10 tahun MBS-Pakem, Move forward, no retreat. Maju terus pantang mundur

Kumpulan kata-kata bijak ini terdiri dari pepatah, sayings, wise words, dan pandangan para ahli. Kata-kata bijak ini dipilih dari sudut pandang pendekatan belajar aktif. Karena itu, ada yang langsung dan ada yang tak langsung berhubungan dengan belajar aktif. Urutannya disusun secara acak. Sedangkan, kata kunci pada tiap kutipan diketik dengan warna biru.

Bocah Papua ini seharusnya masih berada di sekolah. Namun saat “bersenang kedua” (istirahat), ia memilih pulang ke rumah dan bermain di pantai. Mengapa? Guru masih memukul siswa? Pelajaran membosankan? Duduk, dengar, catat, hafal?

Manfaat kata-kata bijak ini adalah sebagai bahan refleksi tentang mengapa belajar aktif itu penting dan manfaat apa saja yang dapat diraih jika diterapkan pendekatan belajar aktif. Koleksi kata bijak ini kami kumpulkan untuk merayakan dalam refleksi peringatan 10 tahun dimulainya “MBS-Pakem” (Manajemen Berbasis Sekolah-Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan). Upaya beberapa “orang gila” membangkitkan kembali pendekatan CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif) yang “mati suri” akibat kebijakan pejabat di Depdiknas waktu itu yang kurang mengerti makna belajar aktif ditandari dengan penataran (TOT) awal kepada para pendidik yang mewakili 3 provinsi, yaitu Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Sulawesi Selatan di Pacet, Mojokerto, Jawa Timur  pada akhir 1999 yang diselenggarakan Depdiknas (Pusat Kurikulum Balitbang & Direktorat Dikdas Ditjen Dikdasmen, bekerja sama dengan Unicef dan Unesco. Setelah 10 tahun sejak awal gerakan ini dimulai, kini “MBS-Pakem” telah masuk ke dalam sistem nasional karena telah menjadi program Depdiknas, dinas provinsi, berbagai NGO, yayasan persekolahan, dan sejumlah lembaga pendidikan guru.

Tiap instansi dan lembaga atau organisasi mengembangkan manajemen berbasis sekolah dan pendekatan belajar aktif menurut penekanan dan corak serta gaya sendiri-sendiri. Namun, semua upaya tak kenal lelah dan tak kenal menyerah ini berhasil mengarusutamakan kreativitas berpikir dan bertindak yang perlu ditumbuhkembangkan dalam diri anak didik agar menjadi insan kreatif yang mandiri dan mampu memecahkan masalah untuk menghadapi masa depan yang kian kompetitif dan sulit diprediksi.

Salam MBS-Pakem

S.Belen

Silahkan klik file word berikut ini! Anda tak akan menyesal.

Kata bijak ttg belajar aktif 3

Iklan

big love dance

Sakit asam urat

Kunjungilah posting ini:

https://sbelen.wordpress.com/2013/05/03/bawang-putih-cuka-apel-madu-jahe-lemon-jantung-sehat-tubuh-bugar/

Gambar spanduk Sano

sano-sembuhkan-asam-urat-anda

Kartu nama Yuni 2

Tag: , , , , , , , , , , , ,

3 Tanggapan to “10 tahun MBS-Pakem, Move forward, no retreat. Maju terus pantang mundur”

  1. Faesol Muslim Says:

    Pak Belen dan teman teman yang peduli pendidikan,

    Saya ikut nimbrung situs-nya Pak Belen yang cukup menggelitik (dalam arti positif!) – apalagi nama saya dikaitkan dengan dunia per-MBS-an yang sudah berumur sepersepuluh CENTURY (= abad) ini. Jika saya kecipratan dana MBS sudah pasti menyebar dan baik.

    Saya sungguh merasa terhormat karena pada tahun 1999 saya di UNESCO (kebetulan jebolan Diknas dan UNICEF!) dan Pak Jiyono di UNICEF serta Pak Sediono di Diknas bersama-sama merintis peluncuran program MBS. (Untuk memperoleh dana hibah dunia international program MBS ini kita sebut “Creating Learning Community for Children” (CLCC).

    Walau meniru dari Luar, program ini BUKAN hanya ngotak-atik masalah manajemen saja tapi kita kaitkan dengan masalah KBM (Kegiatan Belajar-Mengajar) dan PSM (Peran Serta Masyarakat), sehingga intinya ada 3 komponen: Keterbukaan Manajemen sekolah, PAKEM (Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan) serta PSM. Ketiga “front” ini kita “serang” bersamaan sehingga efeknya holistik di sekolah-sekolah; lain halnya jika aksentuasinya parsial. Apa manajemennya saja, apa KBM-nya/PAKEM/CBSAnya atau hanya PSM-nya…. Untuk ini kita amat dibantu rekan-rekan dari PUSKUR semacam Pak Belen, Pak Masdjudi, Pak Ujang Sukandi, Bu Rani, dan lain lainnya..

    Walau kita memasuki hutan baru dan tertatih-tatih, pendekatan ini cukup manjur dan telah diacungi jempol oleh dedengkot SBM (School-based Management) kaliber internasional – Prof Brian Caldwell dan John Spinks dari Australia yang mengevaluasi program kita (Kolaborasi Depdiknas , UNESCO, dan UNICEF) pada akhir 2000… Hasilnya oye punya dan jempol – sehingga dana hibah (bukan loan lho!!!) pada mengalir – dari UNESCO dan UNICEF sendiri, dari NZAID, dari AusAID, dan private sector lainnya.. Dan wabah MBS ini sudah membakar dunia pendidikan Indonesia – terbukti dengan banyaknya program yang sama dengan dana dari donor-donor lain – USAID, RT, DBE, AusAID sendiri, dan International Agencies yang lain. Banyak trainers dan orang-orang yang kita latih akhirnya pada berkarya dengan donor-donor lain dalam bidang ini – dan kita amat senang, sebab kita tak perlu mengibarkan bendera sendiri atau mengaku berjasa sendiri. Bendera yang berkibar ya (seharusnya) hanya bendera NKRI.

    Saya sendiri setelah 10 tahun menggeluti MBS/CLCC ini akhir 2008 hijrah ke kegiatan yang didanai AusAID di MCPM-AIBEP yang mengintrodusir “Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan” dan program ini ikut membidani keluarnya Permen Diknas No 63 tahun 2009 tentang SPMP ini. Bidang khusus saya adalah dalam masalah Evaluasi Diri Sekolah” (EDS) yang menjadi dasar penyusunan RPS /RKS (Rencana Pengembangan Sekolah / Rencana Kegiatan Sekolah) yang mantap berdasarkan 8 Standar Pendidikan Nasional. EDS ini amat baik dan manjur dan merupakan keharusan bagi sekolah yang telah ber-MBS. Di Kabupaten Boalemo, Gorontalo, UNICEF membantu sekolah-sekolah ber MBS – dan mereka juga melaksanakan EDS. Hasilnya? Bisa dilihat sendiri – Anda anda mesti terkagum-kagum… (Kecap kan numero Uno terus, serta Lezaaato!!!)….

    Lahirnya istilah PAKEM itu cukup menarik. Ketika tauhun 2001 Program CLCC / MBS sedang mengadakan pelatihan bagi para pelatih kabupaten, Pak Sediono, Pak Jiyono, dan saya ngomong-ngomong bagaimana ya menyebut atau menamakan pendekatan kita yang mengacu pada CBSA-an konsep child-friendly school. Kita membicarakan nama-nama semacam PAME (pendekatan aktif menyenangkan dan efektif), PEAM, dll. Akhirnya Pak Sediono mengatakan mengapa tak disebut PAKEM saja! (Apalagi kita berada di Jogja dan di dekat sana ada kota kecil PAKEM yang ada RS Jiwa menyembuhkan orang orang gila!) Maka lahirlah istilah PAKEM ini. (Bukankah kita ini macam orang gila yang mengkhotbahkan MBS ke mana mana, sedang kita tidak memberikan kucuran dana yang banyak?) Waktu itu Pak Belen, Pak Msdjudi, Pak Taruno, dan Pak Ujang sedang sibuk menyampaikan ceramah per-MBS-an mereka dengan berbuih buih…. tapi apa dengan “gilanya” ya….

    Sekali lagi selamat kepada Pak Belen yang telah menyebar benih MBS di mana mana… kita jadi ingat ada teman kita Ibu Krisna di Aceh yang juga berprofesi sama … Ibu Tini di NTT, Pak Taruno di Jateng, Pak Prie di Jatim, Pak Suryanto Non-Jawa di Sulsel, Pak Ridwan di NTB, dll… mereka adalah pendekar MBS tapi dengan tanda jasa!! Pak Belen, selamat dan “Makin cepat ber-MBS makin baik”. Lanjutkan! Demi Wong Cilik! Salam. Faesol Muslim

    • S Belen Says:

      Pak Faesol, trims, matur nuwun, danke atas komentar Pak agar lebih jelas cerita awal mula kesepakatan orang-orang rada gila memulai sesuatu tanpa sadar bahwa waktu itu kita sedang membuat sejarah.

      Tentang akronim PAKEM, memang ditawarkan oleh Pak Sediono, tapi itu merupakan hasil diskusi antara Pak Sediono dan Pak Ujang Sukandi. Pak Ujang waktu itu bertanya, ciri-ciri kegiatan belajar yang bagaimana yang perlu diterapkan guru dalam mengajar dan mendorong anak-anak jika diterapkan pendekatan belajar aktif? Hasil diskusinya adalah ciri-ciri kegiatan belajar yang aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan. Nah, akhirnya lahirlah akronim PAKEM yang kebetulan di Jogja, dekat kota Pakem, dan baru kutahu ada rumah sakit jiwanya. Ya, Pak Faesol, kata orang tiap manusia, masing-masing pribadi bagaimana pun ada unsur kegilaannya.

      Ini kami sedang workshop MBS-Pakem di Ternate bersama World Vision Indonesia, ada seorang kepala sekolah yang tiap kali berbicara dia bilang ini saya orang gila mau kemukakan ide gila. Benar, jika kita ingin kreatif, ingin membuat terobosan, kita sebaiknya berpikir gila-gilaan agar menemukan gagasan yang ruarrr biasa, yang tak terpikirkan orang lain selama ini.

      Akhir November lalu saya bersama Marie dari Save the Children melakukan inhouse training di SD Inpres Ani di Seram Bagian Barat, Maluku. Kepala sekolah dan guru-guru dari semua SD di gugus itu diundang. Kegiatan kami amat menyenangkan karena dihadiri juga oleh dua orang gila, yang satu bapak dan yang satu ibu. Sang bapak yang gila membaca buku pelajaran IPA SD karangan Pak Suyanto, Penerbit Erlangga. Wah, sang bapak yang gila lebih mengerti konsep dalam buku dibandingkan guru yang memakai buku itu. Wah, wah! Humor dan joke menghiasi kegiatan kami yang selalu diikuti praktik topik yang diajarkan kemarin kepada para siswa dari kelas I s.d. VI. Anak-anak kelas I ternyata bisa membuat model dari pasir dan tanah dan air dalam waktu 30 menit sekaligus dengan peta sederhana, padahal kegiatan yang sama dengan guru memakan waktu 1,5 jam. Benar-benar “gila” anak-anak itu. Salam!

  2. MAHYUN Says:

    Tks atas infonya yang sangat spektakuler! Mohon info berharga lainnya diemailkan ke saya. Sebagai tambahan saya adalah salah satu dari staf LPMP yang sdg mengikuti perkuliahan Piloting Education Quality Assurance UPI-Monash Sandwich Program, program kerja sama Direktorat Bindiklat dan Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung. Smg bermanfaat bagi saya dan kemajuan Pendidikan Indonesia, aamien…. Teruslah berjuang pak dkk!

    Best regards,

    Mahyun Hadi Nasution
    Staf FSDP LPMPSU – Medan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: