Anak-anak SD dari tepian Danau Toba say “Horas!”

 


Anak-anak SD Lumban Soit, Sipoholon, Tapanuli Utara menari dan bernyanyi dalam school assembly. They say “Horas!” for all of Indonesian children.

 

Anak-anak SD Lumban Soit dalam sebuah pentas waktu school assembly yang rutin dilaksanakan sekali dalam 2 minggu.

Anak-anak Batak berbakat musik dan nyanyi. Kami sedang melatih para guru di SD Lumban Soit menyanyikan lagu “Nasihat Jari”, di luar anak-anak langsung menyanyikan lagu ini dan waktu pulang dari sekolah mereka ramai-ramai bernyanyi, “Ini namanya jari jempol, ini namanya jari jempol, apa kata jari jempol, sayang, kalau belajar jangan ngobrol. Apa kata jari klingking, … jangan nangis …

Anak-anak SD Garaga, Sipoholon, Tapanuli Utara sedang membuat pajangan hasil karyanya dibimbing Bu Guru

 

Anak-anak itu menunjukkan pajangan karyanya dalam school assembly

 

Anak-anak SD Lumban Baringin, Sipoholon, Tapanuli Utara memerankan isi cerita yang dibacakan Bu Guru

 

Berlatih ekspresi amat cocok dengan anak-anak kelas II SD yang lebih polos dan tampil apa adanya

 

Guru-guru dari 3 SD model Manajemen Berbasis Sekolah dan Belajar Aktif, yaitu SD Lumban Soit, SD Garaga, dan SD Lumban Baringin kini gemar berlatih mengoperasikan komputer dan mencari bahan untuk mengajar dari Internet.

Inilah oleh-oleh dari Tano Batak, dari 3 SD model yang pengembangannya disponsori keluarga Gunawan Hutauruk, pemilik Penerbit Erlangga, sejak akhir Juli 2009 dalam rangka membantu kampung halaman. Siapa menyusul membantu inovasi bagi perkembangan optimal anak-anak kita?

Silahkan klik video permainan jual-beli yang dilakukan anak-anak SD Garaga, Sipoholon berikut ini!

http://www.youtube.com/watch?v=jzYxUZi54Es

Selamat menyaksikan

Tag: , , , , , , , , , , ,

3 Tanggapan to “Anak-anak SD dari tepian Danau Toba say “Horas!””

  1. S Belen Says:

    Komentar teman dan pembaca:

    Komentar beberapa orang ke emailku saya anggap bernilai untuk dibagikan kepada pengunjung blogku. Perkenankan membaca komentar tersebut.

    Yth. pak Belen

    Saya sudah menerapkan school assembly di satu sekolah di Jakarta. Namun, setelah kami lepas, ada hal yg tidak fair dan ini sering menunjukkan kinerja sekolah tersebut.

    ketidakfairan mereka misalnya, kemampuan story telling bahasa Inggris, menari, bernyanyi, jika di Leeds, UK yg ditampilkan tentu hasil belajar di sekolah, namun di kita bukan dari belajar di sekolah tetapi kreativitas siswa dan ortu mengikuti sanggar dan club di sekolah. Ini kebanggaan semu bagi sekolah sebab sudah di luar peran sekolah.

    Bagus untuk acara assembly menampilkan keberanian siswa dalam performance dan sikap, seperti apa pun yg telah kita laksanakan, patut diteruskan dan terus menerus diperbaiki.

    Saya ingin bertanya, Pak, bagaimana kita mengajak 80% populasi guru kita (60% wait n see, 20% kelompok laggart) untuk change management, agar jangan enak-enakan di CZ (Comfort Zone) sementara kenyataan mereka di CZ (Critical Zone)? …….

    Salam
    Hidayati

    Saya senang sekali dapat cerita ini..fakta..boleh juga ditiru. Yang paling saya suka sharing, di sekolah kami setiap hari 30 menit, bible sharing, pengumuman2 dan sharing apa saja. Terima kasih ya….

    christine susanto

    Salam Pak….

    Wah.. Pak… cerita tentang school assembly ini sangat menarik. Sayang sekali, mereka-mereka yang telah diutus tidak bisa menerapkannya di sekolah, padahal biaya ke sana mahal, kan? Dan itu kebanyakan model yang kita dapati di negara tercinta kita ini. Ilmu / pengalaman yang didapat hanya untuk diri sendiri, tidak dibagi ke orang lain…. kikir ilmu kali.. ya?! Atau bingung cara membaginya…….

    BTW… ini sangat bagus diterapkan di dunia pendidikan kita; dan kalau kita terapkan, banyak hal yang bisa didapatkan dan PAKEM bisa jalan dengan baik…. Mungkin kita perlu sekolah model untuk itu sekaligus membuka mata dunia pendidikan, model-model pembelajaran yang mana yang baik diterapkan di sekolah-sekolah, bukan hanya berpikir bagaimana menghabiskan uang untuk hal yang “sia-sia”.

    Terima kasih untuk ceritanya yang bagus, Pak. Semoga teman-teman yang lain bisa berpikir untuk memperkenalkan salah satu model pembelajaran yang bagus untuk diterapkan.

    Tuhan memberkati.

    Salam Natal,
    Hostia

    Hallo pak Belen,

    Terima kasih untuk share informasi ini.

    Merujuk cerita 4 lilin pak Belen yang pernah diberitakan kepada guru-guru di Maluku Utara, senang rasanya mendengar bahwa ada lilin ke-4 yang masih menyala di Sumatera Utara.

    Walaupun saya tidak sempat ikut ke Sipoholon, berita ini membuat saya tetap optimis. Mungkin program tahun 80-an tersebut bisa ditinjau kembali, bahwasanya sekarang ini, kita bisa tidak ke negara di utara dari globe ini. Kita bisa usulkan untuk berkunjung saja ke 2 dari 3 provinsi (seingat saya) dengan nama Utara di Indonesia, eq. Sumatera Utara dan Maluku Utara…

    Sewaktu saya di Sorong dan Sarmi beberapa waktu yang lalu, saya malah melihat tarian di mana anak-anak memakai lilitan dari ilalang untuk topi mereka dan daun pisang sebagai rumbai pakaiannya. Dengan kata lain, banyak sekali material di sekeliling sekolah yang bisa kita gunakan untuk kegiatan belajar di sekolah seperti untuk school assembly.

    Sekali lagi terima kasih buat Anda pak Belen, juga Nia Susanti dan Kartini Siringo-ringo (bukan Tongo-tongo)…

    Salam Natal,
    Wilson Sitorus

    Mungkin bisa diistilahkan malam atau siang ekspresi; tampil dengan fine arts kesenian macam macam dari anak, guru, dan orang tua. Masing masing berekspresi agar berlatih mengapresiasi satu sama lain.

    Budiarto
    SC Maluku

  2. Ennrique Ole Says:

    Pak Sirilus,

    Membaca tulisan dan melihat kreativitas anak-anak membuat aku teringat akan kegiatan di Seminari Hokeng waktu liburan di tahun 1986-1990. Liburan diisi dengan kegiatan ekstrakurikulum seperti drama, puisi, dan tarian. Semua kegiatan ini membantu kami untuk tampil di depan umum, meningkatkan daya nalar dan menanamkan sikap solidaritas.

    Hal ini sedang kami lakukan di salah satu sekolah di Rafael Calzada, Buenos Aires, Argentina. Anak-anak dilatih untuk tampil di depan umum. Ada siaran radio waktu istirahat dan banyak kegiatan lain yang dilakukan pada akhir pekan. Salut bagi guru-guru di Tapanuli.

    • S Belen Says:

      Dear Ole, thanks for your comment. Baguslah jika sejak usia dini anak-anak dilatih berani tampil di depan umum. Sungguh senang anak-anak jika diberi peluang melakukan kegiatan yang menyenangkan di akhir pekan. Jika kita membuat anak-anak senang, kesenangan mereka akan menular kepada kita. Tadi saya nimbrung obrolan teman-teman yang ketawa cekikikan sampai perut sakit. Anehnya, saya tidak tahu apa yang membuat mereka ketawa terpingkal-pingkal dan saya pun ikut ketawa terkikih-kikih padahal saya belum dengar cerita apa yang membuat mereka ketawa begitu. Asumsiku, ketawa itu menular. Kalau anak-anak tersenyum, kita tertular untuk tersenyum. Jika anak-anak ketawa, kita pun tertular untuk ketawa. Komentar Bung telah saya forward ke para guru di Tapanuli. Trims.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: