Mari ketawa bersama Gus Dur, dll.

Suatu kali, Gus Dur berkunjung ke sebuah pesantren di Probolinggo, Jawa Timur. Ia datang bersama AS Hikam. Kisah ini terjadi sebelum Gus Dur menjadi presiden.

Selesai ceramah, Gus Dur pamit kepada kyai tuan rumah untuk meneruskan kunjungan ke pesantren berikutnya. Sambil pamit, Gus Dur bilang, “Aku titip Hikam di sini.”

Waktu itu AS Hikam belum kondang nian. Sang kyai menyangka “Hikam” adalah nama sebuah kitab. Ia pun mengiyakan begitu saja pesan Gus Dur.

Begitu Gus Dur pergi, sang kyai segera mencari “kitab” itu. Dicari-cari tak juga ketemu, akhirnya ia mengerahkan para santri untuk mencari di mana gerangan kitab itu diletakkan. Kekonyolan ini baru berakhir setelah ia diberi tahu oleh seorang santri yang kebetulan telah mengenal nama AS Hikam. “Oh… jadi Hikam itu nama orang.”

Masih tentang keluguan warga NU, kisah ini terjadi di gedung PBNU di Jl. Kramat Jakarta. Serombongan pengajian ibu-ibu, mencoba lift untuk naik ke lantai atas. Saat hendak masuk lift, mereka melepas sandal seperti hendak masuk ke ruangan yang berlantai suci.

Ketika lift sampai di atas dan pintu terbuka, mereka panik, “Lho, sandalnya di mana?”

Humor ala Gus Dur [1]

Setelah berpetualang menemui Megawati, Presiden Habibie, dan mantan Presiden Soeharto, kini Gus Dur menemui Jaya Suprana untuk mengemukakan lawakannya, rencananya akan ditayangkan di TPI bulan depan.

” Komentar Gus Dur terhadap Tiga Presiden RI “.
Negara kita ini aneh, selalu dipimpin oleh orang ” gila “,

Presiden Pertama : Gila Wanita.
Presiden Kedua : Gila Harta.
Presiden Ketiga : Gila Sungguhan.
[sumber : Suara Merdeka 16/1/99].

Sekarang Komentar Parto tentang ” Komentar Gus Dur terhadap Tiga Presiden RI”.

Saya ibaratkan yang namanya Gus Dur adalah ibarat orang buta yang mengenal Gajah.

Presiden pertama : Gus Dur kenal gajah, hanya bagian belalainya yang panjang, Gus Dur berpikir pasti ini hidung belang, gila wanita.

Presiden kedua : Gus Dur kenal gajah, hanya bagian perutnya yang besar, Gus Dur berpikir pasti ini penimbun makanan, Gila harta.

Presiden ketiga : Gus Dur kenal gajah, anak gajah yang baru lahir, Gus Dur berpikir, kecil begini sudah jadi presiden, pasti kalau nggak jenius, ya gila beneran. Dan Gus Dur menilainya gila beneran.

” Sekarang giliran anda mengomentari Parto . . ”

Parto adalah daripada yang mana pelawak yang . . . dan . . . . serta . . . . titik.

http://www.nyamuk.com/

Mati Ketawa Ala Gus Dur

Jumat, 1 Januari 2010 | 23:10 WITA

KETUA Gerakan Pemuda (GP) Ansor Sulsel, Azhar Arsyad, terkulai lemas di kediamannya, Komplek Perumahan PT Semen Tonasa, Sudiang, Makassar, Kamis (31/12). Ketika Tribun menghubunginya pada pagi hari, suaranya serak. Saat Tribun bertanya tentang KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), dia menangis.

“Tadi malam (kemarin malam), saya sudah berniat ke Jombang menghadiri pemakaman Gus Dur, tapi tiba-tiba asam uratku kambuh. Saya tidak bisa bangkit dari tempat tidur dan hanya menonton proses pemberangkatan jenazah Gus Dur di televisi. Setiap melihat tayangan Gus Dur, saya tak bisa menahan air mata,” ujar Azhar dengan suara parauh.

Dia pun minta wawancara per telepon itu dihentikan karena tak kuasa menahan derai air matanya.

Petang, Tribun mencoba menghubungi Azhar kembali. Dia mulai agak baikan. Sesuai pertanyaan, Azhar mengungkap sejumlah cerita lucu yang “diriwayatkan” Gus Dur. Dia pun mulai terbahak saat bercerita. Berikut petikannya:

Ke Makam Pangeran Diponegoro

SAAT Gus Dur hadir di Wirid 99 di Makassar, tengah malam, tiba-tiba dia ingin bertemu kiai. Paspampres pun repot mengumpulkan kiai hingga pukul 22.00 wita. Setelah bertemu para kiai, paspampres pikir sudah aman, tapi ternyata tidak. Tiba-tiba Gus Dur minta diantar ke makam Pangerang Diponegoro di sekitar Pasar Sentral, Makassar.

Obat Tekanan Darah

SEORANG kader NU Sulsel menemui Gus Dur di kediamannya, Ciganjur, Jakarta. “Kenapa  tampak pucat?” tanya Gus Dur. “Anu, Gus, tekanan darahku rendah sekali. Apa obatnya, Gus?” kata kader NU asal Sulsel itu. “Oh, gampang itu. Kamu ajak saja bermalam Abdul Paddare, pasti tekanan darahmu naik,” jawab Gus Dur.

Paddare adalah kader NU asal Sidrap, Sulsel. Dia akrab dengan Gus Dur dan memiliki suara besar dan lantang.

Pelatih Belanda

SUATU waktu menjelang Sepakbola Piala Dunia, ketika membuka suatu acara GP Ansor, Gus Dur bercerita. “Saya jagokan Belanda menang di pertandingan nanti malam,” katanya. Walhasil, Belanda pun menang di babak awal. Tapi ketika babak berikutnya, Belanda kalah. “Gus, kenapa Belanda kalah, Gus Dur kan jagokan Belanda,” protes seorang kader Ansor.

“Wah, jangan salahkan saya. Salahkan Belanda yang mengambil saudara saya jadi pelatihnya,” jawab Gus Dur. Ketika itu Belanda dilatih Gus Hiddink.

Sangon Kiai

SEJUMLAH kiai NU dari Jawa Timur mendatangi Gus Dur di Istana Negara ketika masih presiden. Laiknya kiai, mereka datang pakai sarung dan sandal jepit. Paspampres mencegat mereka. “Maaf, Pak. Seuai aturan, harus pakai sepatu untuk masuk istana,” kata paspampres. Kiai bingung. Tiba-tiba Gus Dur datang. “Lho, kenapa kami dilarang masuk, itu presidennya saja pakai sandal,” ujar seorang kiai sambil menunjuk kaki Gus Dur yang dialasi sendal jepit.

Akhirnya mereka masuk. Menjelang tengah malam, paspampres datang mengingatkan presiden untuk istirahat. Para kiai kembali bingung karena masih ingin ngobrol dengan Gus Dur.
“Ah ini repotnya jadi presiden. Sudah, kita diam-diam saja masuk di kamar cerita,” kata Gus Dur lalu mengajak para kiai ke kamar tidurnya. Paspampres dilarang masuk kamar tidur presiden. Aman.

“Sudah, kenapa masih tinggal. Pulang saja,” kata Gus Dur ketika para kiai sudah pamitan. “Gus,  biasanya kalau kiai dipanggil presiden dikasi sangon (angpao / amplop berisi uang) kalau mau pulang. Itu yang kami tunggu,” kata seorang kiai. “Wah, ingat, sesama kiai dilarang saling meminta sangon.

http://www.tribun-timur.com/read/artikel/66099

Doa Mimpi Matematika

Jauh sebelum menjadi Presiden, Gus Dur dikenal sebagai penulis yang cukup produktif. Hampir tiap pekan tulisannya muncul di koran atau majalah. Tema tulisannya pun beragam, dari soal politik, sosial, sastra, dan tentu saja agama.

Pernah dia mengangkat soal puisi yang ditulis oleh anak-anak di bawah usia 15 tahun yang dimuat majalah “Zaman”. Kata Gus Dur, anak-anak itu ternyata lebih jujur dalam mengungkapkan keinginannya. Enggak percaya? Baca saja puisi yang dibuat oleh Zul Irwan ini:

Tuhan …
berikan aku mimpi malam ini
tentang matematika
yang diujikan besok pagi

Guyon dengan Fidel Castro

Nah, ini yang jadi guyonan Gus Dur sewaktu masih menjadi Presiden RI saat berkunjung ke Kuba dan bertemu pemimpin Kuba, Fidel Castro.

Saat itu Fidel Castro mendatangi hotel tempat Gus Dur dan rombongannya menginap selama di Kuba. Dan mereka pun terlibat pembicaraan hangat, menjurus serius. Agar pembicaraan tidak terlalu membosankan, Gus Dur pun mengeluarkan jurus andalannya, yaitu guyonan.

Beliau bercerita pada pemimpin Kuba, Fidel Castro, bahwa ada 3 orang tahanan yang berada dalam satu sel. Para tahanan itu saling memberitahu bagaimana mereka bisa sampai ditahan di situ. Tahanan pertama bercerita, “Saya dipenjara karena saya anti dengan Che Guevara.” Seperti diketahui Che Guevara memimpin perjuangan kaum sosialis di Kuba.

Tahanan kedua berkata geram, “Oh kalau saya dipenjara karena saya pengikut Che Guevara!” Lalu mereka berdua terlibat perang mulut. Tapi mendadak mereka teringat tahanan ketiga yang belum ditanya. “Kalau kamu kenapa sampai dipenjara di sini?” tanya mereka berdua kepada tahanan ketiga.

Lalu tahanan ketiga itu menjawab dengan berat hati, “Karena saya Che Guevara…”

Fidel Castro pun tertawa tergelak-gelak mendengar guyonan Gus Dur tersebut.

Radio Islami

Seorang Indonesia yang baru pulang menunaikan ibadah haji terlihat marah-marah.

“Lho kang, ngopo (kenapa) ngamuk-ngamuk mbanting radio?” tanya kawannya penasaran.

“Pembohong! Gombal!” ujarnya geram. Temannya terpaku kebingungan. “Radio ini di Mekkah tiap hari ngaji Al-Qur’an terus. Tapi di sini, isinya lagu dangdut tok. Radio begini kok dibilang radio Islami.”

“Sampean tahu ini radio Islami dari mana?”

“Lha…, itu bacaannya ‘all-transistor’, pakai ’Al’.

Siapa yang Paling Berani
Di atas geladak kapal perang US Army tiga pemimpin negara sedang “berdiskusi” tentang prajurit siapa yang paling berani. Eh kebetulan di sekitar kapal ada hiu-hiu yang sedang kelaparan lagi berenang mencari makan …

Bill Clinton: Kalau Anda tahu … prajurit kami adalah yang terberani di seluruh dunia … Mayor .. sini deh … coba kamu berenang keliling ini kapal sepuluh kali.

Mayor: (walau tahu ada hiu) siap pak, demia “The Star Spangled Banner” saya siap ,,, (akhirnya dia terjun dan mengelilingi kapal 10 kali sambil dikejar hiu).

Mayor: (naik kapal dan menghadap) Selesai pak!!! Long Live America!!

Clinton: Hebat kamu, kembali ke pasukan!

Koizumi: (tak mau ketinggal, dia panggil sang sersan) Sersan! Menghadap sebentar (sang Sersan datang) … coba kamu keliling kapal ini sebanyak 50 kali … !

Sersan: (melihat ada hiu … glek … tapi) for the queen I’am ready to serve!!! (pekik sang sersan, kemudian membuka-buka baju lalu terjun ke laut dan berenang keliling 50 kali … dan dikejar hiu juga).

Sersan: (menghadap sang perdana menteri) GOD save the queen!!!

Koizumi: Hebat kamu … kembali ke tempat … Anda lihat Pak Clinton … Prajurit saya lebih berani dari prajurit Anda … (tersenyum dengan hebat …)

Gus Dur: Kopral ke sini kamu … (setelah dayang …) saya perintahkan kamu untuk terjun ke laut lalu berenang mengelilingi kapal perang ini sebanyak 100 kali … ok?

Kopral: Hah … Anda gila yah …! Presiden nggak punya otak … nyuruh berenang bersama hiu … kurang ajar!!! (sang Kopral pun pergi meninggalkan sang presiden …)

Gus Dur: (Dengan sangat bangga) Anda lihat Pak Clinton dan Pak … Cumi Cumi … kira-kira siapa yang punya prajurit yang paling BERANI!!! … Hidup Indonesia … !!! (mbs)

Salat and Salad

Gus Dur nggak mati akal kalau urusan melucu. Bahkan, guyonan Gus Dur pun juga diucapkan dalam bahasa asing. Suatu ketika Gus Dur bercerita tentang ada seorang pejabat negara ini yang diundang ke luar negeri.

Dia lalu mengisahkan seorang istri pejabat Indonesia yang dijamu makan malam dalam sebuah kunjungan ke luar negeri.

Dalam kesempatan itu, kata Gus Dur, si nyonya pejabat ditawarkan makanan pembuka oleh seorang pramusaji, “you like salad, madame?”

“Oh sure, I like Salat five time a day. Shubuh, Dzuhur, Asyar, Maghrib and Isya,” jawab si Nyonya percaya diri. (ahm)

Gus Dur Digoda

Salah seorang anak Gus Dur dengan penuh rasa ingin tahu mengamati ayahnya yang sedang memoleskan krim pembersih wajah yang dicurinya dari meja rias istrinya ke seluruh bagian mukanya.

“Kenapa sih…Bapak selalu mengoleskan itu di wajah?” tanya anak itu.

“Supaya bapakmu ini ganteng terus,” jawab Gus Dur.

Tak berapa lama kemudian Gus Dur mengambil kapas dan mengusap krem yang menempel di wajahnya seperti yang sering dilakukan istrinya.

“Lho kok dihapus sih Pak? Putus asa ya…?” goda anaknya. (ahm)

Tahu Jumlah Peserta Salawat

Gus Dur memang sangat humoris. Bahkan, pelawak-pelawak Srimulat jadi kelabakan jika beradu lucu dengan Gus Dur. Suatu saat, Tarzan Srimulat dan kawan-kawan mengaku kehabisan bahan untuk melucu karena acaranya didahului dengan sambutan Gus Dur yang sangat lucu.

Dalam melucu, Gus Dur tak jarang memulai dengan menertawai dirinya sendiri sehingga orang lain tak tersinggung.

Ketika berceramah di depan kerumunan massa, misalnya, Gus Dur mengajak massa untuk membaca salawat bersama-sama dengan suara keras.

Setelah itu, dia mengatakan, selain mencari pahala, ajakan membaca salawat tersebut adalah untuk mengetahui berapa banyak orang yang hadir.

“Dengan lantunan salawat tadi, saya jadi tahu berapa banyak yang hadir di sini. Habis, saya tak bisa melihat. Jadi, untuk tahu besarnya yang hadir, ya dari suara salawat saja,” jelasnya. (ahm)

Semua Presiden Punya Penyakit Gila

Kelihaian Gus Dur dalam melakukan serangan politik sambil berkelit dengan mengundang senyum geli memang tak diragukan lagi.

Serangan atau kelitan politik Gus Dur kerap mengundang tawa geli karena selain sangat keras juga lucu. Dia memang dikenal sebagai penyaji humor politik tingkat tinggi.

Kita masih ingat humor politik Gus Dur yang dilempar kepada Presiden Kuba Fidel Castro. Ketika melakukan kunjungan kenegaraan ke Kuba, Gus Dur memancing tawa saat menyelingi pembicaraannya dengan Castro bahwa semua presiden Indonesia
punya penyakit gila.

Presiden pertama Bung Karno gila wanita, presiden kedua Soeharto gila harta, presiden ketiga Habibie benar-benar gila ilmu, sedangkan Gus Dur sendiri sebagai presiden keempat sering membuat orang gila karena yang memilihnya juga orang-orang gila.

Sebelum tawa Castro reda, Gus Dur langsung bertanya. “Yang Mulia Presiden Castro termasuk yang mana?” Castro menjawab sambil tetap tertawa, “Saya termasuk yang ketiga dan keempat.”

Apa selesai sampai di situ? Tidak. Ketika mengunjungi Habibie di Jerman, oleh orang dekat Habibie, Gus Dur diminta mengulangi cerita lucunya dengan Castro itu. Merasa tak enak untuk menyebut Habibie benar-benar gila atau gila beneran, Gus Dur memodifikasi cerita tersebut. Kepada Habibie, dia mengatakan, dirinya bercerita kepada Castro bahwa presiden Indonesia hebat-hebat.

Kata Gus Dur, Presiden Soekarno negarawan, Presiden Soeharto seorang hartawan, Presiden Habibie ilmuwan, sedangkan Gus Dur wisatawan.

Selain menghindari menyebut Habibie benar-benar gila, jawaban itu sekaligus merupakan jawaban Gus Dur yang bersahabat atas kritik bahwa dirinya sebagai presiden banyak pergi ke luar negeri seperti berwisata saja. (ahm)

Tak Bilang Korupsi

Seorang pejabat tinggi, sebut saja si Fulan, merasa deg-degan dicap sebagai koruptor oleh Gus Dur. Sebab, Gus Dur mengatakan bahwa perbuatan tertentu yang dilakukan si Fulan tak bisa lain kecuali diartikan korupsi.

“Dibolak-balik bagaimana pun, itu adalah korupsi. Titik,” kata Gus Dur.

Mungkin atas permintaan si Fulan atau diimbau orang lain, salah seorang yang dekat dengan Gus Dur meminta agar Gus Dur tak lagi menyerang si Fulan, apalagi dengan tuduhan korupsi. Si Fulan dalam kasus itu sama sekali tak melakukan korupsi, melainkan sekadar meneruskan secara resmi sebuah permohonan.

Apalagi, ada yang memalsukan susbtansi persoalannya. Gus Dur pun setuju untuk tak lagi mengatakan si Fulan korupsi.

Tetapi besoknya, Gus Dur bilang si Fulan itu tergolong teroris karena ikut mendalangi beberapa kerusuhan. Ketika ditanya mengapa masih menyerang si Fulan, padahal sudah menyatakan tak akan menyerangnya lagi, Gus Dur pun menjawab bahwa dirinya sudah memenuhi janji untuk tidak lagi mengatakan si Fulan korupsi.

“Saya tadi kan tak bilang dia korupsi, saya hanya bilang teroris,” jawabnya enteng.

(ahm)

Salah Ransel

Suatu hari ceritanya terjadilah kesepakatan rekonsiliasi atau islah antara Pak SBY, Bu Mega, Pak Habibie dan Gus Dur. Tentunya hal ini menjadi berita gembira bagi seluruh rakyat Indonesia, yang selama ini sudah bosan menyaksikan para pemimpin bangsa ini saling berseteru satu sama lain.

“Nah sekarang, supaya rakyat melihat langsung bahwa kita sudah akur ….. bagaimana kalau besok kita bersama-sama melakukan kunjungan kerja ke beberapa daerah tertinggal ….. setuju ??? ” tanya Pak SBY.

Yang lain menjawab : ” setujuuuu” ….. Gus Dur menimpali “saya sih setuju-setuju saja”.

“Kalau begitu, saya minta tolong Pak Habibie memerintahkan anak buahnya di IPTN supaya menyiapkan pesawatnya, bagaimana Pak Habibie???” Tanya Pak SBY lebih lanjut.

“Oke Pak tak ada masalah, selalu siap setiap saat” tandas Pak Habibie.

Keesokan harinya terbanglah mereka berempat tanpa disertai pengawal, asisten ataupun ajudan….. dan hanya disertai seorang pilot pesawat. Singkat cerita mereka telah selesai melakukan kunjungan kerja ….. dan terbang kembali ke Jakarta.

Namun apa yang terjadi ….. dalam penerbangan kembali tersebut mendadak pesawat mengalami kerusakan alat kendali dan kebocoran bahan bakar.

“Wah celaka dua belas nih, pesawat ini tidak bisa dikendalikan dan pasti akan jatuh hancur” kata sang pilot dengan paniknya, “kalau begitu ….. cepat terjunkan para tokoh bangsa ini dengan ransel parasut yang ada” tambahnya. “Tapi bagaimana ya ….. parasutnya cuma ada 4, padahal semuanya ada 5 orang” tambah sang pilot kebingungan.

“aah sudahlah ….. minta pertimbangan dari para beliau sajalah” kata sang kapten sambil bergerak cepat menemui para tokoh bangsa yang sedang bercengkrama dengan akrabnya satu sama lain.

Dengan nada hati-hati sang kapten berkata “mohon maaf Bapak-bapak dan Ibu ….. karena kendali pesawat mengalami kerusakan dan pesawat pasti akan jatuh hancur …. maka dipersilakan Bapak-bapak dan Ibu berunding sendiri siapa yang akan terjun duluan dengan 4 ransel parasut yang ada ini”.

“Saya khan presiden RI, saya masih diberi amanah untuk mengurus rakyat yang sedang dihimpit berbagai kesusahan, jadi ….. ya jelas saya dulu dong yang terjun” kata Pak SBY penuh keyakinan, karena yang lainnya menyetujui, akhirnya Pak SBY lansung memasang ransel parasutnya dan ….. jleng ….. Pak SBY akhirnya terjun dengan selamat.

“Saya ini banyak ngurusin wong cilik, lagipula saya harus meneruskan perjuangan bapak saya mempertahankan kemerdekaan dengan menjadi pemimpin negeri ini, jadi ….. saya yang harus terjun selanjutnya” kata Bu Mega dengan mantap ….. karena yang lainnya manggut-manggut saja, Bu Mega langsung memasang ransel parasutnya dan ….. jleng ….. Bu Mega akhirnya terjun dengan selamat.

Setelah Bu Mega terjun, Pak Habibie mendesak agar dia yang terjun berikutnya dengan memberi alasan: “Saya khan yang menguasai Hi-Tech, bagaimana suatu bangsa akan maju tanpa menguasai hi-tech ….. bukan begitu Gus Dur ?”…. Gus Dur menjawab : “silakan saja duluan …… gitu aja kok repot”, akhirnya Pak Habibie memasang ransel parasutnya dan ….. jleng ….. akhirnya Pak Habibie terjun dengan selamat.

Kemudian ….. tanpa ba…bi…bu…Gus Dur langsung mengambil dan memasang sendiri ranselnya tanpa meminta tolong ataupun meminta persetujuan terlebih dahulu dari sang pilot, karena dipikirnya pasti dia yang akan terjun selanjutnya.

“Gus Dur ….” sang pilot memanggil sambil terkejut ….. “kenapa sih kok pake protes segala, jelas-jelas sekarang saya yang harus terjun, saya ini kyai langitan tau nggak ….. banyak para kyai dan santri se-Indonesia yang harus saya urus” hardik Gus Dur.

“Tapi Gus Dur …..” sang pilot mencoba menyela, tapi Gus Dur tidak peduli selaannya ….. bahkan terus berkata :”Nggak pake tapi-tapian…. ngeyel amat sih lu ….. sudah saya terjun duluan yah” tegas Gus Dur sambil langsung ….. jleng ….. terjun.

“Gus Du…..uuur” pekik sang pilot melihat Gus Dur terjun.

Sang Pilot terduduk lemas. Setelah beberapa saat menghela napasnya, sang pilot berkomentar sendirian “Ya sudah kalau nggak mau dibilangin, tadinya saya cuma mau bilang ….. kalau ransel yang dipakainya bukan ransel parasut ….. tapi ransel baju yang saya bawa, karena maunya begitu ….. ya sudah”.

Akhirnya sang pilot memasang ransel parasut yang terakhir dan ….. jleng ….. sang pilot terjun dengan selamat. Bagaimana dengan Gusdur … ??? (ahm)

Horas Gaya Jawa

Dalam menyampaikan pengantar pidato kenegaraan menyambut HUT ke-55 RI itu Gus Dur juga menyinggung soal keragaman etnis di Indonesia. Maka, kata Gus Dur, jangan heran kalau ada anggota DPR yang berasal dari Sumatra Utara menyapa dengan horas sebagai salam hangat perkawanan.

Sebagai orang yang berasal dari suku Batak, Ketua DPR Akbar Tandjung tak mau kalah dengan Gus Dur yang berasal dari suku Jawa itu. Maka, selesai Gus Dur memberikan pidato, Akbar pun langsung menimpali.

“Saya juga orang Batak,” kata Akbar, yang beristri orang Solo. “Tapi, kalau orang Batak seperti saya, yang sudah lama di Jawa, akan beda mengucapkannya.”

Lho, di mana pula letak perbedaannya, Bah? “Ya, orang Batak yang lama di Jawa seperti saya ini akan mengatakan horaaa…s,” ujar Akbar dengan nada lembut. (ahm)

Gus Dur Ngelu

“Saya mau bertanya sama Pak Permadi dan para hadirin.” kata Sutradara Film Garin Nugroho dalam wayangan. Biasanya, tokoh-tokoh baik itu kalau situasinya susah pada berubah semua. Petruk misalnya, ketika mau jadi raja tiba-tiba berubah wataknya.

Permadi yang ditanya Gus Dur yang menjawab. Ia membenarkan bahwa watak Petruk berubah ketika ia mau menjadi raja. “Makanya, kalau mencari pemimpin mestinya yang tak gampang berubah,” tambah Gus Dur.

“Kalau menurut Pak Permadi, Gus Dur itu berubah tidak? celetuk seorang hadirin.

“Ya, agak berubah,” jawab Permadi.
“Misalnya dalam hal apa?”
“Misalnya, kalau dulu Gus Dur itu masih suka kumpul-kumpul dengan saya, sekarang hampir tidak pernah lagi.”

“Kalau itu sih sebabnya sederhana,” sahut Gus Dur.

“Sederhana bagaimana Gus?” kejar hadirin.
“Ngelu (pusing).” (ahm)

Menertawakan Diri Sendiri

Selain hasil olah kreativitas, humor NU juga sering timbul dari kejadian-kejadian tak terduga. Seolah-olah semua yang menimpa warga nahdliyin telah diatur sedemikian rupa sehingga memenuhi syarat-syarat sebuah humor.

Masih tentang keluguan kyai, kali ini cerita terjadi pada KH Muchit Muzadi (kakak KH Hasyim Muzadi) dan Gaffar Rahman, mantan Sekjen PBNU. Waktu itu keduanya hendak pulang ke Jawa Timur naik kereta api Bima dari Stasiun Kota, Jakarta. Karena jam keberangkatan masih lama, keduanya sepakat menunggu sambil nongkrong di kafetaria di dalam stasiun.

Saat asik ngobrol, tiba-tiba kereta berangkat. Keduanya segera berlari mengejarnya. Karena usianya lebih muda, Gaffar Rahman bisa mengejar kereta, sementara Kyai Muchit terduduk lemas karena tertinggal.

Seorang petugas kereta menghampirirnya dan bertanya, “Bapak naik kereta apa?” “Kereta Bima,” jawabnya. “Itu ‘kan kereta Bima, belum berangkat,” tukas petugas sambil menunjuk kereta di sampingnya.

Tidak ada riwayat bagaimana kelanjutan cerita ini. Yang jelas, keluguan para kyai tetap menjadi sumber utama canda tawa dalam tradisi NU.

Ini kisah lain tentang seorang kyai dari Rembang yang dikenal sebagai Kyai Alhamdulillah. Julukan ini didapat karena ia selalu mengucapkan alhamdulillah tak peduli kejadian apa pun yang ia alami.

Satu kali ia pergi bersama robongan kyai ke Semarang untuk sebuah acara. Menjelang kota Demak, robongan kyai ini mendapat tontonan gratis orang-orang yang mandi di sungai di tepi jalan.

Melihat tontonan ini, seorang kyai berseru masya allah. Sebagian mengucap astaghfirullah. Lainnya membaca inna lillah. Tapi kyai yang satu ini (tanpa bermaksud melucu) tetap konsisten dengan dzikirnya: alhamdulillah.

Kulak-mengulak

Bicara tentang humor NU, jelas kita tak bisa melupakan sang godfather-nya, Gus Dur. Presiden paling mbayol sejagat ini bahkan masih terus membawa kebiasaan bergurau ala pesantren, meskipun telah menjadi kepala negara.

“Gus Dur pernah nelpun saya, jauh-jauh dari Kuba hanya untuk menceritakan sebuah lelucon,” tutur Gus Mus tentang sahabatnya ini. Cerita berikut adalah lelucon Gus Dur saat menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi antarkepala negara di Havana.

Di sana, semua kepala negara diberi kesempatan pidato selama lima menit. Sebagai tanda waktu, panitia menyediakan lampu yang menyala hijau, lalu kuning dan terakhir merah. Ketika Gus Dur selesai pidato, semua hadirin memberikan aplaus meriah. “Mereka tepuk tangan bukan karena isi pidato saya, tetapi karena mereka kagum saya bisa pidato tepat lima menit. Padahal saya ‘kan enggak bisa melihat,” kata Gus Mus menirukan Gus Dur, sambil terkikih-kikih.

Tiba giliran Fidel Castro, Gus Dur heran sebab pidatonya sangat panjang. Kepada undangan yang duduk di sebelahnya, Gus Dur bertanya, “Apa dia tidak melihat lampu?”

Yang ditanya menjawab, “Lampunya ditutupi pakai sapu tangan.”

http://emshol.multiply.com/journal/item/20

Guyon tentang Presiden RI? BK senang perempuan, Sht punya empat perempuan (istri dan tiga putrinya), BJH kalau ngomong kayak perempuan, GD doyan dikelilingi anak-anaknya yang perempuan semua, dan MS perempuan beranak Puan.

Pepatah mengatakan, “Kekuasaan merupakan obat perangsang birahi yang paling manjur, khususnya bagi mereka yang berkuasa. Seperti obat, ia juga memiliki akibat sampingan, seperti arogansi, hilangnya daya ingat, dan sikap pandir”.

http://klikpolitik.blogspot.com/2007_07_01_archive.html

Perjalanan bisnis seorang Direktur Perusahaan dan seorang Sekertarisnya yang sangat cantik ke luar negeri menghadapi kendala yang sangat serius.

” Semua kamar hotel di kota ini penuh. Hanya ada satu kamar di hotel Vector. Apa yang harus kita lakukan ? ” tanya sang Direktur.

” Apa boleh buat, Pak, memangnya ada pilihan lain ?” sahut sang Sekertaris pasrah.

Untuk menjaga kesopanan mereka membuat perjanjian, siapa di antara mereka yang memulai macam-macam, maka dia harus di kenai sanksi berupa potongan satu bulan gaji. Dan pada bulan berikutnya, Direktur dan Sekertaris itu sama-sama kehilangan satu bulan gaji.

Kiriman Samuel

“Sama Tuanya”

Seorang kakek berusia 82 tahun pergi ke dokter karena tangan kanannya tak dapat digerakkan.

Setelah agak lama dokter itu memeriksa, ia lalu menerangkan pada kakek ini bahwa bukan tanda penyakit, namun cuma gejala-gejala usia menua.

“Omong kosong !” teriak kakek penasaran.

“Tangan kanan ini kan sama tuanya dengan tangan kiri,” kata si kakek.

Pengirim : Harmizal

Adi dan Erna akan menikah dan mereka berdua sedang menentukan bulan apa yang cocok buat mereka menikah nanti.

” Bagaimana kalau kita menikah bulan Juni saja, Mas ? ”

” Oh, jangan bulan Juni. Sebab pada bulan Juni nanti aku ke Surabaya untuk mengikuti Penataran selama sebulan.

” Kalau begitu bulan Juli saja, bagaimana ? ”

” Jangan bulan Juli, sebab bulan Juli nanti aku pasti sibuk karena ada Training Managemen di kantor selama sebulan. ”

” Kalau begitu bulan Agustus saja, ya Mas ? ”

” Jangan bulan Agustus, sebab bulan Agustus nanti aku pasti sibuk jadi Panitia Tujuh Belasan di kantorku. ”

” Kalau begitu kita menikah bulan September saja, ya ? ”

” Jangan. Di bulan September nanti aku ikut Pendidikan Kenaikan Pangkat di Menado selama satu bulan.

Sebaiknya bulan Oktober saja. ”

” Jangan, Mas. Sebab bulan Oktober nanti pasti kau masih ada di Rumah Sakit karena Gegar Otak. ”

” Dari mana kau tahu, Dik ? ”

” Sebentar lagi aku akan memukul kepalamu pakai kursi ini ! ” jawab Erna sang calon Istri dengan dongkol.

Dikirim Oleh : Nino

Kisah ini terjadi pada tahun 1960, ketika Partai Komunis berkuasa di Rusia.

Di sebuah sekolah dasar di Moskow, Boris yang berusia enam tahun diminta gurunya memberikan contoh sebuah anak kalimat yang menerangkan sifat.

“Kucing kami baru saja beranak lima ekor,” kata Boris, “Yang semuanya komunis sejati.”

Bukan main senangnya hati pak guru melihat penguasaan Boris akan tata bahasa sekaligus slogan partai. Kalau nanti pengawas pendidikan dating ke sekolah itu, maka gurunya meminta Boris yang menjawab.

Minggu berikutnya, ketika pengawas pendidikan mengunjungi kelasnya, pak guru memberi isyarat pada Boris, agar bocah itulah yang menjawab pertanyaan yang akan dilontarkannya di depan pengawas. Pak guru pun mulai mengajukan pertanyaan.

“Kucing kami baru saja beranak lima ekor,” jawab Boris, “Mereka semuanya demokrat sejati..!”

Pak guru kaget dan tergagap. “Ta..tapi Boris, minggu lalu jawabanmu bu.. bukan itu.”

“Bu Guru, setelah satu minggu mata anak-anak kucing itu sudah terbuka lebar..!”

Sent by: Martha Burhan

Ada 2 orang sahabat sedang mengobrol-obrol sejenak.
Anto : “Eh, loe kan tahu ya bangsanya militer gitu, loe kan sering baca majalah militer, lu tahu ga ciri-ciri yang paling gampang diliat TNI angkatan udara, laut dan darat.”

Fakhri: “Itu mah gampang, coba aja orang itu lu tolong kalo dia jawab ‘Terima kasih yang setinggi-tingginya’ berarti dia angkatan udara, kalo ‘Terima kasih yang sedalam-dalamnya’ berarti angkatan laut, kalo ‘Terima Kasih yang seluas-luasnya’ berarti angkatan darat…”

Anto: “????”

Sent by: e-ketawa

Reaksi Dunia Bila Titanic Tenggelam

Presiden Bush – Amerika Serikat:

“Sebuah kapal yang sedang berlayar menuju kepada kebebasan telah diserang oleh teroris. Kita tidak akan duduk diam. Kita akan memberi pelajaran kepada mereka! Bin Laden, anda dapat berlari tapi anda tak akan dapat sembunyi! Kami akan menemukanmu dan menghancurkan jaringan AL Qaedamu!”

PM Tony Blair – Inggris:

“Saya telah berbicara dengan Presiden Bush, dan kami berdua telah sepakat bahwa tenggelamnya kapal Titanic adalah bukti-bukti tak terbantahkan bahwa pengikut pengikut Saddam Hussein ada dibelakang serangan itu. Irak, nyata-nyata telah menjadi ancaman bagi dunia dan kita harus menyelesaikannya.”

PM John Howard – Australia:

“Kami mendapatkan bukti bahwa di dalam kapal tersebut terdapat penumpang bernama Ahmad dan Abu Umar. Ini menunjukkan bahwa JI bertanggung jawab atas tenggelamnya kapal itu. Kami meminta Pemerintah Indonesia bertindak lebih tegas kepada aktivis-aktivis JI, atau kami sendiri yang akan menindak mereka!”

PM Ehud Olmert – Israel:

“Ini merupakan pekerjaan Hamas! Telah cukup bukti bahwa tenggelamnya Titanic bukanlah kecelakaan, namun merupakan serangan bunuh diri Hamas. Kami akan memblokade Palestina!, menahan mereka!, membuang mereka! membunuh mereka!, membuat mereka kelaparan, menghancurkan rumah-rumah mereka dan kamp-kamp pengungsi mereka!”

PM Vajpayee – India:

“Telah ditemukan paspor Pakistan dalam sisa-sisa Titanic. Jelas bahwa Pakistan harus membayar aksi teror tersebut dan kita telah mengirimkan lebih banyak lagi tentara ke perbatasan.”

PM Surayud Chulanont – Thailand:

“Kapal itu sebelumnya milik keluarga Thaksin Shinawatra yang kemudian dijual ke perusahaan Singapore. Kita akan mengambil kembali kapal itu untuk rakyat Thailand.”

Presiden Castro – Cuba:

“Titanic adalah lambang kapitalisme. Tenggelamnya Titanic memperlihatkan kepada dunia bahwa kapitalisme mulai hancur dan tenggelam. Cuba akan terus setia kepada cita-cita sosialisme dan akan berjaya bersamanya!”

Anggota DPR – Indonesia:

“Titanic? Apaan sih itu? Oh Ya, Titanic.. kita sedang mengajukan RUU tentang Pemberantasan Titanic. Untuk itu kami akan mengadakan studi banding ke Hawaii. Mohon masyarakat dapat memahami pentingnya RUU ini sehingga pembahasannya memerlukan konsentrasi yang tinggi. Untuk itu kami akan membahasnya di Bali. Agar kami dapat bekerja lebih baik, kami akan membawa serta istri-istri, anak, cucu, mertua, keponakan, mantu, dll-dll. Tentu dengan biaya negara. Harap maklum, gaji kami sebagai anggota DPR hanya 30 juta. Kami meminta pemerintah untuk menaikkan tunjangan rapat 400% atau kami akan mengajukan interpelasi masalah Titanic.”

Yang sebenarnya terjadi:

Juru Radio Titanic:

“SOS..SOS.. Mohon bantuan… kapal kami menabrak gunung es…..”

Sent by: Dimaz Ankaa Wijaya

http://ketawa.com/humor-lucu/cat/5/humor_politik.html

Sama-Sama Pelupa

Harto adalah seorang suami yang sering ‘Jajan’ di komplek lokalisasi. Suatu malam ketika ia selesai kencan dengan istrinya sendiri, Harto langsung menyerahkan uang lima puluh ribu kepada sang istri dan buru-buru mengenakan celana panjang.

Saat sang istri pergi ke kamar mandi, Harto baru sadar bahwa kebiasaan itu hanya berlaku untuk seorang pelacur yang melayaninya, bukan untuk sang istri.

“Celaka ! Pasti istriku akan tahu kalau aku sering jajan di tempat begituan?!” gumam Harto dengan cemas.

Ia tak punya alasan untuk menarik kembali uangnya itu.

Tapi ketika sang istri keluar dari kamar mandi, ternyata ia langsung di dekati oleh sang istri yang berwajah berang.

Sang istripun membentaknya: “Hei, kurang nich! Biasanya seratus ribu, kenapa kau kasih cuma lima puluh ribu?!”

Harto : “Biasanya… ?!”

“Oh, hmm, eeh… anu… maksudku…” sang istripun gugup dan pucat sekali.

Sent by: e-ketawa

Iklan

book-of-mormon-dance

Sakit stroke

Kunjungilah posting ini:

https://sbelen.wordpress.com/2013/05/03/bawang-putih-cuka-apel-madu-jahe-lemon-jantung-sehat-tubuh-bugar/

Gambar spanduk Sano

sano-sembuhkan-stroke

Kartu nama Yuni 2

Tag: , , , , , , , ,

2 Tanggapan to “Mari ketawa bersama Gus Dur, dll.”

  1. Titus Udik Says:

    heheheee top markotop

  2. Verus Amicus Says:

    Ckakak Ckikik Ckukuk………..!!!!!!!???????

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: