Kontradiksi & korupsi: Penyakit tropis tidak teratasi, iklan politik melonjak, Austalia bangun 2000 sekolah untuk Indonesia


Menikmati hidup siang dan malam. Carpe diem! Carpe noctem!

Itulah 3 berita koran dalam 3 hari. Judul headline Kompas 11/8/2008: “Penyakit Tropis Tidak Teratasi.” Penyebaran sejumlah penyakit tropis, seperti malaria, kusta atau lepra, dan filariasis atau kaki gajah, hingga kini tak teratasi. Angka kasus dalam 5 tahun ini tak kunjung turun. Malah, di beberapa daerah jumlah penderita meningkat. Mengapa? Pengendalian penyakit tropis tidak efektif, tidak optimal karena tidak didukung pengembangan riset yang memadai dan tak terintegrasi antar-lembaga. (Kompas 12/8/2008).

Berita Kompas 12/8/2008 mencengangkan. Iklan politik melonjak. Selama Januari-Juni 2008 belanja iklan pemerintah dan organisasi politik (orpol) meningkat 79% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Peningkatan ini akan semakin tinggi menjelang Pemilu 2009. Data penting lain: surat kabar menguasai 71% dari Rp 769 mliliar iklan pemerintah dan organisasi politik.

Apa pun argumentasi Anda, korupsi adalah mencuri dari orang miskin, orang sakit, anak-anak kecil yang perlu biaya sekolah. (opinionjournal.com)

Sangat aneh jika pemerintah dan orpol memboros anggaran untuk promosi, untuk iklan. Tiga komponen penting bisnis yang saling berinteraksi adalah produk (barang dan jasa), citra, dan penjualan. Ini berlaku juga untuk urusan pemerintahan. Dalilnya, jika produk (termasuk jasa) bermutu, citra akan naik, dan promosi untuk penjualan menurun. Jika produk bagus, tapi tak sampai ke konsumen ya percuma. Citra juga tak terangkat. Sebaliknya jika produk kurang bermutu, promosi terpaksa ditingkatkan agar produk terjual dan citra terjaga. Nah, pemerintah ternyata menggencarkan promosi produk melalui iklan. Jelaslah mutu produk pemerintah bermasalah. Citra pemerintah disadari makin rendah dan karena itu harus ditingkatkan.

Kok uang dimakan?

Namanya pemimpin rakyat kan sehari-hari harus berada bersama dan tinggal bersama rakyat. Masa’ produknya tak dikenal rakyat?! Masa’ ia harus pontang-panting menjelaskan produknya di Papua melalui iklan stasiun TV di Jakarta! Melalui koran nasional dan lokal! Apa rakyat Papua baca koran? Jika perusahaan bisnis beriklan, itu masuk akal.

Ini sama juga dengan orpol. Lebih dari pemerintah, mereka kan katanya berasal dari rakyat, dipilih rakyat, dan untuk rakyat. Berarti selama ini hanya omong kosong melompong belaka?


Di bawah tangan ….

Ketika kita berboros ria menghamburkan uang untuk aktivitas yang tak produktif, yang tak menggairahkan, apalagi yang menggenjot perekonomian, datang berita ‘lucu’. Pemerintah Australia telah membangun 1000 sekolah di berbagai wilayah Indonesia. Sampai 2009 akan dibangun 1000 sekolah lagi. Menlu Australia bangga mengungkapkan hal ini, disaksikan menlu kita. Ke mana kita harus menyembunyikan muka?

Mengapa pemerintah dan orpol menghambur-hamburkan duit untuk kegiatan politik hura-hura? Untuk kegiatan tak ekonomis yang hanya mendorong inflasi. Padahal, banyak sekolah bahkan sudah lebih buruk dari kandang ayam? Padahal, di banyak pelosok belum ada SMP. Padahal, penyakit tropis menumbangkan tubuh-tubuh lunglai rakyat miskin di pedalaman, di kampung-kampung.

Berebut menyusu dari sistem yang korup!

(urlaeva_flyer.pages.quicksilver.net.nz)

Siapa yang harus dipersalahkan? Siapa yang harus dihukum? Untuk apa kita terus memproduksi undang-undang jika korupsi kekuasaan dan korupsi uang tetap merajalela? Benarlah kata Tacitus, Corruptissima re publica plurimae leges. Ketika republik menjadi amat korup, hukum menjadi amat banyak. Semakin korup sebuah negara, semakin banyak undang-undang dibuat. Betapa pun Anda berargumentasi, korupsi adalah mencuri dari orang miskin (anonim). Lantas, apa yang biasanya dilakukan pencuri? Berfoya-foya siang dan malam. Carpe diem! Carpe noctem!

Iklan

Echo_Sooyoung_02

heart-attack

Kunjungilah posting ini:

https://sbelen.wordpress.com/2013/05/03/bawang-putih-cuka-apel-madu-jahe-lemon-jantung-sehat-tubuh-bugar/

Gambar spanduk Sano

Sano jantung koroner

Kartu nama Yuni

Tag: , , ,

3 Tanggapan to “Kontradiksi & korupsi: Penyakit tropis tidak teratasi, iklan politik melonjak, Austalia bangun 2000 sekolah untuk Indonesia”

  1. Singal Says:

    Yang jelas mass media panen….meski tidak menabur.

  2. S Belen Says:

    Mass media untung, rakyat buntung. Mass media bahagia di atas penderitaan rakyat. Di mana idealisme mass media? Semua omong kosong melompong.

  3. Aep Alamsyah Says:

    karena politik kita sudah menjadi bagian dari ekonomi kapitalis global, jadi belanja politik yang tinggi merupakan skenario liberalisasi politik demokrasi yang dicanangkan banyak kalangan barat. Kontradiksi ini diciptakan bukan terjadi secara tiba-tiba.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: