0438

heart-attack

Kunjungilah posting ini:

https://sbelen.wordpress.com/2013/05/03/bawang-putih-cuka-apel-madu-jahe-lemon-jantung-sehat-tubuh-bugar/

https://sbelen.wordpress.com/2013/04/15/sano-ramuan-herbal-berkhasiat-mulai-bisnis-di-usia-62-tahun/

Gambar spanduk Sano

sano-kolesterol-tinggi

Kartu nama Yuni

Tag: , , , , , , , , , , , , , ,

5 Tanggapan to “From Flores with love: Sebuah contoh kebijakan inovasi untuk meningkatkan mutu siswa NTT yang terpuruk”

  1. karim Says:

    Yth. Pak Belen, saya sangat terharu membacanya. Saya juga membayangkan kampungku nun di sana. jangan-jangan bernasib sama dengan NTT. Pak Belen, bagaimana usulan saya untuk memperkuat pendidikan guru di NTT? Thanks you

  2. hamid Says:

    Pak belen, Kalau yang malu pejabat pendidikan NTT, hal ini bagus karena mereka sudah merasa berdosa dengan hasil perbuatan pendidikannya. Hal ini perlu mereka sadari dan memulai dengan hal baru. Dengan melihat hasil kegiatan di atas, semoga mereka jadi sadar dan memulai memperbaiki dosa yang telah mereka buat dalam perencanaan pendidikan di NTT.
    Semoga berita di atas juga dibaca oleh pejabat pendidikan di NTT.
    Makasih

  3. Frida Says:

    Teringat bagian Indonesia ini (NTT) kita juga akan ingat nama-nama orang ternama yang juga mengharumkan nama Indonesia. Ada Prof Ir Johannes, WZ Johannes, Frans Seda, Adrianus Mooy, Ben Mboy, Gorys Keraf, dan tokoh-tokoh lain. Betapa pun pelik permasalahan pendidikan di wilayah ini, dengan saling bekerja bersama berbuat sesuatu yang kecil, bila dengan tulus mungkin juga akan menghasilkan tokoh-tokoh besar dari generasi saat ini. Tentunya kontribusi WVI juga sangat terbatas. Semua kita harus ambil bagian kita masing-masing. Atau pak Belen berniat mengarahkan orang-orang NTT untuk kembali ke tanah nusa?!

  4. yuyan Says:

    Pendidikan merupakan suatu hal yang sangat penting dan utama. Peran guru bukan hanya membentuk pendidikan intelektual saja tapi guru juga membentuk pendidikan moral anak didik. Terima kasih

  5. uran Says:

    Saya orang NTT, Flores dan Lewotobi adalah kampung aku. Rindu, satu saat akan pulang membangun kampung halaman aku. Jakarta dan WVI adalah batu loncatan bagi aku untuk merajut hari – hari selanjutnya di kampung tercinta ini.

    Makasih pak Belen untuk tulisan ini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: