Gempa Padang: Ramlan nekad amputasi kakinya sendiri

20091011230925602

Ramlan (18 tahun, asal Purwakarta, Jawa Barat) terbaring di rumah sakit Katolik Yos Sudarso, Padang

3995441932_15667b24bb_b

Ramlan duduk di kursi roda di pelataran rumah sakit bersama Herman, rekan kerja buruh bangunan. Ramlan yang baru sebulan di Padang terjebak waktu sedang merenovasi gedung Telkom di Jalan Khatib Sulaeman ketika terjadi gempa Padang. Sebenarnya jam kerja hampir usai ketika terjadi gempa pada Pukul 5.16 sore tanggal 30 September 2009 itu. Sebuah besi beton besar mengimpit kaki kanannya.

Ramlan terpaksa mengamputasi kaki kanannya agar darah yang mengalir dari luka kakinya tak habis. Ia memakai gergaji kayu dan memotong sendiri kakinya. Karena tak putus-putus, ia menggunakan juga cangkul dan sendok semen. Ia terus berteriak minta tolong. Untunglah, Herman yang telah berada di lantai bawah berlari kembali ke lantai enam untuk membantu temannya.

Setelah membantu menyelesaikan penggergajian kaki temannya, Herman menggendong Ramlan turun dan melarikannya ke Rumah Sakit Selasih, 500 meter dari gedung Telkom. Karena rumah sakit ini pun hancur berantakan, lukanya hanya dibalut dokter agar terhindar dari infeksi. Akhirnya, dengan tertatih-tatih ia dilarikan ke Rumah Sakit Yos Sudarso agar mendapatkan perawatan semestinya.

Saat ini Ramlan masih merasa trauma jika mengenang kejadian buruk yang dialaminya. Ia ingin segera pulang kampung, bertemu dengan orang tuanya. Ia berencana memulai usaha di kampungnya dengan membuka kios untuk menjual HP dan pulsa.

Sumber:

Eri Naldi l Padang, VIVAnews;

http://nasional.vivanews.com/news/read/96087-ramlan_nekat_potong_kaki_sendiri

Tim O’Connor, Caritas Australia;

http://blog.caritas.org/2009/10/08/sumatra-quake-man-amputates-leg-to-free-himself-from-rubble/

Advertorial

Animation_of_the_sick_distributed_Bupparai_traditional_ceremony

heart-attack

Kunjungilah posting ini:

https://sbelen.wordpress.com/2013/05/03/bawang-putih-cuka-apel-madu-jahe-lemon-jantung-sehat-tubuh-bugar/

Gambar spanduk Sano

sano-sembuhkan-pneumonia

Kartu nama Yuni

Tag: , , , , , , , ,

5 Tanggapan to “Gempa Padang: Ramlan nekad amputasi kakinya sendiri”

  1. John Be Says:

    Trims Om Sirilus. Cinta akan hidup lebih tinggi dan mendalam daripada teriakan dan jeritan minta tolong. Ramlan adalah satu dari ribuan anak muda yang masih mau hidup sekalipun harus mengorbankan sebagian dari dirinya. Mari katong bahu membahu membantu anak-anak muda untuk tidak putus asa melainkan berpikir positif dan kreatif untuk mengisi dan memaknai hidupnya dan hidup banyak yang lain. Salam dari México. Que Dios lo bendiga. Un abrazo

    • S Belen Says:

      Gracias, Bung John Be. Kata “katong” mengindikasikan bung pasti Timor oan, anak Timor. Bisa e anak Timor memberi komentar dari Mexico. Ngapain di sana? Mexico mengingatku kepada Bu Elsa, istri supervisorku waktu studi di London. Ia orang Mexico.

      Banyak kisah heroik yang ditampilkan anak muda dan biasanya dalam keadaan terjepit-pit. Pasca-tsunami Aceh seorang anak muda lebih dari seminggu terapung-apung di Samudra Hindia. Anehnya, ia tetap sholat 5 waktu dan bertahan hidup dari minum tetesan hujan dari langit. Ia hanya yakin dengan kata-kata ayahnya waktu dia masih kecil. Jika kapalmu tenggelam di laut lepas, tetaplah berenang ke tengah karena di perairan internasional mungkin ada banyak kapal yang lewat dan kamu akan ditolong. Temannya yang sama-sama berenang selama beberapa hari putus harapan dan kembali berenang ke arah pantai. Dan, tewaslah temannya itu. Tetapi, sang pemuda pemberani ini selamat karena tekad mempertahankan hidupnya.

      Kecoak saja tatkala telah diinjak masih terus berjuang mempertahankan hidup, apalagi nyawa seorang anak manusia. Kita salut kepada Ramlan. Kita doakan agar ia sukses melanjutkan hidup dan meraih cita-citanya menjadi seorang wirausahawan. Adios, amigo!

  2. John Be Says:

    Benar Om Sirilus. Beta orang Timor, Timor Oan, Atoin Timor, karena lahir di sana dan sebagian dari umurku kulalui di sana. Sebagian lain di luar: di Flores, di Kalimantan Timur dan di Mexico sini. Di tahun 1978? atau tahun berapa saya tidak ingat dengan tepat, dan tepatnya saat matinya El Tari, ketika melawatnya di rumah jabatan, saya dengan polos pernah berkomentar kepada ayahku, kalau bisa suatu saat saya tinggal di Kupang. Tapi sayangnya, Kupang selama ini hanya kujadikan sebagai tempat persinggahan. Kupang sendiri saya tidak terlalu kenal ketimbang, kota-kota lain di dunia, termasuk sejumlah besar kota di México sini.Saya di sini bekerja sebagai misionaris SVD sejak 12 tahun kemarin. Kami tiba di sini sebagai dua misionaris SVD pertama asal Indonesia dan khususnya asal Flobamora. Sekarang makin mencintai México tanpa lupa mencintai Indonesia, khususnya Flobamora. Jumlah terbanyak kedua dari masyarakat Indonesia di Mexico adalah putra-putri Indonesia Timur, terlebih anak-anak Flores- Timor. Kebanyakan kami adalah calon misionaris dan misionaris.

  3. Hostia Says:

    Terkadang di saat panik… hal-hal yang tak masuk akal pun bisa dilakukan. Tak ada rotan akar pun berguna. Sesuatu yang mungkin tidak akan dilakukan di saat normal. Tapi .. salut untuk semangat Ramlan terus berjuang untuk hidup sekali pun harus membuat keputusan yang mungkin akan merubah tujuan cita-citanya….
    Pelajaran yang berharga untuk melanjutkan hidup..
    Thanks Pak Belen. God bless.

  4. didik Says:

    kalau kaki buntung mah biasa aja, pake tongkat kruk juga beres

    yang mengerikan tu bagaimana sakitnya mengamputasi sendiri kaki
    kan sakit sekali karena nggak dibius

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: