Apa yang mendorong orang bertindak?

Banyak orang tua dan guru berpendapat keliru. Mereka amat yakin bahwa untuk mendorong anak bertindak sesuai dengan harapan, haruslah anak diberi pengertian atau pemahaman. Pandangan seperti ini terpengaruh oleh cara berpikir Barat, yang dipengaruhi filsafat yang mengagung-agungkan rasio, kemampuan berpikir selama berabad-abad.

Patung The Thinker (Pemikir) karya Auguste Rodin ini

amat terkenal di dunia (www.forcounsel.com.1942).

Kapan Anda bertindak kalau terus saja berpikir dan berpikir?

Apa pikiran yang membuat manusia bergerak, berjuang, dan berprestasi?

Konsekuensi aliran pikiran ini adalah sikap mengagung-agungkan IQ. Tradisi pendidikan kita amat menekankan pengembangan kecerdasan intelektual siswa. Kecerdasan intelektual-lah yang melahirkan ilmu dan anak kandungnya teknologi. Karena itu, untuk menguasai ilmu dan teknologi, kecerdasan intelektual-lah yang harus ditekankan. Lihat saja mata-mata pelajaran yang diuji dalam Ujian Nasional (UN)! Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika, IPA, dan IPS.

(gardkarlsen.com.The_Thinker_at_Musee_Rodin)

Kita lupa, bahwa menurut hasil riset otak, yang lebih dominan berperan mendorong orang bertindak adalah hatinya. Suara hatinya! Kehendak hatinya! Bukan pikiran, bukan rasio! Nah, hati itu bermukim, bertempat tinggal, bersemayam dalam ranah emosi manusia. Nabi-nabi dari zaman ke zaman sebenarnya lebih terfokus kepada menyentuh dan mendorong hati manusia daripada rasio atau pikiran.

Namun, lihatlah pendidikan agama di sekolah-sekolah kita. Yang lebih ditekankan adalah pengetahuan dan pemahaman agama, bukan bagaimana menggarap hati anak agar menjalankan ajaran agama. Buktinya, kurikulum pendidikan agama terlalu kognitif, kurang afektif. Buku pelajarannya terlalu kognitif, kurang afektif. Apalagi, evaluasi pendidikan agama terlalu kognitif.

Akhir-akhir ini sebelum pelatihan guru, kami sering memberikan tes gaya belajar otak kiri dan otak kanan. Setiap kali hasilnya selalu sama. Jumlah guru TK, SD, SMP, SMA, dan SMK yang bergaya belajar otak kiri amat dominan. Mayoritas mutlak! Hanya sedikit sekali yang bergaya belajar otak kanan atau bergaya belajar kombinasi otak kiri dan otak kanan. Dalam populasi, sekitar 10% orang bergaya belajar otak kiri, 10% bergaya belajar otak kanan, dan 80% bergaya belajar kombinasi otak kiri dan otak kanan. Jelaslah hanya 10% siswa yang terlayani secara baik dan efektif oleh guru-guru yang mayoritas bergaya belajar otak kiri. 90% siswa menjadi pelengkap penderita. Dirugikan! Menjadi korban!

Mengapa ada begitu banyak guru yang bergaya belajar otak kiri di sekolah? Lihat saja tesnya. Tes seleksi menjadi guru adalah Bahasa, Matematika, IPA, dan IPS. Ada juga sekolah swasta yang memasukkan pula tes IQ. Lengkaplah sudah kekeliruan kita. Yang bergaya belajar otak kiri cenderung membuat sekolah menjadi tempat yang tak nyaman dan tak menyenangkan bagi siswa. Mengapa? Karena orang yang bergaya belajar otak kiri menunjukkan ciri-ciri, antara lain:

  • Perfeksionis (selalu menuntut yang sempurna)
  • Menekankan disiplin yang keras dan kaku
  • Bertanggung jawab
  • Suka menyalahkan orang lain
  • Kurang suka bekerja bersama dengan orang lain
  • Cenderung memaksa diri dan karena itu mudah terserang stres
  • Kurang mudah menyesuaikan diri (kurang adaptif
  • Mudah memotivasi diri
  • Pikirannya lebih banyak berisi angka dan kata-kata, kurang berisi gambar, bayangan, dan citra (image)
  • Patuh kepada orang yang berkuasa atau yang memiliki otoritas

Apa yang harus kita lakukan untuk memperbaiki keadaan yang sudah parah dan memfosil ini? Kapan kita lebih berpihak kepada pengembangan hati daripada pengembangan pikiran?

Iklan

andy

Kolesterol tinggi

Kunjungilah posting ini:

https://sbelen.wordpress.com/2013/05/03/bawang-putih-cuka-apel-madu-jahe-lemon-jantung-sehat-tubuh-bugar/

Gambar spanduk Sano

sano-kolesterol-tinggi

Kartu nama Yuni

Tag: , , , , , , , , , ,

2 Tanggapan to “Apa yang mendorong orang bertindak?”

  1. agusampurno Says:

    Mantap tulisannya, thanks for sharing.

  2. S Belen Says:

    You are welcome, Pak Agus. Teruslah menulis tentang belajar aktif, kurikulum, dan pendidikan umumnya. I love to read your posts.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: