Cerita dari rumah Pak Frans Seda. Selamat jalan pejuang sejati & tangguh!

Seorang anak petani dari Lekebai, Kabupaten Sikka, Maumere, Flores, merantau untuk belajar di Kolese van Lith (sekarang SMA Pangudi Luhur van Lith) di Muntilan, Magelang, Jawa Tengah. Selanjutnya menempuh pendidikan tinggi di bidang Ekonomi di Belanda. Kembali memilih peran sebagai ekonom dan politisi.

Kecerdasannya menarik perhatian Bung Karno. Tak lama kemudian, jabatan Menteri Perkebunan dipercayakan kepadanya. Selanjutnya, dipercaya Presiden Soeharto menjadi Menteri Pertanian, Menteri Keuangan, dan Menteri Perhubungan. Dalam masa hidupnya Pak Frans Seda menjadi penasihat 5 Presiden sampai dengan Ibu Megawati Soekarnoputri.

Seorang remaja Flores yang merantau untuk bersekolah di Jawa. Mulai mengenal suku bangsa lain di luar NTT.

Foto keluarga. Pribadi yang mencintai keluarga, gereja, dan bangsa Indonesia. Pak Frans Seda berprinsip, pandangan politik boleh berbeda tetapi persahabatan haruslah tetap diteruskan. Ada kalanya teman-teman sealiran politik meninggalkan dan menyerangnya, namun ia tetap tangguh berjuang untuk prinsip yang ia yakini. Ketika kondisi politik berubah, ia tetap terbuka menerima teman-teman lama untuk kembali berjuang untuk sebuah cita-cita yang sama. Teladan hidupnya menunjukkan bagi kaum muda yang ingin terjun ke dunia politik, bahwa sikap tangguh dan tak gampang berputus asa haruslah menjadi sikap seorang politisi yang berjuang untuk bangsa dan tanah air.

Pater Lorens da Costa SVD (depan), mantan Rektor Seminari Tinggi Ledalero dan mantan Provinsial SVD Ende, Flores dan Pater Michael de Fretes SVD (di belakangnya), dosen STFK Ledalero melayat ke rumah duka sekalian ikut berperan dalam misa konselebrasi.

Pater  Lorens da Costa menyalami keluarga. Pater Michael de Fretes berbicara dengan Ery Seda, dan Pak Chris Siner Keytimu tampak di belakang Pater Michael de Fretes. Pak Chris bercerita, sebenarnya Pak Frans Seda hanya ingin mencapai usia 70 tahun. Karena, jika terlalu tua ia akan membuat orang lain menderita karena harus merawatnya. Namun, Tuhan merencanakan baginya usia 82, menjelang 83 tahun. Dua tahun terakhir ia harus duduk di kursi roda. Namun, semangatnya tetap berkobar untuk memberi gagasan solusi terhadap perkembangan ekonomi dan kehidupan politik Indonesia. Dalam misa dinyanyikan lagu “Aku Rindu” dari Yubilate. Lagu ini menggambarkan kerinduan hati Pak Frans untuk segera bertemu dengan Tuhan yang Mahabesar dan Mahamurah bagi diri dan keluarganya.

Ibu Johanna Seda sedang disalami pelayat

Nesa, putri kedua Pak Frans Seda disalami pelayat.

Dr. Ery Seda (kanan depan), putri pertama Pak Frans Seda, sosiolog dan dosen UI sedang disalami pelayat

Seorang tokoh pejuang persatuan Indonesia meninggal dengan tenang. Saat kematian inilah yang amat didambakan Pak Frans Seda, ingin segera bertemu dengan Sang Pencipta yang menjanjikan kebahagiaan bagi orang yang setia berjuang bagi sesama.

Dinding berornamen Jawa dan gading gajah yang menjadi belis atau mas kawin di Flores. Dua budaya yang dicintai Pak Frans Seda.

Ibu Johanna Seda berjabatan tangan dengan Sri Paus Paulus VI dalam kunjungannya ke Indonesia

PUJI DAN SYUKUR

Puji dan syukur pada-Mu ya Tuhan,

melimpah berkat-Mu serta pengasihan.

Kuasa kasih bimbingan tangan-Mu,

menuntun hidup kami selalu.

Hadirlah Tuhan di antara kami;

jadikanlah kami gereja sehati.

Dimuliakanlah nama-Mu ya Tuhan,

segala puji syukur kepada-Mu.

——————————————–

Upaya kami membangun dunia

seturut semangat Yesus Tuhan kita.

Curahkan Roh-Mu kepada umat-Mu,

dampingi kami Tuhan selalu.

Anugrahilah sluruh Nusantara,

agar hidup rukun, damai sejahtera

Kami bersyukur pada-Mu ya Tuhan,

Engkau yang mahamurah, mahabesar.

Lagu ”Puji dan Syukur” ini adalah lagu ciptaan terakhir Binsar Sitompul, komponis Indonesia terkenal, alumni Kolese van Lith, sebelum meninggal dunia. Syair lagu ini dikarang Pak Frans Seda sedangkan komposisi musiknya dikarang Binsar Sitompul, seorang teman sekolahnya di Kolese van Lith. Bait pertama menggambarkan sikap garis perjuangan Pak Frans Seda bagi gereja. Bait kedua menggambarkan perjuangannya bagi kerukunan dan damai sejahtera bangsa Indonesia sebagai bagian dari membangun dunia. Motivasi perjuangannya selalu didorong oleh rasa syukur kepada Tuhan. Syair lagu ini menggambarkan sebagai pejuang, ia tampil menjadi orang Katolik 100% dan nasionalis 100%. Pak Frans Seda pernah mengatakan bahwa Tuhan mahamurah bagi dirinya. Banyak sekali yang telah ia dapatkan sebagai pemberian Tuhan: pendidikan, pengabdian, karier politik, jabatan, pengejawantahan gagasannya di bidang pendidikan, manajemen, organisasi politik.

Bunga apa ini? Pak Frans sedang berdiskusi tentang tanaman dan bagaimana membudidayakan tanaman.

Penyayang tanaman. Waktu dipilih menjadi Menteri Perkebunan, Bung Karno berpesan, Pak Frans, saya memilih Anda menjadi Menteri Perkebunan agar memperhatikan pula NTT dan mendorong rakyat menanam tumbuhan untuk kemakmuran rakyat.

Misa arwah berupa misa konselebrasi oleh 4 imam. Dua dari ke-4 imam itu adalah anggota keluarga Pak Frans Seda. Pada waktu misa sedang berlangsung datang Ibu Megawati Soekarnoputri yang memanggil almarhum “Om Frans”. Waktu Ibu Megawati menjadi Wapres dan Presiden di salah satu saku celana atau jas Pak Frans pasti ada satu HP khusus untuk menerima telepon dari Ibu Mega.

Pelayat yang mengikuti kurban misa

Disenandungkan lagu-lagu Misa Requiem dalam bahasa Latin, yang amat disenangi Pak Frans dan terakhir dinyanyikan “Salve Regina”, lagu yang dipesan agar dinyanyikan ketika ia meninggal. Lagu ini adalah lagu nostalgia yang harus dinyanyikan siswa-siswa asrama SMP Ndao di Ende dan siswa-siswa di asrama Kolese van Lith di Muntilan. Sebagai orang Flores, khususnya orang Sikka, Maumere, devosi kepada Bunda Maria telah menjadi bagian kebudayaan.

Turut berdukacita hanya berlaku bagi keluarga yang ditinggalkan. Tetapi, bagi Pak Frans Seda ucapannya adalah “Turut Bergembira” karena menurut beliau hari kematian adalah hari kegembiraan memasuki kerajaan surga yang dijanjikan bagi orang yang setia kepada panggilan hidupnya.

Jumlah dan keanekaragaman karangan bunga di rumah duka menggambarkan bidang-bidang pengabdian dan perjuangan Pak Frans Seda sekaligus relasi kerja samanya dengan berbagai golongan agama dan aliran politik.

Advertorial

funny-gifs-gets-sick-of-the-sea

Hepatitis

Kunjungilah posting ini:

https://sbelen.wordpress.com/2013/05/03/bawang-putih-cuka-apel-madu-jahe-lemon-jantung-sehat-tubuh-bugar/

Gambar spanduk Sano

sano-sembuhkan-hepatitis

Kartu nama Yuni 2

Tag: , , , , , , , , ,

5 Tanggapan to “Cerita dari rumah Pak Frans Seda. Selamat jalan pejuang sejati & tangguh!”

  1. Martín Bhisu Says:

    Bung Sil, trims atas liputanmu. Siapa tokoh katolik yg bisa seperti Frans Seda? Sejarah memberi peluang kepada masing2 kita sesuai dengan konjungtur yang tersedia.

  2. P. Lukas Jua, SVD Says:

    Bangsa Indonesia kehilangan dua tokoh nasional yang besar dalam waktu berdekatan, yaitu Gus Dur, mantan Presiden RI dan Pak Frans Seda, mantan menteri Perkebunan, Pertanian, Keuangan, dan Perhubungan. Keduanya sungguh berakar dalam kebudayaan dan agama masing-masing, tapi berwawasan luas karena mereka mampu keluar dari keterbatasan agama dan kebudayaan serta suku mereka. Aku rindu memiliki pemimpin semacam itu

  3. Sr.Yuliana,ssps Says:

    Terima kasih Pa Sil..untuk cerita tentang hidup dan hari-hari terakhir dari Bapa Frans Seda. Sebagai orang Flores kita merasa kehilangan beliau tapi sekaligus bangga. Kiprah beliau di bidang politik, gereja, dan kemanusiaan luar biasa. Ketika masih tugas di Maumere kami pernah mengundang beliau ke komunitas. Beliau berceritera banyak tentang cita2 dan harapannya bagi bangsa kita saat itu. Saya sangat terkesan dengan kesederhanaan beliau. Zaman ini susah kita temukan lagi figur seperti ini. Sekali lagi terima kasih. Semoga beliau beristirahat dalam Damai-Nya.

  4. Elias Sumardi Dabur Says:

    Pak Sil, saya senang membaca cerita dari rumah Pak Frans. Mohon perkenan, tulisan ini dimuat di group yg saya buat “Symfoni Tanpa Henti” ( Tribute to Frans Seda). Tks

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: