Krisis kasih sayang, ujian Doktor, dan kembali menulis buku pelajaran

Tanggal 9 Juli 2008, saya mulai dengan permainan kreativitas yang baru di Internet. Merintis blog pribadi www.sbelen.wordpress.com. Tadi malam jumlah posts mencapai angka 42. Jadi rata-rata 1,3 post per hari diterbitkan. Semakin banyak orang berkunjung. Kemarin tercatat rekor tertinggi. Terbanyak posts tentang pendidikan. Namun aneh, hanya sedikit pengunjung. Mungkin guru-guru masih sibuk awal tahun ajaran.

Yang paling sering dikunjungi adalah posts tentang otak kiri dan otak kanan, opini pesawat Adam Air tidak meledak di udara, dan ihwal cinta dan perkawinan. Ihwal terakhir ini yang paling sering dikunjungi. Konsisten menunjukkan grafik naik. Sebenarnya, soal cinta dan perkawinan ini saya ramu dari perpektif kebutuhan utama otak. Makanan pokok atau menu utama otak adalah ONKI (Oksigen, Nutrisi atau makanan bergizi, Kasih sayang, dan Informasi).

Menu inilah yang harus diperhatikan orang tua dan guru agar terpenuhi bagi anak. Soal oksigen tak bermasalah, soal nutrisi bisa ditingkatkan, soal informasi tak terlalu bermasalah di era informasi ini. Yang bermasalah justru, kasih sayang. Apakah sudah cukup asupan kasih sayang orang tua dan guru bagi anak? Ini masalah besar. Nah, untuk memenuhi kebutuhan kasih sayang anak, orang tua dan guru pun harus mengembangkan dan mencerahkan kasih sayang pribadi dan keluarganya. Atas dasar ini, saya bahas soal cinta dan perkawinan.

Krisis kita dewasa ini, bukan sekadar krisis pangan, krisis energi, krisis teknologi, krisis politik… Krisis utama kita sekarang adalah krisis kasih sayang. Kalau kebutuhan kasih sayang anak terpenuhi, lancarlah kerja otak anak, lancarlah kegiatan belajarnya, lancarlah aktivitas bermain dan rekreasinya. Anak Indonesia bisa tersenyum setiap hari. Dan, dunia ini akan lebih menyenangkan jika kita menyaksikan anak-anak tersenyum.


Dr.Sri Sumarni

Kapan tiba waktunya anak-anak Indonesia tersenyum? Pertanyaan ini mendapatkan pencerahan setelah saya menghadiri Ujian Terbuka Ibu Sri Sumarni 8 Agustus 2008. Ia adalah dosen PGSD Universitas Negeri Sriwijaya (Unsri) Palembang. Ujian ini untuk memperoleh gelar Doktor dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ). Judul disertasinya adalah “Peningkatan Kecerdasan Jamak Anak Usia Dini melalui Bermain di TK Kids 19 Kayu Putih Jakarta.” Ibu Sri Sumarni saya bimbing dalam penulisan tesis S2 bersama Prof.Dr.L.J.Molleong, M.A. Gelar S2 ia raih dengan nilai amat bagus tahun 1999. Untuk penulisan disertasi saya hanya di-consult secara informal karena tema yang dipilih menarik bagi saya.

Ia berhasil gemilang mencapai gelar Doktor dengan nilai akhir yang amat bagus. Membanggakan bagi dirinya, keluarganya, Unsri Palembang, dan saya ikut merayakan sukacita itu. Dulu ia adalah guru olahraga tamatan SMOA (SGO). Ia membuktikan, lulusan SMK bisa mencapai gelar akademis tertinggi. Ia juga membuktikan, untuk mencapai gelar Doktor tidak hanya diperlukan kecerdasan, tetapi yang lebih utama ketekunan, daya tahan banting.

Ia membuktikan melalui eksperimen, bahwa mengajar dan mendidik anak TK dengan ramah, kasih sayang, melalui pujian, pelukan, dan tepukan di bahu membuat otak mereka lancar bekerja. Dalam suasana dan kondisi kasih sayang ini, kecerdasan jamak anak – kecerdasan kinestetik, intrapersonal, interpersonal, dan terutama kecerdasan bahasa – dapat ditingkatkan secara signifikan. Ini dilakukan melalui kegiatan bermain dengan menggunakan media konkret. Congratulation bagi Bu Sri, Pak Thamrin, dan 3 putri yang cantik: Chindy, Windi, dan Ruri.


Nah, setelah ber-blogging ria selama satu bulan, menatar para guru, dan melakukan kegiatan pengembangan kurikulum, kini saya harus berkonsentrasi menulis buku. Menyelesaikan revisi buku pelajaran IPS untuk kelas 5 dan 6 SD. Editor Penerbit Erlangga sudah bosan menunggu naskah terakhirku. Setelah selesai pekerjaan ini, legalah hatiku untuk menerbitkan posts baru.

Terima kasih bagi pengunjung blog. Kalau Anda merasakan ada post yang bernilai, sampaikanlah pesannya kepada rekan-rekan Anda. Au revoar. Matur nuwun! Matur nuhun! Horas! Menjua-jua! Epang gawang!

Iklan

Jerapah berantem

Sulit hamil

Kunjungilah posting ini:

https://sbelen.wordpress.com/2013/05/03/bawang-putih-cuka-apel-madu-jahe-lemon-jantung-sehat-tubuh-bugar/

Gambar spanduk Sano

sano-menyuburkan-wanita-juga-pria

Kartu nama Yuni 2

Tag: , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

2 Tanggapan to “Krisis kasih sayang, ujian Doktor, dan kembali menulis buku pelajaran”

  1. reasonable Says:

    salam kenal,

    saya sangat ingin menulis buku tapi kok agak susah ya. saat ini saya bekerja sebagai editor.

  2. S Belen Says:

    Baguslah, mas, jika ingin sekali menulis buku. Menulis buku berat, perlu konsentrasi, dan konsisten menulis. Jika sudah berkonsentrasi dan konsisten, pekerjaan jadi ringan. Mas bisa menulis dengan cinta dan pembaca akan senang. Orang akan beli buku kita. Pada analisis apa pun, pertama-tama penulis harus mengalahkan dirinya sendiri, kemalasan, suka menunda, suka maafkan diri. Sebagai editor tentu target pekerjaan banyak. Di waktu senggang, tentu mas yang terbiasa menulis bisa isi waktu dengan menulis guyonan, tips editing, apa saja. Di tanah air maksimal ada 0,0001 % penulis dari jumlah penduduk. Pekerjaan penulis langka. Agar tak timbul masalah, penerbit tempat kerja dapat terbitkan. Jika tak bisa, banyak penerbit yang kekurangan naskah. Sudah pasti mas tambah sukses seperti so pasti besok matahari akan terbit.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: