Menggugat kebijakan Buku Sekolah Elektronik (BSE)

32752988

Buku pelajaran membentuk pola bernalar dan karakter anak. Satu kesalahan dalam buku pelajaran tak bisa tercabut dari benak dan kepribadian anak selama 35 tahun, bahkan seumur hidup. Buku Sekolah Elektronik (BSE) atau electronic book (e-book) yang digarap terburu-buru oleh penulis pemula tanpa polesan serius editor berdampak negatif kepada anak yang akan terlihat dalam prestasi ujian nasional 3 – 5 tahun mendatang dan terbawa dalam diri siswa sampai minimal 35 tahun nanti, bahkan seumur hidup.

Hadirnya BSE telah menelan korban sekitar 35 000 karyawan dan penerbit buku pelajaran dan percetakan di-PHK sebelum ‘tsunami’ PHK sekarang ini. Penerbit unggulan terancam bangkrut karena mesin cetak berhenti berproduksi.

Padahal, di era buku paket dengan dana Bank Dunia penyebaran 1 buku untuk 3 siswa tidak tercapai dan ada yang tercecer di jalan, tak sampai ke sekolah. Dengan dana pemerintah 100 % saja buku tak tersebar merata sehingga di kala itu buku penerbit swasta disebut buku pelengkap. Dan, pemerintah tidak menghalangi penjualan buku pelengkap. Ternyata didorong elan bisnis, secara bertahap para penerbit swasta berhasil meningkatkan mutu buku pelajaran dan membuat desain, layout, dan warnanya semakin memikat bagi anak. Secara umum dapat disimpulkan, buku pelengkap umumnya lebih bermutu daripada buku paket.

Kini hanya 15% biaya buku ditanggung Depdiknas untuk royalty penulis, penilaian, dan editing. Dengan harga eceran tertinggi (HET) Rp20 000 tanpa memasukkan biaya distribusi sampai ke sekolah, banyak siswa kini belum memiliki buku pelajaran. Di Jawa saja banyak siswa belum memiliki buku tahun ini, apalagi di pulau-pulau kecil. Masuklah beramai-ramai Jawa Pos dan penerbit koran lain mencetak dan menjual BSE. Pengusaha yang tidak memahami ABC dunia perbukuan, yang tidak profesional dan tidak kompeten tiba-tiba masuk merusak pasar dan industri perbukuan. Dengan kebijakan Depdiknas membeli BSE dengan dana BOS, tertutuplah sudah peluang penerbit swasta untuk bertahan.

ssa52705

Banyak siswa sekarang belum memiliki buku pelajaran sebagai dampak kebijakan buku murah Buku Sekolah Elektronik dan slogan sekolah gratis

Bisnis buku pelajaran adalah knowledge industry, creative industry (industri pengetahuan, industri kreatif). Industri jenis ini bukanlah sekadar membuat dan menjual BSE seperti menjual gorengan yang per se terbuat dari pisang, singkong, dan ketela yang sehat tapi berkolesterol tinggi karena memakai minyak jelantah. Walaupun buku pelajaran dicetak dengan kertas koran dan tidak berwarna dan siklus hidupnya hanya 2 tahun, namun isinya harus bermutu. Ini syarat mutlak, conditio sine qua non. Inilah kebijakan buku pelajaran yang ditempuh RRC dan India yang memiliki jumlah siswa terbanyak di dunia. Dan, kebijakan perbukuan yang diterapkan secara konsisten menjadi salah satu faktor yang melahirkan generasi muda India dan Cina yang kini menguasai ilmu dan teknologi dan menjadi dua dari kekuatan multipolar dunia.

gift_image_03761_00410_thumbnail

Kedua negara ini kini memiliki lapisan knowledge workers (pekerja pengetahuan) terbesar di dunia. Sehingga, pekerjaan knowledge workers di Amerika Serikat dan Eropa Barat banyak dilimpahkan ke kedua negara ini, terutama India. Perhitungan dan pembukuan akuntansi dilakukan di India misalnya di siang hari dan malamnya sudah dapat dirampungkan laporannya di Amerika Serikat.

Kualitas buku pelajaran terbitan penerbit swasta di Indonesia makin bagus dan bisa disetarakan dengan mutu buku pelajaran India dan Cina. Dengan hadirnya BSE kita berlangkah mundur 30 tahun ke belakang. Kebijakan perbukuan gaya BSE hendaknya dikoreksi total. Tidaklah etis jika BSE digembar-gemborkan dengan label buku murah, buku gratis demi konsumsi Pemilu 2009. Pengamat dari perguruan tinggi dan Indonesian Corruption Watch (ICW) yang mendukung BSE benar-benar tidak memahami dunia perbukuan dan tidak memiliki referensi perbandingan dengan negara-negara lain. Quo vadis, educatio Indonesia? Indonesia, oh Indonesia?

af-b-shc816-ce-boy-on-globe1

S.Belen, pengamat buku pelajaran

Advertorial

900x900px-LL-7bf774b2_funny-gifs-356

Gagal ginjal

Kunjungilah posting ini:

https://sbelen.wordpress.com/2013/05/03/bawang-putih-cuka-apel-madu-jahe-lemon-jantung-sehat-tubuh-bugar/

Gambar spanduk Sano

sano-sembuhkan-ginjal

Kartu nama Yuni 2

Tag: , , , , , , , ,

Satu Tanggapan to “Menggugat kebijakan Buku Sekolah Elektronik (BSE)”

  1. daus Says:

    Blog anda mengenai dunia pendidikan dan penerbitan sangat positif dan baik. Kapan kalo ada kesempatan kita bertemu untuk sekedar ngobrol/sharing banyak yang ingin saya pelajari mengenai dunia pendidikan di Indonesia sekarang ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: