Buat Gus Dur & Frans Seda: Pendekar demokrasi, kemanusiaan & pluralisme

Kampus Seminari Tinggi Ledalero selesai direkonstruksi tahun 2002, 10 tahun setelah dihancurluluhkan gempa yang disertai tsunami pada Desember 1992.

Pater Philip Tule SVD sebagai Rektor Ledalero menyambut Presiden Abdurrahman Wahid yang berkunjung ke Ledalero dan menginap satu malam di sebuah kamar sederhana untuk seorang presiden. Hanya seorang menteri yang pernah menginap di Ledalero yaitu Pak Frans Seda dan hanya ada seorang presiden yang menginap di tempat yang sama, yaitu Gus Dur.

Pada kesempatan terhormat itu, Gus Dur berkenan melakukan launching sebuah buku untuk mendorong toleransi dan saling menghormati antar-penganut agama yang berbeda. Sejak waktu itu para mahasiswa “memburu” dan membaca buku dan tulisan apa pun yang ditulis Gus Dur.

Para alumni STFK Ledalero yang kini berkarya di sekitar 40 negara di dunia bersedih mendengarkan berpulangnya Gus Dur. Belum pulih rasa sedih itu, kesedihan tambah mendalam setelah mendengar berpulangnya Pak Frans Seda. Tidak mengherankan jika pada milis kami muncul beragam komentar, laudes dan pujian bagi kedua tokoh pendekar demokrasi, kemanusiaan, dan pluralisme. Ada yang merasa lebih sreg mengungkap perasaannya dalam bentuk puisi.

Perkenankan kami sajikan sajak dari rekan-rekan alumni STFK Ledalero yang kini mengabdi di mancanegara, dari Bung Ben Wego di USA, Bung Gabriel Adur di Jerman, dan Bung Martin Bhisu di Paraguay. Puisi-puisi yang lain telah kami post pada blog ini sebelumnya.

Pak Frans Seda, berjuang sampai mati

(Foto dari foto di Kompas, 2 – 2-2010)

Sajak-sajak ini dipersembahkan untuk mengenang Gus Dur dan Frans Seda yang ditulis teman-teman untuk mengungkapkan refleksinya tentang kisah pergulatan dua insan manusia. Masing-masing berasal dari pulau, agama, dan habitat yang berbeda tetapi akhirnya bergabung dalam bahtera yang sama, yaitu bahtera pembela demokrasi, kemanusiaan, dan pluralisme.

Sebuah Sajak Kematian

Oleh Ben Wego
Tidur sayang. Tidur sudah
malam sudah luruh
tak terhitung berapa jumlah ….
tidur sayang, tidurlah
——————————————
Biar hari ganti
di sana bumi menanti
telah siap rumah
bila terminal ditinggal sudah
——————————————
tidur sudah sekarang
besok pasti datang
dengan cara dan tangannya
jemput setiap peziarah
——————————————
dengan gementar yang lembut
usap yang capai dan lumat
sampai lepas pikulan
sampai bebas taruhan
—————————————–
menuju yang abadi
menuju kasih yang sejati
juga bila sudah tidur
juga bila sudah lebur
—————————————-

Broussard, Los Angeles, 0110

Hei, beta sambung dengan berikut ini…

Sebuah pemandangan di Flores

TANPA JUDUL 32

Oleh Martin Bhisu
Bangun anakku
tahun sudah baru
matahari hampir bertengger di atas rumah kita
burung-burung sudah meninggalkan sarang mencari makan
dan di tungku api singkong rebus sarapanmu
bawalah separuh ke sekolah bekalmu
sehari suntuk menimba ilmu
bekal di hari tua bila semangat tak uzur.
——————————————————
Bukalah hati dan otakmu
lapangkan budimu
merekam semua yang terhambur di ruang kelas
simpanan memori yang hidup
abadi sepanjang waktu
tak raib darimu termakan ngengat
pun tak musnah digerogot virus.
———————————————-
Ingatlah anakku…
kebodohan melahirkan kemiskinan
kemiskinan membangkitkan revolusi
tapi mereka menang selalu
karena mereka dipersenjatai
dari ujung rambut hingga telapak kaki
dengan ilmu senjata ampuh
dan kau cuma mengulangi hidup ayah dan ibu
menyanyi lagu kesayangan mengais sepotong singkong di kebun
bekal sekolah anakmu.
—————————————————————————————
Bangun anakku
pergilah ke sekolah
aku cuma membuka pintu dan jendela
agar sinar matahari singgah di rumah kita.
——————————————————–

Barrio San Blas, 03 de enero de 2010

Nyanyian Waktu

Oleh Gabriel Adur

dari lembutnya sepoi

dalam  derunya gelombang

pada  teriknya Matahari

hingga cahaya Rembulan

adalah irama dan melodi bumi

dan pelangi,

bukan lewat rebana

dan  kecapi yang dimainkan

musisi dari Arab

atau tidak juga lewat

belaian musik Mozart

bukan hentakan melodi Pop

yang mengiringi gerakan

indah sang penari erotis

tapi  nyanyian itu kudus

dari pusaran universum

dari sebongkah salju di kutub yang mencair

hingga Tzunami yang menggetarkan bumi

nyanyian waktu

kadang melankolis

kadang progresif

tapi iramanya

membawa SABDA pada inzan bumi.

Sankt Augustin, Jerman, 3 Januari 2010

Ben, Gabriel Adur, Gerard Bibang, JDM, dan Bung Sil dan allesa… salam. Setelah membaca puisi-puisi yang inspiratif dari Gerard, Gabriel dan Ben, saya sambung lagi ide kamu. Inspirasinya datang dari kamu, trims…

TANPA JUDUL 31

Oleh Martin Bhisu

Anganku tahun ini
datang selalu musim tumbuh segala tanaman
menjulang ke langit bersama hitungan waktu
berlomba setiap detik tak henti bertunas
saat limpah ruah buah di ranting
bagi sejagat rindu gapai sentosa
agar kemakmuran tak tertunda tahun depan.

Rinduku tahun ini
waktu dan musim bergandengan mesra
ketika hujan dan terik mentari silih berganti datang
menyiram tak henti lahan semesta
memberi sejuk di tanah gersang
di ladang yang retak tanpa nyawa
supaya hidup menyapa semua orang
menunda revolusi akar rumput tahun depan.

Hasratku tahun ini
musim dan waktu di tanganku genggam
agar semua waktu adalah hari ini
tak ada yang lama pun yang baru
dan kuurung semua pesta berpamit dengan waktu
menghalau gembira semu tanpa nurani menyongsong waktu
selagi orang miskin tak makan hari ini.

Musim dan waktu
keduanya sama arti
arti sanubari
menyapa tak henti
di lorong kumuh dan gubuk reyot
bersama orang lapar tak henti
di dusun  menanti musim hujan
bersama petani mati lapar.

Sementara di belahan bumi yang lain
gelegar petasan menyambut waktu
isyarat mulainya pertarungan antara yang lapar dan kaya.

Barrio San Blas, Paraguay, 03 de enero de 1010

Tag: , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: