Peran pepatah Minang pasca-gempa

s34_20629171

Pemuda ini sedang melaksanakan salah satu pepatah Minang: “Iduik batampek, mati bakubua, kuburan hiduik dirumah tanggo, kuburan mati ditanggah padang. “ Seseorang harus mempunyai tempat kediaman, dan kalau mati perlu dikuburkan.

Kami pernah berkunjung ke Kabupaten Padang Pariaman sekitar tahun 1997. Di mana-mana dalam obrolan dengan orang yang kita temui selalu diselingi dengan pepatah Minang. Tahun 2008 ketika berkunjung ke sekolah-sekolah, tampak terpampang pepatah Minang di dalam ruang kelas, di gang depan kelas, dan di tembok sekolah. Pepatah Minang telah menyatu dalam kehidupan masyarakat Sumatra Barat.

Kami yakin, kekuatan pepatah Minang ini akan mendorong saudara-saudara kita di Sumatra Barat yang tertimpa musibah secepatnya keluar dari masalah mahaberat yang sedang dihadapi.

Perkenankan kami sajikan sejumlah pepatah Minang yang kami ambil dari: http://palantaminang.wordpress.com/pepatah-petitih/

PEPATAH MINANG

Bak banang dilando ayam, bak bumi diguncang gampo.
Suatu kerusuhan dan kekacauan yang timbul dalam suatu masyarakat yang sulit untuk diatasi.

Kato bapak kato panggaja, kato kalipah dari mamak, mujua indak dapek kito kaja, malang tak dapek kito tulak.
Keuntungan tak dapat dikejar-kejar, begitupun mara bahaya dan musibah tidak kuasa manusia menolaknya.

Bak ayam manampak alang, umpamo kuciang dibaokkan lidieh.
Seseorang yang sangat dalam ketakutan, sehingga kehidupannya kucar-kacir.

Barek samo dipikua, ringan samo dijinjiang.
Setiap pekerjaan yang dikerjakan secara bersama akan terasa ringan.

Bak baruak dipataruahkan, bak cando kakuang dipapikekkan.
Seseorang hidup berputus asa, selalu menunggu uluran tangan orang lain,
tidak mau berusaha dan banyak duduk bermenung.

Bak manjamua ateh jarami, jariah abieh jaso tak ado.
Pekerjaan yang dikerjakan tanpa perhitungan, sehingga menjadi rugi dan sia-sia.

Bak taratik rang sembahyang, masuak sarato tahu, kalua sarato takuik.
Seseorang yang mengerjakan sesuatu dengan penuh ketelitian dan menguasai segala persoalannya.

Bak manatiang minyak panuah, bak mahelo rambuik dalam tapuang.
Suatu pekerjaan yang dikerjakan dengan hati-hati dan teliti, karena
memikirkan akibatnya.

Calak-calak ganti asah, pananti tukang manjalang datang, panunggu dukun manjalang tibo.
Seseorang yang dapat bertindak sementara tenaga yang diharapkan dan ditunggu datang, (memberikan pertolongan pertama)

Dibaliak pandakian ado panurunan, dibaliak panurunan ado pandakian.
Di balik kesusahan ada kemudahan, di balik penderitaan ada kesenangan.

Senteang bilai mambilai, panjang karek mangarek.
Hendaklah memberikan pertolongan kepada teman yang sedang dalam kesusahan, dan memberi nasihat kalau dia terlanjur.

Sumber foto:

http://www.boston.com/bigpicture/2009/10/2009_sumatra_earthquakes.html

Tag: , , , , , , , , , ,

Satu Tanggapan to “Peran pepatah Minang pasca-gempa”

  1. John Be Says:

    Trims Om Sirilus untuk pepatah-pepatah Minangnya. Berguna sekali dalam hidup. Masih ada banyak kooooo? Bagi sama katong di tanah rantau ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: