Filsafat tentang permainan & permainan menurut riset otak

Bung Martin Bhisu dari Paraguay mengingatkan tulisan Fritz Lake di majalah ACADEMIA, milik Senat STFK Ledalero, Maumere, Flores tentang pemikiran seorang filsuf Belanda. (saya tidak tahu namanya). Menurut filsuf ini, semua kebudayaan berasal dari permainan. Benar, analisis Anda, permainan menanamkan kreativitas, dan semua kebudayan adalah ekspresi dari kreativitas manusiawi.

Saya telepon Fritz Lake tapi teleponnya tak bisa dihubungi, hanya sms menanyakan siapa nama filsuf Belanda itu. Sambil menanti sms balasan, iseng-iseng saya coba browse di google, dan menemukan nama filsuf itu, yaitu Johan Huizinga yang menulis buku Homo Ludens atau “Man the Player” (“Playing Man”), terbit tahun 1938. Beliau sendiri wafat tahun 1945. Lihat http://en.wikipedia.org/wiki/Homo_Ludens_%28book%29.

Huizinga berpendapat bahwa permainan adalah awal pertama dan merupakan suatu kondisi yang perlu bagi lahirnya sebuah kebudayaan. Binatang-lah yang pertama-tama bermain dalam ulasannya tentang kerangka evolusi permainan. Salah satu aspek permainan yang amat signifikan (manusiawi dan kultural) adalah kesenangan. (It is fun). Permainan adalah fungsi manusiawi paling fundamendal yang melahirkan semua kebudayaan sejak dari awal.

Lima ciri khas permainan menurut Huizinga adalah:

  1. Bermain itu bebas, ia dalam kenyataannya adalah kebebasan.
  2. Permainan bukanlah kehidupan yang “biasa” atau “riil”.
  3. Permainan berbeda dari kehidupan “sehari-hari” menurut tempat dan lamanya (durasi).
  4. Permainan menciptakan aturan dan ia adalah aturan itu sendiri. Permainan menuntut keteraturan mutlak dan tertinggi.
  5. Permainan tidak berhubungan dengan kepentingan material dan tak ada keuntungan (profit) yang dapat diperoleh darinya.

Kata dan gagasan tidak lahir dari pemikiran ilmiah atau logis tapi dari bahasa yang kreatif. Dari sekian banyak istilah permainan, terutama dari ludus dalam bahasa Latin, ia menunjukkan persamaan permainan dengan “perjuangan yang serius” dan aplikasi erotis.

Kebudayaan lahir dalam bentuk permainan sejak awal mula. Kehidupan sosial yang lebih tinggi berhubungan dengan bentuk-bentuk suprabiologis, dalam bentuk permainan yang meningkat nilainya. Ia tidak memaknai bahwa permainan berubah menjadi kebudayaan. Ia mensejajarkan permainan dan kebudayaan dan membahasnya sebagai sebuah kesatuan bayi kembar, namun ia menegaskan bahwa permainan-lah yang muncul lebih dulu dari kebudayaan.

Permainan itu menjelma dalam 3 bentuk tuntutan hukum yang didahului masyarakat purba, yaitu the game of chance, kontes, dan perang kata.

Orang dapat menyebut masyarakat sebagai sebuah permainan dalam arti formal jika diingat bahwa sebuah permainan adalah prinsip hidup semua peradaban. Tanpa kehadiran semangat peradaban sebagai permainan tak mungkinlah lahir peradaban.

Bagi manusia purba, berbuat atau melakukan dan keberanian adalah power, tetapi mengetahui adalah kekuatan magis. Mengetahui apa pun berhubungan langsung dengan aturan kosmos itu sendiri.

Puisi lahir dari permainan kata sudah sejak era penyair purba. Karena efek matafora terdiri dari deskripsi hal-hal atau kejadian-kejadian yang berhubungan dengan kehidupan dan gerakan, kita berada di jalan menuju personifikasi. Merepresentasi hal yang bukan jasmaniah dan benda mati sebagai seorang manusia pribadi adalah jiwa seluruh mitos dan hampir semua puisi.

Permainan berhubungan juga dengan musik dan tarian. Arsitek, pematung, pelukis, kartunis, seniman keramik, dan seniman dekorasi walaupun memiliki impuls kreatif, dikuasai, diatur oleh disiplin, “selalu menjadi subjek terhadap keterampilan dan ketangkasan dalam menggunakan tangan.”

Peradaban pada tahap awal tidak datang dari permainan seperti seorang bayi lahir dari rahim ibu, tapi ia lahir dalam dan sebagai permainan dan tidak pernah meninggalkan permainan itu.

Dalam politik zaman modern faktor permainan hadir dalam semua aturan pemilihan umum bahkan lebih jelas. Jauh sebelum sistem dua partai di Amerika Serikat, pemilihan umum di Amerika berkembang seperi sebuah olahraga nasional (national sport).

Kata mutiara:

“Biarlah permainanku menjadi belajarku, dan belajarku menjadi permainanku.”

“Anak tertawa: Permainan adalah kebijaksanaanku dan cintaku.” “Anak muda bernyanyi: Cinta adalah kebijaksanaanku dan permainanku.” “Orang tua diam: Kebijaksaan adalah cintaku dan permainanku.” (Lucian Blaga, 3 wajah).

Bermain mencerdaskan otak anak

Dari segi riset otak disimpulkan bahwa:

  1. DUNIA FISIK ADALAH DUNIA TEMPAT SEMUA AKTIVITAS BELAJAR BERASAL. Gerakan kepala mengarahkan organ indrawi kita – mata, telinga, hidung, dan lidah) terhadap input dari lingkungan.
  2. GERAKAN AMAT VITAL BAGI SEMUA TINDAKAN BELAJAR, pemahaman kita, dan diri kita. Gerakan janin dalam kandungan adalah awal pengetahuan dan pengalaman bagi manusia tentang hukum gravitasi.

“Gerakan adalah pintu menuju aktivitas belajar” (Paul Dennison). Gerakan membangkitkan dan mengaktifkan kapasitas mental kita. Gerakan duduk, berdiri, berjalan, dan berlari waktu bayi membantu kita kelak menciptakan karya seni yang indah lewat proses yang rumit.

Gerakan membuat kita mampu mengungkapkan kesedihan, amarah, kebahagiaan, dan cinta. Menulis angka dan huruf mengikuti gerakan yang dituntut agar terbaca waktu kita melihatnya dengan indra mata. Gerakan yang terpadu dengan pengindraan membuat kita mampu bermain, menghubungkan, dan menciptakan pemahaman baru.

Melalui gerakan kita dapat menyalurkan pikiran dan perasaan kita ke dalam kata-kata dan mimik serta ekspresi tubuh.

Kompetensi dokter, seniman, musikus, ilmuwan, dan profesi lainnya berkembang dalam jaringan internal yang rumit antara PIKIRAN, OTOT, dan EMOSI.

Dalam proses belajar, amat penting membiarkan seseorang bergerak, mengeksplorasi gerakan, dan keseimbangan dalam lingkungannya. Apakah berjalan di titian, memanjat pohon, menyeberangi banjir, berenang, melompati kursi, koprol, berlari, berlutut, merangkak, atau melempar. Karena itu, dalam kegiatan belajar sebaiknya siswa melakukan kegiatan pengamatan atau memegang benda 3 dimensi, membuat gambar 2 dimensi, lalu membuat tulisan 2 dimensi.

Tahapan memperkenalkan tulisan kata kepada anak kelas 1 SD adalah:

☻    Mengamati / memegang buah apel

☻    Menggambar buah apel

☻    Menulis kata apel

Jika seorang anak mengalami ketertinggalan dalam pelajaran di sekolah, karena mengalami hambatan mental atau kesulitan belajar yang serius, solusinya adalah menambah permainan dalam aktivitas bimbingan guru. Anak itu bisa membuat loncatan quantum, misalnya dari tidak bisa membaca, menulis, atau pun berkomunikasi pada level kelas 2 SD sampai ke level kemampuan anak kelas 5 SD yang bisa membaca, menulis, dan berkomunikasi jika ditambahkan gerakan dalam kegiatan sehari-hari, yang dijelmakan dalam bentuk permainan. LONCATAN KEMAMPUAN YANG TIBA-TIBA ITU DISEBABKAN OLEH TAMBAHAN GERAKAN DALAM KEGIATAN SEHARI-HARINYA. Gerakan itu bisa dalam bentuk kegiatan, seperti:

☻    Senam otak

☻    Sepak bola

☻    Seni; dan

☻    Musik.

Ulasan tentang filsafat permainan Huizinga dan paparan hasil riset otak dapatlah disimpulkan pada gambar berikut ini.

Seluruh aktivitas manusia dikendalikan dan bergantung kepada kinerja otak. Imajinasi yang berkembang pada otak mendorong kreativitas berpikir dan bertindak (berbuat). Kreativitas selanjutnya dilaksanakan melalui beragam tindakan manusia yang lahir dari gerakan tubuh. Dari seluruh gerakan tubuh ada gerakan yang diwujudkan dalam bentuk permainan. Ditinjau dari pandangan filsafat Huizinga dapatlah dikatakan bahwa aneka-ragam tindakan (actions) manusia melahirkan kebudayaan. Namun, permainan berperan menciptakan kondisi yang perlu bagi lahirnya sebuah kebudayaan. Mengapa? Karena permainan mengalun mengikuti irama kreativitas dan kreativitas mengalun mengikuti irama imajinasi.

Baca juga Rules, Play and Culture: Towards an Aesthetic of Games, oleh Frank Lantz & Eric Zimmerman dalam

http://www.ericzimmerman.com/texts/RulesPlayCulture.htm

Iklan

Sepeda jatuh di kolam

Sakit herpes

Kunjungilah posting ini:

https://sbelen.wordpress.com/2013/05/03/bawang-putih-cuka-apel-madu-jahe-lemon-jantung-sehat-tubuh-bugar/

Gambar spanduk Sano

sano-sembuhkan-herpes

Kartu nama Yuni 2

Tag: , , , , , , , , , , , , ,

2 Tanggapan to “Filsafat tentang permainan & permainan menurut riset otak”

  1. Ennrique Ole Says:

    Apakah ini merupakan alternatif tunggal untuk menciptakan sebuah kebudayaan lewat permainan?? Apakah ada konsep lain yang membantu agar tindakan manusia itu bisa melahirkan satu kebudayaan baru??
    Viktor Emil Frankl dalam bukunya “Logoterapia” mengemukakan tiga unsur penting yang mempunyai hubungan erat satu sama lain dalam proses untuk mencapai satu tingkat hidup yang baik. Ketiga unsur itu adalah: 1) HASRAT BEBAS dari manusia – “La libertad de la voluntad”, 2) KEMAUAN yang didorong oleh NILAI RASA untuk berbuat – “La voluntad de sentido”, 3) NILAI RASA yang memberi ARTI bagi kehidupan – “El sentido de la vida”. Ketiga unsur ini membantu manusia untuk merubah budaya hidupnya. Apakah ketiga element ini punya manfaat dalam memilih permainan untuk meningkatkan kemampuan anak??? Selamat tahun baru. Berkat Tuhan membuka lembaran baru hidup putrimu dan sukses dalam karyamu di tanah air.
    Enrique Rogan Ole,svd
    Parroquia Santísima Trinidad. Rafael Calzada
    Buenos Aires, Argentina

  2. S Belen Says:

    Hello Enrique, senang mendapatkan tanggapan dari Argentina, negerinya Diego Maradona. Permainan adalah kondisi yang turut menggerakkan manusia mengembangkan kebudayaan. Tentu saja ada banyak ragam analisis untuk menguraijelaskan faktor pendorong lahirnya sebuah budaya baru.

    Saya amat setuju dengan penjelasan Viktor Emil Frankl itu. Manusia punya pikiran, perasaan, dan kehendak. Dari berbagai bacaaan dan hasil pengamatan saya lebih cenderung berpendapat bahwa dibandingkan dengan pikiran, perasaan dan kehendak-lah yang lebih mendorong orang bertindak. Seorang dokter tahu benar bahaya merokok, tapi dokter itu tetap merokok. Mengapa karena ia rasa senang merokok dan rasa senangnya ini men-drive kehendaknya untuk tetap merokok.

    Nah, perasaan dan kehendak itu melebur dalam satu kata, yaitu hati. Hati-lah yang mendorong orang bertindak. Kalau hatiku sudah senang kepada seorang cewek, saya akan terdorong untuk berpacaran dengannya. Dari segi biologis, kalau hati sudah tertarik, muncullah hormon-hormon yang mempengaruhi orang bertindak. Dan, banyak dari impuls itu dikendalikan oleh otak. Sepertinya dalam otak kita ada gelombang-gelombang yang berpijar seperti sinar yang keluar dari bolham lampu yang mendorong seseorang bertindak.

    Hati yang berperan di sini dalam bahasa psikologi diartikan secara khusus dengan istilah motivasi. Sehubungan dengan pendidikan anak, Rousseau (1762) mengatakan bahwa terbanyak masalah pendidikan adalah masalah motivasi. Bila seorang anak telah termotivasi sendiri, guru tidak dapat menahan dia belajar. Dengan ungkapan lain, sembilan per sepuluh pendidikan adalah memberi dorongan. (Anatole France 1844-1924). Tentang memilih jenis permainan untuk anak, prinsipnya adalah apakah anak itu senang permainan X atau Y. Kalau ia senang permainan X, biarkan dan doronglah anak untuk bermain X. Janganlah memaksa anak bermain permainan Y.

    Jika dipikir-pikir, apakah kita lahir ke dunia ini karena “permainan” hasrat orang tua kita. Kalau orang tua tak “bermain-main” ya mungkin kita tak jadi lahir ke bumi ini. Ya, karena rasa cinta dan nafsu orang tua kita yang menyebabkan kita terlahir. Mungkin waktu mereka melakukan “permainan” itu, tak terpikirkan akan mendapatkan anak. Just play together, just do it, dan lahirlah kita tanpa kita diminta setuju tidak lahir ke dunia ini. Nah, setelah lahir, karena kita punya perasaan dan kehendak (voluntas) bebas, jadilah kita pemeran, pembangun budaya bersama orang-orang di sekitar kita.

    Selamat juga bagi Bung Enrique, berkarya dalam pengabdian di rantau orang. Teriring salam dari putriku. Salamku buat Maradona jika baku dapa dengan dia. He he he.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: