Pohon mangga di halaman rumahku: Sebuah renungan sampai ke politik


Ini adalah pohon mangga gadung yang ditanam di halaman rumahku pada Desember 2003. Tak tahu motif apa di benakku, tiba-tiba saya ingin sekali membeli anakan mangga pada hari wisuda putriku yang kedua. Hari wisuda yang kuhadiri tanpa istri yang sudah meninggal di bulan April 2003. Adikku dari luar Jawa mengganti tempat istriku agar anak tak merasa sedih tak didampingi ibunya. Adikku selalu siap datang ke Jakarta setiap kali peran pengganti seperti ini dibutuhkan. Barusan di malam inaugurasi SMA putra bungsuku adikku mendampingiku lagi sebagai pengganti ‘ibu’.

Antara hari wisuda dan hari inaugurasi terentang jangka waktu 4 ½ tahun. Adikku yang pertama kali berhak memetik buah mangga pertama yang sudah ranum. Lama sekali menunggu mangga gadung ini berbuah. Sejak dibeli penjualnya sendiri tak tahu ini mangga cangkokan atau tidak. Ia tumbuh sendiri di dekat parit air di lahan tanaman hias itu. Tiap kali kerabat dan kenalan ‘memarahi’ pohon ini, “Mangga kok lama sekali tak berbuah!” Saya sabar saja. Bahkan, ada yang menyarankan dicabut dan diganti dengan anakan yang lain. Tapi, prinsipku: sekali kutanam biarlah ia tetap tertanam di sana. Berapa tahun pun aku tetap menunggu ia berbuah. Dalam hati aku percaya, pasti akan tiba waktunya pohon mangga kenangan ini berbuah.

Tiap kali saya memandang pohon mangga yang telah berbuah ini timbul macam-macam pikiran. Tiap hari kuamati buahnya yang terbawah turun makin mendekat ke tanah. Terkenang di masa kecil waktu SD dulu. Waku itu memang zaman susah. Jarang kita sarapan pagi. Ya, karena lapar kita cari sarapan sendiri. Ya buah apa saja entah jambu air, ceri, ‘kom’, pepaya, atau mangga kita petik untuk mengisi perut keroncongan. Karena lapar tak dibedakan lagi pohon liar atau pohon milik orang. Buah mangga di pohon besar dan tinggi milik orang lain, kita curi dengan melempar batu. Syukur kalau kena, mangga yang masih muda itu pecah. Kita langsung makan dengan menggigit. Enak sekali. Memang lebih enak buah yang dicuri daripada buah yang dibeli atau terhidang di meja makan.

Sekali dengan kawanku berdua yang sudah beberapa kali mencuri mangga dikejar bapak si empunya mangga sambil berteriak mengacung-acungkan parang. Kawanku berlari di depan, saya menyusul di belakang. Karena sudah tak kuat berlari saya berhenti sambil menyerah dan berpikir wah kepalaku bakal melayang. Matilah aku! Tapi heran bin terpana, kepalaku ternyata selamat. Bapak itu ternyata mengincar kawanku. Mungkin ada sedikit dendam antar-keluarga atau menurut pendapat bapak itu, si kampiun anak nakal adalah kawanku. Kawanku tokh tak sampai tertangkap.


Mangga ini mengingatkan betapa lama petani buah menunggu tanaman jangka panjangnya berbuah. Tanaman buah mendidik petani untuk bersabar menunggu hasil. Tanaman buah atau tanaman apa pun membiasakan petani untuk memulai suatu pekerjaan, memelihara, bersabar, tabah, dan memanen hasil pada waktunya. Pekerjaan menanam membiasakan petani untuk memulai dan menyelesaikan pekerjaan. Pekerjaan apa pun ada awal, ada proses, dan ada hasil. Anak harus dididik tidak hanya untuk memulai sesuatu pekerjaan tetapi juga melanjutkan proses sampai menyelesaikan pekerjaan itu.

Buah mangga hasil tanaman sendiri rasanya nikmat sekali. Lebih nikmat dari buah yang dicuri. Pohon manggaku mengajarkan aku falsafah hidup. Jauh lebih nikmat ‘buah’ hasil karya kita sendiri daripada membeli atau mencuri ‘buah’ hasil karya orang lain! Padahal, buah mangga yang dibeli, dicuri, dan ditanam sendiri in concreto kan sebenarnya rasanya sama enak. Berarti rasa enak sebenarnya ditentukan oleh hati kita, dan kata hati adalah apa yang dibisikkan otak kita.

Mengapa banyak orang zaman sekarang cenderung tak sabar dan tak tabah menunggu hasil? Ada jarak waktu antara waktu tanam dan waktu panen. Alam sudah mengatur. Ada prasyarat jangka waktu antara apa yang anak pelajari sampai terbentuk kemampuan atau kompetensi sebagai hasil belajar yang bermakna. Mengapa orang tua cenderung mengharapkan simsalabim, memaksa anak mengikuti bimbingan belajar agar lulus ujian nasional dan ujian masuk perguruan tinggi? Apakah keterampilan berbahasa Inggris bisa disulap melalui kursus singkat? Apakah ada ahli matematika yang dihasilkan melalui bimbingan belajar atau kursus tanpa proses otodidak?

Mengapa banyak orang ingin cepat kaya dengan simsalabim, lewat jalan pintas korupsi? Mengapa petinggi partai politik cenderung mengkarbitkan istri-anak-kakak-adik-keponakan-ipar ke urutan calon legislatif (caleg) nomor jadi, padahal jam terbangnya di partai baru seumur jagung? Mengapa kerabat penguasa diterjunkan bebas dan merampas kursi jabatan di pemerintahan dengan mencuri buah karya pegawai yang meniti karier dari bawah? Mengapa mereka didorong mencuri buah karya orang lain yang sudah lama malang melintang di dunia politik dan dunia pemerintahan? Yang meniti karier dari anak tangga terbawah? Mengapa kompetisi sehat dikalahkan nepotisme, oleh jalan pintas menikmati hak istimewa, fasilitas, dan bonus negara-bangsa? Tiadanya persaingan sehat mengakibatkan kerabat menikmati keuntungan di atas pengorbanan dan penderitaan orang lain. Ini sama saja dengan penumpang becak yang berbahagia di atas penderitaan, jerih payah tukang becak. Di manakah moralitas kita ditaruh? Petinggi partai seperti ini menunjukkan bahwa mereka adalah pemimpin yang tak berkarakter. Really, he or she is not a person of character! Janganlah menyia-nyiakan satu suaramu dalam pemilu untuk mendukung partai yang tak berkarakter, partai tukang ngapusi (tipu)!

Slogan politik dan iklan politik semisal “Indonesia bisa!” “Kita memang bisa!” “Seperti burung garuda, Indonesia bisa kembali terbang tinggi!” “Pendidikan gratis!” “Kesehatan gratis!” Ini kan sama saja dengan sikap ingin memaksa pohon mangga cepat berbuah. Ini kan sikap menerabas, ingin jalan pintas. Sikap simsalabim.

Every thing has its own time; the time to plant, the time to grow, the time to  care and the time to harvest. There’s no bypass.

Tag: , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: