andaikan aku seekor burung musim*)

andaikan aku seekor burung musim*)

oleh gerardus n bibang

(petani humaniora)

.

musim dingin yang senyap

pekat tiada kehidupan

butir-butir salju bercucuran

sekali, dua kali dan berkali-kali

putra- putri bumi  sudah larut dalam mimpi

musim dingin yang senyap

pekat tiada kehidupan

butir-butir salju bercucuran

terhentak aku oleh beberapa detakan:

tak tik tuk, tak tik tak

seekor burung musim terperangkap senyap

tak tik tuk, tak tik tak

seolah mendambakan secercah cahaya di samping jendela

tak tik tuk, tak tik tak

seolah bertanya kepada penghuni rumah:

“boleh kah aku dapatkan kehangatan?”

musim dingin yang senyap

pekat tiada kehidupan

terhanyut aku dalam bisu seribu bahasa

oleh sebuah pertanyaan yang menyesakkan dada:

“mampukah aku menyapanya?”

tak tik tuk, tak tik tak

begitu burung musim bersahut-sahut dari pinggir jendela

menagih jawaban dari penghuni rumah:

“maukah kau beri aku kehangatan?”

tak tik tuk, tak tik tak

tetap tak terjawab dari penghuni rumah

jawaban pas untuk burung musim yang sengsara

karena malam pekat yang senyap

sudah membawa pergi kata-kata yang pas

tiba-tiba terdengar detakan keras:

“tak tik tuk, tak tik plaaaaaaakkkk!

plak plak plaaaaaaaaaaaak!”

burung musim jatuh terkapar

nafasnya yang terakhir terhembus sudah

ditelan larutnya malam pekat

oh, burung musim terperangkap senyap!

maafkan penghuni rumah

yang tidak berbuat apa-apa

di saat-saat kau mulai terkapar

karena aku hanyalah manusia!

oh, burung musim terperangkap senyap!

andaikan aku seekor burung musim

kisah kami tentu sangat lain

mungkin dia tidak terkapar mati

karena aku dan dia sama-sama paham

dalam kata-kata yang pas

karena aku dan dia dalam sehakikat

andaikan aku seekor burung musim

kisah kami tentu tidak jadi begini!

musim dingin yang senyap

pekat tiada kehidupan

meratapi burung musim itu pergi

saat butir-butir salju bercucuran ke perut bumi

sekali, dua kali, dan berkali-kali

terhenyak aku dalam sepi

tang ting tong, tang ting toooonnggg

lonceng katedral berdentang memecah malam sepi

merecehkan gumpalan salju yang berceceran ke perut bumi

tang ting tong, tang ting tooonnggg

lonceng katedral berdentang tanpa henti

makin lama makin nyaring

membawa kabar bagi semesta penghuni:

“telah lahir bagimu bayi mungil

juru selamat putra-putri bumi!”

tang ting tong, tang ting tooonnggg

terhanyut aku dalam syukur ke langit-langit jagad

gloria bagi Tuhan Maha Besar

yang turun ke bumi dalam rupa manusia

menjadi sehakikat sama

untuk mengangkat derajat manusia dina

oh, musim dingin yang senyap

pekat tiada kehidupan

membawa warta  tentang kebenaran:

“ andaikan Tuhan tidak turun ke dunia

sejarah manusia belum tentu seperti sekarang!

andaikan aku seekor burung musim

sejarah kami tidak akan jadi begini! “

catatan:

*) Burung musim adalah terjemahan bebas dari Waldkauz (burung pungguk). Inilah burung musim dingin yang terbang mencari cahaya. Kalau cahaya terang di jendela, dia hinggap ke sana. Burung ini termasuk dalam jenis Eule (burung hantu).

Di Eropa, banyak orang takut, terutama kalau mendengar burung ini bernyanyi di tengah malam senyap: “Kuwitt, kuwitt.” Menurut anggapan orang berbahasa Jerman, dulu bahkan sampai sekarang, bunyi “Kuwitt,” berarti: “Komm mit, komm mit”.(Ikutlah…ikutlah…: suatu panggilan atau tanda kematian). Eule lalu identik dengan nabi kematian!

Burung ini juga mengetahui, kapan salju mulai berangsur cair sebagai tanda musim dingin telah berakhir.  Dia bernyanyi menyongsong matahari serta bernyanyi pada waktunya lagu cintanya (liebeslied): “Huh, huhhhh…!” Orang Jerman mengartikan ini sebagai tawaan ceria menyongsong cahaya matahari di musim semi: “Huhuhuhuhuhuhuhuhuhuhu”, (tawa dan ceria karena bahagia).

Tag: , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: