Archive for Januari, 2010

Doa, imajinasi, dan kreativitas

Januari 28, 2010

  • Kreativitas amat penting bagi seseorang dalam menghadapi tantangan kehidupan yang tak pasti di masa depan. Kreativitas adalah fungsi multikecerdasan.
  • Kreativitas didorong oleh imajinasi. Kreativitas adalah aplikasi atau penerapan imajinasi. Tak mungkin mengharapkan seorang anak kreatif jika kita membatasi ia berimajinasi bebas dan “liar”. Anak adalah makhluk berimajinasi. Tiap individu adalah makhluk berimajinasi. Apakah ayam berimajinasi? Tidak. Apakah kucing berimajinasi? Tidak. Karena itu tak ada kreasi yang diciptakan ayam atau kucing. Dari dulu kala perilakunya sama saja. Justru manusia dianugerahi kreativitas sehingga ia turut menjadi co-creator bersama Sang Maha-kreator.
  • Imajinasi tidak datang dari mana-mana. Imajinasi itu datang dari otak, terutama belahan otak kanan.
  • Namun, otak akan terkendala berimajinasi jika pemilik dan penyandang otak itu tidak berharap, tidak bermimpi, tidak ingin mengulurkan tangannya untuk meraih sesuatu yang lebih baik di masa depan. Nah, harapan dan impian meraih sesuatu yang diidam-idamkan itu justru terjelma dalam doa.
  • Orang yang kurang berdoa menunjukkan sikap kurang berharap, kurang bermimpi, dan juga kurang bersyukur. Tidak semua harapan, impian, dan keinginan bersyukur kita terpenuhi. Doa memotivasi orang untuk bertindak. Doa memacu orang mencapai idamannya melalui bantuan tangan ilahi yang tak kentara tetapi bekerja memberi stimuli kepada otak untuk mewujudkan doa itu ke dalam tindakan nyata, action untuk merealisasi idaman.

  • Ora et labora. Berdoalah dan bekerjalah. Doa tanpa kerja adalah sikap malas yang meminta Tuhan bekerja untuknya. Bekerja tanpa doa adalah sikap rajin yang tidak disertai imajinasi, tak disertai motivasi.
  • Kreativitas tiap orang itu unik karena entitas kreativitas itu bervariasi. Ada orang yang berpikir dengan suaranya (tipe auditif), ada orang yang berpikir dengan matanya (tipe visual), tapi ada orang yang berpikir dengan gerakan tangan / tubuhnya (tipe kinestetik) dan ada orang yang senang berpikir abstrak.
  • Kreativitas itu dinamis, selalu bergerak dan berubah, naik-turun, timbul-tenggelam.
  • Kreativitas itu berbeda-beda antara seseorang dengan orang yang lain, bergantung kepada pengalaman, warisan genetik, dan kehidupannya. Lain kata, bergantung kepada otobiografinya.
  • Karena itu, anak-anak dan generasi muda kita perlu sekali dibekali dengan kemampuan berkreasi, kemampuan kreatif, dengan kreativitas.
  • Namun, orientasi menekankan mata pelajaran dalam hirarki pada kurikulum terbanyak negara di dunia (Urutan dari atas ke bawah: Bahasa – Matematika – IPA – IPS – Humaniora – Keterampilan – Kesenian) justru bertentangan dengan ciri-ciri kreativitas. Hirarki seperti ini disusun bagi semua anak didik untuk masuk ke gerbang universitas. Ijasah universitas adalah tiket masuk dunia kerja. Tapi itu dulu. Kini, fakta menunjukkan bahwa begitu banyak lulusan universitas di seluruh dunia terjerembab frustrasi karena menganggur, tidak mendapatkan pekerjaan. We teach subjects. We do not teach children. Karena itu, tidak heran jika Albert Einstein mengatakan, bahwa satu-satunya hal yang menghambat kreativitasnya adalah pendidikan.

  • Guru bersemangat menghembuskan ke telinga anak-anak bahwa mata pelajarannya yang lebih penting. Kegairahan kepada mata pelajarannya menyebabkan ia mengabaikan, melalaikan pelayanan terhadap minat anak yang berbeda-beda.
  • Kekeliruan ini bersumber dari kesalahan fatal menyiapkan anak untuk masa depan dengan berupaya menggunakan cara-cara dan kiat-kiat yang cocok di masa lampau dengan lebih baik. Semuanya menghambur-hamburkan tenaga dan dana untuk sesuatu yang usang di masa depan.
  • Jalan yang terbaik yang seyogianya dipilih adalah menumbuhkembangkan dan melatih anak berolah kreativitas. Kreativitas justru mandek jika kita memaksakan anak menghafal dan menguasai mata pelajaran yang justru menyandra kreativitas.
  • Bagaimana cara mengembangkan kreativitas? Silahkan kunjungi postings dalam blog ini dengan tag kreativitas dan tag otak! Terima kasih!

Iklan

Burung

Sakit stroke

Kunjungilah posting ini:

https://sbelen.wordpress.com/2013/05/03/bawang-putih-cuka-apel-madu-jahe-lemon-jantung-sehat-tubuh-bugar/

Gambar spanduk Sano

sano-sembuhkan-stroke

Kartu nama Yuni 2

Bermain dengan pasir mengembangkan kreativitas anak. Mulailah dengan guru!

Januari 26, 2010

Anak-anak SD Geraga, Sipoholon, Tapanuli Utara ini bermain dengan pasir tanpa disuruh. Mereka memanfaatkan pasir yang dipersiapkan bagi para guru untuk membuat model IPS dalam penataran.

Bermain-main memanipulasi benda alamiah lebih menarik minat anak daripada mainan buatan pabrik.

Buat apa ini, nak? Ungkapan spontan budaya Batak?

Acara terakhir penataran Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) dan belajar aktif  pendidik dari 3 SD model ditambah guru dan kepala sekolah dari 7 SD lain di Kecamatan Sipoholon tanggal 19 – 22 Januari 2010 diisi dengan kegiatan membuat model lokasi wisata yang pernah dikunjungi.

Penataran ini adalah kegiatan terakhir dari program 6 bulan pengembangan SD model melalui pendampingan lewat inhouse training dari akhir Juli 2009 s.d. akhir Januari 2010. Ibu Nia Susanti bekerja secara kontinu selama 6 bulan mendampingi para guru dan kepala sekolah pada 3 SD ini. Kami datang secara berkala untuk membantu pendampingan ini. Ini adalah program bantuan keluarga Gunawan Hutauruk, pemilik Penerbit Erlangga.

Berikut ini kami sajikan foto-foto kegiatan membuat model dari pasir dan peta dari objek-objek pada model yang dihubungkan dengan tali rafia. Ini adalah salah satu ide kegiatan belajar IPS.

Giliran para guru berkreasi sesuai dengan imajinasinya

Hands-on experience atau pengalaman langsung membuat model akan menstimulasi kerja otak. Praktik ini akan mendorong para guru untuk menerapkannya kepada anak-anak

Bekerja sama adalah salah satu ciri penerapan pendekatan belajar aktif

Kelompok ini sedang membentuk Danau Toba dan Pulau Samosir di tengahnya

Anak perempuan ini tertarik memperhatikan betapa para guru gembira bermain pasir. Jika orang dewasa senang memanipulasi pasir, apalagi anak-anak.

Ibu kepala sekolah ini terlibat membuat model. Tanpa dorongan kepala sekolah mustahil diharapkan kemajuan inovasi di sekolah yang dilakukan para guru.

Teori belajar konstruktivisme menandaskan bahwa belajar adalah mengalami.

Berkotor tangan adalah kebiasaan yang perlu ditanamkan bagi para guru dalam melaksanakan kegiatan belajar.

Menghubungkan objek pada model dengan gambar simbol / legenda pada peta.

Guru saja bangga terhadap hasil pekerjaannya, apalagi para siswa.

Mungkin ini pengalaman pertama yang mereka alami dalam penataran yang biasanya didominasi ceramah. Penataran yang diisi dengan ceramah dan ceramah membuat apa yang masuk dari telinga kiri langsung keluar lewat telinga kanan.

Inilah hasil karya kami!

Dari imajinasi ke arah model lewat aktivitas melakukan. Agar tahu tentang model dan peta, praktikkan membuat model dan peta.

We are the best!

Keceriaan adalah emosi senang yang turut memotivasi belajar.

Inilah hasil maksimal yang telah kami buat!

Iklan

134845588186362_animate

Asam urat yang menyakitkan

Kunjungilah posting ini:

https://sbelen.wordpress.com/2013/05/03/bawang-putih-cuka-apel-madu-jahe-lemon-jantung-sehat-tubuh-bugar/

Gambar spanduk Sano

sano-sembuhkan-asam-urat-anda

Kartu nama Yuni 2

Apa yang kau cari Pansus Century? Cari barang hilang di terik mentari pakai pelita!

Januari 26, 2010

Pansus Century ibarat orang melihat anjing di depan mata pakai keker

Mencari keadilan seperti mencari jarum di rimba hukum Nusantara

apa yang kau cari?

oleh gerardus n bibang

(petani humaniora)

apa yang kau cari?

pembuat salah atau penjahat?

bila pembuat salah

pergilah ke gedung-gedung pejabat

akan kau dapati beberapa pejabat

yang tidak pernah diam

yang tidak hanya sibuk wacana

yang melakukan terobosan

menghancurkan belenggu-belenggu jahanam

menghalau mitos-mitos kekuasaan

yang selalu mendapat benturan

perlawanan dan kemungkinan salah

atau dipersalahkan sangat besar

itulah pejabat yang berani mendobrak

yang berpeluang melakukan kesalahan

melalui keputusan-keputusan yang ia tandatangani

salahkah ia?

jahatkah ia?

janganlah kau terjebak dalam mencari-cari kesalahannya

dengan senjata rasionalitas yang kau gunakan

pembuat salah dan penjahat bedanya besar

kesalahan melekat pada hakikat ciptaan

mengalirkan energi pembangkit asa

kejahatan sebaliknya: merenggut kehidupan

percuma kau mencari-cari pembuat salah

sementara penjahat berkeliaran di kamar-kamar hotel mewah

menari-nari mereguk keuntungan

di lorong-lorong kota dan mancanegara

nyaman duduk di kursi-kursi empuk

menikmati anggaran tanpa menggunakannya dengan prakarsa mendobrak

supaya aman dan terpilih lagi di periode kedua

—————————————————————

janganlah kau lupa akan satu hal:

bersyukurlah atas hal-hal yang lebih besar!

bahwa kesalahan yang dibuatnya tidak merembet ke mana-mana

tanpa kau harus membenarkan kesalahannya

janganlah sekali-kali bibirmu berhenti melantunkan mazmur syukur

syukurmu mengalirkan asa

mengarungi hari-hari yang cerah

taman aries, 20-01-‘10

(saat Pansus Century terlalu sibuk mencari-cari kesalahaan pembuat kebijakan dan lupa akan hal yang lebih besar).

Menjerat koruptor di Indonesia sebenarnya seperti anak SD memakai kaca pembesar melihat bunga di depan mata. Namun, politisi membuat labirin sehingga apa yang jelas menjadi semakin tak jelas, lalu tenggelam dalam alam kelupaan di dasar laut. Mau jadi apa bangsa ini?

Rakyat menuding tepat sasaran. Dengan hati nuraninya, rakyat tahu siapa yang salah dan siapa yang benar, siapa yang merampok uang rakyat dengan seribu dalih.

Lustra Wodne, Pesona pantulan air

Januari 26, 2010

Pantulan air atau lustra wodne dalam bahasa Polandia sering membuat manusia takjub terhadap keindahan alam yang asli tanpa dibuat-buat seperti keindahan manusia.

Jika Anda ingin melihat foto-foto pantulan air, silahkan klik file ini!

Lustra wodne – pantulan air

Sumber: Kiriman Greg Atulolon dari Polandia

Iklan

ibpI5li7kjnRD9

heart-attack

Kunjungilah posting ini:

https://sbelen.wordpress.com/2013/05/03/bawang-putih-cuka-apel-madu-jahe-lemon-jantung-sehat-tubuh-bugar/

Gambar spanduk Sano

Kartu nama Yuni 6

Senandung rindu Flores menolak tambang

Januari 25, 2010

Menuju Wailebe. Di depan tampak Tanjung Gemuk, Adonara, Flores, NTT

Orang Flores sedang menari

SENANDUNG RINDU FLORATA

Oleh Ronny Nmg

Purnama di Tanjung Gemuk

Iluminasi Lohayong wadas negeri

Gelombang pasang Lembata melaut

Surut kembali dingin pagi

Nada anak dara berkebaya tenun

Berungkap hati,

Patah terkulai

Berbalas pantun

Tentang cerita cinta yang telah mati

Dongeng juang nenek moyang

Florata Nusa Makmur

Florata Nusa Damai

————————-

KAMI MENARI

Di bulan purnama raya

Telanjang dada, tak beralas

Tak takut pun gemetar nadi

Langgar Undang-Undang Pornografi

Adat kami punya sejarah

——————————–

KAMI MENARI

Dengan sarung tenun karya tangan

Kebaya kain polos tak berbunga

Kami ini perempuan

Kami punya harga diri

—————————–

DAN

KAMI AKAN TETAP MENARI

Bukan saja di saat purnama menyapa

Tapi juga di waktu bulan sabit

Angkat pedang untuk tambang

Perisai kayu bentengi napas

Tombak lembing tak ketinggalan

Mati terkubur tanah

Hidup terbelenggu lahar tambang

Harga ini 100% darah murni

UNTUK ASASI KAMI

YANG TUMBANG DI LUBANG TAMBANG

—————————————————-

Paraguay, Januari 2010

Ronny Nmg, Casa Central Verbita

Encaranción-Paraguay

Orang Ngada, Bajawa di Desa Bena sedang menari

Uci, ponakanku depan rumah suku di Wailebe, Adonara, Flores

Opu Tima, penjaga adat di kampung Wailebe, Adonara, Flores

Gunung Ile Mandiri tampak di belakang dari kampung Wailebe

Pesona alam di bawah permukaan laut (underwater)

Januari 25, 2010

Pesona pemandangan di bawah laut

Keindahan alam bawah laut tak kalah dengan yang di daratan

Warna-warni ciptaan di bawah permukaan laut

Untuk melihat rangkaian foto ciptaan di bawah laut, silahkan klik file ini!

Underwater

Sumber: Kiriman rekan Greg Atulolon dari Polandia

Iklan

httprionih.files.wordpress.com200807goyang.gif

heart-attack

Kunjungilah posting ini:

https://sbelen.wordpress.com/2013/05/03/bawang-putih-cuka-apel-madu-jahe-lemon-jantung-sehat-tubuh-bugar/

 

Gambar spanduk Sano

Kartu nama Yuni 6

Anjing masuk surga? Perang kata di negeri orang

Januari 25, 2010

Semua anjing masuk surga

Hanya manusia yang masuk surga. Baca kitab suci!

Debat apakah anjing masuk surga benar-benar terjadi di negeri orang. Kok bisa? Silahkan baca powerpoint ini!

Tak ada anjing yang masuk surga

Sumber: Disusun dan diterjemahkan dari kiriman Ratna Ariani

Kisah seorang anak & sebuah pohon apel

Januari 25, 2010

Seorang bocah kecil berteman dengan sebuah pohon apel. Keduanya saling menyayangi. Namun, kisahnya berakhir dengan kepedihan. Ingin tahu jalan ceritnya?

Silahkan klik file powerpoint ini!

Kisah sebuah pohon apel

Disusun dan diterjemahkan dari kiriman Ratna Ariani

Iklan

30-rock1

Human heart

Kunjungilah posting ini:

https://sbelen.wordpress.com/2013/05/03/bawang-putih-cuka-apel-madu-jahe-lemon-jantung-sehat-tubuh-bugar/

Gambar spanduk Sano

Sano darah tinggi

Kartu nama Yuni

Prinsip konstruktivisme dalam belajar

Januari 9, 2010

Konstruktivisme adalah bangunan teori yang melandasi pendekatan belajar aktif (active learning approach). Menurut konstruktivisme, belajar bukanlah transmisi pengetahuan dari guru kepada siswa. Belajar adalah mengalami. Belajar yang bermakna adalah mengalami apa yang dipelajari. Anaklah yang membangun makna melalui mengalami. Siswalah yang membangun makna melalui mengalami. Mahasiswalah yang membangun makna melalui mengalami.

Melalui aktivitas mengalami, anak, siswa atau mahasiswa melakukan proses asimilasi dengan kerangka (skemata) pengetahuan yang telah dimiliki dalam dunia fisik, sosial, dan budayanya dan melakukan proses akomodasi terhadap skemata tatkala ia terpapar atau mengalami sesuatu yang baru atau lain. Semuanya ini terjadi dalam proses mencari equilibrium (keseimbangan) dan untuk mencapai equilibrium, siapa pun yang belajar melakukan proses asimilasi dan akomodasi secara terus-menerus. Proses asimilasi dan akomodasi tidak terjadi secara berurutan tetapi lebih seperti zig-zag, ke sana ke mari sesuai dengan perkembangan pengetahuannya.

Anak-anak SD di Merauke sedang belajar Matematika.

Guna menyelami makna konstruktivisme berikut ini dikemukakan sebuah daftar pernyataan (menurut abjad).

Knowing mathematics is “doing mathematics”. (Agar tahu matematika, “lakukanlah” matematika).

Knowing science is “doing science”. (Agar tahu  sains, praktikkan sains).

Knowing social studies is “doing social studies”. (Agar tahu IPS, praktikkan IPS).

Agar tahu akuntansi, praktikkan akuntansi.

Agar tahu aljabar, berpraktiklah aljabar.

Agar tahu antropologi, beranropologilah.

Agar tahu bahasa Indonesia, berbahasalah bahasa Indonesia.

Anak-anak SD Sumbersono, Mojokerto sedang mengamati dan membuat deskripsi tentang tanaman.

Aga tahu bahasa Inggris, berbahasalah bahasa Inggris.

Agar tahu bakar sate, bakarlah sate.

Agar tahu berbicara bahasa Inggris, berbicaralah bahasa Inggris.

Agar tahu berdoa, berdoalah.

Agar tahu berenang, berenanglah.

Anak-anak di Pulau Bacan, Maluku Utara sedang berenang.

Aga tahu bermain bola kaki, bermainlah bola kaki.

Agar tahu bermain catur, bermainlah catur.

Agar tahu bermain volley, bermainlah volley.

Agar tahu berpidato, berpidatolah.

Agar tahu bikin kue, bikinlah kue.

Agar tahu budi pekerti, praktikkanlah budi pekerti.

Agar tahu drama, bermainlah drama.

Amak-anak kelas I SD Kalumata Ternate sedang bermain drama.

Agar tahu ekonomi, praktikkan ekonomi.

Agar tahu filsafat, berfilsafatlah.

Agar tahu fotografi, praktikkan fotografi.

Agar tahu geografi, praktikkan geografi.

Agar tahu geometri, praktikkan geometri.

Agar tahu gosok gigi, gosoklah gigi.

Anak-anak SD Lumban Baringin, Sipoholon, Kabupaten TApanuli Utara, Sumatera Utara sedang berpraktik menggosok gigi dalam school assembly.

Agar tahu kedokteran, praktikkan kedokteran.

Agar tahu makanan sehat, makanlah makanan yang sehat.

Agar tahu mandi, mandilah.

Agar tahu meditasi, bermeditasilah.

Agar tahu melukis, melukislah.

Agar tahu membuat patung, buatlah patung.

Agar tahu memimpin lagu, pimpinlah orang bernyanyi.

Agar tahu menanam, tanamlah tanaman.

Agar tahu menari, menarilah.

Anak-anak SD Lumban Soit, Sipoholon, Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara sedang menari dalam school assembly.

Agar tahu menjahit, menjahitlah.

Anak SD Sumbersono, Mojokerto sedang belajar menjahit.

Agar tahu menulis dalam bahasa Inggris, buatlah tulisan dalam bahasa Inggris.

Agar tahu menulis puisi, tulislah puisi.

Agar tahu menulis surat, tulislah surat.

Agar tahu beryanyi, bernyanyilah.

Agar tahu olahraga, berolahragalah.

Agar tahu panjat pohon, panjatlah pohon.

Agar tahu pendidikan agama, praktikkan agama.

Agar tahu pendidikan jasmani, praktikkan pendidikan jasmani.

Agar tahu seni budaya dan keterampilan, praktikkan seni budaya dan keterampilan.

Agar tahu bermain musik, bermainlah musik.

Agar tahu sopan santun, praktikkan sopan santun.

Agar tahu sosiologi, bersosiologilah.

Agar tahu teologi, berteologilah.

Agar tahu wawancara, lakukanlah wawancara.

Makna pernyataan-pernyataan ini adalah jika Anda ingin mengetahui sesuatu, lakukanlah sesuatu itu. Atau pernyataan ini juga dapat dibalik. Jika Anda melakukan sesuatu, Anda akan tahu sesuatu itu.

Dampak terhadap evaluasi atau ujian terhadap pengetahuan yang bermakna yang dicapai siswa adalah berilah kesempatan kepada siswa itu melakukan dan Anda akan tahu sejauh mana ia tahu atau tidak tahu tentang sesuatu. Evaluasi atau ujian pengetahuan tidak bisa dilakukan melalui tes pilihan ganda atau tes esai (uraian) semata karena orang yang tahu belum tentu mampu melakukan. Namun, jika seseorang mampu melakukan dapat dijamin bahwa ia mengetahui apa yang telah dilakukan atau dipraktikkannya.

Anak-anak SD St Michael Merauke belajar di halaman sekolah.

Iklan

900x900px-LL-92a6f817_girls-football-trick-animation

Osteoporosis

Kunjungilah posting ini:

https://sbelen.wordpress.com/2013/05/03/bawang-putih-cuka-apel-madu-jahe-lemon-jantung-sehat-tubuh-bugar/

Gambar spanduk Sano

Sano sembuhkan osteoporosis

Kartu nama Yuni 2

Di batu nisan kubur Gus Dur: “Di sinilah dikubur seorang pluralis”. Renewing our spirit of pluralism

Januari 7, 2010

Untuk mengenang Gus Dur, perkenankan kami post artikel dari Jakarta Post ini. Penulisnya telah mengizinkan kami muat di sini untuk merefleksikan perjuangan pantang mundur Gus Dur menegakkan pluralisme bagi kejayaan tanah air.

Renewing our spirit of tolerance, pluralism

Gabriel Faimau ,  Bristol   |  Mon, 01/04/2010 9:20 AM  |  Opinion

Amid the political bubbles concerning the Bank Century scandal, we are once again disturbed by the news of the recent destruction of a church that was still under construction in Harapan Indah residential complex, Bekasi, West Java (The Jakarta Post, Dec. 19, 2009). Indeed, this event again and again puts our national sense and spirit of tolerance into question.

Our country has long been recognized internationally as a country with an “outstanding” performance when it comes to respecting cultural and religious differences. An international seminar held in Rome, Italy, last March 2009, for example, elevated Indonesia as a model of international tolerance.

Opening this seminar, Franco Frattini, the Italian foreign minister mentioned Indonesia as an important actor in world peace (Paulinus Yan Olla, Kompas March 27, 2009). So, with the recent event of the attack on this church, we should again ask ourselves: are we really still a nation that respects our multicultural and multi-religious pride?

Destroying a place of worship often occurs when a society loses its capacity and ability to live together differently.

This loss becomes even worse when small differences become a thorn in the flesh. Sigmund Freud interestingly invented the phrase “narcissism of the small difference” to explain this problem. What Freud meant is that too often people see difference as an absolute and a continual threat to one’s identity even though it may be just a slight difference.

According to Adam Selligman (2008), when a society is challenged with the notion of the “small difference”, we often develop two common moves.

Firstly, the small difference is exacerbated by pushing away a group beyond our sense of shared humanity. Members of this group are seen as objectionable strangers or outsiders. In this context, tolerance is ruled out simply because it does not have a place.

Secondly, the need for tolerance is avoided by directing the small difference in a different direction.

Here the importance of differences is reduced or even neglected by only appealing to some basic shared characteristics. The problem with this approach is that tolerance is not needed because we appear to run away from our differences.

Bukan berebut dan saling menarik turun dalam lomba panjat pinang, tetapi bekerja sama bahu membahu untuk memekarkan Indonesia yang pluralis. (Para siswa Seminari Menengah Pematang Siantar pada HUT Proklamasi 2009)

If we want our pluralist society to work, tolerance should be appreciated as a virtue that must be cultivated as the basis for our Indonesian spirit guided by a principle of equally sharing our Indonesian civil space.

Recognizing our differences and strengthening our shared humanity requires renewal every now and then.

Events that involve the destruction of places of worship have often occurred in our country, particularly in the past two decades. Analysts often view this problem through the frame of majority-minority relationships. Such a frame makes sense. However, Indonesians are brought up on the belief of a nation of many faces with one heart. But there is still the question of how we define the notion of majority-minority relationships when we have a shared-responsibility for taking care of our Indonesian spirit.

I think the main problem we often face is the ideological contests through which one or a group may consider another group as an embodiment of an ideology or an embodiment of a religious belief that is not his/hers. Within a political space, too often such contests become more problematic when they are based on the premise that “faith is so important and therefore everybody should follow the faith that I or my group believe in”.

This way of thinking does not only deny the basic rights of human freedom. It does deny humanity as a whole. A better way of living in a multicultural society will only be accessed by every citizen if there is a will to embrace a new perspective based on the proposition that “faith is so important that everyone should respectfully be allowed to live according to a faith that is true to him/her” (Sacks 2002).

Indeed, our diversity is something to be cherished. But che-rishing our diversity is not enough. Unless we respect and protect the rights of every citizen and every cultural and religious group under the rule of law, our diversity will only be romanticized as a tourist attraction, while in the political sphere it may become ‘an everlasting sensitive issue’ and on the practical level, diversity may turn out to be something we are scared to talk about.

This means that if we lose our willingness to guard diversity as our nation’s pride and if we fail to allow space for virtuous tolerance, it is very possible the idea of Bhineka Tunggal Ika (unity in diversity) will easily become an empty slogan memorized in schools or written in the textbooks. A renewal of our sense and spirit for tolerance is therefore urgently needed.

The writer is a PhD candidate at the Department of Sociology, University of Bristol and is the co-editor of the Journal of NTT Studies.

Sumber

http://www.thejakartapost.com/news/2010/01/04/renewing-our-spirit-tolerance-pluralism.html

Posting artikel ini di blog ini telah mendapatkan persetujuan tertulis via email dari penulisnya.

iklan

Animation_of_the_sick_distributed_Bupparai_traditional_ceremony

human-heart

Bacalah posting ini:

https://sbelen.wordpress.com/2013/05/03/bawang-putih-cuka-apel-madu-jahe-lemon-jantung-sehat-tubuh-bugar/

gambar spanduk sano

sano-menyuburkan-wanita-juga-pria

Kartu nama Yuni